Tag: sungai ciliwung

  • Saking Panjangnya, Ada Sekitar 50 Komunitas di Sungai Ciliwung

    Saking Panjangnya, Ada Sekitar 50 Komunitas di Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Sungai Ciliwung sebagai sungai besar yang membelah kota Jakarta punya pengaruh besar dalam membentuk budaya warga di sekitarnya.

    Saat ini ada sekitar 50 komunitas  yang ada di sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung, baik yang berada di Bogor, Depok maupun Jakarta. 

    Dan, pada Sabtu (16/12/2023)  lima komunitas masyarakat di sepanjang daerah aliran Sungai Ciliwung mendapat bantuan dari Lembaga nirlaba Disaster Managejement Center (DMC) Dompet Dhuafa.

    DMC Dompet Dhuafa memberi pendampingan peningkatan kapasitas terhadap lima komunitas masyarakat di sepanjang daerah aliran Sungai Ciliwung tentang pengelolaan sungai dan konservasi budaya.

    Baca: Ekowisata di Sungai Ciliwung

    Staf Pengurangan Risiko Bencana DMC Dompet Dhuafa, Desi Sari, menjelaskan program pendampingan yang diberikan membuat komunitas tak hanya soal konservasi budaya tetapi juga tentang banjir dan pengetahuan kebencanaan lainnya.

    “Kita ingin membuat peradaban sungai Ciliwung sebagai pilar kehidupan mereka dengan mengaktivasi komunitas yang sudah ada dan mendukung sumber daya yang sudah mereka miliki,” kata Desi di kegiatan Jurnali Siaga Bencana di kawasan Condet, Jakarta Timur, Sabtu (16/12/2023) seperti dilansir Antaranews.com.

    Desi menjelaskan bahwa dari 50 komunitas yang ada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS Ciliwung), pihaknya baru bisa melakukan pendampingan untuk lima komunitas di tahap pertama.

    Lima komunitas tersebut, yakni Padepokan Ciliwung Condet di Condet, Saung Bambon di Srengseng Sawah, Kedung Sahong di Lenteng Agung.

    Baca: The Rising Tide, berlari untuk wujudkan kesadaran mengelola sampah

    Juga Ciliwung Muara Bersama di Tanjung Barat, dan Komunitas Memanah Tanjungan (Kometa) di Balekambang.

    Komunitas tersebut memiliki dua fokus pengembangan, yakni ekowisata dan eduwisata sungai yang berada di Saung Bambon, Kedung Sahong dan Ciliwung Muara Bersama.

    Sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan masyarakat sekitar bersama komunitas tersebut, yakni arung sungai atau susur sungai, pengelolaan sampah dan saung pembibitan dan perkemahan.

    Sementara itu, fokus pengembangan lainnya yang dilakukan DMC Dompet Dhuafa yakni kampung peradaban Betawi.

    Baca: Komunitas ini kerjanya bebersih sampah di selokan

    Di Padepokan Ciliwung Condet sendiri, masyarakat bisa menikmati eduwisata sungai dan pelestarian batik Betawi, serta emping condet.

    Kemudian, masyarakat juga bisa berlatih memanah dan menikmati kuliner Betawi di Komunitas Memanah Tanjugan (Kometa).

    Dari lima komunitas tersebut, sudah ada tiga di antaranya yang kini memiliki legalitas sebagai yayasan sehingga mereka dapat melakukan peningkatan kapasitas bersama pemangku kepentingan lainnya.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Di Hari Peduli Sampah Nasional, ASDP Gandeng Komunitas Bersihkan Sungai Ciliwung

    Di Hari Peduli Sampah Nasional, ASDP Gandeng Komunitas Bersihkan Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2024 PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melakukan kegiatan pembersihan Sungai Ciliwung, kampanye bebas sampah, dan pelepasan ikan khas Ciliwung.

    Dalam kegiatan pembersihan Sungai Ciliwung yang diberi tajuk Bebenah Ciliwung ini PT ASDP Indonesia Ferry berkolaborasi dengan Komunitas Ciliwung Depok.

    Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin melalui keterangan tertulis pada Minggu (3/3/2024) mengatakan kegiatan bebersih Sungai Ciliwung ini merupakan wujud kepedulian terhadap lingkungan.

    “Pelaksanaan kegiatan Bebenah Ciliwung ini merupakan salah satu giat Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai wujud kepedulian ASDP terhadap lingkungan melalui penanggulangan sampah,” katanya.

    Baca:  Bioplastik dari sampah bonggol jagung

    Kegiatan Bebenah Ciliwung ini merupakan wujud aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan kota dengan menanggulangi sampah di Jakarta, khususnya di Sungai Ciliwung

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional KLHK, terdapat sekitar 17,7 juta ton sampah per tahun di 123 kabupaten/kota se-Indonesia pada tahun 2023.

    Adapun total sampah yang belum terkelola sebanyak 5,8 juta ton atau setara dengan 33,1 persen dari timbunan sampah yang ada.

    Dengan konsumsi sampah plastik sehari-hari yang terus meningkat, maka langkah bebersih Sungai Ciliwung ini ini sejalan dengan komitmen ASDP untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

    Baca: Kiat yang harus dilakukan agar transisi ke ekonomi hijau berlangsung lbih cepat

    Tujuan SDGs yang hendak dicapai dengan kegiatan ini terutama pada poin-poin yang berkaitan dengan Lingkungan dan Penggunaan Plastik.

