Tag: banjir

  • Hujan Deras Mengakibatkan Banjir di 134 RT di Jakarta Tergenang hingga 1,5 Meter

    Hujan Deras Mengakibatkan Banjir di 134 RT di Jakarta Tergenang hingga 1,5 Meter

    7cloud.asia – Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu (7/3/2026) hingga Minggu (8/3/2026) menyebabkan genangan di sejumlah wilayah ibu kota.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, hingga Minggu siang pukul 12.00 waktu Indonesia barat sebanyak 148 RT dan 20 ruas jalan masih tergenang

    Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan, genangan terjadi di sejumlah wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.
    Ketinggian air bervariasi mulai dari sekitar 20 sentimeter hingga mencapai 150 sentimeter atau 1,5 meter.

    Genangan umumnya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir sehingga saluran drainase tak mampu menampung limpasan air hujan.

    Selain itu, luapan sejumlah kali seperti Kali Ciliwung, Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, dan beberapa saluran penghubung turut memperparah kondisi di sejumlah titik.

    Ia menyampaikan, wilayah Jakarta Timur menjadi kawasan dengan jumlah RT terdampak terbanyak (60 RT), diikuti Jakarta Selatan (55 RT) dan Jakarta Barat (33 RT).

    Isnawa menjelaskan, BPBD DKI Jakarta telah mengerahkan personel untuk memantau kondisi genangan di lapangan serta berkoordinasi dengan sejumlah perangkat daerah terkait untuk melakukan penanganan.

    BPBD DKI Jakarta juga berkoordinasi dengan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan dan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama dengan para lurah dan camat setempat serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas.

    “Genangan ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

    Baca: BMKG deteksi 3 bibit siklon tropis di Indonesia

    BPBD juga mencatat adanya warga yang mengungsi akibat genangan, yakni di Kelurahan Pejaten Barat. Sebanyak 46 kepala keluarga atau 72 jiwa mengungsi di Mushola Al Inayah.

    Isnawa mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi genangan, terutama di wilayah yang rawan terdampak banjir.

    “BPBD DKI mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan. Dalam keadaan darurat, segera hubungi nomor telepon 112. Layanan ini gratis dan beroperasi selama 24 jam non-stop,” tandasnya.

    Berikut sejumlah ruas jalan yang tergenang:

    1. Jalan Srengseng Raya, Kelurahan Srengseng

    2. Jalan Daan Mogot KM 13, Kelurahan Rawa Buaya

    3. Jalan Perumahan Green Garden (MCD), Kelurahan Kedoya Utara

    4. Jalan Meruya Selatan, Kelurahan Meruya Selatan

    5. Jalan Daan Mogot (Depan Victoria), Kelurahan Cengkareng Timur

    6. Jalan Daan Mogot Halte Taman Kota, Kelurahan Kedaung Kali Angke

    7. Jalan Kapten Pierre Tendean, Kelurahan Kuningan Barat

    8. Jalan Cileduk Raya (Seskoal), Kelurahan Cipulir

    9. Jalan Cileduk Raya (Kolong ITC), Kelurahan Cipulir

    10. Jalan Cileduk Raya (Pom Bensin Shell), Kelurahan Ulujami

    11. Jalan Bintaro Permai Raya (H Gari), Kelurahan Pesanggrahan

    12. Jalan Beo, Kelurahan Pesanggrahan

    13. Jalan Swadarma Raya, Kelurahan Ulujami

    14. Jalan Puri Kembangan (Depan SMK Budi Murni), Kelurahan Kedoya Selatan

    15. Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara

    16. Jalan Rawa Indah RT 003 RW 003, Kelurahan Pegangsaan Dua

    17. Jalan Karet Pasar Baru Barat I, Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat

    18. Jalan Petamburan II, Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat

    19. Jalan Bendungan Hilir, Kelurahan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat

    20. Jalan Rengas Raya, Kelurahan Bintaro.

  • Memasuki Peralihan ke Musim Kemarau, Sejumlah Daerah di Pulau Jawa Malah Dilanda Banjir

    Memasuki Peralihan ke Musim Kemarau, Sejumlah Daerah di Pulau Jawa Malah Dilanda Banjir

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan warga untuk bersiap mengantisipasi cuaca terik dan hari tanpa hujan saat musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia.

