Tag: gaya hidup

  • Seperti Ini Dampak Gaya Hidup Konsumtif pada Lingkungan

    Seperti Ini Dampak Gaya Hidup Konsumtif pada Lingkungan

    7cloud.asia – Pernahkan kamu mengkaji bagaimana kamu menjalani gaya hidup mu selama ini? Konsumtif kah atau mengonsumsi secukupnya. 

    Ya, tanpa sadar makin banyak orang yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif baik karena pengaruh lingkungan sekitar ataupun media massa. Padahal, dalam jangka panjang gaya hidup konsumtif bisa membuat sengsara hidup kamu. 

    Menurut KBBI, konsumtif adalah kata sifat yang berarti sesuatu yang bersifat konsumsi semata, hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Gaya hidup konsumtif adalah perilaku yang berlebihan dalam mengonsumsi dan membeli barang, meski barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.

     

    Dengan kata lain, gaya hidup konsumtif adalah perilaku atau gaya hidup individu yang senang membelanjakan uangnya tanpa pertimbangan yang matang dengan mengabaikan kegunaannya.

     

    Selain itu, gaya hidup konsumtif juga bisa diartikan sebagai sebuah tindakan menggunakan suatu produk secara tidak tuntas. Hal ini berarti bahwa belum habis sebuah produk digunakan, seseorang telah membeli produk lain dengan fungsi yang sama.

    Beberapa produk yang masuk ke dalam gaya hidup konsumtif ini adalah kebutuhan skunder seperti pakaian, sepatu, aksesoris dan lain-lain.

    Sedangkan, pola hidup konsumtif adalah gambaran pola hidup seseorang yang hanya dikendalikan dan didorong oleh keinginan untuk memenuhi kesenangan semata.
     
     
    Ada banyak contoh gaya hidup konsumtif yang terkadang tidak kamu sadari, seperti membeli baju, tas, jam tangan atau sepatu secara berlebihan meski sudah memiliki barang tersebut. Sehingga, baju, tas, jam tangan atau sepatu hanya akan menumpuk dan tidak terpakai sama sekali.
     
    Contoh lain gaya hidup konsumtif yang paling sering terjadi adalah membeli barang branded hanya untuk meningkatkan status sosial. Lantas apa dampak gaya hidup konsumtif dan mengapa gaya hidup ini disorot? 
     
    Gaya hidup konsumtif tak hanya berdampak pada kondisi keuangan dan kesehatan mental seseorang, tapi juga berdampak pada kelestarian lingkungan. 
     
    Ini bisa dijelaskan sebagai berikut, dengan semakin banyak barang yang dibeli maka akan semakin banyak sumber daya alam yang diambil. Pembelian lebih banyak barang juga mengakibatkan lebih banyak sampah atau limbah yang harus dibuang. 
     
    Untuk urusan pakaian misalnya, pengikut gaya hidup konsumtif akan terus-menerus membeli pakaian baru dengan alasan malu untuk mengenakan pakaian yang sama dalam beberapa kali kesempatan.
     
     

    Sadar atau tidak, gaya hidup konsumtif akan mengakibatkan dampak yang besar bagi lingkungan. Limbah fashion nyatanya adalah penyumbang polusi terbesar kedua di dunia.

    Setiap tahun, setidaknya 92 juta ton sampah tekstil diproduksi dan dibuang ke alam. Sebagian dari limbah fashion itu dibuang begitu saja ke lautan sehingga mengakibatkan pencemaran air.
     
    Pencemaran air itu menyebabkan banyak ikan dan biota laut lainnya terkena mikroplastik. Mikroplastik tersebut bisa termakan oleh manusia secara tidak sengaja karena kita turut mengkonsumsi biota laut yang sudah tercemar itu.
     
    Produksi tekstil secara besar-besaran  juga mengakibatkan pencemaran di daratan. Studi yang dilakukan oleh Pusat Riset Oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) pada bulan Februari 2023, menemukan sebanyak 70 persen bagian tengah Sungai Citarum tercemar mikroplastik, berupa serat benang polyester. 
     

    Kandungan mikroplastik mengancam kehidupan biota di Daerah Aliran Sungai Citarum. Kerusakan yang terjadi berupa kecacatan hingga kematian ikan dan kerang di Sungai Citarum. Selain itu, penggunaan air Sungai Citarum untuk mandi dan mencuci baju oleh warga sekitar juga berpotensi memunculkan berbagai penyakit.

    Baca: Tips mudik ramah lingkungan

     

    Gambaran di atas hanya ditimbulkan oleh gaya hidup konsumtif untuk urusan pakaian. Jika gaya hidup ini diterapkan di banyak bidang, bisa dibayangkan bagaimana dampak yang ditimbulkan jika gaya hidup konsumtif ini juga dilakukan untuk urusan makanan, asesorie, alat komunikasi, transportasi yang bendanya jauh lebih besar dan terbuat dari bahan yang tak mudah diurai. 

    Jadi mulai sekarang kaji gaya hidupmu, dan mulai tinggalkan gaya hidup konsumtif sebelum kamu terjebak lebih jauh di dalamnya. 

  • Hidupmu Terasa Berat Penuh Beban? Tak Ada Salahnya Mencoba Gaya Hidup Minimalis

    Hidupmu Terasa Berat Penuh Beban? Tak Ada Salahnya Mencoba Gaya Hidup Minimalis

    7cloud.asia – Seberapa sering kamu merasa tak punya cukup waktu untuk kegiatan kamu? Seberapa sering kamu merasa selalu merasa kekurangan uang untuk membeli barang yang kamu inginkan? Jika cukup sering maka tak ada salahnya mencoba gaya hidup minimalis 

    Ya, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam gaya hidup berlebihan sehingga ketenangan hidup mereka terganggu. Dan di tengah keriuhan itu ada sebagian orang yang menemukan ketenangan dan kebahagiaan dengan menjalani pola hidup secukupnya atau gaya hidup  minimalis.

    Sejumlah teman yang saya temui mengatakan perubahan gaya hidup ke minimalis memberikan mereka lebih banyak ruang dan waktu untuk diri mereka sendiri. Gaya hidup minimalis, kata mereka, mengajarkan untuk menjadi manusia yang praktis.

