Tag: Israel

  • Hamas Sebut Zionis Telah Lakukan Genosida yang Mengerikan di Era Modern

    Hamas Sebut Zionis Telah Lakukan Genosida yang Mengerikan di Era Modern

    7cloud.asia – Kelompok pejuang Palestina, Hamas, mengatakan serangan brutal yang dilakukan pasukan Zionis di Kota Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah baru-baru ini merupakan salah satu genosida paling mengerikan yang dialami manusia di era modern.

    Menurut Kantor Berita Iran IRNA, Hamas pada Senin malam mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyoroti kekejaman Israel yang masih berlangsung di Gaza, khususnya di Kota Deir al-Balah.

    Mengusir warga Palestina di bawah gempuran besar-besaran dan memaksa mereka untuk pergi ke sebuah daerah kecil tanpa layanan kemanusiaan.

    Baca: Israel hanya sisakan wilayah 9,5 persen zona aman untuk Palestina

    Selain itu menghentikan layanan Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs merupakan bentuk genosida baru yang dilakukan pendudukan Zionis seperti halnya Nazi Jerman, tulis pernyataan tersebut.

    Hamas lagi-lagi mendesak komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga terkaitnya agar menghentikan genosida di Gaza dan mengharuskan rezim pendudukan menyudahi kejahatan terhadap warga sipil Palestina.

    Komunitas internasional harus membantu mengirim bahan bakar dan peralatan medis yang diperlukan agar Al-Aqsa Martyrs Hospital bisa kembali beroperasi dan segera bertindak mengadili dan menghukum penjahat perang Israel, katanya.

    Baca: Palestina ajak DK PBB kunjungi Gaza

    Pernyataan itu menyusul perintah evakuasi rezim Zionis bagi warga yang tinggal di lingkungan bagian timur laut Kota Deir al-Balah dan perintah penutupan satu-satunya rumah sakit pemerintah di sana.

    Kelompok bantuan internasional dan PBB juga telah membunyikan peringatan atas pemindahan secara paksa hampir 250.000 warga Palestina dan penutupan 25 pengungsian di Kota Deir al-Balah serta empat sumur air baru yang dibutuhkan 70 persen penduduk di sana.

    Sumber: IRNA-OANA

  • Sekjen PBB Desak Israel Hentikan Serangan ke Gaza

    Sekjen PBB Desak Israel Hentikan Serangan ke Gaza

    7cloud.asia – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Rabu (28/8/2024) mendesak Israel agar segera menghentikan serangan militer besar-besaran di daerah pendudukan Tepi Barat setelah 11 orang Palestina tewas dan lainnya terluka.

    Guterres mengutuk keras atas hilangnya nyawa, termasuk anak-anak, dan meminta operasi tersebut segera dihentikan.

    Guterres juga menekankan agar mereka yang terluka “harus memiliki akses terhadap perawatan medis, dan pekerja kemanusiaan harus dapat menjangkau setiap orang yang membutuhkan.”

    Baca: Tentara Israel tutup Rafah, ribuan anak meninggal

    PBB meminta Israel mentaati tanggung jawabnya di bawah hukum humaniter internasional dengan melindungi warga sipil dan memastikan keamanan mereka.

    Dia mendesak aparat keamanan untuk mengendalikan diri secara maksimal dan menggunakan senjata mematikan hanya pada saat sangat dibutuhkan untuk melindungi nyawa,” sebut juru bicara sekjen, Stephane Dujarric.

    “Perkembangan berbahaya ini memicu situasi yang sangat tegang di daerah pendudukan Tepi Barat dan semakin melemahkan Otoritas Palestina,” kata Dujarric.

    Pada akhirnya, imbuhnya, hanya dengan mengakhiri pendudukan dan kembali ke proses politik yang bermakna yang akan mewujudkan solusi dua negara, kekerasan dapat dihentikan.

    Baca: 84 persen jalur gaza di bawah perintah evakuasi Israel

    “PBB akan terus bekerja sama dengan semua pihak untuk mencapai tujuan ini, guna mengupayakan de-eskalasi situasi saat ini dan mendorong stabilitas di kawasan tersebut,” imbuhnya.

