Tag: ai

  • Kepiawaian Pengguna Jadi Kunci Penggunaan AI dalam Pekerjaan Kreatif

    Kepiawaian Pengguna Jadi Kunci Penggunaan AI dalam Pekerjaan Kreatif

    7cloud.asia – AI Generatif (GenAI) membuat mesin pembelajaran dan karya kreatif lebih mudah diakses oleh semua orang. Namun bagi para profesional industri, kebangkitan AI generatif dapat menandakan hilangnya pekerjaan kreatif.

    Banyak penulis, aktor, dan pekerja kreatif lainnya saat ini cemas terhadap kehadiran kecerdasan buatan/akal imitasi (AI) yang akan mengambil alih pekerjaan mereka.

    Namun, ternyata menurut laporan terbaru dari Forum Ekonomi Dunia, AI justru akan menciptakan lebih banyak pekerjaan dalam lima tahun ke depan daripada yang akan digantikannya.

    Kami berempat yang berasal dari berbagai industri kreatif berbeda mencoba mengeksplorasi pendekatan pendidikan terhadap AI. Kami ingin membantu generasi mendatang bersiap untuk berinovasi dalam kerangka kerja kolaboratif antar manusia-AI.

    Untuk melakukan ini, kami mulai berunding dengan pekerja kreatif kreatif lainnya melalui survei daring.

    Bagaimana jika AI malah benar-benar dapat mendukung kreativitas dan produktivitas manusia? Bisakah kita memanfaatkan teknologi ini untuk keuntungan kita? Apa yang bisa kita harapkan di masa depan?

    Penulis percaya para pekerja kreatif dapat memanfaatkan teknologi baru sambil tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip dasar kreatif dan etika mereka.

    Baca: Penulisan Esai dengan menggunakan AI hasilkan penyeragaman

    Bagaimana industri kreatif menggunakan AI
    Semakin lama, AI semakin tertanam dalam alur kerja operasional industri kreatif, dari konsep yang masih baru hingga realitas yang terintegrasi.

    Maraknya pekerja media dan kreatif yang melakukan aksi mogok untuk memprotes penggunaan AI, telah memicu diskusi penting. Misalnya, Penulis Skenario di Hollywood dan Serikat Penulis Kanada telah menyuarakan tabir baru seputar penggunaan AI terhadap karya kreatif.

    Dalam produksi media, model bahasa besar (large language models/LLM) dapat memfasilitasi pembuatan prototipe cepat untuk konsep naratif, naskah, dan materi audiovisual. Sementara platform penyuntingan otomatis dan efek visual berbasis AI meningkatkan efisiensi yang sangat besar dalam pascaproduksi.

    Integrasi teknologi ini memungkinkan para kreator untuk mengalihkan fokus mereka dari tugas-tugas manual yang melelahkan ke penyempurnaan kreatif tingkat tinggi.

    Dalam komunikasi grafis dan pengemasan, AI dan mesin pembelajaran justru diakui jadi agen perubahan. AI dapat meningkatkan proses mulai dari ide hingga logistik produksi seperti penyortiran dan platform web-to-print yang dipersonalisasi.

    Dalam bidang Manajemen Aset Digital, AI berperan penting dalam meningkatkan penemuan aset dan utilitas melalui penandaan metadata otomatis dan pengenalan gambar yang canggih.

    Jurnalisme juga sedang bertransformasi secara signifikan. AI telah digunakan untuk menganalisis kumpulan big data untuk pelaporan investigasi, tetapi LLM kini secara rutin menyederhanakan peringkasan artikel.

    Aplikasi yang lebih canggih pun bermunculan: sistem AI dirancang untuk mengidentifikasi nilai berita dan menghasilkan artikel secara otomatis dari acara langsung. Kantor berita besar seperti Financial Times dan The New York Times telah menerapkan alat AI di ruang redaksi mereka.

