Tag: Israel

  • UNICEF: Serangan Israel yang Menewaskan 24 Anak Mengkhawatirkan

    UNICEF: Serangan Israel yang Menewaskan 24 Anak Mengkhawatirkan

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), Catherine Russel menyatakan kekhawatirannya atas kekerasan yang meningkat di Israel dan Lebanon.

    Kekhawatiran ini menyusul serangan yang menewaskan sedikitnya 24 anak di Lebanon selatan pada Senin (23/09/2024).

    “Saya sangat khawatir dengan meningkatnya serangan di Lebanon dan Israel, yang pada hari ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 24 anak di Lebanon selatan,” katanya.

    Dia menekankan bahwa meningkatnya kekerasan merupakan “eskalasi yang berbahaya” bagi warga sipil di wilayah tersebut.

    Baca: Akibat serangan Israel sejak Oktober 2023, 15 ribu anak Palestina tewas

    Menurut Russel, anak-anak di Lebanon dan Israel mengalami trauma psikologis berat akibat serangan udara dan pengungsian.

    Dia mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk mematuhi hukum kemanusiaan internasional yang melindungi warga sipil, infrastruktur, pekerja kemanusiaan, dan personel medis.

    Israel melancarkan serangan-serangan udara ke Lebanon selatan dan timur.

    Menurut otoritas kesehatan Lebanon, aksi militer Israel tersebut telah menewaskan sedikitnya 492 orang, termasuk 35 anak-anak, dan 1.645 lainnya terluka sejak Senin pagi.

    Baca: UNRWA kutuk pembantaian anak-anak Palestina oleh Zionis

    Ribuan warga sipil juga terpaksa harus meninggalkan rumah mereka. Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, dan Israel telah terlibat dalam konflik sejak Israel melancarkan agresi ke Jalur Gaza, Palestina.

    Israel mengintensifkan serangan mereka di Lebanon meski komunitas internasional memperingatkan bahwa tindakan itu akan memperluas konflik di Gaza ke wilayah lain.

    Sumber: Anadolu

  • Joe Biden Memperingatkan Kemungkinan Perang Besar-besaran di Timur Tengah

    Joe Biden Memperingatkan Kemungkinan Perang Besar-besaran di Timur Tengah

    7cloud.asia – Presiden AS Joe Biden memperingatkan perang besar-besaran masih mungkin terjadi di Timur Tengah, dengan Israel di satu sisi melawan sejumlah negara di sekitarnya.

    Presiden Joe Biden, Rabu, (25/9/2024) mengatakan bahwa “perang habis-habisan” masih mungkin terjadi karena pertempuran antara Israel dan Hizbullah meningkat. Tetapi ia berharap dicapai jalan keluar untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.

    Biden mengatakan itu dalam wawancara untuk acara “The View” di TV ABC. Komentarnya muncul setelah berhari-hari Israel dan militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, saling serang.

    Sudah ratusan orang tewas dan memicu kembali ketakutan akan perang yang lebih luas di Timur Tengah.

    Pasukan Israel beberapa terakhir memperluas serangannya, dan telah memerintahkan personilnya agar bersiap untuk kemungkinan serangan darat.

    Israel, Rabu (25/9/2024) memperluas serangan udaranya di Lebanon, menembak jatuh rudal yang ditembakkan kelompok bersenjata Hizbullah ke badan mata-mata Mossad di dekat Tel Aviv. Ini meningkatkan konflik antara kedua musuh bebuyutan.

    Menteri kesehatan Lebanon Firass Abiad dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa setidaknya 51 orang tewas dan 223 orang terluka dalam serangan tersebut. Ia juga memperkirakan jumlah pengungsi di Lebanon mencapai ratusan ribu.

    Hizbullah yang didukung Iran mengklaim telah menarget markas besar Mossad dengan apa yang digambarkannya sebagai rudal balistik.

    Ini pertama kali dalam hampir satu tahun peperangan di mana Tel Aviv, di Israel tengah, menjadi sangat terancam.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Rabu, mengatakan bahwa ia tidak dapat menginformasikan secara rinci apa yang sedang mereka lakukan.

    Netanyahu menegaskan tekadnya untuk memulangkan warga Israel di utara dengan selamat dan memberi pukulan kepada Hizbullah yang tidak mereka bayangkan.

    “Kami melakukannya dengan kekuatan, kami melakukannya dengan tipu daya. Saya janjikan satu hal kepada kalian, kita tidak akan berhenti sampai mereka pulang.”