    Menurut harian Israel Yedioth Ahronoth, Israel mengerahkan dua brigade militer, helikopter, drone dan buldoser, saat melakukan penyerangan di Tepi Barat.

    Serangan militer Israel yang terbesar di Tepi Barat terjadi pada 2002 saat Intifada Kedua, dimana terjadi penyerbuan di bagian utara wilayah yang diduduki, termasuk di provinsi Nablus, Tulkarem, Jenin dan Tubas.

    Dalam putusan penting Mahkamah Internasional pada 19 Juli, dinyatakan bahwa pendudukan Israel selama puluhan tahun di tanah Palestina adalah melanggar hukum dan menuntut evakuasi semua permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

    Sumber: Anadolu

  • Oposisi Israel Tuding Netanyahu Abaikan Peringatan Potensi Serangan Hamas pada Oktober 2023

    Oposisi Israel Tuding Netanyahu Abaikan Peringatan Potensi Serangan Hamas pada Oktober 2023

    7cloud.asia – Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengabaikan peringatan menjelang serangan kelompok militan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023.

    Yair Lapid, yang juga pernah menjabat sebagai perdana menteri Israel, dalam pernyataannya pada Kamis (29/8/2024), mengatakan dia hadir dalam pengarahan keamanan gabungan dengan Benjamin Netanyahu pada Agustus 2023.

    Saat itu, Sekretaris Perdana Menteri untuk Bidang Militer, Avi Gil, memperingatkan tentang “memanasnya” keadaan di berbagai wilayah terdepan Israel.

    “Saya dapat mengatakan bahwa bahaya (serangan dari kelompok Hamas, red) telah disebutkan dalam dokumen intelijen tersebut,” kata Lapid.

    Baca: Benjamin Netanyahu sejak lama dapat tekanan dari oposisi

    Ia melanjutkan, saat itu Benjamin Netanyahu tampak “bosan dan acuh tak acuh” serta mengabaikan peringatan yang menyebutkan bahwa perpecahan yang timbul terkait rencana kontroversial koalisi sayap kanannya untuk merombak sistem peradilan.

    Langkah Benjamin Netanyahu ini dinilai berdampak buruk terhadap kapabilitas pencegahan Israel.

    “Sekretaris militer Mayor Jenderal Avi Gil memimpin briefing itu. Dia memberitahu saya tentang kegiatan yang meningkat dari semua pihak – Iran, Hizbullah di Lebanon, serta organisasi teroris di Gaza dan Tepi Barat,” tambahnya.

    Lapid tampil di depan Komisi Sipil untuk Penyelidikan di Tel Aviv, sebuah komisi tidak resmi yang dibentuk oleh masyarakat sipil di tengah absennya sebuah penyelidikan resmi.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu menanggapi pernyataan Lapid dengan menyebutnya sebagai seorang “pembohong.”

    “Perdana menteri tidak menerima peringatan apa pun terkait perang di Gaza,” tulis pernyataan partai.

    Benjamin Netanyahu, pemimpin Israel yang paling lama berkuasa, sejauh ini menolak untuk bertanggung jawab atas kegagalan kebijakan dan intelijen yang mengarah pada serangan 7 Oktober.

    Lawan-lawan Netanyahu menuduhnya lebih mengedepankan kelangsungan kehidupan politiknya ketimbang keamanan nasional.

    Sumber: VOA Indonesia

  • AS Akan Tawarkan Kesepakatan Final Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    AS Akan Tawarkan Kesepakatan Final Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    7cloud.asia – Amerika Serikat (AS) berencana menawarkan draf final kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dalam beberapa pekan mendatang.

    Jika draf kesepakatan gencatan senjata itu tidak diterima, hal itu bisa berarti berakhirnya peran AS dalam negosiasi antara Israel dan gerakan Palestina Hamas.

    Surat kabar Washington Post pada Selasa (27/8/202) menyampaikan bahwa AS tengah berunding dengan Mesir dan Qatar mengenai garis besar batas kesepakatan akhir ‘terima atau tinggalkan’

    Keterangan ini mengutip pejabat senior pemerintahan Presiden Joe Biden yang tidak mau namanya disebut.

