Tag: sampah organik

  • 7 Langkah Sederhana Mengelola Sampah Rumah Tangga

    7 Langkah Sederhana Mengelola Sampah Rumah Tangga

    7cloud.asia – Sampah rumah tangga hingga kini masih memegang porsi terbesar dalam produksi sampah di Indonesia. Menurut data SIPSN KLHK dari sekitar 20 juta ton sampah yang diproduksi pada 2022, 39,5 persen di antaranya berasal dari sampah rumah tangga. 

    Kabar baiknya, sebagian besar sampah rumah tangga adalah sampah organik sehingga tidak tergolong bahan berbahaya dan beracun. 

    Namun demikian, jika tidak ditangani dengan baik maka sampah rumah tangga akan menimbulkan masalah serius. Untuk itu, kita bisa mengambil peran dengan mulai mengelola sampah rumah tangga dari rumah.

    Pemerhati lingkungan Wahyutri mengatakan, pengolahan sampah rumah tangga tidak harus selalu dilakukan dengan mesin-mesin berteknologi canggih. Kita dapat mengolah sampah sendiri dengan cara yang sederhana.

    Sampah rumah tangga bisa diolah menjadi pupuk kompos atau barang-barang daur ulang lainnya yang bermanfaat. Dengan cara ini maka secara tidak langsung kita membantu mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir

    Baca: Kearifan lokal warga Bali dalam mengelola sampah rumah tangga

    Simak cara mandiri mengelola sampah rumah tangga sebagaimana disampaikan oleh pemerhati lingkungan dari Wahyutri berikut ini:  

    1. Pilah sampah 

    Langkah pertama dari cara mandiri mengelola sampah rumah tangga adalah dengan memilah sampah. Pisahkan sampah organik yang bisa diurai seperti sisa makanan atau tanaman dengan sampah yang tidak terurai seperti bungkus makanan, pakaian dan sebagainya.

    Untuk itu sediakan minimal dua tempat sampah masing-masing untuk sampah organik dan sampah non organik. 

    2. Kurangi sampah 

    Tahukah kamu bahwa setiap harinya kisa bisa menghasilkan berkilo-kilo sampah? Nah, jika ingin mengurangi sampah atau membantu jalannya proses pengolahan sampah rumah tangga secara mandiri, mulailah dari sendiri untuk mengurangi sampah sesuai kemampuan.

    Hal utama yang bisa dilakukan dimulai dengan mengurangi sampah makanan dengan menghabiskan seluruh makanan yang sudah diambil.

    Di samping itu, kurangi juga konsumsi air mineral dalam kemasan botol dan sebagai gantinya bawa saja tumbler atau botol minum sendiri.

    Baca: Rumitnya mengelola sampah rumah tangga di Jakarta

    3. Terapkan Prinsip 3R

    Prinsip 3R terdiri dari Reuse (penggunaan kembali), Reduce (mengurangi), dan Recycle (mendaur ulang). 3R merupakan perpanjangan tangan dari pemisahan sampah rumah tangga sesuai jenisnya.

    Sebagai contoh, prinsip 3R ini dapat dijalankan dengan cara menggunakan plastik botol air mineral untuk digunakan kembali sebagai vas bunga atau hiasan dinding.

    Intinya, prinsip 3R ini juga mengurangi berakhirnya sampah rumah tangga terutama sampah plastik yang sulit terurai di tempat pembuangan akhir.

    4. Hindari sampah sekali pakai

    Beberapa jenis wadah plastik memang memiliki keterangan untuk dipakai sekali saja. Namun, mengapa harus dipakai sekali saja jika kita memang bisa menggunakannya berkali-kali?

    Manfaatkan plastik yang ada tulisan sekali pakai ini untuk benda-benda lain, seperti untuk menanam bunga dan diisi dengan tanah. Dengan cara sederhana ini, dijamin jumlah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir jadi berkurang.

    Baca: Gaya hidup ramah lingkungan dimulai dengan mengurangi sampah

    5. Olah sampah organik jadi kompos

    Cara pengolahan sampah mandiri bisa dilakukan dengan menyisihkan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk. Jenis pupuk yang diolah dari sampah organik adalah pupuk kompos yang bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman.

    Perlu diketahui, pupuk kompos dari sampah organik ini memiliki aroma yang menyengat. Jika tidak tahan dengan aromanya sebaiknya olah dan berikan kepada kerabat yang berjualan tanaman atau hobi berkebun.

    6. Buat Ecobrick

    Bagi orang awam mungkin kurang memahami arti dari “Ecobrick”. Ecobrik merupakan botol plastik yang diisi dengan limbah non-biological untuk membuat blok bangunan yang nantinya bisa dipakai kembali.

    Ecobrick merupakan cara terbaik mengolah sampah rumah tangga berupa limbah plastik agar tidak berujung pada tempat pembuangan akhir.

    Dengan membuat ecobrick, kita telah melakukan usaha mencegah sampah-sampah di dalam botol plastik melepaskan CO2 dan meningkatkan pemanasan global.

    Ecobrick ini bisa dimanfaatkan untuk membuat furnitur modular, perabotan indoor, dinding struktur, dan masih banyak lagi.