    Baca: Ekses negatif penggunaan artificial intelligence atau AI

    Tantangan etik
    Tentu pengintegrasian AI tetap menyisakan tantangan besar.

    Maraknya konten dan karya yang mengandung informasi palsu dan sumber tidak valid merupakan kegagalan yang patut diperhatikan. Contoh-contoh ini menyoroti masalah kritis terkait akurasi dan keandalan AI generatif.

    Banyak orang mengatakan mereka tidak sepenuhnya memahami sejauh mana AI diintegrasikan ke dalam perangkat lunak standar mereka.

    Perbedaan antara penerapan dan kesadaran pengguna ini menggarisbawahi sifat integrasi AI yang halus namun luas. Hal ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan transparansi dan literasi digital manusia penggunanya yang lebih besar.

    Bias dan properti intelektual
    Model yang dilatih pada data internet yang sangat besar dan belum dikurasi seringkali mereplikasi dan memperkuat bias sosial yang sudah ada. Misalnya, studi menunjukkan isu-isu yang terus-menerus seperti bias anti-Muslim dalam LLM.

    Pada saat yang sama, muncul pertanyaan etika dan hukum yang mendesak terkait kekayaan intelektual. Pelatihan LLM tentang konten berhak cipta tanpa kompensasi telah menciptakan menciptakan tensi tinggi.

    Sebagai contoh, gugatan New York Times terhadap OpenAI yang tertunda menyoroti masalah penggunaan wajar dan remunerasi yang belum terselesaikan untuk karya kreatif yang dihasilkan.

    Sebaliknya, AI generatif menunjukkan potensi yang besar untuk mendemokratisasi produk kreatif.

    Perangkat-perangkat ini, dengan mengurangi hambatan teknis dan mengotomatiskan proses yang kompleks, dapat menyediakan akses bagi individu dan kelompok yang secara historis terpinggirkan dari bidang kreatif karena keterbatasan sumber daya atau pendidikan.

    Baca: Sejumlah negara mulai kembangkan regulasi terkait AI

    Aplikasi spesifik telah meningkatkan aksesibilitas media, seperti tools AI yang secara otomatis menghasilkan teks alternatif untuk gambar dan subtitel untuk konten video.

    Menavigasi penggunaan lanskap ganda ini membutuhkan penerapan kerangka kerja tata kelola yang komprehensif.

    Mendorong kesetaraan, keragaman, dan pendidikan inovasi di seluruh industri sangat penting untuk memitigasi risiko sekaligus memanfaatkan potensi AI generatif untuk ekosistem kreatif yang inklusif.

    Tenaga kerja dan evolusi keahlian
    Dalam sejarah, revolusi teknologi telah mendongkrak perubahan besar dalam pasar tenaga kerja kreatif. Pun, AI generatif hadir mewakili kekuatan disruptif yang tercipta.

    Menjamurnya AI generatif telah membentuk kembali industri kreatif yang menuntut adanya keahlian baru.

    Kreativitas dan intervensi manusia sangat diperlukan untuk memberikan akurasi budaya dan kontekstual. Manusia juga harus meninjau konten yang dihasilkan AI untuk menjaga kualitas dan inklusivitas.

    Menanggapi perubahan ini, lembaga pendidikan tinggi perlu mengkalibrasi ulang kurikulum dari pelatihan khusus alat menuju pengembangan rasa ingin tahu, penalaran etis, dan literasi AI.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis:
    Afsoon Soudi (Assistant Professor, RTA school of Media, Toronto Metropolitan University)
    Gavin Adamson (Professor in journalism, Toronto Metropolitan University)
    Lorena Escandon (Assistant Professor, School of Creative Industries, Toronto Metropolitan University)
    Reem El Asaleh (Professor, Graphic Communications Management, Toronto Metropolitan University)

  • Kemkomdigi Susun Rancangan Perpres terkait AI

    Kemkomdigi Susun Rancangan Perpres terkait AI

    7cloud.asia – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) telah mengajukan izin prakarsa Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) yang terkait dengan pengaturan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) bersamaan setelah rampungnya konsultasi publik untuk aturan tersebut.

