Tag: gempa

  • BMKG: Aktivitas Sesar Cugenang Terus Berlanjut Timbulkan Gempa di Cianjur dan Sekitarnya

    BMKG: Aktivitas Sesar Cugenang Terus Berlanjut Timbulkan Gempa di Cianjur dan Sekitarnya

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan aktivitas sesar Cugenang masih berlanjut hingga menimbulkan sejumlah getaran gempa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dan sekitarnya.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Selasa (18/6/2024), mengatakan pihaknya mendapati sejak 15 Juni 2024 terjadi peningkatan aktivitas gempa di Kabupaten Cianjur yang dipicu aktivitas sesar Cugenang.

    Selama dua hari berturut-turut, wilayah Kabupaten Cianjur diguncang gempa bumi yang dipicu aktivitas sesar Cugenang.

    Baca: BRIN petakan sesar gempa di Pulau Jawa

    Bahkan, Tim Pusat Gempa dan Tsunami BMKG sepanjang hari Selasa (18/6/2024) sudah mencatat ada sebanyak delapan kali getaran gempa susulan dengan magnitudo bervariasi

    Gempa terakhir yang teramati BMKG terjadi pada pukul 18.12 waktu Indonesia barat atau WIB. Gempa ini bermagnitudo 2,4 yang berpusat di darat dengan kedalaman 7 kilometer arah Barat Daya Kabupaten Cianjur.

    Rangkaian gempa tektonik tersebut dilaporkan menimbulkan getaran berskala II-III MMI yang dirasakan beberapa waktu oleh masyarakat di Kecamatan Cugenang, Cianjur dan sekitarnya.

    Baca: Indonesia rawan gempa tapi literasi masyarakatnya rendah

    Baca: Indonesia rawan gempa, perhatikan hal ini saat membangun rumah

    BMKG juga mencatat terjadi tiga kali gempa, pada Senin (17/6/2023) yang disebabkan adanya aktivitas Sesar Cugenang.

    Meski rentetan gempa tersebut tergolong relatif kecil, namun ia mengharapkan masyarakat Cianjur dan sekitarnya dapat terus mengikuti laporan atau peringatan dini hasil analisa BMKG sebagai rekomendasi tindakan lanjutan.

    Hasil analisa tersebut biasa didapatkan masyarakat dengan cara mengakses aplikasi daring infoBMKG, media sosial infoBMKG, atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

    Baca: Ada dua sesar gempa di Garut yang harus diwaspadai

    Pasalnya rentetan gempa tersebut juga masih dalam satu rangkaian gempa susulan setelah gempa utama 5,6 magnitudo akibat adanya aktivitas sesar Cugenang yang menimbulkan dampak sangat merusak pada November 2022 lalu.

    Sesar Cugenang merupakan salah satu sesar yang berpotensi memicu gempa di Pulau Jawa. Keberadaan sesar ini seharusnya menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

    Kawasan di sekitar pusat sesar seharusnya disterilkan dari bangunan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa saat gempa benar-benar melanda.

    Baca: Masyarakat diimbau jauhi daerah rawan bencana

  • BRIN: Indonesia Perlu Segera Membuat Peta Batimetri untuk Petakan Tsunami yang Dipicu Gempa

    BRIN: Indonesia Perlu Segera Membuat Peta Batimetri untuk Petakan Tsunami yang Dipicu Gempa

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusuf Surachman Djajadihardja mengungkapkan Indonesia perlu membuat Peta Batimetri

    Menurutnya, Peta Batimetri dapat membantu Indonesia dalam mengumpulkan data penting untuk memprediksi bencana tsunami yang dipicu gempa.

    “Batimetri dapat diartikan sebagai pengukuran dan pemetaan topografi dasar laut. Manfaat Peta Batimetri adalah dapat langsung mengevaluasi deformasi setelah terjadinya gempa besar bawah laut yang menyebabkan tsunami,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (10/7/2024).

    Yusuf menjelaskan implementasi Peta Batimetri telah dilakukan oleh Jepang, antara lain dalam memprediksi bencana tsunami yang melanda negara tersebut pada 11 Maret 2011 silam.

    “Jepang dapat langsung mengidentifikasi penyebab tsunami, dan sehari setelah bencana tersebut mengumumkan adanya pergerakan sebesar 50 meter dilihat dari awal data pembanding,” tambahnya.

    Baca: BRIN lakukan pemetaan sesar gempa di Pulau Jawa

    Jika dibandingkan dengan bencana tsunami di Indonesia yang pernah terjadi di Aceh pada 2004 silam, kata Yusuf, Indonesia tidak memiliki data awal, sehingga tidak dapat melihat perambatan tsunami.

