Tag: lebaran

  • Ketimbang Bertanya ”Kapan Nikah?” Mendingan Ajukan Pertanyaan Ini

    Ketimbang Bertanya ”Kapan Nikah?” Mendingan Ajukan Pertanyaan Ini

    7cloud.asia – Riset penulis di Selandia Baru, sejak tahun 2019, menunjukkan bahwa faktor terbesar penyebab mereka tidak mau berkumpul bersama keluarga adalah menjamurnya pertanyaan basa-basi.

    Basa-basi memang sudah menjadi bagian budaya Indonesia, karena memang tujuannya bukan sesuatu yang buruk dan dimaksudkan untuk bertanya hal-hal ringan.

    Namun, peserta penelitian mengungkapkan bahwa pertanyaan basa-basi yang mungkin datang dari maksud baik, sering kali membuat mereka merasa terkucil daripada merasa dirangkul dan merayakan kebersamaan.

    Ini mencakup pertanyaan seperti “kapan punya anak?”, “kapan menikah?”, dan “kapan lulus kuliah?” yang berujung pada diskriminasi struktural dan bentuk pengucilan di Indonesia.

    Atau pertanyaan, “sudah/kapan punya anak?” atau “putranya sudah berapa?”.

    Pertanyaan tersebut memang tidak memiliki maksud buruk, hanya basa-basi, tetapi akhirnya membangkitkan kesedihan dalam dirinya.

    Mencoba kebih berempati
    Mengingat perayaan Lebaran dan acara buka bersama menjadi ajang untuk berkumpul dan bersilaturahmi, sebaiknya kita sebagai individu bisa mengedepankan empati sebelum mengajukan pertanyaan.

    Sebelum bertanya, kita hendaknya menilai dari sisi orang yang kita tanyai. Sehingga, kita bisa lebih sensitif dan memikirkan apakah pertanyaan tersebut berpotensi membuka tabir kepedihan, pengalaman tidak menyenangkan, ketidaknyamanan atau kesakitan yang mereka pernah alami.

    Baca: Pertanyaan Basa-basi saat silaturahmi keluarga

    Alih-alih menanyakan hal-hal yang mungkin buat kita adalah “hal ringan”, berhentilah sebentar dan berpikir, “jika saya menanyakan hal ini, apakah akan membuat orang lain tidak nyaman?”,

    “Apakah pertanyaan ini penting untuk ditanyakan?” atau, “jika saya berada di posisi dia, dan menerima pertanyaan ini, bagaimana perasaan saya, apakah saya akan merasa sedih, terluka, tersisih dan terkucilkan?”

    Kita bisa mengganti pertanyaan basa-basi nirempati dengan yang lebih terbuka dan memang bermaksud untuk mengenal orang lain lebih baik dan tulus, bukan untuk sekedar memuaskan rasa keingintahuan kita (kepo).

    Berikut contoh pertanyaan yang bisa dilontarkan saat silaturahmi keluarga:

    “Sudah lama tidak bertemu ya, bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?”,

    Baca: Kiat menjawab pertanyaan “kapan menikah?”

    “Sudah lama kita tidak berjumpa, apa hal-hal baru darimu yang ingin dibagikan atau ceritakan?” atau,

    “Ada hal baru apa yang berbeda sejak pertemuan kita beberapa waktu lalu?” atau pertanyaan lainnya yang bersifat serupa.

    Karena bersifat terbuka, pertanyaan tersebut bisa memberikan ruang untuk orang lain bercerita. Kita tidak perlu mendikte topiknya, apalagi jika pertanyaan itu sifatnya justru ingin “menakar” keadaan sosial dan ekonomi orang lain.

    Lebih baik kita mencoba membuka ruang bagi orang di hadapan kita untuk menentukan apa yang mereka ingin bagikan (atau tidak ceritakan) kepada kita.

    Yang kita perlu ingat adalah tujuan dari silaturahmi dan reuni adalah seyogyanya untuk menyambung (kembali) hubungan yang baik dan tulus, bukan hanya sekedar kepo atas pencapaian atau hal-hal yang orang lain miliki atau tidak miliki.

    Di bulan Ramadan yang baik ini baiknya kita lebih berefleksi dan mulai mengedukasi diri kita dengan nilai-nilai empati terhadap pandangan hidup dan keadaan orang lain yang mungkin berbeda dari kita.