     

    7. Buat Bank Sampah

    Ada banyak cara untuk mengolah sampah rumah tangga secara pribadi, salah satunya dengan menggagas ide bank sampah. Sebagaimana yang kita ketahui, bank sampah adalah tempat pengumpulan sampah rumah tangga baik plastik maupun kertas yang hendak didaur ulang kembali.

    Keuntungan dari bank sampah tidak hanya diperoleh oleh penggagas bank sampahnya sendiri, tapi juga bagi nasabah yang menyetorkan sampah plastiknya. Nasabah juga akan memperoleh uang ketika menyetorkan sampah rumah tangga yang dihasilkannya ke bank sampah ini.

    Jika di lingkunganmu belum ada bank sampah, maka kamu bisa mulai menginisiasinya dengan mengajak warga di sekitarmu. Dengan mulai mengolah sampah rumah tangga kamu telah ikut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

     

     

     

  • Sebarkan Gaya Hidup Minim Sampah, Ibu Iriana Ajak Warga Membuat Kompos dari Sampah Organik

    Sebarkan Gaya Hidup Minim Sampah, Ibu Iriana Ajak Warga Membuat Kompos dari Sampah Organik

    7cloud.asia – Ibu Negara, Ibu Iriana Joko Widodo mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan pembuatan pupuk kompos dari sampah organik yang ada di rumah tangga.

    Ajakan tersebut disampaikan Ibu Iriana saat melakukan pembuatan kompos dari sampah organik bersama sejumlah perwakilan PKK, Dekranasda, dan aktivis lingkungan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

    “Mari kita mulai membuat kompos dari sampah organik di rumah masing-masing, siap Ibu?” ajak Ibu Iriana sebelum memulai pembuatan kompos bersama yang dilakukan di halaman Gedung Seni Sono, Kawasan Gedung Agung Istana Kepresidenan Yogyakarta, Kota Yogyakarta, pada Selasa (19/09/2023).

    Baca: Mengolah sampah organik jadi kompos di rumah

    Pencanangan pembuatan kompos drai sampah organik itu juga dihadiri sejumlah anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM) 

    Ibu Iriana menyebut bahwa pembuatan pupuk kompos merupakan kegiatan yang penting dilakukan. Hal tersebut merupakan bagian dari penerapan gaya hidup minim sampah.

    “Sebagai bagian dari membangun gaya hidup minim sampah dan supaya Indonesia tetap bersih dan cantik-cantik seperti ibu-ibu semuanya,” ucap Ibu Iriana.

    Baca: Kurangi sampah dengan terapkan sistem guna ulang

    Ibu Iriana juga sempat melontarkan sejumlah pertanyaan kepada ibu-ibu yang ikut serta dalam pembuatan kompos. Ibu Iriana bertanya terkait jenis sampah di rumah yang dapat dijadikan kompos.

    “Sebutkan macam-macam sampah yang ada di rumah yang dapat dikomposkan?” tanya Ibu Iriana dengan disambut antusias ibu-ibu yang ingin menjawab pertanyaan tersebut.

    “Ya, sayuran, buah-buahan, sisa makanan yang sudah dicuci,” ucap Ibu Iriana mendiktekan kembali jawaban dari ibu-ibu.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Sebelumnya, Ibu Iriana dan para anggota OASE KIM turut melakukan penanaman pohon kepel atau stelechocarpus burahol di Taman Gedung Seni Sono.

    Tidak hanya melakukan penanaman pohon, Ibu Iriana beserta OASE KIM juga menyerahkan 1.000 bibit pohon mangga untuk wilayah DIY.

    Sumber: Setkab

  • Kelola Sampah Organik, Pemkot Bandung Rekrut Ratusan Warga

    Kelola Sampah Organik, Pemkot Bandung Rekrut Ratusan Warga

    7cloud.asia – Berbagai upaya dilakukan pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat untuk menangani sampah. Di antaranya melaksanakan program padat karya pengolahan sampah organik.

    “Kita mempekerjakan banyak orang untuk pengolahan sampah organik ini,” ujar Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Andri Darusman di Bandung pada Rabu (08/11/2023).

    Pemkot Bandung mengusulkan empat orang di setiap kelurahan untuk menjadi petugas pengolah sampah organik,

    Baca: Kurangi limbah kecamatan di mataram ubah sampah plastik menjadi pot

    Hingga kini, lanjut Andri, ada 604 orang yang direkrut menjadi petugas pengolah sampah organik di 151 kelurahan di Kota Bandung dalam program padat karya pengolahan sampah.

    Program pengolahan sampah organik ini akan berlangsung selama 50 hari kerja dari 11 November hingga 31 Desember 2023.

    Selanjutnya Andri mengungkapkan pihaknya menyediakan upah untuk pekerja dalam program padat karya pengolahan sampah organik ini senilai Rp133.600 per hari.

    Baca: Masalah lingkungan terbesar 2023 polusi sampah plastik

    Sebelumnya kelurahan-kelurahan di Kota Bandung mengusulkan pelaksanaan program padat karya dalam pengolahan sampah untuk mengatasi masalah sampah di tingkat kewilayahan.

    Program tersebut mencakup upaya pengolahan sampah menggunakan metode pemanfaatan magot, komposter, Lodong Sesa Dapur atau Loseda, bata terawang, dan metode pengolahan sampah organik yang lain.

    “Targetnya pengolahan sampah organik bisa tercapai satu ton per kelurahan, 151 ton per hari sampah organik bisa diolah,” ucapnya.