    Jika kedua belah pihak, baik Israel dan Hamas tidak menerimanya, hal itu dapat menandai berakhirnya negosiasi yang dipimpin AS, lanjut surat kabar itu.

    Baca: Hamas hanya terima draf kesepakatan gencatan senjata yang sudah dibahas sebelumnya

    “Anda tidak bisa terus menerus bernegosiasi. Proses ini harus dihentikan pada titik tertentu,” kata pejabat tersebut.

    AS tengah menggodok kesepakatan dengan Mesir dan Qatar sebelum militer Israel menemukan jasad enam sandera yang diculik pada bulan Oktober oleh gerakan Palestina Hamas.

    Seorang pejabat senior menekankan bahwa penemuan jasad-jasad tersebut akan “menambah urgensi tambahan” pada tahap akhir negosiasi antara Israel dan Hamas.

    Pejabat tersebut mengatakan bahwa AS juga yakin bahwa keenam sandera tersebut telah ditembak di kepala sesaat sebelum jasad mereka ditemukan.

     

    Baca: Perundingan gencatan senjata Israel-Hamas gagal capai kemajuan

    Publikasi tersebut mengatakan, mengutip pejabat senior lainnya, bahwa beberapa sandera yang terbunuh seharusnya dibebaskan pada fase pertama negosiasi.

    Di antara mereka, publikasi tersebut menyebutkan nama warga AS Hersh Goldberg-Polin dan dua perempuan Israel.

    Seperti yang diberitakan oleh dua pejabat senior lainnya dari pemerintahan Biden kepada surat kabar tersebut, kematian para sandera menambah kerumitan dalam negosiasi gencatan senjata.

    “Para pejabat AS akan sibuk menelepon selama 48 jam ke depan untuk melihat apakah kesepakatan masih bisa dicapai,” kata pejabat senior AS kedua kepada surat kabar tersebut.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5persen zona aman di Gaza

    Pada Minggu (1/9/2024) pagi, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menerbitkan nama enam sandera yang jasadnya ditemukan di terowongan bawah tanah di kota Rafah di daerah kantong Palestina selatan.

    Di antara mereka terdapat seorang warga negara Rusia, Alexander Lobanov yang berusia 32 tahun, dan seorang warga negara AS, Hersh Goldberg-Polin yang berusia 23 tahun.

    IDF meyakini bahwa keenam sandera yang jasadnya ditemukan di Jalur Gaza pada Sabtu malam dibunuh oleh Hamas beberapa saat sebelumnya.

    Hamas sebelumnya mengatakan bahwa mereka menganggap Israel bertanggung jawab atas kematian tawanan Israel di Jalur Gaza.

    Sehari sebelumnya pada Sabtu (31/8/2024), Presiden Biden mengatakan bahwa para peserta pembicaraan gencatan senjata di Jalur Gaza telah mencapai kesepakatan mendasar tentang kemungkinan kesepakatan.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Unjukrasa di Israel Masuki Malam Ketiga, AS Terus Dorong Gencatan Senjata

    Unjukrasa di Israel Masuki Malam Ketiga, AS Terus Dorong Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Aksi unjuk rasa menuntut pembebasan sandera di ibu kota Israel, Tel Aviv, telah memasuki malam ketiga pada hari Selasa (3/9/2024).

    Para demonstran berhadapan dengan polisi ketika mereka berkumpul untuk menuntut kesepakatan pengembalian sandera yang ditawan oleh Hamas.

    Para demonstran menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas untuk membawa pulang 101 sandera yang tersisa.

    Aksi unjuk rasa ini terjadi setelah temuan enam tawanan Hamas meninggal di Gaza pada akhir pekan lalu, yang menurut otoritas dibunuh dalam waktu 48-72 jam sebelum ditemukan.

    Baca: AS segera tawarkan kesepakatan gencat senjata final

    Demonstrasi besar-besaran meletus di Tel Aviv yang berujung pada aksi mogok yang diprakarsai serikat buruh terbesar negara itu pada hari Senin (2/9/2024).

    Setidaknya setengah juta orang turun ke jalanan Yerusalem dan Tel Aviv pada hari Minggu (1/9/2024).

    Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Matthew Miller pada hari Selasa menyatakan bahwa AS akan terus berkomunikasi dengan para mitra regional dalam beberapa hari mendatang.

    Pertemuan ini diharapkan dapat menyelesaikan proposal gencatan senjata di Gaza, berikut pembebasan sandera.

    Baca: Hamas hanya akan terima draf gencatan senjata yang sudah disepakati sebelumnya

    Miller menjelaskan, pihaknya telah melakukan pembicaraan konstruktif pekan lalu di kawasan, untuk mencoba dan mencapai kesepakatan mengenai berbagai kesenjangan yang ada.

    “Saya pikir, seperti yang Anda dengar, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan ketika dia berada di wilayah tersebut beberapa minggu yang lalu, Israel telah menyetujui proposal yang menjembatani. Namun, itu bukanlah akhir dari segalanya,” jelas Miller.

    Dia juga menambahkan bahwa sejumlah kemajuan telah dicapai, tetapi untuk mencapai kesepakatan akan membutuhkan fleksibilitas pihak Israel maupun Hamas.

    Israel meluncurkan serangannya terhadap Gaza setelah para anggota Hamas menyerbu bagian selatan Israel pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, kebanyakan warga sipil dan menangkap lebih dari 250 orang sandera.

    Sejak itu, lebih 40 ribu orang Palestina telah tewas dalam ofensif Israel di Gaza. Menurut kementerian kesehatan Gaza, puluhan ribu warga Palestina terluka dan ratusan ribu lainnya harus tinggal di pengungsian.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Protes Pemukiman Ilegal, Aktivis Kebangsaan Turki-Amerika Dibunuh Pasukan Israel

    Protes Pemukiman Ilegal, Aktivis Kebangsaan Turki-Amerika Dibunuh Pasukan Israel

    7cloud.asia – Seorang aktivis berkebangsaan Turki-AS pada Jumat (06/09/2024) ditembak mati oleh pasukan Israel selama protes melawan permukiman ilegal Israel di Kota Beita di Distrik Nablus, Tepi Barat yang diduduki.

    Fouad Nafaa, direktur Rafidia Hospital, mengatakan kepada Anadolu bahwa Aysenur Ezgi Eygi, yang memiliki dua kewarganegaraan ganda Turki dan AS, tiba di rumah sakit itu dengan luka tembak di kepala.

    Eygi, yang lahir di Kota Antalya, Turki, pada 1998, meninggal karena luka-lukanya meski tim medis telah berupaya mengobatinya, menurut Nafaa.

    Baca: AS akan tawarkan kesepakatan final gencatan senjata

    Sejumlah saksi mata melaporkan bahwa tentara Israel melepaskan tembakan langsung ke sekelompok warga Palestina.

    Mereka turut berpartisipasi dalam demonstrasi yang mengecam permukiman ilegal di Gunung Sbeih, di Beita, selatan Nablus.

    Kantor berita resmi Palestina Wafa mengonfirmasi bahwa korban adalah warga AS sekaligus seorang relawan kampanye Fazaa.

    Kampanye ini sebuah inisiatif yang ditujukan untuk mendukung dan melindungi petani Palestina dari pelanggaran yang sedang berlangsung oleh pemukim ilegal dan tentara Israel.

    Warga Beita menggelar protes setiap pekan setelah shalat Jumat untuk menentang permukiman ilegal Israel, Avitar, yang dibangun di puncak Gunung Sbeih.

    Baca: Sekjen PBB desak Israel stop serangan ke Gaza

    Masyarakat Palestina menuntut pemindahan pemukiman ilegal tersebut, yang mereka anggap sebagai pelanggaran hak atas tanah mereka.

    Ketegangan meningkat di seluruh Tepi Barat yang diduduki saat Israel melanjutkan serangannya di Jalur Gaza, yang telah menewaskan hampir 40.900 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak 7 Oktober tahun lalu.

    Sedikitnya 691 orang telah tewas dan lebih dari 5.700 orang luka-luka akibat serangan Israel di Tepi Barat sejak saat itu, menurut Kementerian Kesehatan setempat.