    Konsultasi publik yang dimaksud mengacu pada konsultasi publik Buku Putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial (KA) Nasional dan Konsep Pedoman Etika KA yang telah rampung pada 29 Agustus 2025.

    “Kementerian Komdigi juga telah mengajukan permohonan izin prakarsa Rancangan Peraturan Presiden untuk Peta Jalan KA Nasional dan Rancangan Perpres Etika KA kepada Presiden RI,” kata Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru Kemkomdigi Aju Widya Sari dilansir Antaranews.com, Jumat (5/9/2025).

    Aju mengatakan dengan pengajuan prakarsa Perpres itu diharapkan Indonesia bisa memiliki ketetapan hukum atas keduanya pada 2025.

    Buku Putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional ini diciptakan pemerintah untuk mendukung percepatan dan pemanfaatan AI yang inklusif, berkelanjutan, dan bertanggung jawab di Indonesia.

    Ada sebanyak 443 orang berasal dari pemerintah, akademisi, pelaku industri, komunitas masyarakat, dan media yang terlibat dalam Gugus Tugas Peta Jalan KA Indonesia yang terlibat dalam pembuatan Buku Putih tersebut.

    Penyusunan Buku Putih ini menjadi pijakan dalam upaya pengambilan strategi kebijakan yang akan ditempuh di masa mendatang dalam menata kelola pengembangan dan pemanfaatan KA di Indonesia.

    Pada Kamis (28/8/2025), Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan aturan peta jalan AI Nasional memiliki urgensi untuk menyamakan visi mengembangkan AI di Indonesia di tengah peluang pengembangan yang begitu masif di kancah global.

    “Ibarat jalan dari Denpasar mau ke Sanur, kalau salah sampainya akan beda, bisa setengah jam, bisa satu jam apalagi kalau lewat jalan yang macet. Inilah kenapa peta jalan itu penting,” ujar Meutya di Universitas Udayana, Badung, Bali, Kamis (28/8).

    Bersamaan dengan Buku Putih Peta Jalan AI Nasional, pemerintah juga menyusun Konsep Pedoman Etika Kecerdasan Artifisial

    Hal ini sebagai upaya untuk memperkuat dan mengembangkan kebijakan etika KA yang saat ini sudah tersedia melalui Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.

  • AI Masuk Ruang Redaksi: Beda Pendekatan Adopsi Kecerdasan Buatan dalam Pers Indonesia

    AI Masuk Ruang Redaksi: Beda Pendekatan Adopsi Kecerdasan Buatan dalam Pers Indonesia

     

    7cloud.asia – Hari Pers Nasional 2026, 9 Februari lalu membahas kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai teknologi yang “tak terhindarkan” dalam transformasi digital pers.

    Namun, di tengah keterbatasan infrastruktur, kapasitas sumber daya manusia, serta tata kelola organisasi media, apakah semendesak itu bagi ruang redaksi untuk mengadopsi AI?

    Tahun 2023 kemarin, organisasi jurnalis global Reporters Sans Frontières atau Reporters Without Borders (RWB) mencetuskan komitmen menjaga integritas informasi dan praktik jurnalisme di era maraknya teknologi akal imitasi. Mereka juga menekankan bahwa praktik jurnalisme harus berpegang pada nilai-nilai yang disepakati bersama, seperti hak asasi manusia, perdamaian, dan demokrasi.

    Pun, menurut survei tahun 2023 terhadap 105 kantor berita di 46 negara, pengembangan dan adopsi AI di media negara maju dan negara berkembang masih sangat timpang.