    “Menjalani hidup sesuai apa yang diingini, memikirkan apa yang harus dipikirkan dan membeli apa yang memang dibutuhkan,” demikian ujar seorang kawan tentang gaya hidup minimalis yang dijalaninya.

    Baca: Cinta Laura panutan anak muda

    Mendengar penjelasannya, saya pun lantas mencari tahu apa itu gaya hidup minimalis ?

    Menurut Break the Twitch, minimalis adalah gaya hidup yang berfokus pada meminimalkan gangguan sekaligus dapat menjaga kita untuk melakukan hal-hal yang benar-benar penting saja.

    Sedangkan, menurut penulis Becoming Minimalist Joshua Becker, gaya hidup minimalis adalah tentang mendapatkan apa yang membuat kita bahagia dan menghilangkan apa yang tidak membuat kita bahagia.

    Dari pengertian tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa hidup minimalis adalah “gaya hidup yang sederhana atau praktis atau sederhananya membuang sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan”.

    Gaya hidup minimalis berlaku tidak hanya sebatas produk, tetapi mencakup segala hal seperti fashion, cara kita mengonsumsi makanan,  perilaku di media sosial, cara kita berpikir, dan sebagainya.

    Makanya tidak heran jika sekarang gaya hidup minimalis juga sudah merambah ke dunia digital.

    Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Contoh sederhana untuk menggambarkan gaya hidup minimalis adalah tangkapan layar di ponsel kita yang diambil karena berpikir akan dibutuhkan namun pada kenyatannya tidak pernah dibuka pada akhirnya akan memenuhi memori Hp.

    Contoh lainnya ialah membeli tas ransel dengan model lain beralasan akan digunakan nanti tapi nyatanya tidak digunakan sama sekali malah menumpuk di penyimpanan tas. Nah, dalam gaya minimalis segala hal yang nggak perlu itu kudu dibuang jauh-jauh.

    Dalam praktiknya, gaya hidup minimalis tidak hanya mencakup cara seseorang memperlakukan barang yang tidak dibutuhkan dan membuangnya, tapi juga mencakup “ketika kita membeli barang baru yang serupa maka sejumlah barang yang sama dan jenis yang sama harus dikeluarkan”.

    Ya gaya hidup minimalis mengajak pelakuknya untuk “tidak menumpuk barang dan tidak menggunakan barang secara berlebih”.

    Dengan menjalani gaya hidup minimalis akan menciptakan lebih banyak ruang gerak dan waktu yang lebih bermanfaat daripada hanya sekadar menumpuk dan tidak berguna. Yang artinya ini membuang-buang energi kita. 

    Baca: Mengapa thrifting makin digemari anak muda?

    Muncul pertanyaan apakah memilih gaya hidup minimalis jadi terbatas dan menciptakan batasan? Jawabannya TIDAK.

    Jadi gaya hidup minimalis itu bukan membatasi melainkan mengatur dan memberi ruang lebih untuk hal-hal yang bermanfaat dan membuang atau melepas hal-hal yang tidak berguna dan justru hanya akan membebani kita. 

    Oh ya, gaya hidup minimalis ini juga baik untuk lingkungan. Dengan mengonsumsi secukupnya berarti lebih sedikit sumber daya alam yang diambil dan lebih sedikit limbah yang dihasilkan.

    Jadi jika kamu sedang mencari ketenangan atau ruang yang melepaskanmu dari segala beban, tak ada salahnya untuk menengok gaya hidup minimalis. 

     

  • Dear Anak Muda, 6 Gaya Hidup Tak Ramah Lingkungan Ini Layak Ditinggalkan

    Dear Anak Muda, 6 Gaya Hidup Tak Ramah Lingkungan Ini Layak Ditinggalkan

    7cloud.asia – Pernahkah kamu merenungkan apa dampak gaya hidup yang kamu jalani bagi lingkungan? Berapa banyak yang telah kau ambil dari lingkungan? Berapa banyak limbah atau sampah yang setiap hari kita hasilkan dan mengotori lingkungan?

    Memang tanpa sadari gaya hidup kita ternyata punya banyak dampak buruk bagi lingkungan. Kita sering mengambil terlalu banyak dari yang kita butuhkan, dan membuang terlalu banyak sampah yang mengotori lingkungan tanpa kita pernah melakukan sesuatu untuk lingkungan. 

    Dalam artikel ini, kami ingin mengajak kamu untuk mulai peduli pada lingkungan dan mulai memperhatikan gaya hidup kita agar lebih ramah lingkungan. 

    Berikut adalah beberapa gaya hidup yang kurang ramah lingkungan yang sebaiknya segera kamu tinggalkan:

    1. Penggunaan plastik sekali pakai

    Plastik kini menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari, padahal plastik sudah terbukti tidak ramah lingkungan. Ini karena plastik butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai. 

    Dan limbah dari plastik sekali pakai memicu banyak masalah bagi lingkungan. Limbah plastik yang mencemari laut mengancam kelangsungan hidup binatang laut. Jika dibakar, limbah plastik akan menghasilkan gas berbahaya yang mengancam kesehatan manusia.

    Baca: Cara bijak mengelola sampah

    2. Sisa makanan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan di bawah Arab Saudi dan di atas Amerika Serikat.

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SISPN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah di Indonesia.  

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan sejumlah masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut.
     
    Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Sisa makanan yang membusuk juga memicu produksi gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

     

    3. Penggunaan kendaraan pribadi

    Penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar fosil yang berlebihan akan memicu polusi udara. 

    Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5) yang bisa menyebabkan gangguan pernapasan. 

    Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana atau yang dikenal denga gas rumah kaca yang bisa mempercepat perubahan iklim. 

    Penggunaan kendaraan pribadi secara berlebihan juga memicu kemacetan di banyak kota besar, 

     

    4.  Fast fashion  

    Banyak orang enggan menggunakan pakaian yang sama dalam kesempatan berbeda. Kebiasaan mengenakan baju baru dalam kesempatan yang berbeda bisa memicu penumpukan sampah.

    Dilansir di The Conversation, Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

    Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

    Sehingga di tengah kondisi iklim yang berubah kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

    5. Boros energi

    Boros energi juga masuk dalam kategori gaya hidup tak ramah lingkungan, karena dalam setiap energi yang kita gunakan ada emisi karbon atau gas rumah kaca yang dilepas ke alam yang selanjutnya akan mempengaruhi lingkungan.

