Tag: mikroplastik

  • BRIN Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta, Ini Respon Dinas Lingkungan Hidup

    BRIN Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta, Ini Respon Dinas Lingkungan Hidup

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan, akan menindaklanjuti hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait temuan kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

    Selain berupaya mengintensifkan pengawasan pemanfaatan plastik, Pemprov DKI Jakarta akan berkomunikasi dengan BRIN untuk mencari upaya inovatif mengurangi dampak lingkungan.

    Volume sampah plastik di Jakarta sangat signifikan; pada tahun 2022, plastik menyumbang 22,95 persen dari total komposisi sampah di DKI Jakarta, yang mencapai 22.953 ton berdasarkan data tahun tersebut.

    Selain itu, pada tahun 2019, sekitar 1.000 ton dari total 7.500 ton sampah harian di Jakarta adalah sampah plastik, terutama plastik sekali pakai.

    Kepala Dinas LH DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, pihaknya tengah memperkuat program pengendalian sampah plastik dari hulu hingga hilir, termasuk pemantauan kualitas udara dan air hujan secara terpadu.

    “Kami memandang temuan BRIN ini sebagai alarm lingkungan yang perlu direspons cepat dan kolaboratif. Polusi plastik kini bukan hanya urusan laut atau sungai, tetapi sudah sampai di langit Jakarta,” ujarnya, Sabtu (18/10/2025).

    Baca: BRIN temukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Menurut Asep, Pemprov DKI Jakarta selama ini telah menjalankan sejumlah kebijakan untuk menekan sampah plastik sekali pakai.

    Di antaranya melalui Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan, serta perluasan program Jakstrada Persampahan yang menargetkan 30 persen pengurangan sampah dari sumbernya.

    Selain itu, lanjut Asep, Pemprov DKI Jakarta juga terus memperluas bank sampah, TPS 3R, dan inisiatif daur ulang berbasis komunitas agar limbah plastik tidak lagi berakhir di lingkungan terbuka.

    “Upaya pengurangan plastik harus dilakukan dari sumbernya — mulai dari rumah tangga, industri, hingga sektor jasa. Setiap orang punya peran,” tambahnya.

    Sebagai tindaklanjut, Asep mengaku, pihaknya saat ini tengah berkoordinasi dengan BRIN untuk memperluas pemantauan mikroplastik dalam udara dan air hujan sebagai bagian dari sistem Jakarta Environmental Data Integration (JEDI), platform pemantauan kualitas lingkungan berbasis data.

    Baca: Siswa diajak bawa tumbler untuk kurangi sampa plastik

    Hasil pengukuran ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih kuat dalam pengendalian polusi plastik di udara.

    Lebih lanjut, Asep mengatakan Pemprov DKI Jakarta akan memperkuat kampanye publik bertajuk “Jakarta Tanpa Plastik di Langit dan Bumi” untuk mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan tidak membakar limbah sembarangan.

    “Langit Jakarta sedang mengingatkan kita untuk lebih bijak mengelola bumi. Perubahan perilaku adalah kunci,” tegasnya.

    Pemprov DKI juga mengajak dunia usaha, lembaga riset, dan komunitas lingkungan untuk bersama memperkuat aksi nyata pengurangan plastik dan inovasi daur ulang.

    “Kami terbuka untuk kolaborasi riset, teknologi filtrasi, hingga pengembangan produk ramah lingkungan. Upaya menjaga langit bersih dari mikroplastik adalah tanggung jawab bersama,” tukasnya.

    Baca: Sistem guna ulang jadi solusi mengatasi krisis sampah plastik

    Hal senada diutarakan Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali. Dia mengemukakan bahwa Pemprov DKI sangat responsif terhadap berbagai hasil riset yang menyoroti kualitas lingkungan, termasuk air, udara, dan tanah.

    Menurutnya, pemerintah daerah aktif mengendalikan penggunaan plastik berkualitas rendah yang umumnya dihasilkan dari proses daur ulang sederhana. Jenis plastik ini banyak dipakai masyarakat, mulai dari pasar tradisional, warung, hingga pedagang kaki lima.

    “Plastik jenis ini memang mudah terurai, yang sekilas tampak baik bagi lingkungan. Namun, justru berkontribusi besar terhadap peningkatan mikroplastik di alam,” ujarnya.

    Ia menambahkan, Pemprov DKI tidak sedang “bermusuhan” dengan plastik. Namun demikian, Ia mengingatkan tentang dampak lingkungan akibat dari sampah plastik.

    “Kita tidak anti terhadap plastik, karena plastik sudah menjadi bagian dari peradaban modern. Yang kita tolak adalah plastik yang mencemari lingkungan,” tandasnya.

  • BRIN Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan di Jakarta, Ini Penyebabnya

    BRIN Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan di Jakarta, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan adanya fenomena partikel mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

    Partikel tersebut diduga berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, hingga sisa pembakaran sampah plastik yang dilakukan secara terbuka.