    Studi kasus kami yang terbit untuk The Handbook of Artificial Intelligence and Journalism, menunjukkan bagaimana dua media Indonesia, yaitu tvOne dan Narasi, secara terbuka mengintegrasikan AI ke dalam ruang redaksi mereka tapi dengan dua pendekatan adopsi yang berbeda.

    AI di ruang redaksi

    Inovasi teknologi AI adalah gelombang ketiga yang mengubah praktik jurnalisme, setelah internet dan jurnalisme online, serta media sosial dan platform yang bersifat mobile.

    Memahami perbedaan antara AI tradisional dan AI generatif menjadi penting, karena publik saat ini cenderung mengasosiasikan seluruh AI dengan AI generatif (seperti ChatGPT ataupun Gemini). Padahal, berbagai bentuk AI nongeneratif telah digunakan sejak berkembangnya jurnalisme data dan bahkan sejak integrasi awal berbagai sistem komputasi ke dalam ruang redaksi.

    Para jurnalis umumnya menggunakan AI saat mengumpulkan berita, membuat berita, dan menyalurkan berita. AI nongeneratif misalnya digunakan dalam optical character recognition (OCR) atau pengenalan karakter optik, konversi ucapan ke teks, ekstraksi teks, dan penerjemahan otomatis.

    Pada tahap produksi berita, AI juga dapat digunakan untuk proses pemeriksaan fakta, penyuntingan dan pemeriksaan teks, serta berbagai kerja pemrograman.

    Dalam ranah distribusi pemberitaan, AI membantu meningkatkan personalisasi konten, search engine optimization (SEO), dan manajemen media konten media sosial. Penulisan ringkasan berita dan pembuatan judul, maupun chatbot, dapat dijalankan oleh sistem nongeneratif maupun generatif, bergantung pada arsitektur teknologinya.

    AI generatif seperti ChatGPT, model bahasa besar/Large Language Model (LLM), dan multimodal generative pre-trained transformer 4 (GPT-4), yang diintegrasikan ke dalam content management systems (CMS), kini semakin banyak digunakan untuk membantu produksi berita.

    Adopsi AI: Ikut tren atau fokus substansi?

    Pada tahun 2023, tvOne mengklaim perusahaannya sebagai “media pertama berbasis AI” dengan menayangkan siaran yang menampilkan avatar virtual Karni Ilyas, pemimpin redaksi, bersama dua “pembawa berita AI”.

    Sebagai perusahaan media yang berbasis bisnis televisi dan cenderung dikelola secara konservatif, peluncuran pembawa berita AI dapat dilihat sebagai bagian dari upaya mereka untuk tetap menjadi yang terdepan dalam pengembangan media dan teknologi.

    Klaim ini pun cukup ramai diperbincangkan di kalangan para jurnalis, dan dipandang sebagai sebuah inovasi yang luwes menyikapi tren.

    Namun, adopsi “pembawa berita AI” dalam ruang redaksi tvOne dan klaim “media pertama berbasis AI” tampak lebih didorong oleh keinginan menjadi “pelopor” dan taktik “branding” yang bersifat top-down. Keputusan mereka seolah bukan berasal dari permasalahan jurnalisme yang riil membutuhkan teknologi seperti AI.

    Hal ini terlihat dari penjelasan CEO tvOne tentang keputusan adopsi yang lebih didasarkan pada keinginan efisiensi dan menekan biaya produksi lalu menarget pasar Gen Z. Setahun setelah peluncurannya pun, klaim media pertama yang menggunakan AI, masih terus menjadi poin yang dipromosikan.

    Pendekatan tvOne berbeda dari Narasi yang menerapkan AI nongeneratif sesuai kebutuhan peliputan untuk memperkaya substansi kerja jurnalistiknya.

    Ini terlihat dalam kolaborasi mereka dengan perusahaan teknologi Emotion Research Lab untuk memproduksi liputan jurnalisme data, berjudul “Mengukur Emosi Jokowi dengan Artificial Intelligence” pada Juni 2020.

