Tag: sampah organik

  • Kelola Sampah Organik Warga Pondok Bambu Galakkan Program Satu Kepala Keluarga Satu Lubang Biopori

    Kelola Sampah Organik Warga Pondok Bambu Galakkan Program Satu Kepala Keluarga Satu Lubang Biopori

    7cloud.asia – Warga di RW 10, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur terus memperkuat upaya pengelolaan sampah dari sumbernya melalui program Satu Kepala Keluarga (KK) Satu Lubang Biopori.

    Program ini dikerjakan secara kolaboratif oleh warga bersama petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

    Pembuatan biopori secara massal ini ditujukan untuk menampung sampah organik sisa dapur (SOD) sekaligus mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang.

    Wakil Ketua LMK Kelurahan Pondok Bambu, Heru Irianto Basuki mengatakan, RW 10 memiliki sekitar 840 KK. Sebagai tahap awal, ditargetkan pembuatan sebanyak 70 lubang biopori yang tersebar di RT 04, RT 05, RT 06, RT 07, dan RT 09 sebagai percontohan.

    “Setiap rumah memiliki satu hingga tiga lubang biopori, disesuaikan dengan ketersediaan lahan. Kami ingin menggerakkan warga agar mampu mengelola sampah organik dari rumah masing-masing,” ujarnya dikutip beritajakarta.id.

    Baca: Membuat Biopori, Mengolah Sampah Organik Sembari Menjaring Air Hujan

    Heru menjelaskan, proses pembuatan biopori melibatkan sekitar 15 petugas PPSU yang menggali lubang berdiameter sekitar 40 sentimeter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter.

    “Lubang itu kemudian dipasangi pipa paralon berukuran empat inci sebagai tempat penampungan sampah organik. Di sejumlah lokasi, warga juga memanfaatkan tong sampah maupun galon bekas air mineral di area taman,” terangnya.

    Menurutnya, hingga saat ini sekitar 40 dari target 70 lubang biopori sudah selesai dikerjakan. Heru optimistis seluruh target dapat diselesaikan dalam sepekan ke depan.

    “Progresnya sudah sekitar 40 lubang. Kami berharap dalam satu minggu ke depan seluruh target 70 lubang bisa rampung,” ungkapnya.

    Baca: Pengelolaan Sampah Jangan Hanya Menyasar Hilir Sumber Sampah Harus Ditangani

    Ketua TP PKK RW 10, Kelurahan Pondok Bambu, Sri Roes Redjeki turut mendukung program tersebut dengan membangun dua lubang biopori di halaman rumahnya.

    Ia juga aktif mengajak warga, khususnya para ibu untuk memanfaatkan lubang biopori sebagai tempat pengolahan sampah organik menjadi kompos.

    “Kami terus mengedukasi warga agar sampah sisa dapur dimasukkan ke dalam lubang biopori sehingga bisa diolah menjadi kompos yang bermanfaat,” ungkapnya.

    Sementara itu, Lurah Pondok Bambu, Ateng Surahman menjelaskan, untuk area publik, seperti taman, lubang biopori dibuat menggunakan tong sampah bantuan Suku Dinas Lingkungan Hidup maupun galon bekas air mineral.

    “Program ini diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mampu mengurangi timbunan sampah sejak dari rumah tangga,” tandasnya.

  • Tindak Lanjut Ingub Gerakan Pemilahan Sampah: Dari Fasilitas Pengolahan Sampah hingga Pembuatan Biopori

    Tindak Lanjut Ingub Gerakan Pemilahan Sampah: Dari Fasilitas Pengolahan Sampah hingga Pembuatan Biopori

    7cloud.asia – Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber ditindaklanjuti secara beragam di kelurahan-kelurahan di Jakarta.

    Pihak Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan misalnya terus memperkuat upaya pengelolaan sampah dari sumber. Salah satunya dengan menghadirkan 56 fasilitas pengelolaan sampah organik.

