Tag: mikroplastik

  • Mikroplastik Berbahaya untuk Kesehatan, Singkirkan Jauh-jauh dari Anak

    Mikroplastik Berbahaya untuk Kesehatan, Singkirkan Jauh-jauh dari Anak

     

  • Pentingnya Tindakan Kolektif Tuk Atasi Sampah Plastik yang Mencemari Lingkungan

    Pentingnya Tindakan Kolektif Tuk Atasi Sampah Plastik yang Mencemari Lingkungan

    7cloud.asia – Sekitar 300 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia setiap tahunnya, dan hanya setengahnya yang dapat didaur ulang.

    Banyak orang percaya solusi untuk polusi plastik global adalah dengan mengurangi jumlah plastik yang digunakan. Namun, beberapa masalah lingkungan muncul dengan asumsi luas ini.

    Pertama, pengurangan produksi plastik tidak mengatasi masalah plastik yang sudah telanjur mencemari lingkugan khususnya perairan/laut.

    Kedua, kebijakan saat ini belum efektif terhadap produksi plastik. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa produksi justru meningkat, dan diproyeksikan akan terus meningkat.

    Tapi harapan belum hilang, dan tentunya belum terlambat untuk melakukan tindakan terkait sampah plastik ini.

    Baca: Beragam teknologi untuk tangani masalah sampah plastik

    Meskipun ada cara di mana individu dapat mengurangi penggunaan plastik dalam aktivitas sehari-hari, sains dan teknologi telah memungkinkan kita untuk mendorong batasan dari apa yang mungkin kita pikirkan. 

    Tindakan kolektif penting untuk atasi masalah sampah plastik ini. Seperti yang pernah dilakukan pada 1987 untuk atasi kebocoran Ozon. Protokol Montreal diperkenalkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut yang disebabkan bocornya lapisan ozon Bumi.

    Selama periode waktu tertentu, umat manusia mampu menghilangkan lebih dari 98% zat berbahaya yang menyebabkan kerusakan, sebagai akibatnya mencegah sekitar 2 juta kasus kanker kulit.

    Jika dunia bisa bersatu seperti pada tahun 1987, maka kita bisa bersama-sama mengatasi masalah polusi plastik yang kini telah sangat meresahkan.

    Baca: Robries, memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Sebuah studi oleh Institut Nicholas mengatasi kesenjangan antara pengetahuan teknologi untuk mengatasi polusi plastik.

    Penelitian ini menciptakan inventarisasi komprehensif dari 52 teknologi yang saat ini sedang digunakan atau sedang dikembangkan untuk mencegah kebocoran polusi plastik atau mengumpulkan polusi plastik yang ada.

    Studi tersebut menyimpulkan bahwa mencegah plastik memasuki saluran air dan mengumpulkan plastik yang mencemari laut/perairan mendesak dilakukan guna memastikan perawatan sistem perairan dan kesehatan manusia.

    Dua contoh dari daftar ini termasuk Plastic Fischer Trash Boom dan Hoola One. Yang pertama dibuat di Jerman pada tahun 2019, yang teknologinya bertujuan untuk mengumpulkan mikroplastik dari air.

    Baca: Mengenal bioplastik, plastik yang disebut ramah lingkungan

    Sedangkan yang kedua adalah Hoola One adalah ruang hampa yang dibuat di Kanada pada tahun 2019, yang dimaksudkan untuk mengekstraksi mikroplastik dan makroplastik dari lingkungan laut.

    Selain inovasi atau pengembangan teknologi, untuk menggarap atau menyelesaikan masalah sampah plastik ini juga butuh political will atau kebijakan masing-masing negara untuk mengurangi sampah plastik.

    Salah satunya terwujud dalam kebijakan sosial plastik. Di mana ada perusahaan sosial yang dikenal sebagai bank plastik yang membayar tarif di atas harga pasar untuk sampah plastik.

    Bank plastik ini bertindak sebagai toko serba ada bagi masyarakat miskin dunia, dan menerima sampah plastik sebagai bentuk mata uang.

    Baca: Pandawara berhasil gerakkan seribu orang bersihkan pantai terkotor di Indonesia

    Ekosistem daur ulang mereka dipertahankan melalui penjualan dan penggunaan apa yang mereka sebut “Social Plastic®”.

    Hal ini mendorong orang untuk mengumpulkan plastik yang terikat di laut sebelum memasuki saluran air.

    Selanjutnya plastik ini dapat diperdagangkan untuk keuntungan sosial, termasuk uang, makanan, dan layanan lainnya (seperti biaya sekolah).

    Bank plastik bertujuan membuat plastik terlalu berharga untuk dibuang. Setelah terkumpul, sampah plastik kemudian akan dijual ke perusahaan, yang akan membayar sekitar tiga kali lipat dari harga plastik biasanya.

    Baca: Mengurangi sampah plastik dengan produk isi ulang dari Siklus

    Sumber: earth.org 

  • Peneliti Jepang Temukan Mikroplastik Cemari Awan di Gunung Fuji

    Peneliti Jepang Temukan Mikroplastik Cemari Awan di Gunung Fuji

    7cloud.asia – Polusi akibat limbah plastik makin mengkhawatirkan. Mikroplastik sudah  ditemukan di mana-mana mulai dari kedalaman lautan hingga es Antartika.