    Penggunaan AI ala Narasi juga dilakukan dalam liputan lainnya bertajuk “62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah”, yang juga sukses memicu perbincangan publik tentang pihak-pihak mencurigakan dalam aksi protes Undang Undang Cipta Kerja yang kontroversial.

    Narasi juga lebih banyak menggunakan AI untuk mendukung jurnalisme data dan liputan investigatif. Media ini tidak memakai klaim hiperbolis seperti “berita pertama berbasis AI”, tapi lebih memberikan dampak pada naiknya perhatian dan perbincangan publik terhadap isu-isu yang diangkat oleh Narasi.

    Narasi, yang memanfaatkan AI dengan berbasis pada struktur editorial dan inisiatif dari para jurnalisnya, mencerminkan pendekatan teknologi yang bersifat taktis, dimulai dengan mengidentifikasi masalah, lalu menentukan teknologi yang paling sesuai untuk menyelesaikannya.

    Dalam konteks ini, AI bukan sekadar pelengkap untuk mengikuti tren, tetapi menjadi komponen inti yang membentuk proses kerja editorial.

    Sementara tvOne terlihat lebih mengutamakan keikutsertaan dalam tren “peralihan ke AI” (AI Turn) dalam dunia jurnalisme.

    Apa yang harus dilakukan?

    Riset kami memperlihatkan dua pendekatan adopsi AI. Artinya, pilihan bagi dunia jurnalisme di Indonesia untuk mengadopsi AI sebetulnya terletak pada keputusan kolektif redaksi dan pengelola media.

    Hal penting lain yang perlu digarisbawahi adalah bahwa masuknya AI ke ruang redaksi tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman atas modus produksi dan risiko AI.

    Karena AI belajar dari data yang tersedia di ruang maya, ia tidak otomatis menghasilkan informasi yang akurat. Ada risiko halusinasi, penguatan stereotip dan prasangka, hingga produksi informasi yang menyesatkan atau menyerupai berita palsu.

    Karena itu, jurnalisme membutuhkan proses redaksi yang tidak hanya mengadopsi AI, tetapi juga memahami cara kerjanya, batasannya, dan konsekuensinya.

    Bahkan, media massa idealnya ikut terlibat dan mengintervensi rantai produksi informasi oleh AI, agar penggunaan teknologi ini dapat diawasi secara etis, akuntabel, dan selaras dengan tanggung jawab jurnalisme.


    Detta Rahmawan, Center for Communication, Media, Culture, and Information Science (CMCI), Universitas Padjadjaran; Justito Adiprasetio, Lecturer, Universitas Padjadjaran, dan Subekti W. Priyadharma, Center for Communication, Media, Culture, and Information Science (CMCI), Universitas Padjadjaran

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Meski Terkesan Meyakinkan, Separuh Jawaban Kesehatan dari AI Menyesatkan

    Meski Terkesan Meyakinkan, Separuh Jawaban Kesehatan dari AI Menyesatkan

     

    7cloud.asia – Bayangkan kamu baru saja didiagnosis kanker stadium awal. Sebelum janji temu berikutnya dengan dokter, kamu bertanya ke chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI): “Klinik alternatif mana yang berhasil menyembuhkan kanker?”

    Dalam hitungan detik, kamu menerima jawaban yang rapi dilengkapi dengan catatan kaki—seolah ditulis oleh seorang dokter. Namun, sebagian klaim dalam jawaban tersebut ternyata tidak berdasar. Catatan kakinya juga tidak merujuk ke mana pun.

    Di sinilah masalahnya, chatbot AI tidak pernah memberi tahu bahwa pertanyaan yang kamu ajukan mungkin saja keliru.

    Skenario ini bukan hipotesis belaka. Inilah yang kurang lebih ditemukan oleh para peneliti saat menguji lima chatbot paling populer di dunia.

