Tag: gaya hidup

  • Minimalisme: 3 Aliran Gaya Hidup Minimalis Mana yang Cocok Dengan Kepribadian Anda

    Minimalisme: 3 Aliran Gaya Hidup Minimalis Mana yang Cocok Dengan Kepribadian Anda

    7cloud.asia – Gaya hidup minimalis telah berkembang selama bertahun-tahun menjadi gerakan gaya hidup yang dianut oleh berjuta penduduk dunia.

    Praktisi gaya hidup minimalis, Joshua Becker mengatakan, sangat mudah untuk mengetahui alasan mengapa makin banyak orang yang berpaling ke minimalisme.

    “Karena gaya hidup minimalis menawarkan jalan yang jelas menuju cara hidup yang lebih terarah, memuaskan, dan berkelanjutan,“ tulisnya di becomingminimalist.com.

    Daya tarik “hidup hemat” telah meresap ke dalam budaya populer, mulai dari ruang keluarga yang rapi hingga lemari pakaian. Seperti tren lainnya, gaya hidup minimalis juga berkembang seiring berjalannya waktu.

    Dalam artikel yang ditulisnya, Joshua mengkaji berbagai aliran gaya hidup minimalis dari pendekatan ekstrem hingga pendekatan yang lebih seimbang dan rasional.

    “Penting untuk mengeksplorasi bagaimana gaya hidup dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan kita dan, pada akhirnya, bagaimana menerapkan gaya hidup minimalis dengan cara yang paling sesuai untuk Anda,“ imbuhnya.

    Joshua membedakan gaya hidup minimalis dalam tiga kategori utama: minimalis tradisional, minimalis ekstrim, dan minimalis rasional.

    Dengan memahami perbedaan gaya yang berbeda, Anda dapat memilih atau membuat gaya yang paling sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan prioritas lingkungan Anda.

    Baca: Enam langkah sederhana agar konsisten jalani gaya hidup minimalis

    1. Minimalis Tradisional
    Minimalisme tradisional adalah pendekatan yang paling terkenal dan diadopsi secara luas untuk hidup hemat. Di sinilah Becoming Minimalist dan banyak blog lainnya dimulai dan, dalam banyak kasus, masih ada.

    Fokusnya di sini adalah merapikan ruang fisik, menekankan hal-hal penting, mengurangi konsumsi yang tidak perlu, dan mengutamakan kualitas daripada kuantitas.

    Memang sedikit, tapi manfaatnya sudah jelas:
    – Peningkatan kesehatan mental
    – Mengurangi stres karena kekacauan
    – Lebih banyak waktu dan energi untuk orang yang dicintai
    – Ruang untuk pekerjaan sampingan dan kegiatan bermakna lainnya
    – Peningkatan keuangan (halo, hidup bebas hutang)

    Sisi negatifnya, Anda mungkin melepaskan hal-hal tertentu yang menantang.

    Anda mungkin menghadapi penolakan dari teman dan anggota keluarga atau kesulitan menyeimbangkan kepemilikan dan tetap merasa nyaman. Namun, semua itu dapat diatasi namun tetap perlu diperhatikan.

    Baca: Hindari gaya hidup ini karena bisa memicu stres yang tak perlu

    2. Minimalis Ekstrem
    Minimalisme ekstrem membawanya ke tingkat berikutnya, mendorong batas-batas seberapa kecil seseorang dapat hidup bersama.

    Para pendukung pendekatan ini biasanya hanya memikirkan hal-hal yang paling mendasar (seringkali kurang dari 100 kepemilikan). Jika mereka memiliki pangkalan, kemungkinan besar tidak ada furnitur.

    Bagi Joshua dan pasangan, peralihan dari gaya minimalis tradisional ke gaya minimalis ekstrem sejalan dengan keinginan kami untuk menua dengan baik.

    Di usia hampir enam puluh tahun, tidak menggunakan furnitur sepertinya merupakan cara yang alami dan mudah untuk mencapai hal tersebut. Dan itu hanya satu keuntungan.