    Bakan penelitian terbaru dari Universitas Waseda mendeteksi mikroplastik di lokasi baru yang mengkhawatirkan – awan yang menggantung di atas dua gunung di Jepang.

    Awan di sekitar Gunung Fuji dan Gunung Oyama di Jepang mengandung jumlah serpihan plastik yang sangat kecil atau mikroplastik.

    Sehingga peneliti menyoroti bagaimana polusi dapat menyebar dari jarak jauh, mencemari tanaman dan air di planet ini melalui “curah hujan plastik”.

    Baca: Bahaya mikroplastik pada kesehatan

    Mikroplastik tersebut sangat tinggi dalam sampel yang dikumpulkan para peneliti sehingga diperkirakan dapat menyebabkan terbentuknya awan sekaligus mengeluarkan gas rumah kaca.

    “Jika isu ‘polusi udara plastik’ tidak ditangani secara proaktif, perubahan iklim dan risiko ekologi dapat menjadi kenyataan, sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius dan tidak dapat diubah di masa depan,” ujar penulis utama studi tersebut, Hiroshi Okochi.

    Makalah yang ditinjau oleh rekan sejawat ini diterbitkan di Environmental Chemistry Letters, dan penulis yakin ini adalah makalah pertama yang memeriksa mikroplastik di awan.

    Polusi tersebut terdiri dari partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang dilepaskan dari potongan plastik yang lebih besar selama proses degradasi.

    Baca: Mengenal bioplastik, apakah benar-benar aman untuk lingkungan

    Mikroplastik ini ditambahkan ke beberapa produk, atau dibuang ke limbah industri. Ban dianggap sebagai salah satu sumber utama mikroplastik yang ditemukan di awan.

    Begitu pula manik-manik plastik yang digunakan dalam produk perawatan pribadi.

    Peneliti Waseda mengumpulkan sampel pada ketinggian berkisar antara 1.300-3.776 meter, yang mengungkapkan sembilan jenis polimer, seperti poliuretan, dan satu jenis karet.

    Kabut di awan tersebut mengandung sekitar 6,7 hingga 13,9 keping mikroplastik per liter, dan di antara mikroplastik tersebut terdapat sejumlah besar mikroplastik  yang “mencintai air”.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan pasar tradisional yang benar-benar bebas plastik

    Temuan ini menunjukkan bahwa polusi “memainkan peran penting dalam pembentukan awan yang cepat, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi iklim secara keseluruhan,” tulis penulis dalam siaran pers.

    Hal ini berpotensi menjadi masalah karena mikroplastik terurai lebih cepat ketika terkena sinar ultraviolet di atmosfer bagian atas, dan mengeluarkan gas rumah kaca.

    Konsentrasi mikroplastik yang tinggi di awan di wilayah kutub yang sensitif dapat mengganggu keseimbangan ekologi, tulis para penulis.

    Temuan ini menyoroti betapa mikroplastik sangat mudah berpindah dan dapat berpindah jarak jauh melalui udara dan lingkungan.

    Baca: Yuk, Tinggalkan lima jenis plastik sekali pakai ini

    Penelitian sebelumnya telah menemukan material tersebut dalam air hujan, dan penulis studi menyebut, sumber utama mikroplastik di udara mungkin berasal dari semprotan laut, atau aerosol, yang dilepaskan saat ombak menerjang atau gelembung laut pecah.

    “Debu yang ditimbulkan oleh mobil di jalan raya juga merupakan sumber potensial mikroplastik,” tulis para penulis.

    Penelitian terbaru menunjukkan bahwa limbah mikroplastik tersebut terakumulasi secara luas di seluruh dunia – sebanyak 10 juta ton diperkirakan berakhir di lautan setiap tahunnya.

    Manusia dan hewan menelan atau menghirup mikroplastik dalam jumlah besar, yang terdeteksi di paru-paru, otak, jantung, darah, plasenta, dan kotoran manusia.

    Baca: 5 perusahaan penghasil sampah plastik terbesar di dunia

    Toksisitas mikroplastik masih dipelajari, tetapi penelitian baru memaparkan bahwa tikus pada mikroplastik menunjukkan adanya masalah kesehatan, seperti perubahan perilaku.

    Penelitian lain menemukan kaitan mikroplastik dengan kanker dan sindrom iritasi usus besar.

    Sumber: The Guardian baca artikel asli di sini

     

  • Daftar Negara yang Paling Banyak Mengonsumsi Makanan Tercemar Mikroplastik, Indonesia di Nomor Dua

    Daftar Negara yang Paling Banyak Mengonsumsi Makanan Tercemar Mikroplastik, Indonesia di Nomor Dua

    7cloud.asia – Sebuah studi yang diterbitkan di Environmental Science & Technology, baru-baru ini, mengungkap daftar negara yang paling banyak menelan mikroplastik.

    Dari penelitian tersebut, Indonesia jadi negara kedua terbanyak di dunia yang “mengonsumsi” makanan yang mengandung mikroplastik.