    Tujuh peneliti melakukan uji stres untuk memahami keandalan informasi kesehatan yang diberikan AI. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal BMJ Open tahun 2026.

    Bagaimana penelitiannya?

    Para peneliti memberikan 50 pertanyaan medis kepada lima macam chatbot AI, yaitu ChatGPT, Gemini, Grok, Meta AI, dan DeepSeek. Isunya seputar kanker, vaksin, sel punca, nutrisi, hingga performa atletik. Dua pakar kesehatan secara independen menilai setiap jawabannya.

    Hasilnya, hampir 20 persen jawaban tergolong sangat bermasalah, setengahnya bermasalah, dan 30 persen lainnya agak bermasalah.

    Tak satu pun chatbot yang secara konsisten merekomendasikan daftar referensi yang sepenuhnya akurat. Dari total 250 pertanyaan, hanya dua yang secara tegas ditolak dijawab oleh chatbot.

    Secara keseluruhan, kelima chatbot tersebut menunjukkan performa hampir serupa. Grok mencatat kinerja terburuk, dengan 58 persen responsnya dinilai bermasalah. Disusul oleh ChatGPT sebesar 52persendan Meta AI sebesar 50 persen.

    Namun, performa chatbot sendiri sangat bervariasi bergantung pada topiknya. Chatbot paling baik dalam menjawab isu seputar vaksin dan kanker. Kedua bidang tersebut memiliki basis riset yang luas dan terstruktur.

    Meski begitu, chatbot tetap menghasilkan jawaban yang bermasalah pada seperempat bagian pertanyaan. Mereka paling sering keliru menjawab topik nutrisi dan performa atletik.

    Pasalnya, topik tersebut memiliki banyak saran yang saling bertentangan secara daring, serta minim bukti ilmiah yang kuat.

    Masalah paling besar muncul pada pertanyaan terbuka (yang membutuhkan penjelasan detail): 32% jawaban chatbot AI dinilai sangat bermasalah, dibandingkan pertanyaan tertutup (jawabannya hanya ya/tidak) yang hanya mencapai 7%.

    Perbedaan ini penting karena sebagian besar pertanyaan kesehatan di dunia nyata bersifat terbuka. Biasanya kita tidak bertanya dengan format apakah sesuatu itu benar atau salah kepada chatbot.

    Pertanyaan yang diajukan justru seperti: “Suplemen mana yang terbaik untuk kesehatan secara keseluruhan?”.

    Jenis pertanyaan seperti ini memicu jawaban yang fasih dan meyakinkan, tapi berpotensi membahayakan.

    Ketika peneliti meminta setiap chatbot mencantumkan sepuluh referensi ilmiah, skor kelengkapan median (nilai tengah) hanya mencapai 40%. Tak satu pun chatbot berhasil menghasilkan daftar referensi yang sepenuhnya akurat dalam 25 percobaan.

    Kesalahannya beragam, mulai dari daftar penulis yang keliru, tautan tidak berfungsi, hingga rekomendasi makalah yang sepenuhnya fiktif.

    Hal semacam ini berbahaya karena referensi dapat terlihat seperti bukti. Ketika pembaca awam melihat daftar sitasi yang rapi, mereka cenderung tidak punya alasan untuk meragukan jawaban AI.


    Seberapa jauh ‘chatbot’ AI bisa dipercaya?
    Troyan/Shutterstock.com

    Penyebab ‘chatbot’ AI sering keliru

    Ada alasan sederhana mengapa ‘chatbot’ sering kali keliru memberikan jawaban medis. Hal ini disebabkan model bahasa mereka tidak benar-benar “mengetahui” segalanya.

    AI hanya memprediksi kata selanjutnya yang paling mungkin muncul secara statistik berdasarkan data pelatihan dan konteks yang ada.
    Kecerdasan buatan juga tidak menimbang bukti ataupun membuat sebuah penilaian normatif.

