Tag: ai

  • Tiga Jenis Pekerjaan Ini Belum Akan Tergusur oleh AI

    Tiga Jenis Pekerjaan Ini Belum Akan Tergusur oleh AI

    .

    7cloud.asia – Laporan dari bank Goldman Sachs pada Maret 2023 memperkirakan bahwa kecerdasan buatan atau AI yang mampu menghasilkan konten dapat melakukan seperempat dari semua pekerjaan yang saat ini dilakukan oleh manusia.

    Di Uni Eropa dan AS, kata laporan itu, 300 juta lapangan kerja berpotensi hilang karena otomatisasi berkat keberadaan AI.

    Dan akibatnya bisa mengerikan, kata Martin Ford, penulis buku Rule of the Robots: How Artificial Intelligence Will Transform Everything.

    “Ini bukan hanya terjadi pada individu, tetapi bisa sangat sistemik,” ujarnya.

    “Itu bisa terjadi pada banyak orang, mungkin secara tiba-tiba, mungkin secara bersamaan. Dan dampaknya dirasakan tidak hanya oleh individu-individu tersebut, tetapi seluruh ekonomi. “

    Baca: Generasi alfa yang akan menentukan dunia kerja di masa depan

    Untungnya, kabar itu tidak semuanya buruk. Para pakar juga mengatakan masih ada hal-hal yang tidak mampu dilakukan oleh AI — tugas-tugas yang membutuhkan kualitas khas manusia, seperti kecerdasan emosional dan pemikiran yang out-of-the-box.

    Dan beralih ke peran yang membutuhkan keterampilan tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan Anda untuk digantikan AI.

    “Saya pikir umumnya ada tiga kategori yang akan relatif ‘aman’ (dari ancaman AI, red) di masa mendatang,” kata Ford.

    “Yang pertama adalah pekerjaan yang benar-benar kreatif: Anda tidak melakukan pekerjaan yang formulatik atau sekadar menata ulang sesuatu, tetapi benar-benar mengajukan ide-ide baru dan membangun sesuatu yang baru.”

    Itu tidak berarti semua pekerjaan yang dianggap ‘kreatif’ akan aman. Bahkan, pekerjaan seperti desain grafis dan yang berhubungan dengan seni visual mungkin di antara yang pertama tutup; algoritma dasar dapat mengarahkan bot untuk menganalisis jutaan gambar, memungkinkan AI untuk menguasai estetika secara instan.

    Namun pekerjaan yang memerlukan jenis kreativitas lainnya akan relatif aman, kata Ford: “dalam sains, dan kedokteran, dan hukum … orang-orang yang pekerjaannya membuat strategi hukum atau strategi bisnis baru. Saya pikir akan terus ada tempat di sana untuk manusia.”

    Kategori kedua yang aman, lanjutnya, adalah pekerjaan yang membutuhkan hubungan interpersonal yang kompleks. Contohnya perawat, konsultan bisnis, dan jurnalis investigasi.

    Ini adalah pekerjaan, ujarnya, “di mana Anda membutuhkan pemahaman yang sangat mendalam tentang orang. Saya pikir akan butuh waktu lama sebelum AI punya kemampuan untuk berinteraksi dalam berbagai cara yang benar-benar membangun hubungan “.

    Kategori ketiga yang aman, kata Ford, “adalah pekerjaan yang memerlukan mobilitas dan ketangkasan serta kemampuan memecahkan masalah di lingkungan yang tidak dapat diprediksi”. Banyak pekerjaan pertukangan – tukang listrik, tukang ledeng, tukang las dan sejenisnya – termasuk dalam kategori ini.

    Baca: Peringati Hari Buruh, tolak sistem no work no pay

    “Ini adalah jenis pekerjaan di mana Anda berurusan dengan situasi yang baru setiap waktu,” imbuh Ford. “Mereka mungkin pekerjaan-pekerjaan yang paling susah untuk diotomasi. Untuk mengotomasi pekerjaan seperti ini, Anda butuh robot-robot dari cerita fiksi ilmiah. Anda butuh C-3PO dari Star Wars.”

    Walaupun manusia kemungkinan besar akan bertahan dalam pekerjaan yang termasuk dalam kategori-kategori tersebut, itu tidak berarti profesi-profesi itu benar-benar aman dari AI.

    Bahkan, kata Joanne Song McLaughlin, profesor ekonomi tenaga kerja di University of Buffalo, AS, sebagian besar pekerjaan, terlepas dari industrinya, punya aspek yang cenderung dapat diotomatisasi oleh teknologi.

    “Dalam banyak kasus, tidak ada ancaman langsung terhadap pekerjaan,” katanya, “tetapi tugas akan berubah.”

    Baca: Nggak usah malu beli barang second, lagi trend kok

    Pekerjaan manusia akan menjadi lebih fokus pada keterampilan interpersonal, lanjut Song McLaughlin.

    “Sangat mudah untuk membayangkan bahwa, misalnya, AI akan mendeteksi kanker jauh lebih baik daripada manusia. Di masa depan, saya berasumsi dokter akan menggunakan teknologi baru itu. Tapi saya tidak berpikir seluruh peran dokter akan digantikan AI.”

     

    Walaupun robot mungkin dapat mendeteksi kanker dengan lebih baik, misalnya, kebanyakan orang masih menginginkan dokter – manusia sungguhan – menjadi orang yang memberi tahu mereka tentang itu.

    Ini berlaku untuk hampir semua pekerjaan, imbuh Ford, dan mengembangkan keterampilan manusia yang khas itu dapat membantu orang-orang untuk belajar bekerja bersama AI.

    “Saya pikir cerdas bila kita benar-benar berpikir, ‘tugas seperti apa dalam pekerjaan saya yang akan diganti, atau akan lebih baik dilakukan oleh komputer atau AI? Dan apa keahlian pelengkap saya?’”

