Tag: ramadan

  • Sering Terjadi Perbedaan Penentuan 1 Syawal, Adakah Jalan Tengahnya?

    Sering Terjadi Perbedaan Penentuan 1 Syawal, Adakah Jalan Tengahnya?

    7cloud.asia – Penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal hampir selalu jadi perbincangan masyarakat Indonesia setiap tahunnya.

    Ramadan adalah bulan kesembilan dalam sistem penanggalan Hijriah (penanggalan Islam berdasarkan peredaran bulan terhadap Bumi). Sedangkan Syawal adalah bulan ke-10 atau setelah Ramadan.

    Bagi umat Islam, penentuan awal bulan Ramadan dan bulan Syawal cukup krusial. Sebab, hukum Islam mewajibkan ibadah puasa sejak 1 Ramadan (hari pertama puasa). Islam pun mengharamkan Muslim berpuasa pada 1 Syawal.

    Syawal adalah bulan kesepuluh dalam kalender Islam setelah bulan suci Ramadhan. Hari pertama di bulan Syawal inilah yang kita rayakan sebagai Hari Raya Idulfitri.

    Penentuan tanggal 1 Syawal  yang tepat dan akurat menjadi penting untuk memastikan ibadah sesuai dengan waktunya.

     

    Selama ini, sebagian besar umat Muslim merujuk pada penentuan awal dan akhir Ramadan dari dua sumber mainstream, yakni pemerintah – yang diikuti oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) – dan organisasi Muhammadiyah.

    NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Keduanya sering menetapkan tanggal awal dan akhir Ramadan yang berbeda karena memiliki metode penentuan yang tidak sama.

    Untuk tahun ini, Muhammadiyah telah menentukan 1 Syawal jatuh pada 21 April 2023. Sementara Kemenag menyatakan baru akan melakukan sidang isbat pada Kamis (20/4/2023).

    Untuk mengetahui mengapa perbedaan penentuan 1 Syawal sering berbeda, berikut tulisan Hazda Min Fadhli Robby dari Universitas Islam Indonesia sebagaimana dikutip di The Conversation berikut ini

    Perbedaan metode: apa dan bagaimana

    Secara umum, ada dua metode utama dalam menentukan hari raya Islam dan penanggalan Islam.

    Metode pertama adalah metode Rukyatul Hilal atau singkatnya disebut Rukyat (penglihatan).

    Dalam metode Rukyat, awal dan akhir bulan ditentukan pada penglihatan yang jelas terhadap bulan baru.

    Metode Rukyat sudah diadopsi oleh pemuka Islam sejak awal mula peradaban Islam. Sebab, kemunculan bulan baru merupakan peristiwa alami dan dapat diamati secara langsung.

    Beberapa hadis Nabi juga secara jelas mengarahkan umat untuk melakukan Rukyat. Misalnya: “berpuasalah ketika kamu melihat bulan baru (Ramadan), dan berbukalah/akhirilah bulan puasa ketika kamu melihat bulan baru (Syawal)”.

    Landasan hadis ini diadopsi secara umum oleh banyak pemerintahan negara dengan penduduk mayoritas Muslim hingga hari ini.

    Metode Rukyat dianggap lebih kuat bagi penganutnya karena bulan baru bisa dilihat dengan jelas dan sudah menjadi tradisi sejak era Nabi Muhammad. Ditambah adanya peralatan astronomi yang canggih saat ini, aktivitas Rukyat dapat berjalan dengan lebih baik.

    Metode kedua adalah metode hisab atau metode penghitungan. Dalam metode hisab, awal dan akhir bulan ditentukan pada penghitungan hari kalender Hijriah berdasarkan pada kalkulasi matematis dan astronomis.

    Metode hisab biasanya dilakukan oleh para ahli falak. Mereka adalah pakar yang mendalami peredaran benda-benda angkasa yang dapat digunakan untuk menghitung penanggalan dan siklus astronomis seperti gerhana.

    Secara global, ada beberapa institusi Islam yang menganut metode Hisab, salah satunya adalah Ummul Qura, salah satu universitas Islam terkemuka di Arab Saudi.

    Di Indonesia, metode Hisab diterapkan oleh Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang mengusung upaya tajdid (pembaruan) hukum Islam. Muhammadiyah menggunakan metode yang disebut Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang artinya penghitungan kalender berdasarkan posisi astronomis bulan tanpa harus dikonfirmasi melalui penampakan fisik secara langsung.

    Bagi Muhammadiyah, ada dua alasan mengapa penggunaan metode Hisab ini penting.

    Pertama, Muhammadiyah memandang metode hisab sesuai dengan kondisi masyarakat Muslim saat ini, yaitu yang telah terdidik dengan baik dalam ilmu astronomi, matematika dan fisika.

    Pada zaman Nabi Muhammad (abad ke-7 Masehi), masyarakat Muslim belum memahami cara menghitung dengan baik, sehingga Nabi Muhammad memberikan arahan agar awal bulan ditentukan dengan penglihatan bulan sabit langsung dengan mata telanjang. Dalam konteks sejarah, ketidakmampuan masyarakat Muslim dalam ilmu matematika dan astronomi ini menjadi ‘illat (alasan hukum) dalam dianjurkannya metode Rukyat ketimbang Hisab.

    Seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, alasan tersebut menjadi semakin tidak relevan. Ini membuat Muhammadiyah mengadopsi metode hisab yang lebih saintifik.

    Kedua, Muhammadiyah menganggap metode Hisab memiliki kepastian dan akurasi yang lebih besar.

    Metode Rukyat, menurut Muhammadiyah, hanya akan memberikan konfirmasi penanggalan untuk satu hari. Sementara, Hisab mengonfirmasi penanggalan untuk rentang waktu yang lebih panjang, sehingga dapat digunakan terus-menerus.

