Tag: sungai ciliwung

  • KLH Temukan Luas Agrowisata di Puncak Tak Sesuai Dokumen Lingkungan

    KLH Temukan Luas Agrowisata di Puncak Tak Sesuai Dokumen Lingkungan

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menemukan bahwa luas agrowisata di kawasan Puncak, tidak sesuai dengan dokumen lingkungan yang berdampak kepada lingkungan sekitar termasuk Daerah Aliran Sungai Ciliwung.

    Hal ini diungkapkan Deputi Bidang Penegakan Hukum (Gakkum) KLH Rizal Irawan ditemui usai inspeksi di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Kamis (6/3/2025).

    Dia menyampaikan mendapatkan arahan dari Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq untuk melakukan verifikasi lapangan di wilayah hulu DAS Ciliwung beberapa hari sebelum terjadi banjir besar di Jakarta dan Bekasi.

    Rizal mengatakan dalam verifikasi lapangan KLH menemukan bahwa terdapat ketidaksesuaian luasan agrowisata di lahan yang dikelola salah satu perusahaan di wilayah tersebut.

    Baca Juga: Sodetan Ciliwung Belum Efektif Cegah Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung

    “Yang tadinya luasan agrowisatanya hanya 16 ribu (hektare), faktanya sekarang yang ditemukan sampai saat ini adalah 35 ribu hektare,” jelas Rizal.

    “Tentunya kalau ada perbedaan ini, dokumen lingkungan sudah tidak sesuai. Ketika ada ketidaksesuaian dokumen lingkungan, dampaknya adalah pasti akan signifikan terhadap alam,” tambahnya.

    Terkait bentuk penegakan hukum kepada pengelola dia menyebut terdapat potensi sanksi administratif, perdata dan pidana.

    Jika terbukti melanggar, pihak pengelola juga berpotensi harus mengganti kerugian kepada negara dan mengeluarkan biaya pemulihan lingkungan.

    Baca Juga: Cegah Banjir, Kementerian Lingkungan Hidup Akan Perbaiki Tata Kelola Vegetasi Hulu Sungai Ciliwung

    Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan inspeksi ke empat lokasi di Kawasan Puncak.

    Kawasan agrowisata ini dikelola PT Perusahaan Perkebunan Sumber Sari Bumi, PTPN I Regional 2 Gunung Mas, PT Jaswita Jabar serta Eiger Adventure Land pada Kamis(6/3/2025).

    Dalam inspeksi tersebut, KLH memasang papan pengawasan lingkungan sebagai bagian dari upaya pendalaman dugaan pelanggaran hukum lingkungan hidup dengan pembangunan di wilayah hulu DAS Ciliwung.

    Hal ini berdampak kepada peningkatan potensi banjir di hilir termasuk di wilayah Jakarta dan Bekasi seperti yang terjadi beberapa hari ini.

  • Kementerian Lingkungan Hidup Akan Percepat Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai Bekasi dan Sungai Ciliwung

    Kementerian Lingkungan Hidup Akan Percepat Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai Bekasi dan Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup akan mempercepat rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bekasi dan Sungai Ciliwung untuk menekan potensi terjadinya banjir, erosi, dan sedimentasi di wilayah hilir.

    Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, langkah ini harus dilakukan untuk mencegah bencana yang lebih besar di masa depan.

    “Kerusakan lingkungan di hulu akan berdampak langsung pada masyarakat di hilir, terutama dalam bentuk banjir dan kekurangan air bersih,” katanya pada Kamis (13/3/2025).

    Kementerian Lingkungan Hidup, ujarnya, akan terus mengawasi, menindak, serta memulihkan kawasan ini agar tetap berfungsi sebagai penyangga ekosistem yang sehat.

    Hal itu disampaikan Hanif saat melakukan kunjungan kerja ke kawasan Sentul dan Puncak di Jawa Barat pada Jumat (14/3/2025) untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan serta melaksanakan upaya pemulihan ekosistem di DAS Bekasi dan DAS Ciliwung.

    Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir

    Menteri Lingkungan Hidup mengunjungi dua lokasi di Sentul yang berada di DAS Bekasi, yaitu Gunung Geulis Golf dan Summarecon Bogor, serta Bobocabin di kawasan Gunung Mas, Puncak, yang berada di DAS Ciliwung.

    Di lokasi-lokasi tersebut, ditemukan berbagai indikasi pelanggaran terkait persetujuan lingkungan dan pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan aturan.