    Hizbullah meluncurkan puluhan proyektil ke Israel, termasuk rudal ke Tel Aviv yang merupakan serangan terdalam kelompok militan tersebut sejauh ini.

    Tembakan rudal pada Rabu dini hari menandai eskalasi lebih lanjut setelah serangan Israel di Lebanon menewaskan ratusan orang.

    Komandan militer Israel, Rabu, memberitahu pasukan bahwa serangan udara di Lebanon akan berlanjut untuk menghancurkan infrastruktur Hizbullah dan membuka jalan bagi kemungkinan operasi darat oleh pasukan Israel.

    Menanggapi itu, wakil juru bicara Pentagon, Sabrina Singh, kepada wartawan mengatakan “Itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.” Ia menambahkan “kami ingin melihat resolusi diplomatik dan solusi untuk mencegah perang habis-habisan.”

    Sementara itu, para pemimpin dunia menyatakan kekhawatiran bahwa konflik yang terjadi bersamaan perang Israel di Gaza melawan Hamas, dengan cepat meningkat sementara jumlah korban tewas di Lebanon meningkat dan ribuan orang mengungsi.

     

    Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Rabu, mengatakan risiko eskalasi di Timur Tengah “akut” dan bahwa AS dan sekutunya bekerja tanpa lelah untuk mencegah perang besar-besaran antara Israel dan Hizbullah.

    Berbicara pada awal pertemuan dengan pejabat-pejabat senior dan menteri-menteri Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di New York, Blinken mengatakan,

    “Jawaban terbaik adalah diplomasi dan upaya terkoordinasi kita sangat penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan untuk membuka jalan menuju perdamaian dan stabilitas yang lebih besar.”

    Seorang pejabat AS yang tidak mau disebutkan namanya, Rabu, mengatakan bahwa AS tengah aktif menegosiasikan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

    “Kami tengah melakukan diskusi aktif dengan Israel dan negara-negara lain untuk mencoba mencapai gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah,” kata pejabat itu.

    Sumber:VOAIndonesia

  • AS dan Uni Eropa Serukan Gencatan Senjata antara Israel dan Lebanon


    7cloud.asia – Uni Eropa, Amerika Serikat, Prancis dan delapan negara lainnya menyerukan gencatan senjata segera selama 21 hari di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon.

    Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Rabu (25/9/2024 waktu setempat, negara-negara ini mengatakan bahwa konflik Israel-Lebanon “tidak dapat ditoleransi dan menimbulkan risiko eskalasi regional yang lebih luas yang tidak dapat diterima.”

    Sebuah pernyataan bersama mengatakan gencatan senjata akan memungkinkan perundingan menuju penyelesaian diplomatik sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan penghentian permusuhan antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang berbasis di Lebanon.

    Pernyataan itu juga mendesak penerapan gencatan senjata antara Israel dan militan Hamas di Jalur Gaza.

    Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar ikut menyerukan dalam seruan gencatan senjata, yang menyatakan bahwa konflik regional yang lebih luas “tidak ada kepentingannya, baik bagi rakyat Israel maupun rakyat Lebanon.”.

    “Kami kemudian akan siap mendukung penuh semua upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan antara Lebanon dan Israel dalam periode ini, berdasarkan upaya selama beberapa bulan terakhir, yang mengakhiri krisis ini sama sekali,” kata pernyataan itu.

    Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengatakan kepada Dewan Keamanan pada Rabu pagi bahwa dia akan berangkat ke Beirut akhir pekan ini untuk bekerja dengan pemangku kepentingan setempat dalam mencari resolusi diplomatik atas konflik tersebut.

    Baca: Joe Biden peringatkan kemungkinan perang habis-habisan di Timur Tengah

    Perkembangan ini terjadi setelah hari-hari paling mematikan di Lebanon sejak perang saudara berakhir pada awal 1990-an.

    Pejabat kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel telah menewaskan 50 orang pada Rabu, sehingga menambah jumlah korban tewas dalam tiga hari menjadi 615 orang, dan lebih dari 2.000 orang terluka.

    “Kepada semua pihak, mari kita katakan dengan satu suara yang jelas: hentikan pembunuhan dan penghancuran. Kurangi retorika dan ancaman. Mundurlah dari tepi jurang,” kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada pertemuan dewan.

    “Perang habis-habisan harus dihindari bagaimanapun caranya. Ini pasti akan menjadi bencana besar,” ujarnya.

    Perdana Menteri sementara Lebanon menghadiri pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York.