    Profesor Riset BRIN, Muhammad Reza Cordova menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan BRIN menunjukkan mikroplastik telah terdeteksi dalam air hujan di wilayah Jakarta dengan konsentrasi rata-rata 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari.

    “Air hujan yang kita anggap bersih ternyata membawa partikel plastik mikroskopis dari udara. Prosesnya sangat cepat kurang dari satu detik partikel bisa larut dalam air hujan,” ungkapnya dalam diskusi yang digelar di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10/2025).

    Reza menuturkan, sumber mikroplastik di udara berasal dari berbagai aktivitas manusia, mulai dari penggunaan pakaian berbahan sintetis seperti polyester dan nylon, hingga pembakaran sampah secara terbuka. Rendahnya tingkat pengumpulan sampah di wilayah penyangga ibu kota turut memperparah kondisi ini.

    “Pembakaran sampah terbuka melepaskan mikroplastik dan zat berbahaya seperti dioksin ke udara, yang kemudian dapat terhirup manusia,” ujarnya.

    Baca: BRIN ingatkan bahaya polusi sampah plastik

    Ia menambahkan, mikroplastik memiliki sifat seperti spons yang dapat menyerap zat lain, termasuk logam berat dan mikroorganisme.

    “Penelitian kami di 18 kota di Indonesia menunjukkan seluruh sampel udara mengandung mikroplastik. Ini alarm penting bagi semua pihak bahwa udara yang kita hirup kini mengandung partikel plastik hasil aktivitas manusia,” tegas Reza.

    Dalam kesempatan yang sama, fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko menambahkan, mikroplastik termasuk dalam kategori aerosol, yaitu partikel padat atau cair yang tersuspensi di udara.

    “Partikel aerosol seperti mikroplastik bisa berpindah mengikuti arah angin dan pola cuaca. Ia dapat jatuh ke permukaan melalui deposisi kering maupun terbawa air hujan melalui deposisi basah,” paparnya.

    Menurut Dwi, mikroplastik yang ditemukan di Jakarta bisa saja berasal dari wilayah lain, dan sebaliknya, polutan di Jakarta juga berpotensi berpindah ke daerah lain.

    “Karena itu, penanganan masalah ini harus dilakukan lintas wilayah dan lintas sektor,” ujarnya.

    Baca: Air galon isi ulang rentan tercemar bakteri dan mikroplastik

    Sementara, Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan P2P Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Rahmat Aji Pramono menjelaskan bahwa mikroplastik merupakan benda asing yang dapat menimbulkan gangguan bila masuk ke tubuh melalui udara atau makanan.

    “Partikel kecil ini bisa memicu peradangan pada saluran pernapasan dan pencernaan. Jika berukuran sangat kecil, mikroplastik dapat menembus aliran darah dan memengaruhi organ vital,” terangnya.

    Rahmat mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah, memperbaiki sirkulasi udara, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

    “Efek mikroplastik bersifat jangka panjang, jadi pencegahan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari,” katanya.

    Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta, Rian Sarsono menilai bahwa hasil riset BRIN perlu direspons dengan langkah kesiapsiagaan masyarakat.

    “Informasi ilmiah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar masyarakat lebih paham langkah pencegahan. Kami terus mengedukasi warga melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” tukasnya.

    Baca: Dampak mikroplastik pada kesehatan

    Rian menambahkan, pihaknya akan terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bukan hanya untuk mencegah banjir, tetapi juga membantu mengurangi polutan udara.

    “Hujan bisa menjadi mekanisme alami untuk menurunkan partikel berbahaya seperti mikroplastik dari atmosfer,” tandasnya.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto menilai, pentingnya langkah antisipatif lantaran hasil riset ini menjadi pengingat bahwa polusi di Jakarta sudah memasuki fase yang lebih kompleks dan membutuhkan penanganan berbasis data ilmiah.

    “Kami telah berkolaborasi dengan BRIN dan sejumlah pemangku kepentingan untuk memantau mikroplastik, salah satunya di perairan Teluk Jakarta dan sungai-sungai utama,” ujar Asep

    Asep menjelaskan, pihaknya terus melakukan berbagai langkah pengendalian lingkungan, seperti pengawasan industri, uji emisi kendaraan, kampanye pengurangan plastik sekali pakai, serta edukasi publik tentang pemilahan sampah.

    “Kami juga memperkuat penerapan Pergub Nomor 142 Tahun 2019 tentang penggunaan kantong belanja ramah lingkungan,” tambahnya.

    Diakui Asep, pihaknya juga akan melanjutkan riset bersama BRIN, perguruan tinggi, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memantau kualitas air hujan dan mengkaji dampak mikroplastik terhadap kesehatan masyarakat.

    “Kebijakan pengurangan plastik sekali pakai akan terus diperkuat, sejalan dengan kampanye gaya hidup minim plastik di tingkat rumah tangga dan komunitas,” jelas Asep.