    Jadi mulai sekarang, matikan listrik saat tidak digunakan. Gunakan air secukupnya dan matikan kran saat tidak digunakan. Dan cobalah mencari cara yang lebih ramah lingkungan.  

    6. Konsumsi daging secara berlebihan

    Mungkin kamu nggak mengira kalau gaya hidup yang satu ini nggak ramah lingkungan. Namun, tahukah kamu bahwa industri peternakan menyumbang gas metana dalam jumlah yang cukup besar?

    Gas metana sendiri merupakan gas rumah kaca yang paling banyak diproduksi di dunia dan menyebabkan pemanasan global. Gas metana dihasilkan dari kotoran hewan dan fermentasi enternik.

    Semakin banyak kebutuhan akan daging hewan, maka semakin banyak pula hewan yang dipelihara dan menyebabkan jumlah gas metana kian meningkat.

    Gas metana dari sapi mencapai 14,5 persen dari total emisi gas rumah kaca di dunia. Padahal, metana mempertipis lapisan ozon yang melindungi bumi, sehingga suhu bumi perlahan-lahan meningkat.

     

  • Gaya Hidup Ramah Lingkungan Nggak Cuma Suka Tanaman, Ini 17 Langkah yang Bisa Kamu Lakukan

    Gaya Hidup Ramah Lingkungan Nggak Cuma Suka Tanaman, Ini 17 Langkah yang Bisa Kamu Lakukan

    7cloud.asia – Beberapa tahun belakangan gaya hidup ramah lingkungan makin sering didengungkan untuk lingkungan yang lebih lestari.

    Baik sendiri maupun bergabung dalam komunitas, makin banyak anggota masyarakat yang coba menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Kamu juga bisa melakukan aksi nyata untuk melestarikan bumi dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

    Gaya hidup ramah lingkungan tak hanya soal suka menanam tanaman, tetapi juga meliputi banyak aspek lainnya. Kamu tak harus melakukannya sekaligus, karena gaya hidup ramah lingkungan adalah perjalanan yang dilakukan secara konsisten.

    Kamu bisa memulainya dengan cara sederhana seperti mulai menggunakan tumbler untuk menggantikan minuman kemasan. Sebuah langkah kecil tapi berdampak besar bagi lingkungan jika dilakukan secara kolektif.

    Untuk itu, ada baiknya kita lebih dulu mengenal apa itu gaya hidup ramah lingkungan dan manfaatnya bagi lingkungan.  

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif untuk lingkungan

    Dilansir Indonesiabaik.com, gaya hidup ramah lingkungan adalah cara hidup yang berfokus pada pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan lewat aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Bisa dikatakan, inti dari gaya hidup ramah lingkungan adalah mengurangi sampah, mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cerdas mengonsumsi sumber daya alam, dan selalu merawat lingkungan guna menjaga keseimbangan ekosistem.

    Salah satu aspek penting gaya hidup ramah lingkungan adalah mengurangi jejak karbon atau jumlah emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan. Emisi karbon itu kita hasilkan dari penggunaan energi, transportasi, maupun cara kita mengonsumsi. 

    Jadi gaya hidup ramah lingkungan adalah tentang upaya untuk lebih bijak dalam mengonsumsi yang berujung pada pengurangan sampah dan emisi karbon yang dihasilkan dengan mengadopsi praktik-praktik baik. 

    Gaya hidup ramah lingkungan juga berarti mengurangi penggunaan sumber daya alam, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mengurangi penggunaan sumber daya alam yang tidak terbarukan.

    Berikut 17 langkah yang bisa kamu lakukan untuk memulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan

    1. Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

    Plastik sekali pakai adalah salah satu sumber polusi lingkungan. Mulailah dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, seperti kantong plastik, botol air, sedotan, dan wadah makanan.

    Gantilah dengan menggunakan tas belanja kain, botol air yang dapat diisi ulang, sedotan logam atau bambu, dan wadah makanan yang dapat digunakan kembali. 

    Baca: Sistem isi ulang dari Siklus efektif kurangi sampah plastik

    2. Hemat Energi

    Hemat energi berarti mengurangi emisi gas rumah kaca. Kamu bisa melakukannya dengan mematikan lampu dan peralatan listrik yang tak digunakan, mengganti lampu dengan LED, mengatur suhu pengatur udara dengan bijak.

    Jika memungkinkan, mulailah beralih ke panel surya untuk menghasilkan energi terbarukan di rumah kamu.

    3. Gunakan Transportasi Berkelanjutan

    Transportasi adalah sumber terbesar emisi karbon. Untuk itu kurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan memilih transportasi berkelanjutan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan angkutan umum.

    Jika memungkinkan, pertimbangkan untuk menggunakan mobil listrik atau carpooling dengan teman atau tetangga.

    Baca: Berbagai produk daurulang dari DemiBumi

    4. Daur Ulang

    Daur ulang merupakan cara efektif untuk mengurangi limbah dan penggunaan sumber daya alam. Pisahkan limbahmu dan pastikan untuk mendaur ulang kertas, plastik, kaca, dan logam. Selain itu, perbaiki barang yang rusak daripada langsung membeli yang baru. Pilihlah produk daur ulang atau bahan ramah lingkungan.

    5. Menghemat Air

    Hemat air dengan memperbaiki keran yang bocor, menggunakan shower yang hemat air, dan mengumpulkan air hujan untuk keperluan taman. Ketika mencuci piring atau mencuci mobil, gunakan air secukupnya dan matikan keran saat tidak digunakan.

    6. Minimalkan Pemakaian Bahan Kimia 

    Bahan kimia dapat mencemari air dan tanah serta berdampak buruk pada kesehatan manusia. Pertimbangkan untuk menggunakan alternatif alami dan ramah lingkungan seperti cuka, baking soda, dan minyak esensial dalam kegiatan pembersihan dan perawatan pribadi kamu.

    Baca: Baking soda, benda yang serba guna lagi ramah lingkungan

    7. Kurangi Konsumsi Daging

    Produksi daging memiliki dampak besar terhadap lingkungan, termasuk deforestasi, polusi air, dan emisi gas rumah kaca. Mulai kurangi konsumsi daging dengan mengadopsi pola makan yang lebih berbasis tumbuhan. Cobalah untuk menjadikan hari-hari tertentu sebagai “hari tanpa daging” atau eksplorasi dengan hidangan nabati yang lezat dan bergizi.