    Baca: Status darurat berlanjut pemprov jawa barat tambah kuota membuang sampah terpilah

    Nantinya, sambung Andri, petugas penanganan sampah dan petugas pendamping akan memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai tata cara memilah dan menangani sampah.

    Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan aparatur pemerintah kelurahan dan kecamatan di Kota Bandung.

    “Diharapkan mereka melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat untuk memilah sampah di rumahnya masing-masing,” ujarnya.

    Dengan progran ini, Andri berharap dapat berjalan secara optimal sehingga mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Magalarva dan FoodCycle Ubah Limbah Makanan dan Sampah Organik Jadi Berkah

    Magalarva dan FoodCycle Ubah Limbah Makanan dan Sampah Organik Jadi Berkah

    7cloud.asia – Pemerintah getol mendorong industri pengolahan limbah makanan dengan menggunakan lalat hitam (BSF) sebagai bagian solusi pengurangan emisi karbon dari sampah.

    Salah satu industri pengolahan limbah makanan dan sampah organik dengan menggunakan lalat hitam itu adalah Magalarva yang berdiri pada 2017.

    Magalarva adalah satu dari banyak perusahaan bioteknologi di Indonesia yang menggeluti bisnis pengolahan limbah makanan dan sampah organik menjadi makanan ternak dan pupuk organik dengan teknologi BSF.

    Founder dan CEO Magalarva, Rendria Labde (31 tahun), dalam perbincangan dengan VOA baru-baru ini di kantornya, mengatakan jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dan limbah makanan menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.

     

    Baca: Aplikasi ini ubah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Padahal, 40 persen dari timbulan sampah di Indonesia adalah sampah organik dan limbah makanan.

    “BSF ini yang sangat ganas makan limbah makanan atau sampah organik, sampai habis dan cepat banget,” ujar founder dan CEO Magalarva, Rendria Labde (31 tahun), dalam perbincangan dengan VOA baru-baru ini di kantornya.

    Bau busuk menyengat dari gunungan-gunungan sampah makanan di lokasi pabrik masih menyelinap ke ruang kantor Magalarva dan tak mampu diredam dengan masker.

    Di sudut lain pabrik Magalarva, tampak mesin-mesin pengering larva bersuara menderu-deru. Begitu lah sekelumit hiruk pikuk kegiatan keseharian Magalarva.

    “This is A Real Problem”

     

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Rendria dan rekan-rekannya mendirikan Magalarva karena prihatin dengan masalah penanganan sampah organik, terutama sampah makanan, di Indonesia.

    Selama ini, katanya, gerakan kesadaran sampah hanya berkutat pada pengelolaan sampah non-organik, seperti plastik.

    Ia pernah melihat tumpukan sampah yang menggunung hingga bisa mencapai belasan lantai bangunan di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa ada solusi.

    Kalau TPA udah jenuh, ujarnya, maka pindah, jenuh (lagi), pindah (lagi). Nah, dari situ lah kita lihat…. wah, this is a real problem.

    “Yang organik malah nggak ada [solusi] sama sekali. Di situ lah kita mengambil keputusan, oke, let’s find a solution untuk ini,” tukas Rendria, lulusan Teknik Mesin Universitas Indonesia

    Baca: Yuk kenali jenis sampah dan manfaat ekonominya

    Menurut data KLHK, pada 2022, sebanyak 65,83 persen sampah di Indonesia masih diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

    Selain Magalarva, juga ada FoodCycle yang mengolah limbah makanan dengan teknologi BSF sejalan dengan komitmen pengurangan emisi karbon pemerintah.

    Herman mengatakan FoodCycle sedang mengembangkan teknologi BSF menjadi bagian dari program integrated urban farming atau konsep pertanian perkotaan terintegrasi bersama salah satu mitranya yang mengelola panti asuhan di Jati Asih, Bekasi.

    Idenya, teknologi BSF digunakan untuk mengolah limbah organik di panti asuhan itu.

    Kita belajar bareng sih sebenarnya ya. Selama ini dari awal tahun untuk mengolah limbah organik di lokasi yang hasilnya nanti langsung diberikan ke lele dan pupuknya langsung ke tanaman ubi.

    “Itu integrated urban farm,” papar Herman, jebolan teknik komputer di RMIT University di Australia.

    Baca: Teknologi pengolahan sampah Masaro

    Dia menambahkan FoodCycle berencana menduplikasi konsep pertanian perkotaan dengan teknologi BSF ini ke beberapa lokasi.

    Harapannya, kata Herman, konsep itu akan menghasilkan gaya hidup nir-sampah, sebagaimana slogan FoodCycle: Zero Hunger & Zero Waste for A Better Indonesia.

    Sementara itu, Magalarva memiliki obsesi untuk meningkatkan kapasitas pengolahannya yang artinya akan lebih banyak lagi volume sisa makanan yang diharapkan dapat diolah.

    Namun, Rendria menekankan perlunya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan non-organik.

    “Karena buat saya juga, sebenarnya kalau memang kita melihat suatu solusi yang masif untuk kita berangkat dari kesadaran individu, secara realistis itu rada-rada sulit memang sebenarnya,” tukas Rendria.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Pemkot Tangerang Dorong Pengelolaan Sampah Organik Agar Bernilai Ekonomi

    Pemkot Tangerang Dorong Pengelolaan Sampah Organik Agar Bernilai Ekonomi

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan untuk mengolah sampah agar bernilai ekonomi. Salah satunya sampah organik dengan bantuan maggot atau larva dari lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF).

