Tag: lansia

  • Kenali Gejala Depresi Terselubung pada Lansia

    Kenali Gejala Depresi Terselubung pada Lansia

     
    Ukuh mengatakan depresi terselubung pada lansia ditandai dengan adanya keluhan sakit yang cukup dominan pada tubuh yang sekilas menyerupai penyakit umum dalam dunia medis, namun tidak dapat terdeteksi oleh deteksi medis.

    Dia menyebutkan perasaan nyeri tubuh, otot tegang, jantung berdebar, serta perasaan tidak nyaman yang tidak dapat dideteksi oleh medis sering dialami oleh lansia dengan depresi terselubung.

    Selain itu, lanjutnya, penyakit kronis yang menyertai lansia dalam waktu yang panjang juga dapat menutupi adanya depresi terselubung karena sering dianggap sebagai bagian dari penyakit tersebut.

    “Biasanya diagnosis dokter terkait penyakit ini sulit diterima oleh pasien dibandingkan dengan diagnosis penyakit fisik lainnya, padahal seiring bertambahnya usia ini akan berbahaya,” ujar dokter yang praktik di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta itu.

     

    Dia mengungkapkan bahwa depresi terselubung bukanlah istilah diagnosis medis yang digunakan dalam ilmu kedokteran jiwa, namun istilah ini dipakai ketika depresi terjadi kepada seseorang tanpa adanya gejala khas dan cenderung menunjukkan gejala fisik.

    Dia menambahkan secara umum orang yang mengalami gejala depresi terselubung terlihat baik-baik saja, produktif, dan tidak terlihat adanya gangguan psikis.

    Namun, menurutnya, mayoritas kalangan lansia tidak mengungkapkan rasa sedih karena umumnya mereka malu dan segan untuk mengungkapkannya.

    “Maka sebagai anak yang merawatnya, kita harus peka terhadap adanya perubahan perilaku lansia yang mendadak,” ujarnya.

     
     
    Dia menjelaskan perubahan perilaku menjadi lebih menutup diri dari lingkungan, perubahan pola makan, dan pola tidur, menjadi beberapa tanda yang dapat dilihat pada lansia yang mengalami depresi terselubung.

    Ukuh menganjurkan agar anak atau keluarga tetap memberikan perhatian kepada lansia agar tidak mengalami depresi terselubung serta membawanya dengan segera ke dokter untuk mempermudah proses pengobatan.

     
    Sumber: Antaranews

  • Hari Lansia NasionaL: Delapan Pasangan Lansia Mengesahkan Pernikahan Mereka

    Hari Lansia NasionaL: Delapan Pasangan Lansia Mengesahkan Pernikahan Mereka

    7cloud.asia – Senyum tak pernah lepas dari wajah pasangan Hasan (82) dan Ibu Fatimah (69).

    Pasangan lansia ini sudah 25 tahun menikah secara siri, kini mereka bisa bernapas lega usai hakim mengesahkan pernikahan mereka.
     
    “Saya senang dan lega,” ujar Hasan.
     
    Hasan dan istri berharap, usai sidang tersebut, segera mendapatkan berkas kependudukan agar dapat mendaftarkan keluarganya masuk sebagai penerima manfaat.
     
    Senada dengan Hasan, pasangan lansia lainnya, Ibrahim (73) dan Keniang (61) merasa lega dan bersyukur atas fasilitas sidang Isbat Nikah dari Kemensos yang telah mengesahkan perkawinannya.
     
    Keniang yang sudah memasuki usia lansia mengharapkan dengan pengesahan pernikahan tersebut, anak-anaknya mendapat kepastian hukum hingga dapat menerima bantuan sosial dari program pemerintah kedepannya.
     
    “Saya gugup, tapi Alhamdulillah sudah sah. Terima kasih Kementerian Sosial atas nama bantuannya,” kata Keniang.
     
     
    Dua pasangan ini adalah dua dari delapan pasangan lansia yang akhirnya mendapatkan SK penetapan pernikahan dalam Isbat Nikah yang difasilitasi Kementerian Sosial. Isbat Nikah untuk para lansia  di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat ini, agar dapat mencatatkan pernikahannya secara sah di mata hukum positif Indonesia.

     
    “Ini untuk kesejahteraan para lansia, mereka dapat menjadi tenang karena sudah ada hubungan yang disahkan oleh negara. Sehingga anak-anak kandungnya bisa mendapatkan kepastian hukum apabila memiliki harta warisan,” ujar Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia, Supomo, di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat, pekan lalu
     
    Para lansia juga mendapat pendampingan oleh Kemensos, lantaran prosesnya yang tidak sederhana untuk mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Pengadilan Agama. Seperti, menghadirkan saksi-saksi nikah, hingga bukti data yang memperkuat bahwa pasangan lansia tersebut telah menikah secara agama.
     
    Setelah mendapatkan SK pasangan lansia diharapkan dapat mencatatkan pernikahannya ke Kantor Urusan Agama (KUA) setempat dan memperbarui status kependudukannya i Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) setempat.
     
     
    Isbat Nikah penting dilakukan untuk kepastian hukum dan pemenuhan hak sipil bagi suami-istri serta keturunannya, mempermudah akses layanan publik, memastikan kesejahteraan dan kepastian hak asuh anak, serta membangun kesadaran pemerintah daerah untuk memastikan semua warga terpenuhi hak sipilnya.
     