    Upayakan untuk lebih mawas diri, bijaksana dan tidak menghakimi saat berhadapan dengan orang lain, dan hindari pertanyaan yang bisa menyudutkan keluarga dan kerabat kita, yang dampaknya malah berkebalikan dari tujuan silaturahmi dan reuni itu sendiri.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Nelly Martin-Anatias (Lecturer of Academic English at Massey University College, Te Kunenga ki Pūrehuroa – Massey University) dan Sharyn Graham Davies (Director, Herb Feith Indonesian Engagement Centre, Monash University)

  • Jelang Lebaran, Harga Kebutuhan Pokok Meroket

    Jelang Lebaran, Harga Kebutuhan Pokok Meroket

    7cloud.asia – Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok menjelang lebaran mulai merambat naik. Kenaikan ini diprediksi akan terus berlangsung hingga lebaran tiba.

    Di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan misalnya. Harga bawang merah kini berada pada kisaran Rp 60.000 per kilogram. Padahal awal bulan Ramadan, harga bawang merah Rp 40.000 per kilogram.

    Kenaikan harga juga terjadi pada cabai rawit merah yang kini dibanderol dengan harga Rp 130.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 100.000 per kilogram.

    Baca: Pilkada usai, harga kebutuhan pokok melonjak

    Cabai merah keriting juga tak luput dari kenaikan harga yang kini dibanderol Rp 60.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 50.000 per kilogram.

    Tak hanya cabai dan bawang, kenaikan harga juga terjadi pada tomat TW yang kini dijual Rp 20.000 per kilogram. Padahal, awal Ramadan harga tomat masih berada pada kisaran Rp 15.000 per kilogram.

    Menurut Suranti, salah seorang pedagang, kenaikan ini akan terus berlanjut hingga lebaran tiba. “Nanti tambah deket lebaran, biasanya tambah naik lagi,” kata Suranti saat ditemui 7cloud.asia.

    Selanjutnya Suranti menjelaskan kenaikan harga tersebut juga akibat cuaca buruk yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

    “Banyak yang busuk karena hujan dan banjir, barangnya jadi nggak banyak sampai ke kita (pedagang),” jelasnya.

    Kenaikan harga juga terjadi pada telor ayam negeri dan ayam potong. Kini harga telor berada pada Rp 32.000 per kilogram atau naik Rp 2000 dari harga saat awal Ramadan.

    Baca: Pemerintahan baru, pedagang keluhkan harga kebutuhan pokok tinggi

    Begitu juga dengan harga ayam potong yang kini dijual dengan harga 38 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya harga ayam potong masih dikisaran harga Rp 33.000 per kilogram.

    Adanya kenaikan ini membuat para pembeli membatasi jumlah barang yang dibelinya. Seperti yang dilakukan Susan. Warga Cidodol, Kebayoran Lama ini terpaksa membatasi jumlah barang belanjaannya.

    “Biasa beli cabai rawit seperempat (kilogram), sekarang beli 1 ons aja. Biar yang lain juga bisa kebeli,” ungkap Susan sambil memasukkan cabai rawit yang dibelinya.

    Dia berharap, kenaikan harga ini tak berlangsung lama dan dapat kembali normal usai lebaran.        

  • Mudik Lebaran: Mahal dan Merepotkan Tapi Tetap Dilakukan

    Mudik Lebaran: Mahal dan Merepotkan Tapi Tetap Dilakukan

    7cloud.asia – Lebaran tak lepas dari fenomena pulang kampung atau mudik tahunan para penduduk ke kampung halaman untuk merayakan Idulfitri dan bermaafan dengan seluruh anggota keluarga.

    Tahun lalu, ada lebih dari 242 juta warga yang mudik di seluruh Indonesia: angka tertinggi sepanjang sejarah. Kamu mungkin termasuk salah satu di antaranya.

    Para pemudik pun rela mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk mudik, rata-rata sekitar Rp3,88 juta per orang. Angka ini setara lebih dari separuh upah minimum pekerja di Jakarta.

    Apalagi, saat musim lebaran harga tiket biasanya melambung. Tahun lalu, sekitar Rp71,8 triliun uang berputar dari aktivitas mudik saja.

    Tingginya kebutuhan perjalanan membuat Presiden Prabowo Subianto memerintahkan para penyedia layanan transportasi untuk menurunkan harga. Tujuannya untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah perekonomian tahun ini yang cenderung loyo.

    Lantas, di tengah tren harga tiket mudik mahal dan kondisi perekonomian yang tidak baik-baik saja, mengapa orang tetap rela mudik saat lebaran?

    Secara psikologis, jawabannya bermuara pada alasan kita untuk memenuhi ekspektasi sosial dan pulang ke “rumah psikologis”.