    Liputan6.com mengutip Says pada Selasa (28/5/2024) orang Indonesia diperkirakan menelan sekitar 13 gram mikroplastik per bulan.

    Di peringkat pertama dunia, ada Malaysia yang warganya diperkirakan mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan.

    Mesir berada di peringkat ketiga, disusul Filipina, Vietnam, dan Laos yang menggenapi posisi lima besar.

    Baca: Bahaya mikroplastik bagi kesehatan

    Penelitian ini dilakukan sebuah lembaga riset yang berbasis di Amerika Serikat. Mereka menganalisis sampel makanan dan minuman dari berbagai negara di seluruh dunia.

    Disebutkan bahwa mayoritas limbah itu masuk ke dalam sistem pencernaan manusia melalui sumber akuatik, seperti makanan laut.

    Ikan dan kerang yang hidup di perairan terkontaminasi mikroplastik dapat mengakumulasi partikel tersebut dalam tubuh seseorang.

    Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang dapat membahayakan kehidupan makhluk hidup khususnya hewan laut dan akuatik.

    Pada manusia mikroplastik dapat memicu gangguan kesehatan dan berbagai penyakit. Dilansir Kemenkes, mikroplastik dapat memicu kanker, menganggu sistem hormonal tubuh dan mempengaruhi kekebalan tubuh.

    Baca: Ilmuwan Jepang temukan mikroplastik cemari awan di Gunung Fuji

    Sebelumnya, melansir The Guardian, 21 Mei 2024, mikroplastik telah ditemukan di testis manusia. Para peneliti mengatakan, penemuan tersebut mungkin terkait dengan penurunan jumlah sperma dan faktor kemandulan pada pria.

    Para ilmuwan telah menguji 23 testis manusia, serta 47 testis anjing peliharaan.

    Mereka menemukan partikel sampah plastik di setiap sampel tanpa terkecuali, seperti yang dilaporkan dalam jurnal Toxicological Sciences.

    Testis manusia yang jadi bahan percobaan telah diawetkan, sehingga jumlah penurunan spermanya tidak dapat diukur.

    Namun, jumlah sperma di testis anjing dapat diukur dan tingkat kadar spermanya kemungkinan lebih rendah daripada manusia.

  • Paparan Limbah Plastik, Baik Mikroplastik maupun Nanoplastik Picu Berbagai Masalah Kesehatan

    Paparan Limbah Plastik, Baik Mikroplastik maupun Nanoplastik Picu Berbagai Masalah Kesehatan

    7cloud.asia – Ancaman limbah plastik makin nyata. Mikroplastik dan nanoplastik kini dapat ditemukan di mana-mana.

    Potongan-potongan kecil dan sangat kecil dari limbah plastik telah ditemukan dalam segala hal mulai dari air minum hingga nugget ayam, apel, dan brokoli.

    Penelitian terbaru mengaitkan limbah plastik dalam bentuk mikroplastik dan nanoplastik dengan penyakit jantung, gangguan paru-paru, dan masalah kesehatan yang lebih mengkhawatirkan.

    Para ilmuwan masih mempelajari lebih mendalam hubungan pasti antara mikroplastik ini dan kesehatan manusia.

    Baca Juga: Daftar Negara yang Paling Banyak Mengonsumsi Makanan Tercemar Mikroplastik, Indonesia di Nomor Dua

    Namun jelas bahwa paparan limbah plastik—baik itu mikroplastik maupun nanplastik atau kombinasi keduanya—terkait dengan berbagai masalah kesehatan yang mengkhawatirkan.

    Beberapa dari hubungan tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, seperti kaitan mikroplastik dengan kanker usus besar, penyakit pernapasan, fungsi metabolisme, dan gangguan pada sistem endokrin.

    Sementara yang lain—seperti penelitian baru-baru ini yang menemukan bahwa mereka yang memiliki kadar plastik di arteri mereka memiliki risiko lebih tinggi.

    Penting untuk diingat bahwa kaitan ini menunjukkan kekhawatiran mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan masyarakat, namun hasil tersebut tidak spesifik dan dapat diprediksi.

    Baca Juga: Mikroplastik Berbahaya untuk Kesehatan, Singkirkan Jauh-jauh dari Anak

    “Yang saya pikirkan adalah risiko populasi, bukan risiko terhadap individu tertentu,” kata ahli penyakit dalam Dr. Gillian Goddard, seperti dikutip newyorktimes.com.

    Jika Anda khawatir tentang dampak kesehatan yang terkait dengan mikroplastik, para ahli menyarankan bahwa Anda dapat menurunkan risiko tersebut dengan menjaga kekebalan tubuh.

    Tidur, rajin berolahraga, mengonsumsi makanan seimbang, menurunkan stres, dan mengonsumsi makanan yang sehat adalah upaya membentengi tubuh dari pengaruh buruk mikroplastik bagi kesehatan.

    Yang pasti, Ahli menyarankan untuk mengurangi paparan mikroplastik meskipun harus diakui tak mudah bagi kita saat ini untuk benar-benar terhindar dari limbah plastik.

    Baca Juga: Greenpeace Sesalkan KTT Plastik Ottawa Tak Hasilkan Perjanjian Pengurangan Produksi Plastik

    Sejumlah ahli mengungkap berbagai cara yang intinya fokus pada menghindari paparan mikroplastik tersebut dari air, makanan, dan udara.

    Langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan mikroplastik akan kita ulas dalam tulisan berikutnya.

  • 9 Langkah Sederhana Hindari Polusi Mikroplastik dalam Makanan

    9 Langkah Sederhana Hindari Polusi Mikroplastik dalam Makanan

    plastik

    7cloud.asia – Ancaman limbah plastik makin nyata. Mikroplastik dan nanoplastik kini dapat ditemukan di mana-mana.

    Potongan-potongan kecil dan sangat kecil dari limbah plastik telah ditemukan dalam segala hal mulai dari air minum hingga nugget ayam, apel, dan brokoli.

    Sejumlah ahli mengungkap berbagai cara yang intinya fokus pada menghindari paparan mikroplastik tersebut dari air, makanan, dan udara.

    Langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan mikroplastik, berikut kami kutipkan dari newyorktime.com:

    1.Kurangi konsumsi air kemasan
    Air kemasan adalah sumber mikroplastik yang signifikan. Faktanya, ini adalah sumber yang paling terkonsentrasi, menurut sebuah penelitian pada tahun 2019.

    Para peneliti percaya bahwa air kemasan mengandung lebih banyak mikroplastik daripada air keran. Buktinya semakin banyak: Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa botol air plastik mengandung dua hingga tiga kali lebih banyak plastik daripada yang diperkirakan sebelumnya.

    Meminum air kemasan dalam keadaan darurat bukanlah akhir dari segalanya, namun untuk kebiasaan sehari-hari, cobalah membawa botol atau gelas baja atau kaca yang dapat digunakan kembali saat bepergian.

    Baca Juga: Paparan Limbah Plastik, Baik Mikroplastik maupun Nanoplastik Picu Berbagai Masalah Kesehatan

    2. Dapatkan filter air bersertifikat 
    Beralih ke air keran dari air kemasan plastik kemungkinan besar akan mengurangi paparan rutin terhadap plastik secara signifikan.

    Meskipun rata-rata botol air plastik mengandung lebih banyak mikroplastik dan nanoplastik daripada air keran, penelitian menunjukkan bahwa air keran juga dapat menjadi sumber mikroplastik.

    Karena itu, Anda butuh filter air yang disertifikasi untuk mengurangi mikroplastik karena filter tidak dapat menjamin penghapusan total. 

    Sebagian besar filter air bersertifikasi NSF/ANSI masih mengandung plastik. Namun mikroplastik yang terlepas dari penggunaan filter plastik kemungkinan besar akan minimal, selama Anda menghindari aliran air panas melalui filter dan menyimpan air di lemari es. karena panas mempercepat degradasi plastik.

    Penelitian menunjukkan bahwa merebus air keran, mendinginkannya, dan kemudian menyaringnya mungkin sangat efektif dalam mengurangi mikroplastik, meskipun bagi kebanyakan orang hal ini kurang praktis dibandingkan sekadar menggunakan filter.

    3. Hindari plastik untuk menyimpan makanan
    Penyimpanan dan pengemasan makanan berbahan plastik sangat umum terjadi sehingga sulit untuk dihindari sama sekali.

    Namun cara teraman yang bisa Anda lakukan adalah menghindari menyimpan makanan atau cairan di dalam plastik jika memungkinkan dan meminimalkan paparan plastik apa pun (bahkan yang menyatakan bebas BPA atau microwave-). aman) terhadap panas tinggi, asam, dan erosi fisik juga dapat merusak plastik.

    Baca Juga: Daftar Negara yang Paling Banyak Mengonsumsi Makanan Tercemar Mikroplastik, Indonesia di Nomor Dua

    4. Setop penggunaan kembali plastik sekali pakai untuk makanan dan minuman
    Sangat bagus untuk menggunakan kembali plastik sekali pakai—hanya saja bukan untuk makanan.

    Kecuali Anda menggunakan plastik di dalam freezer, simpanlah plastik tersebut untuk sesuatu yang bukan untuk menyimpan makanan atau memanaskannya kembali, kata Dr. Gillian Goddard, ahli endokrinologi dan penulis di ParentData.

    5. Jangan menggunakan microwave dalam plastik
    Hindari memanaskan makanan atau air dalam plastik dengan microwave—meskipun dikatakan aman untuk microwave, kata Tracey Woodruff, direktur Program Kesehatan Reproduksi dan Lingkungan di Universitas California San Francisco.

    6. Cuci plastik dengan tangan
    Suhu mesin pencuci piring menjadi sangat panas dan dapat merusak plastik—bahkan plastik yang aman untuk mesin pencuci piring—dan menyebabkan mikroplastik terlepas.

    Cobalah untuk mencuci wadah makanan plastik Anda dengan tangan.

    Baca Juga: Peneliti Jepang Temukan Mikroplastik Cemari Awan di Gunung Fuji

    7. Gunakan telenan kayu atau bambu
    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa talenan plastik dapat menjadi sumber mikroplastik yang signifikan dalam makanan. karena pemotongan berulang kali pada permukaannya dapat menghilangkan partikel yang menempel pada makanan.