    Sumber: Anadolu-OANA

  • PBB Serukan Penyelidikan dan Pertanggungjawaban Pembunuhan Aktivis yang Dilakukan Israel

    PBB Serukan Penyelidikan dan Pertanggungjawaban Pembunuhan Aktivis yang Dilakukan Israel

    7cloud.asia – PBB pada Jumat (06/09/2024) menyerukan dilakukan “penyelidikan penuh” dan pertanggungjawaban atas pembunuhan seorang aktivis warga Turki-Amerika oleh tentara Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat bagian utara.

    Menanggapi pertanyaan Anadolu tentang apakah PBB mengutuk pembunuhan aktivis tersebut, juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan dalam konferensi pers:

    “Saya bisa mengatakan bahwa kami ingin melihat penyelidikan penuh atas keadaan ini dan orang-orang yang terlibat harus dimintai pertanggungjawaban.”

    “Seperti yang selalu kami katakan, warga sipil harus dilindungi setiap saat,” tambahnya.

    Baca: Israel bunuh aktivis yang protes pemukiman ilegal

    Ketika ditanya apakah ada pertanggungjawaban atas kematian personel PBB yang dibunuh oleh Israel, Dujarric mengatakan: “kami belum melihat apa pun.”

    Ia menambahkan bahwa penyelidikan dan masalah pertanggungjawaban baru akan terjadi “setelah pertempuran berakhir.”

    “Kami telah melihat beberapa langkah menuju pertanggungjawaban atas perlakuan buruk terhadap tahanan Palestina,” katanya.

    Seorang aktivis Turki-Amerika, Aysenur Ezgi Eygi, ditembak mati oleh pasukan Israel pada Jumat saat mengikuti aksi protes menentang pemukiman ilegal Israel di kota Beita, distrik Nablus, wilayah pendudukan Tepi Barat.

    Sumber : Anadolu-OANA

  • Konflik Hamas-Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Palestina

    Konflik Hamas-Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Palestina

    7cloud.asia – Serangan Israel yang telah berlangsung lebih 11 bulan meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Gaza dan menimbulkan krisis kemanusiaan.

    Israel mengatakan bahwa serangannya bertujuan untuk melenyapkan Hamas agar organisasi tersebut tidak dapat mengulangi serangan pada 7 Oktober.

    Saat itu, serangan kelompok militan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menculik 250 lainnya.

    Sejak saat itu perang antara Israel dan Hamas tak kunjung berakhir, hingga hari ini.

    Hingga hari ini, lebih dari 40.000 warga Palestina tewas, dan lebih 100.000 orang lainnya terluka, menurut pejabat kesehatan Gaza.

    Baca: Potret buram anak-anak korban perang di Gaza

    Konflik Israel dan Hamas tersebut juga menghambat pendidikan bagi anak-anak Palestina di Tepi Barat, di mana Israel juga mengintensifkan pembatasan pergerakan dan melakukan penggerebekan besar-besaran.

    Anak-anak adalah salah satu yang paling parah terdampak. Malnutrisi dan penyebaran penyakit meluas di Gaza.

    Ketika Gaza memulai tahun ajaran sekolah kedua tanpa kegiatan belajar-mengajar, sebagian besar anak-anak usia sekolah malah sibuk membantu keluarga mereka bertahan hidup di tengah serangan Israel yang menghancurkan.

    Anak-anak berjalan tanpa alas kaki melalui jalan tanah untuk membawa air dalam jeriken plastik dari titik distribusi ke keluarga mereka yang tinggal di kota-kota tenda yang dipenuhi pengungsi Palestina.

    Baca: Wabah polio mengancam anak-anak di Gaza

    Sementara itu, yang lain mengantre di dapur umum untuk mendapatkan ransum.

    Tess Ingram, juru bicara regional Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation’s Children Fund/UNICEF) mengatakan hampir semua dari 1,1 juta anak di Gaza diperkirakan memerlukan bantuan psikososial.

    “Pada hari apa pun sejak Oktober, antara 8 persen dan 20 persen sekolah di Tepi Barat ditutup,” kata Ingram. Ketika sekolah dibuka, tingkat kehadiran siswa juga berkurang karena anak-anak takut, katanya.