    “Israel melanggar kedaulatan kami dengan mengirimkan pesawat perang dan drone mereka ke wilayah udara kami; dengan membunuh warga sipil, termasuk pemuda, perempuan dan anak-anak; menghancurkan rumah-rumah dan memaksa banyak keluarga mengungsi karena kondisi kemanusiaan yang buruk,” kata Najib Mikati.

    Baca: Inggris gunakan kekuatan diplomasi untuk dorong gencatan senjata di Gaza

    “Lebih jauh lagi, mereka menyebarkan teror dan ketakutan di kalangan warga Lebanon di hadapan dunia, yang hanya menontonnya dengan santai,” tambahnya.

    Duta Besar Israel mengatakan pemerintahnya tidak menginginkan terjadinya perang skala penuh dan terbuka terhadap solusi diplomatik.

    Danny Danon mengatakan Israel hanya melakukan apa yang negara lain akan lakukan jika warganya mendapat ancaman.

    “Sejak 8 Oktober, 70.000 warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka dijadikan pengungsi di negaranya sendiri,” kata Danon.

    “Mereka tidak tahu kapan mereka bisa kembali ke rumah, memulai kembali kehidupan mereka, atau kapan anak-anak mereka bisa kembali ke sekolah.”

    Hizbullah memecah ketenangan di sepanjang perbatasan setelah serangan teror Hamas pada 7 Oktober terhadap Israel yang memicu perang Gaza. Israel mengatakan Hizbullah telah menembakkan hampir 9.000 roket ke arah permukiman-permukiman di Israel utara sejak saat itu.

    Kelompok Hizbullah mengatakan mereka bertindak sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dan sekutunya yang didukung Iran, Hamas.

    Baca: Gaza dan Ukraina jadi perhatian di Sidang Umum PBB

    Pertempuran tersebut telah menewaskan 49 orang di Israel, bersama dengan ratusan orang di Lebanon, dan membuat puluhan ribu orang mengungsi di kedua sisi perbatasan.

    Masih ada waktu untuk diplomasi
    Di Washington, para pejabat militer bersikeras masih ada waktu untuk diplomasi dan de-eskalasi.

    “Sepertinya tidak ada yang akan terjadi dalam waktu dekat,” kata wakil sekretaris pers Pentagon Sabrina Singh ketika ditanya tentang prospek operasi darat besar-besaran Israel melawan Hizbullah.

    “Kami ingin melihat solusi diplomatik, dan kami ingin segera mewujudkannya,” tambah Singh, sambil menekankan bahwa militer AS tidak memberikan intelijen atau dukungan militer apa pun kepada Israel untuk operasinya di Lebanon.

    Dia mengatakan diskusi dengan Israel terus dilakukan dan Washington yakin “Israel mendengarkan.”

    Konflik tersebut juga telah mendorong beberapa negara untuk mendesak warga negaranya meninggalkan Lebanon.

    Amerika Serikat mengumumkan akan mengirim lebih banyak personel militer ke wilayah tersebut untuk menambah pasukan yang ada, sementara Inggris memperkirakan 700 pasukannya akan tiba pada Rabu di Siprus sebagai persiapan untuk kemungkinan evakuasi warga negaranya dari Lebanon.

    Sumber: VOA Indonesia,Koresponden VOA di PBB Margaret Besheer dan koresponden keamanan nasional Jeff Seldin berkontribusi dalam laporan ini. Beberapa informasi untuk artikel ini disediakan oleh The Associated Press, Agence France-Presse dan Reuters.

  • Demi Mewujudkan Negara Palestina Merdeka, Italia Siap Kirim Pasukan Perdamaian PBB

    Demi Mewujudkan Negara Palestina Merdeka, Italia Siap Kirim Pasukan Perdamaian PBB

    7cloud.asia – Italia siap mengirimkan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam rangka membantu pembentukan negara Palestina, yang diakui oleh Israel dan mengakui Israel, Anadolu melaporkan pada Minggu (29/9).

    Dalam wawancara dengan surat kabar Italia, Avvenire, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menggarisbawahi kenyataan bahwa terdapat pemerintahan berbeda di Gaza dan Tepi Barat.

    Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pemerintahan yang utuh di Palestina.

    “Tujuan kami adalah memfasilitasi integrasi ini, mungkin untuk jangka waktu terbatas, dengan kehadiran misi PBB yang dipimpin oleh negara-negara Arab di bawah bimbingan otoritas Palestina,” ujarnya. 