    Hasilnya adalah pupuk kasgot dan maggot yang bisa dijual atau digunakan sendiri.

    Karena itu, Pj. Walikota Tangerang, Nurdin mendorong masyarakat dan berbagai pihak untuk mengolah sampah dengan cara ini.

    “Dengan melakukan pengelolaan sampah menjadi pupuk kasgot ini, tentunya bisa meningkatkan ekonomi, karena pupuk yang dikelola dari sampah dapat dipasarkan,” jelas Pj. Wali Kota, Nurdin seperti yang dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Nurdin menjelaskan sampah organik dari rumah tangga dan industri dapat dijadikan makanan bagi larva maggot.

    Baca: Aktivis lingkungan sesalkan debat cawapres

    Hal ini dapat menjadi peluang bisnis bagi masyarakat untuk memanfaatkan sampah organik menjadi barang yang dibutuhkan masyarakat.

    “Sampah organik itu bisa untuk membesarkan maggot, dan ini bisa dilakukan bersama masyarakat, jadi masyarakat bisa melakukan pemilahan sampah terlebih dahulu, sebelum sampah tersebut diangkut ke TPA,” urainya.

    Saat ini di Tangerang memang sudah ada bank sampah. Namun sisa sampah yang tidak terpakai biasanya masih diangkut ke TPA.

    “Dengan demikian, langkah menjadikan sampah sebagai pupuk melalui budidaya maggot dapat menjadi solusi untuk mengurangi penumpukan sampah,” katanya.

    Upaya ini juga hendaknya diikuti oleh gaya hidup masyarakat untuk mengurangi penumpukan dan mengatasi persoalan sampah.Masyarakat diharapkan tidak lagi menggunakan plastik.

    “Kalau bisa minimarket dan pasar-pasar tidak lagi menggunakan plastik, atau bisa juga minimarket menjual plastik dengan harga yang lebih mahal, supaya mengurangi penggunaan plastik dan sampah di masyarakat,” ucapnya.

    Baca: Aksi bebersih kali dan sungai di Tangerang

    Pada kesempatan yang sama, Kepala DLH Kota Tangerang, Tihar Sopian mengatakan pihaknya terus meningkatkan strategi pengelolaan sampah dengan mengubah menjadi pupuk organik.

    Pengelolaan sampah mulai dari pengurangan, pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, hingga pembuangan akhir, dapat dilakukan secara bersama-sama.

    “Kita semua harus melakukan pengelolaan sampah secara komprehensif dan masif, sehingga akan lebih efektif dan efisien dalam mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan,” jelasnya.

    Menurut dia pengelolaan sampah organik menjadi pupuk organik ini memiliki banyak manfaat, baik bagi lingkungan maupun ekonomi.

    Selain itu, pengelolaan sampah organik juga dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Rawa Kucing.

    “Pupuk organik juga dapat membantu memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan produktivitas tanaman,” katanya.

     Reporter: Nurakhmayani

  • Atasi Masalah Sampah Organik: Pentingnya Membangun Pembangkit Biogas Skala Kelurahan

    Atasi Masalah Sampah Organik: Pentingnya Membangun Pembangkit Biogas Skala Kelurahan

    7cloud.asia – Kebakaran di sejumlah tempat pembuangan akhir yang dipicu sampah organik pada musim kemarau tahun lalu menjadi perhatian tersendiri

    Tim peneliti dari The Purnomo Yusgiantoro Center menilai Indonesia seharusnya lebih serius menempuh langkah strategis memanfaatkan sampah dapur menjadi menjadi biogas, yaitu energi gas ramah lingkungan yang dihasilkan dari limbah organik.

    Berikut laporan yang disusun Muhammad Salman Hakim (Research Administrator, The Purnomo Yusgiantoro Center) dan Vivi Fitriyanti (Researcher, The Purnomo Yusgiantoro Center)

    Tak perlu muluk-muluk membangun fasilitas biogas berskala besar. Pemerintah daerah hanya perlu menyiapkan fasilitas pengolahan sampah organik menjadi biogas di tingkat kelurahan atau desa bersama masyarakat setempat.

    Dengan langkah ini, kami meyakini sampah organik di kota-kota dapat berkurang. Masyarakat juga bisa memanfaatkan energinya untuk kegiatan sehari-hari, misalnya memasak.

    Baca: Restorasi tempat pembuangan sampah terpadu

    Beraneka manfaat biogas kelurahan
    Biogas adalah sumber energi ramah lingkungan diperoleh dari hasil penguraian material organik secara anaerob (tanpa oksigen) oleh mikroba. Gas ini terdiri dari gas metana, karbon dioksida, nitrogen, hitrogen sulfida, hingga uap air.

    Penggunaan biogas dapat menciptakan peluang ekonomi sirkular bagi masyarakat melalui konsep waste to energy. Sampah dapur yang dahulu langsung dibuang kini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan tidak menghasilkan emisi karbon.

    Keuntungan lainnya, pemakaian biogas dapat mengurangi ketergantungan warga dengan gas LPG (liquified petroleum gas) yang berasal dari energi fosil dan kebanyakan pasokannya masih diimpor.