    Sebagai hakim Isbat Nikah kepada delapan pasangan tersebut adalah Afif Waldy, S.H.I, M.H.I dan M Rifai, S.H.I, M.H.I.
     
    Sidang Isbat Nikah dilaksanakan tiga hari yakni tanggal 22, 25, dan 29 Mei 2023 dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-27 tahun 2023, yang akan diikuti total sebanyak 32 pasangan.
     
    Isbat Nikah dilaksanakan di tiga lokasi yakni Pengadilan Agama Pulau Punjung, Auditorium Kantor Bupati dan di Kantor Wali Nagari Tebing Tinggi Kabupaten Dharmasraya.
     
    Pembiayaan Isbat Nikah seperti pendaftaran, akomodasi serta transportasi dan konsumsi ditanggung sepenuhnya oleh Kemensos melalui Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang.
     
     
    Sebagai Puncak HLUN 2023
     
    Isbat Nikah merupakan bagian dari  rangkaian peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) diperingati pada tanggal 29 Mei setiap tahunnya. Mengambil tema “Lansia Terawat, Indonesia Bermartabat”, acara puncak HLUN 2023 akan dilaksanakan di Kabupupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, 29 Mei 2023.
     
    Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinsosP3APPKB) Kabupupaten Dharmasraya Martin Efendi mengatakan sejumlah 891 lansia tidak mendaftarkan pernikahannya. 
     
    “Alasan belum menikah resmi karena kalau di kampung, kondisi sudah tua tidak mungkin mengurus berkas nikah, sehingga memilih nikah di bawah tangan (siri), tidak tercatat negara,” katanya saat dihubungi beberapa waktu lalu.
     
    Banyaknya angka pernikahan siri lansia disebabkan saat menikah puluhan tahun yang lalu tidak mendapatkan buku nikah. Tidak tercatatnya pernikahan terdahulu berimbas pada pernikahan kedua. Saat lansia ingin mengurus pernikahan, surat keterangan cerai tidak bisa keluar karena tidak ada buku nikah dari pernikahan sebelumnya.
     
    Selain Isbat nikah, rangkaian HLUN 2023 di Dharmasraya juga akan memfasilitasi pemenuhan hak sipil lansia seperti pembuatan E-KTP, akte kelahiran, dan Kartu Keluarga. Pelayanan ini diberikan secara terpadu oleh Pengadilan Agama, Kantor kementerian Agama, dan Kependudukan dan Catatan Sipil.
     
    Sumber: Kemensos
  • Hari Lansia Nasional: Banyak Lansia Tak Miliki BPJS Kesehatan

    Hari Lansia Nasional: Banyak Lansia Tak Miliki BPJS Kesehatan

    7cloud.asia – Nurhasanah adalah perempuan lansia yang sudah berusia 64 tahun. Ia tinggal di Desa Telukjambe Kecamatan Telukjambe Timur Karawang, Jawa Barat.

    Saat ini Nurhasanah tidak memiliki BPJS Kesehatan karena tidak memiliki kemampuan untuk mendaftar BPJS secara mandiri.

    Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari perempuan lansia ini berjualan makanan tradisional dengan modal seadanya.

    Apa yang dialami Nurhasanah, jamak terjadi di Karawang. Ada banyak lansia terutama Lansia perempuan di Karawang yang tidak memiliki jaminan Kesehatan, padahal di usia mereka jaminan kesehatan sangat dibutuhkan.

    “Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan utama dari Lansia. Dimana dengan bertambahnya umur kondisi pisik akan terus mengalami penurunan,” ujar Vina Kurnia dari PPSW Pasoendan Digdaya yang banyak mendampingi lansia di Karawang dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (30/5/2023).

    Baca: Hari Lansia Nasional, lansia bukan untuk dikasihani

    Vina menambahkan, bagi Lansia yang tidak masuk pada kategori Lansia terlantar, selain masalah Kesehatan, permasalahan utama lainnya adalah rasa kesepian. Hal ini karena, banyak lansia yang tidak tinggal bersama anak-anaknya. 

    “Anak-anak mereka sibuk dengan urusan keluarganya masing-masing,” terang Vina.

    Lantas, siapa yang bertanggung jawab terhadap nasib para lansia ini? Menurut Vina, Pemerintah Indonesia sudah memiliki UU 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia dan PP 43 tahun 2004 tentang Pelaksanaan Kesejahteraan Lanjut Usia menjadi tanggung jawab Pemerintah dan masyarakat.

    Baca: Kenali gejala terselubung pada lansia

    Undang-undang ini menempatkan Lansia bukan hanya sebagai beban yang harus diurus, namun juga menempatkan Lansia sebagai potensi untuk meningkatkan kemajuan bangsa.

    Dalam undang-undang ini lansia dibagi dalam dua kategori, Lansia potensial dan Lansia tidak potensial.

    PPSW Pasoendan Digdaya bersama Mitra Kerjanya PSDK DAS Citarum sudah melakukan pengorganisasian Lansia di 4 Desa di Kabupaten Karawang, yaitu Desa Telukjambe dan Desa Pinayungan Kecamatan Telukjambe Timur, Desa Curug dan Desa Karanganyar Kecamatan Klari.