  • Hujan yang Mengandung Mikroplastik Juga Terjadi di Negara Lain, Bukan Berarti Kita Bisa Mengabaikannya

    Hujan yang Mengandung Mikroplastik Juga Terjadi di Negara Lain, Bukan Berarti Kita Bisa Mengabaikannya

    7cloud.asia – Fenomena hujan yang mengandung partikel mikroplastik dan menjadi perhatian publik ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di negara lain.

    Profesor Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova mengungkapkan bahwa keberadaan mikroplastik di udara telah ditemukan secara global, termasuk di Jerman, Jepang, dan Korea.

    “Hampir semua penelitian menunjukkan adanya mikroplastik di udara. Di luar negeri saja ada, apalagi di Indonesia yang dipengaruhi angin muson,” tukasnya, saat media briefing terkait isu mikroplastik dan fenomena cuaca ekstrem di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10/2025).

    Reza menjelaskan, sumber utama mikroplastik berasal dari penggunaan plastik sekali pakai hingga limbah rumah tangga.

    Baca: BRIN temukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Fenomena hujan yang mengandung mikroplastik ini harus menjadi alarm peringatan agar masyarakat dan pemerintah lebih bijak menggunakan plastik sekali pakai.

    Reza menambahkan, langkah paling efektif untuk mengatasi fenomena hujan mikroplastik ini adalah dengan menghentikan pencemaran dari sumbernya.

    “Solusi tercepatnya adalah mengurangi produksi dan konsumsi plastik sekali pakai. Sementara untuk perlindungan pribadi, masyarakat bisa menggunakan masker sebagai langkah pencegahan awal,” ungkapnya.

    Reza menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi paparan mikroplastik ini.

    “Masalah mikroplastik bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Semua harus bergerak bersama agar dampaknya tidak semakin meluas,” terangnya.

    Baca: Ekosistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Pemerintah bisa mengambil peran dengan kebijakan yang membatasi produksi dan penggunaan plastik sekali pakai, pelaku usaha harus bertanggung jawab dengan sampah plastik yang diproduksinya.

    Sementara masyarakat diajak untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan mulai menerapkan konsep guna ulang.

    Sementara itu, Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko menerangkan, fenomena mikroplastik tidak hanya terdeteksi di wilayah Jabodetabek, tetapi juga berpotensi tersebar di seluruh Indonesia, tergantung arah dan kekuatan angin.

    “Setiap proses pembakaran yang melibatkan bahan mengandung plastik dapat menghasilkan partikel debu yang mengandung mikroplastik. Selama proses itu ada dan terjadi angin atau cuaca, partikel tersebut bisa terbawa ke mana saja sesuai arah angin dominan pada saat itu,” pungkasnya.

  • Cegah Paparan Mikroplastik, Menteri Lingkungan Hidup Minta Pengelola TPA Segera Lakukan Capping

    Cegah Paparan Mikroplastik, Menteri Lingkungan Hidup Minta Pengelola TPA Segera Lakukan Capping

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq meminta pengelola Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jabodetabek segera melakukan capping atau menutup sampah agar tidak mencemari lingkungan sekitar, termasuk menyebarkan mikroplastik.

    Dalam peninjauan ke TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Jumat (24/10/2025), Hanif menyampaikan apresiasi langkah pemerintah daerah (pemda) setempat yang sudah melakukan capping tumpukan sampah di TPA open dumping.

    Sebelumnya TPA Jatiwaringin menjadi salah satu lokasi terkena sanksi oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) karena masih menerapkan sistem pembuangan terbuka atau open dumping.

    “Saya akan memberikan waktu kepada semua pengelola TPA di Jabodetabek untuk segera memenuhi arahan dari Menteri, segera melakukan capping terhadap open dumping-nya,” kata Hanif seperti dikutip Antaranews.com

    Langkah itu diperlukan, kata dia, termasuk untuk menekan mikroplastik menyebar ke lingkungan dan pada akhirnya bisa berakhir masuk ke tubuh manusia yang dapat menyebabkan beragam masalah kesehatan.

    Baca: BRIN temukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Capping atau menutup sampah perlu dilakukan sembari menunggu proses penyelesaian TPA open dumping yang banyak ditemukan di berbagai wilayah.

    Capping bertujuan menghindari air hujan masuk ke sampah tercampur, sehingga menghasilkan lindi yang mencemari lingkungan, mencegah sampah berhamburan akibat tertiup angin, serta mengontrol pelepasan gas metana dari tumpukan sampah.

    “Ini mikroplastiknya kalau tidak diginiin, akan jatuh ke air, larut sampai ke tempat kita. Kalau tidak seperti itu dia akan ke udara atau ke tanah dan semua bisa terjadi ke kita. Jadi kita harus cegah sebisanya,” tutur Menteri Hanif.

    Mikroplastik timbul dari proses degradasi tidak sempurna dari sampah plastik, selain juga berasal dari serat yang tergerus dari berbagai bahan seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan.

    Mikroplastik dapat tersebar melalui berbagai media mulai dari air sampai dengan udara.