    Pemakaian biogas dari sampah dapur pernah dilakukan di Kelurahan Cibangkong, Kota Bandung, pada 2011.

    Upaya tersebut diinisiasi Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling)–sebuah komunitas independen di Kelurahan Cibangkong.

    Baca: Contoh baik pengelolaan sampah di sejumlah negara

    Komunitas ini mengumpulkan sampah dapur yang dihasilkan oleh tiap rumah tangga. Setelah dikumpulkan, sampah akan diproses oleh alat bernama biodigester dan didistribusikan kepada beberapa rumah tangga.

    Biogas sampah dapur di Kelurahan Cibangkong dijual dengan harga Rp 20.000 per bulan–jauh lebih rendah dibandingkan harga LPG ukuran 12 kg saat itu sebesar Rp 70 ribu.

    Dengan harga tersebut, masyarakat bisa menghemat banyak pengeluaran. Harga biogas bahkan bisa lebih murah jika pemerintah memberlakukan program ini secara massal.

    Selain biogas, proses pengolahan sampah dapur juga menghasilkan cairan sisa organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk kimia. Cairan organik itu dapat dijual sebagai pupuk sehingga menjadi peluang bisnis ramah lingkungan bagi masyarakat.

    Di Kelurahan Cibangkong, pupuk cair tersebut dijual dengan harga Rp 20 ribu per liter sehingga bisa menjadi pemasukan tambahan bagi masyarakat.

    Tantangan biogas kelurahan
    Usaha menjalankan proyek biogas kelurahan memang belum luput dari tantangan.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun dinilai ketinggalan zaman

    Pertama adalah masalah biaya. Per 2020, pemasangan biodigester berukuran 6 meter bisa memakan biaya sebanyak Rp 11 juta.

    Sumber pendanaan dari pemerintah pun cukup terbatas sehingga pelaksanaannya masih membutuhkan keterlibatan swasta (biasanya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan).

    Pelaksanaan program biogas saat ini juga belum diiringi kerja sama yang baik antar lembaga. Sebagai contoh, dari tingkat pemerintah pusat, program pengembangan biogas tersebar di banyak kementerian dan tidak diiringi dengan koordinasi yang baik.

    Perkara lainnya, Indonesia juga tidak memiliki rencana khusus untuk pengembangan biogas seperti China, padahal potensi yang dimiliki sangat besar.

    Pada level masyarakat, koordinasi untuk mengumpulkan sampah dapur, operasionalisasi sistem biogas, dan proses pemeliharaan menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat juga masih menilai penggunaan biogas cukup rumit apabila dibandingkan LPG.

    Sebagai contoh, Kelurahan Cihaurgeulis di Bandung sempat mendapatkan bantuan untuk pengembangan biogas, tapi hal tersebut tidak bertahan lama diakibatkan kurangnya pengetahuan warga dan bimbingan tentang sistem biogas.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Rekomendasi pemanfaatan biogas
    Untuk meningkatkan pemanfaatan biogas dari sampah dapur, kami memiliki lima rekomendasi:

    Pertama, pemerintah harus mengupayakan berbagai bentuk pembiayaan lain untuk mengembangkan biogas di perkotaan.

    Misalnya melalui pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan ataupun pengalokasian anggaran daerah untuk pengeluaran modal (capital expenditure).

    Kedua, pemerintah perlu mendampingi masyarakat mulai dari wawasan lingkungan hingga aspek teknis pemanfaatan biogas dari sampah dapur. Pemerintah Daerah dan organisasi masyarakat dapat menjadi tokoh dalam aksi pendampingan tersebut.

    Ketiga, memotivasi masyarakat dalam memisahkan sampah dapur melalui program-program yang menyentuh kebiasaan masyarakat. Misalnya, warga diajak untuk melihat perjalanan sampah mereka. Bisa juga melalui penghargaan, bahkan perlombaan ‘minim sampah’ antar-RT.

    Keempat, memastikan tata kelola dan petunjuk pelaksanaan yang jelas agar proyek biogas tidak mangkrak. Karena itu, pengelolaan biogas oleh perusahaan daerah, koperasi, dan organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) haruslah menjunjung prinsip tata kelola yang baik.

    Terakhir, saat ini masyarakat masih menggunakan LPG karena adanya subsidi dari pemerintah. Namun, kondisi lapangan pun membuktikan bahwa subsidi LPG tidak tepat sasaran.

    Dalam jangka panjang, pemerintah semestinya dapat mengalihkan anggaran subsidi LPG ke pengembangan biogas khususnya di daerah yang potensial sehingga mampu meningkatkan minat masyarakat.

    Sumber: The Conversation

  • Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat Siapkan Belasan Pengolahan Sampah Organik

    Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat Siapkan Belasan Pengolahan Sampah Organik

    7cloud.asia – Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat menyiapkan lebih dari sepuluh tempat penampungan sementara (TPS) yang difungsikan sebagai lokasi pengolahan sampah organik.

    Tempat penampungan sementara sampah organik ini dimaksudkan untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

    Kepala Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Barat Achmad Hariadi mengungkapkan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menekan jumlah sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

    “Penekanannya adalah Pak Menteri minta semua sampah organik dari yang dikenal dengan sampah organik dapur atau food waste, ini yang bukan daun ya. Nah ini wajib tidak dibuang ke (TPST) Bantar Bebang,” ucap Hariadi di Jakarta pada Jumat (6/11/2024).