    Baca: Tradisi mudik ternyata sudah dikenal lama

    Ekspektasi sosial
    Lebaran merupakan habitus atau kebiasaan kolektif masyarakat Indonesia yang telah lama berfungsi sebagai momen keluarga untuk berkumpul dan saling bermaafan.

    Sebagai kebiasaan kolektif, lebaran juga memuat norma dan adat-istiadat untuk menjelaskan apa yang baik, apa yang patut, dan apa yang dianggap bernilai. Norma dan adat istiadat ini diwariskan lintas generasi dan dilaksanakan secara bersama, berulang-ulang.

    Norma ini juga membuktikan bahwa manusia tidak hidup dalam ruang hampa. Kita tumbuh bersama orang lain di sebuah lokasi dengan serangkaian adat istiadat yang telah berlaku untuk mengatur kehidupan masyarakat. Mayoritas norma bahkan telah hidup jauh sebelum kita lahir.

    Momen lebaran pun menciptakan ekspektasi sosial bahwa seluruh anggota keluarga hadir secara fisik, bersatu dalam sebuah nuansa perayaan setelah menuntaskan ibadah puasa. Mereka pun terhubung untuk bermaafan dengan tetangga.

    Selain ekspektasi untuk bermaafan, jenis makanan seperti ketupat, opor ayam, dan makanan lainnya merupakan ekspektasi lain yang membingkai ekspektasi umum tentang seperti inilah lebaran seharusnya.

    Nah, mudik juga menjadi salah satu ekspektasi sosial tersebut. Saat lebaran, ada harapan para orang tua agar anak-anaknya yang merantau pulang kembali atau mudik.

    Jadi, seseorang yang merantau akan rela untuk pulang meskipun harus menempuh perjalanan jauh dan membeli tiket yang mahal. Sebab, melalui mudik, kita berusaha merawat tradisi dan harapan keluarga.

    Singkatnya, mudik merupakan sebuah pernyataan spasial (terkait lokasi) bahwa kita menghidupi nilai-nilai kultural sebagai anggota masyarakat di mana kita dibesarkan.

    Baca: Langkah sederhana mudik Lebaran yang ramah lingkungan

    Kebutuhan membangun rumah psikologis
    Alasan kedua mengapa masyarakat tetap pulang meskipun harga tiket sangat mahal adalah karena kita sedang memenuhi kebutuhan dalam membangun “rumah psikologis”.

    Penelitian saya menunjukkan bahwa upaya membangun rumah psikologis tidak hanya merujuk kepada bangunan (house) atau ruang tertentu di rumah yang memberikan rasa nyaman.

    “Rumah” merupakan sebuah fenomena ketika kita terkoneksi kembali dengan semua komponen positif yang ada di sana.

    Kebutuhan rumah psikologis ini terkait dengan identitas sebagai hal yang penting untuk manusia. Tengoklah kebiasaan kita mengenali orang lain dengan bertanya dan menjawab dengan menggunaan lokasi tertentu. “Kamu orang mana?”, “Saya adalah orang Nganjuk”.

    Para ahli menyebutnya sebagai identitas spasial (place-based identity). Lokasi tertentu memberikan perasaan nyaman untuk kita, dan membuat kita menyebutnya sebagai rumah.

    Selain bangunan atau lokasi, rumah psikologis juga merujuk pada komponen lainnya seperti insan-insan yang kita sayangi seperti anggota keluarga.

    Komponen lainnya juga termasuk berbagai objek material yang penting untuk kita seperti benda-benda favorit, teknologi yang kita pakai, binatang peliharaan, aktivitas-aktivitas bersama, termasuk suasana yang ada di sana.

    Baca: Hindari perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan

    Seluruh komponen ini, ketika saling terkait dan memberikan rasa nyaman, menjadi material penyusun rumah psikologis bagi kita.

    Dalam konteks lebaran, pulang merupakan ritual untuk terkoneksi dengan rumah psikologis karena menciptakan suasana khusus.

    Ada momen spesial yang membuat komponen-komponen rumah psikologis saling berkelindan: makanan khas lebaran seperti opor dan kue nastar, kehangatan dan gelak tawa keluarga besar, suara latar bedug dan iklan sirup, perasaan sebagai satu keluarga, ingar bingar promosi di berbagai toko, dan masih banyak lagi.

    Komponen-komponen ini merupakan sebuah himpunan (assemblage). Itulah mengapa, apabila komponennya tidak lengkap, misalnya ketika kue nastar atau opor tidak terhidang di meja suasananya menjadi tidak lagi sama.