    “Kami siap mengirim pasukan kita bersama PBB untuk pembentukan negara Palestina yang diakui oleh Israel dan yang juga mengakui Israel,” kata Tajani, menambahkan.

    Baca: Kondisi Palestina Memburuk, Indonesia pertanyakan kepemimpinan DK PBB

    Ketika ditanya tentang pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di PBB, Tajani mengatakan, “Israel memiliki hak untuk membela diri, dan krisis ini dimulai dengan serangan pada 7 Oktober.”

    “Namun, yang membuat khawatir bahwa puluhan ribu warga sipil Palestina terbunuh.” ujarnya.  

    Dalam wawancara tersebut, Tajani juga membahas isu-isu internasional sehubungan dengan situasi terbaru di kawasan Timur Tengah setelah kematian pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah.

    Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah meninggal akibat serangan bom oleh tentara Israel pada 27 September lalu.

    Baca: AS dan PBB desak Israel lindungi lokasi bantuan di Gaza

    “Sayangnya, risiko eskalasi ketegangan saat ini tampak terus-menerus. Saat ini, kami bekerja lebih keras dari sebelumnya bagi perwujudan gencatan senjata di Lebanon dan Gaza,” katanya. 

    Tajani menekankan bahwa dirinya terus menjalin kontak dengan kedutaan besar di Tel Aviv, Beirut, dan Teheran.

    “Kami memantau situasi darurat dan siap untuk mengevakuasi warga negara kita,” ujarnya. 

    “Kami mendesak semua orang untuk meninggalkan wilayah tersebut sesegera mungkin. Sementara kami terus melakukan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan, situasinya tetap genting.”

    Sumber: Anadolu

  • Satu Juta Warga Lebanon Mengungsi Hindari Serangan Israel

    7cloud.asia – Pemerintah Lebanon mengatakan satu juta orang Lebanon kini mengungsi ke tempat yang lebih aman guna menghindari serangan Israel.

    Tank-tank Israel terlihat berkumpul di dekat perbatasan dengan Lebanon, Senin (30/9/2024) sewaktu wakil Hizbullah mengatakan kelompok itu bersiap untuk menghadapi serangan darat.

    Sementara itu, jet-jet Israel terus menyerang berbagai target, kali ini di dalam ibu kota Lebanon, Beirut.

    Melansir Reuters, VOA Indonesia memberitakan semua itu menandakan bahwa Israel dan Hizbullah bergerak semakin dekat ke arah perang habis-habisan.

    Wakil pemimpin Hizbullah pada hari Senin mengatakan milisi dukungan Iran itu siap jika Israel meluncurkan serangan darat.

    Baca: Pasca kematian Hassan Nasrallah Hizbulah tetap lanjutkan perlawanan ke Israel

    Naim Qassem menyampaikan pidato umum pertamanya sejak serangan udara Israel terhadap sebuah pinggiran kota Beirut pada Jumat lalu menewaskan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah.

    Qassem mengatakan kelompok itu akan memilih pemimpin baru dalam waktu dekat. Warga sipil Lebanon menyaksikan perkembangan itu dengan perasaan takut.

    Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan lebih dari 1.000 orang Lebanon telah tewas dan sedikitnya 6.000 lainnya terluka dalam dua pekan belakangan.

    Pemerintah mengatakan satu juta orang – sekitar seperlima populasinya – telah lari meninggalkan rumah mereka. Sebagian dari mereka yang meninggalkan Lebanon selatan, tidur di lapangan parkir di kota Sidon.

    Ghada Fawaz, di desa pegunungan Aramoun, membuka apartemen untuk para pengungsi. Ia mengatakan kepada Reuters bahwa ia melihat ketakutan para pengungsi.

    Baca: AS dan negara-negara Eropa serukan gencatan senjata Israel-Hizbullah

    Setiap hari, ujarnya, sewaktu saya lewat dan mengetuk pintu mereka untuk mengetahui keadaan mereka dan melihat apa yang mereka perlukan, saya merasakan ketakutan dan kecemasan di mata mereka.

    ”Mereka selalu ketakutan akan terluka di tempat mereka mengungsi, jangan sampai terjadi. Ini karena begitu banyak yang telah mereka alami dan mereka saksikan,” ujarnya.

    Keputusasaan bagi sebagian orang semakin parah, karena hingga kini, Lebanon adalah tempat mereka mengungsi.

    Raed Ali termasuk di antara ribuan pengungsi yang melarikan diri dari perang saudara di negara tetangga, Suriah.