    Baca: Pemkot Jakarta Pusat dorong warga memilah sampah rumah tangga

    Sejumlah sentra pengolahan sampah organik yang sudah disiapkan terdapat di beberapa wilayah di seluruh Jakarta Barat, termasuk Kampung Iklim di 56 kelurahan.

    “TPS RW 01 Kelurahan Kalideres kemudian di TPS RW 05 Cengkareng Barat kemudian juga Kelurahan Meruya Selatan di TPS 3R, kemudian di RW 2 juga saya dengar di RW 12 ada di Meruya Selatan,” ucap Hariadi.

    “Kemudian tentunya di RW2 Kemanggisan juga RW 6 Kota Bambu Selaran itu menjadi titik-titik dan juga semua kampung iklim 56 kelurahan menjadi sentra pengumpulan sampah organik dapur,” tutur dia.

    Tempat-tempat tersebut dipilih agar jumlah pengiriman sampah organik ke TPST dapat ditekan.

    “Mekanismenya semua sampah organik dapur akan dikelola dan tidak semua dibuang ke Bantar Gebang,” kata Hariadi.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Diketahui, produksi sampah di Jakarta Barat dapat mencapai 1.500 ton setiap harinya.

    Hingga kini, dari 72 persen sampah dikirim ke TPST Bantar Gebang termasuk sampah organik, hanya 28 persen yang telah dikelola dengan baik

    Oleh karena itu, pihak Sudin LH Jakbar berkomitmen mengelola sampah organik, sehingga yang dibuang ke TPST Bantar Gebang semakin sedikit. Salah satunya dengan mengolah residu sampah organik rumah tangga.

    Untuk itu Sudin Lingkungan Hidup menggandeng asosiasi pengusaha hotel, hotel dan restoran, pengusaha tata boga, kemudian asosiasi Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam, asosiasi magot, kemudian juga asosiasi pengusaha pengangkutan sampah dan sebagainya.

  • Mengompos Sendiri Sampah Organik Berarti Berkontribusi Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca

    Mengompos Sendiri Sampah Organik Berarti Berkontribusi Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional atau HPSN 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meluncurkan “Gerakan Nasional Compost Day, Kompos Satu Negeri”.

    “Metode kompos dapat membuat sampah menjadi berkah, atau dengan kata lain menjadikan sampah sebagai bahan bernilai ekonomi secara langsung maupun tidak langsung, atau dapat disebut sebagai bagian dalam pendekatan ekonomi sirkuler,” ungkap Siti Nurbaya, Menteri KLHK saat itu.

    Dia mengharapkan seluruh masyarakat di Indonesia dapat memilah dan mengolah sampah organik yang berasal dari rumah tangga secara mandiri.

    Jika seluruh masyarakat Indonesia melakukan pengomposan sampah organik sisa makanan setiap tahunnya secara mandiri di rumah, maka 10,92 Juta ton sampah organik tidak dibawa ke TPA, dan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 6,834 juta ton CO2eq.

    “Kompos itu mudah dan bermanfaat, jangan takut untuk mulai mengompos, karena mengompos itu tidak sulit dan hanya memerlukan kemauan untuk mencoba,” pesannya.

    Berdasarkan data yang dihimpun KLHK tahun 2022, jumlah timbulan sampah di Indonesia sebesar 68,7 juta ton/tahun dengan komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, khususnya sampah sisa makanan yang mencapai 41,27 persen.

    Baca: Pemkot Jakarta Pusat mendorong warga memilah sampah rumah tangga

    Kurang lebih 38,28 persen dari sampah organik tersebut bersumber dari rumah tangga. Selain itu, sampah organik juga merupakan kontributor terbesar dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca jika tidak terkelola dengan baik.

    Berdasarkan data KLHK Tahun 2022 juga bahwa sebanyak 65,83 persen sampah di Indonesia masih diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan akhir yang menerapkan landfill.

    Sampah organik sisa makanan yang ditimbun di landfill tersebut akan menghasilkan emisi gas metana (CH4) yang memiliki kekuatan lebih besar dalam memerangkap panas di atmosfer dibandingkan karbon dioksida (CO2).

    Kondisi tersebut mempertegas bahwa pengelolaan sampah organik, khususnya sampah sisa makanan adalah penting dan perlu menjadi perhatian utama.

    Dalam upaya mencapai target Zero Waste sudah saatnya sekarang kita meninggalkan pendekatan atau cara kerja lama kumpul-angkut-buang yang menitikberatkan pengelolaan sampah di TPA.

    Penimbunan sampah di landfill, terutama jika dikelola secara open dumping dapat menimbulkan permasalahan lingkungan, kesehatan, dan berkontribusi besar dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca yang dapat memberikan efek global perubahan iklim.

    Baca: Cara mudah memilah sampah rumah tangga secara mandiri

    Dalam rangka pelaksanaan rencana aksi untuk mencapai target nasional penurunan emisi gas rumah kaca, peran dan posisi HPSN 2023 menjadi sangat strategis untuk memperkuat posisi sektor pengelolaan sampah sebagai pendorong pengendalian perubahan iklim.