    Dua alasan mengenai inilah yang membuat kita merasa bahwa mudik merupakan sebuah aktivitas penting untuk kesejahteraan psikologis kita.

    Ini juga yang membuat harga tiket yang mahal dan perjalanan jauh tidak menghalangi keputusan seseorang untuk tetap mudik dan bertemu dengan keluarga saat lebaran tiba. Apakah kamu salah satu di antaranya?

    Artikel ini telahvterbit di The Conversation, Penulis: Jony Eko Yulianto (Community and Applied Social Psychologist, Universitas Ciputra)

  • Layanan MRT Jakarta Tetap Berjalan Normal Saat Libur Lebaran

    Layanan MRT Jakarta Tetap Berjalan Normal Saat Libur Lebaran

    7cloud.asia – PT MRT Jakarta (Perseroda) menyatakan pelayanan Mass Rapid Transit (MRT) tetap beroperasi normal selama libur Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, yakni 28 Maret – 7 April 2025.

    “MRT Jakarta akan tetap beroperasi melayani masyarakat selama libur Idul Fitri,” kata Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta (Perseroda) Ahmad Pratomo di Jakarta, Jumat (28/3/2025)

    Ahmad mengatakan seluruh stasiun MRT juga dibuka dengan pelayanan seperti biasa dan juga akan menambah petugas di stasiun untuk memastikan pelanggan MRT Jakarta mendapatkan kenyamanan.

    Diharapkan para penumpang MRT memiliki pengalaman yang nyaman selama berada di stasiun maupun kereta.

    Baca: Rute Transjakarta yang bersinggungan dengan jalur MRT akan dihapus

    Pola operasional yang berlaku ialah grafik perjalanan kereta normal saat akhir pekan atau libur, yaitu pukul 05.00-24.00 WIB dengan selang waktu keberangkatan antar kereta setiap 10 menit.

    “Sebanyak 13 stasiun dengan 219 perjalanan kereta dan tujuh rangkaian kereta telah disiapkan untuk melayani masyarakat,” ujarnya.

    Selain jadwal operasional ini, MRT Jakarta juga menyiapkan sejumlah program menarik bagi para pelanggan selama masa liburan.

    Program tersebut antara lain promo dan tarif Spesial Tiket di Aplikasi MyMRTJ dengan menggunakan blu by BCA Digital, AstraPay, i.saku dan GoPay, promo feeder.

    Baca: Warga Jakarta dan sekitarnya masih enggan gunakan transportasi publik

    Tak ketinggalan program berhadiah Marti Games THR berhadiah total Rp 15 juta periode 6-15 April 2024.

    Pada periode libur lebaran 2024, MRT Jakarta mencatat angka keterangkutan sepanjang 6-15 April 2024 mencapai 376.448 orang.

    Adapun total pengguna MRT pada hari pertama lebaran mencapai 25.586 orang dan hari kedua mencapai 45.037 orang.

  • Berlebaran Ramah Lingkungan: Hindari Sisa Makanan dari Hidangan Lebaran

    Berlebaran Ramah Lingkungan: Hindari Sisa Makanan dari Hidangan Lebaran

    7cloud.asia – Masyarakat Indonesia merayakan Idulfitri atau Lebaran dengan kegiatan saling memaafkan, kunjungan ke kerabat maupun teman.

    Semarak hari raya Lebaran juga berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya, misalnya aktivitas pemudik yang memadati jalanan ataupun transportasi umum.

    Beberapa daerah turut mengadakan pesta kembang api pada semalam sebelum Idulfitri untuk menandai Ramadan yang berakhir.

    Namun, di balik kesemarakan ini, Lebaran yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan baik justru bisa berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Kita perlu mencegah dampak tersebut agar aktivitas berlebaran bisa sesuai dengan tujuan aslinya, yaitu kembali ke fitrah atau kesucian.

    Herlina Agustin, peneliti pusat komunikasi Lingkungan Universitas Padjadjaran dalam tulisannya di The Conversation pada 2023 lalu menyebut, salah satu masalah lingkungan yang dipicu perayaan lebaran adalah belanja berlebih yang kemudian memicu sampah makanan.

    Baca: Perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan.

    Arab Saudi menempati peringkat pertama, sedangkan Amerika Serikat peringkat ketiga dalam urusan sampah makanan.

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75 persen dari total sampah Indonesia.