    8. Budidaya Tanaman Sendiri

    Menanam tanaman di rumah tak hanya bisa menyediakan makanan segar dan sehat, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pertanian konvensional yang menggunakan pestisida dan penggunaan energi yang tinggi. Kamu dapat memulai dengan menanam tanaman herbal, sayuran, atau bahkan menanam pohon di halaman atau dalam pot.

    9. Gunakan Produk Ramah Lingkungan

    Beli produk yang memiliki label ramah lingkungan, seperti produk dengan sertifikasi organik, bebas dari bahan kimia berbahaya, atau yang menggunakan bahan daur ulang.

    Pertimbangkan juga untuk membeli produk dengan kemasan minimal atau kemasan yang dapat didaur ulang.

    10. Tidak boros makanan 

    Mulai sekarang beli makanan sesuai dengan kebutuhan, gunakan kembali sisa makanan, dan pelajari cara menyimpan makanan dengan baik agar tahan lebih lama. Kamu juga bisa berpartisipasi dalam inisiatif seperti berbagi makanan yang tidak terpakai kepada mereka yang membutuhkan.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan

    11. Mendukung Komunitas Lokal

    Belilah produk-produk lokal yang dihasilkan dengan praktik ramah lingkungan. Dukung petani lokal, pedagang kecil, dan pengrajin lokal. Dengan melakukannya, kamu tidak hanya mengurangi jejak karbon transportasi, tetapi juga membantu perekonomian lokal.

    12. Kurangi konsumsi air mineral

    Mengurangi penggunaan air botol adalah langkah penting dalam mengurangi limbah plastik. Gantilah air botol sekali pakai dengan botol minum yang dapat diisi ulang.

    Jika kamu membutuhkan air minum di luar rumah, bawa botol minum sendiri atau gunakan tempat pengisian air minum umum. Dengan melakukan ini, kamu membantu mengurangi produksi sampah plastik.

    13. Gunakan Produk Keanekaragaman Hayati yang Bertanggung Jawab

    Ketika membeli produk seperti makanan, kosmetik, atau perawatan pribadi, pilihlah yang berasal dari sumber keanekaragaman hayati yang dikelola dengan bertanggung jawab.

    Perhatikan label dan sertifikasi yang menunjukkan produk tersebut dihasilkan dengan memperhatikan konservasi alam, keberlanjutan, dan hak asasi manusia.

    Baca: Konsumsi yang tak bertanggungjawab ancam keanekaragaman hayati di Indonesia  

    14. Gunakan Kertas Secara Bijak

    Gunakan kertas secara bijaksana dengan mencetak hanya ketika diperlukan, memanfaatkan sisi kertas yang kosong, dan mendaur ulang kertas yang tidak terpakai. Pertimbangkan pula untuk beralih ke penggunaan kertas daur ulang maupun produk yang terbuat dari kayu. 

    15. Kurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil

    Penggunaan bahan bakar fosil merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim. Kamu dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dengan mengadopsi transportasi berkelanjutan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum.

    Jika memungkinkan, gunakan kendaraan listrik atau berbagi kendaraan dengan orang lain. Selain itu, hemat energi di rumah dan gunakan sumber energi terbarukan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

    16. Mendukung Pengembangan Ramah Lingkungan

    Bergabung dengan gerakan yang mendukung pengembangan ramah lingkungan seperti Greenpeace Indonesia, WWF Indonesia, atau program pelestarian alam lainnya. Dengan memberikan dukunganm, kamu membantu mempercepat perubahan positif dan memberikan sumber daya bagi upaya keberlanjutan.

    17. Cerdas dalam Mengonsumsi Internet

    Konsumsi internet yang berlebihan dapat menyebabkan penggunaan energi yang tinggi dan dampak lingkungan yang negatif.

    Ajak teman-temanmu untuk sama-sama menjaga lingkungan hidup. Mulailah menggunakan produk ramah lingkungan, kurangi penggunaan plastik satu kali pakai, dan hematlah air maupun listrik di mana pun kamu berada.

  • Cara Sederhana Memulai Slow Living, Jangan Salah Mengartikan dengan Bermalas-malasan

    Cara Sederhana Memulai Slow Living, Jangan Salah Mengartikan dengan Bermalas-malasan

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu 7cloud.asia menulis tentang upaya sebagian orang untuk mulai menjalani hidup dengan lebih perlahan atau yang dikenal dengan slow living.

    Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya-tanya, apakah gaya hidup slow living ini bisa diterapkan di tengah hidup yang sudah telanjur sibuk? Jawabannya adalah ya, gaya hidup slow living bisa diterapkan di hidup yang sibuk.

    Dilansir di prettyslow.life, kita dapat mulai menerapkan gaya hidup slow living dengan melakukan perubahan kecil ke dalam rutinitas harian kita, seperti meluangkan waktu untuk jeda sejenak.

    Manfaatkan saat jeda untuk memulai gaya hidup slow living itu, benar-benar untuk diri sendiri. Ambil napas dalam-dalam, renungkan semua yang patut disyukuri dan apa yang telah kita kerjakan dan capai.

    Lalu secara bertahap mulailah membangun perubahan yang lebih signifikan menuju slow living yang sebenarnya, seperti mengurangi waktu di dunia maya, melakukan hobi kreatif atau meluangkan lebih banyak waktu dengan keluarga dan kolega kita.

    Baca: Mungkinkah menerapkan hidup perlahan di kota yang hectic?

    Menjalani slow living, kita akan menemukan keseimbangan dalam hidup kita yang mendukung kesejahteraan dan kebahagiaan. Mempraktikkan gaya hidup slow living juga memberikan sejumlah manfaat bagi kesejahteraan fisik, mental, dan emosional kita. 

    Oleh beberapa orang, gaya hidup slow living ini disalahpahami sebagai hidup dengan bersantai-santai dan tidak produktif.

    Padahal sejatinya slow living tidak seperti itu. Slow living menawarkan pendekatan hidup yang lebih seimbang dan disengaja atau terencana.