    Talenan kayu juga memiliki beberapa keunggulan lain: Lebih baik untuk pisau dan pisau Anda bertahan lebih lama dari plastik jika dirawat dengan benar.

    8. Bersihkan udara Anda
    Udara yang kita hirup juga berpotensi menjadi sumber mikroplastik, dalam bentuk debu. Dengan demikian, mengurangi debu di udara di rumah Anda dapat mengurangi paparan Anda terhadap mikroplastik yang terhirup.

    Itu berarti Anda perlu secara rutin menyedot debu dengan sistem penyedot debu yang dikemas dan disegel yang memiliki filter HEPA atau kelas S dan mengepel serta menyeka permukaan dengan spons atau kain lembab (karena debu akan menendang partikel-partikel kecil tersebut kembali ke udara. ).

    Sempurna untuk kamar tidur, ruang bermain, dan ruang keluarga, alat pembersih udara ini adalah salah satu model dengan performa tertinggi, paling tahan lama, dan paling ekonomis yang pernah kami uji.

    Anda juga harus melakukan pekerjaan musiman seperti membersihkan kipas angin dan filter unit AC serta mengganti filter HVAC, dan pertimbangkan untuk membeli alat pembersih udara jika Anda tinggal di dekat jalan yang sibuk.

    9. Ambil langkah khusus untuk bayi dan anak kecil
    Bayi mungkin terpapar mikroplastik dan nanoplastik dalam konsentrasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

    Penelitian menunjukkan bahwa paparan ini mungkin menimbulkan kekhawatiran, terutama pada tahap awal perkembangan yang kritis hanya satu bagian dari kesehatan anak secara keseluruhan.

    “Saya menekankan bahwa sebelum mengerahkan banyak energi dan sumber daya untuk meminimalkan risiko yang tidak diketahui, ada baiknya kita mengurangi risiko yang kita ketahui,” kata Dr. Carlos Lerner, dokter anak dan profesor pediatri klinis di UCLA Health.

  • Ekspedisi BRIN Temukan Polusi Mikroplastik di Sungai Citarum Sudah Mengkhawatirkan

    Ekspedisi BRIN Temukan Polusi Mikroplastik di Sungai Citarum Sudah Mengkhawatirkan

     

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2022 menemukan banyak tumpahan berbagai mikroplastik mencemari Sungai Citarum bagian tengah yang terletak di Karawang, Provinsi Jawa Barat.

    Periset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Indra Setiadi mengatakan, mikroplastik berupa pelet, film, fiber, dan fragmen dengan kelimpahan di air Sungai Citarum mencapai 102 partikel per meter kubik.

    “Sedangkan kelimpahan di sedimen sebanyak 602 partikel per kilogram,” ujarnya dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

    Kelimpahan pada saluran pencernaan ikan sapu-sapu di Sungai Citarum sekitar 90 partikel per individu dengan ukuran rata-rata yang mendominasi pada air sedimen dan saluran pencernaan kurang dari 0,3 milimeter.

    Baca: BRIN temukan kontaminasi obat aktif di Sungai Citarum

    Mikroplastik masuk ke sungai melalui limpasan angin, limpasan hujan, dan saluran drainase serta degradasi sampah plastik in situ.

    Mikroplastik mempunyai ukuran kurang dari 5 milimeter dengan batas ukuran bawah yang tidak ditentukan, namun pada umumnya menggunakan ukuran 0,33 milimeter.

    Indra menuturkan pencemaran mikroplastik yang terjadi di daerah industri, pemukiman, dan daerah pertanian tidak berbeda secara signifikan.

    BRIN melalukan penelitian itu untuk mengidentifikasi karakteristik dari bentuk dan ukuran, kemudian identifikasi polimer dan kelimpahan mikroplastik pada air, sedimen dan saluran pencemaran ikan sapu-sapu di Sungai Citarum bagian tengah.

    Baca: Cara Pemprov Jabar atasi pulau sampah di Sungai Citarum

    Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun. Stasiun pertama ada di Wadas, Teluk Jambe Raya sebagai perwakilan industri.

    Stasiun kedua terletak di Pasir Panggang, Teluk Jambe Timur perwakilan pemukiman padat penduduk; dan stasiun ketiga berada di Sumedangan, Teluk Jambe Timur perwakilan wilayah pertanian.

    Pengukuran data di lapangan, jelas Indra, dilakukan dengan pengambilan arus air, lebar badan sungai, kedalaman, suhu, derajat keasaman, dan oksigen terlarut.

    “Pengambilan sampel pada air menggunakan plankton net yang sudah di modifikasi menggunakan bukaan mulut dengan saringan 5 milimeter,” kata Indra.

    Baca: Penggunaan alat pengolah air Sungai Citarum

    “Pengambilan sampel sedimen menggunakan sedimen core tube 2 inci. Sedangkan sampel ikan sapu-sapu diperoleh dari tangkapan nelayan setempat,” imbuhnya.

    Lebih lanjut Indra berharap masalah mikroplastik dari sumber baik primer maupun sekunder bisa segera diatasi agar meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan.

    Pengelolaan daerah aliran sungai Citarum secara menyeluruh juga penting melalui kolaborasi aktif antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat.