    Selain itu, dampak yang ditimbulkan akibat bencana tersebut juga sangat dahsyat, tidak hanya di darat, namun juga mengakibatkan permukaan dasar laut yang berantakan dan menghasilkan lumpur yang sangat banyak.

    “Antisipasi mempunyai data sebelum dan sesudah bencana menunjukkan pentingnya Batimetri menjadi dasar informasi untuk dapat memprediksi bencana itu akan terjadi,” tegasnya.

    Di samping itu, Yusuf mengungkapkan Peta Batimetri juga dibutuhkan sebagai pertahanan di daerah laut, karena laut tidak dapat dilihat secara visual, namun bisa dibayangkan.

    “Peta Batimetri membantu Indonesia untuk mengetahui wilayah perairannya secara detail, termasuk kedalaman laut, bentuk dasar laut, dan keberadaan berbagai fitur geomorfologi seperti terumbu karang, gunung bawah laut, dan palung laut,” paparnya.

    Baca: Indonesia rawan gempa tapi literasi rendah

    Menurut Yusuf, manfaat Peta Batimetri tidak hanya terbatas pada sektor maritim, tetapi juga meluas ke berbagai bidang lain seperti riset, perikanan, industri, pariwisata, dan penanggulangan bencana alam.

    “Peta Batimetri adalah aset berharga yang harus dimanfaatkan secara bijak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian laut bagi generasi sekarang dan mendatang,” ucapnya.

    Yusuf berharap Peta Batimetri dapat segera diimplementasikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

    Karena dengan memanfaatkan peta batimetri secara optimal, berbagai faktor seperti keselamatan, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.

    Sumber:Antaranewws.com

  • Empat Cara Ini Perlu Dilakukan Dalam Menanggulangi dan Mitigasi Tsunami

    Empat Cara Ini Perlu Dilakukan Dalam Menanggulangi dan Mitigasi Tsunami

    7cloud.asia – Indonesia kerap disebut sebagai ring of fire karena kondisi geologis dikelilingi oleh gunung berapi dan posisinya diapit tiga lempeng bumi Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, serta Lempeng Pasifik.

    Kondisi seperti ini menuntut masyarakat untuk selalu hidup berdampingan dengan potensi bencana alam gempa bumi dan juga tsunami.

    Bencana alam dan tsunami dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.karena itu perlu edukasi terkait penanggulangan dan mitigasi bencana untuk mengurangi risiko bencana alam.

    Baca: Mengenang tsunami Aceh

    Melansir Antaranews, ada empat cara untuk penanggulangan dan mitigasi tsunami, yaitu:

    1. Sistem peringatan dini tsunami

    Indonesia saat memiliki teknologi-teknologi deteksi bencana Tsunami, yaitu :

    • Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS) 4.0 untuk mendukung keselamatan dari ancaman gempa bumi dan tsunami.
    • Info BMKG 4.0 yang memberikan layanan informasi cuaca dan iklim secara lebih presisi dan akurat.
    • Digital Enhanced Cordless Telecommunications (DECT) Handset yaitu perangkat yang dikhususkan untuk membantu petugas dalam memantau lokasi-lokasi bencana yang lebih berbahaya, seperti tanah longsor atau lokasi letusan gunung.
    • Teknologi Call Center dapat secara otomatis membuat laporan statistik mengenai jenis-jenis panggilan darurat yang pernah masuk dari petugas lapangan, sehingga proses analisa keadaan dapat segera dilakukan tanpa hambatan teknis apapun.
    • Multi Parameter Radar (MPR) bisa memberi peringatan dini bila terjadi bencana dan bisa dipindahkan sesuai kebutuhan serta membantu dalam perekaman data cuaca.
    • INA TRITON Buoy untuk memantau perubahan unsur cuaca di atas dan bawah laut.

    2. Edukasi dan kesadaran masyarakat

    Tak bisa dipungkiri, pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda dan tindakan yang harus diambil saat terjadi tsunami masih rendah.

    Baca: Kenang gempa Palu, masyarakat hijaukan Teluk Palu

    Karena itu, program edukasi di sekolah, kampanye kesadaran masyarakat terhadap tsunami, dan latihan evakuasi berkala dapat membantu masyarakat memahami risiko tsunami dan cara bertindak dengan siaga.

    Dengan demikian, ketika terjadi tsunami masyarakat dapat menyelamatkan nyawa dengan memastikan bahwa orang tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus dilakukan ketika ada peringatan tsunami yang dikeluarkan.

    3. Rencana evakuasi dan infrastruktur pendukung

    Rencana evakuasi yang jelas dan infrastruktur pendukung yang memadai sangat penting dalam mitigasi tsunami.

    Baca: Ini saran BRIN untuk petakan tsunami yang dipicu gempa

    Pemerintah dan otoritas setempat harus memastikan bahwa ada jalur evakuasi yang jelas dan dapat diakses, serta tempat evakuasi yang aman dan cukup untuk menampung warga yang terdampak.