    Baca: Gunakan tumbler untuk kurangi mikroplastik

    Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova bahkan baru-baru ini bahkan menjelaskan bahwa kandungan mikroplastik sudah ditemukan di dalam air hujan di wilayah Jakarta.

    Fenomena itu terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri, kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama hujan.

    Fenomena ini biasa dikenal dengan istilah atmospheric microplastic deposition atau pembuangan mikroplastik ke udara.

    Cemaran mikroplastik ini bisa terhirup ke dalam tubuh manusia/makhluk hidup dan memicu sejumlah masalah kesehatan termasuk menyebabkan kanker.

    Penanganan sampah plastik di berbagai kota di Indonesia saat ini masih mengundang kritik dari orgaisasi lingkungan. Hingga hari ini, pemerintah belum menunjukkan sikap tegas untuk mengurangi sampah plastik dari hulunya.

    Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jumlah sampah plastik menempati posisi kedua sebesar 19,52 persen dari total timbulan sampah nasional 34,9 juta ton yang dilaporkan pada 2024.

    Baca: Sistem guna ulang untuk kurangi mikroplastik

  • Pakar UGM Ingatkan Ancaman Senyap Mikroplastik bagi Kesehatan Manusia

    Pakar UGM Ingatkan Ancaman Senyap Mikroplastik bagi Kesehatan Manusia

    7cloud.asia – Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang adanya mikroplastik dalam air hujan di Jakarta menandai fase baru pencemaran lingkungan yang berpotensi mengancam kesehatan manusia.

    Hasil riset BRIN menunjukkan mikroplastik tersebut berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan, hingga sisa pembakaran sampah plastik. Mikroplastik yang melayang di udara kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama air hujan.

    Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Dr. Annisa Utami Rauf mengingatkan ancaman mikroplaastik pada kesehatan manusia.

    “Ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia sangat besar. Pada studi hewan, partikel ini sudah ditemukan di beberapa organ dan berpotensi menyebabkan gangguan reproduksi,” ungkap Aninsa , Jumat (24/10/2025).

    Dilansir ugm.acid, Annisa mengatakan risiko paparan mikroplastik memang lebih tinggi di wilayah perkotaan yang padat penduduk.

    Baca: Pemicu paparan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai berkontribusi besar terhadap akumulasi partikel plastik di udara dan lingkungan. Kesadaran masyarakat untuk membatasi konsumsi plastik harus ditingkatkan agar dampaknya dapat ditekan.

    “Risikonya memang tinggi di kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta. Namun, upaya mengganti plastik dengan bahan ramah lingkungan sudah mulai terlihat di beberapa tempat, dan hal ini perlu terus didukung,” jelasnya.

    Sumber utama paparan mikroplastik di kehidupan sehari-hari berasal dari kemasan makanan dan minuman berbahan plastik.

    Air dalam botol sekali pakai, wadah makanan panas, serta lapisan plastik pada produk makanan berpotensi menjadi media perpindahan mikroplastik ke tubuh manusia.

    Menurut Annisa, gaya hidup praktis di kota membuat masyarakat sering tidak sadar terhadap bahaya tersebut.

    “Paparan paling tinggi biasanya dari makanan dan minuman yang dikemas plastik. Kebiasaan ini memang perlu diubah secara bertahap,” tuturnya.

    Sejumlah penelitian global juga telah menemukan keberadaan mikroplastik dalam darah dan organ manusia, termasuk sistem pencernaan. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa partikel plastik mampu masuk dan menetap di tubuh dalam jangka waktu lama.

    Baca: BRIN ingatkan bahaya polusi sampah plastik

    Meski begitu, Annisa menekankan bahwa bukti ilmiah mengenai dampak spesifik terhadap kesehatan manusia masih terus dikembangkan.

    “Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya akumulasi dalam tubuh manusia, tetapi efek pastinya belum jelas karena penelitian masih berlangsung,” ujarnya.

    Ia menambahkan, perbedaan respon tubuh terhadap paparan mikroplastik membuat penelitian di bidang ini semakin kompleks.

    Setiap individu bisa memiliki kemampuan berbeda dalam melepaskan atau menahan partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh. Karena itu, langkah pencegahan menjadi hal yang paling masuk akal dilakukan saat ini.

    “Kita belum tahu pasti seperti apa efeknya, tapi yang jelas upaya preventif harus dijalankan sedini mungkin,” kata Annisa.

    Dari sisi kesehatan masyarakat, tantangan terbesar dalam mengendalikan paparan mikroplastik adalah rendahnya kesadaran dan kebiasaan buruk dalam mengonsumsi di kalangan masyarakat.

    Baca: Ledakan sampah plastik memicu penjajahan gaya baru

  • Temuan Mikroplastik di Air Hujan di Jakarta: Kurangi Sampah Plastik Sekarang Juga!

    Temuan Mikroplastik di Air Hujan di Jakarta: Kurangi Sampah Plastik Sekarang Juga!