    Baca: Bahaya mengancam di balik manfaat kesehatan makanan fermentasi

    Ford memberi contoh teller bank, yang dahulu tugasnya menghitung uang dengan akurat. Sekarang, tugas itu telah diambil alih oleh mesin — tapi masih ada tempat untuk teller.

    “Tugas menghitung uang menjadi usang karena mesin,” katanya. “Tapi sekarang, teller lebih fokus untuk berinteraksi dengan pelanggan dan memperkenalkan produk baru. Keterampilan sosial menjadi lebih penting.”

    Penting untuk dicamkan, kata Ford, bahwa pendidikan tinggi atau jabatan dengan bayaran mahal tidak berarti aman dari AI.

    “Kita mungkin berpikir orang dengan pekerjaan kerah putih posisinya lebih tinggi di rantai makanan dibandingkan orang yang bekerja sebagai sopir,” ujarnya.

    “Tetapi masa depan pekerja kerah putih lebih terancam dari, misalnya, sopir Uber, karena kita belum punya mobil tanpa pengemudi, tapi AI sudah bisa menulis laporan dengan baik.”

    “Dalam banyak kasus, pekerja yang lebih berpendidikan akan lebih terancam daripada yang kurang berpendidikan. Bayangkan orang yang kerjanya membersihkan kamar hotel — sulit sekali mengotomatisasi pekerjaan itu.”

    Pendek kata, mencari pekerjaan di lingkungan yang dinamis dan berubah-ubah, serta melibatkan tugas-tugas yang tidak dapat diprediksi, adalah cara yang bagus untuk mencegah pekerjaan Anda direbut oleh AI. Setidaknya untuk sementara.

    Sumber : BBC Indonesia

  • Dengan Kecerdasan Buatan atau AI, Le Sserafim dan Fifty-Fifty dinyanyikan oleh Spongebob, Bagaimana Jadinya?

    Dengan Kecerdasan Buatan atau AI, Le Sserafim dan Fifty-Fifty dinyanyikan oleh Spongebob, Bagaimana Jadinya?

    7cloud.asia – Artificial Intelligence (AI) belakangan kini tengah marak bahkan sampai ada yang berpikir bahwa kecerdasan buatan ini akan menggantikan manusia.

    Karena dengan kecerdasan buatan atau AI ini, manusia bisa melakukan banyak hal dengan cepat, seperti membuat sebuah gambar, membuat resep, menyunting foto juga video.

    Tak hanya itu saja, bahkan kecerdasan buatan atau AI bisa melakukan cover lagu, yang artinya kita bisa mengubah penyanyi aslinya dengan penyanyi favorit kita.

    Baca:  Ini jadinya kalau lagu KPop diubah jadi metal

    Setelah sebelumnya Le Sserafim dijadikan musik Metal kini, dengan menggunakan kecerdasan buatan atau AI, lagu yang sama dari Le Sserafim dinyanyikan oleh Spongebob, Squidward dan Patrick.

    Tapi tak hanya Le Sserafim saja, tapi juga idol group Fifty-Fifty dengan judul lagu Cupid.

    Semua itu bisa terjadi karena adanya kecerdasan buatan atau AI yang mulai dikembangkan beberapa tahun belakangan ini.

    Baca: BTS dinobatkan menjadi grup band dengan fans paling loyal

    Melalui kanal YouTube Sandy Boys yang memiliki 17.300 subscribers, dapat dilihat bahwa kanal YouTube tersebut berisikan cover musik K-Pop AI Spongebob, Squidward dan Patrick.

    Video pertama dari kanal YouTube tersebut adalah Unforgiven lagu dari Le Sserafim yang diunggah pada tanggal 14 Mei 2023 lalu.

    Hingga kini video yang dibuat dengan kecerdasan buatan tersebut terlah dilihat sebanyak 153.995 kali, disukai sebanyak 9.600 orang dan 828 komentar.

    Baca: Cara Blackpink tunjukkan kepeduliannya pada lingkungan

    Pada tanggal 4 Juni 2023 lalu, kanal YouTube Sandy Boys juga mengunggah video AI cover dari idol group Fifty-Fifty.

    Hingga kini video tersebut sudah dilihat sebanyak 86.882 kali, disukai sebanyak 5.100 orang dan mendapatkan 563 komentar.

    Nah bagi kamu yang penasaran, bisa kamu kunjungi langung saja kanal YouTube dari Sandy Boys.

    Penulis: M Yazid Al Busthomi 

  • Jokowi: Dunia Pers Global Hadapi Banyak Tantangan Termasuk dari AI

    Jokowi: Dunia Pers Global Hadapi Banyak Tantangan Termasuk dari AI

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan dunia pers di semua negara menghadapi semakin banyak tantangan, termasuk dari perkembangan termutakhir program kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

    “Ini tidak kita rasakan sendiri di Indonesia, tapi semua negara merasakan hal yang sama, dunia pers nya semakin banyak tantangan, karena memang dunia digital ini tidak bisa kita hentikan,” kata Jokowi saat membuka Kongres XXV Persatuan Wartawan Indonesia 2023 di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/9/2023).

    Jokowi mengaku sering mendengar bahwa industri media saat ini sedang tidak baik-baik saja karena tantangan yang muncul semakin banyak, salah satunya perkembangan AI.

    Baca: Pers penuh risiko tapi minim perlindungan

    Dalam KTT G20 di India, 9-10 September 2023, kata Jokowi, sebanyak enam negara besar berbicara khusus mengenai AI.

    Jokowi menangkap ada ketakutan dari sejumlah negara terhadap perkembangan AI, tak hanya kepada pers tetapi juga dalam skala yang lebih luas.

    “Saya menangkap ada ketakutan yang amat sangat mengenai artificial intelligence, dan regulasinya selalu terlambat, sehingga selalu didahului oleh hal-hal yang baru,” ujar dia.

    Baca: Jurnalis Damairia Pakpahan raih SK Trimurti Award

    Setelah kemunculan AI, kata Jokowi, saat ini lahir konsep generative artificial intelligence. Padahal, dengan munculnya AI saja, kata dia, banyak peran manusia yang terancam dalam dunia kerja.