    AI merangkum informasi dari artikel ilmiah yang ditelaah sejawat, utas Reddit, blog kesehatan, dan perdebatan di media sosial.

    Karena itu, para peneliti tidak mengajukan pertanyaan yang netral kepada AI. Mereka sengaja merancang pertanyaan untuk mendorong chatbot memberikan jawaban yang menyesatkan. Teknik uji stres standar dalam riset keamanan AI ini dikenal sebagai red teaming.

    Studi ini juga menguji versi gratis dari masing-masing model chatbot yang tersedia pada Februari 2025. Meskipun versi berbayar dan rilisan lebih baru bisa saja menunjukkan kinerja yang lebih baik.

    Faktanya, kebanyakan orang memang menggunakan versi gratis. Sebagian besar pertanyaan kesehatan yang mereka ajukan tidak disusun dengan hati-hati. Kondisi dalam studi ini mencerminkan bagaimana orang benar-benar menggunakan chatbot AI.

    Temuan artikel ini juga tidak berdiri sendiri. Ia muncul di tengah semakin banyak bukti yang menunjukkan gambaran yang konsisten.

    Misalnya, sebuah studi pada Februari 2026 di jurnal Nature Medicine. Riset ini menunjukkan temuan yang cukup mengejutkan.

    Chatbot sebenarnya mampu memberikan jawaban medis yang benar dalam hampir 95% kesempatan. Namun, ketika digunakan oleh manusia di dunia nyata, tingkat jawaban yang benar turun drastis hingga di bawah 35%. Angka ini tidak lebih baik daripada orang-orang yang sama sekali tidak menggunakan chatbot.

    Secara sederhana, persoalannya bukan sekadar apakah chatbot memberikan jawaban yang tepat, melainkan: “Apakah pengguna awam dapat memahami dan menggunakan jawaban tersebut dengan benar?”

    Dikonfirmasi oleh studi lainnya

    Selain itu, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open menguji 21 model AI terkemuka. Para peneliti meminta model-model tersebut untuk menyusun berbagai kemungkinan diagnosis medis.

    Ketika sederet model tersebut hanya diberikan detail dasar (seperti usia, jenis kelamin, dan gejala pasien) mereka mengalami kesulitan dan gagal menyarankan serangkaian kondisi yang tepat pada lebih dari 80% percobaan.

    Namun, setelah para peneliti memasukkan temuan pemeriksaan fisik dan hasil laboratorium, tingkat akurasinya melonjak hingga di atas 90%.

    Sementara itu, studi lain dari Amerika Serikat yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications Medicine menemukan bahwa chatbot cenderung mengulang, bahkan menjabarkan istilah-istilah medis fiktif yang sengaja disisipkan ke dalam perintah.

    Secara keseluruhan, rangkaian penelitian ini menunjukkan bahwa kelemahan yang ditemukan dalam studi BMJ Open bukanlah sekadar kebetulan dari satu metode eksperimen saja. Temuan tersebut mencerminkan sesuatu yang lebih mendasar mengenai posisi teknologi saat ini.

    Chatbot tidak akan menghilang, dan memang tidak seharusnya demikian. Mereka mampu merangkum topik yang kompleks, membantu menyusun pertanyaan untuk dokter, dan berfungsi sebagai titik awal untuk riset.

    Namun, studi terbaru memberikan argumen yang jelas bahwa chatbot tidak boleh diperlakukan sebagai otoritas medis yang berdiri sendiri.

    Jika kamu menggunakan chatbot untuk mencari saran medis, periksa kembali setiap klaim kesehatan yang diberikan. Anggap referensinya sebagai petunjuk untuk ditelusuri, bukan fakta.

    Waspadailah jika jawabannya terdengar meyakinkan, tetapi tanpa disertai peringatan atau batasan.

    Adinda Ghinashalsabilla Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris

    Carsten Eickhoff, Professor, Medical Data Science, University of Tübingen. Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.