    Limbah makanan ini menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 213-531 triliun per tahun, atau 5 persen dari produk domestik bruto Indonesia.

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut.

    Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Baca: Gerakan mudik minim sampah

    Sisa makanan yang membusuk juga mengeluarkan gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

    Jumlah limbah makanan yang fantastis ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain kurangnya pengetahuan untuk mengelola makanan dengan baik ataupun penyimpanannya.

    Ada juga karena perilaku belanja berlebihan, ataupun kebiasaan memasak makanan dalam jumlah banyak.

    Pemerintah seharusnya mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang makanan dengan melakukan berbagai kampanye.

    Misalnya, kampanye untuk tidak boros saat berbelanja atau memproduksi makanan berlebih yang berisiko meningkatkan limbah dan gas rumah kaca.

    Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk mengelola distribusi makanan bagi orang yang membutuhkan.

    Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang dermawan. Supaya lebih bermanfaat, sifat ini dapat dikelola dengan lebih profesional.

  • Transjakarta Sesuaikan Jadwal dan Rute Layanan Selama Liburan Lebaran 2025

    Transjakarta Sesuaikan Jadwal dan Rute Layanan Selama Liburan Lebaran 2025

    7cloud.asia – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) akan menyesuaikan rute layanan selama liburan dan cuti bersama Lebaran 2025.

    Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta Ayu Wardhani menyebutkan layanan pada hari H Lebaran, Transjakarta baru mulai beroperasi pukul 09.00 WIB, yang sebelumnya mulai pukul 05.00 WIB.

    “Penyesuaian layanan ini untuk memberikan kesempatan kepada petugas kami untuk melaksanakan salat Id dan berkumpul bersama keluarga terlebih dahulu sebelum kembali bertugas,” ungkap Ayu di Jakarta pada Sabtu (29/3/2025)

    Ayu menuturkan bahwa Transjakarta juga menyediakan layanan menuju ke tempat-tempat wisata selama liburan Lebaran, baik layanan reguler yang terdiri atas bus rapid transit (BRT), non-BRT, maupun layanan khusus wisata Transjakarta.

    Ia lantas menyebutkan sejumlah rute reguler menuju tempat-tempat wisata di Jakarta, antara lain:

    Baca: Layanan MRT Jakarta berjalan normal saat libur Lebaran

    1. Rute Menuju Monas
    Koridor 1 (Blok M-Kota), Rute 1A (Pantai Maju-Balai Kota), Rute 1P (Senen-Blok M), Koridor 2 (Pulo Gadung-Monumen Nasional), Rute 2A (Pulo Gadung-Rawa Buaya), Koridor 3 (Kalideres-Monuman Nasional Via Veteran), dan Rute 5C (Cililitan-Juanda).

    Selanjutnya Rute 5H (Juanda- Ancol), Rute 6A (Ragunan-Balai Kota via Kuningan), Rute 6B (Ragunan-Balai Kota via Semanggi), 7F (Kampung Rambutan-Juanda via Cempaka Putih), dan 14A (Monumen Nasional-JIS).

    2. Rute Menuju Ragunan
    Koridor 6 (Ragunan-Galunggung), Rute 6A (Ragunan-Balai Kota via Kuningan), Rute 6B (Ragunan-Balai Kota via Semanggi, Rute 6N (Ragunan-Senayan Bank DKI), Rute 5N (Ragunan-Kampung Melayu), Rute 6N (Ragunan-Blok M via Kemang), dan Rute 7E (Kampung Rambutan-Ragunan).

    3. Rute Menuju Kota Tua
    Koridor 1 (Blok M-Kota), Rute 3H (Damai-Kota), Koridor 12 (Pluit-Tj. Priok), Rute 1A (Pantai Maju-Balai Kota), dan Rute 12B (Pluit-Senen).

    4. Rute Menuju Pantai Indah Kapuk (PIK)
    Rute 1A (Pantai Maju-Balai Kota).

    Baca: Warga Jakarta dan sekitarnya masih enggan gunakan transportasi publik

    5. Rute Menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
    Rute 7D (TMII-Pancoran).

    Lebih lanjut Ayu mengatakan bahwa pelanggan juga bisa berlibur keliling kota Jakarta menggunakan layanan khusus wisata Transjakarta dengan rute-rute seperti BW1 Sejarah Jakarta, BW 2 Monas Explorer, BW 4 Pencakar Langit, dan BW 9 Kota Tua PIK.

    Untuk layanan reguler selama liburan Lebaran, kata dia, akan beroperasi pada pukul 05.00 hingga 22.00 WIB dan beroperasi 24 jam di koridor-koridor utama.