    Dikatakan Shelvy, bagi pihaknya, HPSN bukan hanya peringatan tahunan semata namun juga sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

    Pada kegiatan kali ini, ASDP melibatkan komunitas serta relawan yang merupakan karyawan ASDP (Ferizyan) untuk membersihkan bantaran Sungai Ciliwung.

    “Kami juga melakukan edukasi langsung dengan menyebarluaskan poster-poster ramah lingkungan. Kami juga melepaskan ikan-ikan khas Ciliwung untuk menjaga kelestarian fauna di Sungai Ciliwung,” tambah Shelvy.

    Baca: Ekonomi hijau janjikan pendapatan lebih besar lagi berkelanjutan

    Dalam kegiatan bersih-bersih tersebut, ASDP bersama dengan komunitas Ciliwung berhasil mengumpulkan sebanyak 1.214,5 kg atau sama dengan 114 kantong yang dilakukan selama kurang lebih 45 menit.

    Para relawan yang merupakan Ferizyan tersebut juga turut berkontribusi dalam tiap program TJSL guna meningkatkan kesadaran serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat.

    Sebagai operator kapal dan pelabuhan, ASDP memiliki komitmen untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Selain melakukan aksi langsung seperti yang dilakukan hari ini, ASDP juga telah mengimplementasikan sejumlah program TJSL lainnya.

    Baca: Aksi bebersih Sungai Ledug

    Langkah ramah lingkungan itu antara lain penyediaan Reverse Vending Machine (RVM), penanaman pohon di seluruh cabang, dan Ocean Clean Up Day.

    Shelvy mengatakan, ASDP yakin dalam menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya bentuk tanggung jawab perusahaan.

    Langkah ini juga bagian dari wujud nyata ASDP untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan melindungi warisan alam bagi generasi mendatang.

    Dengan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas lokal dan pemerintah, ASDP yakin dapat mencapai tujuan ini serta memberikan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

  • Sungai Ciliwung, Sejarah dan Maknanya Bagi Warga Jakarta

    Sungai Ciliwung, Sejarah dan Maknanya Bagi Warga Jakarta

    7cloud.asia – Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai terbesar dari 13 sungai yang membelah Kota Jakarta.

    Hulu Sungai Ciliwung berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di mata air Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Telaga Saat yang terletak di lereng Pegunungan Jonggol sebelah utara kawasan Puncak, Bogor.

    Setelah melewati bagian timur Kota Bogor, sungai Ciliwung mengalir ke utara, di sisi barat Jalan Raya Jakarta-Bogor, sisi timur Kota Depok, dan memasuki wilayah Jakarta sebagai batas alami wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

    Sungai Ciliwung memiliki panjang 120 kilometer dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) 387 kilometer persegi.

    Di sebelah barat, DAS Ciliwung berbatasan dengan DAS Cisadane, DAS Kali Grogol dan DAS Kali Krukut. Di sebelah timurnya, DAS ini berbatasan dengan DAS Kali Sunter dan DAS Kali Cipinang.

    Baca Juga: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam Kondisi Kritis, Mungkinkah Dikembalikan Ke Kondisi Normal?

    Sungai Ciliwung menyimpan sejarah bagi warga kota Bogor, Depok dan Jakarta. Namun, banyak orang yang belum tahu.

    Arti Nama Sungai Ciliwung

    Nama Sungai Ciliwung berasal dari Bahasa Sunda, “Ci” yang artinya air dan “Haliwung” memiliki arti jernih.

    Sejak dahulu sungai Ciliwung sangat dihormati masyarakat kota Batavia atau Jakarta sebagai sumber ekonomi dan air minum penduduk.

    Berkat kejernihan airnya membuat sungai mendapat julukan Ratu dari Timur di era Kerajaan. Bahkan kejernihan airnya membuat sungai mendapat julukan Ratu dari Timur di era kerajaan.

    Tidak sampai di situ, Pemerintah Kolonial Belanda juga terpukau dengan keindahan dan jernihnya Sungai Ciliwung sampai mengambil alih pengelolaan sungai ke Kolonial Belanda.

    Baca Juga: Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

    Benteng Alam Kerajaan Pajajaran
    Melansir Mongabay Indonesia, Sungai Ciliwung merupakan satu dari empat benteng pertahanan era Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482-1567.

    Kesultanan Banten yang berseteru dengan Pajajaran memerlukan waktu 40 tahun lebih untuk bisa menaklukan ibukota Pakuan (sekarang Bogor).

    Hal ini dikarenakan adanya bentang alam yang menjadi pertahanan ibukota, yaitu dua sungai besar Ciliwung dan Cisadane, ditambah Gunung Salak dan Pangrango.

    Seusai masa kerajaan, Belanda mulai masuk ke Indonesia dan mengambil alih pengelolaan sungai kepada Kolonial Belanda.

    Saat itu, Belanda merasa bahwa Sungai Ciliwung merupakan simbol penting, sehingga mereka merawat dan menjaga Ciliwung dengan baik.