    7cloud.asia – Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Dr. Annisa Utami Rauf mengingatkan ancaman mikroplaastik pada kesehatan manusia.

    Dilansir ugm.acid, Annisa mengatakan risiko paparan mikroplastik memang lebih tinggi di wilayah perkotaan yang padat penduduk.

    Aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai berkontribusi besar terhadap akumulasi partikel plastik di udara dan lingkungan. Kesadaran masyarakat untuk membatasi konsumsi plastik harus ditingkatkan agar dampaknya dapat ditekan.

    Dari sisi kesehatan masyarakat, tantangan terbesar dalam mengendalikan paparan mikroplastik adalah rendahnya kesadaran dan kebiasaan buruk dalam mengonsumsi di kalangan masyarakat.

    Langkah sederhana seperti membawa tumbler, mengurangi penggunaan kantong plastik, dan memilih wadah non-plastik dapat menjadi titik awal perubahan.

    “Kita bisa mulai dari hal kecil seperti membawa botol minum sendiri atau menghindari kantong plastik saat berbelanja. Upaya kecil ini berkontribusi besar dalam menekan akumulasi mikroplastik di lingkungan,” ujarnya.

    Baca: Ledakan sampah plastik memicu penjajahan gaya baru

    Annisa juga menyoroti pentingnya tanggung jawab industri dalam pengelolaan limbah plastik. Produsen besar dinilai memiliki peran strategis untuk mengembangkan sistem pengembalian kemasan dan daur ulang produk.

    Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan pengurangan sampah dari hulu hingga hilir.

    “Produsen yang menghasilkan plastik semestinya punya program taking back trash. Pemerintah dan industri harus bekerja sama agar sampah tidak berakhir di tempat pembuangan akhir,” tegasnya.

    Ia menilai konsep reduce dan reuse masih menjadi strategi paling efektif dalam mengurangi potensi akumulasi mikroplastik di alam.

    Beberapa negara telah memulai langkah konkret dengan memberikan insentif bagi masyarakat yang mengembalikan produk lama atau mendaur ulang limbah plastik.

    Menurutnya, pola semacam itu dapat diterapkan di Indonesia dengan menyesuaikan konteks sosial dan budaya masyarakat.

    Baca: Gunakan tumbler efektif kurangi sampah plastik

    “Program pengurangan sampah bisa dilakukan lewat kolaborasi industri dan masyarakat. Intinya, sampah harus dikurangi dari sumbernya,” ujarnya.

    Keberadaan mikroplastik yang kini ditemukan di atmosfer, bahkan pada air hujan dan awan, memperlihatkan bahwa siklus plastik telah menjangkau seluruh lapisan lingkungan.

    Riset di Jepang menunjukkan partikel mikroplastik ditemukan di awan, menandakan bahwa polusi ini telah bersifat global.

    “Mikroplastik sudah menyebar di berbagai media lingkungan, termasuk udara dan awan. Kalau kita tidak menghentikan sumbernya, dampaknya bisa semakin luas,” kata Annisa.

    Sebagai penutup, Annisa menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif mulai dari individu hingga pembuat kebijakan.

    Pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret dengan membatasi penjualan air minum dalam kemasan plastik di sekolah atau fasilitas publik. Pendidikan sejak dini juga penting untuk membentuk perilaku ramah lingkungan.

    “Kesadaran harus dibangun dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kalau sejak anak-anak sudah dibiasakan membawa botol minum sendiri, kita bisa berharap generasi berikutnya lebih peka terhadap isu plastik,” tutupnya.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi masih diabaikan

  • Penelitian ECOTON dan SIEJ Ungkap Paparan Mikroplastik di 18 Kota

    Penelitian ECOTON dan SIEJ Ungkap Paparan Mikroplastik di 18 Kota

    7cloud.asia – Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) meneliti kontaminasi mikroplastik di udara ambien di 18 kota/kabupaten di Indonesia.

    Dalam penelitian yang dilakukan pada periode Mei–Juli 2025 tersebut menunjukkan lima kota dengan kontaminasi mikroplastik tertinggi adalah Jakarta Pusat (37 partikel/2jam/9 cm), Jakarta Selatan (30), Bandung (16), Semarang (13) dan Kupang (13).

    Adapun 18 kota yang terkontaminasi hujan mikroplastik adalah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Bandung, Semarang, Kupang, Denpasar, Jambi, Surabaya, Palembang, Pontianak, Aceh Utara, Sumbawa, Palu, Sidoarjo, Gianyar, Solo, Bulukumba dan Malang

    Dilansir di laman resmi ECOTON, tingginya kontaminasi mikroplastik di udara Jakarta diduga menjadi pemicu kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta, seperti diungkap peneliti BRIN beberapa waktu lalu.

    ”Tingginya mikroplastik di udara Jakarta berdampak pada tingginya kadar mikroplastik dalam air hujan, karena air hujan menyerap material di atmosfer udara sehingga mikroplastik yang ada di udara tertangkap air hujan dan larut di dalamnya,” ujar kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON, Rafika Aprilianti.

