Tag: bandung

  • Sebanyak 621 Orang Meninggal Akibat DBD, Terbanyak di Bandung

    Sebanyak 621 Orang Meninggal Akibat DBD, Terbanyak di Bandung

    7cloud.asia – Hingga minggu ke 17 tahun 2024, sebanyak 621 kasus kematian akibat demam berdarah dengue (DBD).

    Kematian akibat DBD terbanyak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang mencapai 29 kematian.

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, jumlah kematian pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu, 209 kematian.

    Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan setelah Kabupaten Bandung, Kabupaten Jepara menyusul peringkat kedua terbanyak dengan 21 kematian dan Kota Bekasi 19 kematian.

    Baca: Kasus DBD naik hampir 3x lipat

    “Kabupaten Subang 18 kematian, Kabupaten Kendal 17 kematian,” ungkap Siti seperti dikutip Antaranews.

    Sebelumnya pada minggu ke-16 tahun 2024 terdapat sebanyak 540 kematian dan 76.132 kasus.

    Sementara untuk jumlah kasus juga meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu. Pada minggu ke-17 terdapat 88.593 kasus DBD.

    Sementara pada periode yang sama pada 2023 ada 28.579 kasus DBD.

    Baca: Benarkah perubahan iklim memicu kenaikan kasus DBD?

    Lebih lanjut, Siti menjelaskan lima kabupaten dan kota dengan kasus DBD tertinggi, yaitu Kota Bandung (3.468), Kabupaten Tangerang (2.540), dan Kota Bogor (1.944).

    “Kota Kendari 1.659 kasus, Kabupaten Bandung Barat 1.576 kasus,” ujarnya.

    Karena itu, Siti mengingatkan masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah demam berdarah dengue, seperti pembersihan sarang nyamuk (PSN).

    Selain itu, ia juga mengimbau agar masyarakat dapat menguras, menutup, dan mengubur (3M) tempat yang berisiko menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

    “Bila demam tiga hari tidak menurun juga, segera ke RS/puskesmas, pastikan lingkungan sekitar kita bersih,” katanya..

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Warga Sambut Antusias Program Braga Bebas Kendaraan yang Dilakukan Pemerintah Kota Bandung

    Warga Sambut Antusias Program Braga Bebas Kendaraan yang Dilakukan Pemerintah Kota Bandung

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Bandung menggelar Braga Vehicle Free atau Braga Bebas Kendaraan mulai Sabtu (4/5/2024).

    Wisatawan yang menjadikan Braga sebagai spot favorit namun kerap dihadapkan dengan ironi berupa jalanan yang cukup semrawut kini bisa bernafas lega.

    Lewat Braga Bebas Kendaraan ini kamu bisa menikmati jalan legendaris di kota Bandung itu tanpa khawatir terusik asap knalpot.

    Jalan Braga Bebas Kendaraan ini, bisa dinikmati warga dengan tenang tanpa kendaraan layaknya Braga Tempoe Doeloe loh!

    Baca:Upacara-seba-warga-Badui-bakal-digelar-16-19-mei-2024

    Penjabat (Pj) Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono menyatakan bahwa program Braga Bebas Kendaraan atau Braga BEKEN merupakan upaya untuk menghidupkan kembali daya tarik sejarah Jalan Braga.

    Dengan menjadikan Jalan Braga sebagai zona bebas kendaraan, masyarakat Kota Bandung dapat menikmati kecantikan dan ketenangan sejarah yang dimiliki oleh jalan ini.

    Buat kamu yang ingin menikmati Braga Bebas Kendaraan, Pemkot Bandung telah menyiapkan 16 titik parkir motor dan mobil di sekitaran Jalan Braga.

    Selain itu, acara Braga Bebas Kendaraan juga akan menyuguhkan pertunjukan seni sepanjang hari.

    Pertunjukan seni ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, yang dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas.

    Baca:Tak-hanya-di-Senayan-Monas-berikut-sejumlah-lokasi-CFD-di-Jakarta

    Dilansir dari Instagram @humas_bandung, berikut jadwal acara Minggu, (5/5/2024) di Jalan Braga Bebas Kendaraan :

    Jadwal Pengisi Acara di Jalan Braga BEKEN 5 Mei 2024
    07.30 – 12.00

    – Seni tari jaipongan di depan rumah Seni Ropih

    – Musisi trotoar di depan Grey Museum

    14.00 – 16.00

    – Bandung potensial di depan Braga Citywalk

    – Musisi trotoar di depan Grey Museum

    19.00 – 22.00

    – Musisi trotoar full team di depan Grey Museum

    19.00 – 22.00

    – Musik Braga di depan Kalibre

    = Musisi trotoar di depan Grey Museum

    Perlu dicatat, jadwal sewaktu-waktu bisa berubah, kamu dapat mengecek secara berkala mengenai jadwal tersebut.

    Dan, jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dan tidak buang sampah sembarangan saat menikmati Braga Bebas Kendaraan.

     

     

  • Mengenal Konsep Rumah Pemanen Air Hujan yang Dikembangkan Warga Bandung

    Mengenal Konsep Rumah Pemanen Air Hujan yang Dikembangkan Warga Bandung


    7cloud.asia – Di Kota Bandung, Jawa Barat banjir kini menjadi masalah serius dan cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2003 terdapat dua kejadian banjir, meningkat di 2005 dengan 14 kejadian, kemudian 2010 dengan 25 kali banjir, dan sejauh ini yang terbanyak pada 2018 ada 54 kali banjir.

    Seiring waktu dan perkembangan yang terjadi, Kota Bandung dan Kawasan Cekungan Bandung secara lebih luas lagi, butuh solusi yang memiliki dampak nyata agar banjir teratasi.