    Dalam keterangan tertulisnya pada media, BNPB menyebut bencana kebakaran hutan dan lahan mulai melanda beberapa daerah.

    Di Kalimantan Tengah, 11 kabupaten dan satu kota dilanda karhutla sejak bulan Januari 2026. Total luasan lahan terbakar per 27 Maret 2026 mencapai 357,69 hektare.

    Sementara itu, di Kalimantan Barat, terjadi kebakaran hutan dan lahan sejak 1 Januari 2026 sampai dengan 27 Maret 2026 dengan total luas lahan terbakar mencapai 671,933 hektare. Titik karhutla berada di 12 kabupaten dan dua kota.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah di Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal, yaitu pada sekitar bulan April 2026.

    Meskipun demikian di beberapa wilayah mulai terjadi peralihan musim. Adapun wilayah yang diprakirakan mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

    BNPB mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama fase peralihan musim seperti angin kencang, hujan ekstrim, puting beliung, banjir dan gelombang tinggi.

    Di sisi lain, BNPB juga berharap agar masyarakat tidak lengah dengan potensi risiko bencana hidrometeorologi kering seperti karhutla dan kekeringan.

    Sebagai upaya pencegahan, warga diimbau untuk tidak membakar sampah tanpa pantauan langsung, membuka lahan secara sengaja dengan pembakaran, serta memastikan padamnya bara saat membuang putung rokok.

    Masyarakat diimbau menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, kebutuhan makanan sementara, pakaian, alat penerangan, pengisi daya, termasuk kebutuhan darurat lainnya sebagai langkah kesiapsiagaan.

    Meskipun sebagian wilayah di Indonesia mulai memasuki musim kemarau, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi juga terjadi di sejumlah daerah.

    Merangkum laporan kejadian bencana pada periode Jumat hingga Sabtu, 27-28 Maret 2026, BNPB menyebut banjir dan angin kencang dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Pulau Jawa.

    Banjir antara lain terjadi di Kabupaten Jombang dan Pasuruan, Jawa Timur dengan ketinggian air berkisar 10 hingga 80 centimeter.

    Menurut Kepala BNPB, Suharyanto mengatakan, banjir yang menjadi langganan tiap tahun itu harus mendapatkan intervensi dari lintas kementerian/lembaga baik pusat maupun daerah.

    BNPB akan mencatat segala kebutuhan yang diperlukan mulai fase percepatan penanganan darurat hingga upaya mitigasi ke depannya agar bencana serupa tidak terulang atau paling tidak dapat diminimalisir dampaknya di kemudian hari.

    Di Jawa Tengah, banjir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Brebes, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan yang mengakibatkan ratusan keluarga terdampak.

    Atas bencana ini, warga yang terdampak mencapai 300 jiwa termasuk 27 unit rumah. BPBD Kabupaten Demak telah melakukan kaji cepat dan pengumpulan data (asesmen) termasuk memberikan dukungan bagi warga.

  • Hujan Deras Picu Banjir di Demak, Ratusan Warga Mengungsi dan Satu Lainnya Hilang

    Hujan Deras Picu Banjir di Demak, Ratusan Warga Mengungsi dan Satu Lainnya Hilang

    7cloud.asia – Hujan deras memicu banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Jumat (3/4/2026) pagi. Satu warga dilaporkan hilang dan 583 jiwa harus mengungsi di sejumlah titik pengungsian.

    Dalam keterangan tertulis kepada media, BNPB menyebut banjir di Demak ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu yang menyebabkan peningkatan debit air hingga mengakibatkan tanggul di Dukuh Solowere dan Dukuh Selodoko jebol, sehingga air meluap dan merendam permukiman warga.

    Hasil kaji cepat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, wilayah yang terdampak mencakup empat kecamatan dengan total delapan desa terdampak.

    Adapun rinciannya; di Kecamatan Guntur meliputi Desa Trimulyo, Desa Sidoharjo, Desa Turirejo, dan Desa Sumberejo.