    Baca Juga: Tak Hanya Mengendalikan Banjir di Jakarta, Sodetan Kali Ciliwung Bisa Jadi Pusat Kegiatan

    Pemukiman Padat Penduduk
    Pesona keindahan Sungai Ciliwung yang dikelilingi hutan lambat laun mulai berubah secara perlahan.

    Setiap tahunnya hutan mulai digarap sebagai tujuan memperluas lahan pemukiman dan infrastuktur. HIngga akhirnya, di tahun 1689 terlihat warna air aliran sungai Ciliwung cenderung keruh dan berlumpur.

    Hilangnya Ratusan Hewan
    Dalam sejarahnya, Sungai Ciliwung tercatat lebih dari 270 ikan endemik yang hidup dan tersebar di sungai ini. Bahkan, ikan-ikan menjadi sumber konsumsi sampai pendapatan bagi masyarakat.

    Namun sayangnya, akibat perluasan pemukiman warga dan beragam aktivitas pencemaran lainnya, sekarang Sungai Ciliwung hanya memiliki 20 jenis ikan yang berada di sekitar Cianjur dan Bogor.

    Dahulu, selain ikan hewan khas bantaran seperti ular, bulus, kura-kura, dan kupu-kupu hidup di sekitar Sungai Ciliwung yang dikelilingi oleh hutan.

    Sedangkan di bagian muaranya terdapat buaya, burung bangau, dan berang-berang. Sayangnya hewan tersebut sudah mulai punah sehingga tidak bisa melihat keindahan alam dan satwa dari dekat.

    Baca Juga: Normalisasi Kali Ciliwung Belum Maksimal, Kawasan Kebon Pala Kembali Dilanda Banjir

    Hari Sungai Ciliwung
    Sejak 2012, setiap tanggal 11 November diperingati sebagai Hari Ciliwung.

    Penetapan ini didasarkan dengan ditemukannya dua ekor bulus atau sejenis kura-kura yang sebelumnya sudah dianggap punah.

    Dengan kehadiran hewan tersebut, menunjukkan eksistensi hewan endemik di sekitar Ciliwung harus dijaga habitatnya.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Komunitas Peduli Lingkungan Bersihkan Sungai Ciliwung

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Komunitas Peduli Lingkungan Bersihkan Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni, PLN dengan menggandeng sejumlah komunitas peduli lingkungan di Jakarta menggelar aksi bersih Sungai Ciliwung.

    General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya, Lasiran mengatakan, aksi bersih Sungai Ciliwung dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini diikuti 200 sukarelawan dari berbagai kalangan.

    Relawan itu terdiri atas pegawai PLN UID Jakarta Raya, komunitas, dan pegawai Pemerintah Kota Jakarta Selatan.

    Mereka berhasil mengumpulkan sekitar 600 kilogram sampah dari bantaran Sungai Ciliwung di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    Baca: Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024

    “Sungai Ciliwung merupakan sumber air penting bagi warga Jakarta dan ini merupakan wujud komitmen PLN untuk menjaganya agar tetap bersih dan bebas dari sampah,” kata Lasiran dikutip Antaranews.com, Rabu (5/6/2024).

    Lasiran menjelaskan ratusan sukarelawan ini terdiri dari pegawai PLN yang tergabung dalam program “Employee Green Involvement”

    Sementara komunitas yang terlibat adalah Saung Bambon dan Bank Gesit yang aktif dalam kegiatan lingkungan, serta partisipasi Pemerintah Kota Jakarta Selatan.

    Sebanyak 600 kilogram sampah yang berhasil dikumpulkan dari Sungai Ciliwung kemudian dipilah-pilah oleh para sukarelawan.

    Baca: Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dnia diingatkan dampak krisis iklim pada anak

    Selanjutnya, sampah tersebut akan dikirimkan ke Bank Sampah Gesit untuk diolah. Sampah organik akan diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik akan didaur ulang menjadi barang yang bermanfaat.

    Sementara itu, Kepala Unit Penanganan Sampah Badan Air Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dadang Cahya Rusdiana mengatakan, dari sungai Ciliwung, sekitar 300 ton sampah per hari dikirimkan ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantargebang.

    “Kegiatan seperti ini sangat penting untuk mengurangi volume sampah di Sungai Ciliwung. Kami sangat menghargai inisiatif ini dan berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga kebersihan lingkungan,” kata Dadang

    Dalam kesempatan tersebut, perwakilan dari masing-masing sektor juga turut menandatangani komitmen bersama dalam rangka pelestarian lingkungan, khususnya di sekitar daerah aliran sungai Ciliwung.

    Baca: Sejarah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

  • Ciliwung Muara Bersama: Cara Sederhana Warga Jagakarsa Merawat Sungai Ciliwung

    Ciliwung Muara Bersama: Cara Sederhana Warga Jagakarsa Merawat Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Awalnya tempat yang kini menjadi base camp komunitas Ciliwung Muara Bersama ini adalah tempat mangkal warga setempat.

    Kini basecamp Ciliwung Muara Bersama ini telah berubah menjadi tempat yang asri, penuh aneka tanaman buah-buahan lokal.

    Dari pemantauan sekilas, 7cloud.asia menemukan pohon kecapi, nam-nam, manggis, apel lumut, matoa, dan duku di lahan basecamp Ciliwung Muara Bersama.