    Salah satunya adalah mengembalikan daya resap tanah untuk menerima air hujan yang jatuh di permukaan tanah, meskipun lahan tersebut telah berdiri bangunan di atasnya.

    Hal inilah yang dilakukan Hadi Nurtjahjo, warga Arcamanik, Bandung Timur. Di atas lahan pribadinya, ia memanen air hujan dan menggunakan air hujan untuk keperluan sanitasi harian.

    Menurut Hadi, dengan pola rekayasa teknik yang dilakukan, lahannya memungkinkan memiliki daya resap plus kelolaan air hujan yang turun sampai 100 persen, hingga tidak ada limpasan air yang ke luar dari rumahnya, atau zero run-off.

    Baca Juga: Sumur Resapan, Kisah Pengendalian Banjir dan Konservasi Air di Jakarta

    Di atas lahan seluas 220 meter persegi di kawasan Jalan Sembrani yang kini di atasnya telah dibangun rumah tinggal itu, Hadi membangun rumah dua lantai, yang memakan sekitar 60 sampai 70 persen luas lahan tersebut.

    Dengan dua ruang terbuka yang dijadikan taman di bagian depan dan belakangnya, rumah bercat merah jambu tersebut, dari luar memang terlihat beda dibandingkan rumah-rumah tetangganya.

    Perbedaan itu terletak pada bagian atapnya, di mana tetangga sekelilingnya memakai bentuk limas yang sisi jalur airnya ke arah luar bangunan, Hadi membuat atap rumahnya dicondongkan ke tengah bangunan di atas lantai dua tanpa talang.

    Hal tersebut, untuk membuat air hujan yang ada di atap, terpusat di atas tengah bangunan yang dibuat memungkinkan untuk menampung air agar tidak tumpah ke bawah, kemudian disalurkannya ke tangki-tangki yang ada di halaman depan untuk menjalani tugas selanjutnya.

    Ada tiga tangki bawah tanah (ground tank) yang jaraknya dibuat berdekatan atau bersebelahan di halaman depan rumah, dengan memiliki fungsi yang berbeda masing-masingnya.

    Baca Juga: Jadi Duta World Water Forum ke-10, Cinta Laura Akan Kampanyekan Konservasi Air Bersih

    Tangki pertama yang memiliki ukuran sekitar 1 meter kubik, berfungsi sebagai penerima pertama air hujan yang terkumpul di atas rumah, dan juga bertugas sebagai penyaring awal berbagai sedimen yang terkandung dalam air hujan.

    Setelah air di tangki pertama penuh, air kemudian masuk ke saluran yang mengalir ke tangki kedua dengan ukuran 3,375 meter kubik, sebagai penampung air sekaligus penyaring tahap kedua.

    Air dari tangki kedua ini, kemudian disedot ke atas oleh pompa yang ditanam di tangki ketiga, untuk kemudian ditampung pada tandon air di atas bangunan, yang kemudian digunakan untuk air penyiram toilet dan penyiram tanaman di rumah tersebut.

    Jika kondisi hujan sangat lebat sehingga membuat tangki bawah tanah kedua di rumah Hadi penuh, dia telah mengantisipasi dengan membuat saluran pembuangan yang mengarah ke kolam di halaman depan bangunan berukuran 2,5 m x 1,7 m x 1 m.

    Struktur yang menyerupai kolam ikan tersebut, adalah kolam retensi yang berfungsi menampung dan meresapkan air hujan limpahan dari tangki kedua.

    Baca Juga: Mengenal Subak, Tata Kelola Air Berkelanjutan di Bali

    Kemudian limpasan air yang tak terserap di lahan parkir terbuka, air talang dari atap lahan parkir tertutup, atau yang jatuh langsung ke dalam kolam itu sendiri.

    Sementara di halaman belakang, Hadi membuat kolam retensi juga yang dikamuflase sebagai taman, dengan sistem merendahkan lahan sekitar 10-15 sentimeter dari ketinggian lantai rumah dan membuat jalur airnya.

    “Jadi saya menggunakan konsep Rain Water Harvest (Panen Air Hujan) dengan titik kuncinya adalah atap yang terpusat,” ujar Hadi.

    “Dengan sistem ini, saya bisa katakan bahwa tidak ada setitik pun air dari limpasan hujan ke luar dari rumah saya, yang artinya ini memiliki fungsi konservasi air tanah,” imbuhnya.

    Bahkan, dengan sistem yang dibangunnya sedemikian rupa, Hadi juga mengatakan rumah miliknya mampu melakukan penghematan air perpipaan (PDAM), di mana 30 persen kebutuhan air di rumah tersebut telah terpenuhi oleh air hujan.

    Sistem yang dibangun pada rumah Hadi di Arcamanik tersebut, secara konsep bisa dibilang telah melakukan penahanan, penyimpanan dan pencadangan air hujan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Kolam Retensi: Cara Pemerintah Kota Bandung Tangani Ancaman Banjir

    Kolam Retensi: Cara Pemerintah Kota Bandung Tangani Ancaman Banjir


    7cloud.asia – Di balik keelokannya, Kota Bandung menyimpan “luka” yang kerap muncul saat musim hujan tiba yakni ancaman banjir.

    Banjir memang menjadi masalah serius dan cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu yang dihadapi pemerintah kota dan warga Bandung.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2003 terdapat dua kejadian banjir, meningkat di 2005 dengan 14 kejadian, kemudian 2010 dengan 25 kali banjir, dan sejauh ini yang terbanyak pada 2018 ada 54 kali banjir.