    Secara sederhana, HPSN 2023 menjadi babak baru pengelolaan sampah di Indonesia menuju Zero Waste Zero Emission Indonesia.

    Sebagai bentuk komitmen kepada dunia dalam pengendalian perubahan iklim, Pemerintah Indonesia telah menyampaikan dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution pada tanggal 23 September 2022 yang meliputi target penurunan emisi gas rumah kaca pada sektor limbah di tahun 2030 Indonesia

    Dalam Enhanced NDC itu ditargetkan penurunan tingkat emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 40 Mton CO2eq dengan upaya sendiri (CM1) dan 43,5 Mton CO2eq dengan dukungan internasional (CM2).

    Sebagai bagian dari upaya mencapai target tersebut, KLHK telah menyusun rencana aksi pencapaian Zero Waste Zero Emission dari subsektor sampah.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun harus segera diakhiri

    Sebagai bagian dari upaya mencapai target tersebut, KLHK telah menyusun rencana aksi pencapaian Zero Waste Zero Emission dari subsektor sampah, meliputi:

    (1) Peningkatan pengelolaan seluruh TPA di Indonesia untuk mengimplementasikan metode pengelolaan controlled/sanitary landfill dengan pemanfaatan gas metan pada tahun 2025;

    (2) Tidak ada lagi pembangunan TPA baru mulai tahun 2030 dengan penggunaan TPA eksisting akan dilanjutkan hingga masa operasionalnya berakhir serta landfill mining sudah mulai dilakukan;

    (3) Tidak ada pembakaran liar mulai tahun 2031;

    (4) Optimalisasi fasilitas pengelolaan sampah seperti PLTSa, RDF, SRF, biodigester, dan maggot atau black soldier flies untuk sampah biomass dan diharapkan tahun 2040 operasional TPA diperuntukkan khusus sebagai tempat pembuangan sampah residu; dan

    (5) Penguatan kegiatan pemilahan sampah di sumber dan pemanfaatan sampah sebagai bahan baku daur ulang.

    Dengan prinsip kerja Zero Waste, Zero Emission Indonesia, pengelolaan sampah di Indonesia telah bergeser ke hulu dengan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

    Tujuan kegiatan “Compost Day – Kompos Satu Negeri”, untuk mengubah pola pikir/mindset kita semua dalam mengelola sampah, khususnya sampah organik yang berasal dari sisa makanan.

    Baca: Pengelolaan sampah butuh kerjasama produsen konsumen dan pemerintah

  • Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Luncurkan Marketplace Jual Beli Maggot

    Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Luncurkan Marketplace Jual Beli Maggot

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta meluncurkan fitur baru eMaggot dalam aplikasi eKSR (Elektronik Koperasi Suka Resik) untuk memfasilitasi jual beli maggot Black Soldier Fly (BSF) secara digital.

    Melalui fitur baru ini, Dinas Lingkungan Hidup terus berkomitmen mendorong inovasi dalam pengelolaan sampah organik di Jakarta menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, inisiatif ini bertujuan menciptakan ekosistem perdagangan maggot yang transparan, mudah diakses, dan terintegrasi bagi produsen, offtaker, serta petugas pendamping DLH di lapangan.

    “Penjualan maggot kini tidak lagi mengandalkan transaksi tunai dan sistem manual, melainkan dilakukan sepenuhnya secara cashless dan tercatat secara digital,” ujar Asep, Jumat (1/8/2025).

    Dengan adanya eMaggot, pihaknya ingin memastikan setiap transaksi memiliki data yang akurat, transparan, serta memberikan kepastian pembayaran bagi produsen maupun pembeli.

    Baca: Mengubah sampah makanan jadi maggot yang bernilai tinggi

    EMaggot resmi diluncurkan pada 1 Agustus 2025. Dalam sistem ini, produsen maggot dapat menjual produknya ke Sudin LH melalui Satpel LH. Sementara offtaker membeli dan membayar setelah verifikasi oleh Sudin LH.

    Untuk menggunakan sistem ini, semua pihak yang terlibat, termasuk produsen, Satpel dan Sudin LH, serta offtaker wajib memiliki akun yang terverifikasi.

    Produsen dapat menjual maggot basah dan maggot kering tanpa ada batasan minimal berat. Pembayaran kepada produsen dilakukan pada hari yang sama.

    Asep menambahkan, fitur eMaggot ini tidak hanya mengefektifkan pengolahan sampah organik dari sumbernya langsung oleh Dinas Lingkungan Hidup.

    Fitur eMaggot juga dapat membuka peluang peningkatan pendapatan bagi para produsen maggot lokal melalui akses pasar yang lebih luas dan terjamin.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    “Langkah ini merupakan bagian dari upaya Jakarta dalam membangun ekonomi sirkular berbasis masyarakat, di mana pengelolaan sampah organik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menjadi peluang ekonomi baru yang dapat diakses secara inklusif dan digital,” tandas Asep.

    Industri budidaya maggot, terutama larva Black Soldier Fly (BSF), semakin dilirik. Budidaya maggot bisa menjadi alternatif mencari cuan yang menggiurkan.

    Keunggulan utama bisnis ini terletak pada efisiensi biaya dan dampaknya yang ramah lingkungan. Budidaya maggot mampu mengubah limbah organik menjadi protein berkualitas untuk pakan ternak, seperti ayam dan ikan.