    Slow living berfokus pada perawatan diri sendiri, lebih penuh perhatian dan terhubung dengan sekitar kita dan tidak hanya mengejar produktivitas dan konsumsi.

    Baca: Gaya hidup minimalis dianggap solusi drai dunia yang materialistik

    Ada kesalahpahaman umum, bahwa slow living berarti malas-malasan. Ini juga keliru, karena sejatinya slow living adalah membangun kesadaran dalam menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

    Slow living adalah menjalani hidup dengan memprioritaskan perawatan diri, keterhubungan dengan lingkungan sekitar dan pekerjaan yang bermakna.

    “Individu yang mempraktikkan gaya hidup perlahan atau slow living bisa sama produktif dan suksesnya dengan gaya hidup serba cepat,” tulis prettyslow.life.

    Ada juga yang beranggapan slow living hanya cocok untuk mereka yang tinggal di daerah pedesaan atau kota kecil.

    Baca: Ini yang mendorong orang berpaling ke gaya hidup frugal living

    Anggapan tersebut juga tidak benar, meski memang slow living akan lebih mudah dipraktikkan di lingkungan pedesaan atau kota kecil.

    Slow living tidak eksklusif untuk lingkungan ini. Slow living bisa dipraktekkan di lingkungan manapun, baik itu di kota besar, kota, pinggiran kota, atau pedesaan.

    Salah kaprah lain soal slow living adalah menyerah teknologi: Meskipun benar bahwa hidup lambat menekankan penggunaan teknologi lebih disengaja dan hati-hati, itu tidak berarti menyerah sepenuhnya.

    “Slow living mendorong individu untuk menggunakan teknologi dengan cara yang mendukung kesejahteraan mereka, daripada membiarkannya mengendalikan hidup mereka,” tulis prettyslow.life

    Baca: Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih memanusiakan

    Ada juga yang beranggapan slow living hanya cocok untuk orang kaya yang secara materi tidka lagi menghadapi masalah.

    Padahal slow living dapat dilakukan oleh siapa saja, miskin ataupun kaya tanpa memandang tingkat pendapatan. Semua tergantung pada pikiran dan konsep kita menjalani hidup.

    Aspek-aspek tertentu dari hidup perlahan atau slow living, seperti makanan organik atau mode berkelanjutan memang lebih mahal tetapi karena bermanfaat dalam jangka panjang maka secara ekonomi juga lebih menguntungkan.

    Slow living pada akhirnya adalah tentang memprioritaskan apa yang paling penting bagi kita dan menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan lebih memuaskan.

    Baca: Seperti ini kriteria kota yang ramah lansia

     

     

     

     

  • 10 Prinsip Gaya Hidup Slow Living, Kamu Bisa Berproses Bersamanya

    10 Prinsip Gaya Hidup Slow Living, Kamu Bisa Berproses Bersamanya

    7cloud.asia – Beberapa waktu belakangan makin banyak orang yang menerapkan gaya hidup slow living.

    Dan, dari mereka yang telah menerapkan gaya hidup slow living mengaku, hidup mereka lebih tenang dan bermakna tanpa kehilangan tujuan.

    Seperti telah dituliskan sebelumnya, gaya hidup slow living adalah menjalani hidup dengan lebih perlahan dan menikmati momen-momen dengan lebih sadar dan penuh perhatian.

    Seperti namanya, gaya hidup slow living cenderung lebih santai tapi bukan berarti malas-malasan. Gaya hidup Slow living lebih menekankan pada kualitas hidup, keseimbangan, dan menghindari kesibukan yang berlebihan.

    Dilansir di prettyslow.life, kita dapat mulai menerapkan gaya hidup slow living dengan melakukan perubahan kecil ke dalam keseharian kita, seperti meluangkan waktu untuk jeda sejenak.

    Lalu secara bertahap membangun perubahan yang lebih signifikan menuju slow living yang sebenarnya, seperti mengurangi waktu di dunia maya, melakukan hobi kreatif atau menyatu dengan alam.

    Baca: Cara sederhana memulai slow living

     

    Nah, jika kamu ingin menerapkan gaya hidup slow living, simak prinsip gaya hidup slow living berikut ini: 

    Tapi ingat, gaya hidup slow living tidak kaku, tapi dapat diadopsi secara perlahan agar kita bisa menemukan keseimbangan sehingga kita bisa hidup lebih mendalam dan bahagia.

    1. Kesadaran akan waktu

    Gaya hidup slow living adalah menjalani hidup dengan lebih sadar akan waktu. Menghindari terjebak dalam rutinitas yang membabi buta. Penganut slow living berusaha mengalami dan menikmati setiap momen dan aktivitas dengan kesadaran penuh.

    2. Mengurangi kesibukan

    Slow living menekankan pentingnya waktu untuk diri sendiri. Mengurangi kesibukan dan membuang kegiatan yang tidak penting.

    Selektif soal kegiatan yang dilakukan dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting adalah bagian dari filosofi gaya hidup slow living.

    Baca: Mungkinkah menerapkan slow living di kota besar yang sibuk?

    3. Sederhana dan kembali ke alam

    Penganut gaya hidup slow living sangat menghargai alam dan kehidupan. Mereka cenderung menyukai kegiatan di alam terbuka dan menghindari konsumsi berlebihan yang tidak perlu.

    4. Menghargai momen kecil

    Slow living coba menemukan kebahagiaan dalam momen-momen kecil sehari-hari, seperti menikmati secangkir kopi, berjalan-jalan santai, atau menikmati bunga yang sedang mekar.

    5. Keseimbangan pekerjaan dan kehidupan 

    Gaya hidup slow living berfokus pada menciptakan keseimbangan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

    Slow living adalah menghindari bekerja terlalu keras sehingga kehilangan waktu untuk bersantai dan menikmati kehidupan.

    6. Bijak dalam mengonsumsi

    Penganut slow living adalah mengonsumsi dengan lebih sadar. Pengenaut slow living tidak akan royal berbelanja dan menghindari konsumsi yang berlebihan.

    Mereka hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan dan barang-barang yang lebih tahan lama.

    Baca: Mengapa orang berpaling ke frugal life?

    7. Menghargai proses

    Menjalani gaya hidup slow living sangat menghargai proses dalam setiap aktivitas, dan tidak hanya mengarahkan perhatian pada hasil akhir. Mereka belajar menikmati perjalanan dan pengalaman di sepanjang jalan.