    Hal ini tek lepas dari posisi Kota Bandung memang terletak di sebuah cekungan yang dikelilingi oleh pegunungan sehingga sering digambarkan seperti berada di tengah mangkuk raksasa.

    Menelisik sejarah, cekungan Bandung terbentuk jutaan tahun lalu akibat letusan dahsyat Gunung Sunda.

    Erupsi ini menciptakan kaldera raksasa yang kemudian terisi air dan menjadi danau purba. Seiring dengan waktu, danau tersebut mengering dan meninggalkan cekungan yang luas.

    Terletak di tengah cekungan, kota ini memang rawan banjir karena air hujan mudah terkonsentrasi ke wilayah tengah dan mengalir dari lereng gunung menuju dua aliran sungai utama, yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum yang sangat rentan meluap saat musim hujan tiba.

    Baca Juga: Sungai Ciliwung, Sejarah dan Maknanya Bagi Warga Jakarta

    Dulu, Bandung memiliki banyak sekali kawasan hijau, seperti hutan, kebun, dan persawahan. Kawasan-kawasan ini dulu berfungsi sebagai kolam alami yang mampu menampung air hujan dan mencegah terjadinya banjir.

    Akan tetapi, saat ini banyak kawasan hijau yang beralih fungsi menjadi permukiman, gedung perkantoran, hingga perhotelan. Hal ini menyebabkan berkurangnya daerah resapan air yang berpotensi memicu banjir di wilayah Kota Bandung.

    Oleh karena itu, permasalahan banjir menjadi pekerjaan rumah bagi kota ini. Aliran air sering kali meluap ke permukaan setelah terkikisnya lahan hijau akibat perubahan tata guna lahan.

    Menyadari hal ini, Pemerintah Kota Bandung pada masa kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada tahun 2015 meluncurkan program inovatif untuk memerangi banjir di kota ini melalui pembangunan kolam retensi.

    Kolam retensi kali pertama dibangun di Taman Lansia, Kelurahan Cisangkuy, Kecamatan Bandung Wetan.

    Ide pembangunan Kolam Retensi Taman Lansia muncul dari keprihatinan atas permasalahan banjir yang kerap melanda Kota Bandung dengan mengamati bahwa taman perkotaan, selain berfungsi sebagai ruang publik, juga memiliki potensi untuk menampung air hujan.

    Baca Juga: Sumur Resapan, Kisah Pengendalian Banjir dan Konservasi Air di Jakarta

    Kolam Retensi Taman Lansia memiliki luas 2.452 meter persegi dengan kedalaman 4 meter sehingga dapat menampung air sebanyak 8.417 meter kubik untuk dialirkan menuju anak Sungai Cikapundung, yakni Sungai Cikapayang.

    Program pembangunan kolam retensi ini menjadi salah satu langkah awal dalam upaya penataan sistem drainase di Kota Bandung dan menjadi cikal bakal dari 13 kolam retensi yang telah dibangun untuk pengendalian banjir yang hingga saat ini masih terus dikembangkan.

    Kolam retensi bukan sembarang kolam. Kolam buatan ini dirancang khusus untuk menampung air hujan, mengendalikan banjir, dan menjaga keseimbangan air tanah.

    Pemerintah Kota Bandung sejak tahun 2015 hingga 2024 telah membangun 13 kolam retensi, yakni Kolam Retensi Taman Lansia, Sarimas, Sirnaraga.

    Juga kolam retensi Kandaga Puspa, Rancabolang, Cisurupan, Gedebage, Bima, Allugoro, Cisanggarung, Bandung Inten, Dian Permai dan Margahayu.

    Adapun kehadiran kolam retensi di wilayah Kecamatan Gedebage mempunyai peran penting dalam pengendalian banjir.

    Baca Juga: Membangun Waduk Menjadi Salah Satu Cara Pemprov Jakarta Atasi Banjir

    Secara topografi, kecamatan ini menjadi titik terendah dan terletak di dasar cekungan Bandung dengan ketinggian 666 meter di atas permukaan laut sehingga kawasan ini kerap menjadi langganan banjir kala hujan deras tiba.

    Dibangun pada tahun 2020, Kolam Retensi Gedebage memiliki luas1.550 meter persegi dengan kedalaman 4 meter dan menampung air sebanyak 5.425 meter kubik untuk dialirkan menggunakan rumah pompa menuju anak Sungai Cipamulihan.

    Petugas Kolam Retensi Gedebage Risky (26) kepada ANTARA menjelaskan, secara teknis kolam ini mirip dengan bak penampung air raksasa dari aliran sungai saat hujan deras.

    Di beberapa titik, air dialihkan ke kolam retensi. Di sini, air ditampung dan diproses secara alami untuk kemudian dialirkan secara perlahan ke sungai sehingga meminimalisasi risiko luapan dan banjir.

    Sebelum pembangunan kolam retensi, Gedebage kerap dilanda banjir yang tidak kunjung surut. Aliran sungai yang meluap tak jarang merendam kendaraan yang melintasi Jalan Soekano-Hatta hingga menyebabkan mogok dan tidak bisa melintas.

    “Sebelum ada Kolam Retensi Gedebage, Jalan Soekarno-Hatta bisa terendam kurang lebih 5 jam karena aliran Sungai Cipamulihan meluap ke jalan,” katanya.

    Baca Juga: Mungkinkah Membangun Waduk yang Ramah Lingkungan? Sulit Tapi Sangat Dimungkinkan

    Keberadaan kolam retensi itu tidak hanya bergantung pada penampungan air ini karena di balik itu terdapat tiga pompa yang mampu menyedot air dengan cepat dan efisien.

    Saat kolam penuh air, pompa ini bekerja tanpa henti untuk mengalirkan air ke sungai sehingga dapat mencegah genangan air di jalan dan permukiman warga.