    Ia mengatakan ia meninggalkan Suriah dan menuju kawasan Dahiyeh di pinggiran kota Beirut, dan kemudian melarikan diri ke Beirut.

    Baca: Joe Biden peringatkan kemungkinan perang habis-habisan Israel-Hizbullah

    Pasukan Israel telah melancarkan banyak serangan terhadap Hizbullah dalam gelombang serangan selama dua pekan terhadap berbagai target di Lebanon. Serangan-serangan itu juga telah menewaskan beberapa komandan Hizbullah.

    Hizbullah dan Israel saling melepaskan tembakan melintasi perbatasan sejak dimulainya perang di Gaza yang dipicu oleh serangan 7 Oktober oleh militan Hamas.

    Israel segera meningkatkan serangan-serangannya terhadap Hizbullah dua pekan silam, menewaskan banyak pemimpin kelompok itu.

    Tujuan yang ditetapkan Israel adalah membuat daerah-daerah di bagian utaranya aman bagi warga untuk kembali ke rumah mereka.

    Menteri pertahanan Israel kini sedang membahas perluasan ofensif mereka.

    Sumber:VOAIndonesia

  • UNRWA Tuding Israel Sengaja Ciptakan Bencana Kelaparan di Jalur Gaza

    UNRWA Tuding Israel Sengaja Ciptakan Bencana Kelaparan di Jalur Gaza

     

    7cloud.asia – Komisioner Jenderal badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini menyatakan bahwa bencana kelaparan di Jalur Gaza terjadi akibat tindakan yang disengaja melalui blokade bantuan dan serangan sistematis Israel terhadap infrastruktur.

    “Kelaparan menyebar di Gaza. Kelaparan ini seluruhnya adalah karena tindak manusia. Lebih dari 70 persen ladang tanaman pun hancur,” kata Lazzarini dalam pernyataannya di media sosial yang dipantau pada Kamis.

    Ia mengatakan, jumlah warga Gaza yang tidak mendapat bantuan jatah makanan yang mencapai 1 juta orang pada Agustus kemarin, melonjak menjadi 1,4 juta orang pada September.

    Baca: Lebih dari 1 juta warga Palestina terancam kelaparan

    Akibat agresi dan blokade Israel yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan tatanan pemerintahan di Gaza, lebih dari 100 ribu ton pasokan makanan tak bisa masuk, kata dia.

    Terlebih, kehancuran besar di Gaza memaksa seluruh populasi kawasan tersebut, yang jumlahnya sekitar 2,1 juta orang pada 2023, menggantungkan nasib pada bantuan kemanusiaan dari luar.

    Lazzarini menyatakan, pembatasan dan penundaan pengiriman bantuan kemanusiaan hanya akan memperburuk kondisi kehidupan pengungsi di Gaza.

    “Dengan semakin dekatnya musim dingin dan memburuknya kondisi cuaca, kekurangan bantuan kemanusiaan yang layak hanya akan menciptakan penderitaan yang lebih besar lagi,” kata dia.

    Baca: PBB tuding Israel sengaja gunakan metode perang baru, menciptakan kelaparan bagi warga Palestina

    Untuk itu, Komisioner Jenderal UNRWA menegaskan pentingnya gencatan senjata untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dan meredakan ketegangan kawasan.

    Diperlukan kehendak politik dan kepemimpinan yang teguh di antara pihak-pihak berkonflik untuk memastikan semua sandera dibebaskan, titik-titik penyeberangan baru dibuka, dan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza tanpa halangan apapun, ucap dia.

    “Memilih perdamaian sebagai cara kita untuk maju adalah pilihan para pemberani. Karena itu, inilah waktunya,” kata Lazzarini.

    Baca: Tragis! Anak-anak Palestina meninggal karena peluru atau mati kelaparan

    Agresi Israel ke Jalur Gaza yang pada 7 Oktober mendatang genap berlangsung selama setahun tersebut telah menyebabkan hampir 41.600 orang tewas, sebagian besar wanita dan anak-anak, serta lebih dari 96.200 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Serangan Israel juga telah membuat hampir seluruh penduduk wilayah tersebut mengungsi di tengah blokade yang menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah.

    Sumber: Antaranews

  • Israel Minta Warga Lebanon Selatan untuk Mengungsi demi Hindari Risiko Serangan


    7cloud.asia – Militer Israel, Kamis (3/10/2024) mendesak warga di lebih dari 20 kota dan desa di Lebanon selatan untuk segera mengungsi dari rumah mereka dan pindah ke utara.