    Rafika menjelaskan, mikroplastik adalah potongan kecil plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Permukaannya mudah mengikat zat beracun di sekitarnya, seperti logam berat dan bahan kimia berbahaya lainnya.

    Baca: Temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta harus jadi peringatan

    Karena itu, mikroplastik bisa menjadi hingga 106 kali lebih beracun dibandingkan logam berat tunggal, sebab membawa campuran berbagai polutan sekaligus” ujarnya.

    Rafika memaparkan jenis mikroplastik yang ditemukan berupa dua jenis mikroplastik dominan yaitu serat fiber dan fragmen selain jenis filamen.

    Jenis polimer atau mikroplastik yang ditemukan di udara jenisnya lebih beragam dibandingkan jenis polimer yang ditemukan di air hujan.

    Setidaknya ada 5 (lima) jenis polimer yang ditemukan dalam air hujan yaitu poliester, nilon, polietilena, polipropilen dan polibutadien.

    Selain lima jenis mikroplastik tersebut, peneliti Ecoton dan SEIJ juga menemukan polimer lain di udara yaitu PTFE, epoxy, poliisobutylen (karet sintetis), poliolefin dan silika.

    Koordinator relawan riset mikroplastik ECOTON dan SEIJ Sofi Azilan Aini menjelaskan, lebih beragamnya jenis polimer mikroplastik di udara antara lain dikarenakan kebiasaan membakar sampah plastik akibat buruknya layanan sampah di Indonesia.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

    Sofi menambahkan, Jakarta menjadi kota dengan tingkat kontaminasi mikroplastik udara tertinggi di Indonesia, dengan jmlah 37 partikel per 2 jam. Angka ini jauh di atas kota lain seperti Malang (2 partikel per 2 jam).

    Penelitian di Jakarta
    Titik pengambilan sampel udara di Jakarta mencakup Pasar Tanah Abang, Jalan Sawah Besar, dan Kawasan Ragunan.

    Pasar Tanah Abang yang merupakan pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara menjadi hotspot mikroplastik.

    Hal ini akibat kombinasi lalu lintas kendaraan tinggi, penggunaan plastik sekali pakai, aktivitas bongkar-muat barang, dan pelepasan serat sintetis dari pakaian tekstil.

    Fragmen dan fiber mikroplastik yang beterbangan di udara inilah yang kemudian terdispersi oleh angin dan berpotensi turun bersama air hujan, menjelaskan fenomena “hujan mikroplastik” yang kini menjadi sorotan di Jakarta.

    Baca: Pakar UGM ingatkan ancaman senyap mikroplastik bagi kesehatan manusia

    Sementara, kota dengan kelimpahan mikroplastik udara terendah ditemukan di Malang, hanya 2 partikel dalam 2 jam, karena rendahnya aktivitas industri dan pembakaran sampah serta dominasi vegetasi alami.

    Penelitian ini menggunakan pemantauan deposisi pasif mikroplastik udara dengan analisis mikroskopik dan spektroskopi inframerah Fourier Transform (FTIR) untuk memastikan jenis polimernya.

    Langkah penelitian meliputi Penempatan cawan petri kaca pada ketinggian 1–1,5 meter (zona pernapasan manusia) di lokasi representatif tiap kota. Dilanjutkan dengan Penangkapan partikel melalui deposisi alami selama 2 jam menggunakan kertas Whatman basah steril.

    Selanjutnya dilakukan pemisahan partikel plastik dengan mikroskop stereo, identifikasi bentuk (fiber, film, fragmen), warna, ukuran, dan konfirmasi jenis polimer dengan FTIR.

    Metode ini mengacu pada penelitian Islam et al. (2024) dan Aini et al. (2024) serta disesuaikan dengan konteks lingkungan perkotaan Indonesia.

  • Pasar Tanah Abang Menjadi Titik dengan Kontaminasi Mikroplastik Tertinggi di Indonesia

    Pasar Tanah Abang Menjadi Titik dengan Kontaminasi Mikroplastik Tertinggi di Indonesia

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) mengungkap bahwa Jakarta Pusat, menjadi kota dengan tingkat kontaminasi mikroplastik udara tertinggi di Indonesia.

    Dilansir di laman resmi ECOTON jumlah partikel mikroplastik di Pasar Tanah Abang mencapai 37 partikel dalam periode waktu 2 jam, jauh di atas kota lain yang diteliti.

    Koordinator relawan Riset Mikroplastik ECOTON, Sofi Azilan Aini menjelaskan, penelitian dilakukan di 18 kota pada periode Mei–Juli 2025.

    Penelitian dilakukan dengan menggunakan pemantauan deposisi pasif mikroplastik udara dengan analisis mikroskopik dan spektroskopi inframerah Fourier Transform (FTIR) untuk memastikan jenis polimernya.