    Para orang tua di Gaza mengungkapkan kesulitan dalam memberikan pelajaran informal kepada anak-anak mereka di tengah kekacauan yang melanda sekitar mereka.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Di sebuah sekolah di pusat Kota Deir al-Balah, ruang kelas terlihat dipenuhi keluarga yang mengungsi.

    Cucian mereka tampak digantung di tangga luar. Jajaran tenda-tenda rombeng dari seprai dan terpal, disangga dengan batang-batang, memenuhi halaman sekolah.

    “Masa depan anak-anak hancur,” kata Umm Ahmed Abu Awja, dikelilingi oleh sembilan cucunya yang masih kecil.

    “Apa yang mereka pelajari tahun lalu benar-benar terlupakan. Jika mereka kembali ke sekolah, mereka harus memulai dari awal.”

    Sumber:VOAIndonesia

  • PBB Kutuk Serangan Israel ke Zona Aman di Jalur Gaza

    PBB Kutuk Serangan Israel ke Zona Aman di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Utusan perdamaian PBB untuk Timur Tengah, Tor Wennesland dengan tegas mengutuk serangan udara mematikan Israel pada Selasa pagi pada zona aman kemanusiaan di Jalur Gaza selatan.

    “Tindakan tersebut hanya menegaskan bahwa tidak ada tempat yang aman atau zona aman di Gaza,” kata Wennesland dalam sebuah pernyataan, Selasa (10/09/2024).

    Setidaknya 40 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam serangan udara Israel di sebuah kamp tenda di Khan Younis di daerah al-Mawasi, Gaza Selatan.

    Wilayah ini sebelumnya telah ditetapkan Israel sebagai zona aman kemanusiaan bagi warga sipil yang terlantar di Gaza.

    Dinas pertahanan sipil Gaza mengatakan rudal Israel membakar tenda-tenda pengungsi dan menyebabkan lubang sedalam sembilan meter di daerah tersebut.

    Baca: Konflik Israel-Hamas hancurkan masa depan anak-anak Palestina

    “Saya menggarisbawahi bahwa hukum humaniter internasional, termasuk prinsip pembedaan, proporsionalitas, dan pencegahan dalam serangan, harus dijunjung tinggi setiap saat. Saya juga menekankan bahwa warga sipil tidak boleh digunakan sebagai perisai manusia,” ucap utusan PBB tersebut.

    Wennesland kembali menyerukan agar Israel dan Hamas segera mencapai kesepakatan yang akan menghasilkan pembebasan semua sandera dan gencatan senjata.

    Ia menekankan pembunuhan warga sipil harus dihentikan dan perang yang mengerikan harus diakhiri.

    “Pada akhirnya, hanya jalur politik yang menguraikan langkah-langkah konkret dan tidak dapat dibatalkan menuju akhir pendudukan dan pembentukan solusi dua negara yang dapat mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dan Israel,” ujar dia.

    Israel telah secara sistematis menargetkan fasilitas sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah, di tengah serangan ofensifnya yang sedang berlangsung di Jalur Gaza. 

    Baca: Aktivis kebangsaan Amerika-Turki dibunuh

    Padahal, sebelumnya telah dirilis resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.

    Menurut aturan perang, serangan yang menargetkan fasilitas sipil semacam itu dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

    Israel terus melancarkan ofensif brutal di Jalur Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.

    Lebih dari 41.000 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, telah tewas dan hampir 95.000 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Blokade yang sedang berlangsung di wilayah tersebut telah menyebabkan kekurangan parah pangan, air bersih, dan obat-obatan, meninggalkan sebagian besar wilayah dalam keadaan hancur.

    Israel menghadapi tuduhan genosida atas tindakannya di Gaza di Pengadilan Internasional.

    Sumber : Anadolu

  • Ledakan Serentak Kembali Terjadi di Lebanon, Mantan Pejabat Inteligen Israel Paparkan Cara Kerjanya

    Ledakan Serentak Kembali Terjadi di Lebanon, Mantan Pejabat Inteligen Israel Paparkan Cara Kerjanya


    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan sedikitnya 14 orang tewas dan lebih dari 450 orang mengalami luka-luka dalam gelombang kedua ledakan alat elektronik yang terjadi di berbagai wilayah Lebanon pada hari Rabu (18/9/2024).