    “Untuk layanan Bus Wisata Transjakarta beroperasi pada pukul 08.00 hingga 18.00 WIB,” ujar Ayu.

  • Jumlah Orang yang Mudik Lebaran Tahun Ini Menurun

    Jumlah Orang yang Mudik Lebaran Tahun Ini Menurun

    7cloud.asia – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan jumlah pemudik Lebaran 2025 atau Idulfitri 1446 Hijriah diprediksi turun dibandingkan tahun 2024.

    Dalam perkiraan Kemenhub penurunan jumlah warga yang mudik pada Lebaran 2025 ini diprediksi mencapai 24 persen dari total 193,6 juta orang pada tahun lalu.

    Hal ini berarti ada sekitar 46,4 juta warga yang diperkirakan tidak mudik pada Lebaran 2025 ini.

    “Benar, besaran potensi pergerakan masyarakat saat mudik Lebaran tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu,” kata Kabiro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Budi Rahardjo, Sabtu (22/3/2025), dikutip dari Antaranews.com.

    Adapun menurut survei yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub bersama akademisi, menyatakan jumlah pemudik Lebaran 2025 diperkirakan mencapai 146,48 juta orang.

    Baca: Meski mahal dan merepotkan orang tetap mudik saat Lebaran

    Berdasarkan survei itu, terlihat jumlah pemudik pada Lebaran 2025 ini menurun 46,8 juta orang dibandingkan tahun lalu.

    Survei yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub menggambarkan potensi pergerakan masyarakat pada masa angkutan Lebaran. Pengambilan data dilakukan pada pertengahan Februari 2025.

    Hasill survei tersebut dikonfirmasi Juru Bicara Kemenhub Elba Damhuri. Namun, dia menyatakan survei yang telah dilakukan tidak mendalami penyebab turunnya jumlah proyeksi pemudik tahun ini.

    “Jumlah pemudik diperkirakan 146,48 juta orang seperti hasil survei Kemenhub. Survei tidak mendalami apa penyebab naik turunnya pemudik. Nah, kapasitas kita tidak untuk menguraikan penyebab turunnya ini. Jadinya (nanti) berandai-andai,” ucap Elba.

    Baca: Tradisi mudik sudah dikenal berabad silam

    Lima alasan pemudik turun
    Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengungkapkan lima alasan utama berkurangnya pemudik Lebaran 2025.

    Pertama, jarak libur Natal dan tahun baru dengan Idulfitri kali ini sangat berdekatan.

    “Sehingga masyarakat yang sudah berlibur saat Nataru tidak lagi merencanakan liburan atau pulang kampung saat Idulfitri,” ujar Sarman dalam keterangan tertulis, Selasa (18/3/2025).

    Kedua, Sarman melihat ada pengaruh dari kondisi ekonomi Indonesia. Ia menilai banyak masyarakat memilih berhemat, terlebih mesti menyiapkan biaya untuk tahun ajaran baru dalam beberapa bulan ke depan.

    Ketiga, saat ini tengah marak kasus pemutusan hubungan kerja (PHK). Lalu, keempat, terjadi penurunan daya beli masyarakat.

    “Kelima, faktor cuaca yang turut mempengaruhi niat masyarakat untuk pulang kampung,” katanya.

  • Tren Konsumsi Lebaran Menurun Jadi Indikasi Kondisi Ekonomi yang Tidak Baik-baik Saja

    Tren Konsumsi Lebaran Menurun Jadi Indikasi Kondisi Ekonomi yang Tidak Baik-baik Saja

    7cloud.asia – Ekonom dari Sekolah Vokasi UGM, Yudistira Hendra Permana mengungkapkan, tren konsumsi belanja masyarakat menurun jelang Lebaran tahun ini. Analisis tersebut merujuk pada jumlah pemudik yang mengalami penurunan.

    Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik diperkirakan hanya 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen dari penduduk Indonesia.

    Angka itu turun 24 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta pemudik.

    Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) juga menyebutkan asumsi perputaran uang di libur Idul Fitri 2025 diprediksi mencapai Rp 137.975 triliun. Jumlah tersebut menurun dibanding perputaran uang selama Idul Fitri 2024 lalu mencapai Rp 157,3 triliun,

    Baca: Jumlah orang yang mudik Lebaran 2025 menurun

    Yudistira mengungkapkan trem konsumsi Lebaran yang menurun disebabkan menurunnya daya beli masyarakat. Menurutnya, penurunan daya beli ini juga tercermin dari data tren deflasi yang terjadi pada bulan Februari.

    Dilansir di laman resmi UGM, ugm.ac.id, Yudistira juga menyoroti beberapa indikator ekonomi lain yang mengkhawatirkan.

    “Perbedaan tren konsumsi ini berkaitan dengan tren deflasi yang berlangsung hingga sekarang, melemahnya nilai tukar, kenaikan harga emas yang tinggi, penurunan IHSG, itu adalah hal-hal yang mengindikasikan ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja,” jelasnya.

    Permasalahan ekonomi yang kompleks ini, menurut Yudistira, disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Banyaknya permasalahan sosial, politik, dan ekonomi yang tidak kunjung diselesaikan dengan baik.

    Baca: Meski mahal dan merepotkan orang tetap mudik saat Lebaran

    Khususnya, di tengah tekanan ekonomi global serta efisiensi anggaran yang arahnya masih sulit dipahami masyarakat awam.

    “Kegagalan dalam mengkoordinasi hal-hal tersebut menjadi akumulatif dan menyebabkan apa yang kita alami di hari ini,” imbuhnya.

    Yudistira menekankan bahwa permasalahan ekonomi ini dapat menimbulkan efek simultan yang merugikan.

    Potensi dampak tersebut berpengaruh besar terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kalau merujuk pada UMKM, ini yang nantinya akan ada kekhawatiran.

    “UMKM jumlahnya banyak, kuantitas orang bekerja di sektor tersebut juga besar sehingga ketika satu pukulan ekonomi terjadi pada sektor perdagangan kecil, maka orang-orang terdampak juga akan banyak sekali,” jelas Yudistira.

  • Pemprov DKI Jakarta Siapkan 229 Bus Gratis untuk Arus Balik Lebaran

    Pemprov DKI Jakarta Siapkan 229 Bus Gratis untuk Arus Balik Lebaran

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta lewat Dinas Perhubungan akan menyediakan 229 bus gratis untuk arus balik Lebaran 2025.

    “Mereka berlebaran dengan baik dan kemudian kembali ke Jakarta nanti tanggal 6 April 2025 dengan bus balik ke Jakarta total sebanyak 229 unit bus,” kata Kepala Dinas Perhubungan Jakarta Syafrin Liputo di Terminal Kampung Rambutan, Kamis (27/3/2025).

    Selain soal penyediaan bus gratis untuk arus balik Lebaran, Syafrin juga menyoroti soal kendala yang dihadapi para peserta mudik gratis tahun ini.

    Dia mengakui sistem pendaftaran ulang sempat mengalami kendala tadi pagi. Namun, permasalahan itu bisa segera diatasi dan seluruh peserta mudik gratis Pemprov Jakarta berhasil diberangkatkan ke kampung halamannya masing-masing.

    Baca: Terjadi 175 kasus kecelakaan selama arus mudik Lebaran 2025

    Kendalanya adalah karena bersamaan datang di Monas sekian ribu orang, sehingga sistem yang disediakan Dishub sempat down. Sehingga QR Code yang dibagikan sempat tidak terbaca oleh sistem.

    “Tapi kemudian ini kita lakukan perbaikan dan sekarang semuanya bisa terselenggara dengan baik. Seluruh penumpang tidak ada yang tidak terangkut, semuanya terangkut,” kata Syafrin.

    Sebelumnya, (Pemprov) Jakarta juga menggelar mudik gratis untuk masyarakat pulang ke kampung halamannya menyambut Lebaran 2025.

    Para peserta mudik gratis diberangkatkan menggunakan bus dari Silang Monas Sisi Barat Jakarta, menuju 20 kota yang tersebar di enam provinsi di Jawa dan Sumatra.

    “Pemudik akan berangkat menuju 20 kota, enam provinsi,” ucap Gubernur Jakarta Pramono saat melepas peserta mudik gratis di Monas, Kamis (27/3/2025)

    Baca: Jumlah warga yang mudik pada Lebaran 2025 berkurang

    Adapun 20 kota di enam provinsi yang menjadi tujuan program mudik gratis Pemprov Jakarta yakni sebagai berikut:

    Sumatera: Bandar Lampung, Palembang

    Jawa Barat: Tasikmalaya, Kuningan

    Jawa Tengah: Tegal, Pekalongan, Semarang, Kebumen, Cilacap, Purwokerto, Wonosobo Yogyakarta

    Jawa Timur: Madiun, Kediri, Jombang, Malang, Sidoarjo

    Jawa Tengah dan DIY: Solo, Wonogiri, Sragen

    Ada 26.392 peserta yang mengikuti program mudik gratis Pemprov Jakarta tahun ini, meningkat 11 persen dari target awal 23.000 orang.