    Langkah penelitian meliputi Penempatan cawan petri kaca pada ketinggian 1–1,5 meter (zona pernapasan manusia) di lokasi representatif tiap kota. Dilanjutkan dengan Penangkapan partikel melalui deposisi alami selama 2 jam menggunakan kertas Whatman basah steril.

    Lalu dilakukan pemisahan partikel plastik dengan mikroskop stereo, identifikasi bentuk (fiber, film, fragmen), warna, ukuran, dan konfirmasi jenis polimer dengan FTIR.

     

    Baca: Penelitian ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Metode ini mengacu pada penelitian Islam et al. (2024) dan Aini et al. (2024) serta disesuaikan dengan konteks lingkungan perkotaan Indonesia.

    Adapun, titik pengambilan sampel udara di Jakarta mencakup Pasar Tanah Abang, Jalan Sawah Besar, dan Kawasan Ragunan.

    Pasar Tanah Abang yang merupakan pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara menjadi hotspot mikroplastik akibat kombinasi lalu lintas kendaraan tinggi, penggunaan plastik sekali pakai, aktivitas bongkar-muat barang, dan pelepasan serat sintetis dari pakaian tekstil.

    Fragmen dan fiber mikroplastik yang beterbangan di udara inilah yang kemudian terdispersi oleh angin dan berpotensi turun bersama air hujan, menjelaskan fenomena “hujan mikroplastik” yang kini menjadi sorotan di Jakarta.

    Sumber mikroplastik
    Sofi menjelaskan, sumber utama mikroplastik di udara berasal dari pembakaran terbuka sampah plastik dan sampah rumah tangga, degradasi produk plastik dan tekstil sintetis, serta emisi kendaraan bermotor akibat gesekan ban dan rem.

    Baca: Temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Beberapa studi internasional juga menunjukkan bahwa proses pembakaran plastik dapat menghasilkan partikel mikroplastik dan aerosol sintetis yang bertahan lama di udara dan terbawa angin hingga ratusan kilometer.

    Ketika partikel-partikel ini bereaksi dengan uap air di atmosfer, mereka dapat turun bersama air hujan dan membentuk fenomena yang kini dikenal sebagai hujan mikroplastik.

    Merespon polusi mikroplastik yang semakin memprihatinkan ini, ECOTON mendorong Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengambil langkah-langkah strategis seperti melarang pembakaran sampah terbuka dan memperkuat penegakan hukum lingkungan di tingkat kelurahan.

    Pemerintah juga diminta meningkatkan fasilitas pemilahan sampah dari sumber serta memperluas jaringan pengelolaan sampah di setiap kecamatan, mengembangkan sistem pengolahan organik (kompos dan biodigester) untuk mengurangi volume sampah yang berpotensi dibakar.

    ECOTON juga mendesak dilakukannya pemantauan berkala kandungan mikroplastik di udara dan air hujan Jakarta sebagai dasar kebijakan berbasis sains.

    Kampanye publik dan pendidikan lingkungan untuk mengubah perilaku masyarakat terhadap pembakaran sampah dan penggunaan plastik sekali pakai juga harus ditingkatkan.

    ”Dengan langkah-langkah ini, Jakarta dapat menurunkan emisi mikroplastik udara, melindungi kesehatan masyarakat, dan membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan,” ujar Sofi.

    Baca: Ledakan sampah plastik memicu penjajahan gaya baru

  • ECOTON: Pembakaran Plastik Jadi Sumber Utama Polusi Mikroplastik di Udara

    ECOTON: Pembakaran Plastik Jadi Sumber Utama Polusi Mikroplastik di Udara

    7cloud.asia – Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) meneliti kontaminasi mikroplastik di udara ambien di 18 kota/kabupaten di Indonesia.

    Hasil penelitian ini dilansir di laman resmi ECOTON pada akhir Oktober lalu.

    Berdasarkan hasil identifikasi polimer mikroplastik di udara dari 18 kota yang diteliti, diketahui bahwa pembakaran sampah plastik menjadi sumber aktivitas yang paling dominan memicu polusi mikroplastik, terdeteksi di 55,6 persen kota yang diteliti.

    Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik pembakaran sampah terbuka menjadi permasalahan serius di kawasan perkotaan Indonesia, terutama di daerah padat penduduk, kawasan industri, dan lingkungan perumahan yang tidak memiliki sistem pengelolaan sampah yang memadai.

    Baca: Penelitian ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Proses pembakaran menghasilkan partikel mikroplastik jenis polyolefin termasuk PE (Polyethylene), PP (Polypropylene) dan PB (polybutene), PTFE, dan polyester yang terdispersi di udara melalui jelaga dan abu ringan.

    Aktivitas rumah tangga dan penggunaan kemasan plastik sekali pakai juga memberikan kontribusi besar (33,3 persen), terutama di kota-kota dengan konsumsi tinggi produk plastik seperti Jakarta, Denpasar, dan Sidoarjo.

    Hal ini memperlihatkan keterkaitan langsung antara perilaku konsumsi masyarakat dan peningkatan beban mikroplastik di atmosfer.