    Dengan biaya produksi rendah, yaitu hanya Rp27 juta per tahun untuk biaya variabel, peternak dapat memproduksi hingga 35,95 ton maggot per tahun, menghasilkan pendapatan Rp251 juta selama tiga tahun.

    Selain itu, penggunaan maggot membantu mengurangi ketergantungan pada pakan impor yang mahal, menjadi solusi penting bagi sektor peternakan di tengah kenaikan biaya logistik.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

  • Dorong Warga Memilah Sampah, Pemerintah Kota Yogyakarta Bagikan 5000 Ember untuk Tampung Sampah Organik

    Dorong Warga Memilah Sampah, Pemerintah Kota Yogyakarta Bagikan 5000 Ember untuk Tampung Sampah Organik

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta membagikan 5.000 ember untuk menampung sampah organik sisa dapur rumah tangga kepada para penggerobak di 45 kelurahan.

    Pembagian ember sampah organik ini merupakan bagian dari gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah atau Mas JOS, yang bertujuan membangun pemahaman dan kebiasaan baru masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari level rumah tangga.

    Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjelaskan, lewat gerakan Mas JOS masyarakat tidak hanya diajak tapi juga difasilitasi untuk memilah sampah sampah dapur dan dipisahkan masuk ke ember kecil atau galon bekas.

    “Kalau sudah dipisahkan nanti setiap hari akan diambil oleh transporter yang di tiap gerobaknya juga sudah disediakan ember khusus untuk sampah organik dari rumah tangga,” terang Hasto usai Apel Luar Biasa Pendampingan Pengelolaan Sampah pada Jumat (19/9/2025) di Kompleks Balai Kota Yogyakarta

    Hasto menyatakan volume sampah organik per hari di Kota Yogyakarta sekitar 125 ton. Setiap penggerobak sudah dibekali 2 ember yang mampu menampung 50 kilogram sampah organik sisa dapur.

    Baca: Darurat sampah di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya teratasi

    Hasto menekankan, pemilahan sampah menjadi langkah pertama dalam mengatasi persoalan sampah. Setelah terpilah pengelolaan sampah akan berjalan lebih optimal. Seperti halnya yang menjadi ajakan dalam gerakan Mas JOS.

    Dia meminta masyarakat memilah sampah sesuai jenisnya, bawa sampah anorganik ke bank sampah atau pengepul, olah sampah organik, habiskan makanan dan gunakan wadah berulang.

    “Dimulai dari rumah kita masing-masing, sehingga kita bisa jadi contoh termasuk juga ASN, seluruh perangkat daerah Pemkot juga akan mendampingi 45 kelurahan soal pengelolaan sampah,” tandasnya.

    Hasto mengajak warga supaya bisa gotong royong menyelesaikan permasalahan sampah di Kota Yogyakarta.

    Kalau masih ada yang ragu memilah sampah karena nanti di gerobak juga akan tercampur, ujarnya, setiap transporter telah difasilitasi ember khusus untuk sampah organik, dan sisanya adalah sampah residu karena anorganik sudah masuk ke bank sampah atau pengepul.

    Baca: Sepertiga produksi sampah di Kota Yogyakarta belum tertangani

    Sampah organik yang diambil penggerobak masuk ke ember besar, setelah terkumpul akan diambil oleh off taker yang akan membeli, sifatnya B2B jadi jual beli itu ya dengan penggerobak atau kesepakatan dengan warga setempat.

    “Nanti Pemkot melalui perangkat daerah maupun kemantren mencari off taker dari swasta dan mengubungkannya dengan wilayah sebagai supplier sampah organik,” lanjutnya.

    Pihaknya menambahkan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, akan didampingi secara langsung baik melalui Juru Pengawas Pemilahan Sampah atau Jumilah di tiap kelurahan maupun Satpol PP juga Linmas.

    Saat ini ada 90 Jumilah di 45 kelurahan, 650 anggota Satpol PP, juga linmas dan perangkat daerah pendamping kelurahan akan bergilir datang langsung turun ke wilayah.

    Mereka bertugas untuk mengajak, mendampingi maupun bentuk pengawasan sejauh mana pemilahan sampah itu berjalan.

    Baca: Gerakan Mbah Dirjo mampu turunkan sampah di Kota Yogyakarta

    “Sebab ini upaya kita bersama membangun sistem dan kebiasaan baru dalam mengatasi sampah,” imbuhnya.

    Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Rajwan Taufiq mengatakan sejauh ini ada tiga off taker yang akan mengelola sampah organik dari wilayah Kota Yogyakarta.

    Dalam satu kali angkut, off taker ini mampu membawa 1 ton sampah sisa dapur rumah tangga.

    Ditargetkan, nantinya ada satu off taker di setiap kelurahan sehingga sampai akhir tahun diharapkan sudah ada 45 off taker baik peternak maupun pengepul sampah organik.

    “Sekali jalan bisa 1 ton, tinggal nanti kesepakatan dengan wilayah masing-masing mampu berapa kali angkut. Terkait titik kumpul pengambilan juga tidak harus di depo sampah, bisa juga di kelurahan atau titik lain yang disp penggerobak tiap wilayah,” katanya.

    Baca: Sistem pengelolaan sampah berbayar tuk atasi masalah di TPA Piyungan