    Metode hisab juga dianggap memiliki basis hukum Islam yang jelas.

    Sementara itu, pemerintah Indonesia saat ini mengadopsi metode yang mempertemukan perbedaan antara metode Hisab dan Rukyat_. Metode ini disebut Hisab Imkanur Rukyat.

    Metode tersebut menekankan pada penggunaan tarikh Hijriah, tapi awal bulan tetap harus dikonfirmasi dengan penglihatan bulan baru secara langsung dengan mata telanjang. Hisab Imkanur Rukyat juga dianggap lebih akurat karena mempertimbangkan faktor atmosfer dan sensitivitas mata dalam observasi bulan baru.

    Metode ini sudah diadopsi oleh pemerintah Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Di Indonesia, metode ini menjadi standar yang diterapkan oleh pemerintah, dan diikuti oleh sebagian besar organisasi Muslim di Indonesia, termasuk NU.

    Untuk menentukan awal bulan, ada ketinggian tertentu yang harus dicapai bulan. Dalam kriteria MABIMS (pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia dan Malaysia), ketinggian tersebut ditentukan sebesar minimal 3 derajat. Hasil observasi imkanur rukyat kemudian didiskusikan dalam sidang penentuan yang dikenal dengan istilah Sidang Isbat oleh Kementerian Agama.

    Penentuan derajat ini ditentukan oleh pendapat para ahli ilmu falak, sesuai dengan pemahaman fikih (ilmu tentang hukum Islam) dan astronomi yang mereka miliki. Ketika hilal tidak dapat dilihat karena berbagai faktor, maka sidang dapat menerapkan istikmal atau penggenapan bulan menjadi 30 hari.

    Bisakah mencari jalan tengah?

    Dalam salah satu tulisannya, ahli hukum Islam terkemuka di Indonesia, Afifuddin Muhajir, mengutip pendapat dari pakar hukum Islam klasik yakni Taqiyuddin as-Subki. Dia menyatakan bahwa ada kemungkinan untuk mencari jalan tengah (al-manhaj al-wasathi) antara pengadopsi metode Hisab dan Rukyat.

    Jalan tengah yang dapat ditempuh adalah pemerintah mengakomodasi ide Hisab dengan mempertimbangkan posisi ilmu astronomi yang bisa divalidasi secara saintifik dan matematis ketimbang metode Rukyat.

    Ketika mencapai derajat kepastian yang lebih tinggi, Hisab bisa menggeser Rukyat sebagai metode yang valid.

    Di beberapa negara mayoritas Muslim lain, seperti Turki, pemerintahnya melakukan penyatuan kalender Hijriah. Dalam beberapa tahun belakangan, Turki mengadakan Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Hijriah sebagai upaya mengembangkan metode Hisab yang universal dan bisa diterima oleh otoritas Muslim sedunia.

    Terlepas dari segala macam ketidaksepakatan, ada satu kaidah hukum Islam yang perlu diingat umat Muslim sedunia dalam perbedaan kalender Hijriah, yakni “la yunkaru mukhtalaf fihi, wa innama yunkarul mujma’ ‘alaihi ” .

    Dalam hal Hisab dan Rukyat, kaidah tersebut bermakna bahwa perbedaan itu niscaya sehingga tidak boleh diingkari sampai muncul kesepakatan yang bisa diterima oleh otoritas Muslim sedunia.

    Zuliyan M. Rizky dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

  • Ramadan Lebih Ramah Lingkungan dalam Green Ramadan

    Ramadan Lebih Ramah Lingkungan dalam Green Ramadan

    7cloud.asia – Menyambut Ramadan tahun ini, sejumlah organisasi yang tergabung dalam Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi (KFLHK) menginisiasi gerakan bertajuk Green Ramadan.

    Green Ramadan merupakan sebuah gerakan bersama untuk mengajak masyarakat berpartisipasi aktif menerapkan gaya hidup berkelanjutan selama bulan Ramadan untuk mewujudkan lingkungan lestari dan berkelanjutan.

    Tujuan utama gerakan Green Ramadan yaitu mengajak masyarakat agar menerapkan gaya hidup
    berkelanjutan untuk mewujudkan lingkungan lestari dan berkelanjutan.

    Ketua KFLHK yang juga Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan,  gerakan Green Ramadan juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran (awareness) dan pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan di sekitar mereka.

    “Kami akan terus mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan. Harapannya, melalui gerakan ini, kita dapat mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals”, ujar Dolly.

    Baca: Generation Girl galang dana untuk bantu pendidikan anak petani di Kintamani

    Hal ini membutuhkan langkah aktif kolaborasi agar mencapai solusi komprehensif dan berkelanjutan dalam mendorong penerapan gaya hidup berkelanjutan.

    Salah satunya, melalui KFLHK, sebagai wadah keterlibatan aktif lembaga filantropi untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup, serta menjadi forum diskusi bagi pemerhati lingkungan.

    “Gotong royong antar pegiat filantropi harus kita perkuat dan tingkatkan untuk menjangkau masyarakat lebih luas serta berdampak dalam menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

    #GreenRamadan2024 KFLHK menunjukkan contoh kolaborasi multi-pihak yang efektif dengan memanfaatkan potensi program yang telah ada dan diperkuat melalui koordinasi yang erat dengan anggota KFLHK lainnya”, tambah Gusman Yahya, Direktur Eksekutif Perhimpunan Filantropi Indonesia.

    Arif Rahmadi Haryono selaku General Manager Dompet Dhuafa menyatakan esensi ramadan adalah menahan. Salah satu aspeknya adalah menahan diri dari sifat-sifat konsumtif yang berpotensi merusak lingkungan.