    “Semua tahu naskah narasi bisa pakai AI, bahkan membawakan berita juga bisa pakai AI,” ujar Jokowi.

    Oleh karena itu, kata Presiden, diperlukan payung besar regulasi tentang transformasi digital yang holistik.

    Baca: Menyoal Perpres Jurnalisme Berkualitas

    Regulasi yang holistik itu harus bisa mengatur pula mengenai industri yang berkaitan dengan digitalisasi, seperti industri kreatif dan UMKM, serta industri-industri lainnya.

    Pada Senin ini, Jokowi menjelaskan pemerintah baru saja memutuskan mengenai pemisahan secara tegas platform social commerce dan e-commerce.

    Dia menegaskan perkembangan teknologi harus bisa menciptakan potensi ekonomi baru, bukan membunuh ekonomi yang sudah ada.

    “Sekali lagi payung besar regulasi tentang transformasi digital ini memang harus dibuat dengan lebih holistik dan ini sedang dikerjakan pemerintah,” kata Jokowi.

    Sumber: Setkab

  • Teknologi AI Makin Berkembang, Pekerjaan Apa yang Akan Tergantikan dan Tetap Bertahan?

    Teknologi AI Makin Berkembang, Pekerjaan Apa yang Akan Tergantikan dan Tetap Bertahan?

    7cloud.asia – Ada beberapa jenis pekerjaan yang berpotensi besar akan tergantikan dengan mesin seiring berkembangnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

    Secara garis besar, pekerjaan yang bersifat administratif dan berulang lebih rentan hilang dengan adanya perkembangan teknologi AI yang kian masif.

    Ikhwal pekerjaan yang akan tergantikan oleh AI ini diungkapkan oleh Asisten Deputi Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja (PPTK) Kemenko Bidang Perekonomian Chairul Saleh

    “Yang jelas pertama, pekerja yang sifatnya rutin dan berulang gitu ya. Terus kemudian sifatnya administratif gitu. Itu sudah pasti akan tergantikan, karena semua sudah bisa terbaca oleh algoritma,” katanya dalam Media Briefing: Perkembangan Kebijakan Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan UMKM, di Jakarta, Rabu (12/6/2024).

    Ia memberikan contoh profesi pengemudi atau driver yang kemungkinan dapat tergantikan dengan adanya inovasi autopilot dalam kendaraan listrik (EV).

    Baca: Elon Musk berencana cabut gugatannya ke OpenAI

    Dalam hal ini, Chairul memberikan contoh perusahaan Tesla yang sudah menyematkan teknologi navigasi otomasi dalam unit EV miliknya.

    Adapun berdasarkan data World Economic Forum, beberapa bidang pekerjaan yang terancam hilang meliputi data entry, administrative, executive secretary, accounting, clerk, assembly workers, business services.

    Juga profesi administration manager, client information and customer service, general and operation manager, mechanic and machinery, dan headliner.

    Guna mengantisipasi ketertinggalan tersebut, Chairul menjelaskan perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengoperasikan teknologi.

    “Tesla misalnya, itu navigasinya sudah otomatis. Itu mungkin pekerjaan-pekerjaan driver, untuk itu besok bisa hilang,” ujarnya.

    Baca: Tiga jenis pekerjaan yang belum akan tergusur oleh AI

    Sementara manusia atau tenaga kerja tetap ada. Karena itu harus ada persiapan agar tenaga kerja ini untuk shifting mengikuti perkembangan teknologi.

    Dari biasa bekerja secara konvensional, lanjutnya, menjadi bisa menerapkan teknologi untuk bisa di-apply di pekerjaannya pula.

    Dia menambahkan bahwa pekerjaan yang bergerak di bidang AI, pemrograman dan komputasi menjadi jenis pekerjaan yang akan terus berkembang ke depannya.

    Beberapa bidang profesi tersebut, antara lain data analyst, AI specialist, big data specialist, digital marketing, strategy specialist, process automatization specialist.

    Juga profesi business development professional, digital transformation specialist, information security analysis, software and application developer, dan IoT specialist.

    Baca: Para penulis yang bertahan di tengah gempuran AI

    “Ini enggak bisa hindari gitu karena pemerintah sendiri kan mendapatkan benefit juga dari ekonomi digital. Di sini tadi disampaikan di awal bahwa kontribusi ekonomi digital kita juga cukup cukup besar ya untuk growth ekonomi kita,” imbuhnya.

    Adapun ekonomi digital Indonesia saat ini baru menyumbang sekitar 4 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB) negara.

    Angka tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang ekonomi digitalnya menyumbang sekitar 19 persen dari PDB.

    Indonesia menargetkan ekonomi digitalnya dapat berkontribusi sebesar 18 persen dari total PDB negara pada 2030.

    Sumber:Antaranews.com

  • Sejumlah Negara Mulai Kembangkan Regulasi Terkait AI, Bagaimana dengan Indonesia?

    Sejumlah Negara Mulai Kembangkan Regulasi Terkait AI, Bagaimana dengan Indonesia?

    7cloud.asia – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

    Telah banyak bermunculan berbagai program AI yang dapat mempermudah pekerjaan manusia, mulai dari aplikasi penerjemah, asisten virtual, hingga aplikasi penghasil karya seni.

    Meski demikian, penggunaan AI juga berpotensi melanggar sejumlah aspek terkait privasi, data pribadi, dan hak kekayaan intelektual.

    Untuk mengatasi isu tersebut, sejumlah negara mengembangkan berbagai model regulasi untuk mengatur pengembangan dan pemanfaatan AI.

    Uni Eropa, misalnya, pada 9 Desember 2023, melalui Dewan dan Parlemen Uni Eropa, telah menyepakati rancangan akhir EU AI Act—regulasi AI berbasis hard law yang berlaku secara horizontal dan bersifat one size fits all bagi seluruh sektor yang melibatkan teknologi AI dalam aktivitas bisnisnya.