    Hanif menyatakan bahwa semua pengelola kawasan wisata dan properti di wilayah tersebut sedang dalam proses pengawasan dan harus segera menyesuaikan operasional mereka agar menaati peraturan dan standar lingkungan yang berlaku.

    DAS Bekasi memiliki luas sekitar 145.000 hektare, dengan segmen Puncak mencakup 28.000 hektare, di mana 12.500 hektare berfungsi sebagai kawasan perlindungan ekosistem dan pengendalian bencana.

    Perubahan tata ruang yang signifikan terjadi sejak 2022, termasuk alih fungsi lahan menjadi perumahan, permukiman, pertanian, dan industri tambang, telah meningkatkan tingkat erosi yang mengkhawatirkan, katanya.

    Baca: Bantaran sungai di Jawa Barat akan diklaim Negara

    Sebagai solusi, pemerintah mempercepat program restorasi ekosistem melalui penanaman pohon di berbagai titik strategis serta memastikan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

    Pemerintah juga menekankan pentingnya kerja sama antara masyarakat, sektor swasta, dan pemerintah dalam menjaga ekosistem.

    Pemerintah berharap dengan tindakan tegas itu keseimbangan ekosistem di kawasan hulu dapat terjaga, sehingga dampak negatif terhadap masyarakat di hilir dapat diminimalisir.

    Ini adalah bagian dari komitmen KLH untuk memastikan pengelolaan lingkungan yang lebih baik demi keberlanjutan generasi mendatang.

    Menteri Hanif juga menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pencapaian visi Indonesia Maju 2045, di mana lingkungan yang baik dan sehat menjadi landasan pembangunan yang kokoh.

    Baca: Luas agrowisata di Puncak tak sesuai dokumen lingkungan

  • Banjir Juga Terjadi di Hulu Sungai Ciliwung Akibat Perubahan Signifikan di Kawasan Lindung

    Banjir Juga Terjadi di Hulu Sungai Ciliwung Akibat Perubahan Signifikan di Kawasan Lindung

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyebut banjir yang terjadi di daerah hulu Daerah Aliran Sungai Ciliwung memperlihatkan perubahan signifikan kawasan lindung.

    Kawasan lindung yang seharusnya menjadi daerah tangkapan air kini telah berubah fungsi menjadi fasilitas terbangun.

    “Banjir itu tidak hanya di dataran rendah saja, juga sudah terjadi di daerah hulu Sungai Ciliwung. Artinya sebetulnya ada permasalahan mendasar,” kata Deputi Bidang Tata Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH Sigit Reliantoro dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (18/3/2025).

    Secara khusus dia menyoroti dari empat desa yang mengalami banjir di Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, yaitu Desa Citeko, Desa Tugu Selatan, Tugu Utara, dan Desa Kuta.

    Empat desa ini berada di dekat wilayah yang dulunya merupakan kawasan lindung dan kini berubah menjadi area pertanian/perkebunan dan pemukiman.

    Baca: Banjir Jabodetabek dipicu tata ruang yang amburadul

    “Apa yang sebetulnya melatarbelakangi itu adalah adanya perubahan signifikan. Dulu ada 8.000 hektare kawasan lindung yang hijau tadi, yang sekarang dikonversi menjadi kawasan pertanian dan pemukiman,” jelas Sigit.

    Dia mengatakan data KLH menemukan penurunan tutupan vegetasi hutan di hulu DAS Ciliwung dengan pada 2013 terdapat luasan 6.136,38 hektare berkurang menjadi 5.417,70 hektare.

    Pada saat bersamaan luas lahan terbangun/terbuka bertambah hampir dua kali lipat yaitu dari 1.623,20 hektare pada 2013 menjadi 3.603,47 hektare pada 2023.

    Data KLH juga memperlihatkan luasan tutupan vegetasi hanya mencapai 14,04 persen dari total luas DAS Ciliwung dan luas kawasan hutan hanya mencapai 10,60 persen dari total wilayah DAS.

    Persentase tersebut, jelasnya, masih berada bawah kriteria tutupan vegetasi minimum sebesar 30 persen dari total luas DAS.

    Baca: Rekomendasi IAI agar banjir besar di Jabodetabek tak terulang

    Kehilangan tutupan lahan di area yang seharusnya menjadi kawasan lindung dengan tutupan hutan tersebut juga berpengaruh terhadap banjir di hilir, termasuk yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya baru-baru ini.

    Dalam kesempatan yang sama Deputi Bidang Penegakan Hukum (Gakkum) KLH Rizal Irawan mengatakan pihaknya sudah melakukan sejumlah langkah penegakan hukum terhadap sejumlah korporasi yang beraktivitas di hulu DAS Ciliwung.