    Pada gelombang kedua, ledakan secara bersamaan terjadi pada alat telekomunikasi walkie-talkie dan perlengkapan panel surya di berbagai wilayah Lebanon.

    Sehari sebelumnya, 12 orang dilaporkan tewas dan sebanyak 2.800 orang mengalami luka-luka ketika alat komunikasi pager, yang digunakan anggota kelompok Hizbullah di Lebanon dan Suriah, meledak secara bersamaan, Selasa (17/9/2024).

    Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas peristiwa ini. Namun, baik Hizbullah maupun pemerintah Lebanon menyebut Israel berada di balik peristiwa ini. Hizbullah bersumpah akan melakukan pembalasan.

    Israel tidak memberi komentar mengenai kedua peristiwa ledakan ini. Namun, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, memuji hasil kerja pasukan dan agen intelijen Israel, meski tidak secara langsung menyebut peristiwa itu.

    “Saya kira ketika Anda melihat situasinya, Pasukan Pertahanan Israel mencetak keberhasilan yang luar biasa. Bersama dengan Shin Bet, bersama dengan Mossad, pada semua lembaga dan semua kerangka – hasil kerja mereka sangat mengagumkan,” kata Gallant pada hari Rabu (18/9/2024) dalam kunjungannya ke lanud Ramat David, Israel.

    Baca: PBB kecam militerisasi air yang dilakukan Israel

    Seorang pakar keamanan Israel, yang juga mantan pejabat intelijen negara tersebut, Eyal Pinko, mengatakan bahwa untuk membuat dampak ledakan seperti itu, bahan peledak kurang dari 2 gram bisa saja disematkan ke dalam pager-pager itu ketika diproduksi.

    “Ini adalah operasi intelijen yang direncanakan dengan sangat baik selama lebih dari satu setengah tahun,” kata Pinko.

    Para anggota Hizbullah diketahui mulai menggunakan pager setelah pemimpin mereka memerintahkan agar tidak lagi menggunakan telepon seluler karena dikhawatirkan komunikasi mereka akan disadap dan dilacak oleh intelijen Israel.

    Hizbullah memesan pager-pager itu dari perusahaan Taiwan bernama Gold Apollo. Namun, Hsu Ching-kuang, kepala perusahaan itu mengatakan bahwa pager mereka diproduksi oleh BAC Consulting, sebuah perusahaan Hungaria.

    Ching-kuang mengatakan, perusahaan tersebut telah bekerja sama dengan pihaknya dan merepresentasikan banyak produk mereka selama sekitar tiga tahun.

    “Mereka juga ingin membuat pager dan bertanya kepada saya jika mereka bisa menggunakan merek kami. Mereka mendesain pagernya sendiri dan membayar kami biaya penggunaan merek untuk setiap pager,” sebut Ching-kuang.

    Baca: PBB sebut dunia gagal lindungi masyarakat sipil dari serangan Israel

    Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengaku bahwa Amerika “tidak tahu dan tidak terlibat” dalam ledakan yang terjadi.

    “Kami sedang mengumpulkan informasi dan fakta. Secara umum, kami sudah sangat jelas menyampaikan tentang pentingnya semua pihak menghindari langkah-langkah yang bisa menimbulkan eskalasi konflik, yang sedang kita selesaikan di Gaza,” jelas Blinken.

    Menanggapi peristiwa ledakan ini, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut bahwa tidak seharusnya “benda-benda sipil” dialihfungsikan menjadi senjata.

    “Saya kira perlu adanya kontrol efektif terhadap benda-benda sipil, tidak mempersenjatai benda-benda sipil – itu harus jadi aturan yang diterapkan pemerintah mana pun di dunia ini,” tuturnya.

    Guterres juga memperingatkan akan adanya “risiko serius terjadinya eskalasi secara dramatis” di kawasan dan meminta semua pihak “melakukan apapun untuk menghindari eskalasi itu.”

    Sumber:VOAIndonesia