    Sedangkan, Inggris mengedepankan konsep yang diklaim pro-innovation dengan tujuan agar regulasi yang ada mendukung inovasi AI dan bukan menghambatnya.

    Sementara Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu negara terdepan dalam pengembangan AI sejatinya belum memiliki regulasi khusus terkait hal tersebut.

    Namun, pada 30 Oktober 2023, Presiden AS Joe Biden mengeluarkan Executive Order on Safe, Secure, and Trustworthy Artificial Intelligence yang memuat sejumlah standar dalam pengembangan dan pemanfaatan AI.

    Lalu, bagaimana dengan model pengaturan AI di Indonesia? Sampai hari ini, Indonesia belum memiliki regulasi khusus terkait AI.

    Baca: Pekerjaan yang tak akan tergusur oleh AI

    Pada tahun 2020, pemerintah Indonesia merilis Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia (Stranas KA) yang memuat tentang etika dan kebijakan AI, pengembangan talenta AI, serta ekosistem data dan infrastruktur pengembangan AI.

    Namun, Stranas AI bukanlah dokumen hukum yang mengikat, melainkan hanya arah kebijakan nasional saja.

    Meski demikian, bukan berarti pemerintah Indonesia absen dalam mengatur teknologi AI. Terdapat sejumlah peraturan yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi AI di Indonesia, misalnya Permenkominfo Nomor 3 Tahun 2021 yang mengatur aspek perizinan bagi pelaku usaha yang memanfaatkan AI.

    Ada juga UU ITE beserta peraturan turunannya yang mengatur tentang AI dengan terminologi agen elektronik. Ada UU Pelindungan Data Pribadi yang mengatur pemanfaatan AI yang menyangkut pemrosesan data pribadi.

    Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) juga telah mengeluarkan panduan etika pemanfaatan AI bagi pelaku usaha yang tertuang dalam Surat Edaran Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.

    Upaya meregulasi pemanfaatan AI juga telah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    OJK menunjuk Asosiasi Financial Technology Indonesia (AFTECH) bersama asosiasi industri lainnya yakni AFSI, AFPI dan ALUDI untuk menyusun dan menetapkan Panduan Kode Etik Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang Bertanggung Jawab dan Terpercaya di Industri Teknologi Finansial yang diluncurkan pada awal Desember 2023 silam.

    Baca: Gugatan Elon Musk ke OpenAI

    Selain itu, OJK juga sedang menyusun rancangan peraturan tentang layanan digital oleh bank umum yang di dalamnya memuat prinsip inovasi yang bertanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi baru, salah satunya teknologi AI.

    Terlepas dari upaya-upaya tersebut, Indonesia tetap membutuhkan regulasi yang secara spesifik menyasar teknologi AI agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara bertanggung jawab sekaligus menciptakan ekosistem yang baik bagi pengembangan teknologi AI.

    Tantangan dalam meregulasi AI di Indonesia

    1. Transparansi dan akuntabilitas
    Menciptakan regulasi untuk pemanfaatan AI bukanlah hal yang mudah. Terdapat sejumlah tantangan yang menyertainya. Salah satunya adalah isu terkait transparansi dan akuntabilitas yang berakar pada fitur ‘black box’ dari AI.

    Istilah black box pada AI mengacu pada cara kerja internal AI yang tidak mudah diprediksi oleh penggunanya sehingga menyebabkan kurangnya transparansi dalam pemanfaatannya.

    Dalam menjawab tantangan tersebut, pemerintah Indonesia perlu mengidentifikasi dan memetakan risiko serta kerentanan dari seluruh siklus hidup AI.

    Setelah risiko dan kerentanan tersebut teridentifikasi, pemerintah selanjutnya perlu memitigasi risiko tersebut dan menetapkan kebijakan manajemen risiko di seluruh siklus hidup AI.

    Kebijakan manajemen risiko ini perlu untuk diperbaharui secara berkala seiring dengan perkembangan dan kemunculan risiko AI yang teridentifikasi.

    Baca: Karakteristik pekerjaan yang tak tergantikan oleh AI

    2. Pendekatan yang tepat
    Persoalan selanjutnya yang perlu untuk dijawab adalah model pendekatan yang sebaiknya digunakan oleh Indonesia dalam meregulasi AI. Perlu ada perpaduan antara model pendekatan yang bersifat horizontal, vertikal, dan sektoral.

    Pada tataran pusat, perlu ada regulasi yang secara umum mengatur teknologi AI, khususnya mengenai prinsip-prinsip pengembangan dan pemanfaatan, pemetaan risiko, serta kewajiban pelaporan.

    Kemudian, pemerintah juga perlu menunjuk kementerian atau lembaga sebagai pemimpin dalam tata kelola pengembangan AI yang bertugas untuk mengawasi serta mengkoordinasikan pengembangan AI di Indonesia. Inilah yang dimaksud dengan pendekatan yang bersifat horizontal.

    Di sisi lain, pendekatan vertikal dapat dilakukan dengan menyasar sistem dan algoritma secara spesifik kemudian menetapkan regulasinya.

    Pada tataran yang lebih bersifat khusus seperti sektor keuangan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya, masing-masing sektor perlu untuk membuat regulasi yang lebih spesifik yang menyasar pada masing-masing sektor.

    Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa setiap sektor memiliki kekhususan masing-masing yang berbeda dengan sektor lainnya sehingga terkadang terdapat prinsip-prinsip tertentu yang perlu untuk ditegakkan oleh sektor yang bersangkutan. Ini yang kemudian dinamakan pendekatan yang bersifat sektoral.

    Regulasi tentang teknologi AI di Indonesia adalah suatu hal yang fundamental guna menjamin pemanfaatan AI di Indonesia dilakukan secara bertanggung jawab dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

    Namun, regulasi tersebut jangan sampai menjadi penghambat bagi terciptanya ekosistem pengembangan AI yang baik di Indonesia.

    Regulasi yang nantinya hadir haruslah mampu menyeimbangkan antara etika dalam pemanfaatan AI dan inovasi teknologi yang hendak dicapai.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: M. Irfan Dwi Putra, Junior Researcher at Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada

  • Sederet Ekses Negatif Penggunaan Artificial Intelligence atau AI

    Sederet Ekses Negatif Penggunaan Artificial Intelligence atau AI

    7cloud.asia – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah memberikan akses informasi tanpa batas dalam waktu singkat, sehingga memberikan kemudahan dalam hal pendidikan.

    Dengan adanya AI, mahasiswa dapat mengumpulkan berbagai informasi sekunder yang dibutuhkan untuk pengerjaan tugas dalam waktu lebih cepat daripada pencarian artikel manual.

    Namun, AI juga dapat menimbulkan beberapa persoalan, seperti bocornya data pribadi, bias teknologi dalam penanganan mentalitas manusia, serta kurangnya tingkat keaslian karya apabila mahasiswa bergantung penuh terhadap AI dalam pengerjaan tugas.

    Kondisi ini memerlukan penguatan etika untuk mencegah penyalahgunaan AI yang berakibat fatal bagi psikis maupun pertumbuhan intelektualitas mahasiswa.

    Penguatan etika ini sebaiknya tidak hanya menitikberatkan pada teknologi, tetapi juga mengasah moral akan pentingnya nilai humanisme dalam penggunaan teknologi.

    Baca: Sejumlah negara telah punya aturan soal AI

    AI dan kebocoran data
    Mahasiswa pengguna AI rentan mengalami kebocoran data, karena mereka memiliki literasi yang berbeda-beda dalam melindungi data pribadinya.

    Mahasiswa yang mempunyai literasi dan kepedulian tinggi terhadap perlindungan data tentunya akan membaca lebih detail terkait data yang disebarkan dan dirahasiakan dalam platform AI tertentu.

    Namun, mereka yang mempunyai literasi rendah akan rentan menjadi korban penyalahgunaan data oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

    Secara umum, Indonesia menduduki peringkat 3 terbesar dari kebocoran data dari seluruh negara di kawasan Asia Pasifik selama 2021 dan 2022.

    AI sebagai konsultan kesehatan mental
    Selain itu, banyak remaja usia sekolah ataupun mahasiswa yang menggunakan chatbot AI untuk memberikan solusi atas masalah psikologis yang sedang mereka hadapi.

    Masalahnya, reliabilitas jawaban AI atas masalah psikologis masih dipertanyakan. Dalam penelitian kejiwaan, AI mengganti peran manusia (dehumanisasi) dalam memberikan konsultasi psikologi.

    Artinya, ada komponen manusiawi yang hilang yakni empati dan juga pengertian akan perasaan pasien. Ini menyebabkan adanya bias terhadap respon dari masalah psikologi manusia.

    Data dari Global Online Safety Survey 2024 menunjukkan, ketergantungan yang tinggi akan AI membawa masalah keyakinan yang salah (false belief) serta mengganggu mental dan kondisi psikologi siswa seperti halusinasi (AI hallucination) dan kepribadian palsu (deepfakes).

    Baca: Jenis pekerjaan yang tak akan tergusur AI

    AI kurangi keaslian karya
    Ketergantungan yang tinggi terhadap AI juga dapat menurunkan keaslian karya karena tidak mendorong siswa untuk berpikir kritis terhadap suatu permasalahan.

    Dalam penelitian yang dilakukan oleh Universitas Columbia di Amerika Serikat (AS), salah satu kemampuan manusia yang tidak bisa ditiru AI adalah empati manusia, kreativitas dan motivasi.

    Di dalam pengajaran di kelas, tugas akhir berupa presentasi, pembuatan video observasi lapangan hingga pembuatan makalah, adalah salah satu capaian untuk mendorong motivasi, kemampuan berpikir kritis dan juga kreativitas mahasiswa.

    Pasalnya, presentasi kelompok dapat menumbuhkan nilai kerja sama, kreativitas dan juga kemampuan berpikir kritis.

    Namun, dengan bergantung penuh terhadap AI, kemampuan berkolaborasi dan berpikir kritis mereka dapat berkurang.

    Bagaimanapun, AI memiliki keterbatasan dalam mendukung proses pembelajaran yang proporsional untuk melatih berpikir kritis.

    Pengguna bisa saja memerintahkan AI untuk menyusun dan membuat presentasi yang mereka inginkan, tetapi keaslian pemikiran dan kolaborasi mereka hanya sedikit.

    Hal yang sama juga terjadi dalam pembuatan makalah. Model pembelajaran ini diharapkan dapat melatih kemampuan riset, mengolah informasi dan juga kemampuan berpikir kritis (critical thinking).

    Namun, dengan adanya chatbot berbasis AI, mahasiswa dapat membuat makalah hanya dalam beberapa menit.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Albert Hasudungan, Dosen, Universitas Prasetiya Mulya

  • Yuk, Pahami Etika dalam Penggunaan AI

    Yuk, Pahami Etika dalam Penggunaan AI

    7cloud.asia – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah memberikan akses informasi tanpa batas dalam waktu singkat, sehingga memberikan kemudahan dalam hal pendidikan.

    Dengan adanya AI, mahasiswa dapat mengumpulkan berbagai informasi sekunder yang dibutuhkan untuk pengerjaan tugas dalam waktu lebih cepat daripada pencarian artikel manual.

    Namun, AI juga dapat menimbulkan beberapa persoalan, seperti bocornya data pribadi, bias teknologi dalam penanganan mentalitas manusia, serta kurangnya tingkat keaslian karya apabila mahasiswa bergantung penuh terhadap AI dalam pengerjaan tugas.

    Penggunaan AI juga dapat menggerus kreativitas dan sentuhan humanis pada mahasiswa yang menggunakannya.