    Delapan perusahaan di hulu DAS Ciliwung termasuk PT Jaswita Lestari Jaya, PT Eigerindo Multi Produk Industri, PT Bobobox Aset Manajemen, PT Karunia Puncak Wisata, PT Farm Nature and Rainbow, PT Pinus Foresta Indonesia.

    Juga CV Mega Karya Anugrah, dan PT Jelajah Handal Lintasan, serta PT Perkebunan Nusantara I dan PT Sumber Sari Bumi Pakuan, telah dikenakan Sanksi Administratif Paksaan Pemerintah berupa pembongkaran mandiri dan pemulihan lingkungan.

    “Jika terbukti ada pelanggaran serius, kami akan merekomendasikan pembongkaran fasilitas dan pemulihan lahan terdampak,” kata Rizal Irawan.

    Baca: Mengapa bendungan Ciawi tak efektif mencegah banjir

  • Pramono Anung Akan Lanjutkan Program Normalisasi Sungai Ciliwung

    Pramono Anung Akan Lanjutkan Program Normalisasi Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) untuk melanjutkan normalisasi Sungai Ciliwung.

    “Jadi kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian PUPR (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dan ATR (Kementerian Agraria dan Tata Ruang). Normalisasi Sungai Ciliwung akan segera dilanjutkan,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo di Jakarta di Jakarta,“ Selasa (15/4/2025).

    Untuk itu, menurut Pramono Anung, pihaknya memerlukan penetapan lokasi (penlok), pembebasan lahan dan sebagainya.

    Lebih lanjut Pramono mengatakan secara khusus Kepala Dinas Sumberdaya Air juga telah mempersiapkan untuk normalisasi Kali Ciliwung.

    Pramono berharap pembebasan lahan bisa segera dilakukan sehingga program normalisasi Sungai Ciliwung dapat berlanjut.

    Meski enggan menjelaskan secara rinci apakah pendekatan yang diambil akan sama seperti gubernur-gubernur sebelumnya, Pramono menegaskan tetap melanjutkan program strategis tersebut demi mengurangi potensi banjir di Jakarta.

    “Apakah sama dengan gubernur yang dulu atau tidak. Intinya bahwa normalisasi akan kami lakukan. itu saja,” kata Pramono.

    Diketahui, proyek normalisasi Sungai Ciliwung kembali tersendat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu hambatan utamanya adalah penolakan dari warga yang bermukim di bantaran sungai dan belum tuntasnya proses relokasi.

    Normalisasi Kali Ciliwung merupakan program kerja sama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

    Pemprov bertugas menertibkan bangunan liar dan melakukan pembebasan lahan, sementara pengerjaan fisik seperti pelebaran sungai dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) di bawah Kementerian PU.

    Data terbaru menunjukkan dari total rencana normalisasi sepanjang 33,69 kilometer, baru sekitar 17,17 kilometer yang berhasil diselesaikan.

    Sisanya, sepanjang 16,52 kilometer, belum bisa dikerjakan karena belum rampungnya proses pembebasan lahan.

  • Pemprov DKI Jakarta Akan Tata Sungai Ciliwung dan Dioptimalkan Jadi Ruang Publik

    Pemprov DKI Jakarta Akan Tata Sungai Ciliwung dan Dioptimalkan Jadi Ruang Publik

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan jajarannya untuk melakukan penataan kawasan Sungai Ciliwung, tepatnya di Kanal Banjir Barat agar bisa dioptimalkan menjadi ruang publik.

    Hal ini disampaikannya usai melakukan kegiatan susur Sungai Ciliwung di Kanal Banjir Barat sepanjang kurang lebih tiga kilometer, mulai dari Pintu Air Manggarai hingga Stasiun BNI City di Jakarta Pusat, Kamis (31/7/2025).

    Pramono Anung ingin aliran sungai di kawasan ini ditata lebih rapi dan indah agar bisa dinikmati masyarakat sekaligus sebagai tempat rekreasi.

    “Saya meminta kepada jajaran terkait, terutama Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup, untuk sepanjang sungai ini nanti dirapikan, dikelola, dan dijadikan tempat orang bisa menikmati, misalnya malam Sabtu, malam Minggu-nya di tempat ini,” ujar Pramono.

    Penataan di sepanjang sungai akan dilakukan dengan penghijauan dan juga perbaikan pedestrian. Ia juga mengungkapkan adanya perencanaan untuk pembangunan penyeberangan khusus jalur sepeda di lokasi tersebut.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta segera lanjutkan proyek normalisasi Kali Ciliwung

     

    “Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Sumber Daya Air dan nanti dikoordinasikan dengan Pertamanan untuk membuat vertical garden,” kata dia.