    8. Tak terlalu bergantung pada teknologi

    Gaya hidup slow living mendorong untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi dan mengalokasikan waktu untuk berhubungan langsung dengan orang-orang dan lingkungan di sekitar mereka.

    9. Reflektif 

    Slow living menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk refleksi pribadi, meditasi, atau kegiatan yang membantu merilekskan pikiran.

    10. Menghargai hubungan sosial

    Gaya hidup slow living juga mengajarkan nilai pentingnya menjalin hubungan sosial yang berarti dan mendalam dengan orang lain.

    Baca: Jalani gaya hidup minimalis, dan bebanmu akan berkurang

     

  • Gaya Hidup Minimalis: Isi Lemari Pakaianmu dengan 10 Hal Ini

    Gaya Hidup Minimalis: Isi Lemari Pakaianmu dengan 10 Hal Ini

    7cloud.asia – Memilih koleksi pakaian ala gaya hidup minimalis lebih dari sekadar memilih pakaian.

    Menurut penganjur gaya hidup minimalis, Joshua Becker, memilih koleksi pakaian ala gaya hidup minimalis adalah tentang menerima cara berpikir yang benar-benar baru. 

    Menurut Joshua, terkait pilihan pakaian ini,  orang sering mengabaikan proses dan manfaat pakaian itu sendiri dan lebih mengikuti tren sehingga justru jadi beban. Ini tidak sejalan dengan gaya hidup minimalis dan slow living.

    Ada banyak artikel yang ditulis tentang pilihan pakaian yang tepat dan apa yang harus dibeli guna membangun koleksi pakaian untuk menjadi minimalis.

    “Tapi saya harus jujur, rahasia sukses memilih koleksi pakaian ala gaya hidup minimlais tidak terlalu berkaitan dengan pakaian yang kita kenakan, tetapi lebih banyak tentang cara kita memikirkan perubahan tersebut,” tulisnya.

    Baca: 10 dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Karena itu, untuk mendapatkan hasil maksimal dari lemari pakaian minimalis, kita butuh pola pikir yang benar.

    Jadi buat kamu yang kesulitan untuk memilih koleksi pakaian ala minimalis, penting untuk disadari  bahwa ini bukan sekadar perjalanan mode; itu juga masalah mental.

    Berikut 10 pola pikir penting yang kita butuhkan untuk membangun koleksi pakaian yang bermakna dan tahan lama:

    1. Percaya diri
    Percaya pada diri sendiri adalah faktor penting untuk membangun koleksi pakaian ala minimalis.

    “Terapkan gaya pribadi Anda tanpa mencari validasi dari orang lain. Lemari pakaian Anda harus mencerminkan diri Anda yang sebenarnya, bukan ciptaan palsu yang bertujuan untuk menyenangkan orang lain,” tegasnya.

    Baca: Slow fashion, cara yang dilirik mereka yang muak dengan mode

    2. Cantik itu berasal dari dalam
    Sadarilah bahwa nilaimu tidak ditentukan oleh penampilanmu. Kecantikan sejati berasal dari karakter, nilai-nilai, dan cara kamu memperlakukan orang lain.

    Jadi ketimbang sibuk memikirkan hal yang bersifat lahiriah, mendingan mengembangkan inner beauty, dan tanpa kamu sadari kamu ternyata kita hanya butuh sedikit beda untuk merasa menarik dan lebih percaya diri.

    3. Hargai gaya pribadi ketimbang latah ikut  tren
    Pilih pakaian yang mencerminkan selera dan kepribadian kamu, ini akan jauh lebih awet daripada mengejar tren fesyen yang cepat berlalu.

    “Lemari pakaian yang dikurasi berdasarkan gaya pribadi akan selalu lebih memuaskan dan berkelanjutan dibandingkan lemari pakaian yang didasarkan pada mode terkini,” ujar Joshua.

    Baca: Gaya hidup minimalis makin dilirik

    4. Mode akan cepat berlalu
    Sadarilah bahwa tren datang dan pergi, namun gaya pribadi kita tetap konstan.

    “Setiap generasi menertawakan mode-mode lama, namun secara religius mengikuti mode-mode baru,” kata Henry David Thoreau.

    Berinvestasilah pada barang-barang berkualitas yang dapat bertahan lebih lama, dan hindari jebakan keharusan untuk terus memperbarui isi lemari pakaian kamu agar selalu mengikuti mode.

    5. Ketahui hal yang lebih penting untuk dibelanjakan
    Alihkan fokus dari memperoleh harta benda menjadi berinvestasi dalam pengalaman, hubungan, dan pertumbuhan pribadi.

    Mengarahkan sumber daya ke hal dan tujuan yang lebih bermakna akan mendatangkan kepuasan dan kebahagiaan yang lebih besar.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    6. Berikan contoh kepada anak-anak 
    Contohkan kesederhanaan dan hidup yang terarah untuk anak Anda dengan menjaga lemari pakaian minimalis.

    “Ajari mereka nilai kualitas dibandingkan kuantitas dan ilhami mereka untuk membuat pilihan yang bijaksana dalam hidup mereka,” imbuh Joshua

    7. Syukuri apa yang kita miliki
    Hargai pakaian yang sudah kita miliki dan kenali nilainya.

    Pola pikir bersyukur akan membantu kita menahan keinginan untuk terus mencari lebih banyak dan mendorong kita untuk memaksimalkan apa yang kita miliki.

    8. Sederhana adalah kunci
    Pahami bahwa lemari pakaian yang disederhanakan menghasilkan kehidupan yang lebih fokus dan damai.

    Dengan menghilangkan kelebihan dan gangguan, kita dapat mencurahkan energi untuk hal yang benar-benar penting.

    Baca: 10 Prinsip gaya hidup slow living

    9. Komitmen terhadap keberlanjutan
    Memiliki lebih sedikit pakaian memungkinkan kita memilih pilihan pakaian yang dibuat secara etis dan bertanggung jawab.

    Dengan melakukan hal ini, kita tidak hanya menyederhanakan isi lemari pakaian tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. 

    10. Fleksibel dan mampu beradaptasi
    Bersikaplah terbuka untuk mengubah dan menyesuaikan pilihan pakaian agar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang terus berkembang.