    Baca: Bencana alam makin intens terjadi akibat perubahan iklim

    Di Kecamatan Karangtengah mencakup Desa Ploso. Sementara itu, di Kecamatan Wonosalam terdapat Desa Lempuyang. Adapun di Kecamatan Kebonagung meliputi Desa Solowire dan Desa Sarimulyo.

    Berdasarkan data sementara, sebanyak 1.070 kepala keluarga atau 4.280 jiwa terdampak banjir dan sebanyak 583 warga mengungsi di sejumlah titik pengungsian. Di antara para pengungsi, terdapat beberapa warga yang membutuhkan penanganan kesehatan.

    Selain berdampak pada pengungsian warga, banjir juga berdampak pada 1.230 unit rumah, dengan empat unit rumah mengalami rusak berat.

    Fasilitas pendidikan sebanyak 10 unit dan fasilitas ibadah sebanyak 15 unit turut terdampak. Sementara itu, sekitar 194 hektare lahan sawah ikut terendam.

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan La Nina dan El Nino makin sulit diprediksi

    BPBD Kabupaten Demak bersama unsur terkait telah melakukan berbagai upaya penanganan darurat, antara lain kaji cepat di lokasi terdampak, evakuasi warga, koordinasi lintas sektor, penyiapan lokasi pengungsian, serta pemberian layanan kesehatan bagi para pengungsi.

    BPBD telah melakukan penguatan tanggul sementara serta pencarian terhadap warga yang dilaporkan hilang, serta pendirian posko lapangan. Pemerintah daerah juga tengah memproses penetapan status tanggap darurat.

    Hingga sore hari, kondisi air masih terpantau tinggi dan proses evakuasi warga masih berlangsung, khususnya di wilayah Desa Trimulyo. Layanan kebutuhan dasar bagi pengungsi, seperti permakanan dan layanan kesehatan, terus diberikan di lokasi pengungsian.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat kondisi tanggul dan debit air yang masih tinggi.

  • Banjir Besar di Bengkulu Dinilai Sebagai Bukti Adanya Krisis Ekologis yang Serius

    Banjir Besar di Bengkulu Dinilai Sebagai Bukti Adanya Krisis Ekologis yang Serius

    7cloud.asia – Banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Provinsi Bengkulu sejak 5 April 2026 tidak bisa lagi dibaca sebagai sekadar dampak hujan deras atau cuaca ekstrem semata.

    Dalam pernyataan tertulis yang dirilis di laman resminya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut, banjir yang melanda Kabupaten Lebong, Kepahiang, Rejang Lebong, Bengkulu Tengah, Seluma, hingga Kota Bengkulu ini memperlihatkan sebuah pola yang jauh lebih serius.

    Bahwa krisis ekologis yang telah berlangsung lama dan kini meledak dalam bentuk bencana lintas wilayah.

    Dari kawasan hulu hingga hilir, air meluap dengan cepat, merendam rumah-rumah warga, memutus akses jalan, melumpuhkan aktivitas ekonomi, merusak stok pangan rumah tangga, menghanyutkan bibit pertanian, dan memaksa masyarakat bertahan di tengah situasi darurat yang terus berulang.

    Data lapangan yang terhimpun oleh WALHI Bengkulu menunjukkan banjir yang terjadi di Provinsi Bengkulu mengakibatkan ribuan warga terdampak.

    WALHI Bengkulu menegaskan bahwa banjir besar ini bukanlah peristiwa alam yang berdiri sendiri.

    Ini adalah konsekuensi langsung dari rusaknya bentang alam Bengkulu akibat ekspansi industri ekstraktif, lemahnya perlindungan daerah aliran sungai, serta tata ruang yang gagal melindungi keselamatan rakyat.

    Aktivitas pertambangan batubara, perkebunan skala besar, dan berbagai bentuk konsesi di kawasan tangkapan air telah menghancurkan tutupan hutan, merusak struktur tanah, menghilangkan daya serap kawasan hulu, dan mempercepat limpasan air ke wilayah tengah dan hilir.