    Selain melakukan pengorganisasian PPSW dan PSDK juga melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan pemerintah terutama pemerintah desa.

    Baca: Masa-masa kritis untuk kesehatan mental

    Desa memiliki keterbatasan dalam hal kewenangan dan anggaran sehingga butuh bantuan dari semua pihak terutama Pemerintah Kabupaten dan Dunia Usaha.

    Salah satu tujuan dari aktifitas yang dilakukan oleh PPSW dan PSDK adalah membuka jalan menuju Karawang ramah Lansia sesuai dengan mandat dalam Permensos No 4 tahun 2017.

    Untuk mencapai hal tersebut tentunya membutuhkan dukungan dari semua pihak terutama dukungan dalam hal Kebijakan.

    Vina meyakini Karawang ramah Lansia bisa terealisasi lebih cepat jika Kabupaten Karawang memiliki Perda tentang Perlindungan dan Peningkatan Kesejahteraan Lansia. Tentu saja kewenangan menyusun Perda ini ada pada Bupati dan DPRD Kabupaten Karawang.

    “Kami berharap Kabupaten Karawang yang ramah terhadap Lansia bisa tercipta di tahun 2024,” pungkas Vina.

    Baca: Penjelasan mengapa trotoar Santa dibongkar

    Berdasarkan data BPS, (Karawang Dalam Angka 2022), Pada tahun 2021 jumlah penduduk lansia di Kabupaten Karawang sebanyak  215.804 orang atau sebanyak 8,74 persen.

    Angka ini meningkat sebesar 18.244 orang dari tahun 2020. Dimana tahun 2020 Lansia di Karawang sebanyak 197.560 orang atau sebesar 8,10% dari total penduduk.

    Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup dan rata-rata lama hidup. Kondisi ini tentunya harus mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.

    Baca: Jalan kaki olahraga murah bagus untuk kesehatan mental

     

     

     

     

  • Seperti Apa Kota Ramah Lansia?

    7cloud.asia – Jumlah warga yang masuk kategori usia lanjut atau lansia di Indonesia terus bertambah. Data BKKBN menyebut jumlah lansia pada 2020 tercatat 28,82 juta jiwa atau sekitar 11,34  persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

    Angka ini diperkirakan akan meningkat jadi 60 juta jiwa pada 2050. Bertambahnya jumlah lansia dapat berdampak positif apabila mereka dalam keadaan sehat, aktif dan produktif.

    Sebaliknya, penduduk lansia dapat menjadi beban jika mereka mengalami penurunan status kesehatan dengan tingkat disabilitas yang tinggi sehingga produktivitasnya rendah dan sering sakit.

    Lansia dapat berdaya dan mendorong perubahan. Pengalaman hidup yang dimiliki lanisa akan memperkaya dan menambah pengetahuan di banyak bidang. Untuk itu diperlukan situasi yang mendukung.

    Baca: Banyak lansia tak punya BPJS

    Pemerintah Pusat melalui Kementrian Sosial telah merilis Permensos No 4 tahun 2017 tentang pedoman pengembangan Kawasan ramah Lansia.

    Lewat aturan ini diharapkan tersedia ruang dengan fasilitas yang mendukung kebutuhan serta pemenuhan hak lansia, ada peran Pemerintah dan dunia usaha untuk meningkatkan kesejahteraan lansia.

    “Dengan demikian akan terwujud lanasia yang mandiri, sehat, aktif, dan produktif,” ujar Vina K dari PPSW Pasoendan Digdaya yang banyak mendampingi lansis di Karawang, Jawa Barat.

    Dalam perbincangan dengan 7cloud.asia beberapa waktu lalu, Vina mengatakan penting untuk memberikan perlindungan dan pendampingan bagi lansia yang mengalami keterbatasan fisik, mental, sosial, dan ekonomi.

    Ia melihat banyak lansia di Karawang yang tidka mendapatkan perhatian, baik dari keluarga dan pemerintah. 

    Baca: Sejarah Hari Lansia Nasional

    Lebih lanjut Vina mengatakan, suatu Kawasan atau Kabupaten bisa dikatakan sebagai kawasan ramah lansia ketika memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

    • memiliki kebijakan kelanjutusiaan;
    • perumahan dan kawasan permukiman;
    • ruang terbuka dan bangunan yang ramah Lanjut Usia;
    • transportasi yang ramah Lanjut Usia;
    • penghormatan dan inklusi sosial;
    • partisipasi sosial;
    • partisipasi sipil;
    • pekerjaan yang ramah Lanjut Usia;
    • dukungan komunitas dan pelayanan sosial;
    • pelayanan kesehatan;
    • layanan keagamaan dan mental spiritual;
    • komunikasi dan informasi;
    • advokasi sosial;
    • bantuan hukum; dan/atau
    • perlindungan Lanjut Usia dari ancaman dan tindak kekerasan.

    Baca: Kenali gejala stres terselubung pada lansia

    Nirwono Joga dalam tulisannya bertajuk Kota Ramah Warga Lanjut Usia  yang terbit di Tempo.co menyebut kota ramah lansia harus memberikan kemudahan bagi kelompok lansia untuk mengakses baik secara daring atau datang langsung ke pusat kesehatan, seperti puskesmas, posyandu, klinik, rumah sakit, dan apotik.