    Lemari pakaian kapsul bukanlah entitas yang kaku dan tidak berubah, melainkan cerminan dinamis dari kehidupan dan pertumbuhan pribadi kita.

    Membuat lemari pakaian kapsul bukan hanya tentang pakaian itu sendiri, namun pola pikir dan sikap yang memungkinkan Anda menolak budaya konsumen dan merangkul kesederhanaan.

    Dengan mengenali dan memilih sepuluh kualitas penting ini, Anda sudah siap untuk membangun lemari pakaian yang lebih bermakna dan disengaja.

    Baca: Cara sederhana memulai slow living

  • Perempuan 35 Tahun Perlu Lebih Peduli Gaya Hidup Sehat untuk Cegah Menopause Cepat

    Perempuan 35 Tahun Perlu Lebih Peduli Gaya Hidup Sehat untuk Cegah Menopause Cepat

    7cloud.asia – Perempuan diminta mulai lebih memperhatikan gaya hidup yang dijalaninya saat memasuki usia 35 tahun. Karena gaya hidup tidak sehat bisa mempercepat datangnya menopause. 

    Rata-rata perempuan mulai mengalami gejala menopause pada usia 48 tahun hingga 52 tahun. Tapi gaya hidup bisa membuat menopause datang lebih cepat,

    Menopause merupakan fase berakhirnya siklus menstruasi seorang perempuan yang biasanya ditandai dengan tidak terjadinya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menopause pada perempuan disebabkan oleh hilangnya fungsi folikel ovarium dan penurunan kadar estrogen dalam darah yang bersirkulasi.

    Baca: Kiat untuk jalani hidup berkualitas saat masuki masa menopause

    Gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi hidangan cepat saji, makanan rendah nutrisi, lebih banyak konsumsi minuman dengan gula ketimbang air putih menjadi salah satu penyebab perempuan mengalami menopause lebuh cepat. 

    Minuman beralkohol, begadang, merokok, juga sangat berpengaruh menyebabkan gejala menopause lebih berat dibandingkan orang-orang yang menerapkan gaya hidup sehat.

     

    Sejumlah gejala yang bisa dialami perempuan saat memasuki masa menopause antara lain brain fog atau kabut otak, sulit konsentrasi yang juga akibat penuaan.

    Selain itu perempuan menopause mulai sering pusing dan migrain tanpa penyebab jelas, mengalami masalah di gusi, mulut, sensasi rasa berkurang, lelah tidak jelas alasannya padahal hasil laboratorium normal.

    Baca: Kenali gejala depresi terselubung yang sering dialami lansia

    Menopause pada perempuan juga ditandai dengan adanya peningkatan berat badan, adanya gejala pencernaan seperti susah buang air besar sering terjadi, kesemutan di jari-jari tangan.

    Sering berkemih, sulit menahan keinginan berkemih, kekeringan pada daerah vagina dan nyeri saat berhubungan intim juga menjadi masalah yang dialami perempuan yang sudah memasuki masa menopause.

    Gejala menopause lainnya adalah kulit gatal, kulit terasa sangat kering, osteoporosis, nyeri-nyeri sendi terutama lutut, kuku-kuku tidak sehat dan berkilau lagi.

    Kadang, menopause juga ditandai dengan munculnya alergi yang dulu tak dialami, mudah tersinggung, moody atau mood swing dan rambut rontok.

    Baca: Masa krisis bagi kesehatan mental

    Gejala menopause juga termasuk kecemasan berlebihan, bahkan hingga depresi yang tidak disadari penderitanya. karena itu dukungan dari orang terdekat sangat dibutuhkan. 

    Menopause pasti akan dialami semua perempuan, sekalipun dia tidak menikah atau tak memiliki anak.

    Perempuan perlu menerima kondisi ini dan saat mengalami gejala perlu segera berkonsultasi ke dokter untuk mencari pertolongan sehingga gejala tak semakin memberat.

    Yeni yang juga ambasador dan anggota senior dari European Society of Aesthetic Gynecology (ESAG) Indonesia mengingatkan perempuan agar tidak menganggap remeh keluhan.

    Baca: Mengenal aktivis perempuan Iran yang raih Nobel Perdamaian 2023

    Terutama yang mengalami gejala kecemasan berlebihan, itu bisa jatuh pada keadaan depresi bila tidak diobati segera. Pada tahap depresi, pengobatan akan lebih lama dan lebih banyak lagi yang perlu dilakukan.

    Di sisi lain, perempuan di masa menopause juga membutuhkan dukungan dari keluarga, seperti suami dan anak-anaknya.

    Suami dan anak-anak harus memahami dan memaklumi saat istri atau ibu sudah mulai cerewet, banyak komplain, bila sudah memasuki usia menjelang menopause.

    Cukup banyak terjadi perceraian saat wanita berada pada usia menjelang menopause, sementara suaminya mengalami andropause dengan gejala yang sama.

    Disarikan dari artikel di Antaranews.com

     

  • Menikmati Hidup Ala Slow Living: Hargai Apa yang Kita Miliki Saat Ini

    Menikmati Hidup Ala Slow Living: Hargai Apa yang Kita Miliki Saat Ini

    7cloud.asia – Menjalani gaya hidup slow living adalah cara hidup yang tidak hanya berarti melambat — tapi juga berarti menjalani hidup yang lebih seimbang.

    Gaya hidup slow living juga berarti menghindari keseharian yang selalu dikejar waktu sehingga bisa benar-benar hadir dan menikmati momen pada saat ini.

    Slow living juga berarti menikmati aktivitas yang benar-benar kita sukai. Tak heran jika, banyak pakar yang menyebut slow living baik untuk kesehatan tubuh, pikiran, dan jiwa kita.

    “Seni menjalani slow living adalah menghargai dunia di sekitar kita saat ini dan menjadikannya sebagai prioritas dalam hidup,” demikian tulis vanillapapers.net.

    Baca: Slow living juga berarti membangun bonding dengan lingkungan sekitar

    Sederhananya, slow living menganjurkan untuk memperlambat dan menikmati apa yang kita miliki saat ini daripada mencoba mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan bekerja berlebihan dan membuat jadwal yang berlebihan. 

    Banyak manfaat yang bisa kita petik dengan menjalani gaya hidup slow living.