    Agak menjorok di bibir sungai, serumpun bambu menaungi dermaga yang sering menjadi tempat start susur Sungai Ciliwung.

    “Di sini dulu warga mencuci, mandi atau sekadar duduk-duduk untuk mengaso,“ terang Hambali, penggagas Ciliwung Muara Bersama saat berbincang dengan 7cloud.asia di sela peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia beberapa waktu lalu.

    Baca Juga: Aksi Keren Anak Muda Bandung Bernama Pandawara: Nyebur Sungai Angkut Sampah

    Hambali yang lahir dan besar di desa yang kini masuk wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan ini fungsi tempat inilah yang menjadi alasannya memilih nama Ciliwung Muara Bersama untuk komunitasnya

    “Ciliwung, karena tempat ini berlokasi di pinggir Sungai Ciliwung. Sedangkan, muara karena tak jauh dari tempat ini ada tempat bermuara anak Sungai Ciliwung. Bersama adalah tempat bersama,“ terang Hambali tentang asal-usul nama komunitasnya.

    Lantas mengapa Hambali tergerak membentuk Ciliwung Muara Bersama? Hambali yang mengaku bekerja serabutan ini mengatakan karena ia ingin ikut menjaga Sungai Ciliwung yang punya sejarah panjang.

    Ia mengatakan, dulu tempat ini sudah ada komunitas. Tetapi, entah mengapa komunitas ini kemudian bubar.

    Sementara pangkalan yang dulu padat oleh perumahan, telah berubah menjadi tanah kosong karena lahannya sudah dibebaskan Pemprov DKI Jakarta.

    Baca Juga: Kampanye Kurangi Sampah The Rising Tide Kembali Hadir, Tempuh Jarak 3.141 Kilometer Secara Quadrathlon

    “Warga menjadi abai, dan tempat ini menjadi pembuangan sampah. Karena itu secara perlahan saya ajak warga untuk tidak lagi membuang sampah ke sungai, akhirnya lahir Ciliwung Muara Bersama ini, imbuh Hambali.

    Ciliwung Muara Bersama resmi berdiri pada 2021, lantas pada November 2023 Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa turut mendampinginya menjadi yayasan.

    Penandatangan Nota Kesepakatan bersama dilakukan di saung Ciliwung Muara Bersama, Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan.

    “Ini adalah goal dari pendampingan yang dilakukan oleh DMC Dompet Dhuafa,” ujar Community Resilience and Advocacy Staff DMC Dompet Dhuafa, Desi Edian Sari saat itu.

    Yayasan yang berawal dari perkumpulan ini merasa perlu untuk bersatu demi meningkatkan kesejahteraan bersama melalui kepedulian terhadap lingkungan.
    Yayasan ini akan fokus pada peningkatan kualitas lingkungan hidup warga sekitar.

    Baca Juga: DemiBumi Ada Karena Planet Bumi adalah Titipan dari Generasi Masa Depan

    Dengan mengutamakan sosialisasi atau edukasi tentang kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan pemberdayaan ekonomi warga setempat.

    Tak hanya DMC Dompet Dhuafa, Ciliwung Muara Bersama juga mendapat pendampingan dari PLN. Penguataan kapasitas, hingga penanaman pohon guna mendorong kelestarian dan keasrian wilayah sekitar Sungai Ciliwung menjadi tujuan pendampingan ini.

    Dari pendampingan itu, komunitas dan masyarakat sekitar dapat melakukang arung sungai atau susur sungai, pengelolaan sampah dan saung pembibitan dan perkemahan.

    Hambali dan mereka yang aktif di Ciliwung Muara Bersama memang tidak diupah untuk kegiatan ini. Namun mereka yakin, jika mereka memelihara alam maka pemilik alam akan memelihara mereka.

    “Saya ingin seperti air, meski sederhana tapi sangat berarti bagi makhluk hidup,“ ujar Hambali mengakhiri perbincangan kami.

     

  • Festival Ciliwung: Upaya Membebaskan Sungai Ciliwung dari Sampah dan Limbah

    Festival Ciliwung: Upaya Membebaskan Sungai Ciliwung dari Sampah dan Limbah

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengajak masyarakat melestarikan Sungai Ciliwung dengan menggelar kegiatan Festival Ciliwung Sub Holding Integrated Marine Logistics (SH IML).

    Vice President Health, Safety, Security, and Environment PT Pertamina International Shipping (HSEE PIS) Ade Gunawan dalam keterangannya mengatakan kegiatan arung edukasi ini bertema “Ciliwung Merdeka dari Sampah dan Limbah”

    Festival Ciliwung yang diadakan di Dermaga Perahu Sahabat Ciliwung, Depok, Jabar, tersebut, bertujuan membangun peran serta masyarakat dalam menjaga dan merawat kelestarian Sungai Ciliwung.

    Menurut dia, Festival Ciliwung SH IML, yang juga menggandeng Yayasan Sahabat Ciliwung, diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian lingkungan serta meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga kebersihan Sungai Ciliwung.

    “Melalui Festival Ciliwung SH IML ini, kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap Sungai Ciliwung, yang merupakan bagian integral dari sejarah dan budaya daerah Jabodetabek,” ujar Ade, Rabu (18/9/2024).