    Baca: 5 cara asyik mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan

    Gerakan Green Ramadan terinspirasi dari semangat puasa sembari mendorong pemulihan
    lingkungan di Indonesia.

    Di Bulan Ramadan ini KLFHK berkomitmen mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai dengan cara berbagi eco takjil yang menggunakan kemasan ramah lingkungan sebanyak 3.150 paket di 24 wilayah di seluruh Indonesia.

    KLFHK juga melakukan pendampingan kepada para UMKM yang berjualan eco takjil untuk memproduksi dagangan takjil yang ramah lingkungan dan mengelola sampah di pasar berdaya Dompet Dhuafa.

    Rangkaian kegiatan Green Ramadan 2024 yaitu instagram live series, kompetisi foto, webinar nasional dan konten edukasi tentang pentingnya menerapkan gaya hidup berkelanjutan di Instagram serta sedekah pohon dan eco takjil. 

    Organisasi KFLHK yang terlibat dalam gerakan ini yaitu Perhimpunan Filantropi Indonesia, Dompet
    Dhuafa, Belantara Foundation, Lindungi Hutan, IDFOS Indonesia, CIS Timor, ESWKA Foundation,
    Greeneration Foundation, dan Communication for Change.

    Baca: Gaya hidup ramah lingkungan tak cuma menanam pohon

     

  • Kapan Datangnya Malam Lailatul Qadar dan Amalan Apa yang Sebaiknya Dikerjakan

    Kapan Datangnya Malam Lailatul Qadar dan Amalan Apa yang Sebaiknya Dikerjakan

    7cloud.asia – Malam lailatul qadar menjadi malam yang sangat dinanti-nanti setiap umat Islam saat menjalankan ibadah puasa Ramadan.

    Pasalnya, malam lailatul qadar adalah malam istimewa yang dianugerahkan Allah secara khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadan.

    Malam lailatul qadar disebut sebagai jawaban Allah atas keluhan Nabi SAW tentang usia umatnya yang sangat singkat. Allah menjawab keluhan itu dengan menganugerahkan malam lailatul qadar yang sangat istimewa.

    Sebab, ibadah yang dilaksanakan di malam lailatul qadar pahala ibadah seseorang setara dengan pahal ibadah seribu bulan.

    Dilansir NUonine, makna malam lailatul qadar ini dijelaskan dalam kitab Ianatut Thalibin al-Syarhi Fathul Mu’ien, Jilid II, Halaman 257.

     

    فَأَنْزَلَ الله جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِهذِهِ السُّوْرَة (القَدْرِ) وَقَالَ يَامُحَمَّد أَعْطَيْتَكَ وَأُمَّتكَ لَيْلَةَ القَدْرِ العِبَادَة فِيْهَا أَفْضَل مِنْ عِبَادَة سَبْعِيْنَ أَلْف شَهْر

    Artinya: Allah menyuruh Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW dan menurunkan Surat Al-Qadr. “Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadar kepadamu dan umatmu. Ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1000 bulan.”

    Lailatul Qadar bernilai ibadah selama 1000 bulan (83 tahun plus 4 bulan). Barang siapa yang bisa menggapai malam mulia dalam setiap tahunnya, walaupun berusia 60 sampai 70 tahun, sama dengan berusia ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang diisi dengan ibadah.

    Pada malam Lailatul Qadar, malam diturunkannya Al-Qur’an dari Lauh al-Mahfudz ke Baitul ‘Izzah langit dunia, sebagaimana difirmakan dalam surat Al-Qadr.

    Adakah tanda-tanda malam Lailatul Qadar? Dikisahkan sahabat Nabi SAW ingin berjumpa dengan malam 1000 bulan. Sehingga mereka bertanya tanda-tanda secara alamiyah kepada Nabi Muhammad SAW.

    قد سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن علامات ليلة القدر، فقال هي ليلة بلجة أي مشرقة نيرة لا حارة ولا بارة ولا سحاب فيها ولا مطر ولا ريح ولا يرمي فيها بنجم ولا تطلع الشمس صبيحتها مشعشة. (رواه مسلم)

    Artinya: Rasulullah pernah ditanya tentang tanda-tanda Lailatul Qadar, maka beliau bersabda: “Yaitu malam yang terang dan bercahaya, udaranya tidak panas dan tidak dingin, tidak ada mendung tidak ada hujan, tidak ada gerak angin dan tidak ada bintang yang dilempar. Paginya matahari terbit dengan terang tapi tidak terlalu memancar.

    Sementara itu, sampai saat ini ulama tidak memberikan kepastian waktu setiap tahunnya (Lailatul Qadar). Ulama hanya menggapainya berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing.

    Sebagaimana dialami oleh al-Bujairimi, Imam Ghazali, Imam Imam al-Kurdi, Imam Abu al-Hasan. Bahkan Imam Syafi’i berdasarkan hadits Nabi SAW bahwa Lailatul Qadar terjadi pada 10 terakhir bulan Ramadhan.

    تَحرَّوْا لَيْلَةَ القَدْر فِي الوِتْرِ مِنَ العِشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري)

    Artinya: Carilah Lailatul Qadar pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

    Berbeda dengan pendapat Imam Al-Ghazali yang memberikan ancang-ancang terjadinya malam Lailatul Qadar dilihat dari awal mulai dimulainya puasa hari pertama dalam setiap tahun.

    قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر، فإن كان أوله يوم الاحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين، أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين، أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين، أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين، أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين. (إعانة الطالبين، ج ٢، ص ٢٥٧)

    Artinya: Telah berkata Imam Ghazali dan ulama selainnya bahwa Lailatul Qadar diketahui melalui hari awal dari bulan (Ramadhan). Jika awal puasa hari Minggu atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 29.