    Adapun hal-hal yang harus dilakukan setelah terjadi tsunami adalah:

    • Perhatikan cedera yang dialami diri sendiri dan coba untuk mendapatkan pertolongan pertama sebelum membantu orang lain yang terluka atau terjebak dalam reruntuhan.
    • Jangan kembali ke rumah jika belum dinyatakan aman.
    • Selalu perhatikan kekuatan bangunan atau rumah sebelum masuk untuk menghindari runtuhan bangunan.
    • Hindari puing-puing yang terbawa arus karena dimungkinkan terdapat benda yang bisa berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan.

    4. Monitoring dan penelitian

    Selain melakukan hal-hal diatas, peneliti perlu melakukan monitoring dan penelitian berkelanjutan tentang tsunami dan fenomena terkait.

    Baca: BMKG ajak pihak swasta untuk mitigasi bencana

    Hal ini  sangat penting dilakukan untuk memahami dan mengurangi risiko tsunami.

    Para peneliti harus terus mempelajari pola gempa bumi, perubahan permukaan laut, dan fenomena alam lainnya yang dapat memicu tsunami.

    Hasil penelitian dan data tersebut nantinya digunakan untuk meningkatkan sistem peringatan dini, merancang bangunan yang lebih aman, dan mengembangkan strategi mitigasi yang lebih efektif.

  • Mengenal Sesar Semangko dan Gempa Bumi Besar di Pulau Sumatra

    Mengenal Sesar Semangko dan Gempa Bumi Besar di Pulau Sumatra

    7cloud.asia – Sesar Sumatra atau Sesar Semangko, menjadi salah satu sesar aktif terbesar yang bisa memicu gempa di Indonesia khususnya di Pulau Sumatra.

    Keberadaan Sesar Semangko ini menjadi sorotan karena potensi dampaknya terhadap aktivitas gempa bumi di Pulau Sumatra.

    Letak sesar Semangko membentang dari Banda Aceh hingga Teluk Semangko di selatan Lampung atau sepanjang kurang lebih 1.900 kilometer di Pulau Sumatra, mengikuti garis pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

    Sesar Semangko memiliki dampak yang besar di Pulau Sumatra dan menyebabkan pembentukan sejumlah sesar-sesar minor akibat getaran aktivitasnya.

    Berikut penjelasan mengenai karakteristik Sesar Sumatra atau Sesar Semangko melansir dari berbagai sumber.

    Baca: BRIN susun peta gempa di Pulau Jawa

    Karakteristik Sesar Semangko
    Sesar Semangko merupakan patahan aktif yang terletak di bawah permukaan laut di sepanjang pesisir barat Sumatra.

    Sesar Semangko merupakan barisan yang memiliki arah pergeseran lateral, sehingga termasuk dalam kategori sesar strike-slip.

    Sesar strike-slip merupakan salah satu dari tiga jenis sesar yang ditandai dengan pergerakan mendatar, baik ke kanan maupun ke kiri.

    Sesar ini juga merupakan bagian dari kompleks patahan besar di wilayah subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

    Aktivitas pergerakan sesar Semangko ini dapat menyebabkan pergeseran besar dalam kerak bumi, yang sering kali dipicu oleh tekanan besar antara dua lempeng tersebut.

    Baca: BRIN sebut peran penting peta Batimetri

    Sesar Semangko dikenal sebagai sesar yang menjadi salah satu sumber potensial gempa bumi dan tsunami di wilayah Indonesia.

    Sesar Semangko adalah bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatra dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Patahan inilah membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau ini.

    Sesar Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Kota Bukittinggi.

    Patahan ini adalah patahan paling aktif secara seismik dan terpanjang di Indonesia dengan panjang 1,900 kilometer, membentang dari provinsi Aceh hingga Lampung.

    Sesar Semangko menjadi ancaman besar bagi penduduk Sumatra (terutama wilayah pesisir selatan), dengan ancaman gempa bumi yang sangat tinggi.

    Baca: Indonesia rawan gempa tapi literasi rendah

    Menurut sumber dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), sesar aktif ini bergerak dengan kecepatan relatif, sekitar 6 hingga 7 sentimeter per tahun.

    Pergerakan ini terfokus di Selat Sunda, yang merupakan perairan di antara Pulau Jawa dan Sumatra.

    Sesar Semangko terbagi menjadi 3 wilayah, yakni utara, tengah, dan selatan. Secara keseluruhan, berdasarkan pengamatan pada peta topografi dan foto udara, Sesar Semangko terbagi menjadi 19 segmen.

    Sesar Semangko beberapa kali mengalami gempa bumi besar sejak tahun 1900, beberapa peristiwa besar diantaranya:

    1. Gempa bumi Kerinci 1909 – 6,8 Mw patahan strike-slip dangkal di sepanjang Sesar Besar Sumatra

    2. Gempa bumi Padang Panjang 1926 – 7.5 Mw gempa ini adalah salah satu yang terbesar akibat pergeseran Sesar Semangko, di wilayah Sumatera Barat, setidaknya 354 orang meninggal.

    3. Gempa bumi Liwa 1933 – 7.5 Mw Episenter dekat kota Liwa, Lampung. Kerusakan berat terjadi di seluruh provinsi, hingga sejauh Bengkulu, Banten, dan Jakarta, 76 orang dilaporkan tewas.

    Baca: Cara Jepang siapkan warganya hadapi gempa bumi

    4. Gempa bumi Sumatera Utara 1936 – 7.2 Mw Episenter dekat perbatasan antara provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

    5. Gempa bumi Alahan Panjang 1943 – 7.7 Mw gempa ini adalah serangkaian gempa besar di Sumatera Barat, korban dan kerusakan tidak ketahui

    6. Gempa bumi Banda Aceh 1964 – 7.0 Mw Episenter berpusat 5 km dari kota Banda Aceh, kerusakan dan korban tidak diketahui.

    7. Gempa bumi Liwa 1994 – 7.0 Mw berpusat di Liwa, Kabupaten Lampung Barat, kerusakan berat terjadi di Liwa, 200 orang dilaporkan tewas.

    8. Gempa bumi Kerinci 1995 – 6.8 Mw Episenter berada di Kabupaten Kerinci, Jambi, sedikitnya 84 orang meninggal.

    9. Gempa bumi Sumatra Maret 2007 – 6.4 Mw gempa ini adalah serangkaian gempa kuat di wilayah Sumatera Barat, 68 orang dilaporkan tewas.

    10. Gempa bumi Pasaman Barat 2022 – 6.2 Mw Episenter berada di Kabupaten Pasaman Barat, sekitar 27 orang meninggal dan banyak yang terluka.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Tujuh Segmen Sesar Semangko Berada di Sumatra Barat, Ini Daftarnya

    7cloud.asia – Sesar Sumatra atau Sesar Semangko, menjadi salah satu sesar aktif terbesar yang bisa memicu gempa di Indonesia khususnya di Pulau Sumatra.

    Sesar Semangko dikenal sebagai sesar yang menjadi salah satu sumber potensial gempa bumi dan tsunami di wilayah Indonesia.

    Sesar Semangko membentang dari Banda Aceh hingga Teluk Semangko di selatan Lampung atau sepanjang kurang lebih 1.900 km di Pulau Sumatra, mengikuti garis pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

    Aktivitas pergerakan sesar Semangko ini dapat menyebabkan pergeseran besar dalam kerak bumi, yang sering kali dipicu oleh tekanan besar antara dua lempeng tersebut.

    Sesar Semangko adalah bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatra dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung.

    Baca: Mengenal Sesar Semangko

    Patahan inilah membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau ini.

    Sesar Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Kota Bukittinggi.

    Sesar Semangko terbagi menjadi 3 wilayah, yakni utara, tengah, dan selatan. Secara keseluruhan, berdasarkan pengamatan pada peta topografi dan foto udara, Sesar Semangko terbagi menjadi 19 segmen.

    Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya berada di Provinsi Sumatera Barat dan memiliki potensi dampak langsung terhadap masyarakat yang tinggal di zona-zona rentan.

    Segmen ini juga dikenal sebagai sesar minor, yang menghasilkan gempa bumi yang terbatas pada daerah yang lebih pendek dibandingkan panjang total sesar.

    Baca: BRIN petakan sesar di Pulau Jawa

    Berikut adalah tujuh segmen Sesar Semangko yang berada di Sumatera Barat:

    1. Segmen Angkola
    Ujung utara segmen ini dimulai dari lembah Batang Toru, mengikuti lembah Sungai Batang Angkola dan Batang Gadis di Sumatera Utara. Sedangkan ujung selatannya terletak di wilayah Sumatera Barat dekat Lembah Batang Pasaman.

    2. Segmen Barumun
    Ujung utara segmen ini terletak di Sosopan Julu, Sumatera Utara, mengikuti Lembah Sungai Barumun. Bagian Selatan segmen ini berada di Sumatera Barat, meliputi daerah Panti, Sitompa, hingga Sunpadang (Kecamatan Rao).

    3. Segmen Sumpur
    Bagian Utara dari segmen Sumpur berakhir di sisi selatan Depresi Sumpur, di selatan Panti.

    Kemudian, patahan ini mengikuti Lembah Batang Sumpur ke arah Tenggara, melalui Salabawan, hingga Bonjol, mengikuti Sungai Silasung dengan panjang segmen sekira 35 kilometer.

    Baca: Indonesia rawan gempa tapi literasi masyarakat rendah

    4. Segmen Sianok
    Segmen ini membentang dari timur laut Danau Singkarak, melalui barat daya Gunung Marapi, hingga Ngarai Sianok, dengan panjang segmen mencapai 90 kilometer.

    5. Segmen Sumani
    Bagian utara dari segmen ini dimulai di sebelah utara Danau Singkarak, melewati sisi barat daya danau tersebut melalui daerah Kota Solok, Sumani, Selayo, dan berakhir di Gunung Talang, dengan panjang sekira 90 kilometer.

    6. Segmen Suliti
    Bagian utara segmen ini terletak di sekitar Danau Diatas dan Danau Dibawah, dengan lebar zona sekira 4 kilometer.

    Patahan ini mengikuti lembah Sungai Suliti ke arah tenggara hingga anak-anak Sungai Liki di barat laut Gunung Kerinci, dengan panjang keseluruhan mencapai 90 kilometer.

    7. Segmen Siulak
    Bagian selatan dari segmen ini terletak di wilayah Jambi, mengikuti lembah di barat daya hingga barat laut Gunung Kerinci, bertumpang tindih dengan segmen Suliti di wilayah Solok Selatan, dengan panjang keseluruhan mencapai 70 kilometer.

     

     

  • Gempa 7,1 SR Landa Jepang, Pemerintah Keluarkan Peringatan Tsunami

    Gempa 7,1 SR Landa Jepang, Pemerintah Keluarkan Peringatan Tsunami

    7cloud.asia – Gempa bermagnitudo 7,1 mengguncang lepas pantai tenggara Pulau Kyushu di Jepang pada Kamis (08/08/2024) mendorong otoritas untuk mengeluarkan peringatan tsunami, menurut Badan Meteorologi Jepang.

    Gempa terjadi pada pukul 16:43 sore waktu setempat (14:43 WIB) di daerah Hyuga Nada dengan kedalaman 30 kilometer (18,6 mil).

    Gempa susulan hingga 5,0 magnitudo dapat dirasakan di Prefektur Miyazaki dan Kagoshima.

    Otoritas Jepang mengeluarkan peringatan tsunami untuk daerah pesisir Pulau Kyushu dan pesisir barat serta selatan Pulau Shikoku.

    Baca: Gempa 7,5 SR landa Jepang, daratan bergeser hingga 1 meter lebih

    Tsunami dengan ketinggian gelombang hingga 1 meter telah mencapai Prefektur Miyazaki.

    Media Jepang melaporkan bahwa sebuah kereta cepat dihentikan setelah gempa.

    Dilaporkan juga bahwa markas darurat dibentuk di kantor Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida setelah gempa tersebut.

    Media Jepang juga melaporkan bahwa tidak ada gangguan dalam operasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai setelah gempa kuat di lepas pantai Pulau Kyushu.

    Sumber: Sputnik-OANA

  • Mengenal Apa Itu Megathrust yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Indonesia

    Mengenal Apa Itu Megathrust yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Indonesia

    7cloud.asia – Potensi gempa megathrust menjadi perbincangan publik setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan potensi gempa megathrust yang bisa terjadi di Indonesia.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempa megathrust bisa terjadi karena seismic gap Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

    Megathrust Selat Sunda berpotensi memicu terjadinya gempa dahsyat dengan magnitudo mencapai 8,7. Sedangkan Megathrust Mentawai-Siberut bisa menyebabkan gempa berkekuatan magnitudo 8,9.

    “Kedua segmen megathrust ini boleh dikata tinggal menunggu waktu karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar,” kata Daryono, dilansir dari Kompas.com, Senin (13/8/2024).

    Selain gempa berkekuatan tinggi, gempa megathrust juga disebut dapat memicu terjadinya tsunami jika sumber gempa terjadi di laut.

    Baca Juga: Tujuh Segmen Sesar Semangko Berada di Sumatra Barat, Ini Daftarnya

    Sebenarnya apa itu gempa megathrust? Secara etimologi, gempa megathrust adalah gempa bumi yang berasal dari zona megathrust.

    Kata “Mega” itu artinya besar, sedangkan kata “Thrust” berarti sesar sungkup. Letaknya berada di perbatasan pertemuan continental crust (kerak benua) dan oceanic crust (kerak samudra).

    Dilansir dalam buku “Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017” berdasarkan hasil kajian para pakar gempa bumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust.

    Zona megathrust menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal. Menurut Daryono, gempa megathrust berpusat di bidang kontak antarlempeng dengan kedalaman kurang dari 45-50 kilometer.

    Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa.

    Baca Juga: BMKG Ingatkan Warga Garut untuk Mewaspadai Dua Sesar Gempa di Wilayah Itu

    Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting). Gempa dalam skala besar di laut kemudian memicu tsunami.

    Kapan gempa megathrust terjadi? Kepala Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya Adi Susilo mengatakan, gempa megathrust memang berpotensi terjadi di Indonesia.

    Kendati demikian, beberapa gempa yang terjadi di Indonesia belakangan diharapkan tidak membuat masyarakat panik dan mengaitkannya dengan gempa megathrust.

    “Gempa megathrust memang potensi ada, tetapi bukan diprediksi pasti terjadi,” kata dia, dilansir dari Kompas.id.

    Ia juga mengatakan, gempa megathrust terjadi ribuan tahun sekali. Menurut penelitian yang diterbitkan di berbagai jurnal, gempa megathrust baru terjadi ketika gempa berbarengan di sepanjang zona subduksi selatan Jawa.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    “Inilah yang berpotensi menyebabkan gempa besar sekitar 8 MMI dengan potensi tsunami 20 meter. Kapan itu terjadi? Kemungkinan bisa 2000 tahun sekali,” ujar Adi.

    Dikutip dari Kontan, gempa megathrust berbesar dalam 20 tahun terakhir adalah gempa Tohoku berkekuatan 9,0–9,1 skala Richter pada 2011 silam.

    Gempa megathrust bisa picu tsunami Kepala Bidang (Kabid) PK BPBD Provinsi Sumbar, Syahrazad Jamil mengatakan, gempa megathrust M 8,9 dapat memicu terjadinya tsunami setinggi 6-10 meter.

    “20 sampai 30 menit kemudian disusul gelombang tsunami di Kota Padang setinggi enam hingga 10 meter dengan jarak dua hingga lima kilometer,” ungkapnya dilansir dari Antara.

    Melihat potensi bencana tersebut, pihaknya mempersiapkan mitigasi dengan menjadikan kawasan Gunung Padang sebagai tujuan evakuasi warga binaan apabila tsunami terjadi.

    Baca Juga: BMKG: Aktivitas Sesar Cugenang Terus Berlanjut Timbulkan Gempa di Cianjur dan Sekitarnya

    Sementara itu, pada segmen zona megathrust Selat Sunda, gempa megathrust dengan M 8,7 yang terjadi bersamaan dengan segmentasi di atas dan timur kawasan tersebut dapat memicu terjadinya tsunami.

    Segmentasi di atas megathrust Selat Sunda adalah megathrust Enggano. Sedangkan segmentasi di timur Selat Sunda adalah megathrust Jawa Barat-Tengah.

    Doktor yang pernah meneliti potensi gempa bumi megathrust dan tsunami di Selatan Jawa, Widjo Kongko mengatakan, ketika gempa terjadi secara bersamaan di zona tersebut, kekuatannya bisa mencapai M 9,0.

    “Energi yang dihasilkan dari potensi gempa itu mirip dengan gempa bumi dan tsunami Aceh 2004,” ucapnya, dikutip dari Antara.

    Menurut permodelan, Widjo mengatakan bahwa secara saintifik tsunami yang mungkin terjadi akibat megathrust Selat Sunda ini bisa lebih tinggi dari Aceh.

    “Namun, karena secara umum kedalaman laut di daerah sumber gempa lebih dalam dibandingkan dengan yang kejadian 2004, maka berdasar perhitungan model, secara saintifik tsunami yang terjadi bisa lebih tinggi dari Aceh,” tandasnya.

    Sumber:Kompas.com

  • Mengenal 16 Titik Megathrust di Indonesia

    Mengenal 16 Titik Megathrust di Indonesia

    7cloud.asia – Di Indonesia, zona megathrust bukanlah hal baru. Zona sumber gempa ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia.

    Zona megathrust berada di 6 zona subduksi aktif dengan potensi gempa besar terjadi di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

    Selain dua zona megathrust itu, Indonesia juga dikelilingi oleh 16 titik megathrust lainnya, yaitu:

    1.Aceh-Andaman
    2.Nias-Simeulue
    3.Kepulauan Batu
    4.Mentawai-Siberut
    5.Mentawai–Pagai
    6.Enggano
    7.Selat Sunda Banten
    8.Selatan Jawa Barat
    9.Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur
    10.Selatan Bali
    11.Selatan NTB
    12.Selatan NTT
    13.Laut Banda Selatan
    14.Laut Banda Utara
    15.Utara Sulawesi
    16.Subduksi Lempeng Laut Pilipina.

    Baca Juga: Mengenal Apa Itu Megathrust yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Indonesia

    Segmen zona megathrust di Indonesia sudah dapat dikenali potensinya. Dilansir dari laman BPBD Provinsi Jogja, aktivitas gempa yang bersumber di zona megathrust disebut sebagai gempa megathrust dan tidak selalu berkekuatan besar.

    Sebagai sumber gempa, zona megathrust dapat membangkitkan gempa berbagai magnitudo dan kedalaman.

    Data hasil monitoring BMKG menunjukkan, justru “gempa kecil” yang lebih banyak terjadi di zona megathrust, meskipun zona megathrust dapat memicu gempa besar.

    Kapan gempa megathrust terjadi? Kepala Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya Adi Susilo mengatakan, gempa megathrust memang berpotensi terjadi di Indonesia.

    Kendati demikian, beberapa gempa yang terjadi di Indonesia belakangan diharapkan tidak membuat masyarakat panik dan mengaitkannya dengan gempa megathrust.

    “Gempa megathrust memang potensi ada, tetapi bukan diprediksi pasti terjadi,” kata dia, dilansir dari Kompas.id.

    Baca Juga: Tujuh Segmen Sesar Semangko Berada di Sumatra Barat, Ini Daftarnya

    Ia juga mengatakan, gempa megathrust terjadi ribuan tahun sekali. Menurut penelitian yang diterbitkan di berbagai jurnal, gempa megathrust baru terjadi ketika gempa berbarengan di sepanjang zona subduksi selatan Jawa.

    “Inilah yang berpotensi menyebabkan gempa besar sekitar 8 MMI dengan potensi tsunami 20 meter. Kapan itu terjadi? Kemungkinan bisa 2000 tahun sekali,” ujar Adi.

    Dikutip dari Kontan, gempa megathrust berbesar dalam 20 tahun terakhir adalah gempa Tohoku berkekuatan 9,0–9,1 skala Richter pada 2011 silam.

    Gempa megathrust bisa picu tsunami Kepala Bidang (Kabid) PK BPBD Provinsi Sumbar, Syahrazad Jamil mengatakan, gempa megathrust M 8,9 dapat memicu terjadinya tsunami setinggi 6-10 meter.

    “20 sampai 30 menit kemudian disusul gelombang tsunami di Kota Padang setinggi enam hingga 10 meter dengan jarak dua hingga lima kilometer,” ungkapnya dilansir dari Antara.

    Melihat potensi bencana tersebut, pihaknya mempersiapkan mitigasi dengan menjadikan kawasan Gunung Padang sebagai tujuan evakuasi warga binaan apabila tsunami terjadi.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    Sementara itu, pada segmen zona megathrust Selat Sunda, gempa megathrust dengan M 8,7 yang terjadi bersamaan dengan segmentasi di atas dan timur kawasan tersebut dapat memicu terjadinya tsunami.

    Segmentasi di atas megathrust Selat Sunda adalah megathrust Enggano. Sedangkan segmentasi di timur Selat Sunda adalah megathrust Jawa Barat-Tengah.

    Doktor yang pernah meneliti potensi gempa bumi megathrust dan tsunami di Selatan Jawa, Widjo Kongko mengatakan, ketika gempa terjadi secara bersamaan di zona tersebut, kekuatannya bisa mencapai M 9,0.

    “Energi yang dihasilkan dari potensi gempa itu mirip dengan gempa bumi dan tsunami Aceh 2004,” ucapnya, dikutip dari Antara.

    Menurut permodelan, Widjo mengatakan bahwa secara saintifik tsunami yang mungkin terjadi akibat megathrust Selat Sunda ini bisa lebih tinggi dari Aceh.

    “Namun, karena secara umum kedalaman laut di daerah sumber gempa lebih dalam dibandingkan dengan yang kejadian 2004, maka berdasar perhitungan model, secara saintifik tsunami yang terjadi bisa lebih tinggi dari Aceh,” tandasnya.

    Sumber: Kompas.com

  • Tiga Kecamatan di Cianjur Berpotensi Terjadi Tsunami

    Tiga Kecamatan di Cianjur Berpotensi Terjadi Tsunami

    7cloud.asia – Setidaknya tiga kecamatan di Kabupaten Cianjur yang berpotensi terdampak tsunami jika gempa bumi 8,7 magnitudo melanda Pantai Selatan Cianjur.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Asep Kusmana Wijaya mengatakan tsunami yang berpotensi terjadi diperkirakan memiliki ketinggian air 18-26 meter.

    Jika tsunami terjadi, maka akan berdampak luas bagi seluruh pantai dan perkampungan warga. Bangunan dan perkebunan akan habis tersapu tsunami.

    “Berdasarkan peta bahaya tsunami yang diperoleh dari BMKG terdapat tiga wilayah yang berpotensi terdampak bencana tsunami, Kecamatan Cidaun, Sindangbarang dan Agrabinta dimana terdapat 18 desa, sehingga warga diminta untuk waspada,” jelas Asep.

    Baca: Mengenal megathrust yang bisa picu gempa dan tsunami di Indonesia

    Meski ada potensi bencana tsunami, Asep mengimbau warga agar tidak panik dan selalu mewaspadai tanda-tanda bencana alam yang berpotensi muncul sewaktu-waktu.  

    Melansir Antaranews, Asep menjelaskan pihaknya sudah menempatkan sekitar 90 orang Relawan Tangguh Bencana (Retana) di sepanjang pesisir pantai selatan.

    Hal ini dilakukan sebagai upaya pengawasan, pelaporan dan tindakan cepat dengan mengevakuasi warga ketika melihat tanda alam akan terjadinya bencana alam tsunami.

    “Termasuk memberikan pelatihan dan kesiap siaga-an pada warga di sepanjang pesisir selatan terkait antisipasi dan penanganan cepat ketika terjadi bencana termasuk melakukan evakuasi melalui jalur yang sudah dipasang di setiap kecamatan,” paparnya.

    Sebagai antisipasi bencana tsunami, lanjut Asep, pihaknya telah memasang rambu atau jalur evakuasi di sejumlah titik terutama sepanjang bibir pantai selatan yang membentang di tiga kecamatan.

    Baca: Indonesia perlu buat peta batimetri untuk petakan daerah yang berpotensi tsunami

    Bahkan simulasi bencana alam tsunami di ketiga wilayah tersebut kerap dilakukan sebagai upaya antisipasi dan bentuk kesiapan warga menghindari bencana alam.

    “Namun ketika hal tidak diinginkan terjadi minimal warga sudah siap untuk melakukan langkah termasuk mengungsi ke tempat yang dinilai aman dari jangkauan tsunami,” ujarnya.

    Pihaknya juga memastikan alat peringatan tsunami yang dipasang BMKG di pantai selatan akan berbunyi, sehingga masyarakat dapat segera mengevakuasi diri ke dataran yang lebih tinggi.

    “Sedangkan untuk alternatif lainnya, apabila alat peringatan tsunami mengalami kendala, maka Retana dan aparat setempat akan memberikan peringatan melalui pengeras suara yang ada di masjid setempat,” pungkasnya.

     

  • Gempa Magnitudo 5,8 di Yogyakarta Akibatkan Sejumlah Rumah dan Pasar Rusak

    Gempa Magnitudo 5,8 di Yogyakarta Akibatkan Sejumlah Rumah dan Pasar Rusak

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat beberapa kerusakan akibat gempa megnitudo 5,8 di barat daya Gunung Kidul, Senin, 26 Agustus 2024.

    Gempa yang terjadi pada pukul 19:57 WIB itu berlangsung selama sekitar 39 detik dan memicu kepanikan warga getarannya dirasakan hingga Solo dan sekitarnya seperti Boyolali, Klaten dan Sukoharjo.

    Pusat gempa berada di 95 kilometer barat daya Gunung Kidul, 97 kilometer barat daya Bantul, 107 kilometer tenggara Kulon Progo, 109 kilometer barat daya kota Yogyakarta.

    Dilansir Tempo.co, gempa mengakibatkan dan beberapa rumah serta pasar rusak.

    Gempa menimbulkan kerusakan pada tiga rumah di Kapanewon Nglipar, Semanu, Gunung Kidul, sementara di Kulon Progo tim BPBD masih mengumpulkan data.

    Di Kabupaten Sleman ada satu pasar yang rusak, sedangkan di Bantul dan Kota Yogyakarta masih dikumpulkan data.

    “Tim masih mengumpulkan data akibat gempa,” kata Kepala Bidang PD dan Damkarmat BPBD DIY, Edhy Hartana, Senin (26/8/2024) malam.

    Seorang warga Desi Vitriani di Pojok Mulur, Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin, mengatakan sempat merasakan gempa tersebut.

    Bahkan, hingga pukul 20.30 WIB dirinya bersama para tetangga masih berada di luar rumah mengantisipasi terjadinya gempa susulan.

    “Tadi saya kan baru tiduran, terus tiba-tiba terasa gempa. Lampu di rumah saya goyang cepat sekali,” katanya.

    Bahkan, para tetangga kampungnya sampai membunyikan kentongan tanda bahaya.

    “Saya merasakan tadi sekitar 10 detik. Tadi kami langsung keluar rumah karena kentongan sampai dibunyikan,” katanya.

    Warga Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten Larasati juga merasakan hal yang sama. Ia bersama suami dan anaknya langsung berlari keluar rumah saat merasakan gempa tersebut.

    “Tadi gempanya nggak langsung kencang, pelan dulu baru kemudian kencang banget. Kami langsung lari keluar,” katanya.

    Sementara itu, pada keterangan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan kekuatan magnitudo 5.8 tersebut tidak berpotensi tsunami.