    Fasilitas pelayanan kesehatan menyediakan tenaga medis dan paramedis yang dilatih dasar-dasar gerontologi dan geriatri, infrastruktur ramah lansia.

    “Toilet untuk lansia, lantai tidak licin, penerangan cukup, kursi ergonomis, kursi roda, dan klinik pemeriksaan khusus untuk lansia sehingga tidak perlu antre lama,” demikian tulis Nirwono.

    Tak hanya itu pemerintah juga perlu memberikan kemudahan akses kelompok lansia ke tempat ibadah dan fasilitas kegiatan ibadah bersama untuk pengajian atau kebaktian.

    Pemerintah kota juga harus memasukkan warga lansia dalam daftar calon penghuni taman pemakaman umum.

    Baca: Tak bisa lunasi ONH, ratusan calo haji batal berangkat ke Tanah Suci

    Pemerintah bisa bekerja sama dengan pihak rumah sakit atau yayasan. pengelola rumah ibadah dalam mempercepat proses persiapan, pelaksanaan hingga pemakaman, jika ada lansia yang wafat.

    “Taman-taman kota dibuat ramah lanis untuk kegiatan relaksasi, refleksi, olahraga ringan, atau berinteraksi dengan komunitas (senam jantung, terapi kesehatan, jalan pagi, konseling).

    Penuaan adalah proses alami yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Sehingga menurut Nirwono, hidup sejahtera hingga lansia dapat dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga dan rumah sehat, lingkungan sehat, serta didukung oleh sistem kota yang ramah lansia.

    Sumber: 

    https://kolom.tempo.co/read/1002364/kota-ramah-warga-usia-lanjut

     

  • Ratusan Calon Haji Gagal Berangkat ke Tanah Suci

    Ratusan Calon Haji Gagal Berangkat ke Tanah Suci

    7cloud.asia – Anggota Komisi VIII DPR Nanang Samodra menyayangkan adanya sejumlah calon jemaah haji yang gagal berangkat ke tanah suci tahun ini.

    Pasalnya, terdapat 292 calon jemaah yang dinyatakan mundur karena gagal melunasi ongkos naik haji (ONH). Hal ini sangat disayangkan, mengingat antri haji yang panjang dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa berangkat ibadah haji.

    “Di lapangan masih ditemui masyarakat yang seharusnya berangkat, tetapi tidak jadi berangkat karena tidak punya uang untuk biaya perjalanan haji. Itu juga kita jadikan evaluasi, mengapa bisa terjadi seperti itu karena antrinya saja sudah panjang sampai puluhan tahun. Apakah itu karena biayanya yang mahal, atau kenaikan (biaya  haji) yang tiba-tiba,” ujarnya di Asrama Haji Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (7/6/2023).

    Baca: Hari Lansia Nasional

    Pada kesempatan yang sama, Nanang juga menyampaikan apresiasinya terhadap kesiapan fasilitas di Embarkasi Lombok yang sudah memperhatikan kebutuhan jemaah haji lansia seperti penyediaan jalur kursi roda pada tangga.

    “Tadi saya juga lihat, saya intip, tangganya gimana, ramah nggak sama lansia untuk kursi roda. Ternyata sudah ada walaupun masih kecil, tetapi sudah mulai ada, sudah mulai peduli terhadap lansia,” ujarnya.

    Pada tahun ini, jumlah jemaah haji lansia tercatat sebanyak 62.879 jemaah atau mencapai 30 persen dari total jemaah haji Indonesia.

    Meningkatnya jumlah Jemaah haji Lansia dipengaruhi oleh faktor tidak adanya keberangkatan haji pada dua tahun kemarin, yaitu di tahun 2020 dan 2021 serta adanya pembatasan usia Jemaah yang berhak berangkat di tahun 2022. 

    Untuk itu, Nanang memgimbau para Jemaah haji lainnya untuk saling membantu satu sama lain selama di Arab Saudi.

    “Meskipun sudah ada petugas haji, baik petugas Kloter maupun petugas Non-Kloter. Baik selama menjelang keberangkatan maupun selama di Arab Saudi, tetapi dikarenakan banyaknya Jemaah lansia, mutlak diperlukan kerja sama dan saling menolong dari para sesama Jemaah haji. Tidak perlu ada lagi ego jabatan, kedudukan, dan status sosial selama di Arab Saudi. Semua sama selama menunaikan ibadah haji,” ujarnya.

    Baca:  Kenali gejala depresi pada lansia

    Dalam kesempatan itu Nanang juga menyinggung mengenai biaya hidup yang dikembalikan kepada para jemaah haji (living cost) yang jumlahnya berkurang dari tahun-tahun sebelumnya, yakni dari 1500 riyal menjadi 750 riyal.

    Hal ini imbas dari penekanan biaya haji yang awalnya meningkat. Hal tersebut menjadi keluhan calon jemaah haji, pasalnya uang itu akan digunakan Calon Jemaah Haji untuk membayar Dam.

