Tag: gunung

  • Gunung Dukono Meletus, Lontaran Abu Vulkanik Setinggi 4 Ribu Meter

    Gunung Dukono Meletus, Lontaran Abu Vulkanik Setinggi 4 Ribu Meter

    7cloud.asia – Gunung Dukono di Maluku Utara pada Rabu (03/01/2024) pagi meletus dengan melontarkan abu vulkanik setinggi lebih kurang 4.000 meter.

    “Erupsi terjadi pukul 06.52 WIT,” ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Dukono, Sarjan Roboke seperti yang dilansir Antaranews.

    Sarjan menjelaskan hasil pemantauan, kolom abu tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat daya. Letusan masih berlangsung ketika Sajan membuat laporan ini.

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat yang berada di sekitar Gunung Dukono untuk tidak beraktivitas.

    Baca: Gunung Lewotobi Laki-Laki erupsi

    Masyarakat juga dilarang mendaki dan mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius tiga kilometer.

    Selain itu, PVMBG juga mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker penutup hidung dan mulut agar terhindar dari bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

    Masyarakat atau penambang pasir juga dilarang untuk tidak beraktivitas di sepanjang aliran Sungai Muye di Desa Mamuya, Sungai Ruko di Desa Ruko, dan Sungai Mede di Desa Mede ketika hujan turun di puncak Gunung Dukono.

    Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari bahaya banjir lahar hujan dari Gunung Dukono.

    Gunung Dukono merupakan gunung api yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara dengan ketinggian 1.087 meter di atas permukaan laut.

    Baca: Gunung Semeru erupsi

    PVMBG memantau aktivitas Gunung Dukono secara visual dan instrumental dari pos pengamatan yang berlokasi di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.

    Gunung Dukono merupakan gunung api yang paling muda dan masih aktif di antara gunung api lainnya yang sudah tidak aktif yang tumbuh dalam suatu zona depresi vulkanik.

    Karakteristik erupsi gunung api ini bersifat eksplosif dan efusif yang menghasilkan abu, lontaran batu pijar, aliran piroklastika, dan aliran lava.

    Berdasarkan jenis, volume, dan hasil peninggalan erupsi di masa lalu hingga sekarang, maka erupsi Gunung Dukono dapat diklasifikasikan ke dalam erupsi eksplosif dan efusif bertipe Stromboli-Vulkano berskala kecil sampai menengah.

    Baca: Gunung Dukono Meletus

    Potensi bahaya primer erupsi Gunung Dukono terdiri atas aliran piroklastika (awan panas), jatuhan piroklastika (lontaran batu dan abu vulkanik), gas beracun, dan aliran lava. Bahaya sekunder adalah aliran lahar.

    Dukono adalah gunung api yang kompleks dan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia sepanjang sejarah.

    Letusan besar bersejarah pertama terjadi pada tahun 1550. Letusannya bersifat eksplosif dengan skala Volcanic Explosivity Index = 3 (VEI=3).

    Letusan tersebut menghasilkan aliran lava dan laharnya memenuhi selat antara Halmahera dan kerucut sisi utara Gunung Mamuya. Kematian dan kerusakan dilaporkan tetapi rinciannya tidak diketahui.

    Baca: Gunung Anak Krakatau meletus 10 kali

    Kemudian Gunung Dukono pernah mengalami letusan yang lebih kecil pada tahun 1719, 1868, dan 1901. Dukono terus menerus meletus sejak tahun 1933 hingga saat ini.

    Letusan bersifat eksplosif (VEI=3) dan juga menghasilkan aliran lava dan semburan lumpur. Saat itu, letusannya telah menimbulkan kerusakan namun tidak ada korban jiwa.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Gunung Marapi Meletus Lontarkan Batu Api, Warga Diimbau Waspada

    Gunung Marapi Meletus Lontarkan Batu Api, Warga Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Gunung Marapi yang terletak di provinsi Sumatera Barat kembali meletus pada Sabtu (13/01/2024) pagi. Kali ini suara dentuman keras serta gemuruh dan melontarkan batu api.

    “Saya dan Tim Siaga Marapi menginap di masjid perkampungan sejauh lima kilometer dari puncak saat Marapi meletus. Saya dan warga lain melihat jelas adanya lontaran batu api dari puncak,” jelas pewarta foto Antaranews yang berada di posko, Iggoy el Fitra (43).

    Melansir Antaranews, Iggoy dengan beberapa orang relawan dari TNI-Polri dan BPBD menyaksikan letusan tersebut dari Posko Siaga Marapi.

    Baca: Aktivitas meningkat status Gunung Lewotobi Laki-laki naik menjadi awas

    Posko tersebut berada di Jorong Batang Silasiah, Desa Bukit Batabuah, Kabupaten Agam.

    Ia mengatakan saat erupsi terdengar dentuman keras beberapa detik dan pijaran cahaya ari lontaran batu api bisa dilihat secara kasat mata.

    “Suara keras berdentum seperti bom membangunkan hampir seluruh relawan dan warga sekitar. Cahaya kemerahan jelas terlihat di sekitar puncak hingga satu menit, kemudian kembali padam,” urainya.

    Menurutnya, sebelum terjadinya erupsi pada dini hari itu, beberapa warga sempat mengungsi ke lokasi lebih jauh, karena takut dengan suara gemuruh yang sering terdengar.

    Baca: Gunung Dukono meletus

    “Suara gemuruh sering terdengar meski Marapi tidak erupsi. Dua keluarga kami lihat mengungsi mandiri ke rumah kerabatnya yang berada lebih jauh dari jarak lima kilometer ini dengan alasan anak-anak mereka ketakutan,” terangnya.

    Sementara itu, Petugas Pemantau Gunung Api (PGA) Marapi, Teguh Purnomo membenarkan adanya material lava yang keluar dari erupsi Marapi tersebut.

    “Iya mengeluarkan lava, erupsi dengan tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30.3 mm dan durasi sementara 34 detik,” katanya.

    Namun, ia tidak memberikan informasi lebih jauh terkait lava atau batu api yang keluar dari kawah Marapi serta arah dan jauh lontarannya.

    PGA mencatat sejak awal Desember 2023 hingga Sabtu (13/1) pagi, gunung yang memiliki tinggi 2.891 mdpl tersebut terjadi letusan sebanyak 123 letusan dan 655 hembusan.

    Baca: Korban meninggal akibat letusan Gunung Marapi Capai 23 orang

    Letusan besar terjadi pada 3 Desember dengan lontaran abu vulkanik setinggi 3000 meter. Saat itu, letusan memakan korban jiwa sebanyak 23 orang. sebagian besar adalah mahasiswa yang mendaki gunung.

    Saat ini Gunung Marapi berada pada Status level III (siaga). Masyarakat dilarang memasuki dan tidak melakukan kegiatan dalam wilayah radius 4,5 kilometer dari pusat erupsi (kawah verbeek).

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Gunung Ibu Meletus, Masyarakat Diimbau Waspada

    Gunung Ibu Meletus, Masyarakat Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Gunung Ibu di Pulau Halmahera Maluku Utara pada Senin (15/01/2024) siang meletus dan melontarkan abu vulkanik setinggi lebih kurang 1.000 meter di atas puncak gunung. Masyarakat diimbau waspada.

    Menurut petugas Pos Pengamatan Gunung Ibu, Axl Roeroe letusan tersebut terjadi pukul 11.03 WIT. “Kolom abu berintensitas tebal berwarna kelabu mengarah ke barat daya,” ungkap Roeroe seperti yang dikutip Antaranews.com.

    Berdasarkan pantauan dari seismogram letusan Gunung Ibu dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 118 detik.

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dan perluasan sektoral berjarak 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif.

     Baca: Gunung Marapi meletus lagi

    Masyarakat juga diimbau mengenakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar rumah. Hal ini untuk menghindari gangguan pernafasan yang mungkin terjadi akibat abu vulkanik.

    Gunung Ibu merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia. Tercatat, sejak 1 Januari hingga 15 Januari 2024, Gunung Ibu telah mengalami letusan sebanyak 11 kali.

    Aktivitasnya yang tinggi tersebut menempatkan Gunung Ibu berada pada posisi tiga setelah Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Marapi.

    Gunung Ibu merupakan gunung api bertipe strato volcano yang memiliki ketinggian 1.325 meter di atas permukaan laut terletak di barat laut Pulau Halmahera, Maluku Utara.

    Puncak gunung merupakan kawah vulkanik. Pusat kawah memiliki lebar 1 kilometer dan kedalaman 400 meter, sedangkan bagian luar memiliki lebar 1,2 kilometer.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas 7 Kali, Masyarakat Diimbau Waspada

    Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas 7 Kali, Masyarakat Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Gunung Merapi pada Senin (04/03/2024) sore tujuh kali mengeluarkan awan panas guguran secara beruntun ke arah barat daya. Masyarakat diimbau waspada.

    Menurut Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, rentetan awan panas guguran Gunung Merapi terjadi kurun waktu pukul 16.03 WIB hingga pukul 16.32 WIB.

    “Teramati tujuh kali Gunung Merapi mengeluarkan awan panas guguran ke arah barat daya (Kali Bebeng) dengan jarak luncur maksimum 2.600 meter,” kata Agus seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Gunung Merapi muntahkan lava 18 kali

    Selama periode pengamatan pukul 12.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB, BPPTKG juga mencatat tujuh kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 42-48 mm, selama 115.44-258.4 detik.

    Selain itu terpantau pula 46 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-42 mm, selama 24.6-176.6 detik.

    Berikutnya empat kali gempa hibrid atau fase banyak dengan amplitudo 3-6 mm selama 6.12-8.6 detik dan satu kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 40 mm selama 9,88 detik.

    Selanjutnya Agus menjelaskan ada sedikit perubahan secara morfologi Gunung Merapi periode 23-29 Februari 2024.

    Baca: Literasi masyarakat hadapi bencana masih rendah

    Kubah barat daya Gunung Merapi mengalami perubahan akibat seringnya aktivitas guguran lava, sedangkan untuk morfologi kubah tengah relatif tetap.

    Sementara itu analisis foto udara pada 10 Januari 2024 menunjukkan volume kubah barat daya Gunung Merapi terukur sebesar 2.663.300 meter kubik dan kubah tengah sebesar 2.358.400 meter kubik.

    Dengan kondisi Gunung seperti ini, status gunung yang berada pada perbatasan Jawa Tengah dan DIY pada Level III atau Siaga.

    Pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.

    Guguran lava dan awan panas dari Gunung Merapi bisa berdampak ke area dalam sektor selatan-barat daya yang meliputi Sungai Boyong (sejauh maksimal lima kilometer) serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (sejauh maksimal tujuh kilometer).

    Reporter: Nurakhmayani

  • Gunung Ibu Meletus, Mayarakat Diimbau Waspada

    Gunung Ibu Meletus, Mayarakat Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Gunung Ibu, Maluku Utara meletus dan mengeluarkan abu vulkanik setinggi 3,5 kilometer dari puncak gunung api pada Minggu (28/04/2024) dinihari. Masyarakat diimbau waspada.

    “Erupsi itu terjadi pukul 00.37 WIT, Minggu (28/4). Tinggi kolom teramati lebih kurang 3.500 meter di atas puncak,” ujar petugas pos pengamatan Gunung Ibu, Axl Roeroe seperti yang dilansir Antaranews.

    Selanjutnya Roeroe menjelaskan letusan tersebut membentuk kolom abu tampak berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah barat.

    Erupsi itu terekam melalui alat seismograf dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi 206 detik.

    “Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di masyarakat, tidak menyebarkan narasi bohong, dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya,” jelasnya.

    Baca: Gunung Ruang kembali aktif, 272 kepala keluarga mengungsi

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 kilometer dan perluasan sektoral berjarak 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif Gunung Ibu.

    Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

    Gunung Ibu terkenal dengan aktivitas vulkaniknya. Maka tak heran sepanjang April 2024 ini, Gunung Ibu telah 7 kali mengalami erupsi.

    Erupsi terbesar terjadi pada hari ini. Status Gunung Ibu adalah SIAGA atau level lll dan termasuk jenis stratovolcano.

    Baca: Gunung Semeru erupsi kembali

    Data dari PVMBG Gunung Ibu terletak di barat laut Pulau Halmahera, Maluku Utara memiliki ketinggian 1.325 meter di atas permukaan laut.

    Puncak gunung merupakan kawah vulkanik. Pusat kawah memiliki lebar 1 kilometer dan kedalaman 400 meter, sedangkan bagian luar memiliki lebar 1,2 kilometer.

    Karena aktivitas vulkaniknya yang tinggi, Gunung Ibu juga menjadi tempat penelitian dan studi bagi para ilmuwan vulkanologi.

    Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena vulkanik dan meningkatkan pemahaman tentang aktivitas gunung berapi di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Aktivitas Gunung Ruang Masih Tinggi, Ribuan Warga Diungsikan

    Aktivitas Gunung Ruang Masih Tinggi, Ribuan Warga Diungsikan

    7cloud.asia – Aktivitas vulkanik Gunung Ruang masih tinggi. Jumat (03/05/2024) pagi tampak gumpalan asap tipis berwarna putih kelabu membumbung setinggi 200 meter dari pusat kawah Gunung Ruang. Ribuan warga diungsikan.

    “Visual Gunung Ruang tanggal 3 Mei 2024, pukul 06:28 WITA, asap putih kelabu bertekanan lemah dengan tinggi 200 meter,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan seperti yang dilansir Antaranews.

    Sepanjang hari ini pukul 00:00 hingga 06:00 WITA, jumlah gempa vulkanik dangkal tercatat sebanyak 5 kali, gempa vulkanik dalam hanya 1 kali, gempa tektonik jauh ada 2 kali, dan tidak ada aktivitas erupsi.

    Pada Kamis (02/05/2024), berdasarkan data dari stasiun seismik Taliwang, terjadi 1 kali gempa letusan, 29 kali gempa vulkanik dangkal, 5 kali gempa vulkanik dalam, 2 kali gempa tektonik lokal, 10 kali gempa tektonik jauh, dan 1 kali gempa tremor menerus.

    Baca: Gunung Ruang meletus, status naik jadi awas

    Dengan kondisi seperti ini, PVMBG meminta penduduk di sekitar Gunung Ruang untuk tidak memasuki wilayah radius enam kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Ruang.

    Penduduk di Pulau Tagulandang khususnya yang bermukim di dekat pantai agar mewaspadai potensi lontaran batuan pijar, luruhan awan panas, dan tsunami akibat material erupsi yang masuk ke laut atau runtuhan tubuh gunung api ke dalam laut.

    Sedangkan, penduduk yang bermukim pada wilayah Pulau Tagulandang masuk dalam radius enam kilometer agar segera dievakuasi ke tempat aman di luar radius enam kilometer.

    Sebelumnya ribuan warga yang terdampak erupsi Gunung Ruang telah dievakuasi keluar dari Pulau Tagulandang, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.

    .Baca: Tujuh bandara ditutup akibat erupsi Gunung Ruang

    Data dari Badan SAR Nasional (Basarnas) Manado mencatat 1.324 warga telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman seperti ke Kepulauan Siau, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa Utara, hingga Kota Manado

    “Data sementara pengungsi yang sudah dievakuasi keluar dari Pulau Tagulandang sejak 30 April hingga 1 Mei 2024, total 1.324 jiwa,” ujar Humas Basarnas Manado, Feri Ariyanto seperti yang dikutip Kompas.

    Mereka dievakuasi dengan menggunakan beberapa kapal yang berbeda. Kapal milik Basarnas Manado yakni KN SAR Bima Sena sudah evakuasi 109 jiwa. Sebanyak 453 jiwa dievakuasi KRI Kakap-811 milik TNI AL.

    Baca: Setelah 22 tahun tertidur, Gunung Ruang kembali aktif

    “Selain itu, KMP Lohoraung evakuasi 663 jiwa, dan KMP Lokongbanua ada 99 jiwa. Total 1.324 jiwa,” ungkap Feri.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, Gunung Ruang kembali meletus pada Selasa (30/4/2024) pukul 02.35 Wita. Status aktivitas Gunung Ruang naik menjadi Level IV atau Awas.

    Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro menetapkan status tanggap darurat Gunung Ruang selama 14 hari oleh mulai 30 April hingga 14 Mei 2024.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

     

  • Jelang Kamis Siang, Gunung Semeru 10 Kali Meletus

    Jelang Kamis Siang, Gunung Semeru 10 Kali Meletus

    7cloud.asia – Gunung Semeru, Jawa Timur (Jatim) pada Kamis (13/06/2024) meletus sebanyak 10 kali hingga pukul 10.45 waktu Indonesia barat (WIB).

    Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Malang, Jatim ini pertama kali meletus pukul 6.30 WIB, 6.38 WIB, 06.43 WIB, 06.48 WIB, 06.51WIB dan pukul 07.22 WIB, 08.05 WIB dengan ketinggian letusan yang berbeda.

    Letusan tertinggi terjadi pada pukul 07.42 WIB dengan melontarkan abu vulkanik setinggi 900 meter di atas puncak.

    “Kolom abu vulkanik teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara,” ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto di Lumajang seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Gunung Semeru erupsi, lontarkan abu vulkanik 800 meter

    Sebelumnya gunung yang memiliki tinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu juga erupsi pada pukul 07.41 WIB.

    Saat itu letusan setinggi 700 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara.

    Meski erupsi Gunung Semeru terjadi setiap haribeberapa hari, namun hal ini tidak mengganggu aktivitas warga yang berada di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

    Sebelumnya Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid mengatakan awan panas dan guguran lava pijar masih terjadi di Gunung Semeru.

    Namun secara visual jarang teramati karena terkendala dengan cuaca yang berkabut.

    Baca: Gunung Semeru alami 19 kali letusan

    “Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, maka tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada Level III atau Siaga dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini,” jelas Wafid.

    Dengan status siaga ini, Wafid merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).

    Selain itu, dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) pada sepanjang Besuk Kobokan.

    Baca: Erupsi lagi, status Gunung Semeru siaga

    Sebab jika terjadi guguran awan panas maka wilayah ini berpotensi terkena awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

    Pihaknya juga melarang warga beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

    Masyarakat harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar, di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.

    Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

  • Gunung Semeru Meletus Lagi, Abu Vulkanik Capai 600 Meter

    Gunung Semeru Meletus Lagi, Abu Vulkanik Capai 600 Meter

    7cloud.asia – Gunung Semeru kembali meletus dengan abu vulkanik setinggi 600 meter meter di atas puncak pada Minggu (11/08/2024) pukul 06.49 WIB.

    “Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah utara. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 120 detik,” papar petugas pos pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi seperti yang dilansir Antaranews.

    Sebelumnya di hari yang sama, Yadi juga mencatat gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami tiga kali letusan yaitu pukul 06.43 WIB, kemudian pukul 06.12 WIB, dan 05.42 WIB.

    Baca: Gunung Semeru meletus 10 kali

    Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara. Hal ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 99 detik.

    Kemudian letusan terjadi kembali pukul 06.12 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 500 meter di atas puncak (4.176 mdpl).

    Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara. Letusan itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 100 detik.

    Pada pukul 05.42 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 700 meter di atas puncak (± 4376 mdpl).

    Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 162 detik.

    Baca: Gunung Ruang meletus, status naik jadi awas

    Sebelumnya Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG), Priatin telah mengevaluasi aktivitas Gunung Semeru yang berstatus Waspada atau Level II yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.

    “Hasil evaluasi mencatat bahwa aktivitas Gunung Semeru periode 16-31 Juli 2024 memperlihatkan bahwa aktivitas erupsi, awan panas, dan guguran lava masih terjadi, namun secara visual jarang teramati karena cuaca kabut,” jelas Priatin.

    Selanjutnya dia memaparkan akumulasi material hasil erupsi maupun pembentukan scoria cones dapat berpotensi menjadi guguran lava pijar atau awan panas.

    “Material guguran lava dan atau awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru berpotensi menjadi lahar, jika berinteraksi dengan air hujan,” terangnya.

    Baca: Pasca letusan, ribuan warga di sekitar Gunung Ruang mengungsi

    Jika terjadi interaksi endapan material guguran lava atau awan panas yang bersuhu tinggi dengan air sungai, maka berpotensi terjadinya erupsi sekunder.

    Ia mengatakan hingga akhir Juli, jumlah gempa yang terekam menunjukkan aktivitas kegempaan Gunung Semeru masih relatif tinggi, terutama gempa letusan, guguran, harmonik, dan vulkanik dalam.

    “Gempa vulkanik dalam dan tremor harmonik yang terekam mengindikasikan suplai dari bawah permukaan Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan, serta adanya proses penumpukan material hasil letusan di sekitar kawah Jonggring Seloko,” jelasnya.

    Terekamnya kejadian getaran banjir tersebut mengindikasikan adanya kejadian lahar di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama yang mengarah ke aliran Besuk Kobokan.

    Baca: Gunung Merapi keluarkan awan panas, masyarakat diimbau waspada

    PVMBG juga memberikan sejumlah rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh delapan km dari puncak (pusat erupsi).

    Selain itu, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan.

    Hal ini untuk menghindari adanya potensi perluasan awan panas dan aliran lahar sejauh 13 km dari puncak.

    PVMBG melarang masyarakat beraktivitas dalam radius tiga km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

    Dalam status Level ll ini masyarakat harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

    Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.