    Jika awal puasa hari Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 21. Jika awal puasa hari Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 27.

    Jika awal puasa hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 25. Jika awal puasa hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 23.

    Amalan pada Malam Lailatul Qadar

    Lalu apa amalan yang harus dikerjakan oleh umat Nabi SAW? Sebagaimana Nabi Muhammad SAW, sahabat, tabi’ien dan ulama, mengerjakan amalan di hari terkahir bulan Ramadhan.

    1. Rajin beribadah dan beramal baik, sebagaimana dalam hadits Nabi SAW.

    انَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم، يَجْتَهِدُ في رَمَضَان مَا لَا يَجْتَهِدُ في غَيْرِه، وَفي العَشْرِ الأُوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِه (رواه مسلم)

    Artinya: Rasulullah SAW sangat giat beribadah di bulan Ramadhan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya.

    2. I’tikaf

    عن ابن عمر رضي الله عنه، كان رسول الله صلى الله عليه وسلم، يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِر مِنْ رَمَضَان. (متفق غليه)

    Artinya: Dari Ibn Umar ra, Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

    3. Banyak bersedekah

    كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم، أَجوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجودُ مَايَكُونُ فِي رَمَضَان حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْل. (متفق عليه)

    Artinya: Rasulullah SAW adalah orang yang sangat dermawan kepada siapapun, dan pada bulan Ramadhan beliau lebih dermawan lagi saat Jibril menemui beliau.

    4. Banyak berdoa

    قَالَت يَا رسول الله أَرَأَيْتُ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيَلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُوْلُ فِيْهَا قَالَ، قُولِي اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ (رواه الترمذي)

    Artinya: Aisyah ra berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya aku bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, doa apa yang aku katakan?” Beliau berkata, “Katakan: Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkan aku.”

    Dengan demikian, amalan yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ini hendaknya dapat kita kerjakan, khususnya di 10 malam terakhir bulan Ramadan.

     

  • Selama Ramadan TPA Sarimukti Terima Sampah Lebih dari 1,6 Juta Ton, Terbanyak dari Kota Bandung.

    Selama Ramadan TPA Sarimukti Terima Sampah Lebih dari 1,6 Juta Ton, Terbanyak dari Kota Bandung.

     

    7cloud.asia – Selama bulan Ramadhan, TPA Sarimukti telah menerima rata-rata 1.611,23 ton sampah atau sekitar 347 truk per hari dari wilayah Bandung Raya. Terbanyak dari Kota Bandung yang mencapai 32.807,35 ton.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Prima Mayaningtyas menjelaskan banyaknya sampah di Kota Bandung karena sebagai kota metropolitan, Bandung berpotensi menghasilkan sampah lebih banyak.

    “Volume sampah dari Kota Bandung terbanyak, kedua dari Kabupaten Bandung, ketiga dari Kabupaten Bandung Barat, dan keempat dari Kota Cimahi,” ungkap Prima seperti yang dilansir Antaranews.  

    Sampah terbanyak kedua adalah Kabupaten Bandung total tonase sebesar 5.669,64 ton dan Kabupaten Bandung Barat total tonase sebesar 4.182,61 ton.

    Selanjutnya Kota Cimahi total tonase sebesar 4.066,47 ton. “Jadi keseluruhan selama Ramadhan adalah total ritasi 10.065 truk, dengan total tonase sebanyak 46.726,06 ton,” ujarnya.

    Meski jumlah sampah meningkat saat Ramadan, namun menurut Prima sampah-sampah tersebut terkelola dengan baik.

     “Bisa dibilang selama Ramadhan tahun ini, sampah dari wilayah Bandung Raya yang ditampung di TPA Sarimukti bisa terkelola dengan baik,” jelas Prima.

    Menurutnya penanganan sampah di Sarimukti selama Ramadhan 2024 cukup lancar, tidak ada kendala yang berarti, sehingga sampah terkelola dengan baik.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Perdagangan di Pasar Tanah Abang Masih Sepi

    Perdagangan di Pasar Tanah Abang Masih Sepi

    7cloud.asia – Bulan Ramadan sebentar lagi tiba. Namun kondisi Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat masih sepi pembeli. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang ramai meski Ramadan masih beberapa bulan lagi.

    Seperti yang terlihat di blok A. Saat ruangkota menyambangi, lorong pertokoan tampak lengang. Hanya beberapa calon pembeli yang menyambangi toko-toko tersebut.

    Banyak penjual yang hanya duduk-duduk dan mengobrol dengan sesama pedagang. Sesekali mereka menawarkan dagangannya kepada orang yang melintas di depan tokonya.

    Memang ada beberapa orang yang melintas tersebut berhenti dan melihat-lihat barang dagangannya. Namun, tak sedikit yang hanya melintas tanpa berhenti.

    Baca: Pemerintahan baru, harga kebutuhan pokok tinggi

    Beberapa toko bahkan tertutup rapat. Tentu saja bukan karena masih pagi. Waktu saat itu menunjukkan hampir pukul 11.30. Biasanya ini jam ramai pembeli. Tapi kali ini tidak.

    Neni, salah satu pedagang baju muslim menjelaskan kondisi seperti ini terjadi usai Idul Fitri 2024 lalu. Penjualan lesu, banyak pedagang yang memilih menutup atau menjual kiosnya karena tak sanggup lagi membayar operasional sehari-hari dan sewa kios.

    “Biasanya 3 atau 4 bulan mau puasa tuh udah pada datang dari luar kota atau dari luar negeri. Mereka ambil barang ke kita jauh-jauh hari karena ‘kan mereka untuk di jual lagi. Sekarang sepi,” jelas Neni.