    Kondisi ini memerlukan penguatan etika untuk mencegah penyalahgunaan AI yang berakibat fatal bagi psikis maupun pertumbuhan intelektualitas mahasiswa.

    Penguatan etika ini sebaiknya tidak hanya menitikberatkan pada teknologi, tetapi juga mengasah moral akan pentingnya nilai humanisme dalam penggunaan teknologi.

    Cara menguatkan aspek etika dalam penggunaan AI
    Dengan adanya berbagai risiko di atas, penguatan aspek etika dalam penggunaan AI menjadi substansial dalam pengajaran perguruan tinggi di Indonesia.

    Pertama, terkait dengan proteksi data, perguruan tinggi perlu melakukan edukasi dan penyadaran sedini mungkin untuk mencegah kebocoran data dari penggunaan AI.

    Ini bisa dilakukan melalui pembuatan video, buku panduan, hingga kampanye lisan terkait perlindungan data pribadi di dunia digital.

    Di Jerman dan Afrika Selatan, contohnya, perguruan tinggi telah mewajibkan perlindungan data pribadi bagi para mahasiswanya apabila si pengajar menguji mereka dengan teknologi berbasis Ai.

    Perguruan tinggi juga perlu menyadari bahwa robot mempunyai keterbatasan dalam mengatasi permasalahan mental para mahasiswanya.

    Dalam dunia kesehatan, masalah mental tetap memerlukan penanganan dari manusia (contoh: psikolog), karena ada isu empati dan emosi yang lebih optimal apabila ditangani oleh manusia.

    Alih-alih memberikan diagnosis, AI dapat membantu mengerjakan tugas administratif seperti pencatatan medis pasien. Hal ini dapat membantu akurasi administrasi dan pencatatan rekam medis pasiennya.

    Terkait keaslian karya, integritas akademis harus menjadi nilai utama. Setiap mahasiswa yang menggunakan AI untuk pengerjaan tugas perlu menyebutkan hal tersebut di dalam tugasnya (disclaimer).

    Selain itu, pengguna AI tetap perlu membaca dan mencantumkan referensi penulis artikel dari kalimat yang dikutip oleh AI. Sehingga, AI hanya menjadi alat bantu, bukan pelaku utama dalam mengerjakan tugas.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Albert Hasudungan, Dosen, Universitas Prasetiya Mulya

  • Pemanfaatan AI dalam Mitigasi Perubahan Iklim: Praktik Baik di Sejumlah Negara

    Pemanfaatan AI dalam Mitigasi Perubahan Iklim: Praktik Baik di Sejumlah Negara

    7cloud.asia – Diskusi mengenai kecerdasan buatan (AI) dalam konteks lingkungan lebih banyak terfokus pada potensi dampak ekologisnya, terutama akibat konsumsi energi yang tinggi dalam pelatihan model AI berskala besar.

    Namun, penting juga untuk melihat AI sebagai alat yang bisa mendukung upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. AI pun dapat berperan membuka peluang baru untuk penerapan teknologi yang lebih berkelanjutan.

    Peran AI dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim semakin relevan, terlebih dengan pengangkatan topik ini dalam Conference of the Parties 28 (COP 28)—pertemuan tahunan peserta Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC di Dubai tahun lalu.

    Untuk pertama kalinya, AI diusulkan sebagai salah satu solusi untuk memerangi pemanasan global.

    AI dalam mitigasi perubahan iklim
    Mitigasi perubahan iklim mencakup berbagai upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta meningkatkan kapasitas penyerapannya dari atmosfer.

    Tujuan utama dari upaya ini adalah mencapai net zero emissions, yaitu kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer seimbang dengan jumlah yang diserap kembali, sehingga mencapai titik impas emisi (net zero).

    Baca: Kemenangan Donald Trump dinilai berdampak buruk pada aksi iklim dunia

    AI memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan ini.

    Di sektor energi—sumber emisi gas rumah kaca terbesar—AI dapat kita gunakan untuk mengoptimalkan konsumsi energi. Misalnya, melalui pengintegrasian AI ke dalam smart grid atau jaringan listrik pintar.

    Ini memungkinkan AI untuk menganalisis kebutuhan energi secara real-time, menyesuaikan pasokan, dan mengatur distribusi secara efisien.

    Pemerintah Kota Shenzhen di Cina adalah salah satu wilayah yang telah memanfaatkan AI untuk mengatur distribusi listrik sekaligus mengelola penyimpanan energi.

    Alhasil, konsumsi energi per unit GDP (Produk Domestik Bruto) kota tersebut turun menjadi hanya sepertiga dari rata-rata nasional, menjadikannya kota dengan konsumsi energi per unit GDP terendah di Cina.

    Di sektor kehutanan, AI dapat membantu pemantauan laju deforestasi melalui analisis citra satelit, pemrosesan data dengan cepat dan akurat untuk mendeteksi perubahan tutupan hutan.

    Baca: Inggris tunjuk aktivis lingkungan menjadi Duta Besar Khusus untuk Alam

    AI juga dapat mendeteksi kebakaran hutan berdasarkan analisis sensorik terhadap titik panas di wilayah hutan.

    Proyek Guacamaya di Kolombia adalah salah satu contoh nyata. Dalam proyek ini, AI memproses data citra satelit, rekaman bioakustik, dan data kamera tersembunyi untuk memberikan gambaran real-time kondisi hutan Amazon Kolombia.

    Teknologi ini sangat membantu para pengambil keputusan negara tersebut dalam mengatasi deforestasi.

    Sementara itu, di sektor pertanian, sebagai sektor penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar kedua, AI dapat membantu petani menggunakan pupuk, herbisida, dan pestisida dengan lebih bijak.

    Misalnya, melalui analisis data jenis tanaman, tanah, dan cuaca, AI dapat mengurangi pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan.

    Ini memungkinkan sektor pertanian untuk menekan emisi dinitrogen oksida—bahan kimia dalam pupuk—gas rumah kaca yang berkali-kali lipat lebih kuat dari karbon dioksida.