    “Ini sebenarnya bukan menjadi suatu permasalahan, karena living cost itu sebenarnya diberikan untuk mengganti uang makan bagi para jemaah haji pada saat-saat tertentu, tetapi sekarang makan itu kan dilengkapi. Mohon pengertiannya dan semoga di tahun depan jumlah Living Cost akan kembali seperti semula yaitu 1500 riyal,” Jelasnya.

    Baca: Kasus kekerasan pada PRT kembali terjadi

    Nanang juga mengimbau kepada seluruh jemaah haji untuk sering minum air agar tidak dehidrasi selama melakukan ibadah haji di tanah suci. Mengingat musim haji tahun ini masih dalam kondisi musim panas sehingga suhu di Mekkah bisa mencapai lebih dari 40 derajat celcius.

    “Yang dianjurkan adalah sering minum, sehingga kita tidak mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh yang akan menyebabkan lupa ingatan dan penyebab banyak Jemaah lupa arah pulang ke pemondokan atau terpisah dari rombongan,” Jelasnya.

     

    Kehadiran Nanang Samodra dalam acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja spesifik dalam agenda pengawasan penyelenggaraan ibadah haji di Embarkasi Lombok.

     

  • Seperti Ini Dampak Kualitas Udara yang Buruk pada Kesehatan Anak

    Seperti Ini Dampak Kualitas Udara yang Buruk pada Kesehatan Anak

    Ilustrasi anak. Foto: Pixabay 

    7cloud.asia – Kualitas udara di sejumlah wilayah di Indonesia termasuk Jakarta, beberapa waktu terakhir dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan.

    Dalam kondisi ini, anak dan lansia menjadi korban paling rentan menderita penyakit akibat kualitas udara yang buruk.

    “Dampak kualitas udara yang buruk pada kesehatan anak bisa sangat mengkhawatirkan. Anak-anak yang kurang daya tahan tubuhnya bisa dengan mudah terjangkit penyakit. Termasuk juga bagi lansia dan orang yang memiliki komorbid,” kata Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu, (7/6/2023).

    Baca: Polusi udara picu 7 juta kematian dini setiap tahun

    Untuk itu, Arzeti mendorong Pemerintah menyiapkan solusi jangka pendek untuk mengatasi kualitas udara yang buruk akibat polusi udara ini. 

    Diakui, pemerintah memang tengah menyiapkan solusi jangka panjang dalam upaya perbaikan kualitas udara. 

    Salah satunya dengan menggencarkan program kendaraan listrik dan transisi ke energi hijau guna mengurangi polusi yang mengakibatkan kualitas udara buruk.

    Baca: Mengenal bioplastik yang disebut sebagai plastik ramah lingkungan

    Meski begitu, Arzeti menilai harus ada upaya jangka pendek di sektor kesehatan dalam menghadapi ancaman kualitas udara yang buruk.

    “Ancaman polusi udara meningkatkan risiko infeksi pernafasan akut seperti ISPA dan pneumonia. Dan kita tidak bisa menutup mata polusi udara bisa berdampak pada risiko penyakit jantung dan kanker untuk jangka panjang. Ini harus menjadi perhatian serius,” jelas Politisi Fraksi PKB itu.

    Baca: Polusi dan kenaikan suhu bumi picu penyebaran nyamuk malaria

    Ditambahkannya, persoalan kesehatan tidak bisa menunggu pencapaian program-program jangka panjang Pemerintah untuk meningkatkan kualitas udara, apalagi untuk kelompok rentan seperti anak.

    Arzeti pun menyoroti banyaknya laporan mengenai anak-anak yang belakangan gampang terkena penyakit.

    “Anak-anak akhir-akhir ini mudah terserang batuk dan flu. Tidak sedikit juga yang terkena ISPA. Tentunya harus diwaspadai karena menurut WHO, ISPA menjadi penyebab utama angka kematian akibat penyakit menular di dunia,” ungkapnya.

    Baca:  Polusi turunkan kesuburan laki-laki

    Mengutip para ahli, Arzeti mengimbau kelompok sensitif lebih waspada terhadap kualitas udara saat ini, khususnya di Jakarta. Kelompok sensitif yang dimaksud adalah mereka yang rentan terhadap polusi udara, misalnya ibu hamil, balita, dan lansia.

    Sekali lagi legislator Dapil Jawa Timur I itu menegaskan bahwa perlu adanya solusi jangka pendek yang komprehensif dalam menangani ancaman polusi udara dari sisi kesehatan.

    Hal itu juga harus dilakukan paralel dengan upaya membangun kesadaran masyarakat yang juga berperan penting dalam memulihkan kualitas udara dengan menerapkan gaya hidup hemat energi.

  • Sejumlah Kota Gagas Sekolah Lansia Karena Belajar Tak Dibatasi Usia

    Sejumlah Kota Gagas Sekolah Lansia Karena Belajar Tak Dibatasi Usia

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Ambon, Maluku akan membuka Sekolah lansia di Negeri Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.

    Sekolah lansia milik Kota Ambon ini rencananya akan mulai beroperasi pada Senin, 12 Juni 2023 mendatang.

    Sekolah lansia milik Pemerintah Kota Ambon ini diharapkan bisa mendukung terbentuknya ketangguhan dan kemandirian lansia dalam berkeluarga.

    Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Ambon, Welly Patty menyatakan, sekolah lansia di Negeri Hutumuri merupakan yang pertama dan menjadi contoh di Kota Ambon dan Provinsi Maluku.

    Baca: Hari Lansia Nasional, mengapa harus dirayakan?

    Sekolah lansia ini akan diikuti 31 lansia berusia 60 tahun ke atas. Mereka akan belajar satu kali dalam satu bulan selama 6-12 bulan. 

    Setiap hari pembelajaran, para lansia akan belajar selama dua jam, mulai pukul 10.00 hingga 12.00 waktu Indonesia timur atau WIT.

    “Sekolah lansia bukan sekolah formal melainkan tempat lansia belajar, memperoleh pengetahuan, dan makin membuat berdaya dalam menjalani kehidupan di usia senja, setelah mengikuti sekolah nanti mereka akan diwisuda,” kata Welly, dikutip dari Antara, Rabu (7/6/2023).

    Baca: Seperti apa kota ramah lansia?

    Pemkot Ambon, katanya, telah menyiapkan para pengajar sekolah lansia yakni dosen, guru, dan dokter di Kota Ambon untuk memberikan materi kepada para lansia.

    Para siswa di sekolah lansia akan belajar psikologi penuaan, gerak lansia, keperluan gizi, hingga mengatur emosi.

    “Pengajar sekolah lansia sudah siap di antaranya tim Psikologi Universitas Pattimuta (Unpatti), Kepala Puskesmas Hutumuri dan Widyaiswara BKKBN Provinsi Maluku dan Kota Ambon,” ujarnya.

    Baca: Kesehatan jadi aspek penting bagi lansia, tapi banyak yang tak punya BPJS

    Welly mengakui, Negeri Hutumuri dipilih menjadi percontohan sekolah lansia di Ambon karena terdapat 64 kelompok lansia berjumlah 500 orang.

    “Hutumuri yang menjadi percontohan karena para lansia di sana cukup aktif mulai dari kegiatan ibadah, olahraga, dan edukasi,” katanya.

    Welly berharap, ke depan sekolah lansia dapat menjangkau seluruh lansia di seluruh Kota Ambon, sehingga nantinya lansia di lima Kecamatan di Ambon dapat diedukasi secara merata.

    “Memang bukan pekerjaan yang mudah, tapi saya yakin jika kita semua bergandeng tangan saling mendukung tidak ada yang tidak mungkin,” ujarnya. 

    Baca: Kenali gejala stress terselubung pada lansia

    Sekolah lansia juga sedang digagas oleh Fakultas Filsafat UGM. Focus Group Discussion (FGD) terkait pendirian sekolah lansia ini telah dilakukan beberapa waktu lalu.

    Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Filsafat UGM bersama Tim Inovasi Puskesmas Imogiri I Bantul sepakat untuk mengadakan sekolah lansia di Imogiri, Kabupaten Bantul. 

    Ketua Tim Pengabdian Fakultas Filsafat UGM Supartiningsih mengatakan, sekolah lansia didirikan untuk membuat lansia sejahtera.

    Jumlah lansia di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun belakangan. Pemerintah diminta untuk membangun kondisi agar kelompok lansia hidup lebih sehat, bahagia, dan tetap produktif.

  • Layanan Transportasi untuk Haji Lansia dan Penyandang Disabilitas Dinilai Kurang Memadai

    Layanan Transportasi untuk Haji Lansia dan Penyandang Disabilitas Dinilai Kurang Memadai

    7cloud.asia – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily saat meninjau fasilitas transportasi bagi jamaah haji di Mekkah, menemukan fasilitas bus bagi jamaah haji lansia dan penyandang disabilitas kurang memadai.

    Sebanyak 25 bus bagi haji lansia dan penyandang disabilitas dinilai belum cukup, dan diharapkan ke depan disiapkan sistem transportasi yang ramah lansia-penyandang disabilitas agar petugas tak perlu sampai bersusah-payah menggendong jamaah.

    “Dari hasil penelusuran dan pengawasan kita terhadap pelayanan transportasi ini harus diakui bahwa belum sepenuhnya ramah terhadap haji lansia, kenapa? Karena jumlah bus yang ramah lansia ini masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan bus yang disediakan melayani jamaah haji secara umum,” ujar Ace Sabtu (24/6/2023) sebagaimana dikutip Parlementaria.

    Baca: Gagal lunasi ONH, ratusan calon haji batal ke tanah suci

    Diketahui, di Terminal Jiad, Timwas Haji DPR bertemu dengan Kaposko dan Wakaposko terminal. Timwas menggali banyak hal soal pelayanan antarjemput jemaah haji.

    Wakaposko Terminal Jiad, Amrun, menjelaskan hari itu hanya tersedia 10 bus salawat untuk antarjemput jamaah haji kloter terakhir, yang berasal dari kuota tambahan haji.

    Sebelumnya ada 452 bus yang tersedia, namun saat ini, menurut Amrun, sudah diparkir di wilayah Mina. Oleh karena memang Pemerintah Saudi sudah membatasi transportasi jamaah menjelang puncak haji.

    Baca: Ibadah haji sudah ada jauh sebelum islam berkembang

    Di sisi lain, fasilitas bagi jamaah haji penyandang disabilitas pun dinilai masih belum memadai, khususnya yang menggunakan kursi roda.