    Pengelolaan kawasan ini nantinya akan dilakukan oleh Jakarta Experience Board (JXB). Selanjutnya Pramono Anung meminta agar rencana penataan dipresentasikan terlebih dahulu kepada Wakil Gubernur, guna memastikan penataan dilakukan dengan baik.

    “Karena apapun ini kan tempat premiumnya Jakarta, sehingga perlu diatur secara baik,” tambahnya.

    Pramono meyakini, dengan berbagai terobosan yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan membuat berbagai kawasan di Jakarta semakin menarik baik bagi masyarakatnya maupun wisatawan.

    Pemantauan langsung kondisi sungai yang menjadi salah satu sistem drainase Jakarta ini sekaligus mengevaluasi fungsi pengendalian banjir ibu kota.

    Baca: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam kondisi kritis

    Pramono Anung mengatakan, lokasi ini juga memiliki peran vital dalam mengontrol aliran air saat curah hujan tinggi.

    “Pengaturan salah satunya adalah di tempat ini. Di sini ada pintu Manggarai, ada pintu Setiabudi, ada juga pintu KPK, dan sebagainya. Pada waktu itu ketika terjadi misalnya ada air naik di Rasuna Said, kontrolnya itu dari sini,” jelas Pramono.

    Pramono memastikan, Pemprov DKI Jakarta juga sudah menyiapkan antisipasi dan upaya penanganan jika terjadi curah hujan tinggi.

    Dalam kesempatan ini, Gubernur mengajak masyarakat agar meningkatkan kesadarannya dalam merawat dan menjaga sungai untuk mengantisipasi terjadinya banjir.

    “Mudah-mudahan persiapan yang lebih baik ketika seperti ini mempersiapkan bagi instalasi terkait terutama Dinas Sumber Daya Air, Lingkungan Hidup, Pertamanan dan sebagainya untuk bersiap-siap kalau ada banjir lagi seperti kemarin,” tandasya.

  • Genangan di Sekitar Aliran Sungai Ciliwung Mulai Surut

    Genangan di Sekitar Aliran Sungai Ciliwung Mulai Surut

    7cloud.asia – Hujan deras di wilayah hulu Sungai Ciliwung dan Jakarta pada Senin (4/8/2025) menyebabkan genangan di sejumlah wilayah di Jakarta Timur.

    Pagi ini, genangan tersebut terpantau sudah berangsur surut. Kepala Satuan Tugas Koordinator Wilayah BPBD Jakarta Timur, Ali Kojim menerangkan, hingga pukul 08.00 WIB genangan tersisa di 12 RT

    Genangan ini tersebar di empat kelurahan yang berada di sekitar Sungai Ciliwung, yaitu Kelurahan Cililitan, Cawang, Kampung Melayu dan Bidara Cina.

    “Pada pukul 07.00 genangan masih terjadi di 16 RT. Sudah berangsur surut total di sejumlah lokasi ” ujarnya, Selasa (5/8/2025).

    Baca: Proyek normalisasi Sungai Ciliwung akan segera dilanjutkan

    Ali merinci, genangan di Kelurahan Bidara Cina terjadi di empat RT dengan ketinggian 35 hingga 55 sentimeter. Kemudian, di Kelurahan Kampung Melayu genangan sebanyak empat RT dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter.

    “Genangan juga masih terjadi di lima RT Kelurahan Cawang dengan ketinggian 45 hingga 50 sentimeter. Selanjutnya, di Kelurahan Cililitan terdapat tiga RT dengan ketinggian 80 sentimeter,” terangnya.

    Menurutnya, sebanyak 45 personel BPBD Wilayah Jakarta Timur dikerahkan untuk melakukan penanganan dan pemantauan genangan berkolaborasi dengan jajaran Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, dan Dinas Gulkarmat.

    “Kami lakukan upaya maksimal agar genangan cepat surut. Warga perlu tetap waspada mengingat belakangan ini masih terjadi anomali cuaca,” ungkapnya.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta anggarkan Rp4 triliun untuk penanganan banjir

    Lurah Bicara Cina, Suhartono menambahkan, genangan akibat luapan Ciliwung saat ini mulai berangsur surut.

    Genangan ini, imbuh Suhartono, terjadi di Jalan Baiduri Bulan RT 12/03 dan RT 06/11 mulai pukul 03.00 WIB dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter.

    “Pada pukul 09.00 sudah mulai surut dengan ketinggian sekitar 15 sentimeter,” ucapnya.

    Ia menuturkan, genangan di Jalan Tanjung Lengkong Gang Macan RW 07 juga sudah surut dari 60 sentimeter pada pukul 03.00 menjadi 35 sentimeter pagi ini.

    Baca: Hampir seluruh wilayah Jakarta berpotensi hujan

    “Sebanyak delapan Pasukan Oranye dikerahkan untuk memastikan saluran bersih dari sampah agar air bisa mengalir lancar,” kata Suhartono.

    Sementara itu, Lurah Kampung Melayu, Angga Harjuno Rakasiwi mengatakan, genangan di Jalan Kebon Pala II, RT 04, 12, dan RT 13, RW 04, serta di RT 05, 10, RT 11, RW 05 juga sudah berangsur surut.

    “Tadinya mencapai sekitar 75 sentimeter, saat ini sudah mulai surut dan tersisa sekitar 30 sampai 35 centimeter. Tidak ada warga yang mengungsi,” tandasnya.

    Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca cerah hingga hujan dengan intensitas ringan terjadi di Jakarta sepanjang hari ini, Selasa (5/8/2025).

  • Setelah Sempat Terhenti, Normalisasi Sungai Ciliwung Dilanjutkan Kembali dengan Pendekatan Humanis

    Setelah Sempat Terhenti, Normalisasi Sungai Ciliwung Dilanjutkan Kembali dengan Pendekatan Humanis

    7cloud.asia – Setelah sempat terhenti sejak 2017, Proyek normalisasi Sungai Ciliwung telah dilanjutkan kembali dengan pendekatan yang lebih humanis.

    Normalisasi Sungai Ciliwung ini merupakan proyek nasional, di mana pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) bekerja sama dalam proses pembebasan lahan.

    Sementara pembangunan tanggulnya dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Normalisasi Sungai Ciliwung ini penting dilakukan karena bisa mengurangi sekitar 40 persen dampak banjir di Jakarta.

    Proyek ini dibagi menjadi dua segmen utama dengan total panjang mencapai 33,69 kilometer dengan realisasi yang sudah diturap 17,14 kilometer.

    Segmen I yakni Pintu Air Manggarai hingga MT Haryono. Di segmen ini direncanakan dibangun tanggul sepanjang 14,99 km, dengan realisasi saat ini mencapai 8,24 km.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta segera lanjutkan proyek normalisasi Sungai Ciliwung

    Sedangkan Segmen II yakni MT Haryono hingga TB Simatupang. Di segmen ini rencananya dibangun tanggul sepanjang 18,7 km, dengan realisasi mencapai 8,9 km.

    Saat meninjau pembebasan lahan untuk proyek normalisasi Kali Ciliwung di Cawang, Jakarta Timur, Kamis (29/1/2026) Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, normalisasi Sungai Ciliwung penting untuk mengatasi banjir jangka menengah di Jakarta.

    Menurut Pramono, pelaksanaan normalisasi dan pembebasan lahan di Sungai Ciliwung hingga kini berjalan baik dan lancar, tanpa adanya gejolak dari masyarakat.

    Meskipun telah memberikan ganti rugi lahan masyarakat yang terdampak, Pramono juga mempersilakan masyarakat untuk menempati rumah susun milik Pemprov DKI.

    “Kalau memang masyarakat mau memanfaatkan rumah susun yang dimiliki oleh atau dibangun oleh Pemda DKI Jakarta, kami persilakan. Tentunya dengan persyaratan yang harus dipenuhi. Tapi memang mereka harus membayar atau menyewa untuk itu,” jelasnya.

    Baca: KLH percepat rehabilitasi hulu Sungai Ciliwung

    Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum menjelaskan, terdapat empat kelurahan dari 14 wilayah yang telah ditetapkan lokasinya untuk normalisasi Sungai Ciliwung. Yakni di Kelurahan Cawang, Cililitan, Pangadegan, dan Rawajati.

    Hingga akhir 2026, proyek normalisasi Sungai Ciliwung ditargetkan mencapai 557 meter. Pada 2025 sendiri, Pemprov DKI telah membayarkan Rp16,3 miliar untuk 20 bidang lahan di Cawang.

    “Sampai dengan akhir 2026 kami upayakan 557 meter selesai,” jelas Ika.

    Sedangkan untuk proses pemberkasan pembebasan lahan sekitar 557 meter ditargetkan rampung pada akhir 2026. Ika menyebut, proses pembebasan lahan masyarakat dilakukan dengan pendekatan humanis.