    Demikian juga dengan penjualan via online. Menurutnya baju-baju atau perlengkapan muslim yang dijual via online tersebut diambil dari Pasar Tanah Abang.

    Baca: Produk tekstil impor bermotif tradisional banjiri pasar Indonesia

    “Sama. Mereka (pedagang online) juga sepi, karena mereka udah lama nggak ambil barang ke kita lagi,” katanya  

    Namun, Neni merasa beruntung karena masih bisa bertahan hingga kini meskipun sepi pembeli. Karena banyak pedagang yang kerap tidak dapat menjual barangnya sama sekali.

    Memang, Neni mengakui kini omsetnya menurun drastis. Perempuan berjilbab dan mengenakan kacamata ini menjelaskan biasanya dia bisa mendapatkan omset antara 5 hingga 7 juta rupiah dalam sehari.

    Namun, setelah lebaran ia biasa mendapatkan omset ratusan ribu saja sehari. “Pernah cuma dapat 200 ribu seharian sampai sore. Tiap hari kita berharap, tiap bulan kita berharap. Nanti usai tahun baru kita berharap. Tapi ya gini lah….,” ucapnya sambil tersenyum kecut.

    Baca: Mulai 10 April Pasar Tanah Abang Blok A tutup sementara

    Neni hanyalah salah satu pedagang yang merasakan daya beli konsumen rendah. Pedagang lain pun juga merasakan hal yang sama.

    Tentu saja kondisi ini akan lebih parah ketika pemerintah nanti menetapkan kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 12 persen.

    Neni dan pedagang lainnya kembali berharap agar pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memihak kepada rakyat kecil. Sehingga daya beli masyarakat bisa naik kembali.

     

  • Ngaji Ramadan: Sekadar Menahan Lapar atau Transformasi Diri?

    Ngaji Ramadan: Sekadar Menahan Lapar atau Transformasi Diri?

    7cloud.asia – Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga tentang bagaimana kita bisa bertumbuh secara ruhani dan menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri.

    Seperti disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 186, puasa Ramadan adalah wajib hukumnya agar umat Islam menjadi orang-orang yang bertakwa.

    Berbicara dalam kajian Al Fatih Ramadhan Festival (ARF) yang dipantau secara daring pada Sabtu (1/3/2025) sore, Ustadzah Nur Rofiah dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia mengajak peserta yang hadir untuk melakukan refleksi agar ibadah puasa Ramadan tak sekadar puasa fisik belaka.

    Ahli tafsir lulusan Universitas AL Azhar Kairo ini, mengatakan bahwa puasa Ramadan adalah media untuk menjembatani umat Islam agar benar-benar menjadi manusia yang tauhid atau benar-benar hanya menghamba kepada Allah SWT.

    Hanya menghamba kepada Allah, berarti benar-benar mengabdikan diri kepada sang Pencipta dan meniadakan hal atau alasan lain dalam beribadah.

    Baca: Program Ngaji Ramadan bersama Kongres Ulama Perempuan Indonesia

    Dia menegaskan, kata bertaqwa harus diartikan tidak hanya berkaitan dengan hubungan dengan sang Khalik, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia.

    Seorang muslim yang bertakwa, ujarnya, adalah mereka yang bisa memberikan kebaikan dan kemaslahatan bagi alam dan sesama manusia.

    “Seseorang bisa disebut bertakwa jika dia bisa bersikap adil baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,“ tandasnya.

    Dipaparkannya, ibadah puasa Ramadan adalah latihan bagi umat Islam untuk menahan diri dan bersikap tenang terhadap kebutuhan ruhani maupun ragawi. Yang semula dihalalkan saat tidak puasa menjadi dilarang saat puasa.

    Diingatkannya, puasa ruhani jauh lebih penting daripada puasa fisik. Puasa fisik, seperti menahan lapar dan haus hanya bersifat sementara. Lapar dan haus itu, ujarnya, akan segera hilang setelah kita makan atau minum.

    Baca: Kapan datangnya malam Lailatul Qadar

    Sementara, lapar ruhani sering tidak terbatas dan lebih sulit dikendalikan. Bahkan tidak jarang, seseorang yang coba memenuhi rasa lapar ruhaninya justru akan terjebak dalam rasa ketidakpuasan yang tidak terbatas.

    “Jadi ketika usai puasa Ramadan, seorang muslim masih bersikap dzalim maka dia telah gagal menjalankan puasa ruhani,“ imbuhnya.

    Nur Rofiah mengingatkan, jika selama bulan Ramadan adalah latihan maka 11 bulan lainnya adalah ujian yang sebenarnya.

    Jadi, lanjutnya, kurang tepat jika kita menyebut 1 Syawal sebagai hari kemenangan. Pasalnya Hari Raya Idul Fitri justru menjadi hari pertama ujian panjang yang harus dilalui.

    Jika memasuki hari-hari ujian ini dengan sikap seolah sudah menang, maka akan membuat lengah dalam menghadapi ujian.

     

  • Ngaji Ramadan: Menahan Diri Berbelanja Saat Puasa Ramadan

    Ngaji Ramadan: Menahan Diri Berbelanja Saat Puasa Ramadan

    7cloud.asia – Puasa Ramadan saat ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang perilaku konsumsi yang meningkat pesat.

    Paradoks puasa Ramadan ini bisa dijelaskan melalui konsep ritual economy (ekonomi ritual), yaitu bagaimana praktik keagamaan dan budaya memengaruhi aktivitas ekonomi dalam suatu masyarakat.

    Puasa Ramadan menciptakan pola konsumsi yang khas: masyarakat secara kolektif meningkatkan pengeluaran untuk makanan, pakaian, serta kegiatan sosial lainnya.