    Program Saagu Baagu di Telangana, India, menunjukkan dampak positif dari AI ini, dengan penurunan pestisida sebesar 9 persen dan penurunan penggunaan pupuk sekitar 5 persen.

    Tidak hanya itu, hasil panen petani juga terbukti ikut meningkat hingga 21 persenper hektare. Lantas, bagaimana AI dimanfaatkan dalam adaptasi perubahan iklim? Jawabannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: M. Irfan Dwi Putra (Junior Researcher at Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada)

  • Pemanfaatan AI dalam Adaptasi Perubahan Iklim

    Pemanfaatan AI dalam Adaptasi Perubahan Iklim


    7cloud.asia – Diskusi mengenai kecerdasan buatan (AI) dalam konteks lingkungan lebih banyak terfokus pada potensi dampak ekologisnya, terutama akibat konsumsi energi yang tinggi dalam pelatihan model AI berskala besar.

    Namun, penting juga untuk melihat AI sebagai alat yang bisa mendukung upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. AI pun dapat berperan membuka peluang baru untuk penerapan teknologi yang lebih berkelanjutan.

    Peran AI dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim semakin relevan, terlebih dengan pengangkatan topik ini dalam Conference of the Parties 28 (COP 28)—pertemuan tahunan peserta Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC di Dubai tahun lalu.

    Untuk pertama kalinya, AI diusulkan sebagai salah satu solusi untuk memerangi pemanasan global yang memicu perubahan iklim

    Dalam tulisan sebelumnya telah diulas peran AI dalam mitigasi perubahan iklim. Dalam tulisan ini, kita akan mengulik bagaimana AI dimanfaatkan dalam adaptasi perubahan iklim

    Perubahan iklim semakin parah dan bisa dengan jelas kita rasakan melalui cuaca ekstrem dan intensitas bencana alam yang meningkat. Dalam menghadapi kenyataan ini, adaptasi menjadi langkah penting.

    AI dapat berkontribusi di sini, terutama dalam sistem prediksi dan peringatan dini bencana.

    Misalnya, beberapa model AI seperti convolutional neural networks (CNN) mampu menganalisis data meteorologis untuk memprediksi banjir, memberikan informasi berharga kepada masyarakat dan pemerintah untuk mempersiapkan diri lebih baik.

    Selain memprediksi bencana, AI juga bisa dipadukan ke dalam sistem peringatan dini. Dengan kemampuan analisis data real-time secara cepat, AI mampu mendeteksi anomali kondisi di lapangan dalam hitungan detik.

    Setelah mendeteksi kejanggalan, sistem AI akan menilai apakah ada situasi tanda awal bencana, yang kemudian diterjemahkan menjadi peringatan dini.

    Taiwan, salah satu wilayah yang menghadapi intensifikasi siklon tropis akibat perubahan iklim telah memanfaatkan AI untuk lebih siap menghadapi fenomena ini.

    Pada Juli lalu, teknologi AI berhasil memprediksi dengan akurat pola dan dampak dari Topan Gaemi, delapan hari sebelum topan tersebut mencapai daratan.

    Dengan prediksi ini, masyarakat dan pemerintah Taiwan dapat mempersiapkan diri lebih baik, mengurangi risiko bencana secara signifikan.

    Inisiatif global memanfaatkan AI untuk aksi iklim
    Potensi besar pemanfaatan AI dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim kini semakin mendapat perhatian dari kelompok kerja global untuk perubahan iklim.

    Dalam COP 28, para peserta menyepakati keputusan untuk meningkatkan pengembangan dan transfer teknologi yang diperlukan dalam menghadapi perubahan iklim melalui suatu sistem yang disebut Mekanisme Teknologi.

    Mekanisme ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas negara-negara, terutama negara berkembang, dalam mengadopsi teknologi yang ramah lingkungan dan efisien untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

    Salah satu hal penting yang dibahas dalam keputusan ini adalah dorongan untuk menerapkan solusi perubahan iklim berbasis AI.

    Dalam COP-28, para pihak juga mendukung pelaksanaan Initiative on Artificial Intelligence for Climate Action (AI4ClimateAction), sebuah inisiatif dari Technology Executive Committee dan Climate Technology Centre and Network—dua badan yang bertanggung jawab dalam Mekanisme Teknologi UNFCCC.

    Inisiatif ini dirilis pada Juni 2023 sebagai upaya untuk mempercepat pemanfaatan AI dalam aksi iklim global.

    Saat ini, langkah konkret dari inisiatif tersebut telah dituangkan dalam Workplan for the Technology Mechanism Initiative on AI for Climate Action (2024–2027).

    Beberapa poin utama dalam rencana kerja ini meliputi peningkatan kapasitas negara-negara dalam menggunakan AI untuk aksi iklim, pemberian bantuan teknis kepada negara berkembang, dan pembentukan kerangka kemitraan sektor publik dan privat.

    Rencana kerja ini diharapkan menjadi panduan bagi pemanfaatan AI dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara global di masa mendatang.

    AI untuk aksi iklim Indonesia
    Sebagai anggota UNFCCC sekaligus salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, Indonesia perlu memanfaatkan teknologi ini untuk mendukung aksi-aksi iklim.

    AI berpotensi besar dalam menekan emisi di sektor energi, melindungi hutan Kalimantan sebagai salah satu penyerap karbon terbesar di dunia, serta mendorong praktik pertanian pintar dan presisi. Teknologi ini dapat berperan penting dalam membantu Indonesia mencapai target Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat.

    Namun, ada sejumlah tantangan yang perlu kita perhatikan. Pertama, Indonesia perlu memiliki regulasi AI yang jelas agar penggunaannya berlangsung secara etis, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

    Kedua, penting bagi Indonesia memiliki basis data yang berkualitas guna menghasilkan hasil analisis yang akurat.

    Ketiga, Indonesia juga memerlukan talenta-talenta digital yang mumpuni untuk mengoperasikan teknologi ini.