    Para ahli juga penting dilibatkan guna mencapai pengelolaan sampah yang berkelanjutan dalam upaya mengurangi pencemaran mikroplastik di Sungai Citarum.

    Sumber:Antaranews.com

  • Teknologi Baru ini Mampu Usir Mikroplastik dan Nanoplastik dari Perairan

    Teknologi Baru ini Mampu Usir Mikroplastik dan Nanoplastik dari Perairan

    7cloud.asia – Saat ini belum diketahui secara pasti ancaman polusi mikroplastik dan nanoplastik terhadap kesehatan manusia.

    Namun kesadaran baru-baru ini bahwa kita meminum nanoplastik atau pecahan plastik yang tidak terlihat dalam air membuat banyak orang merasa tidak nyaman.

    Untuk menghentikan mikroplastik dan nanoplastik menembus jauh ke dalam tubuh dan otak kita, para peneliti di Universitas Missouri, AS telah menemukan cara yang berpotensi berkelanjutan dan aman.

    Penelitian tim dari Universitas Missouri ini dipublikasikan di ACS Applied Engineering Materials beberapa waktu lalu.

    Dengan menggunakan bahan-bahan cair alami yang memiliki toksisitas rendah, tim telah menunjukkan bahwa mereka dapat menghilangkan sekitar 98 persen manik-manik polistiren nanoskopik dari air tawar dan air asin.

    Pelarut yang direkayasa para peneliti mengapung di permukaan air, mirip seperti minyak. Namun, cairan itu dengan cepat menyerap nanoplastik di dalam air dan membuatnya mengapung ke permukaan.

    Dengan menyedot lapisan atas cairan dengan pipet, tim di Universitas Missouri (Mizzou) menemukan bahwa mereka dapat menghilangkan hampir semua butiran nanoplastik dari sampel air yang terkontaminasi.

    Baca: Mikroplastik berbahaya untuk kesehatan

    Ketika diujicobakan di air asin, metode ini berhasil mengekstraksi 99,8 persen dari seluruh polutan polistiren.

    Bukti konsep ini menunjukkan solusi yang hemat biaya dan berpotensi menjadi “solusi berkelanjutan terhadap masalah nanoplastik”, pendapat para peneliti dari Mizzou.

    Dengan penelitian lebih lanjut, teknik ini bahkan terbukti berguna untuk membersihkan air dari polutan lain, seperti bahan kimia selamanya.

    Penelitian sebelumnya menemukan bahwa air keran dan air kemasan mengandung banyak potongan plastik mikroskopis, terutama nanoplastik yang berukuran di bawah satu mikrometer.

    Faktanya, rata-rata ada sekitar 240.000 partikel nanoplastik di setiap liter air kemasan.

    Entitas non-biodegradable ini terkadang dibuat dengan sengaja dan terkadang dibentuk dari mikroplastik yang telah terurai.

    Mereka dapat dengan mudah melihat ekosistem alami, melalui sungai atau jaringan drainase, atau dari abrasi ban, limpasan pertanian, atau rencana pengolahan air limbah.

    Saat ini, nanoplastik ditemukan di perairan di seluruh dunia, termasuk tempat-tempat terpencil seperti laut dalam, Arktik, dan danau pegunungan.

    “Nanoplastik dapat mengganggu ekosistem perairan dan memasuki rantai makanan, sehingga menimbulkan risiko bagi satwa liar dan manusia,” kata ahli kimia Piyuni Ishtaweera, yang melakukan penelitian tersebut saat berada di Mizzou.

    Baca: Ekspedisi BRIN temukan cemaran mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan

    Selain itu, bahan kimia berbahaya, seperti logam berat atau penghambat api, juga dapat menempel pada permukaan nanoplastik, sehingga dapat berinteraksi dengan membran biologis.

    Menghilangkan polutan sekecil itu dari lingkungan bukanlah hal yang mudah.

    Baru-baru ini, para peneliti di Tiongkok menemukan bahwa air keran yang mendidih dapat menghilangkan hingga 90 persen nano dan mikroplastik.

    Ini mungkin merupakan cara sederhana untuk menghilangkan polutan dari air minum, namun tidak berguna untuk perairan yang lebih luas yang mungkin terkontaminasi.

    Teknik baru dari Mizzou dapat mengatasi polusi nanoplastik dengan cara yang jauh lebih terukur.

    “Strategi kami menggunakan sejumlah kecil pelarut khusus untuk menyerap partikel plastik dari sejumlah besar air,” jelas ahli kimia Gary Baker.

    “Saat ini, kapasitas pelarut tersebut belum dipahami dengan baik. Di masa depan, kami bertujuan untuk menentukan kapasitas maksimum pelarut. Selain itu, kami akan mengeksplorasi metode untuk mendaur ulang pelarut, sehingga dapat digunakan kembali berkali-kali jika diperlukan.”

     

  • Riset: Mikroplastik Ditemukan di Mana-mana, Bahkan pada Napas Lumba-lumba

    Riset: Mikroplastik Ditemukan di Mana-mana, Bahkan pada Napas Lumba-lumba

    7cloud.asia – Lumba-lumba hidung botol di Teluk Sarasota, Florida, dan Teluk Barataria, Louisiana, ditemukan mengembuskan napas yang mengandung serat mikroplastik.