    Perintah Israel ini untuk menghindari bahaya saat Israel melanjutkan operasi daratnya melawan Hizbullah.

    Lewat akunnya di platform media sosial X, juru bicara bahasa Arab IDF Letnan Kolonel Avichay Adraee menyarankan warga untuk pindah ke utara Sungai Awali untuk “menyelamatkan nyawa Anda.” Dia memperingatkan setiap gerakan ke selatan akan membahayakan mereka.

    Dia mengatakan, “Aktivitas Hizbullah memaksa IDF untuk bertindak tegas terhadapnya,” dan mengatakan IDF akan memberi tahu mereka kapan aman untuk pulang.

    IDF merilis video yang katanya adalah pasukan yang beroperasi di Lebanon selatan.

    Baca: Satu juta warga Lebanon mengungsi hindari serangan Israel

    Tentara Brigade ke-6 saat ini berada di Lebanon selatan, “melakukan serangan terarah untuk menggagalkan dan menghancurkan infrastruktur organisasi teroris Hizbullah,” katanya dalam sebuah pernyataan.

    IDF juga mengatakan pada hari Kamis bahwa jet tempur Israel, dalam serangan pada hari Rabu, menewaskan komandan Hizbullah Khader Al-Shahabiya.

    Pernyataan tersebut mengatakan bahwa Khader bertanggung jawab atas serangan roket pada bulan Juli yang menghantam lapangan sepak bola di Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel yang menewaskan 12 anak.

    Pejabat kesehatan Lebanon mengatakan pada hari Kamis bahwa serangan udara Israel menghantam sebuah gedung apartemen di Beirut, menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai tujuh lainnya.

    Amin Sherri, anggota parlemen Hizbullah, mendatangi lokasi tersebut pada hari Kamis, dan mengatakan Israel telah menyerang di daerah yang dihuni warga sipil dan organisasi-organisasi pertahanan sipil Lebanon lainnya.

    Baca: Hizbullah lanjutkan perjuangan melawan zionist Israel

    Iran Serang Israel
    Ketegangan telah meningkat secara dramatis di kawasan itu sejak Selasa malam, ketika Iran melepaskan rentetan sekitar 200 rudal balistik, aksi yang belum pernah dilakukan sebelumnya yang ditujukan ke Israel.

    Iran melakukan serangan tersebut pada malam Tahun Baru Yahudi sebagai balasan atas serangkaian serangan Israel terhadap proksi-proksinya, termasuk pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada bulan Juli dan kepala Hizbullah Lebanon Hassan Nasrallah di Beirut minggu lalu.

    Perdana Menteri Israel Bejamin Netanyahu memperingatkan bahwa Teheran “akan membayar” atas serangan itu, dan Kabinet Keamanannya bertemu Selasa malam untuk membahas kemungkinan serangan balasan.

    Beberapa laporan menunjukkan Israel mungkin akan menyerang kilang minyak Iran atau bahkan lokasi nuklirnya.

    Pada hari Kamis saat meninggalkan Gedung Putih, Presiden AS Joe Biden ditanya apakah AS akan mengizinkan Israel untuk melakukan serangan balasan dan apa rencana AS dalam hal itu.

    Baca: Iran tak akan kirim pasukan ke Lebanon maupun Gaza 

    Biden mengatakan, “Pertama-tama, kami tidak mengizinkan Israel, kami menasihati Israel. Dan tidak akan ada yang terjadi hari ini. Kami akan membicarakannya nanti.”

    Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan Rabu bahwa Teheran akan memberikan tanggapan yang keras terhadap pembalasan Israel.

    Berbicara di Qatar, dalam jumpa pers bersama Emir Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, Pezeshkian mengatakan Iran terus memperjuangkan perdamaian.

    Iran tidak menginginkan perang dengan Israel tetapi menyebut serangan udara di Teheran setelah pelantikannya yang menewaskan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh sebagai provokasi Israel.

    Israel tidak pernah secara resmi bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan Haniyeh tersebut.

    Israel hari Rabu mengumumkan kematian delapan tentaranya dalam pertempuran dengan Hizbullah di Lebanon selatan, sehari setelah Israel memulai apa yang disebutnya sebagai operasi darat “terbatas” untuk menghancurkan infrastruktur militan di sana.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Hamas Sebut Israel Didukung Amerika Lakukan Pembantaian Massal di Gaza

    Hamas Sebut Israel Didukung Amerika Lakukan Pembantaian Massal di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok pejuang Palestina, Hamas, menuding Israel dengan dukungan AS melakukan pembantaian di Jabalia, Gaza utara, sebagai “balasan terhadap warga sipil tak bersenjata” di bawah perlindungan Amerika.”