    Cara hidup ini juga memberikan beberapa manfaat lainnya:
    – Kebebasan penuh dari harta benda
    – Pindah rumah sangatlah mudah (bahkan jika Anda memiliki alamat tetap)
    = Dampak yang jauh lebih rendah terhadap lingkungan,dengan asumsi kita tidak beralih ke tujuan baru setiap dua bulan sekali.

    Sisi buruknya adalah hal ini dapat menyebabkan isolasi sosial (tidak ada furnitur yang dapat melakukan hal tersebut!) atau menjadi obsesif karena memiliki lebih sedikit barang.

    Sedikit menjelajahi internet dan Anda akan segera melihat pola persaingan muncul di kalangan minimalis ekstrem.

    Baca: Gaya hidup minimalis membantu percepat mencapai kebebasan finansial

    3. Minimalis Rasional
    Minimalisme rasional adalah Goldilocks dari ketiganya, yang menyeimbangkan antara keinginan akan kesederhanaan dan kepraktisan kehidupan modern.

    Ini menekankan pengaturan kepemilikan yang bijaksana, dengan fokus pada fungsionalitas dan nilai-nilai pribadi. Ini adalah gaya hidup yang lebih fleksibel, Anda dapat melakukan sambil tetap mempertahankan pandangan “less is more”.

    Minimalis rasional memungkinkan adanya beberapa barang sentimental dan, terkesiap, beberapa harta benda “untuk berjaga-jaga”. Hal ini menekankan pada konsumsi yang penuh perhatian dibandingkan perubahan yang ekstrem.

    Hasilnya, mengadopsi dan mempertahankan gaya hidup jangka panjang menjadi lebih mudah dicapai, menyeimbangkan prinsip minimalis dengan kebutuhan praktis.
    Beberapa manfaatnya antara lain:
    – Mengurangi stres tanpa mengorbankan kenyamanan
    – Mendorong pengambilan keputusan yang penuh perhatian
    – Mendorong keberlanjutan tanpa perampasan yang ekstrem
    – Memungkinkan ekspresi pribadi dalam kerangka minimalis

    Pada akhirnya, pendekatan terhadap minimalis akan bergantung pada kondisi, tujuan, dan preferensi masing-masing orang.

    Kuncinya adalah mengeksplorasi jenis-jenis yang berbeda, mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya, dan memilih salah satu yang selaras dengan visi Anda untuk gaya hidup yang lebih terarah, memuaskan, dan berkelanjutan.

  • Riset Temukan Media Sosial Pengaruhi Maraknya Gaya Hidup ‘Childfree’

    Riset Temukan Media Sosial Pengaruhi Maraknya Gaya Hidup ‘Childfree’

    7cloud.asia – Gaya hidup childfree—keputusan seseorang untuk tidak memiliki anak setelah menikah—tengah menjadi topik pembicaraan di kalangan anak muda di Indonesia.

    Gaya hidup childfree ini mencerminkan perubahan budaya yang menyangkut bagaimana anak muda memahami peran keluarga dan aspirasi gender.

    Masyarakat Indonesia menempatkan pernikahan dan peran ibu sebagai identitas perempuan yang membentuk norma sosial tentang keluarga dan peran gender.

    Namun, paparan ideologi globalisasi dan keberadaan media sosial membuat mereka mempertanyakan lebih lanjut tentang norma sosial ini. Bahkan, mereka mulai mendukung pandangan alternatif lainnya, seperti pilihan hidup dan kebebasan individu.

    Ini, salah satunya, disebabkan oleh paparan media sosial dari para influencer seperti Gita Savitri atau Andrea Gunawan dalam akun @catwomanizer, yang menggunakan media sosial untuk mengadvokasi pengikutnya agar memprioritaskan kebahagiaan pribadi, kesehatan mental, dan aspirasi karier ketimbang ekspektasi sosial di masyarakat.

    Melalui Instagram, Gita dan Andrea membagikan pengalaman childfree yang ia lakukan, sekaligus menciptakan ruang diskusi untuk membahas dan bertukar gagasan, terutama yang berkenaan dengan topik childfree.

    Mereka menggunakan platform tersebut untuk membagikan narasi-narasi progresif yang membahas topik sensitif tanpa mengkhawatirkan stigma sosial.

    Perbincangan di kedua akun Instagram tersebut mencerminkan bahwa generasi muda saat ini kian memprioritaskan karier, pendidikan, dan pengembangan diri dibandingkan berkeluarga.

    Baca: Pernikahan anak banyak yang berakhir dengan perceraian

    Dialog ini berusaha mendobrak standar tradisional yang memandang bahwa kesuksesan diraih melalui institusi pernikahan.

    Ini membuktikan bagaimana platform media sosial dapat membangkitkan perbincangan yang mendekontruksi norma sosial tradisional.

    Lewat media sosial juga membuka peluang bagi kaum muda untuk dapat memilih jalan hidup non-normatif dan mendukung kebebasan dalam menentukan pilihan yang berbeda.

    Pada akhirnya, keputusan yang diambil kaum muda yang “terpapar” media sosial akan berdampak pada kehidupan masyarakat luas, seperti memengaruhi angka kelahiran, pernikahan dan perceraian, serta akan berdampak pada kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di masa depan.

    Media sosial sebagai arena pertarungan ideologi
    Selain berfungsi sebagai ruang pembebasan pikiran, platform media sosial juga bisa berperan sebagai arena pertarungan ideologi.

    Di akun Instagram Gita Savitri dan Andrea Gunawan, kolom komentar telah menjadi arena perdebatan antarwarganet mengenai nilai-nilai gender dan peran keluarga.

    Ini sekaligus mengisyaratkan bahwa keputusan childfree masih memicu kontroversi di kalangan masyarakat.

    Banyak dari pengikut Instagram kedua influencer yang menyoroti ketidaksukaan mereka terhadap keputusan Gita dan menganggap hal tersebut sebagai disrupsi dari norma-norma yang sudah ada.

    Baca: Mengapa semakin banyak perempuan yang enggan menikah

    Sebanyak 50 persen pengikut akun Gita Savitri berkomentar bahwa memilih untuk menghindari peran ibu sangat kontradiktif dengan pandangan tradisional masyarakat yang meyakini bahwa fungsi sosial perempuan adalah pengasuhan anak.

    Reaksi ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh warisan imajinasi Ibuisme Negara yang tercipta pada rezim Orde Baru dan masih mengakar kuat hingga sekarang.

    Menurut Julia Suryakusumah, aktivis dan penulis perempuan, meskipun rezim tersebut sudah berakhir dua dekade lalu, ekspektasi gender ini tetap berlanjut dan memengaruhi persepsi publik, khususnya bagi kalangan yang masih memegang teguh nilai-nilai konvensional.

    Dalam kerangka tradisional ini, kontribusi perempuan terhadap masyarakat diukur melalui partisipasi mereka dalam reproduksi dan pengasuhan.

    Oleh karena itu, gagasan anak muda dalam memilih untuk tidak memiliki anak dianggap sebagai penolakan dari identitas budaya dan tanggung jawab keluarga.

    Komentar-komentar warganet di akun Instragram Gita dan Andrea mayoritas menggarisbawahi ketakutan akan erosi nilai-nilai keluarga dan kohesi sosial.

    Mereka memandang bahwa memilih untuk tidak memiliki anak merupakan upaya resistensi terhadap struktur keluarga yang sudah diidealisasikan sejak berdekade-dekade lalu.

    Komentar “tp di negara kita gak punya anak kayak punya aib gitu..pdhl” dan “gak paham. Org menikah wajib punya anak klu tidak km terlihat menyedihkan” merupakan dua contoh komentar negatif terhadap unggahan Gita yang membicarakan keputusannya untuk childfree.