    Amsur menjelaskan jamaah yang berkebutuhan khusus dibantu petugas naik turun bus dengan cara digendong.

    “Kita gendong, Pak, naik turun kita gendong. Kalau petugas di dalam bus memang tidak ada, tapi saat naik dan turun di hotel dan di terminal ini ada petugas yang bantu gendong, Pak. Cuma memang jemaah kebanyakan nggak mau nunggu bus itu, pengennya cepat-cepat, jadi kami bantu gendong,” tutur Amsur. 

    Baca: Mengenal ritual ziarah umat Budha bernama Thudong

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi berharap, ke depannya, pemerintah perlu lebih optimal dalam penanganan dan penguatan fasilitas kesehatan (Faskes) yang ada di Makkah, khususnya dalam melayani jamaah haji Lansia. 

    Hal ini karena jumlah jemaah haji dari kelompok lansia cukup besar. 

    Tahun ini saja, jamaah Haji Lansia itu kan sampai 30 persen. Kita tidak bisa bayangkan tahun depan dengan antrean yang begitu panjang, jamaah Lansia bisa meningkat 40 persen. Untuk itu perlu perhatian serius dari pemerintah untuk persiapan tahun depan dengan jamaah haji Lansia lebih banyak,” ujar Ashabul Kahfi. 

    Baca:  Ribuan bahasa terancam punah karena makin jarang digunakan

    Ashabul menambahkan, penghapusan pendamping haji yang diberlakukan tahun ini perlu dikaji kembali, terutama untuk mendampingi jamaah haji Lansia.

    Sebab, tambahnya, kalau mengandalkan petugas haji yang jumlahnya juga sedikit, ini sangat tidak mungkin melayani semua.

    “Coba nanti evaluasi bersama, apakah pendamping haji ini akan kita adakan kembali pada tahun depan, mengingat kuota antrean yang begitu panjang ini juga jadi kendala,” imbuh Politisi Fraksi PAN ini.

    Baca:  Salon sapi ramai menjalng hari raya Idul Adha

    Ashabul menilai, secara umum kontribusi para tenaga kesehatan (Nakes) yang ada di KKIH Madinah sudah optimal, karena sudah bekerja keras siang-malam tanpa kenal lelah untuk melayani pasien.

    Terlebih, tambahnya, terdapat pengurangan Nakes yang semula berjumlah 23 menjadi 13 orang.

    ”Tadi kami sudah melihat di sejuah kamar-kamar (perawatan) cukup banyak yah pasien, kurang lebih 100 orang yang hari ini dirawat dan semuanya Lansia. Penyakitnya yang diderita antara lain yang hipertensi, batuk, dimensia dan ada macam -macam lain. Tapi intinya mereka adalah rata -rata jamah haji Lansia,” tutupnya.

  • Daftar Tunggu Haji Panjang Picu Banyaknya Haji Lansia

    Daftar Tunggu Haji Panjang Picu Banyaknya Haji Lansia

    7cloud.asia – Daftar tunggu haji di wilayah Sulawesi Selatan tercatat sebagai daftar tunggu pemberangkatan calon jemaah haji paling lama se-Indonesia.

    Sebagai info, daftar tunggu haji atau daftar tunggu pemberangkatan calon jemaah haji di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan yang mencapai 49 tahun.

    Kondisi ini menjadi perhatian anggota DPR karena lamanya daftar tunggu haji ini menimbulkan masalah daftar antrian haji yang sangat panjang.

    Baca: Ratusan calon haji gagal berangkat ke Tanah Suci

    Jika seseorang mulai mendaftar haji pada usia 25 tahun, maka ia baru akan berangkat haji di usia 70 tahun lebih. 

    “Ini berimplikasi juga pada tingginya angka Lansia. Katakanlah, saat dia mendaftar pada usia 45 tahun, terus menunggunya 30 tahun, otomatis kan waktu dia berangkat sudah lansia ini. Saya pikir ini perlu menjadi perhatian bersama pemerintah dan kami di Komisi VIII DPR untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Ketua Komisi VIII DPR RI Ashabul Kahfi saat mengunjungi Jemaah Haji embarkasi Sulawesi Selatan di Shisyah, Mekkah, Arab Saudi, Minggu (25/6/2023).

    Menurut Legislator Dapil Sulsel I Ini, pihaknya akan mendorong agar mencari solusi untuk mengurangi daftar tunggu haji yang sangat panjang ini.

    Baca: Seperti ini layanan untuk haji lansia dan disabilitas

    Ia mengusulkan, agar ke depan daftar tunggu haji tidak lagi per daerah, tapi bisa ditarik ke tingkat Provinsi. Sehingga dengan demikian bisa mengurangi antrean daftar haji.

    “Selain itu, ada juga kebijakan untuk yang sudah berhaji dua kali boleh berhaji lagi setelah 10 tahun. kita harapkan juga, bagi mereka yang sudah berhaji mungkin cukuplah kita beri kesempatan kepada saudara-saudara kita yang lain,” ucap Ashabul.

    Politisi F-PAN ini menambahkan, untuk mengatasi panjangnya daftar tunggu haji ini, Indonesia juga bisa bernegoisasi mengambil kuota haji dari negara-negara lain yang tidak digunakan.