    Di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata, AI menawarkan solusi inovatif untuk menyelamatkan masa depan bumi dan manusia.

    Berbekal kemampuannya dalam menganalisis data, AI dapat membantu menurunkan emisi secara signifikan dan memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.

    Namun, keberhasilan pemanfaatan AI untuk iklim bergantung pada tata kelola yang baik. Memastikan teknologi ini berkelanjutan, ramah lingkungan, dan etis adalah kunci untuk memaksimalkan dampak positif AI.

    Dengan pendekatan yang tepat, AI bisa menjadi alat penting dalam upaya kolektif untuk mempertahankan masa depan Bumi dan seluruh penghuninya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: M. Irfan Dwi Putra (Junior Researcher at Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada)

  • AI Mendongkrak Efisiensi Pekerja, Tapi Tidak Akan Menggeser Manusia

    AI Mendongkrak Efisiensi Pekerja, Tapi Tidak Akan Menggeser Manusia

    7cloud.asia – Dua CEO perusahaan teknologi terkemuka memicu perdebatan tentang dampak kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kerja.

    CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengumumkan perusahaan layanan buy-now, pay-later-nya telah berhenti merekrut karyawan setahun terakhir, dengan klaim bahwa AI dapat melakukan sebagian besar pekerjaan manusia.

    Sementara itu, CEO Nvidia, Jensen Huang, berpendapat bahwa pekerja tidak akan kehilangan pekerjaan mereka karena AI, tetapi mereka mungkin akan kehilangan pekerjaan kepada orang lain yang menggunakan AI.

    Dua argumen yang berlawanan ini menggambarkan ketegangan yang terjadi saat ini mengenai bagaimana AI generatif dengan cepat mengubah tempat kerja.

    Namun, penelitian menunjukkan adanya realita yang lebih kompleks dibandingkan sekadar membuat AI melakukan semua kerjaan atau sekadar augmentasi sederhana dibantu manusia.

    Dampak AI pada produktivitas dan keamanan pekerjaan
    Pada musim semi 2024, 66 persen pekerjaan di AS terkena dampak tinggi atau sedang dari AI generatif, sementara pengaruh terhadap 34 persen sisanya masih sebatas dalam tugas-tugas sekunder.

    Tidak seperti revolusi teknologi sebelumnya, adopsi AI generatif menerpa dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya–melampaui tingkat adopsi komputer pribadi dan internet.

    Yang membuat transformasi ini sangat signifikan adalah bahwa AI generatif mengganggu berbagai tugas profesi bergaji menengah hingga tinggi yang sarat akan kemampuan “kognitif” dan “non-rutin”.

    Baca: Kenali sederet ekses negatif AI

    Ini berbeda dari gelombang otomatisasi sebelumnya yang hanya memengaruhi pekerjaan manual. Dengan lanskap AI generatif yang terus berkembang, tren ini kemungkinan akan terus berlanjut dan menguat.

    Penelitian menunjukkan bagaimana AI memengaruhi produktivitas pekerja dan keamanan pekerjaan.

    Salah satu dari rangkaian studi komprehensif awal tentang kecerdasa buatan meneliti dampak asisten percakapan berbasis AI pada agen dukungan pelanggan. Temuan ini menantang visi utopis maupun distopis tentang dampak AI.

    Studi tersebut menemukan bahwa akses ke alat AI meningkatkan produktivitas pekerja rata-rata sebesar 14 persen.

    Namun, manfaat ini tidak merata. Pekerja pemula dan yang kurang terampil mengalami peningkatan produktivitas hingga 35%. AI secara efektif membantu pekerja baru mengadopsi teknik pekerja berkinerja tinggi dengan cepat.

    Menariknya, pekerja yang sangat terampil hanya mengalami peningkatan produktivitas minimal dari alat AI.

    Ini menunjukkan bahwa alih-alih menggantikan keahlian manusia, AI dapat membantu menciptakan kesetaraan dengan meningkatkan kemampuan pekerja kurang berpengalaman.

    Eksperimen Klarna
    Pendekatan Klarna untuk menghentikan perekrutan dan membiarkan tenaga kerja berkurang merupakan sebuah eksperimen yang berani.

    Baca: Sejumlah negara mulai rumuskan regulasi terkait AI

    Klaim Siemiatkowski bahwa AI dapat menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia selaras dengan kekhawatiran tentang pergeseran ketersediaan pekerjaan secara luas.

    Namun, strategi perusahaan untuk meningkatkan gaji pekerja yang tersisa memunculkan sebuah realitas baru bernuansa: meskipun AI mengotomatisasi beberapa tugas, keahlian manusia menjadi lebih berharga, dan tidak terdegradasi.

    Hal ini selaras dengan penelitian yang menunjukkan bahwa organisasi membutuhkan pekerja yang dapat menggunakan alat AI secara efektif.

    Pandangan CEO Nvidia Huang bahwa orang akan kehilangan pekerjaan kepada pengguna AI, bukan AI itu sendiri, mendapat dukungan dari tren yang bermunculan di tempat kerja yang muncul.

    Sebuah survei KPMG, perusahaan jasa profesional multinasional, terhadap eksekutif AS menemukan bahwa meski pekerjaan administratif menghadapi risiko besar dari AI, dampaknya sangat bervariasi di berbagai sektor.

    Misalnya, di sektor manufaktur, 20 persen responden mengharapkan manfaat positif dari AI, sementara 24 persen memperkirakan dampak negatif.

    Ini menunjukkan bahwa daripada menggantikan pekerja manusia secara total, yang mungkin terjadi pada AI adalah transformasi peran.

    Faktor kunci dalam keamanan pekerjaan mungkin bukan apakah sebuah peran dapat diotomatisasi, tetapi apakah pekerja dan organisasi dapat mengintegrasikan alat AI secara efektif ke dalam alur kerja mereka.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Marcel Lukas (Senior Lecturer in Banking and Finance and Director of Executive Education, University of St Andrews)