    Satu yang utama adalah dapat meningkatkan suasana hati, memperbaiki  pola tidur sekaligus mengurangi tingkat stres yang dapat meningkatkan kesehatan fisik.

    Berikut beberapa manfaat yang bisa kita petik dari menjalani gaya hidup slow living:

    Baca: Slow living artinya sangat menghargai waktu luang

    Menjalani gaya hidup slow living berarti yakin pada pilihan kita dan tidak perlu khawatir untuk mengikuti siapapun.

    Inti gaya hidup slow living adalan pencerminan nilai-nilai sejati yang kita yakini dan percayai. 

    Dengan menjalani gaya hidup slow living kita juga akan lebih sadar diri dan membuat keputusan sesuai kata hati kita. 

    Menjalani gaya hidup slow living akan mengantarkan kita pada hal yang paling penting dalam hidup, seperti orang di sekitar kita dan hubungan kita dengan mereka.

    Baca: Kiat menghabiskan malam ala slow living

    Slow living sangat menekankan pentingnya kesehatan dan kesejahteraan diri, sehingga kita punya  lebih banyak waktu untuk perawatan diri.

    “Dan itu artinya kita dapat dapat menikmati hal yang paling berharga dalam hidup yakni waktu,” imbuh vanillapapers,net. 

    Menjalani gaya hidup slow living juga berati membuang perasaan terlalu banyak bekerja, terlalu terstimulasi, terlalu banyak jadwal, atau kewalahan.

    “Anda mengganti kekacauan dengan kepuasan lewat slow living,” imbuh tulisan itu.

    Baca: 10 prinsip slow living

    Dengan slow living, hidup Anda menjadi lebih bermakna karen akita menjalani hari-hari dengan sikap bersyukur yang akan menghadirkan lebih banyak kegembiraan.

    Dengan cara ini maka stres dan kecemasan akan hilang, sehingga kreativitas dan produktivitas meningkat. 

     

     

  • Seperti Ini Gaya Hidup Minimalis Menyelamatkan Lingkungan

    Seperti Ini Gaya Hidup Minimalis Menyelamatkan Lingkungan

    7cloud.asia – Di jantung kota Hong Kong yang sibuk, di antara  gedung pencakar langit dan jalanan yang dipenuhi tempat belanja gaya hidup minimalis mulai bertunas.

    Gaya hidup minimalis menjadi alternatif di tengah ritme kehidupan sehari-hari di mana tren materialisme dan konsumerisme telah menjadi sebuah norma.

    Hidup secara minimalis makin dilirik karena kesdaran bahwa pilihan konsumsi kita telah menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan dan masyarakat.

    Gaya hidup konsumtif terbukti berkontribusi terhadap perubahan iklim dan masalah lingkungan terkait lainnya seperti sampah TPA dan tingkat emisi gas rumah kaca yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Menurut Greenpeace, warga Hongkong membuang 110.000 ton tekstil ke tempat pembuangan sampah pada tahun 2014, setara dengan sekitar 1.400 kaos per menit.

    Baca: Ringankan hidupmu dengan gaya hidup minimalis

    Tahukah kamu, ternyata dibutuhkan lebih dari 20.000 liter air untuk menghasilkan satu kilogram kapas, yang setara dengan satu kaos dan sepasang celana jeans?

    Dalam artikel ini, earth.org melihat gaya hidup minimalis menjadi solusi potensial untuk meringankan beban lingkungan akibat konsumerisme.

    Minimalisme juga sebagai cara untuk mendorong konsumen membuat pilihan yang lebih berkelanjutan.

    Apa sih gaya minimalis itu? Filosofi sentral gaya hidup minimalis menggarisbawahi konsep “less is more.” Dengan kata lain, menjadi “minimalis” berarti memiliki lebih sedikit barang,

    Baca: Mengintip isi lemari penganut gaya hidup minimalis

    Gaya hidup minimalis menjalani hidup dengan lebih sederhana sehingga memiliki dampak minimal terhadap lingkungan.

    Konsep asli gaya hidup minimalis berasal dari gagasan Yunani kuno tentang hidup sederhana dan menghindari kekayaan materi berlebihan yang menyebabkan pemborosan.

    Namun, gaya hidup minimalis modern yang kita kenal sekarang berakar pada abad ke-20, muncul dari seniman seperti Donald Judd. dan Dan Flavin.

    Lebih penting lagi, buku seperti The Life-Changing Magic of Tidying Up oleh Marie Kondo, Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism oleh Sasaki, dan Danshari: Shin Katazukejutsu oleh Yamashita mempopulerkan filosofi ini.

    Baca: Dampak buruk fast fahion pada lingkungan

    Tiga karakter kanji “断捨離” dapat dibaca sebagai “Dan-sha-ri” dan masing-masing diterjemahkan menjadi penolakan, pembuangan, dan pemisahan.

    Konsep ini mendorong individu untuk membuang kebiasaan lama, mengurangi keinginan terhadap barang baru, menghilangkan keterikatan, dan mengutamakan kebutuhan pribadi.

    Menurut artikel yang diterbitkan di The Japan Times (2011), istilah ini mendapatkan popularitas di Jepang pada tahun 2010 dan sejak itu menyebar secara global.

    Sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of Human Behavior in the Social Environment (2023) berpendapat bahwa gerakan sosial di atas telah meletakkan dasar bagi minimalisme.

    Minimalisme ini kemudian berkembang menjadi gaya hidup minimalis yang kita kenal sekarang.

    Baca: 10 prinsip gaya hidup slow living

    Saat ini,  minimalis mengacu pada gaya hidup yang mengutamakan kualitas hidup dengan tetap mengedepankan kelestarian lingkungan.

    Misalnya, seorang minimalis mempraktikkan pertimbangan yang cermat, menghindari konsumsi berlebihan dan pemborosan sumber daya mulai dari keputusan pembelian hingga pembuangan.

    Cara hidup minimalis ini menghargai kehidupan berkelanjutan, seringkali dengan tujuan melestarikan bumi dan menghilangkan limbah yang tidak perlu di masyarakat.

    Cara hidup yang disederhanakan ini dapat membantu seseorang mencapai rasa ketenangan dan mengambil inisiatif ramah lingkungan.

    Sumber: earth.org, baca artikel asli di sini