    Temuan ini berdasarkan penelitian terbaru peneliti dari Public Health, College of Charleston yang dipublikasikan di jurnal PLOS One.

    Mikroplastik, atau potongan plastik yang berukuran sangat kecil, kini telah menyebar ke seluruh penjuru planet ini–tidak hanya di daratan, tetapi juga di udara, bahkan di awan.

    Di lautan saja, diperkirakan ada sekitar 170 triliun partikel mikroplastik. Di seluruh dunia, penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik masuk ke tubuh manusia dan satwa liar terutama lewat makanan dan minuman, serta melalui udara yang kita hirup.

    Studi itu menemukan bahwa partikel mikroplastik yang diembuskan oleh lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) memiliki komposisi kimia serupa dengan yang ditemukan di paru-paru manusia.

    Namun, belum diketahui apakah lumba-lumba terpapar lebih banyak mikroplastik dibandingkan manusia.

    Mengapa temuan ini penting? Pada manusia, menghirup mikroplastik dapat menyebabkan peradangan paru-paru, yang berpotensi menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti kerusakan jaringan, produksi lendir berlebihan, pneumonia, bronkitis, jaringan parut, dan bahkan kemungkinan kanker.

    Karena lumba-lumba juga menghirup partikel plastik yang sama, mereka mungkin menghadapi risiko masalah paru-paru yang serupa.

    Baca: Mikroplastik cemari awan di Gunung Fuji

    Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa beberapa bahan kimia pada plastik diketahui dapat memengaruhi kesehatan manusia, misalnya mengganggu fungsi reproduksi, kesehatan jantung dan fungsi sistem saraf.

    Sebagai sesama mamalia, lumba-lumba mungkin juga menghadapi risiko kesehatan yang sama akibat mikroplastik.

    Sebagai predator teratas dengan rentang hidup puluhan tahun, lumba-lumba hidung botol menjadi ‘indikator alami’ yang dapat membantu para ilmuwan memahami dampak polutan terhadap ekosistem laut dan risiko kesehatan terkait bagi orang-orang yang tinggal di dekat pesisir pantai.

    Temuan ini penting karena lebih dari 41 persen populasi manusia di dunia tinggal dalam jarak 62 mil atau 100 kilometer dari garis pantai.

    Apa yang masih belum diketahui
    Para ilmuwan memperkirakan lautan mengandung triliunan partikel plastik yang masuk ke laut melalui limpasan, air limbah, atau bahkan terbawa angin. Ombak yang berdebur dapat membawa partikel-partikel mikroplastik ini ke udara.

    Bayangkan gelembung yang pecah di permukaan laut; partikel mikroplastik yang menempel di buih itu terlempar ke udara ketika gelembung pecah. Angin kemudian dapat membawanya ke lokasi yang jauh.

    Ombak lautan diperkirakan dapat melepaskan 100.000 metrik ton mikroplastik ke atmosfer setiap tahunnya. Lumba-lumba dan mamalia laut lainnya yang bernapas di permukaan sangat rentan terhadap paparan ini.

    Di wilayah dengan populasi manusia yang lebih tinggi, biasanya akan ditemukan lebih banyak plastik. Namun, hubungan sebab-akibat ini tidak berlaku pada partikel-partikel plastik kecil yang melayang di udara.

    Mikroplastik di udara tidak terbatas pada area yang padat penduduk saja; mereka juga ditemukan mencemari daerah yang belum berkembang.

    Penelitian ini menemukan mikroplastik dalam napas lumba-lumba yang hidup di muara sungai, baik yang terletak di kawasan perkotaan maupun pedesaan.

    Namun, hingga kini kami belum mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam jumlah atau jenis partikel plastik di antara kedua habitat ini.

    Baca: Bahaya mikroplastik pada kesehatan

    Bagaimana penelitian dilakukan?
    Sampel napas dalam penelitian ini kami kumpulkan dari lumba-lumba hidung botol liar selama penilaian kesehatan tangkapan dan pelepasliaran di Teluk Barataria, Louisiana, dan Teluk Sarasota, Florida.

    Penelitian ini dilakukan bekerja sama dengan Brookfield Zoo Chicago, Sarasota Dolphin Research Program, National Marine Mammal Foundation dan Fundación Oceanogràfic.

    Selama penilaian kesehatan singkat ini, kami menggunakan cawan petri atau spirometer khusus—alat yang mengukur fungsi paru-paru—dan menempatkannya di atas lubang sembur lumba-lumba untuk mengumpulkan sampel napas hewan tersebut.

    Dengan menggunakan mikroskop di laboratorium rekan kami, kami memeriksa partikel-partikel kecil yang tampak seperti plastik, seperti potongan-potongan dengan permukaan halus, warna-warna cerah, atau bentuk berserat.

    Karena plastik meleleh ketika dipanaskan, kami menggunakan jarum solder untuk menguji apakah potongan-potongan ini adalah plastik.

    Untuk memastikan bahwa partikel tersebut benar-benar plastik, kami menggunakan metode khusus yang disebut spektroskopi Raman, yang menggunakan laser untuk membuat “sidik jari” struktural dari setiap partikel yang dapat dicocokkan dengan bahan kimia tertentu.