    Pompa ini dilengkapi dengan sistem kontrol canggih. Pompa ini dapat bekerja secara ideal di kala hujan deras tiba, yakni air kolam dapat terkontrol dengan baik dan tidak sampai meluap.

    “Kalau tadinya banjir di Gedebage selama 5 jam belum surut, setelah ada pompa, kalau hujan cukup deras, 2 jam bisa langsung surut,’ kata Risky.

    Menurut Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, kehadiran kolam retensi berpengaruh signifikan terhadap volume genangan banjir yang tersisa di Kota Kembang.

    Sembilan tahun lalu, tepatnya pada 2015, volume genangan banjir di Kota Bandung mencapai 99.336 meter kubik dan telah menyusut 62.719 meter kubik setelah dibangun 13 kolam retensi di berbagai wilayah hingga tahun 2024.

    Baca Juga: Pembangunan Bendungan Menyimpan Segudang Ancaman bagi Lingkungan

    “Jadi pembangunan kolam retensi masih perlu dilakukan lagi karena berdasarkan kajian pada tahun 2023 masih volume genangan air di Kota Bandung masih tersisa sekitar 36.000 meter kubik yang belum tertampung,” kata Kepala Seksi Pengendalian Daya Rusak Air Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Kota Bandung, Yudi Gumelar.

    Penanganan kolam retensi di Kota Bandung terbagi dalam 12 sub-daerah aliran sungai (DAS), yakni kawasan Cigondewah, Cianting, Cibereum, Cicahiyang, Cipariuk, Curugdogrog, Citepus, Cikapundung, Cicadas, Cidurian, Cipamokolan, dan Cinambo.

    Dari ke-12 sub DAS tersebut volume genangan di empat sub DAS telah dinyatakan menyusut sehingga saat ini DSABM Kota Bandung berfokus pada sisa volume genangan banjir di delapan sub DAS tersisa dengan volume genangan yang tersisa sebesar 36.000 meter kubik.

    “Saat ini tersisa delapan sub DAS–jika diatasi semua dengan kolam retensi–dibutuhkan kolam seluas 9.154 meter persegi,” kata dia.

    Selain menyusutnya volume genangan air pada 12 sub DAS, pembangunan kolam retensi juga memberikan dampak penyusutan terhadap titik banjir di Kota Bandung.

    Pemerintah Kota Bandung sudah melakukan serangkaian pengendalian banjir. Hasilnya, bila pada tahun 2020 ada 68 titik banjir, sekarang ini (2024) tinggal tujuh titik banjir.

    Baca Juga: Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    Lebih dari sekadar penangkal banjir, kolam retensi di Kota Bandung dirancang tidak hanya sebagai penampung air, tetapi juga sebagai fasilitas publik dan taman.

    Beberapa kolam retensi pun telah dilengkapi dengan fasilitas seperti lintasan jalan kaki (jogging track), taman bermain anak, tempat duduk, dan toilet umum.

    Tak hanya itu, beberapa kolam retensi juga dijadikan sebagai ruang edukasi tentang pengelolaan air maupun budi daya ikan yang dapat membuka mata pencarian baru bagi warga sekitar.

    Pada masa menjelang kemarau, masyarakat memanfaatkannya dengan budi daya ikan lele, sedangkan pada musim hujan sebagai penampungan air.

    Sumber: Antaranews.com

  • Kota Bandung Berbenah, Menanggulangi Banjir Sekaligus Memanen Air Hujan

    Kota Bandung Berbenah, Menanggulangi Banjir Sekaligus Memanen Air Hujan

    7cloud.asia – Banjir di Kota Bandung merupakan masalah kompleks yang membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari berbagai sektor untuk mencapai solusi efektif dan berkelanjutan.

    Penjabat Wali Kota Bandung Bambang Tirtoyuliono menyebut persoalan banjir menjadi fokus untuk diselesaikan dengan kerja sama lintas sektoral.

    Masalah banjir di Kota Bandung sebenarnya sudah terpetakan cara penyelesainnya, namun Pemkot Bandung tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi persoalan tersebut.

    Dibutuhkan dukungan dari lintas wilayah untuk mengatasi persoalan ini.

    “Saya merasa yakin ada solusi bersama karena simpul-simpul terjadinya banjir sudah terindentifikasi, tinggal bagaimana berkolaborasi dengan lintas wilayah,” katanya.

    Pembangunan satu kolam retensi membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk pembebasan lahan, konstruksi, hingga pemeliharaan.

    Baca: Pembangunan kolam retensi di Kota Bandung

    Oleh karena itu, penanggulangan banjir, termasuk pembangunan kolam retensi, membutuhkan upaya bersama dari semua pihak. Kolaborasi lintas sektoral menjadi kunci mendapatkan solusi efektif dan berkelanjutan.

    Dengan sinergi lintas sektor dan wilayah, Kota Bandung bakal menjadi kota yang lebih aman dan nyaman bagi 2.693.500 warganya.

    Sejak akhir tahun 2021 (Desember), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat telah mencanangkan program dengan konsep menahan, menyimpan dan mencadangkan air hujan yang disingkat dengan akronim “Hansip Cai”.

    Menurut Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat, program ini bertujuan untuk kegiatan konservasi dan bagian dari mitigasi dengan mereduksi debit run-off air permukaan untuk penanganan banjir di Jawa Barat.

    Hansip Cai dari Pemprov Jabar ini adalah pembangunan sumur resapan yang sampai 2024 ini telah terbangun 1.000 unit.

    Sumur resapan ini dibangun di titik-titik aliran air yang bisa menggenangi beberapa kawasan seperti di Terowongan Cibaduyut, dan sekitar Cikadut.

    Baca: Pemprov Jakarta terus berupaya menambah penampung air

    Diharapkan juga dijalankan oleh semua pemangku kepentingan.

    Pasalnya, disadari juga oleh Pemprov Jabar bahwa saat ini, perbandingan resapan air dan limpasan air di sebagian besar Jabar terutama perkotaan adalah 20 persen-30 persen berbanding 70 persen.

    “Itu pun kalau ada tamannya. Jadi, intinya tujuannya adalah mengembalikan ke fungsi tata guna lahan sebelumnya sebelum ada pembangunan,” ucap Kepala Dinas SDA Jabar, Dikky Achmad Sidik.

    Sumur resapan sendiri telah diatur, di mana setiap Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diterbitkan, mencantumkan adanya keharusan untuk membuat sumur resapan.

    Adapun itungannya untuk tiap 100 meter lahan terbangun, butuh sumur resapan yang bisa menampung sembilan kubik air.

    Namun diakui oleh Dinas SDA, belum semua pihak taat dalam menjalankan regulasi tersebut, sehingga butuh keterlibatan pemerintah tingkat kota/kabupaten untuk mengawasi ketentuan itu.

    Baca: Membangun waduk yang ramah lingkungan

    Apalagi izin mendirikan bangunan kini ada di kota/kabupaten.

    Di sisi lain, pemerintah bisa mulai memikirkan dan mewajibkan konsep zero run-off atau bahkan rumah memanen air hujan untuk diterapkan pada perumahan, sekolah, gedung pemerintahan, sampai pemukiman padat dengan pendekatan yang berbeda-beda.

    Langkah awalnya, pemerintah bisa membuat regulasi yang meminta pengembang kawasan perumahan, untuk membuat rancangan hunian yang tidak menimbulkan limpasan air hujan ke luar unit rumahnya, dan kawasan proyeknya.

    Kemudian, bisa dilanjutkan dengan kewajiban serupa pada kawasan perumahan, industri, pemerintahan. Serta pada kawasan padat penduduk bisa dilakukan dengan sistem komunal.

    Tujuannya, tentu mengurangi limpasan air dari bangunan-bangunan yang menutup tanah, semisal di Bandung ada 60 persen lahan yang terbangun.

    Ini artinya kalau sistem tersebut bisa diterapkan dengan baik, limpasan akan berkurang seluas yang terbangun itu sendiri.

    Baca: Sodetan Ciliwung tak hanya mencegah banjir

    Sebagai pemikat, pemerintah bisa memberikan insentif seperti pengurangan PBB. Dan jika sistem ini terbangun, dan seluruh rumah dan bangunan bisa zero run-off, akan selesai dan bisa tidak banjir.

    Tapi ini tidak bisa cepat, sedikitnya 50 persen melaksanakan baru terasa perbedaannya,” ucap Hadi yang juga merupakan pakar dalam bidang perencanaan wilayah dan perdesaan ITB ini.

    Penanganan banjir, konservasi air hujan untuk mengatasi penurunan muka air tanah di kota-kota besar, termasuk Bandung, perlu ada inovasi yang sangat efektif.

    Tapi, hal ini juga perlu ada kerja bersama antar semua pihak secara pentahelix, agar bisa terlaksana dengan baik dan terasa efeknya bagi masyarakat.

    Seperti kata Doel Sumbang dalam lagu Bandung Kusta seperti di awal: “Walikota jeung warga kota, Niatna kudu sarua. Gawe rampak babarengan, Hayang bebenah ngomean”.

    Artinya, pemerintah dan warganya harus memiliki niat sama, bekerja bersama-sama, ingin memperbaiki keadaan. Karena, apapun tidak akan ada hasilnya jika berjalan sendiri-sendiri.

    Sumber: Antaranews.com

  • Perundungan di Lingkungan Pendidikan Memakan Korban Jiwa, Ini Respon KemenPPPA

    Perundungan di Lingkungan Pendidikan Memakan Korban Jiwa, Ini Respon KemenPPPA

    7cloud.asia – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya siswi SMK di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang diduga menjadi korban bullying atau perundungan.

    “KemenPPPA minta kasus ini direspons dan pastikan ditangani secara tepat. Diharapkan kasusnya menjadi jelas,” kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA Nahar, saat dihubungi di Jakarta, Kamis (13/6/2024).

    KemenPPPA meminta Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) agar segera meminta keterangan pelapor atau orang tua dari mendiang korban.

    Nahar menambahkan, selanjutnya Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) dapat memfasilitasi TPPK berkoordinasi dengan dinas terkait, lembaga layanan, ahli, dan pihak terkait.

    Baca: Bedakan perundungan dengan bercanda

    Seperti diberitakan sebelumnya, siswi berinisial N (18), pelajar SMK di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, diduga mengalami perundungan oleh teman sekelasnya.

    Perundungan diduga terjadi selama tiga tahun sejak korban N duduk di bangku kelas 10 hingga kelas 12.

    Perundungan yang dialami korban diduga menyebabkan korban trauma berat. Saat kondisi kesehatan korban menurun, keluarga membawa korban ke rumah sakit.

    Dokter mendiagnosis korban mengalami gangguan kejiwaan dan merujuknya ke rumah sakit jiwa.

    Baca: Pola asuh bisa picu anak jadi pelaku perundungan

    Keluarga mengaku berbagai pengobatan telah dilakukan untuk menyembuhkan korban, namun kondisi korban tidak juga membaik.

    Hingga akhirnya pada Kamis (30/5/2024) lalu, nyawa korban N tidak bisa diselamatkan dan meninggal dunia.

    Tim SAPA dan UPTD PPA Provinsi Jabar sudah menerima informasi dan langsung melakukan koordinasi penanganan.

    Menurut Nahar, jika terbukti ada kekerasan di satuan pendidikan, maka dapat diimplementasikan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023.

    Baca: Orang tua bisa memutus rantai perundungan dari rumah

    “Dan sesuai dengan Pasal 64 Peraturan Menteri tersebut, sanksi administrasi lain dan sanksi pidana dapat diterapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.

    Pihaknya berharap melalui upaya tersebut, bisa diperoleh gambaran utuh terhadap dugaan perundungan tersebut.

    Hal ini sekaligus menjaga kenyamanan peserta didik, dan semua keterangan dan bukti yang diperoleh dapat menjadi bahan untuk menindaklanjuti kasus tersebut.

    Sumber:Antaranews.com

  • Setelah 4 Tahun Vacum, Observatorium Bosccha Dibuka Kembali untuk Umum

    Setelah 4 Tahun Vacum, Observatorium Bosccha Dibuka Kembali untuk Umum

    7cloud.asia – Setelah sempat vakum selama empat tahun akibat pandemi Covid-19, observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali membuka kunjungan pada malam hari untuk publik.

    Peneliti Observatorium Bosscha ITB Yatny Yulianti di Bandung Minggu (23/6/2024) menyampaikan, pada kunjungan malam tersebut pihaknya membuka kuota sebanyak 100 orang untuk satu kali kunjungan.

    Kunjungan malam ke Observatorium Bosscha dibuka pada tanggal-tanggal tertentu di bulan Juni hingga Agustus 2024.

    “Kami ingin memperkenalkan tentang bagaimana cara astronomi bekerja di sebuah observatorium dengan memberikan pengalaman tentang pengamatan langit malam dan juga mengenal Observatorium Bosscha,” kata Yatny.

    Baca Juga: Jangan Lupa, Fenomena Langka Strawberry Moon Dapat Disaksikan Nanti Malam

    Yatny menjelaskan, pada program kunjungan malam ini, pengunjung akan diajak untuk mengamati objek langit menggunakan teleskop dipandu oleh staf astronom dari Observatorium Bosscha.

    Pengunjung juga akan mendapatkan penjelasan mengenai berbagai benda langit dan fenomena astronomi lainnya.

    “Jadi memang target utamanya adalah memberikan pengalaman yang dirasakan oleh pengunjung tentang bagaimana mengamati langit malam menggunakan teleskop yang ada di Observatorium Bosscha,” katanya.

    Lebih lanjut, dia menyambut baik antuasias masyarakat yang rela memburu tiket kunjungan malam ke Observatorium Bosscha. Di mana pada kunjungan pada pada bulan Juni ini tiket habis terjual kurang lebih satu menit.

    Baca Juga: Jangan Lewatkan Fenomena Langka Super Blue Moon yang Menyapa Indonesia Nanti Malam

    Ia menyebutkan, untuk harga tiket masuk dibandrol Rp50.000 per orang dengan membatasi sebanyak 100 orang untuk satu kali kunjungan agar memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.

    “Kami senang sekali animo masyarakat masih tinggi untuk datang ke Observatorium Bosscha, tapi tentu saja untuk memberikan pengalaman yang berkesan dengan kualitas program yang baik itu membutuhkan lebih banyak lagi sumber daya manusia,” katanya.

    Adapun kunjungan malam ini akan diadakan pada tanggal tertentu di bulan Juni-Agustus 2024. Hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan peluang keberhasilan pengamatan karena sudah memasuki musim kemarau.

    “Untuk bulan Juni kami buka pada tanggal 14 dan 21, untuk Juli di tanggal 11, 12, 18, dan 19. Sedangkan untuk bulan selanjutnya pada tanggal 8, 9, 15 dan 16,” kata Yatny.

    Baca Juga: BMKG: Fenomena Perigee Berpeluang Picu Banjir Rob di Sejumlah Wilayah Pesisir di Indonesia

    Yanty menjelaskan pula, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pengalaman untuk merasakan kegelapan dan keindahan langit malam dari kawasan observatorium dapat mendaftar dengan mengunjungi website bosscha.itb.ac.id.

  • Karakter Berbeda, Konsep Busway Sulit Diterapkan di Bandung

    Karakter Berbeda, Konsep Busway Sulit Diterapkan di Bandung

    7cloud.asia – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengungkapkan, transportasi masal Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya, tidak bisa dipaksakan seperti atau satu model dengan moda serupa di Jakarta, yang dikenal dengan nama Transjakarta atau Busway.

    Menurut Bey, karakter masyarakat Bandung Raya yang berbeda dengan Jakarta dan daerah penyangga, serta jalan yang ada tidak besar, sementara volume penggunaan kendaraan pribadi juga tinggi.

    Kota Bandung sedang melakukan tata ulang angkutan umum, ujar Bey, saya bilang di Bandung hati-hati, jangan paksakan BRT seperti Busway (dengan koridor khusus).

    “Karena karakter masyarakat Bandung Raya jangan disamakan dengan Jakarta, dan juga jalannya relatif kecil dibanding Jakarta,” katanya.

    Pada aspek masyarakat, Bey mengatakan dengan kondisi udara yang sejuk, sebenarnya jalan kaki atau bersepeda menuju kantor, sekolah, atau lokasi kegiatan bisa menjadi pilihan masyarakat, seperti yang dilakukan Bey selama bekerja sebagai Pj Gubernur Jabar.

    Baca Juga: Kota Bandung Berbenah, Menanggulangi Banjir Sekaligus Memanen Air Hujan

    Di mana sejauh dia bekerja di Bandung, Bey selalu berjalan kaki pagi untuk ke Gedung Sate yang membutuhkan waktu sekitar satu jam, dan bekerja setelahnya.

    “Ya sekitar satu jam kalau jalan kaki, setelah sampai istirahat mandi langsung bekerja. Jadi ini bisa dilakukan yang lainnya ketika mau ke kantor atau misal bersekolah, sambil melakukan aktivitas olahraga yang membuat badan sehat dan bugar,” kata dia.

    Sementara sebelumnya, sistem transportasi massal BRT Bandung Raya ditargetkan bisa mulai beroperasi pada pertengahan 2024.

    Untuk mencapai target tersebut, Direktur Lalu Lintas pada Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Ahmad Yani sebelumnya mengatakan pihaknya bersama Bank Dunia menggelar pelatihan dan sosialisasi peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan BRT Bandung Raya di Kota Bandung.

    Baca Juga: Warga Sambut Antusias Program Braga Bebas Kendaraan yang Dilakukan Pemerintah Kota Bandung

    Para pemangku kepentingan yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut, ucap Ahmad, mulai dari Pemprov Jabar serta kabupaten dan kota Bandung Raya yang meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang.

    “Kita harus memberi pemahaman yang menyeluruh kepada semua pemangku kepentingan baik pemerintah maupun nonpemerintah tentang semua proses, agar pada pelaksanaannya semua menjadi tahu hak dan kewajiban,” ujarnya.

    Ahmad mengungkapkan bahwa Bank Dunia menjelaskan semua syarat yang harus dipenuhi dalam pembangunan sistem moda transportasi massal BRT, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

    Sementara itu, Senior Social Development Specialist Bank Dunia Mohammad Yasin Nurri menjelaskan langkah awal yang harus dilaksanakan para pemangku kepentingan dalam pembangunan BRT, mulai dari tenaga kerja hingga mitigasi dampak sosial dan lingkungan.

    Baca Juga: Kolam Retensi: Cara Pemerintah Kota Bandung Tangani Ancaman Banjir

    Menurut Nurri, ada sepuluh aspek yang harus diperhatikan yang terpenting adalah masalah tenaga kerja dan semua aspek turunannya serta masalah dampak sosial dan lingkungan.

    Nurri menjelaskan setiap pembangunan, pasti menimbulkan dampak negatif atau merugikan terutama bagi masyarakat, hal itulah yang harus dimitigasi dan diminimalkan.

    “Dampak negatif itu bisa polusi udara, kegaduhan, kemacetan dan lain-lain. Dampak sosialnya bahkan bisa terjadi pelecehan seksual, konflik pekerja dan masyarakat. Ini penting sekali diperhitungkan,” tutur Nurri.

    Sumber:Antaranews.com

  • BMKG Bantah Info yang Menyebut Bakal Ada Gempa Susulan yang Lebih Besar di Bandung

    BMKG Bantah Info yang Menyebut Bakal Ada Gempa Susulan yang Lebih Besar di Bandung

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan isu akan adanya gempa susulan yang lebih besar di Kabupaten Bandung dua jam pascagempa 5.0 magnitudo adalah tidak benar.

    Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung Teguh Rahayu mengatakan, hingga saat ini gempa belum bisa diprediksi kapan terjadinya.

    “(Jadi ini) hoaks,” kata Teguh dalam pesan singkatnya pada ANTARA di Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024).

    BMKG juga mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    Seperti diketahui, sebelumnya warga dibuat resah olehvberedar pesan berantai yang menyebut akan ada gempa lebih besar dalam dua jam sejak gempa 5.0 magnitudo pada pukul 09.41 WIB.

    Baca: Kenali 15 segmen gempa megathrust

    “Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” ujar Teguh.

    Selain itu masyarakat juga diimbau agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

    “Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah,” ujarnya.

    Gempa berkekuatan 5.0 magnitudo yang terjadi pukul 09.41 WIB wilayah Kabupaten Bandung, berdasarkan hasil analisis BMKG, menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M4,9.

    Baca: BRIN petakan sesar gempa di Pulau Jawa

    Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 7,23° Lintang Selatan (LS); 107,65° Bujur Timur (BT), atau tepatnya berlokasi di darat 25 km tenggara Kabupaten Bandung pada kedalaman 10 kilometer.

    Menurut laporan BPBD Jabar, getaran gempa terasa mulai dari Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, hingga Kabupaten Garut.

    Gempa yang terasa beberapa detik saja itu, membuat warga di kawasan Bandung Raya sempat panik. Adapun lokasi gempa terjadi di Desa Tarumajaya, Cihawuk, Cibereum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.

    Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan tidak ada dampak ikutan seperti keretakan tanah di Jawa Barat dan sekitarnya setelah diguncang gempa dangkal berkekuatan 5 magnitudo ini

    Baca: Indonesia rawan gempa tapi literasi rendah

    “Tidak berpotensi mengakibatkan terjadinya sesar permukaan dan bahaya ikutan yang berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi,” kata Kepala Badan Geologi M. Wafid dalam keterangannya di Jakarta.

    Wafid juga mengungkapkan kejadian gempa bumi tersebut tidak berpotensi menyebabkan tsunami karena titik episenternya berada di darat.

    Meski demikian masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya diminta tetap waspada karena berdasarkan data Badan Geologi, sebagian besar wilayah yang merasakan guncangan gempa bumi ini terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) untuk gempa bumi golongan menengah hingga tinggi.

    Sumber:Antaranews.com

  • Gempa Bandung Akibatkan 82 Orang Terluka dan Ratusan Bangunan Rusak

    Gempa Bandung Akibatkan 82 Orang Terluka dan Ratusan Bangunan Rusak

    7cloud.asia – Gempa berkekuatan magnitudo 5.0, yang mengguncang Bandung dan sekitarnya Rabu (18/9/2024), pukul 09.41 WIB, menyebabkan 82 orang luka-luka, 700 bangunan rusak, pembatalan 14 jadwal kereta cepat Whoosh dan menggangu perjalanan 11 kereta api.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung menyebut terjadi sebanyak 26 kali gempa susulan pasca-gempa bermagnitudo 5,0 tersebut.

    “Sebanyak 26 gempa bumi susulan sampai 15.30 WIB, masyarakat tetap waspada dengan gempa bumi susulan ini,” kata Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu di Kabupaten Bandung, Rabu (18/9/2024).

    Teguh mengatakan gempa susulan yang terjadi memiliki magnitudo yang terus mengecil. Ia mengingatkan potensi gempa bumi susulan masih dapat terjadi ke depan.

    “Gempa susulan masih dapat terjadi, tapi magnitudonya kecil,” kata dia dilansir Antaranews.com.

    Sementara, Humas BPBD Jabar Hadi Rahmat mengatakan hingga pukul 14.00 WIB, total rumah yang terdampak berjumlah 700 unit.

    Hadi mengungkapkan, BPBD Jabar masih melakukan identifikasi tingkat kerusakan maupun pendataan dampak lain pascagempa yang getarannya dirasakan hingga Kabupaten Garut ini.

    Dilansir Tempo.co, dari 700 rumah yang rusak, kerusakan paling banyak terjadi di Kabupaten Bandung sebanyak 491 unit rumah dan Kabupaten Garut 209 unit rumah.

    Baca: BMKG bantah bakal ada gempa susulan yang lebih kuat

    “Pada rumah terdampak, BPBD Jabar masih menunggu informasi dari BPBD di tingkat kabupaten untuk menentukan tingkat kerusakannya,” kata dia.

    Selain tempat tinggal, gempa juga merusakkan fasilitas publik, seperti tempat ibadah, sekolah, perkantoran, dan sarana kesehatan atau rumah sakit.

    BPBD mencatat jumlah korban luka-luka sejumlah 82 orang. Mereka yang luka-luka teridentifikasi di Kabupaten Bandung 81 orang dan satu orang warga Kabupaten Garut.

    “Dengan rincian 59 warga mengalami luka ringan dan 23 orang luka berat. Hingga kini tidak ada laporan adanya korban jiwa,” katanya

    Untuk warga yang mengalami luka berat akibat terkena reruntuhan bangunan, kata dia, saat ini sudah dibawa ke Rumah Sakit Bedas Kertasari dan Puskesmas Bedas.

    Berdasarkan data yang masuk pukul 12.50 WIB, Hadi menyebutkan dampak dari gempa itu terpantau terjadi di Desa Tarumajaya, Cihawuk, dan Cibeureum (Kecamatan Kertasari).

    Kemudian Desa Margamukti (Kecamatan Pangalengan), Desa Cikawao (Kecamatan Pacet); Desa Pinggirsari (Kecamatan Arjasari); dan Desa Bojongmanggu (Kecamatan Pameungpeuk) di Kabupaten Bandung.

    Di Kabupaten Garut, kerusakan terjadi di Desa Barusari, Pasirwangi, Sarimukti, dan Talaga (Kecamatan Pasirwangi), Desa Sirnajaya (Kecamatan Tarogong Kaler), dan Desa Mekarjaya (Kecamatan Sukaresmi).

    Baca: Indonesia rawan gempa tapi literasi masyarakat masih rendah

    Gempa ini menyebabkan sebanyak delapan rumah, dua fasilitas kesehatan, dua bangunan fasilitas umum, satu sarana pendidikan, dan satu tempat ibadah di Kabupaten Bandung mengalami kerusakan. Sementara di Kabupaten Garut, tujuh rumah dan satu sarana pendidikan rusak.

    BPBD Jabar dan BPBD kabupaten/kota terus berkoordinasi melakukan asesmen atas korban dan kerusakan dampak dari gempa itu.

    Berdasarkan laporan BPBD Jabar, getaran gempa tersebut terasa mulai dari Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, bahkan seluruh Jabar.

    Pascagempa, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) juga membatalkan sejumlah jadwal pemberangkatan guna memeriksa jalur kereta cepat Whoosh setelah gempa.

    Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa jalur kereta cepat tetap aman dan tidak mengalami kerusakan struktural akibat gempa.

    Pemeriksaan menyeluruh membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk memastikan tidak ada faktor eksternal yang dapat mengganggu kereta cepat, seperti longsoran bukit batu di kanan kiri trase, longsoran tanah, atau dampak alam lainnya.

    Adapun 11 kereta yang sempat berhenti adalah KA PLB 7321 (KA Feeder) di Stasiun Bandung, KA 352 (CL Bandung Raya) di Stasiun Ciroyom, KA PLB 7320 (KA Feeder) di Stasiun Cimahi, KA 342 (CL Bandung Raya) di Stasiun Padalarang dan KA 52 (KA Argo Parahyangan) di Stasiun Maswati.

    Lalu ada kereta KA D2/11047 (Ka Barang Dinas) di Stasiun Cilame, KA 267 (KA Cikuray) di Stasiun Maswati, KA 363 (CL Bandung Raya) di Stasiun Cicalengka, KA 380 (CL Bandung Raya) di Stasiun Rancaekek, KA 7048 (KA Papandayan) di Stasiun Kiaracondong, serta KA 386 (CL Garut) di Stasiun Pasir Jengkol.