    Selanjutnya, aktivitas industri dan konstruksi berkontribusi sebesar 27,8 persen, terutama di kota dengan kawasan industri besar seperti Bandung, Surabaya, Palembang, dan Pontianak.

    Emisi mikroplastik dari sektor ini berasal dari penggunaan resin sintetis, cat berbasis polimer, serta bahan bangunan yang mengandung plastik.

    Baca: Temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta harus jadi peringatan

    Sumber dari laundry dan tekstil domestik (22,2 persen) menunjukkan bahwa pelepasan serat sintetis dari pakaian selama proses pencucian, pengeringan, dan penjemuran berperan signifikan dalam pencemaran udara mikroplastik di lingkungan domestik.

    Sementara itu, aktivitas transportasi seperti gesekan ban, aspal, dan rel KRL menyumbang sekitar 16,7 persen, mencerminkan hubungan antara kepadatan lalu lintas dengan peningkatan emisi mikroplastik ke atmosfer.

    Aktivitas pariwisata (11,1 persen), perikanan dan pesisir (5,6 persen), serta pertanian (5,6 persen) turut menjadi sumber spesifik di wilayah tertentu.

    Di kawasan wisata seperti Denpasar dan Gianyar, penggunaan kemasan sekali pakai dan laundry hotel meningkatkan emisi mikroplastik.

    Di wilayah pesisir seperti Bulukumba dan Sumbawa, aktivitas perikanan dan penggunaan plastik pertanian (mulsa) berkontribusi terhadap pelepasan partikel mikroplastik ke udara melalui pembakaran terbuka dan angin permukaan.

    Baca: Pasar Tanah Abang jadi titik dengan kontaminasi mikroplastik tertinggi

  • Greenpeace Ajak Warga Kota Semarang Meneliti Cemaran Mikroplastik di Wilayahnya

    Greenpeace Ajak Warga Kota Semarang Meneliti Cemaran Mikroplastik di Wilayahnya

    7cloud.asia – Tingginya penggunaan plastik sekali pakai membuat pencemaran mikroplastik semakin sulit dibendung. Mikroplastik kini tak lagi hanya ditemukan di perairan, tapi juga sampai ke tubuh manusia.

    Hal ini membuat mikroplastik tak lagi jadi sebatas ancaman bagi lingkungan, tapi juga jadi ancaman bagi kesehatan masyarakat dan berpotensi mengganggu kemampuan kognitif manusia.

    Untuk mencari tahu seberapa jauh penyebaran mikroplastik warga Semarang, Jawa Tengah diajak untuk ikut meneliti di mana saja mikroplastik ditemukan melalui uji coba Citizen Science.

    Kegiatan ini digelar Greenpeace Indonesia bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima).

    Dilansir di laman resmi Greenpeace, para pengunjung diajak untuk membawa sampel dari rumah, seperti air minum, swab kulit, dan makanan, untuk kemudian diuji menggunakan mikroskop.

    Baca: Pembakaran sampah jadi sumber utama polusi mikroplastik di udara

    “Selain itu, kami juga mengajak pengunjung menampung air hujan sebanyak 1–2 liter dari lingkungan sekitar mereka untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton seperti dikutip greenpeace.org.

    Hasil pengujian sampel yang berasal dari masyarakat ini menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di sekitar kita, mulai dari air hujan, makanan, hingga pakaian.

    Riset terbaru Ecoton dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) menyebutkan, Semarang menduduki posisi ke-4 sebagai kota dengan kontaminasi mikroplastik di udara paling tinggi.

    Penelitian yang dilakukan di 18 kota/kabupaten di Indonesia ini menemukan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang membawa partikel mikroplastik naik ke udara dan, pada akhirnya, ikut mencemari air hujan.

    Baca: Penelitian ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Komposisi polimer mikroplastik di udara Indonesia didominasi poliolefin yang berasal dari pecahan kantong plastik dan kemasan, disusul polyamide dan PTFE dari serat pakaian, komponen otomotif, dan pelapis tahan panas.

    “Polyester dan polyisobutylene, yang umumnya berasal dari tekstil dan material ban, juga ditemukan di dalam sampel, menunjukkan beragamnya sumber polusi mikroplastik di udara” ungkap Rafika.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komposisi polimer mikroplastik di udara selaras dengan data sumber utama mikroplastik di 18 kota dan kabupaten. Pembakaran sampah plastik menyumbang 55 persen, sementara aktivitas transportasi berkontribusi 33,3 persen.

    “Korelasi ini menunjukkan bahwa profil polimer di udara sangat mencerminkan pola aktivitas manusia di kota mulai dari sistem pengelolaan sampah yang buruk, tingginya aktivitas transportasi, hingga beban tekstil rumah tangga,” kata Rafika.

    Sampel mikroplastik juga ditemukan di dalam tubuh manusia. Studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkap, mikroplastik juga ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia.