Tag: siklon tropis

  • BMKG: Waspadai Bibit Siklon Tropis Berpotensi Picu Cuaca Ekstrem di Sumatera Utara

    BMKG: Waspadai Bibit Siklon Tropis Berpotensi Picu Cuaca Ekstrem di Sumatera Utara

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Sumatera Utara (Sumut) pada 8-15 Desember 2025.

    Kepala BMKG Wilayah 1 Hendro Nugroho, Senin (8/12/2026) mengatakan,  cuaca ekstrem ini dipicu oleh adanya Bibit Siklon Tropis 918 di Samudera Hindia Barat Daya Lampung.

    Bibit siklon tropis ini yang mengakibatkan adanya belokan angin dan konfluensi (pertemuan massa udara) di Sumatera Utara

    “Bibit Siklon Tropis 91S juga diperkuat oleh aktifnya gelombang atmosfer dan MJO di sekitar pusat sirkulasinya. Kondisi IOD negatif masih akan berlangsung hingga Desember 2025,” jelasnya.

    Hendro menambahkan, suhu muka laut terpantau hangat berkisar 29-30°C dan kelembapan udara yang tinggi di semua lapisan atmosfer turut mempengaruhi kondisi cuaca.

    “Dengan adanya faktor-faktor ini, wilayah Sumut diprediksi akan menerima tambahan uap air, sehingga terjadi peningkatan pembentukan awan-awan hujan khususnya di wilayah pantai barat,” jelasnya.

    Adapun wilayah yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas lebat dan sangat lebat antara lain di Kabupaten Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, Kota Gunungsitoli, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga.

    “Kemudian Tapanuli Selatan, Kota Padangsidimpuan, Tapanuli Utara, Mandailing Natal, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Langkat, Kota Medan, Kota Binjai, Deliserdang, Karo, Simalungun, Samosir, Serdangbedagai, Kota Pematang Siantar, Labuhanbatu Selatan,” ujarnya.

    Oleh karena itu, Hendro mengimbau masyarakat agar dapat mengambil langkah antisipatif agar aktivitas harian tetap dapat berlangsung aman dan lancar. 

    Para kepala daerah juga diimbau untuk dapat berkoordinasi dengan BPBD, TNI, Polri setempat untuk terus mengikuti informasi yang disampaikan oleh Balai Besar MKG Wilayah I Medan.

    Informasi terkini dari BMKG dapat diikuti melalui media sosial @infobmkgsumut. 

    “Kami mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi cuaca dari sumber yang tidak resmi,” tutupnya.

     

  • Cuaca Hari Ini: Siklon Tropis Bakung Terdeteksi, Waspada Hujan Lebat di Beberapa Wilayah

    Cuaca Hari Ini: Siklon Tropis Bakung Terdeteksi, Waspada Hujan Lebat di Beberapa Wilayah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi peningkatan status Bibit Siklon 91S di Samudra Hindia barat daya Lampung menjadi Siklon Tropis Bakung yang memicu hujan berintensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam konferensi persnya menjelaskan peningkatan status bibit siklon ini terpantau sejak Jumat (12/12/2025) pukul 19:00 WIB.

    Hasil analisis BMKG, Siklon Tropis Bakung memiliki kecepatan angin maksimum 35 knot (65 km/jam) dengan tekanan di sekitar sistem mencapai 1000 hPa dan bergerak ke arah barat daya menjauhi wilayah Indonesia.

    Bca: BMKG Keluarkan Status Siaga Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

    Meski pergerakan Siklon Tropis Bakung menjauhi wilayah Indonesia namun tetap dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap cuaca dan kondisi gelombang tinggi dalam satu hingga dua hari ke depan.

    Oleh karenanya, BMKG mengimbau kepada seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan sebagai antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem.

    “Berdasarkan hasil pemantauan ini, dalam beberapa hari terakhir BMKG telah menyampaikan peringatan dini secara bertahap dan berkelanjutan kepada masyarakat serta sektor terkait,” jelas Faisal.

    Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam 24 jam ke depan (13/12/2025), kecepatan angin maksimum Siklon Tropis Bakung diprediksikan meningkat menjadi 55 knot (100 km/jam).

    Baca: Waspada Bibit Siklon Tropis Picu Cuaca Ekstrem di Sumatera Utara

    Kondisi ini menunjukkan peningkatan intensitas menjadi sistem siklon kategori dua dengan tekanan angin di sekitar sistem mencapai 988 hPa dan pergerakan ke arah barat daya semakin menjauhi wilayah Indonesia.

    BMKG memprediksi dampak tidak langsung Siklon Tropis Bakung terhadap wilayah Indonesia ialah adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sebagian Bengkulu, Lampung, dan Banten.

    Sementara itu, angin kencang berpotensi terjadi di Bengkulu dan gelombang tinggi (1.25-2.5 m) berpotensi terjadi di Samudra Hindia Barat Kep. Mentawai hingga Lampung, Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Barat, dan Selat Sunda bagian selatan.

    Baca: Waspada, Peningkatan Curah Hujan di Jakarta Hingga Akhir Tahun

    Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, juga meminta masyarakat untuk mewaspadai perkembangan Bibit Siklon Tropis 93S yang saat ini masih terpantau di Samudera Hindia sebelah selatan Bali-Nusa Tenggara.

    Hasil analisis BMKG, 93S diprediksi bergerak perlahan ke arah barat daya menjauhi wilayah Indonesia dan dalam periode 24 hingga 72 jam kedepan masih berpeluang rendah untuk berubah menjadi siklon tropis.

    “Secara tidak langsung, 93S juga memicu potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Yaitu, hujan dengan intensitas sedang-lebat berpotensi terjadi di sebagian wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, serta angin kencang dan gelombang tinggi berpotensi di pesisir selatan Jawa Timur, Bali hingga Nusa Tenggara,” kata Guswanto.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak tetap waspada terhadap potensi hujan intensitas sedang hingga lebat, angin kencang, serta gangguan aktivitas harian yang dapat terjadi terutama di lokasi yang rawan.

     

  • Beberapa Kali Melanda Indonesia, Begini Proses Terjadinya Siklon Tropis

    Beberapa Kali Melanda Indonesia, Begini Proses Terjadinya Siklon Tropis

    7cloud.asia – Siklon tropis beberapa kali melanda Indonesia dengan berbagai nama seperti Siklon Tropis Anggrek, Siklon Tropis Seroja, Siklon Tropis Senyar, Siklon Tropis Bakung dan lain-lain. Namun apa sebenarnya siklon tropis?

    Siklon tropis dikenal dengan berbagai istilah di muka bumi, yaitu “badai tropis” atau “typhoon” atau “topan” jika terbentuk di Samudra Pasifik Barat, “siklon” atau “cyclone” jika terbentuk di sekitar India atau Australia, dan “hurricane” jika terbentuk di Samudra Atlantik.

    Siklon tropis dikenal sebagai salah satu fenomena atmosfer paling kuat karena dapat membawa angin kencang, hujan ekstrem, dan gelombang tinggi dalam skala luas.

    Baca: Waspada Siklon Tropis Bakung Picu Hujan Lebat Disertai Angi Kencang di Wilayah Ini

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan siklon tropis merupakan badai dengan kekuatan yang besar dengan radius rata-rata mencapai 150 hingga 200 km.

    Sebelum menjadi siklon tropis, akan muncul bibit siklon tropis yang terbentuk di atas lautan luas dan mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26.5 °C.

    Semakin hangat lautan, semakin besar energi yang memberi “bahan bakar” pada siklon. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.

    Bibit siklon tropis tersebut terbentuk di suatu wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut dengan mata siklon. Diameter mata siklon bervariasi mulai dari 10 hingga 100 km.

    Mata siklon ini dikelilingi dengan dinding mata, yaitu wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km, yang merupakan wilayah dimana terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.

    Baca: Dua Bibit Siklon Tropis Picu Hujan Lebat di Beberapa Wilayah

    Umumnya siklon tropis ini dapat bertahan antara 3 hingga 18 hari. Karena energi siklon tropis didapat dari lautan hangat, maka siklon tropis akan melemah atau punah ketika bergerak dan memasuki wilayah perairan yang dingin atau memasuki daratan.

    Daerah pertumbuhan siklon tropis mencakup Atlantik Barat, Pasifik Timur, Pasifik Utara bagian barat, Samudera Hindia bagian utara dan selatan, Australia dan Pasifik Selatan.

    Sekitar 2/3 kejadian siklon tropis terjadi di belahan bumi bagian utara. Sekitar 65% siklon tropis terbentuk di daerah antara 10° – 20° dari ekuator, hanya sekitar 13% siklon tropis yang tumbuh diatas daerah lintang 20° , sedangkan di daerah lintang rendah (0° – 10°) siklon tropis jarang terbentuk.

    Baca: Delapan Hari Sebelum Bencana di Sumatera, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan sebenarnya kemunculan siklon tropis di sekitar Indonesia bukanlah anomali. Menurutnya fenomena ini memiliki pola periodik yang berulang setiap tahun.

    “Siklon tropis di wilayah Indonesia memiliki periodisasi, belahan Bumi utara itu terjadi di bulan Juni hingga Desember. Kemudian, periodisasi selatan, di belahan Bumi selatan itu terjadi Desember-April, terdapat satu bulan ‘overlapping’ bulan Desember,” jelas Guswanto seperti yang dilansir dari laman RRI, Sabtu (13/12/25).

    Selanjutnya Guswanto memaparkan adanya siklon tropis yang terjadi di waktu yang bersamaan di wilayah utara dan selatan Indonesia menyebabkan siklon tampak lebih sering dalam beberapa pekan terakhir.

    “Seperti saat beberapa minggu yang lalu, itu terjadi di utara ada siklon tropis di selatan juga terjadi. Sehingga itu akan sering terjadi,” katanya.

    Baca: Mengapa Siklon Langka Bisa Melanda Kawasan Tropis?

    Jika siklon tropis mulai terbentuk, maka akan memengaruhi cuaca dalam radius ratusan kilometer. Dampaknya dapat dirasakan bahkan ketika pusat siklon berada jauh dari wilayah pemukiman.

    Seperti yang terjadi di Pulau Sumatera, hujan lebat yang menyebabkan banjir dan banjir bandang. Siklon tropis juga menyebabkan terjadinya angin kencang yang dapat menumbangkan pepohonan, merusak bangunan ringan, dan mengganggu transportasi.

    Intensitas hujan yang tinggi akhirnya menyebabkan pergerakan permukaan tanah yang gundul sehingga terjadi tanah longsor.

    Tak hanya di darat. Siklon tropis juga memengaruhi tinggi gelombang dan badai laut yang dapat mencapai kategori berbahaya bagi nelayan dan pelayaran.

  • BMKG Ingatkan Bibit Siklon Tropis 96S Berpotensi Picu Cuaca Buruk di NTB

    BMKG Ingatkan Bibit Siklon Tropis 96S Berpotensi Picu Cuaca Buruk di NTB

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan warga untuk mengantisipasi potensi cuaca yang tidak menentu selama sepekan ke depan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) imbas dari kemunculan bibit siklon tropis 96S.

    “Selama tujuh hari ke depan dari tanggal 29 Desember 2025 sampai 4 Januari 2025, cuaca umumnya diperkirakan cerah berawan hingga hujan lebat,” kata Prakirawan Stasiun Meteorologi BMKG NTB Andre Jersey di Mataram, Senin (29/12/2025).

    Andre menyampaikan bahwa laporan prakiraan cuaca pada 29-31 Desember 2025 ada potensi hujan intensitas sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang di sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat.

    Peluang hujan berintensitas 5 sampai 10 milimeter per jam tersebut diprediksi terjadi di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, dan Kota Bima.

    Sedangkan pada 1 Januari sampai 4 Januari 2025, hujan intensitas sedang maupun lebat yang juga bisa disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat.

    “Angin permukaan bertiup dengan variasi arah dominan dari selatan hingga barat daya dengan kecepatan maksimum 35 kilometer per jam,” papar Andre.

    Berdasarkan analisa Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis atau Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, bibit siklon tropis 96S terbentuk di perairan Samudera Hindia sebelah selatan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 24 Desember 2025.

    Bibit badai tropis tersebut saat ini berada di perairan Samudera Hindia bagian selatan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kecepatan angin maksimum 65 kilometer per jam dengan tekanan minimum 999 hPa.

    Bibit siklon tropis 96S perlahan bergerak menjauhi Indonesia mengarah ke daratan Australia Barat dan diprediksi luruh pada 31 Desember 2025 mendatang.

    Fenomena sirkulasi siklonal tersebut tidak hanya menimbulkan dampak tidak langsung berupa hujan sedang hingga lebat, tetapi juga gelombang tinggi 1,25 meter sampai 2,5 meter di perairan selatan Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

  • Siklon Tropis dan 2 Bibit Siklon Kepung Wilayah Indonesia: Waspadai Cuaca Ekstrem

    Siklon Tropis dan 2 Bibit Siklon Kepung Wilayah Indonesia: Waspadai Cuaca Ekstrem

     

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dua bibit siklon tropis dan satu siklon tropis di dekat wilayah Indonesia. Sejumlah wilayah diminta waspada hujan lebat disertai angin kencang dan gelombang tinggi.

    “Siklon Tropis Nokaen terpantau di Laut Filipina sebelah utara Sulawesi Utara, dengan kecepatan angin maksimum 40 knot (75 km/jam) dan tekanan udara minimum 996 hPa,” kata BMKG dalam keterangannya, Sabtu (17/1/2026).

    Siklon Tropis Nokaen yang berada di sebelah utara Pulau Kalimantan atau wilayah Filipina ini bergerak ke arah barat laut menjauhi wilayah Indonesia. BMKG memperkirakan kecepatan angin maksimum dalam 24 jam ke depan persisten pada kategori 1.

    BMKG juga memantau Bibit 96S yang pergerakannya diprakirakan persisten, dengan kecepatan angin maks 20 knot (40 km/jam) dan tekanan udara 1002 hPa yang mempengaruhi pola angin di sejumlah daerah.

    Bibit siklon 96S ini berpengaruh mulai dari Pesisir barat Sumatera, Riau, dari Jambi hingga Lampung, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Seram, Laut Arafura, Papua Barat.

    Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.

    Baca: Indonesia tak lagi bebas dari siklon tropis

    BMKG memperkirakan, dalam sepekan ke depan, terdapat potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia.

    Hal tersebut diindikasikan dengan perbedaan tekanan udara dari Gushi yang tinggi, disertai peningkatan kecepatan angin yang tinggi di Laut Cina Selatan yang memperkuat masuknya monsun Asia menjadi lebih cepat dan mudah melewati ekuator (nilai CENS yang signfikan), melalui Selat Karimata.

    Hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan, dan Pulau Jawa.

    BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 97S yang berada di pesisir utara Australia, dengan kecepatan angin maksimum 15 knot (28 km/jam) dan tekanan udara minimum 998 hPa.

    BMKG menyebut Bibit Siklon Tropis 97S ini berpeluang rendah untuk menjadi siklon tropis dan bergerak ke arah barat laut dalam periode 24 jam ke depan.

    Prospek cuaca periode 16–18 Januari 2026
    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kep. Bangka Belitung, Lampung.

    Baca: Perubahan iklim membuat siklon lemah bisa memicu banjir mematikan

    Juga Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

    Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

    Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, dan Maluku.

    Angin Kencang:

    Kep. Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur.

    Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bali NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Papua Barat, dan Papua Tengah.

    Baca: Penjelasan mengapa siklon langka melanda kawasan tropis

    Prospek cuaca periode 19 – 22 Januari 2026
    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang di Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung.

    Juga di Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, Papua Selatan.

    Sedangkan hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

    Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan.

    Angin Kencang:

    Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua.