    Baca: Sungai Ciliwung, sejarah dan maknanya bagi warga Jakarta

    Dalam program itu, KLHK, bersama dengan PIS, dan tokoh masyarakat setempat, mengadakan lomba kebersihan di bantaran Sungai Ciliwung, yang melibatkan lima kelurahan di sekitar Zona Gerbang Biru Ciliwung.

    Lomba yang berlangsung 16-27 September 2024, bertujuan untuk mendorong gotong-royong warga dalam membersihkan dan menjaga kelestarian Sungai Ciliwung, khususnya di wilayah kelurahan masing-masing.

    Selama periode lomba, masing-masing kelurahan diberikan kebebasan untuk melaksanakan kegiatan dengan cara yang unik dan kreatif.

    Harapannya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat serta memberikan dampak positif bagi kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung.

    Sampah yang terkumpul dalam kegiatan itu, kemudian akan dikumpulkan dalam pembuangan sementara sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir.

    Baca: Ada sekitar 50 komunitas yang ada di Sungai Ciliwung

    Selanjutnya, PIS dan Yayasan Sahabat Ciliwung akan melakukan penjurian terhadap peserta lomba kebersihan dengan menilai tiga aspek utama.

    Yakni jumlah peserta kegiatan, luas area yang dibersihkan, serta volume sampah anorganik yang berhasil diangkat setelah kegiatan.

    Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada acara penutupan Festival Ciliwung SH IML pada 28 September 2024.

    Festival Ciliwung SH IML sejalan dengan kontribusi Pertamina Group dalam Festival Ciliwung 2024, di mana Pertamina Group terlibat melalui Gerakan Membangun Bersih Indah Lestari Rahayu Ciliwung (Gerbang Biru Ciliwung), yang fokus merehabilitasi fungsi Sungai Ciliwung secara berkelanjutan.

    Pertamina Group juga menanam 200 pohon serta mendonasikan tujuh perahu karet untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

    Baca: Mengenal komunitas Ciliwung Muara Bersama

    Ade mengatakan, lewat kolaborasi ini PIS ikut mendukung upaya pemerintah untuk mencapai target net zero emission pada 2060 melalui pelestarian Sungai Ciliwung sehingga memberikan dampak positif kepada masyarakat baik secara lingkungan, sosial, maupun ekonomi.

    “Kegiatan ini juga sekaligus diharapkan dapat menjaga kelestarian dan keberlangsungan ekosistem di Sungai Ciliwung, sehingga ke depannya dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” sebutnya.

  • Hari Ciliwung Diperingati dengan Aksi Bebersih dan Tebar Benih Ikan di Sungai Ciliwung

    Hari Ciliwung Diperingati dengan Aksi Bebersih dan Tebar Benih Ikan di Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Hari Ciliwung yang jatuh tiap 11 November, diperingati dengan kegiatan bersih-bersih hingga menebar benih ikan di Sungai Ciliwung.

    Bertepatan dengan Hari Ciliwung perusahaan teknologi informasi PT Praisindo Teknologi juga mendonasikan peralatan keselamatan sungai untuk anak-anak di markas pelindung sungai di Saung Alkesa, Bogor, Jawa Barat.

    “Kegiatan ini tidak hanya untuk memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat di sekitar Sungai Ciliwung,” ujar Head of Operation PT Praisindo Teknologi Muhammad Zaenal Mutaqin dalam keterangannya diterima Minggu (17/11/2024)

    Pada kegiatan yang digelar Sabtu (16/11/2024), puluhan karyawan dari PT Praisindo Teknologi berpartisipasi dalam membersihkan area sekitar Sungai Ciliwung dari sampah dan limbah yang dapat mencemari lingkungan.

    Dalam waktu 90 menit, dengan luas sekitar 30 x 20 m sampah yang berhasil diangkat sebanyak 758,7 kilogram sampah yang didominasi sampah plastik.

    Baca: Sejarah dan makna Sungai Ciliwung bagi  warga Jakarta

    Selain itu, lebih dari 600 benih ikan ditebar ke aliran sungai dengan tujuan memperbaiki ekosistem dan meningkatkan populasi ikan lokal.

    Kegiatan ini merupakan salah satu program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan wujud nyata dari komitmen PT Praisindo Teknologi terhadap nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG).

    Kegiatan ini diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem sungai dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar yang bergantung pada Sungai Ciliwung sebagai sumber kehidupan.

    Zaenal mengatakan, ingin mengajak seluruh karyawan untuk terlibat langsung dalam aksi kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem sungai.

    “Kami berharap program ini bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan lain untuk turut berkontribusi menjaga kelestarian alam,” ujar Zaenal.

    Baca: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam kondisi kritis

    Sebagai bagian dari kegiatan ini, PT Praisindo Teknologi juga memberikan bantuan peralatan keselamatan sungai seperti pelampung dan helm untuk anak-anak di sekitar bantaran sungai.

    Pemberian ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan anak-anak yang kerap beraktivitas di sekitar sungai, baik saat bermain maupun beraktivitas di Sungai Ciliwung.

    Dengan pelampung dan helm, diharapkan anak-anak lebih terlindungi dari risiko kecelakaan air.

    Masyarakat sekitar menyambut baik kegiatan ini dan turun bersama karyawan dalam membersihkan bantaran sungai dari berbagai jenis sampah, seperti plastik, kain, kaleng, dan sampah rumah tangga lainnya.

    Kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam menjaga lingkungan dan memupuk rasa kepedulian terhadap ekosistem yang sehat dan bersih.

    Dengan upaya ini, PT Praisindo Teknologi ingin menunjukkan bahwa perusahaan teknologi tidak hanya berfokus pada inovasi dan kemajuan digital, tetapi juga peduli terhadap dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

  • Cegah Banjir, Kementerian Lingkungan Hidup Akan Perbaiki Tata Kelola Vegetasi Hulu Sungai Ciliwung

    Cegah Banjir, Kementerian Lingkungan Hidup Akan Perbaiki Tata Kelola Vegetasi Hulu Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) akan meninjau kawasan hulu Sungai Ciliwung menyusul banjir yang melanda sejumlah wilayah Puncak dan Jakarta.

    Langkah ini selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan memperbaiki tata kelola vegetasi di wilayah hulu Sungai Ciliwung tersebut.

    Ditemui ketika meninjau tempat penampung batu bara di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda di Jakarta Utara, Senin, Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan pihaknya siap mendukung penyelesaian sejumlah isu lingkungan di Jakarta, termasuk penyebab banjir.

    “Ciliwung ini di ujungnya itu ada kebun teh. Ini rencana kami mungkin hari Kamis kami akan lakukan pengawasan, kalau perlu kami juga akan lakukan pembinaan,” jelas Menteri LH Hanif.

    Terutama, lanjut dia, di wilayah hulu yang sudah mengalami perubahan vegetasi. Ia mengatakan perlunya wilayah tersebut ditanami vegetasi yang mampu menyerap dan menahan air.

    “Untuk diubah dari teh menjadi pohon-pohon yang mampu menahan, memperbaiki hidrologi kita. Ini sudah cukup peringatan alam ke kita, banjir setiap hari. Kita akan baiki step-step ini ujungnya dari Ciliwung ini sampai ke kita,” ujarnya.

    Baca: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam kondisi kritis

    Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan banjir akibat luapan Kali Ciliwung telah meluas dan kini telah berdampak ke 47 Rukun Tetangga (RT) di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada pagi hari ini.

    Menurut BPBD, banjir yang melanda kedua wilayah administratif tersebut terjadi karena luapan Kali Ciliwung setelah terjadi hujan lebat di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

    Hujan lebat yang terjadi sejak Minggu (2/3/2025) menyebabkan kenaikan Bendung Katulampa yang berada di Bogor, Jawa Barat, menjadi siaga tiga atau waspada pada pukul 20.20 WIB.

    Sementara BPBD Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mencatat sebanyak 28 desa di 16 kecamatan terdampak bencana alam hidrometeorologi akibat hujan deras disertai angin kencang pada Minggu (2/3/2025) petang hingga malam.

    “Bencana alam hidrometeorologi berupa tanah longsor, banjir, orang hanyut, dan angin kencang,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor M Adam Hamdani di Cibinong, Senin.

    Ia menjelaskan, hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan kadar air dalam tanah dan debit air di hulu sungai meningkat sehingga terjadi bencana di beberapa titik lokasi.

    Baca: Peringatan Hari Sungai Ciliwung

    Tanah longsor terjadi di delapan kecamatan, yaitu Kecamatan Cijeruk, Desa Cijeruk dan Desa Tanjungsari; Kecamatan Sukaraja, Desa Cimandala dan Desa Nagrak; Kecamatan Megamendung, Desa Kuta, Desa Sukagalih, Desa Gadog, dan Desa Sukakarya.

    Kemudian, Kecamatan Sukamakmur, Desa Sirnajaya; Kecamatan Ciawi, Desa Bojong Murni; Kecamatan Sukajaya, Desa Harkatjaya; Kecamatan Leuwisadeng, Desa Sadengkolot; dan Kecamatan Babakan Madang, Desa Bojongkoneng.

    Banjir terjadi di tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Parungpanjang, Desa Kabaosiran dan Desa Cibunar; Kecamatan Cisarua, Desa Tugu Utara, Desa Tugu Selatan, Desa Batu Layang, Desa Kopo, Desa Jogjogan, dan Desa Cibeureum.

    Lalu, Kecamatan Bojonggede, Desa Rawa Panjang; Kecamatan Cigudeg, Desa Rengasjajar; Kecamatan Tenjo, Desa Cilaku; Kecamatan Dramaga, Desa Babakan; dan Kecamatan Rumpin, Desa Sukasari.

    Kejadian orang hanyut terjadi di Kecamatan Cisarua, Desa Citeko. Sementara itu, angin kencang terjadi di Kecamatan Jasinga, Desa Setu.

    BPBD Kabupaten Bogor telah mengambil langkah-langkah sementara untuk menangani bencana alam tersebut.

    “Antara lain melakukan assessment lokasi bencana, pengamanan lokasi bencana, mempersiapkan peralatan dan logistik, membersihkan pohon tumbang, evakuasi warga terdampak banjir, dan koordinasi dengan aparat setempat,” papar Adam.

    Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang untuk menghindari bencana alam.

  • Ditawari Pindah ke Rumah Susun, Korban Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung Menolak

    Ditawari Pindah ke Rumah Susun, Korban Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung Menolak

    7cloud.asia – Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno saat mengunjungi korban banjir akibat luapan Sungai Ciliwung, Senin (3/3/2025) sempat menawarkan kepada masyarakat untuk pindah ke rusun (rumah susun).

    Namun sayangnya, warga yang mengungsi di lokasi pengungsian SDN Kampung Melayu 01/02 dan Kantor Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur menolak pindah ke rumah susun.

    Warga mengaku lebih nyaman tinggal di tempat tinggalnya saat ini dengan alasan lebih dekat dengan tempat kerja.

    Dalam kunjungan ini Rano Karno hanya memberikan langsung bantuan berupa makanan, peralatan untuk bayi dan anak-anak, hingga selimut serta tikar untuk tidur kepada para pengungsi di dua lokasi langganan banjir tersebut.

    Rano Karno tiba di lokasi SDN Kampung Melayu 01/02 sekitar pukul 08.55 WIB. Para pengungsi pun menyambut kedatangan Wagub baru Jakarta tersebut dengan bahagia.

    “Puasa semuanya? Sahur nggak tadi?” sapa Rano kepada para pengungsi.

    Baca: Greenpeace Indonesia desak kepala daerah di Jabodetabek seriusi isu lingkungan

    Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyatakan, banjir yang terjadi akibat luapan Sungai Ciliwung dirasakan 47 rukun tetangga (RT) di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

    Manurut Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan di Jakarta, Senin (3/3/2025), banjir disebabkan meluapnya Sungai Ciliwung setelah terjadi hujan di DKI Jakarta dan Bogor, Jawa Barat.

    Hujan deras yang mengguyur kawasan Puncak pada Minggu (2/3/2025) menyebabkan permukaan Bendung Katulampa melonjak dan dinyatakan siaga tiga atau waspada pada pukul 20.20 WIB.

    Kemudian, lanjut Yohan, di hari yang sama pada pukul 20.40 siaga dua, dan pada pukul 20.40 WIB Bendung Katulampa menjadi siaga satu atau Awas sekitar pukul 21.30 WIB.

    Adapun wilayah yang terdampak banjir tercatat di 20 RT dari lima kelurahan yang terendam banjir. Di Jakarta Selatan, yaitu Kelurahan Tanjung Barat sebanyak empat RT, ketinggian air mulai dari 80 centimeter hingga tiga meter.

    Baca: Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem makin sering terjadi, ini dampaknya pada warga Jakarta

    Selanjutnya Kelurahan Pengadegan terdapat satu RT dengan tinggi air 1,3 meter. Kelurahan Rawajati ada di tujuh RT ketinggian mulai dari satu meter hingga 2,2 meter.

    Kelurahan Pejaten Timur tersebar di enam RT dengan ketinggian 3,5 sampai 3,7 meter dan Kelurahan Kebon Baru dua RT ketinggian air 60 sentimeter hingga satu meter.

    Sementara di Jakarta Timur terdapat 27 RT dari enam kelurahan yang terendam banjir yaitu Kelurahan Bidara Cina, tiga RT ketinggian mulai dari 1,6 hingga 1,7 meter.

    Kelurahan Kampung Melayu berjumlah 11 RT ketinggian air dari 30 sentimeter sampai 1,6 meter. Kelurahan Balekambang tiga RT ketinggian 1,8 meter hingga 2,4 meter.

    Sedangkan di Kelurahan Cawang terdapat di lima RT dan rerata ketinggian air mencapai 2,7 meter.

    Kelurahan Cililitan dua RT ketinggian mulai dari satu meter hingga dua meter
    Dan Kelurahan Gedung terdapat di tiga RT dengan ketinggian rata-rata 80 sentimeter hingga dua meter.

  • Sodetan Ciliwung Belum Efektif Cegah Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung

    Sodetan Ciliwung Belum Efektif Cegah Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Sejumlah warga di Jakarta Timur mempertanyakan fungsi Sodetan Ciliwung di Jalan Otista menyusul banjir yang kembali melanda Jalan Kebon Pala II, Kampung Melayu, Jatinegara, sejak Selasa (4/3/2025) pagi.

    “Puncak tingginya (banjir, red) hari ini. Makanya, saya bingung, sodetan Ciliwung di Otista ini tak ada fungsinya atau gimana, katanya udah jadi,” kata warga RT 12/RW 04, Kebon Pala II, Jakarta Timur, Wahyu (45) dikutip Antaranews.com.

    Banjir di Jalan Kebon Pala II sejak pagi hingga Selasa siang ketinggiannya mencapai dua meter. Banjir ini akibat luapan Sungai Ciliwung.

    Menurut Wahyu, seharusnya dengan adanya sodetan Ciliwung, air banjir kiriman bisa dialirkan ke Banjir Kanal Timur (BKT).

    “Sodetan itu dibuangnya (air) harusnya ke BKT, kalau BKT lebih besar areanya. Mengapa harus banjir lagi di sini jika sudah dibuat sodetan? Kalau udah berfungsi, mengapa di sini masih tinggi terus, airnya,” ujar Wahyu.