    Hamas mengutuk pembantaian oleh pendudukan Israel seperti gerakan Nazi, yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan cedera di daerah permukiman Jabalia pada Jumat malam (11/10/2024).

    “Pembantaian ini merupakan kelanjutan dari genosida kriminal yang sedang berlangsung terhadap rakyat kami, yang juga dilindungi oleh Amerika,” kata Hamas dalam pernyataannya, Sabtu (12/10/2024).

    Baca: Pengungsi Gaza tak punya tempat berlindung

    Hamas lebih lanjut mengatakan bahwa serangan yang meningkat terhadap warga sipil di Jabalia ini merupakan upaya untuk menghukum penduduk atas kegigihan dan penolakan mereka terhadap pemindahan paksa.

    “Kejahatan teroris Nazi yang sedang berlangsung, yang kini memasuki tahun kedua, menunjukkan kepada dunia bahwa entitas fasis yang jahat ini haus darah dan ingin membalas dendam melalui genosida lebih lanjut terhadap rakyat kami di Gaza serta penduduk Lebanon,” ujar Hamas.

    Sumber medis di Gaza melaporkan bahwa 24 warga Palestina tewas dan sekitar 90 orang lainnya terluka dalam serangan udara Israel yang menargetkan perkumpulan warga sipil dan blok permukiman yang terdiri dari empat rumah di Jabalia pada Jumat malam.

    Baca: Dunia gagal lindungi warga sipil di Gaza

    Situasi di Jabalia sangat tegang sejak 6 Oktober, dengan tentara Israel memberlakukan pengepungan ketat di daerah tersebut, yang menyebabkan eskalasi kekerasan yang intens di Gaza utara dan beberapa bentrokan paling sengit sejak Mei.

    Serangan udara pada Jumat menandai operasi darat ketiga Israel di Jabalia sejak konflik yang sedang berlangsung meningkat pada 7 Oktober 2023, menyusul serangan sebelumnya pada November dan Desember tahun lalu.

    Israel terus melancarkan serangan brutal di Gaza menyusul serangan lintas batas oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.
    Baca: AS dan PBB desak Israel lindungi lokasi bantuan sosial di Gaza

    Menurut otoritas kesehatan Gaza, konflik Israel-Hamas elah merenggut hampir 42.200 nyawa, terutama perempuan dan anak-anak, dan telah melukai lebih dari 98.300 orang.

    Pengeboman yang terus dilancarkan Israel juga telah memaksa penduduk Gaza untuk mengungsi, di tengah krisis pangan, air bersih, dan pasokan medis akibat blokade.

    Israel saat ini menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Israel Berencana Melarang UNRWA Beroperasi di Wilayahnya

    7cloud.asia – Kepala badan PBB yang membantu pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan, jika undang-undang Israel tentang UNRWA benar-benar diadopsi Knesset, semua operasi kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat akan “tercerai-berai,”.

    Buntutnya, akan menyebabkan ratusan ribu warga Palestina berada dalam kondisi sangat membutuhkan bantuan di saat konflik di wilayah tersebut terus berkecamuk.

    Sebuah komisi di parlemen Israel pada Senin (7/10/2024) lalu menyetujui sejumlah rancangan undang-undang yang akan melarang badan bantuan yang dikenal sebagai UNRWA, beroperasi di wilayah Israel.

    Aturan itu juga mendesak diakhirinya semua kontak antara pemerintah dan UNRWA. RUU tersebut memerlukan persetujuan akhir dari Knesset, atau parlemen Israel.

    Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada Rabu (9/10/2024) bahwa para pejabat senior Israel bertekad untuk menghancurkan badan tersebut.

    Baca: Indonesia kecam sikap Israel terhadap UNRWA

    Dia mendesak badan PBB yang paling berkuasa untuk melindungi UNRWA “dari upaya untuk mengakhiri mandatnya secara sewenang-wenang dan prematur tanpa adanya solusi politik yang telah lama dijanjikan”.

    Ditambahkannya, undang-undang tersebut melanggar kewajiban Israel berdasarkan piagam PBB dan hukum internasional.

    Lazzarini menekankan bahwa secara operasional seluruh respons kemanusiaan di Gaza bergantung pada infrastruktur UNRWA – dan “mungkin akan hancur” jika undang-undang tersebut diadopsi.