    Studi kami menunjukkan betapa luasnya polusi plastik–dan bagaimana pengaruhnya terhadap makhluk hidup, termasuk lumba-lumba.

    Meskipun dampak dari mikroplastik pada paru-paru lumba-lumba belum diketahui, kita dapat membantu mengatasi masalah polusi mikroplastik ini dengan mengurangi penggunaan plastik dan mencegah lebih banyak limbah plastik mencemari lautan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, penulis:
    Leslie Hart (Associate Professor of Public Health, College of Charleston) dan Miranda Dziobak (Instructor in Public Health, College of Charleston)

  • Cara Mudah Menghilangkan Mikroplastik dalam Air Minum

    Cara Mudah Menghilangkan Mikroplastik dalam Air Minum

    7cloud.asia – Paparan mikroplastik kini sudah mengkhawatirkan. Paparan mikroplastik tak hanya ditemukan di alam terbuka tapijuga bisa ditemukan dalam makanan dan air minum yang kita konsumsi.

    Studi dari para peneliti di Universitas Columbia dan Rutgers di Amerika Serikat mengungkapkan, mikroplastik di air minum dalam kemasan botol plastik ditemukan 100 kali lebih banyak dalam bentuk potongan-potongan kecil atau nanoplastik.

    Dilansir BBC, rata-rata satu liter air minum dalam botol plastik mengandung hampir seperempat juta fragmen nanoplastik.

    Mikroplastik terdiri dari zat yang berbeda dengan kepadatan, bahan kimia komposisi, bentuk, dan ukuran yang berbeda. Secara ilmiah, tidak ada definisi yang menyepakati apa itu mikroplastik.

    Namun, zat yang dikategorikan mikroplastik adalah partikel plastik dengan panjang kurang dari 5 milimeter (mm). Jika masuk ke dalam tubuh, mikroplastik bisa menyebabkan gangguan pencernaan dan penurunan imunitas tubuh.

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mikroplastik bisa masuk ke dalam air minum melalui beberapa cara.

    Salah satunya melalui limpasan permukaan, seperti setelah hujan, lalu ke air limbah, luapan saluran pembuangan gabungan, limbah industri, dan sampah yang terdegradasi.

    Paparan mikroplastik ke air minum bisa juga melalui pengendapan di yang terjadi di atmosfer. Botol minum yang terbuat dari plastik dan tutup air minum kemasan juga dapat menjadi sumber mikroplastik dalam air minum.

    Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah ada cara untuk menghilangkan mikroplastik di dalam air minum? mUntuk menghilangkannya, Anda hanya perlu merebus air minum tersebut sebelum dikonsumsi.

    “Strategi merebus air sederhana ini dapat ‘mendekontaminasi’ nanoplastik atau mikroplastik (NMP) dari air keran rumah tangga dan berpotensi mengurangi asupan NMP manusia melalui konsumsi air tanpa membahayakan,” tulis insinyur biomedis dari Universitas Kedokteran Guangzhou, dikutip dari Science Alert.

    Pengujian ini dilakukan oleh tim dari Universitas Kedokteran Guangzhou dan Universitas Jinan di Cina. Mereka meneliti air bersih dan air keran (yang lebih kaya mineral).

    Kandungan nanoplastik atau mikroplastik di dalam air keran dari sistem pengolahan air terpusat kerap menimbulkan kekhawatiran global karena berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi konsumennya.

    Peneliti kemudian menambahkan nanoplastik dan mikroplastik sebelum merebus cairan tersebut dan menyaring endapan apa pun.

    Dalam beberapa kasus, hingga 90 persen nanoplastik atau mikroplastik mampu dihilangkan melalui proses perebusan dan penyaringan, meskipun efektivitasnya bervariasi berdasarkan jenis air.

    Mikroplastik hilang saat dipanaskan
    Konsentrasi nanoplastik atau mikroplastik yang lebih besar di dalam air keran hilang saat dipanaskan melalui pembentukan endapan kerak kapur atau kalsium karbonat yang secara alamiah terbentuk saat air dipanaskan.

    Para peneliti kemudian mengatakan, serpihan plastik yang dilapisi kapur itu dapat disingkirkan melalui penyaring sederhana, seperti saringan baja tahan karat yang digunakan untuk menyaring teh.

    Penelitian sebelumnya juga mengukur fragmen polistirena, polietilena, polipropilena, dan polietilena tereftalat dalam air keran minum, yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah yang bervariasi.

    Untuk menguji strategi tersebut secara maksimal, para peneliti menambahkan lebih banyak partikel nanoplastik, yang secara efektif jumlahnya berkurang.

    “Minum air matang ternyata merupakan strategi jangka panjang yang layak untuk mengurangi paparan global terhadap NMP,” tulis penelitian tersebut.

    Meski demikian, air minum matang sering dianggap sebagai tradisi lokal yang hanya berlaku di beberapa daerah.

    Dengan adanya temuan ini, tim peneliti berharap supaya minum air matang menjadi praktik yang meluas karena bermanfaat bagi kesehatan tubuh.