Tag: lansia

  • Pentingnya Pemenuhan Kebutuhan Gizi Seimbang bagi Kesehatan Lansia

    Pentingnya Pemenuhan Kebutuhan Gizi Seimbang bagi Kesehatan Lansia

    7cloud.asia – Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia Dr. dr. Inge Permadhi, menyampaikan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi bagi kesehatan orang lanjut usia atau lansia.

    “Makanan itu harus mencukupi kebutuhan kalori dan bergizi, sehingga lansia mendapatkan berat badan yang ideal dan sehat,” kata Inge dikuti Antaranews.com, Jumat (13/9/2024)

    Ia mengatakan bahwa lansia harus mendapat asupan nutrisi yang mereka butuhkan agar bisa tetap sehat dan produktif.

    Lansia antara lain membutuhkan zat gizi dasar seperti karbohidrat kompleks, yang terdapat pada nasi, kentang dan umbi-umbian.

    Lansia juga sangat membutuhkan sumber protein dan lemak seperti telur, ikan, dan daging; serta vitamin dan mineral dari sayur dan buah.

    Baca: Cara membuat lansia bahagia dan merasa lebih berharga

    Inge menambahkan, kecukupan cairan juga perlu diperhatikan pada lansia.

    Selain mengonsumsi makanan sehat dengan kandungan gizi seimbang, Inge menyampaikan, lansia perlu rutin melakukan aktivitas fisik untuk menjaga badan tetap bugar.

    Aktivitas fisik seperti membersihkan rumah serta latihan olahraga aerobik dan ketahanan perlu dilakukan agar tubuh tetap bugar dan terhindari dari masalah kesehatan.

    Kegiatan olahraga berkelompok bisa jadi pilihan karena selain mendorong lansia bergerak juga dapat mendatangkan kegembiraan. Untuk itu lansia bisa melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki, bersepeda, dan yoga bersama.

    Inge menambahkan, tidur teratur selama enam hingga delapan jam setiap hari baik untuk kesehatan lansia.

    Baca: Perencanaan dini hadapi masa pensiun

    “Semakin tua itu biasanya berkurang durasi tidurnya. Saya pikir enam jam sudah cukup, tetapi harus dengan kualitas tidur dalam, jangan tidur bangun tidur bangun ya,” katanya.

    Di samping itu, ia mengatakan, penting pula untuk berfikir positif dan mengelola pikiran agar tidak stres, antara lain dengan menikmati hobi.

    Tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat, yang bebas dari polusi udara dan suara, juga baik untuk kesehatan lansia.

    Inge menekankan pentingnya menjaga kesehatan lansia serta meningkatkan kualitas hidup mereka.

    Kesehatan dan kualitas hidup lansia tidak hanya baik bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungannya.

  • Seperti Ini Pelayanan Whoosh untuk Penumpang Prioritas, Disabilitas dan Lansia

    Seperti Ini Pelayanan Whoosh untuk Penumpang Prioritas, Disabilitas dan Lansia

    7cloud.asia – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh menyebut telah melayani lebih dari 10 ribu penumpang prioritas seperti penyandang disabilitas.

    Penumpang prioritas lain yang diangkut Whoosh adalah lansia, anak-anak tanpa pendamping, ibu hamil dan menyusui hingga orang yang bepergian dalam kondisi sakit dari Jakarta ke Bandung sepanjang 2024.

    General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, data tersebut tercatat melalui permintaan khusus dari penumpang untuk membantu memudahkan aktivitasnya dan laporan resmi petugas pada evaluasi harian KCIC.

    Whoosh memprioritaskan penumpang yang membutuhkan penanganan khusus akan dibantu agar dapat menggunakan layanan Whoosh dengan nyaman.

    “KCIC ingin memastikan bahwa setiap penumpang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, bisa merasakan kenyamanan dan keamanan saat menggunakan layanan Kereta Cepat Whoosh,” ujar Eva melalui keterangan di Jakarta, Selasa (24/9/2024)

    Baca: Penumpang Whoosh melonjak saat mudik Lebaran

    Pada 2024, Stasiun Halim menjadi stasiun yang paling banyak melayani penumpang berkebutuhan khusus yaitu sebanyak 4.600 ribu penumpang.

    Selanjutnya diikuti Stasiun Padalarang sekitar 3.200 penumpang dan Tegalluar 2.200 penumpang berkebutuhan khusus.

    Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan transportasi yang nyaman untuk kebutuhan masyarakat beraktivitas, KCIC telah menerapkan berbagai inovasi yang mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas di seluruh stasiun dan kereta Whoosh.

    Di stasiun fasilitas khusus yang disediakan meliputi ruang Jemput Khusus, lantai Tactile, Tombol Braille, Lift, Loket dan Toilet Khusus disabilitas, Informasi Audio Visual, Ramp Kursi Roda, Gate Khusus, dan Kursi Tunggu Prioritas.

    Sementara di kereta terdapat juga sejumlah fasilitas ramah disabilitas seperti Toilet Khusus Disabilitas dengan luasan yang memudahkan penumpang dengan kursi roda melakukan pergerakan hingga 180 derajat.

    Selain itu, terdapat juga 32 Kursi Prioritas dengan lokasi strategis, Rak Penyimpanan Kursi Roda, Informasi Audio Visual dan Ramp untuk kursi roda.

    Baca: Sejak Februari 2024 Whoosh terapkan tarif dinamis

    Seluruh petugas Whoosh siap mendampingi penumpang prioritas dari stasiun, diterima oleh Kondektur maupun Pramugari Whoosh untuk diantarkan ke kursi yang telah dipesan, hingga nantinya disambut oleh petugas di stasiun kedatangan.

    KCIC juga terus mengedepankan integrasi antar moda yang lengkap dan nyaman di seluruh stasiun Whoosh.

    Melalui integrasi yang lengkap dan baik, Stasiun Halim mendapatkan penghargaan dari Dewan Transportasi Kota Jakarta sebagai Fasilitas Integrasi Moda Teramah Disabilitas.

    Di Stasiun Halim, terdapat konektivitas intermoda dengan layanan LRT Jabodebek, Bus menuju Bandara Soekarno-Hatta, Shuttle menuju Bandara Halim Perdanakusuma, Bus Transjakarta, Taksi, dan Transportasi Online.

    Seluruh layanan tersebut sudah dilengkap fasilitas konektivitas yang lengkap dan nyaman untuk memudahkan seluruh penumpang disabilitas dalam mengaksesnya.

    “Ini akan menjadi penyemangat KCIC dalam menyambut ulang tahunnya yang pertama. KCIC akan terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada seluruh penumpang whoosh,” kata Eva.

  • Manfaat Bekerja pada Mereka yang Telah Berusia Lanjut Atau Lansia

    Manfaat Bekerja pada Mereka yang Telah Berusia Lanjut Atau Lansia

    7cloud.asia – Jumlah penduduk Indonesia mencapai 278 juta jiwa pada pertengahan 2023. Sebanyak 11,75 persen atau 32,6 juta orang di antaranya merupakan lanjut usia (lansia).

    Artinya, 1 dari 10 penduduk Indonesia merupakan lansia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi lansia tersebut menandakan bahwa Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk (ageing population).

    Fase penuaan penduduk disertai dengan pertambahan jumlah lansia yang masih bekerja. Penelitian mengungkapkan lebih dari setengah penduduk lansia di Indonesia masih aktif bekerja. Salah satu alasannya adalah demi menyambung hidup.

    Tidak cukup sampai di situ, lansia masih harus bergelut dengan tantangan lain berupa masalah kesehatan akibat proses penuaan (sindrom geriatri), seperti alzheimer, demensia, penyakit jantung, dan osteoporosis (pengeroposan tulang).

    Meski dibayang-bayangi masalah kesehatan, beberapa penelitian justru menyebut bahwa efek negatif penuaan ini bisa dikurangi dengan tetap aktif secara fisik, mental, maupun sosial, salah satu caranya adalah dengan bekerja.

    Lantas, bisakah manfaat ini dirasakan pekerja lansia Indonesia? Berikut hasil kajian tim dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya yang telah terbit di The Conversation Indonesia.

    Baca: Langkah sederhana agar lansia tetap bahagia

    Manfaat bekerja untuk lansia
    Umumnya, untuk menjaga kesehatan, lansia perlu rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, dan mendapatkan perawatan kesehatan.

    Di luar itu, lansia bisa menjalani gaya hidup aktif untuk menghambat dan memperlambat risiko masalah kesehatan akibat proses penuaan dengan bekerja.

    Setidaknya ada tiga manfaat penting bekerja bagi lansia, yaitu:

    1. Kurangi isolasi sosial
    Bekerja dapat mengurangi risiko lansia merasakan kesepian dan kurangnya kesempatan berinteraksi dengan orang lain

    Kedua kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, karena kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko demensia sebesar 50%.

    Demensia adalah penyakit yang mengurangi daya ingat dan berpikir. Dengan berinteraksi bersama rekan kerja, risiko lansia mengalami demensia diharapkan bisa berkurang.

    Selain itu, aktivitas fisik saat bekerja bisa mengurangi risiko terkena gangguan kognitif, seperti demensia vaskular. Ini adalah kondisi menurunnya daya ingat dan berpikir akibat berkurangnya aliran darah ke otak.

    Baca: Langkah sederhana menjaga kesehatan mental lansia

    2. Menjaga kesehatan
    Bekerja dapat membantu menjaga kesehatan mental, perilaku, dan pikiran lansia di kehidupan sosialnya (psikososial), karena kegiatan ini bisa menumbuhkan kepercayaan diri, kepuasan hidup, dan dukungan sosial yang berdampak positif bagi lansia.

    3. Merawat kemampuan berpikir
    Risiko mengalami penurunan fungsi kognitif atau kemampuan berpikir lansia diduga juga bisa berkurang jika mereka bekerja.

    Penelitian menunjukkan bekerja bisa memberikan efek positif pada cognitive reserve, yaitu kemampuan otak dalam mempertahankan fungsinya meskipun mengalami kerusakan atau penuaan.

    Bekerja bantu memperkuat pengembangan sirkuit saraf alternatif yang mendukung kinerja cognitive reserve.

    Meski begitu, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengonfirmasi temuan sejenis ini, terutama karena kurang beragamnya profesi pekerja lansia yang memperoleh manfaat perkembangan fungsi kognitif.

    Jenis profesi yang dapat melawan penuaan otak menurut penelitian merupakan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan analisis ataupun interaksi sosial yang kompleks.

    Contoh dari kegiatan ini adalah mengajar, pengacara, pekerja sosial, data analyst, dan tukang reparasi jam.

    Bekerja mungkin mendatangkan banyak manfaat kesehatan, tetapi di Indonesia situasinya berbeda. Masih banyak lansia terpaksa bekerja karena terjerat kemiskinan.

    Bagaimana peluang lansia di Indonesia untuk tetap bekerja akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation Indonesia, Penulis:
    – Stephani Dwiyanti (Assistant Professor, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
    – Cecilia Alberta (Student Attending Neurogeriatric and Dementia Module at the School of Medicine and Health Sciences, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
    – Linda Suryakusuma (Lecturer at the Department of Neurology, Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)

  • Indonesia Masuki Fase Penuaan Penduduk: Bisakah Lansia Rasakan Manfaat Bekerja

    Indonesia Masuki Fase Penuaan Penduduk: Bisakah Lansia Rasakan Manfaat Bekerja

    7cloud.asia – Jumlah penduduk Indonesia mencapai 278 juta jiwa pada pertengahan 2023. Sebanyak 11,75 persen atau 32,6 juta orang di antaranya merupakan lanjut usia (lansia).

    Artinya, 1 dari 10 penduduk Indonesia merupakan lansia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi lansia tersebut menandakan bahwa Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk (ageing population).

    Dalam tulisan sebelumnya dipaparkan bagaimana bekerja mendatangkan banyak manfaat kesehatan bagi lansia. Kondisi di Indonesia sedikit berbeda. Masih banyak lansia terpaksa bekerja karena terjerat kemiskinan.

    Bagaimana peluang lansia di Indonesia untuk tetap bekerja akan diulas dalam tulisan berikut ini.

    Indonesia, yang baru memasuki fase penuaan penduduk, belum memiliki kebijakan yang menguntungkan lansia.

    Menurut data BPS tahun 2023, sekitar 85 persen lansia bekerja di sektor informal yang umumnya tidak menawarkan perlindungan, kontrak kerja, maupun upah yang memadai.

    Sebanyak 20 persen lansia bahkan bekerja lebih dari 48 jam dalam seminggu, melebihi jam kerja maksimum per pekan, yaitu 40 jam/minggu.

    Rata-rata penghasilan pekerja lansia hanya sebesar Rp1,62 juta per bulan–jauh di bawah upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah.

    Baca: Langkah sederhana agar lansia tetap merasa berharga

    Di sisi lain, ada beberapa jenis pekerjaan yang mengharuskan lansia bekerja dalam waktu lama dengan sedikit gerak (sedentary behavior). Waktu luang yang sedikit dengan durasi kerja yang panjang menyulitkan lansia beraktivitas fisik.

    Dari segi fasilitas, tidak semua tempat kerja menyediakan gym atau jalur pejalan kaki (walking path) untuk memfasilitasi lansia melakukan aktivitas fisik.

    Persoalan lainnya, diskriminasi usia di tempat kerja rentan dialami lansia, terutama yang kurang terampil menggunakan teknologi.

    Kondisi pekerjaan yang tidak menguntungkan berpotensi menimbulkan stres pada lansia. Hal ini dapat memicu efek negatif terhadap kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi (plastisitas saraf).

    Stres akibat tekanan pekerjaan yang terlalu besar dapat memengaruhi plastisitas saraf dan berisiko menimbulkan gangguan suasana hati (mood disorder), seperti rasa gelisah hingga depresi.

    Hal ini diperparah dengan berkurangnya kemampuan adaptasi otak lansia sehingga menyebabkan mereka kian sulit beradaptasi terhadap faktor pemicu stres (stresor).

    Stres berkelanjutan dapat memicu penyakit hilangnya fungsi dan struktur sel saraf (neurodegeneratif), seperti demensia dan alzheimer. Karena stres menyebabkan peradangan jangka panjang yang dapat merusak sel-sel otak.

    Butuh keterlibatan pemerintah dan pengusaha
    Bekerja bisa mendatangkan banyak manfaat bagi lansia, tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga kesehatan dan sosial.

    Namun, keterlibatan pemerintah dan pengusaha sangat diperlukan agar manfaat ini bisa dirasakan pekerja lansia secara merata.

    Pemerintah diharapkan membuat kebijakan yang ramah bagi pekerja lansia, misalnya penyelenggaraan program ketenagakerjaan untuk lansia.

    Lansia yang akan mengikuti program ini harus melewati pemeriksaan kesehatan dan penilaian fungsi kognitif (skrining kognitif) terlebih dahulu.

    Pemeriksaan kesehatan fisik sedari awal dapat membantu mengidentifikasi kondisi, seperti masalah jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) serta gangguan pada area muskuloskeletal yang meliputi fungsi sendi, otot, ligamen, saraf, tendon, dan tulang belakang.

    Selain itu, pemeriksaan kesehatan fisik juga berguna untuk melacak adanya masalah penglihatan dan pendengaran yang mungkin membatasi kemampuan bekerja lansia secara aman dan nyaman.

    Deteksi dini kondisi tersebut memungkinkan adanya penyesuaian di tempat kerja sehingga memastikan para lansia dapat bekerja tanpa mengorbankan kesehatan mereka, termasuk mencegah lansia mengalami cedera di tempat kerja.

    Penilaian fungsi kognitif sama pentingnya karena pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi masalah potensial, seperti gangguan kognitif ringan yang memerlukan dukungan segera (intervensi dini), seperti penyesuaian tugas dalam pekerjaan atau pemberian program pelatihan agar lansia tetap bisa terlibat dalam pekerjaan yang bermakna.

    Pemeriksaan fisik dan kognitif memastikan pekerja lansia bisa bekerja sesuai dengan kemampuan mereka, mengurangi risiko kesalahan terkait pekerjaan, mempertahankan produktivitas, dan mendukung kesejahteraan mental mereka.

    Apabila pekerja lansia mengalami masalah kesehatan, pemerintah bisa membuat kebijakan berupa pemberian cuti yang dibayar (paid leave) ataupun tidak dibayar (unpaid leave).

    Bersama pengusaha, pemerintah juga bisa menyediakan lapangan pekerjaan dan lingkungan kerja yang ramah lansia.

    Penting untuk menciptakan ruang kerja yang memberikan kenyamanan (ergonomis), contohnya pengadaan kursi, meja, dan penerangan yang bisa disesuaikan sehingga mengurangi ketegangan pada persendian, otot, dan penglihatan lansia.

    Sediakan pula ruang terbuka hijau agar lansia dapat beristirahat, stretching, atau olahraga ringan sembari berinteraksi dengan rekan kerja lainnya.

    Pemberi kerja juga dapat mempertimbangkan jam kerja yang fleksibel untuk jenis pekerjaan tertentu sehingga lansia dapat bekerja dari rumah. Hal ini bisa mengurangi durasi bepergian, stres, dan kelelahan lansia.

    Indonesia juga bisa belajar dari The Senior Community Employment Program (SCSEP) yang diterapkan Amerika Serikat.

    Lansia peserta SCSEP akan ditugaskan di pos pelayanan publik, seperti sekolah, perpustakaan, dan organisasi pelayanan sosial.

    Penempatan tersebut berdasarkan keterampilan, minat, kemampuan, dan kebutuhan tiap peserta. Pekerja lansia SCSEP akan mendapatkan upah yang setimpal.

    Dengan keterlibatan pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pengusaha yang turut menyediakan lapangan pekerjaan, diharapkan manfaat bekerja benar-benar bisa dirasakan pekerja lansia di Indonesia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation Indonesia, Penulis:
    – Stephani Dwiyanti (Assistant Professor, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
    – Cecilia Alberta (Student Attending Neurogeriatric and Dementia Module at the School of Medicine and Health Sciences, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
    – Linda Suryakusuma (Lecturer at the Department of Neurology, Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)

  • Komunitas Sastra Bulan Purnama: Para Lansia Berkumpul, Mencipta, dan Menikmati Puisi

    Komunitas Sastra Bulan Purnama: Para Lansia Berkumpul, Mencipta, dan Menikmati Puisi

     

    7cloud.asia – Sebuah komunitas yang diberi nama, Sastra Bulan Purnama (SBP) yang berpusat di Yogyakarta, menjadi wadah bagi para lansia untuk berkumpul, merangkai kata-kata menjadi sebuah puisi, dan membacakannya.

    Berawal dari karya-karya puisi yang ditulis di laman Facebook, kemudian para lansia sepakat membentuk komunitas Sastra Bulan Purnama sejak Oktober 2011.

    Pendirinya, Ignatius Untoro, 65, lansia yang akrab dipanggil Ons itu, bermaksud menyediakan ruang bagi siapapun, terutama para lansia dari segala profesi untuk berekspresi dalam sastra melalui penulisan puisi.

    “Banyak penyair, penulis, sastrawan yang usianya di atas 60 bahkan 70 tahun masih aktif. Mereka menulis dan mengirimkan karyanya. Misalnya Adri Darmadji Woko, seorang wartawan, usianya 70.

    Handrawan Nadesul, seorang dokter juga 70 tahun dan ada seorang pengusaha dari Semarang, usianya 65 tahun, Bu Sulis namanya. Juga seorang dokter RS Sarjito usianya juga di atas 60,” ujar Ons.

    Komunitas para lansia untuk merangkai kata ini nampaknya tidak hanya berkembang di lingkungan penulisan sastra Indonesia, namun juga dalam sastra Jawa.

    Aming Aminoedhin, 67, asal Ngawi, Jawa Timur yang akrab dipanggil Aming adalah seorang penyair yang pernah menjadi wartawan.

    Ia aktif menulis puisi dan bahkan menjadi pengurus Warumas (Wartawan Usia Emas) dan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).

    “PPSJS atau Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya ini dengan anggotanya yang sudah tua-tua, secara patungan membuat kumpulan puisi berbahasa Jawa. Setelah (profesi) wartawan selesai, kita harus menulis sastra, agar kita lebih berbudaya,” katanya kepada VOA.

    Cegah pikun
    Menurut peneliti dari Rush University Medical Center dan Illinois Institute of Technology, Chicago, aktivitas mental seperti menulis bisa membantu otak agar tetap aktif dan sehat bagi lansia.

    Menulis juga membuat lansia aktif mengingat banyak hal. Maka beberapa sumber menyebutkan, menulis bisa mengurangi risiko pikun.

    Seorang psikolog yang membuka praktek di Solo, dokter Diaz Roberto, SPsi setuju dengan hasil penelitian itu.

    “Membaca literasi supaya kita bisa menghasilkan tulisan yang baik, nah kemudian ada prosesnya juga. Jadi ada input, processing dan output. Tiga hal ini tidak bisa dipisahkan, dan di dalam proses melepaskan tiga hal ini, otomatis otak kita akan membentuk hormon-hormon kebahagiaan. Inilah yang membuat memori kita tetap bagus dan luput dari pikun,” jelasnya.

    Lintas budaya dengan selisih usia
    Chrysogonus Siddha Malilang, 38, sastrawan yang kini tinggal di Swedia mengatakan, lintas budaya di antara komunitas sangat bermanfaat, dalam hal ini antara penulis muda dan lansia.

    Dia menguatkan pendapat itu ketika melakukan penelitian untuk program pendidikan S3-nya.

    “Komunitas yang menurut saya sangat bagus untuk pengembangan penulis baru juga, karena penulis-pemulis baru kalau mereka aktif di komunitas itu, penulis-penulis kawakan itu akan bersedia membantu,” tegasnya.

    Meski telah lima tahun menetap di Swedia Siddha ikut menulis dan membaca puisi jika ia pulang ke Indonesia.

    Para anggota komunitas Sastra Bulan Purnama berasal dari berbagai provinsi, bahkan menurut Ons Untoro, beberapa peserta dari Makasar khusus datang ke Yogyakarta dengan biaya sendiri untuk mementaskan karyanya.

    Lagu puisi
    Ons Untoro yang pada Agustus lalu mendapat penghargaan 40 tahun berkarya dari Badan Bahasa itu menambahkan, karya-karya para penyair lansia itu diterbitkan menjadi buku puisi dan juga kerap dibacakan dalam sebuah pentas yang didukung dengan musik dan tarian.

    “Sastra Bulan Purnama menampilkan lagu puisi, yaitu puisi yang dilagukan. Kalau musikali puisi itu bisa membaca puisi diiringi musik,” jelasnya.

    Seorang penonton, Fellyana Junaedi yang suka menonton para anggota Sastra Bulan Purnama mementaskan karyanya, punya komentar terkait aktivitas ini.

    “Bagus sih, kolaborasi antara baca puisi dengan ada semacam sajian-sajian yang berbeda, baik itu diiringi lagu nasional, lagu Jawa atau mungkin ada semacam tari-tarian dan gerak. Sangat menarik,” paparnya.

    Amin Aminoedhin bercerita, komunitas Warumas telah menerbitkan berbagai buku dan enam buku kumpulan puisi, di antaranya yang terbaru berjudul, “Eksotika Jawa Timur” yang baru saja diluncurkan pada 8 November lalu di Surabaya.

    Menurut Survei Angkatan Kerja Nasional 2023, sebanyak hampir 54 persen lansia di Indonesia masih bekerja.

    Bagi lansia yang sudah tidak ingin bekerja, pilihan menjadi anggota komunitas dengan berbagai kegiatan yang mereka sukai, akan sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan raga.

  • Sama-sama Menyerang Lansia, Berikut Perbedaan Penyakit Alzheimer dan Demensia

    Sama-sama Menyerang Lansia, Berikut Perbedaan Penyakit Alzheimer dan Demensia

    7cloud.asia – Penyakit Alzheimer dan demensia merupakan dua jenis penyakit degeneratif pada lansia yang membuat penderitanya mengalami gejala penurunan daya ingat, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir, hingga perubahan perilaku.

    Gejala-gejala yang hampir sama tersebut membuat demensia dan Alzheimer sulit untuk dibedakan, terutama bagi orang awam.  

    Perlu diketahui bahwa demensia bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan istilah untuk kumpulan gejala yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi aktivitas sehari-hari penderitanya.

    Demensia merupakan istilah umum, menggambarkan gejala yang terjadi ketika otak dipengaruhi oleh penyakit atau kondisi tertentu.

    Lansia dengan demensia akan menurun kemampuannya dalam berkomunikasi, berpikir, bersosialisasi, dan daya ingat.

    Sementara itu, Alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang paling umum. Alzheimer adalah gangguan yang memengaruhi fungsi kognitif, di mana penderitanya dapat mengalami masalah pada ingatan, perilaku, dan kemampuan dalam berpikir. 

    Baca: Gejala depresi terselubung pada lansia

    Dilansir alzi.or.id, demensia terjadi ketika otak mengalami kerusakan karena penyakit, seperti penyakit Alzheimer atau pun serangkaian stroke.

    Ada berbagai jenis demensia, meskipun ada beberapa yang lebih umum daripada yang lain karena sering dinamai sesuai dengan kondisi yang telah menyebabkan demensia tersebut.

    Penyakit Alzheimer menjadi penyebab paling umum dari demensia. Selama sakit berlangsung, zat kimia dan struktur otak berubah sehingga menyebabkan kematian sel-sel otak.

    Penyakit Alzheimer, pertama kali dijelaskan oleh ahli saraf Jerman, yaitu Alois Alzheimer, merupakan penyakit fisik yang mempengaruhi otak. Selama berjalannya waktu penyakit protein plak dan serat yang berbelit berkembang dalam struktur otak yang menyebabkan kematian sel-sel otak.

    Orang dengan Alzheimer juga memiliki kekurangan beberapa bahan kimia penting dalam otak mereka. Bahan kimia ini terlibat dengan pengiriman pesan dalam otak.

    Alzheimer adalah penyakit progresif, yang berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu dan menyebabkan lebih banyak bagian otak yang rusak. Karena itulah gejala yang muncul menjadi lebih parah.

    Baca: Kebiasaan mereka yang mencapai sukses saat Lansia

    Mild Cognitive Impairment (MCI)
    Baru-baru ini beberapa dokter telah mulai menggunakan istilah Mild Cognitive Impairment (MCI) yaitu kerusakan kognitif ringan ketika seseorang memiliki kesulitan mengingat hal-hal atau berpikir jernih tetapi gejalanya tidak cukup berat untuk mengarah ke diagnosis penyakit Alzheimer.

    Penelitian terbaru menunjukan bahwa orang dengan MCI memiliki peningkatan risiko untuk berkembang ke penyakit Alzheimer.

    Namun, peningkatan dari MCI ke Alzheimer rendah (sekitar 10 hingga 20 persen setiap tahun) dan akibatnya diagnosis MCI tidak selalu berarti bahwa orang tersebut akan terus berkembang menjadi Alzheimer.

    Tahapan Alzheimer
    Semua jenis demensia bergerak secara progresif. Ini berarti bahwa struktur kimia otak menjadi semakin rusak dari waktu ke waktu. Kemampuan seseorang untuk mengingat, memahami, berkomunikasi dan berpikir secara bertahap pun menurun.

    Seberapa cepat perkembangan demensia tergantung pada masing-masing individu. Setiap orang unik dan mengalami demensia dengan cara mereka sendiri.

    Bagaimana seseorang mengalami demensia tergantung pada banyak faktor, termasuk kondisi fisik, ketahanan emosional dan dukungan bagi mereka.

    Baca: Manfaat bekerja pada kelompok lansia

    Melihat demensia sebagai serangkaian tahapan, dapat menjadi cara yang berguna untuk memahami suatu penyakit tetapi penting untuk menyadari bahwa cara ini hanya memberikan panduan kasar di dalam melihat perkembangan kondisi.

    Penyebab Alzheimer
    Sejauh ini, tidak ada satu faktor utama yang telah diidentifikasi sebagai penyebab penyakit Alzheimer.

    Sangat mungkin bahwa kombinasi beberapa faktor mempengaruhi seperti usia, pembawaan genetik, faktor lingkungan, gaya hidup dan kesehatan umum. Pada beberapa orang, penyakit ini dapat berkembang diam-diam selama bertahun-tahun sampai gejalanya muncul.

    1. Usia
    Usia merupakan faktor risiko terbesar untuk demensia. Demensia mempengaruhi satu dari 14 orang di atas usia 65 tahun dan satu dari enam di atas usia 80 tahun.

    2. Faktor genetik
    Kita tahu bahwa ada beberapa keluarga yang jelas mempunyai pembawaan penyakit dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam keluarga, hal ini sering terjadi dimana penyakit muncul relatif lebih awal.

    Dalam sebagian besar kasus, pengaruh gen penyakit Alzheimer yang diwariskan oleh orang tua tampaknya kecil.

    Jika orang tua atau anggota keluarga lain cenderung terkena Alzheimer, kemungkinan terserang Alzheimer yang hanya sedikit lebih tinggi daripada orang yang tidak memiliki kasus Alzheimer pada keluarga dekatnya.

    Baca: Indonesia masuki era Aging Population

    3. Faktor lingkungan
    Faktor lingkungan yang dapat berkontribusi pada timbulnya penyakit Alzheimer masih harus diidentifikasi.

    Beberapa tahun yang lalu, ada kekhawatiran bahwa paparan aluminium dapat menyebabkan penyakit Alzheimer. Namun, ketakutan ini sebagian besar telah diabaikan.

    4. Faktor lain
    Dapat dikarenakan oleh perbedaan kromosom, orang dengan down sindrome memiliki peningkatan risiko berkembangnya penyakit Alzheimer.

    Orang yang memiliki cedera kepala berat atau leher (whiplash injuries) juga memiliki peningkatan risiko mengalami perkembangan demensia. Petinju yang menerima pukulan terus menerus di kepala juga memiliki risiko tersebut.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang merokok, memiliki tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi atau diabetes memiliki peningkatan risiko perkembangan penyakit Alzheimer.

    Risiko Alzheimer dapat dikurangi dengan tidak merokok, makan diet seimbang yang sehat dan melakukan pemeriksaan tekanan darah serta kolesterol secara rutin di usia pertengahan.

    Menjaga berat badan dan gaya hidup sehat serta menggabungkan kegiatan mental dan sosial juga akan membantu.

  • Inisiatif Asia Afrika untuk Penyandang Disabiltas dan Lansia

    Inisiatif Asia Afrika untuk Penyandang Disabiltas dan Lansia

    7cloud.asia – Salah satu amanat 3rd InclusiFest 2024 adalah mendorong percepatan pemenuhan hak penyandang disabilitas dan lansia (DILANS) dan kelompok rentan lainnya dengan memperluas jejaring di antara negara-negara Asia-Afrika.

    Tidak hanya itu, berbagai potensi sumberdaya yang ada dari lebih 100 negara yang ada di kawasan ini bisa dimobilisasi agar aksesibilitas dan akomodasi bagi penyandang disabilitas dan lansia bisa dipenuhi.

    Hal itulah yang menjadi inti dari inisiasi pembentukan jejaring Inclusive Jakarta Forum (IJF) yang diinisiasi oleh DILANS Indonesia, Nusantara Philanthropist, dan Ambassador and CEO Club.

    “The Initial Asia-Africa Stakeholders and Collaborative Dialogue” yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (20/3/2025) dihadiri lebih 30 dari perwakilan Kedutaan Besar Asia Afrika di Jakarta.

    Baca: RPP Konsesi untuk disabilitas segera disahkan

    Organisasi internasional dan beberapa representasi nasional juga hadir dalam pertemuan ini. Inisiatif yang diluncurkan juga mendapatkan respon positif dari peserta untuk dikembangkan lebih lanjut.

    Ketua Komisi Disabilitas Nasional(KND) Dante Rigmalia, menyambut baik upaya IJF untuk memfasilitasi dialog antara berbagai komisi sejenis di kawasan ini.

    Dialog ini, menurutnya, dapat mengekspresikan kepentingan bersama serta bertukar informasi dalam pengembangan kebijakan maupun praktek baik yang dilakukan masing-masing negara.

    Platform InklusiVision Asiafrica berbasis kecerdasan buatan (AI) salah satu yang diusulkan para penggagas IJF untuk memperluas data, pengetahuan, dan sains khususnya yang terkait dengan kelompok rentan.

    Baca: Indonesia masuki era aging population

    Hampir 1 miliar orang yang dapat digolongkan sebagai kelompok rentan, yang rentan terhadap berbagai dinamika termasuk krisis iklim dan lingkungan.

    Kedutaan Besar dinilai menjadi pintu masuk untuk memperluas jejaring dan kolaborasi diantara pemangku kepentingan di negara-negara Asia-Africa.

    Proposal untuk menyelenggarakan 1st Inclusive Asia Africa Conference yang direncanakan akan berlangsung pada awal September 2025.

    Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperluas artikulasi isu kesetaraan gender, disabilitas, inklusi sosial (GEDSI), krisis iklim dan keberlanjutan di kawasan Asia-Afrika.

  • Bansos KLJ, KPDJ dan KAJ Bulan Mei 2025 Mulai Dicairkan

    Bansos KLJ, KPDJ dan KAJ Bulan Mei 2025 Mulai Dicairkan

    ruangkota.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Sosial (Dinsos) kembali menyalurkan bantuan sosial (bansos) berupa Kartu Lansia Jakarta (KLJ), Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ) dan Kartu Anak Jakarta (KAJ).

    Pencairan bansos KLJ, KPDJ dan KAJ ini dimulai pada 23 Mei 2025 dengan masing-masing penerima mendapat Rp300.000 per bulan.

    Adapun jumlah total penerima bansos bansos bulan ini mencapai 140.919 orang, terdiri dari 114.121 penerima KLJ, 13.950 penerima KPDJ dan 12.848 penerima KAJ.

    Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, Iqbal Akbarudin mengatakan, pencairan bansos KLJ, KPDJ, dan KAJ merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menurunkan beban pengeluaran masyarakat terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas dan anak usia dini dari keluarga prasejahtera.

    Baca: Peluncuran Kartu Lansia Jakarta

    “Dalam proses evaluasi penerima bansos melalui pemadanan data dengan berbagai sumber, ditemukan sejumlah penerima yang tidak tepat sasaran karena tidak lagi memenuhi kriteria dan selanjutnya dikeluarkan dari penerima bansos” ujarnya, Sabtu (24/5/2025).

    Ia menyampaikan, mereka yang dikeluarkan dari daftar penerima merupakan individu yang telah meninggal dunia, pindah domisili ke luar DKI Jakarta, memiliki data ganda, tidak tercatat dalam sistem kependudukan.

    Warga yang memiliki Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) di atas Rp1 miliar dan memiliki kendaraan roda empat juga akan disoret dari daftar penerima bansos

    Ke depan, Pemprov DKI Jakarta akan melakukan verifikasi dan validasi lanjutan untuk menyeleksi penerima bansos tahap berikutnya.

    Baca: Penerima bansos akan dievaluasi setiap tiga bulan

    “Ini ditujukan bagi warga yang memenuhi kriteria, namun belum pernah menerima bantuan. Kami ingin semakin banyak warga yang bisa mendapatkan manfaat KLJ, KPDJ, dan KAJ,” kata Iqbal.

    Ia menambahkan, langkah ini merupakan bagian dari upaya percepatan pengentasan kemiskinan di Jakarta.

    “Pemprov DKI berharap jangkauan bantuan sosial dapat diperluas dan lebih secara tepat sasaran serta berkelanjutan. Sehingga sejalan dengan visi Jakarta sebagai kota global yang inklusif,” tandasnya.

    Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat mengunjungi situs resmi Dinas Sosial di http://dinsos.jakarta.go.id atau akun media sosial @dinsosdkijakarta.

  • Indonesia Masuki Fase Aging Population, Kementerian Kesehatan Dorong Lansia Tetap Sehat dan Aktif

    Indonesia Masuki Fase Aging Population, Kementerian Kesehatan Dorong Lansia Tetap Sehat dan Aktif

    7cloud.asia – Indonesia kini menghadapi tantangan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) bahkan sudah masuk tren aging population.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penduduk lansia mencapai 12 persen dari total populasi atau sekitar 29 juta jiwa. Sementara hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, sekitar 1,2 persen lansia berusia 60–69 tahun mengalami peningkatan tingkat ketergantungan.

    Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan yang lebih komprehensif guna memastikan para lansia tetap sehat, mandiri, dan aktif dalam keseharian.

    Ketua Tim Kerja Departemen Pelayanan Kesehatan Usia Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Ari Setyaningrum, Sp.KO mengatakan pihaknya terus mendorong peningkatan kualitas hidup lansia agar tetap produktif di usia lanjut.

    “Kementerian Kesehatan memiliki program Kesehatan Lanjut Usia, yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia agar tidak hanya berumur panjang, tetapi juga tetap sehat, mandiri, dan aktif berkegiatan,” ujar Ari di Jakarta, Rabu (28/5/2025)

    Baca: Indonesia masuki fase aging population

    Ketergantungan lansia ditandai dengan penurunan aktivitas harian hingga kondisi tirah baring yang berisiko memicu komplikasi seperti luka dekubitus.

    “Lansia yang mengalami ketergantungan berat seperti tirah baring sangat rentan terhadap luka dekubitus. Ini menjadi tantangan serius yang harus diprioritaskan,” ujarnya.

    Luka dekubitus atau pressure injury merupakan luka pada kulit dan jaringan di bawahnya yang umumnya muncul di area yang mengalami tekanan terus-menerus seperti tumit, sakrum, siku, hingga bagian belakang kepala (oksipital). Luka ini kerap disebabkan oleh tekanan, gesekan, dan kelembaban berlebih pada kulit.

    Dalam kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr Rinadewi Astriningrum, Sp.DVE., Subsp.D.A., menyampaikan luka dekubitus bisa dicegah dengan menjaga kebersihan kulit, meningkatkan aktivitas fisik lansia, serta memastikan asupan nutrisi yang optimal.

    “Luka ini bisa dicegah dengan perawatan kulit yang baik, terutama di area yang rentan mengalami luka. Nutrisi juga harus diperhatikan agar proses penyembuhan berjalan maksimal,” ujar dr Rinadewi.

    Baca: Agar para lansia merasa lebih berharga

    Ia menambahkan luka dekubitus juga berdampak pada kualitas tidur lansia karena menimbulkan rasa tidak nyaman, yang pada akhirnya bisa mengganggu pola tidur dan memicu penyakit penyerta lainnya seperti hipertensi dan diabetes.

    Sementara itu, Dokter Spesialis Neurologi dr Dinda Larastika Riyanto, Sp.N, menekankan pentingnya tidur yang cukup dan berkualitas bagi lansia guna menjaga stabilitas kondisi kesehatan secara menyeluruh.

    “Gangguan tidur pada lansia dapat memicu tekanan darah tinggi, gula darah tak terkontrol, bahkan risiko serangan jantung. Karena itu, jam tidur yang sehat sangat penting,” ujarnya.

    Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan turut melakukan edukasi kepada masyarakat, khususnya keluarga dan pendamping lansia, mengenai pentingnya perawatan dan pencegahan komplikasi lansia.

    “Kami memberikan pelatihan peningkatan kapasitas bagi tenaga kesehatan, caregiver, maupun keluarga pendamping lansia, sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas dan kemandirian lansia,” kata Ari.

    Baca: Manfaat bekerja untuk para lansia

  • Peringati Hari Lanjut Usia Nasional DPR Advokasi Penyaluran Bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial

    Peringati Hari Lanjut Usia Nasional DPR Advokasi Penyaluran Bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial

    7cloud.asia – Memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang jatuh pada tanggal 29 Mei, dilakukan penyaluran bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial  senilai Rp957,01 juta kepada 267 penerima manfaat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

    Bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial adalah program dari Kementerian Sosial (Kemensos) yang memberikan layanan rehabilitasi sosial kepada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), termasuk penyandang disabilitas, lanjut usia, dan anak-anak.

    Bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial bertujuan untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup layak, mendapatkan perawatan sosial, dukungan keluarga, terapi, pelatihan, dan bantuan sosial lainnya.

    Adapun  penyaluran bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial ini dilakukan pada Senin (23/6/2025), dihadiri oleh Anggota Komisi VII DPR Novita Hardini, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Kepala UPT Kemensos, Bupati Trenggalek serta sejumlah kepala OPD setempat.

    Novita dalam keterangan tertulisnya kepada Parlementaria menjelaskan bahwa bantuan disalurkan melalui dua skema besar.

    Baca: Program pemakanan untuk lansia dari Kemensos

    Pertama, Bantuan Keserasian Sosial dan Kearifan Lokal senilai Rp350 juta yang diberikan kepada enam kelompok masyarakat, antara lain Kelompok Lansia Desa Gemaharjo melalui pertunjukan gamelan, serta Kelompok Kinasih Kali Bersih yang aktif mengembangkan pangan berbasis ikan lokal.

    Kedua, Bantuan ATENSI dari Sentra Terpadu Kartini Kemensos senilai Rp607,1 juta, yang mencakup berbagai klaster.

    Klaster tersebut antara lain klaster untuk kelompok lanjut usia (lansia) berupa pemenuhan hidup layak, kewirausahaan, dan kursi roda;

    Klaster Disabilitas berupa kaki palsu, kursi roda khusus cerebral palsy, alat bantu rumah terapi, serta kewirausahaan;

    Ada juga bantuan untuk klaster NAPZA berupa bantuan usaha; Klaster Anak dan Klaster Rentan berupa pemenuhan kebutuhan dasar.

    Baca: Peluncuran Kartu Lansia Jakarta

    Novita yang merupakan legislator dari Dapil Jawa Timur VII ini menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan ekosistem perlindungan sosial yang inklusif dan berkeadilan.

    “Program ini merupakan bentuk nyata kehadiran Negara untuk mereka yang kerap terpinggirkan. Ini jembatan agar penyandang disabilitas dapat hidup mandiri dan setara,” tegas Novita, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek.

    Ia pun menekankan pentingnya sinergi lintas lembaga dalam upaya pemerataan kesejahteraan di daerah.

    Sebagai Anggota DPR, imbuh Novita, tidak hanya menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran, tetapi juga mengadvokasi dampak nyata yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

    Hal ini terutama di tengah kondisi sosial ekonomi yang tidak sedang baik-baik saja.

    Baca: Banyak lansia tak miliki BPJS Kesehatan