  • Cuaca Hari Ini: Siklon Tropis Narelle Menguat Berpotensi Memicu Hujan Lebat

    Cuaca Hari Ini: Siklon Tropis Narelle Menguat Berpotensi Memicu Hujan Lebat

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu, (22/3/2026).

    Kondisi ini dipicu oleh pengaruh Siklon Tropis Narelle yang terpantau menguat di wilayah sekitar Australia.

    BMKG mengingatkan, curah hujan tinggi berpotensi memicu banjir, genangan, hingga tanah longsor, terutama di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.

    BMKG terus memantau Siklon Tropis Narelle berada di pesisir utara Australia dan diprediksi akan bergerak ke arah barat menuju Teluk Karpentaria dalam beberapa hari ke depan. 

    Sistem ini menunjukkan kecenderungan menguat dalam 48 hingga 72 jam.

    Dampak tidak langsung dari siklon ini memicu terbentuknya low level jet, yaitu peningkatan kecepatan angin di lapisan bawah atmosfer, yang antara lain terjadi di wilayah: 

    • Laut Timor
    • Laut Arafuru
    • Papua Nugini bagian selatan
    • Papua Selatan

    Kondisi tersebut meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian timur.

    Selain itu, BMKG juga mendeteksi adanya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik timur laut Papua Nugini yang turut memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah sekitarnya

    Wilayah Berpotensi Hujan Lebat

    BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah berikut:

    • Nusa Tenggara Timur (NTT)
    • Sulawesi Barat
    • Sulawesi Selatan
    • Papua Pegunungan
  • BMKG: Siklon Tropis Bavi Memicu Cuaca Ekstrem di Sejumlah Daerah

    BMKG: Siklon Tropis Bavi Memicu Cuaca Ekstrem di Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi pergerakan Siklon Tropis Bavi di Laut Filipina utara Papua Barat dapat memicu induksi pembentukan yang meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan signifikan di sejumlah wilayah Indonesia.

    BMKG dalam siaran prakiraan cuaca, Jumat, menjelaskan meskipun siklon tropis Bavi bergerak ke arah barat laut menjauhi wilayah Indonesia, sistem ini membentuk fenomena arus angin kencang (low level jet) di sepanjang Samudra Pasifik utara timur Filipina.

    Kombinasi dinamika atmosfer itu memicu terbentuknya daerah pertemuan serta perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di Laut Filipina utara, Papua Barat, Laut Sulu, hingga Laut Halmahera utara.

    “Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah siklon tropis maupun di sepanjang daerah konvergensi dan konfluensi tersebut,” kata Prakirawan BMKG Lintang A.

    Dia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, terutama di wilayah Provinsi Papua Selatan.

    Baca: BMKG Peringatkan Potensi Siklon Tropis Bavi di Indonesia Bagian Timur

    Sementara itu untuk prakiraan cuaca di kota-kota besar wilayah barat Indonesia, BMKG meminta warga mewaspadai potensi hujan sedang di Tanjung Selor serta hujan ringan di Kota Medan dan Tanjung Pinang.

    Untuk wilayah barat lainnya, kondisi cuaca berawan hingga berawan tebal diprakirakan mendominasi wilayah Banda Aceh, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, dan Banjarmasin.

    BMKG juga memberikan perhatian khusus bagi sektor transportasi dan warga di Kota Padang, Sumatera Barat, akibat adanya potensi kemunculan cuaca kabut atau partikel asap kering yang dapat mengganggu jarak pandang.

    Bergeser ke wilayah timur Indonesia, potensi hujan dengan intensitas ringan diproyeksikan mengguyur sejumlah kota-kota besar di tanah Papua, meliputi Sorong, Nabire, Jayapura, Jayawijaya, hingga Merauke.

    Adapun wilayah timur lainnya seperti Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, Kendari, Mamuju, Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, dan Manokwari secara umum diprakirakan berada dalam kondisi berawan hingga berawan tebal sepanjang hari.

    Baca: Perubahan Iklim Memicu Siklon Tropis di Khatulistiwa