    Camat Kebayoran Lama, Mustofa mengatakan, kebijakan tersebut sejalan dengan rencana pembatasan pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Sebab, nantinya hanya sampah residu yang diperbolehkan dikirim.

    “Untuk wilayah Kebayoran Lama Selatan sudah dibangun empat teba modern dan 52 lubang biopori jumbo. Untuk itu, masyarakat diwajibkan melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri dari sumbernya,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).

    Mustofa menjelaskan, keberadaan puluhan fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sekaligus memanfaatkan sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir di TPST Bantar Gebang.

    Baca: Mengapa Permen “Extended Producer Responsibility ” Tak Kunjung Rampung?

    Selain teba modern dan lubang biopori jumbo, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan juga memiliki satu unit mesin pencacah sampah milik Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan.

    “Mesin tersebut dimanfaatkan untuk mempermudah proses pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya,” terangnya.

    Menurutnya, sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan sampah basah lainnya dapat dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk diolah secara alami.

    Sementara itu, sampah yang bisa didaur ulang akan dipilah dan selanjutnya diangkut oleh petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup maupun Bank Sampah yang telah aktif di setiap RW.

    “Jenis sampah yang dimasukkan ke dalam biopori adalah sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, dan sampah basah lainnya. Sedangkan, sampah yang dapat didaur ulang akan dipilah dan diambil oleh petugas Sudin LH. Bank Sampah di setiap RW juga sudah aktif beroperasi,” ungkapnya.

    Baca: Kritik terhadap Pengelolaan Sampah yang Hanya Menyasar di Hilir

    Ketua RW 11, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Nasir menuturkan, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah di lingkungan.

    “Pembangunan sarana pengelolaan sampah perlu diimbangi dengan sosialisasi yang masif agar kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumber semakin meningkat,” ucapnya.

    Ia menambahkan, pihaknya juga telah mempelajari inovasi pembuatan eco-enzyme di sejumlah wilayah. Cairan hasil fermentasi limbah organik tersebut dinilai mampu membantu menguraikan sisa makanan sekaligus mengurangi aroma tidak sedap dari sampah organik

    “Kami berharap seluruh RW dapat menerapkan inovasi eco-enzyme sehingga pengelolaan sampah organik semakin optimal dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” tandasnya.

    Sementara Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat memperbanyak fasilitas komposting pengolahan sampah organik menjadi pupuk berkualitas.

    Baca: Industri FMCG Harus Serius Kurangi Sampah Plastik dan Tak Hanya Fokus pada Daur Ulang

    Lurah Cempaka Putih Timur, Hening Nugrahani mengatakan, fasilitas komposting ini sudah dibuat sejak tiga bulan lalu untuk mengurangi volume sampah dedaunan yang setiap hari dibersihkan personel PPSU.

    “Sampah dedauan dikumpulkan personel PPSU dibawa ke fasilitas komposting untuk dicacah terlebih dahulu agar proses dekomposisi berjalan lebih cepat,” ujar Hening, Jumat (10/7/2026).

    Ia menjelaskan, proses pengomposan memakan waktu sekitar tiga bulan agar sampah dedaunan berubah menjadi pupuk kompos yang sebagian dipergunakan untuk keperluan internal dan sebagian lagi dijual.

    “Sebagian pupuk kompos dimanfaatkan untuk penataan taman dan ruang terbuka hijau, sebagian lagi dikemas untuk dijual Rp10.000 perkilogram,” jelasnya.

    Menurut Hening, pihaknya juga sudah menyediakan fasilitas komposting berskala kecil di tiga RW untuk mendekatkan layanan pengolahan sampah kepada warga.

    “Setelah tiga bulan, kami berhasil mengurangi volume sampah dedaunan sekitar sembilan kubik setiap hari,” tandasnya.

    Baca: Daur Ulang Tak Akan Mampu Imbangi Ledakan Polusi Plastik