    Baca: Ibadah haji sudah ada jauh sebelum Islam berkembang

    Menurut Ashabul, hal itu bisa dibicarakan antara pemerintah Indonesia dengan pihak kerajaan Arab Saudi nantinya.

    “Tetapi perlu diingat, jika ada penambahan kuota, ini juga saling terkait dengan kesiapan pemerintah untuk memenuhi penambahan kuota tersebut. Misalnya, kesiapan untuk kateringnya, transportasi dan kesehatan serta lainnya,” imbuh Ashabul.

    Seperti diketahui, Indonesia rata-rata mendapatkan kuota 220.000an jemaah haji per tahunnya. Kecuali saat terjadi pandemi Covid-19 lalu, di mana kuota haji di bawah 100.000 orang.

    Baca: Mengenal ritual thudong, ziarahnya umat Budha ke Borobudur

    Sementara jumlah muslim yang sudah mendaftar haji mencapai puluhan juta orang, sehingga mengakibatkan daftar tunggu haji yang panjang.

    Berdasarkan data terbaru, daftar tunggu haji atau waiting list haji Indonesia jika mendaftar tahun 2023 ini diperkirakan akan diberangkatkan antara 11 tahun sampai 47 tahun.

    Daftar tunggu haji ini berbeda-beda tergantung daerah tempat calon haji mendaftar. Ada 24 provinsi yang dihitung berdasarkan kuota provinsi. Di luar itu, terdapat 128 kota/kabupaten yang tidak menggunakan kuota provinsi, melainkan kuota kota/kabupaten.

  • Program Pemakanan untuk Lansia Kemensos Turut Gerakkan Ekonomi Brebes

    Program Pemakanan untuk Lansia Kemensos Turut Gerakkan Ekonomi Brebes

    7cloud.asia – Usia Rumiah sudah mencapai 90 tahun. Di masa lansia ini, ia hidup sendiri, anak-anaknya memilih hidup di berbagai kota secara terpisah.

    Ada dua anaknya yang tinggal satu kampung, tapi usia mereka juga tergolong lansia.

    Warga RW. 04, Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes ini merupakan salah satu lansia penerima program bantuan permakanan bagi lansia yang diinisiasi Kementerian Sosial (Kemensos)

    Baca: Banyak lansia tak punya BPJS Kesehatan

    Rumiah mengaku sangat terbantu dengan program Kemensos untuk lansia ini. 

    “Makanannya enak terasa enak kalau kondisi badan sedang enak. Tetapi kalau badan lagi tidak enak, makanan tidak terasa enak. Saya senang sudah dikasih makan. Terimakasih moga-moga slamet-slamet,” katanya saat ditemui baru-baru ini.

    Kemensos menyiapkan anggaran Rp 787,66 miliar dengan sasaran 100.000 orang untuk permakanan lansia dan 33.774 untuk permakanan disabilitas pada Tahun Anggaran (TA) 2023.

    Baca: Kriteria kota ramah lansia

    Sementara, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Brebes menunjukan, tahun 2020 jumlah lansia mencapai 225.754 jiwa atau 12,45 persen dari total penduduk Kabupaten Brebes.

    Selain itu juga, data dari Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Brebes Tahun 2022 menunjukan bahwa, terdapat sebanyak 417 jiwa lansia terlantar.

    Pada Tahun 2023 bantuan Permakanan Lansia Tunggal untuk Kabupaten Brebes disalurkan sebanyak 1.096 Penerima Manfaat (PM). Sedangkan untuk Kecamatan Losari sebanyak 48 PM.

    Baca: Para lansia tidak untuk dikasihani tapi dibuat berdaya

    Ketersediaan makanan disiapkan oleh kelompok masyarakat (Pokmas) setempat. Anggota Pokmas “Jaya Bersama” Kecamatan Losari, Juaheriyah mengaku senang bertugas memasak untuk program permakanan kepada lansia. 

    Di sisi lain, ia punya aktifitas sehari-hari jadi tidak menganggur.

    Bantuan permakanan untuk lansia ini juga dirasakan memberikan dampak secara ekonomi bagi Muhammad Rizky.

    Baca: Kenali gejala depresi terselubung pada Lansia

    Ia merupakan kurir bantuan permakanan lansia. Bagi pria 26 tahun itu, pekerjaan mengantar makanan untuk lansia merupakan pekerjaan mulia.

    Selain itu, juga ada dampak ekonomi. Ia mendapat upah Rp2000/Penerima Manfaat. Semua diterima dengan rasa syukur dan dijalani dengan ikhlas. 

    Bantuan permakanan yang diberikan terdiri dari nasi/sejenisnya (menyesuaikan daerah masing-masing), lauk pauk, sayur, buah potong, dan air mineral yang diberikan sebanyak dua kali dalam sehari dalam satu kali pengantaran.

    Baca: Pemikiran Kartini soal pendidikan

    Selain dirasakan manfaatnya secara fisik diharapkan juga dapat meningkatkan harapan hidup para lansia sehingga menjadi lebih semangat.

    Program pemakanan untuk Lansia ini juga turut menggerakkan ekonomi daerah setempat.

    Disarikan dari artikel di kemensos.go.id