    Apalagi, kata Wahyu pemerintah juga sudah melakukan normalisasi Sungai Ciliwung sehingga beberapa rumah warga terkena dampaknya.

    Baca: Ribuan rumah di Jabodetabek terdampak banjir

    “Malah yang kena normalisasi, mengeluh. Jika tahu masih kena banjir, tak usah dinormalisasi, malah jadi sebelah kanannya yang kena, di sini udah surut, di sana belum, karena pembuangan airnya di bawah kali,” ujar Wahyu.

    Wahyu berharap, Sodetan Ciliwung dapat lebih ditekankan fungsinya agar banjir di Jakarta tidak terlalu besar, bahkan kalau bisa Jakarta bebas dari banjir.

    Hal serupa dikatakan Ketua RT 10/RW 04, Jalan Kebon Pala II, Jakarta Timur, Rukimah mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bisa lebih membenahi dan membuktikan bahwa Sodetan Ciliwung merupakan upaya yang efektif dalam mengantisipasi banjir di wilayah Jakarta.

    “Harapan kami sebagai warga yang terdampak banjir mohon ditindaklanjuti upaya banjir ini, dinormalisasi lagi. Lanjutin lagi sampai Manggarai, karena normalisasi yang belum maksimal ini, kalau dari atas intensitas hujan di Bogor tinggi, jadi dampak ke sini,” kata Rukimah.

    Banjir yang melanda Jalan Kebon Pala II sejak Senin (3/3/2025) dini hari itu tak kunjung surut hingga menyebabkan aktivitas warga terganggu.

    Komitmen Pemprov
    Sejak pagi hingga sore ini warga bolak balik menyelamatkan pakaian dan dokumen pentingnya dari rumah ke permukiman atas. Untuk menuju ke rumahnya pun ada yang harus menggunakan perahu karet atau baju pelampung.

    Baca: Sodetan Ciliwung diresmikan Juli 2023

    Terlihat juga beberapa warga masih bertahan di rumahnya. Sebagian ada yang bertahan di ruang lantai atas miliknya.

    Petugas terus berusaha mengevakuasi warga yang hendak pindah ke pengungsian ataupun yang mau ke rumahnya untuk mengambil barang bawaannya.

    Pemprov DKI Jakarta juga mengupayakan sejumlah hal guna mengatasi banjir untuk jangka pendek, termasuk membuka Pintu Air Manggarai, dan mengatur aliran air di sejumlah pintu air.

    Gubernur Jakarta Pramono Anung telah menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk membuka Pintu Air Manggarai, Menteng, Jakarta Pusat demi mengurangi beban air sehingga banjir di sejumlah daerah ini dapat diatasi.

    “Jadi, yang kita buka yang ke arah (Sungai) Ciliwung Lama, dioperasikan satu pintu dibuka penuh setinggi 175 cm,” ujar dia saat meninjau Pintu Air Manggarai, Jakarta, Selasa.

    Adapun, pada Selasa sore, tinggi permukaan air di Pintu Air Manggarai mencapai 850 sentimeter (cm) atau masuk kategori siaga dua.

    Baca: Kepala daerah di Jabodetabek diminta serius tangani masalah lingkungan

    Karena itu, Pramono Anung meminta Pintu Air Manggarai dibuka, agar air yang masuk tidak lebih banyak ke wilayah Ciliwung bagian timur karena saat ini beban air di sana cukup tinggi.

    Selain itu, Pramono juga menginstruksikan pintu air yang mengarah ke Kanal Banjir Barat (KBB) dibuka setinggi 800 centimeter, serta pintu ke arah Masjid Istiqlal.

    Selain Pintu Air Manggarai, Pramono juga meminta Dinas SDA DKI mengaktifkan sebanyak 500 pompa pada sekitar 200 titik agar air bisa segera dibuang ke laut.

    Pramono Anung mengatakan pihaknya juga fokus menangani banjir dalam jangka panjang. Upaya yang dilakukan yakni pengerukan sedimen atau lumpur di sungai, waduk, dan kali serta membangun sumur resapan.

    “Sodetan dilanjutkan kembali, sumur resapan tidak lagi dibuat di jalan tetapi dibuat di saluran-saluran air,” kata dia.

    Pemprov DKI Jakarta, sambung dia, juga membuka diri untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pemimpin daerah terdampak banjir guna mengatasi masalah tersebut.

    Baca: Korban banjir akibat luapan Sungai Ciliwung menolak pindah ke rumah susun

    “Karena penyelesaian tidak bisa parsial hanya Jakarta. Bahkan saya mendapatkan laporan yang sekarang ini dampaknya besar ada di Bekasi,” ujar Pramono.

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebelumnya, berkomitmen untuk lebih fokus membenahi Kali Ciliwung sebagai upaya mengantisipasi banjir di wilayah Jakarta.

    “Sekarang, dengan PSN (Program Strategis Nasional) pengendalian banjir, kami akan lebih fokus untuk membenahi Ciliwung,” ujar Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno.

    Dia mengatakan pengerukan waduk dan sungai-sungai masuk dalam program 100 hari kerja pasangan Pramono Anung dan Rano Karno.