    Tren melonjaknya konsumsi selama puasa Ramadan ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar.

    Studi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 2021 menunjukkan bahwa di banyak negara Muslim, limbah makanan selama Ramadan–yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan–justru meningkat hingga 30 persen.

    Di berbagai kisah dan penelitian psikologi, kemampuan mengelola pikiran dan menahan impuls terbukti menjadi faktor penting dalam pengendalian diri dan kesuksesan jangka panjang.

    Baca: Puasa Ramadan sekadar menahan lapar atau transformasi diri

    Berikut adalah strategi yang dapat kita terapkan untuk mencegah pembelian impulsif, sebagaimana dipaparkan Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII) dalam tulisannya di The Conversation.

    1. Delay of gratification dan precommitment.
    Delay of gratification (penundaan kepuasan) melibatkan latihan kesabaran dengan menunda kepuasan instan demi manfaat jangka panjang, seperti membuat daftar belanja sebelum pergi ke pasar dan hanya membeli sesuai kebutuhan.

    Sementara itu, precommitment (prakomitmen) berarti menciptakan batasan sebelum tergoda.

    Caranya, kita dapat membawa uang tunai dalam jumlah terbatas saat berbelanja atau berbuka dengan porsi kecil sebelum memutuskan apakah kita masih perlu makan lagi.

    2. Menciptakan batasan lingkungan.
    Menciptakan lingkungan yang mendukung pengendalian diri menjadi langkah penting dalam mengelola impulsivitas.

    Menghindari tempat belanja saat perut kosong atau membatasi interaksi dengan iklan makanan dapat membantu mengurangi paparan terhadap godaan konsumsi berlebihan .

    Baca: Ibadah puasa bukan hanya monopoli umat Islam

    Menggunakan metode pembayaran tertentu—seperti uang tunai dengan jumlah terbatas—dapat berfungsi sebagai pengingat fisik terhadap limit pengeluaran kita.

    Penelitian menemukan bahwa penggunaan uang fisik memicu efek biaya psikologis lebih tinggi dibandingkan uang elektronik. Ini dapat membantu kita menekan pengeluaran impulsif.

    Tak hanya itu, memilih piring kecil dapat membantu kita mengurangi konsumsi makanan saat berbuka puasa.

    Sementara memiliki kulkas dan lemari pakaian yang lebih kecil dapat mendorong kita berpikir dua kali sebelum membeli makanan dan pakaian berlebihan.

    Baca: Kapan datangnya malam lailatul qadar

    3. Mental accounting atau akuntansi mental.
    Kita sering kali secara subjektif mengelompokkan uang ke dalam kategori mental yang berbeda. Ini kemudian memengaruhi pengambilan keputusan keuangan kita.

    Sebagai contoh, seseorang mungkin memperlakukan bonus tahunan secara berbeda dibandingkan dengan gaji bulanan, meskipun jumlah keduanya sama.

    Bonus cenderung digunakan untuk pengeluaran konsumtif atau investasi berisiko, sedangkan gaji lebih sering dialokasikan untuk kebutuhan rutin.

    Dalam konteks Ramadan, khususnya THR, bias kognitif ini dapat digunakan untuk tujuan positif. Kita, misalnya, dapat menyisihkan uang tunjangan hari raya (THR) ke rekening pendidikan anak.

    Dengan memahami mekanisme psikologis yang mendorong perilaku konsumtif selama Ramadan serta menerapkan strategi yang tepat, kita dapat menjadikan bulan suci ini sebagai latihan nyata dalam menyeimbangkan antara kebutuhan, keinginan, dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi.

  • Paradoks Puasa Ramadan: Justru Memicu Konsumsi dan Belanja Secara Impulsif

    Paradoks Puasa Ramadan: Justru Memicu Konsumsi dan Belanja Secara Impulsif

    7cloud.asia – Ramadan selalu menjadi bulan yang dinantikan banyak orang termasuk penulis. Bulan ini menjadi momen bagi muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sebulan penuh menahan diri dari hawa nafsu dan belajar hidup sederhana.

    Meski demikian, ada satu kebiasaan yang selalu saya ulang setiap tahun: belanja berlebihan menjelang berbuka. Menjelang azan Magrib, penulis kerap berdiri di antrean kasir dengan troli penuh makanan.

    Tak hanya kurma dan kolak yang jadi menu hidangan berbuka, tetapi juga ayam panggang, martabak, serta aneka camilan yang tak ada di daftar belanja saya. “Ah, kapan lagi? Mumpung Ramadan!” batin penulis.

    Namun, ketika berbuka, perut yang sejak siang menjerit kelaparan ternyata hanya mampu menampung segelas air dan sedikit makanan. Sisanya? Masih tersisa di meja.

    Pemandangan serupa dapat ditemui di luar pusat perbelanjaan. Pasar tradisional tumpah ke jalanan, pedagang kaki lima berjejer di trotoar, dan kendaraan nyaris tak bergerak menjelang waktu berbuka.

    Banyak titik kota yang penuh sesak, terutama di sore hari, ketika orang-orang berburu takjil dan makanan berbuka. Bahkan, restoran cepat saji sering kali kehabisan stok sebelum waktu berbuka tiba.

    Baca: Puasa Ramadan sekadar menahan lapar atau saatnya berefleksi

    Ritual ekonomi Ramadan
    Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang perilaku konsumsi yang meningkat pesat.

    Fenomena ini bisa dijelaskan melalui konsep ritual economy (ekonomi ritual), yaitu bagaimana praktik keagamaan dan budaya memengaruhi aktivitas ekonomi dalam suatu masyarakat.