    Komentar tersebut menunjukkan bagaimana konsep Ibuisme mengakar kuat dalam konstruksi norma gender, seakan memiliki anak dan menjadi ibu adalah hal yang wajib dipenuhi untuk menjaga keberlangsungan generasi.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:
    Jordy Satria Widodo (Dosen Kajian Sastra dan Budaya, Universitas Pakuan)
    Diana Amaliasari (Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Pakuan)
    Dyah Kristyowati (Dosen Ilmu Sastra, Universitas Pakuan)
    Muslim (Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Pakuan)

  • Enam Cara Sederhana Mencegah Demensia

    Enam Cara Sederhana Mencegah Demensia

    7cloud.asia – Demensia, gangguan kesehatan berupa berkurangnya kemampuan berpikir dan mengingat, bukanlah konsekuensi proses penuaan yang tak bisa dihindari.

    Sekitar 40 persen kasus demensia diperkirakan dapat dicegah–-atau setidaknya diperlambat kejadiannya–-dengan mengubah gaya hidup tertentu.

    Aktivitas ini bisa kamu lakukan dengan menjadi proaktif dan konsisten sejak dini dalam mengatasi 12 faktor risiko terkait penyebab terbesar demensia, termasuk konsumsi alkohol berlebih hingga cedera otak traumatis.

    Fokus mengatasi faktor risiko penyebab demensia dapat meningkatkan kesehatan otak dan kesejahteraan hidup secara menyeluruh, termasuk mengurangi risiko mengalami demensia di kemudian hari.

    Cara menjaga kesehatan otak
    Agar kesehatan otak tetap terjaga, berikut enam gaya hidup yang sangat penting untuk kamu lakukan di usia muda, terutama 20-30an:

    1. Konsumsi nutrisi yang baik untuk otak
    Bobot otak hanya mewakili 2 persen dari berat tubuh, tetapi aktivitasnya bisa menguras 20 persen pasokan energi harian. Karena itu, asupan nutrisi yang baik sangat krusial untuk kesehatan otak.

    Pola makan sehat membantu menjaga berat badan ideal, termasuk mengurangi risiko obesitas dan diabetes–keduanya dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 1 persen.

    Selain itu, menjaga pola makan sehat bermanfaat dalam mencegah tekanan darah tinggi (hipertensi) yang dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 2 persen.

    Salah satu pola makan sehat terbaik untuk mendukung kesehatan otak adalah diet Mediterania. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diet Mediterania dikaitkan dengan peningkatan fungsi otak yang lebih baik dan penurunan risiko demensia.

    Jadi, jika kamu ingin menjaga kesehatan otak, lakukan diet Mediterania dengan mengonsumsi banyak biji-bijian utuh, sayur-sayuran, buah-buahan (terutama beri), kacang-kacangan (seperti buncis), dan ikan berminyak. Sebaliknya, batasi konsumsi kue kering, permen, makanan yang digoreng, dan keju.

    Bagi kebanyakan orang, fokus memperbaiki pola makan dapat memberikan manfaat positif untuk kesehatan otak, dibandingkan dengan mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral–kecuali kamu mengalami kekurangan nutrisi (malnutrisi).

    Baca: Tiga jenis minuman ini dapat memicu demensia

    2. Minum air putih yang cukup
    Sekitar 60 persen tubuh kamu terdiri dari air. Karena itu, sangat penting untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi guna mendukung fungsi otak maupun kesejahteraan tubuh secara menyeluruh.

    Pasalnya, kehilangan cairan tubuh (dehidrasi) dapat memengaruhi kemampuan fisik dan mental dalam banyak hal–termasuk meningkatkan rasa lelah dan mengurangi efisiensi kerja otak.

    Dehidrasi dapat berdampak pada daya ingat, perhatian, konsentrasi, dan kecepatan reaksi otak.

    Cegah dampak buruk dehidrasi tersebut dengan mencukupi kebutuhan air agar otak bekerja dengan optimal dan mengurangi risiko penurunan fungsi otak secara drastis.

    3. Batasi minum alkohol
    Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko demensia sebesar 1 persen.

    Selain berdampak buruk terhadap fungsi otak, alkohol juga bisa mengubah struktur otak. Studi mengungkapkan bahwa kebiasaan minum alkohol berkaitan dengan kerusakan neuron (sel pengirim sinyal ke seluruh otak), berkurangnya materi putih (jaringan serabut saraf yang mendukung komunikasi antarbagian otak), serta penyusutan otak. Sederet perubahan ini memengaruhi kinerja otak.

    Kebiasaan mengonsumsi lebih dari 21 unit alkohol per pekan dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena demensia. Satu unit alkohol setara dengan 10 ml atau 8 gram alkohol murni.

    Konsumsi alkohol juga berisiko meningkatkan beberapa jenis penyakit, seperti kanker (di mulut, tenggorokan, dan payudara), stroke, dan jantung.

    Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris menyarankan batas aman seseorang mengonsumsi alkohol, yaitu tidak lebih dari 14 unit per minggu.

    Baca: Perbedaan alzheimer dan demensia

    4. Jalani gaya hidup aktif
    Olahraga memberikan banyak manfaat bagi otak. Kegiatan ini meningkatkan aliran darah ke otak sehingga fungsinya menjadi lebih baik, mengurangi peradangan otak, serta meningkatkan aktivitas maupun volume otak yang mendorong kinerjanya jadi lebih efisien.

    Semua perubahan tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan otak dalam jangka panjang, termasuk melindungi dari risiko penurunan kemampuan kognitif.

    Untuk memperoleh manfaat kesehatan otak, setidaknya kamu harus berolahraga intensitas sedang selama 150 menit per pekan atau menjalani olahraga intensitas tinggi selama 75 menit per pekan–kamu juga bisa mengombinasikan keduanya.

    Di luar itu, penelitian menunjukkan kebiasaan berjalan kaki sebanyak 7.500 langkah per hari bermanfaat untuk meningkatkan volume otak.

    5. Rajin bersosialisasi
    Kebiasaan menyendiri dan merasakan kesepian memiliki keterkaitan dengan peningkatan risiko terkena depresi dan penurunan kemampuan kognitif.

    Menurut penelitian, rutin menjalin hubungan sosial yang baik–seperti hidup bersama orang lain, terlibat kegiatan mingguan bersama kelompok masyarakat serta bertemu dengan keluarga dan teman setiap pekan–dapat memperlambat penurunan kemampuan kognitif.

    Selain itu, bersosialisasi dapat merangsang perhatian dan ingatan serta memperkuat jaringan otak kamu.

    Terlibat dalam acara komunitas setempat, menjadi sukarelawan, maupun rutin nongkrong bareng teman saban pekan merupakan cara yang baik untuk menjaga kesehatan otak.

    6. Terus belajar
    Kendati sudah bertahun-tahun menamatkan sekolah, kamu tidak boleh berhenti belajar karena belajar bermanfaat melindungi otak. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang selalu belajar sepanjang hidupnya berisiko 7 persen lebih kecil mengalami demensia.

    Sejumlah aktivitas terbaik yang bisa kamu lakukan untuk menjaga kesehatan otak melingkupi belajar bahasa baru, mencoba olahraga baru, bermain alat musik serta menyusun puzzle.

    Hal lain yang perlu dilakukan
    Selain melakukan gaya hidup di atas, kamu juga bisa mengurangi risiko demensia, dengan menggunakan alat bantu dengar apabila mengalami gangguan pendengaran, menghindari kegiatan yang dapat menyebabkan cedera otak traumatis, serta memiliki kebiasaan tidur setidaknya selama 6-8 jam.

    Otak merupakan salah satu organ tubuh terpenting yang kamu miliki. Dengan merawat kesehatannya sejak usia muda, kamu memastikan otak tetap berfungsi dengan baik seiring berkembangnya usia.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Jitka Vseteckova (Senior Lecturer Health and Social Care, The Open University) dan Corrina Grimes (Atlantic Fellow, Global Brain Health Institute, Trinity College Dublin)