  • Tradisi Andilan Potong Kebo: Semangat Gotong Royong Warga Betawi Sambut Lebaran

    Tradisi Andilan Potong Kebo: Semangat Gotong Royong Warga Betawi Sambut Lebaran

    7cloud.asia – Masyarakat Betawi punya tradisi unik menyambut datangnya hari raya Idul Fitri atau Lebaran, yaitu Andilan Potong Kebo.

    Lebaran Betawi merupakan tradisi yang dilaksanakan sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Idulfitri sekaligus wadah untuk mempererat persaudaraan dan melestarikan budaya.

    Adapun Andilan Potong Kebo adalah tradisi urunan masyarakat Betawi untuk membeli kerbau, yang kemudian disajikan dan disantap bersama sebagai ajang silaturahmi saat Lebaran.

    Masyarakat Betawi biasanya andilan untuk membeli kerbau sebulan sebelum Lebaran. Kerbau itu dipelihara agar tumbuh lebih besar.

    Dua hari jelang Lebaran, kerbau tersebut dipotong dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat yang turut andilan sesuai dengan besaran uang patungan masing-masing.

    Sayangnya, tradisi Andilan Potong Kebo saat ini mulai ditinggalkan. Karena itu wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mendukung dihidupkannya kembali tradisi ini.

    Baca: Cara orang Betawi menyambut Bulan Syawal

    “Andilan, kalau dalam bahasa Betawi berarti patungan. Saya berharap tahun depan, minimal di enam wilayah DKI Jakarta, Andilan Potong Kebo ini harus ada,“ ujarnya saat menghadiri tradisi Andilan Potong Kebo sebagai acara pembuka Lebaran Betawi 2025 di Agro Edukasi Wisata Ragunan, Pasar Minggu, Sabtu (29/3/2025).

    Dia menambahkan, jika satu wilayah menyembelih 10 ekor kerbau, Insyaallah Wakil Gubernur masih bisa mendukung itu.

    ”Supaya masyarakat bisa merasakan kembali bahwa Hari Raya harus dirayakan dengan bahagia,” ujarnya.

    Rano Karno yang besar dalam tradisi Betawi itu mengaku terharu saat memasuki area digelarnya Andilan Potong Kebo.

    Ia sampai menitikkan air mata karena mengingat masa kecilnya di Kemayoran, saat orang tuanya bersama warga Betawi lainnya patungan untuk membeli dan memotong kerbau.

    “Air mata menetes melihat tradisi ini masih ada. Memang tugas kita untuk melanjutkannya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Dulu sapi itu harganya mahal, makanya yang bisa dibeli adalah kerbau. Karena harga kerbau mahal, maka dibeli secara patungan,” kenangnya.

    Baca: Dodol Betawi jadi hidangan lebaran khas Betawi 

    Rano menambahkan ada semangat berkurban, nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian sosial dalam tradisi Andilan Potong Kebo ini.

    “Menjelang Lebaran kita menyembelih kerbau, lanjutnya, dan memilih tempat-tempat di mana masyarakatnya membutuhkan daging, lalu kita andilan di sana,“ ujarnya.

    Wagub Rano secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta periode 2013–2018, Fauzi Bowo, bersama Majelis Kaum Betawi yang telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan Lebaran Betawi.

    “Saya juga berterima kasih kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat yang terus menjaga budaya Betawi serta memperkuat keberagaman dan kerukunan di Jakarta. Inilah bentuk gotong royong masyarakat Jakarta,” tuturnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Fauzi Bowo selaku Ketua Dewan Adat Betawi mengatakan, tradisi Andilan Potong Kebo yang sudah mulai terlupakan dapat digelar kembali berkat dukungan penuh dari Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno.

    Dia menilai Pramono Anung dan Rano Karno memiliki komitmen kuat untuk merawat dan mengembangkan budaya Betawi.

    ”Sekali lagi, tradisi budaya Betawi ini tidak bisa bertumbuh kembang dan berkesinambungan tanpa dukungan pemerintah. Mudah-mudahan dengan komitmen mereka berdua, tradisi Betawi di Jakarta dapat terus berkembang,” jelas Fauzi Bowo.

    Baca: Mengapa ketupat menjadi hidangan wajib saat Lebaran