    Ramadan menciptakan pola konsumsi yang khas: masyarakat secara kolektif meningkatkan pengeluaran untuk makanan, pakaian, serta kegiatan sosial lainnya.

    Sebagai akademisi yang mendalami soal ekonomi perilaku, penulis mencoba membedah bagaimana konsumsi selama bulan puasa, yang seharusnya mengajarkan pengendalian diri, menjadi bentuk partisipasi dalam ritual sosial dan agama yang memiliki nilai simbolis.

    Fakta menunjukkan bahwa puasa Ramadan adalah momen melonjaknya konsumsi rumah tangga.

    Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran rumah tangga meningkat 20-30 persen selama Ramadan, harga bahan pokok naik hingga 10-15 persen, dan limbah makanan bertambah 40 persen dibanding bulan biasa.

    Tren melonjaknya konsumsi selama Ramadan bukan hanya terjadi di Indonesia. Studi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 2021 menunjukkan bahwa di banyak negara Muslim, limbah makanan selama Ramadan–yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan–justru meningkat hingga 30 persen.

    Baca: Program Ngaji Ramadan bersama ulama KUPI

    Secara psikologis, puasa menempatkan tubuh dalam kondisi hot state (keadaan emosional tinggi) akibat rasa lapar dan lelah. Dalam kondisi ini, kemampuan self-control (pengendalian diri) melemah.

    Dalam keadaan ini, kita lebih mudah membuat keputusan yang impulsif tanpa pemikiran yang tenang. Tak heran, menjelang berbuka, kita sering kali membeli lebih banyak makanan daripada yang benar-benar kita butuhkan.

    Saat lapar, otak kita mengalami bias proyeksi. Ini membuat kalkulasi kita seputar porsi asupan makanan yang dibutuhkan tubuh cenderung meleset.

    Efek dopamin yang memicu rasa senang berlebihan juga membuat kita lebih menikmati proses berbelanja makanan, meskipun nantinya tidak dikonsumsi.

    Tak hanya itu, self-licensing effect (efek pembenaran diri) turut membuat seseorang merasa layak menghadiahi dirinya sendiri setelah berpuasa seharian.

    Efek ini memberikan “izin moral” untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip sebelumnya: sesudah menahan lapar seharian, wajar kalau sekarang ingin makan lebih banyak.

    Serupa, seseorang yang sudah berolahraga merasa tidak masalah untuk makan junk food dalam jumlah besar.

    Dorongan kelelahan berpikir dan norma kolektif
    Sepanjang hari berpuasa, kita dihadapkan pada berbagai keputusan kecil. Misalnya mulai dari menentukan aktivitas agar tetap produktif, memilih menu sahur yang tepat, hingga mengatur energi agar bertahan sampai jam berbuka puasa.

    Proses pengambilan keputusan yang terus-menerus ini menyebabkan decision fatigue (kelelahan dalam mengambil keputusan). Hal tersebut merupakan situasi ketika kemampuan seseorang untuk berpikir rasional menurun akibat rentetan keputusan yang harus dibuat.

    Saat melihat banyak pilihan dalam rak makanan di supermarket atau menu berbuka yang menggoda, kelelahan mental ini membuat kita lebih cenderung memilih berdasarkan dorongan sesaat ketimbang pertimbangan rasional.

    Inilah mengapa belanja impulsif dan konsumsi berlebihan sering terjadi di waktu berbuka.

    Selain itu, peningkatan konsumsi bukan hanya terjadi karena faktor psikologis, tetapi juga karena adanya normative reinforcement (penguatan normatif).

    Artinya, masyarakat merasa bahwa berbelanja lebih banyak, terutama untuk berbagi makanan dengan keluarga dan kerabat adalah bagian dari kewajiban sosial dan ekspresi kepatuhan terhadap norma keagamaan. Hal ini memperkuat perilaku konsumsi yang mencolok (conspicuous consumption).

    Dalam Teori Konsumsi Mencolok, ekonom dan sosiolog asal Amerika Serikat Thorstein Verble menyatakan bahwa, perilaku konsumsi tidak hanya didorong oleh kebutuhan. Perilaku tersebut juga dipicu oleh keinginan untuk menunjukkan status sosial dan kepatuhan terhadap norma kolektif.

    Dalam konteks Indonesia, teori ini semakin relevan karena budaya kolektivisme yang tinggi sebagaimana dijelaskan dalam model Dimensi Budaya Hofstede.

    Ia adalah pakar psikologi sosial asal Belanda yang membedah enam dimensi dasar yang memengaruhi bagaimana masyarakat mengorganisasikan komunitasnya sendiri.

    Fenomena ini adalah ‘paradoks Ramadan’—ketika niat menahan diri berubah menjadi dorongan untuk mengonsumsi lebih banyak.

    Dari sudut pandang psikologi, sosiologi, hingga ekonomi perilaku, Ramadan mengungkap betapa kuatnya pengaruh emosi, sosial, dan budaya dalam membentuk perilaku konsumsi kita.

    Ramadan seharusnya menjadi bulan refleksi, bukan sekadar ajang konsumsi. Karena sejatinya, puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tapi juga mengendalikan keinginan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII)

  • Kalap Saat Buka Puasa Picu Lonjakan Sampah Makanan

    Kalap Saat Buka Puasa Picu Lonjakan Sampah Makanan

    7cloud.asia – Fenomena meningkatnya volume sampah makanan saat bulan Ramadan menjadi masalah tahunan di Indonesia, terutama akibat kebiasaan kalap makan dan hungry buying setelah seharian berpuasa.

    Rasa lapar yang menumpuk selama puasa Ramadan sering kali membuat orang membeli atau mengambil makanan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kapasitas perut.

    Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada pemborosan uang dan gangguan kesehatan, tetapi juga meningkatkan volume sampah makanan yang dapat merusak lingkungan.

    Saat bulan Ramadan, jumlah sampah organik yang berasal dari sisa makanan di Indonesia naik rata-rata 20 persen. Indonesia sendiri merupakan salah satu penghasil sampah makanan terbesar di dunia.

    Selanjutnya sampah makanan yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan beban bagi lingkungan.

    Baca: Puasa Ramadan justru memicu konsumsi dan belanja secara impulsif

    Ke mana sampah pergi?
    Setelah makanan terbuang dan menjadi food waste, pertanyaannya adalah, “Ke mana akhirnya sampah ini berlabuh?”

    Dari rumah tangga, restoran, atau tempat berbuka puasa, sampah organik biasanya dikumpulkan di tempat sampah, lalu diangkut oleh petugas kebersihan ke tempat pembuangan sementara (TPS) sebelum akhirnya dibawa ke landfill alias tempat pembuangan akhir (TPA).

    Sayangnya, di Indonesia, sistem pengolahan sampah termasuk sampah makanan masih menghadapi berbagai tantangan.

    Sebagian besar sampah makanan langsung dibuang begitu saja ke TPA, tanpa proses pemilahan atau pengolahan lebih lanjut, sehingga menambah beban pada landfill yang sudah hampir penuh.

    Bijak berbuka puasa
    Saat Ramadan, kita perlu lebih bijak saat berbuka puasa untuk mengurangi sampah makanan langsung dari sumbernya (manusia).

    Baca: Puasa Ramadan jadi media transformasi diri

    Dengan mengambil makanan secukupnya, merencanakan konsumsi dengan baik, serta menghindari pembelian impulsif hanya karena promo atau porsi besar, kita bisa mengurangi limbah makanan yang tidak perlu.

    Apakah mengurangi konsumsi cukup untuk mencegah bencana? Sayangnya tidak. Pengelolaan sampah organik yang sudah terlanjur ada juga harus diperhatikan.

    Sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah makanan bisa kita manfaatkan kembali, misalnya sebagai kompos untuk pertanian atau pakan ternak. Ada juga teknologi biodigester untuk mengelola sampah menjadi energi.

    Pemerintah juga harus memerbaiki pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. Harus ada pemantauan kualitas lindi untuk mencegah pencemaran air tanah dan penyebaran penyakit di sekitar TPA.

    Baca: Jakarta Recycle Centre untuk olah sampah makanan

    Gas metana yang dihasilkan dari sampah organik juga sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk menyalakan kompor ataupun pembangkit listrik.

    Terakhir, pemerintah juga perlu mendesain area penumpukan sampah yang lebih aman dan stabil untuk mencegah bencana longsor seperti yang pernah terjadi di berbagai TPA.

    Dengan kombinasi konsumsi bijak saat berbuka dan pengelolaan sampah yang lebih baik, kita dampak meredam dampak negatif sampah makanan, baik dari segi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland).

  • Jelang Ramadan Harga Sayur Mayur Naik, Omset Pedagang Menurun

    Jelang Ramadan Harga Sayur Mayur Naik, Omset Pedagang Menurun

    7cloud.asia – Jelang bulan Ramadan, harga sayur mayur mulai merangkak naik. Para pedagang mengeluh omset yang mereka peroleh menurun.

    Di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan misalnya, harga cabe rawit merah melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp 110.000-120.000 per kilogram. padahal sebelumnya cabe rawit dijual dengan harga Rp. 80.000 per kilogram.

    Selain cabe rawit, bawang merah juga mengalami kenaikan harga dari Rp 50.000 per kilogram menjadi Rp 60.000 per kilogram.

    Kenaikan harga juga terjadi pada sawi putih yang kini dijual dengan harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 10.000 per kilogram.

    Baca: Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    Sementara sawi hijau kini dibanderol dengan harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 8000/kilogram.

    Harga buncis juga mengalami kenaikan dari Rp 20.000 per kilogram kini menjadi Rp 24.000 hingga 25.000 perkilogram. Kol gepeng pun juga tak luput dari kenaikan harga dari Rp 6000 per kilogram kini menjadi Rp 9000 per kilogram.

    Kenaikan harga ini dikeluhkan oleh para pedagang, seperti Catiri (57 tahun). Sejak kenaikan yang mulai terjadi pada awal minggu ini, ia mengaku omset penjualannya menurun karena pembeli mengurangi jumlah pembeliannya.

    “Penurunannya (omset) lumayan, 50 persen adalah (turunnya). Tadinya pelanggan saya beli cabe rawit 1/2 kilogram, sekarang cuma seperempat atau 1 ons aja ,” kata Catiri tanpa mau mengungkapkan omset yang ia peroleh.

    Baca: Pasca Lebaran, Pedagang di Pasar Sepi Pembeli 

    Dia mengungkapkan penurunan dipicu oleh musim hujan yang membuat komoditas sayur mayur menjadi busuk atau terendam air.

    “Kenaikan ini gara-gara musim hujan, barangkali stoknya sudah nggak ada kena banjir jadi pada rontok pada mati, jelang puasa juga,” katanya.

    Kenaikan harga ini juga dikeluhkan oleh Selly, salah seorang pembeli. Ia terpaksa harus mengurangi pembelian bawang merah.

    “Kirain harganya masih sama. Ternyata sudah naik. Jadi beli sekilo aja. Nanti kalau sudah turun (harga) beli lagi,” kata Selly.

    Baik Selly maupun Catiri berharap harga sayur mayur dapat kembali stabil. Apalagi bulan Ramadan tinggal beberapa hari, dimana masyarakat banyak kebutuhan untuk perispan berpuasa.