    Dia juga memperingatkan bahwa penghentian koordinasi dengan Israel akan semakin mengganggu penyediaan tempat tinggal, makanan dan layanan kesehatan bagi warga Palestina menjelang musim dingin.

    Selain itu lebih dari 650.000 anak akan kehilangan harapan untuk melanjutkan pendidikan mereka “dan seluruh generasi akan dikorbankan.”

    Baca: 453 Serangan Israel menyasar fasilitas kemanusiaan milik UNRWA

    Para pejabat Palestina mengatakan pemboman Israel terhadap Gaza tengah dan utara telah menewaskan puluhan orang dan membuat ribuan orang terjebak di rumah-rumah mereka.

    Sementara itu, jumlah korban tewas dalam perang selama setahun di Gaza telah melampaui 42.000 orang.

    Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pihaknya menemukan 40 jenazah dari Jabaliya dari Minggu (6/10/2024) hingga Selasa (8/10/2024), dan 14 lainnya dari komunitas yang jauh di utara.

    Pihak kementerian mengatakan bahwa jumlah korban jiwa mungkin lebih tinggi karena masih banyak jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan dan di daerah yang tidak dapat diakses.

    Juru bicara militer Israel mengatakan bahwa pasukan Israel beroperasi di Jabaliya untuk mencegah Hamas menghimpun kembali kekuatan dan telah membunuh sekitar 100 militan.

    Sumber:VOAINdonesia

     

  • Setahun Lebih Serangan ke Gaza, Kondisi Anak-anak Kian Mengenaskan

    Setahun Lebih Serangan ke Gaza, Kondisi Anak-anak Kian Mengenaskan

    7cloud.asia – Kondisi anak-anak di Gaza semakin menggenaskan dari hari ke hari, dengan pasokan makanan, air, dan obat-obatan semakin minim dan diperburuk serangan Israel serta pembatasan ketat bantuan kemanusiaan, kata juru bicara UNICEF pada Selasa (15/10).

    James Elder mengatakan dalam konferensi pers di PBB Jenewa bahwa banyak anak-anak di Gaza telah beberapa kali mengungsi sejak perang berlangsung lebih dari setahun yang lalu.

    “Setiap hari, kekurangannya semakin parah,” ujar Elder, menyoroti bahwa 85 persen dari Jalur Gaza berada di bawah perintah evakuasi dan dalam kondisi yang tak layak huni.

    Dia juga menyoroti penurunan tajam dalam pengiriman bantuan kemanusiaan, terutama di bulan Agustus, yang mencatat jumlah bantuan terendah yang masuk ke Gaza sejak konflik dimulai.

    Baca: Israel didesak lindungi lokasi bantuan kemanusiaan di Gaza

    Selain itu, baru-baru ini, tidak ada truk komersial yang diizinkan memasuki Gaza, sehingga memperparah situasi yang sudah ada.

    Elder memperingatkan, jika pembatasan terhadap bantuan tidak segera dicabut dan serangan tidak dihentikan, situasi anak-anak yang sudah parah ini hanya akan semakin memburuk.

    “Setiap harinya, kondisi bagi anak-anak semakin buruk dari hari sebelumnya, dan ini akan terus berlanjut selama serangan berlangsung dan pembatasan bantuan kemanusiaan terus diperketat,” tambahnya.

    “Sulit dibayangkan, tetapi besok akan lebih buruk bagi anak-anak daripada hari ini.”

    Baca: konflik Israel-Hamas menghancurkan masa depan anak-anak Palestina 

    Save the Children International juga menggambarkan Wilayah Pendudukan Palestina (OPT) sebagai “tempat paling mematikan di dunia bagi anak-anak saat ini.”

    “Setidaknya 3.100 anak-anak di bawah usia 5 tahun telah tewas di Gaza, dan ribuan lainnya berisiko mengalami malnutrisi berat seiring dengan ancaman kelaparan yang semakin nyata,” katanya pada Selasa melalui X.

    Israel terus melancarkan serangan brutal di Gaza setelah serangan lintas batas oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.

    Sejak serbuan itu, lebih dari 42.300 orang telah tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 98.600 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Baca: UNRWA kutuk pembantaian anak-anak oleh Israel

    Serangan Israel telah menyebabkan hampir seluruh penduduk di Jalur Gaza menjadi pengungsi, di tengah blokade yang menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Upaya mediasi yang dipimpin oleh AS, Mesir, dan Qatar untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas telah gagal karena Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak untuk menghentikan perang.

    Israel juga menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza.

    Sumber: Anadolu