    Baca: Pemulihan Banjir Sumatera, negara hanya mau mengatur tapi enggan menafkahi

    WALHI menegaskan tidak ada banjir tanpa kerusakan hulu, dan tidak ada kerusakan tanpa pelaku. Dalam konteks ini, korporasi yang beroperasi di bentang alam Bengkulu harus diperiksa dan dimintai pertanggungjawaban secara hukum.

    Namun tanggung jawab tidak berhenti pada korporasi. Negara, baik pemerintah daerah maupun pusat, juga tidak dapat terus bersembunyi di balik narasi “bencana alam”.

    Risiko yang hari ini menenggelamkan rumah warga sesungguhnya diproduksi melalui keputusan politik dan kebijakan ruang yang mengabaikan keselamatan ekologis.

    Izin pertambangan dan perkebunan terus diterbitkan di wilayah sensitif, kawasan hutan dialihfungsikan, rawa dan daerah resapan menyusut, sementara tata ruang justru melegalkan pembangunan di kawasan rawan banjir dan sempadan sungai.

    Kepala Divisi Advokasi WALHI Bengkulu, Julius Nainggolan menyampaikan Negara bukan sekadar gagal mencegah, tetapi dalam banyak kasus justru menjadi fasilitator lahirnya risiko ekologis yang hari ini ditanggung rakyat.

    Karakter banjir yang terjadi kali ini memperlihatkan skala yang sangat luas, menjangkau wilayah hulu hingga hilir dalam waktu cepat, dengan tinggi muka air di sejumlah lokasi mencapai lebih dari satu meter hanya dalam hitungan jam.

    Selain genangan di permukiman dan kerusakan infrastruktur, bencana turunan seperti longsor di Seluma Timur dan puting beliung di Rejang Lebong semakin menegaskan bahwa daya dukung ekologis Provinsi Bengkulu berada dalam kondisi kritis.

    Baca: Banjir Sumatera akibat kelalaian negara dalam menjaga lingkungan

    Dampak yang ditimbulkan juga berlapis: bukan hanya kerugian fisik, tetapi juga krisis pangan rumah tangga, ancaman gagal tanam, kerusakan ekonomi desa, serta potensi penyakit pascabanjir yang membebani kelompok paling rentan.

    “Kami menuntut audit menyeluruh dan pencabutan izin seluruh perusahaan tambang, perkebunan, dan konsesi lain yang beroperasi di daerah aliran sungai prioritas Provinsi Bengkulu,“ tandas Julius.

    Julius menegaskan, penegakan hukum terhadap korporasi yang terbukti menyebabkan kerusakan ekologis harus segera dilakukan dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak atau strict liability.

    Selain itu, pemerintah harus memberlakukan moratorium izin baru di seluruh kawasan tangkapan air, sempadan sungai, rawa, dan bentang alam sensitif lainnya.

    Pemulihan yang dibutuhkan bukan sekadar proyek normalisasi sungai atau pembangunan infrastruktur jangka pendek, tetapi rehabilitasi menyeluruh kawasan hulu DAS, perlindungan ruang resapan, pemulihan rawa, dan pelibatan masyarakat dalam pengawasan serta pemulihan ruang hidup mereka”.

    Julius menambahkan, banjir Bengkulu 2026 adalah peringatan keras bahwa krisis ekologis di provinsi ini telah mencapai titik darurat.

    Menyederhanakan persoalan ini hanya sebagai dampak hujan deras adalah bentuk pengaburan tanggung jawab dan pengulangan kebohongan lama yang terus merugikan rakyat.

    ”Yang sedang terjadi adalah kejahatan ekologis yang terstruktur, dengan korporasi sebagai pelaku utama dan negara sebagai fasilitator,” tegas Julius.

    Karena itu, para pelaku perusakan lingkungan dan pejabat yang memberikan izin tanpa mempertimbangkan keselamatan ekologis harus dimintai pertanggungjawaban secara hukum, politik, dan moral.

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Wilayah Ini

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Wilayah Ini

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk sejumlah wilayah di Provinsi Banten pada Minggu (02/05/2026).

    Melalui akun instagram resminya, BMKG menyebut cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang ini berlaku hingga Selasa (5/05/2026) mendatang.

    Sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem adalah Kabupaten Pandeglang bagian selatan, Kabupaten Lebak bagian tengah dan selatan, Kabupaten Tangerang bagian selatan dan Kota Tangerang Selatan.

    hujan berintensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur Kabupaten Serang bagian barat dan selatan, Kota Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang bagian tengah dan utara serta Kota Tangerang.

    Sementara kota-kota lainnya berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir seperti Kota Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Jambi, Pangkal Pinang, Bengkulu, Bandar Lampung, Jakarta, Semarang, Pontianak, Samarinda.

    Selain itu, Kota Palangkaraya, Denpasar, Mataram, Kendari, Palu, Ternate, Ambon, Sorong, Nabire, Manokwari, Jayapura dan Jayawijaya juga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan.

    Untuk Kota Bandung, Tanjung Selor dan Makassar, BMKG memprediksi hujan dengan intensitas sedang,

    Kemudian hujan dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju. Sedangkan hujan disertai petir Kota Tanjung Pinang, Palembang, Yogyakarta, Surabaya dan Banjarmasin.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, pohon tumbang dan tanah longsor yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

  • Cuaca Akhir Pekan: Hati-hati, Jakarta dan Beberapa Wilayah Berpotensi Hujan Sangat Lebat

    Cuaca Akhir Pekan: Hati-hati, Jakarta dan Beberapa Wilayah Berpotensi Hujan Sangat Lebat

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur Jakarta dan beberapa wilayah pada Sabtu (23/05/2026).

    Dalam laman resmi BMKG, hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat juga berpotensi mengguyur wilayah Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Barat dan Maluku.

    Sementara wilayah lainnya hujan berintensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur Aceh, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula mengguyur wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua.

    Tak hanya hujan, BMKG memprakirakan angin kencang dengan kecepatan maksimal 25 knot akan terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan pohon tumbang.     

  • Hujan Deras Picu Banjir di Medan, Ribuan Rumah Terdampak

    Hujan Deras Picu Banjir di Medan, Ribuan Rumah Terdampak

    7cloud.asia – Meski sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, kejadian hidrometeorologi basah yakni hujan deras yang mengakibatkan banjir dilaporkan masih terjadi di sejumlah daerah.

    Dalam rangkuman perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan banjir terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Utara dan Sulawesi.

    Sementara kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi perhatian di beberapa wilayah yang mulai memasuki musim kemarau.

    Di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, hujan deras menyebabkan banjir di beberapa wilayah pada Jumat (5/6/2026) dan berdampak pada 2.183 kepala keluarga atau 6.860 jiwa, serta mengakibatkan 1.992 unit rumah terdampak.

    Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Kwala Bekala di Kecamatan Medan Johor; Kelurahan Beringin di Kecamatan Medan Selayang; Kelurahan Aur dan Sei Mati di Kecamatan Medan Maimun; serta Kelurahan Besar di Kecamatan Labuhan.

    BPBD Kota Medan bersama unsur terkait melakukan asesmen, pemantauan kondisi lapangan dan penanganan darurat bagi masyarakat terdampak. Hingga laporan ini disusun, banjir dilaporkan telah berangsur surut dan warga mulai melakukan pembersihan lingkungan.

    Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Binjai, Harjosari II, dan Medan Tenggara di Kecamatan Medan Denai.

    Peristiwa bencana berikutnya terjadi di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara, pada Jumat (5/6/2026).

    Cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras disertai petir dan angin kencang mengakibatkan 20 unit rumah mengalami rusak berat serta 20 kepala keluarga terdampak.

    Lokasi kejadian meliputi Desa Sei Sijenggi, Melati II, Pematang Sijonam, Jambur Pulau, Cinta Air, Lubuk Cemara, Kelurahan Tualang dan Kota Galuh di Kecamatan Perbaungan, serta Desa Simpang Empat di Kecamatan Sei Rampah.

    Tim Satgas BPBD Kabupaten Serdang Bedagai masih melakukan penanganan dan asesmen terhadap dampak bencana bersama pemerintah desa dan kecamatan setempat.

    banjir juga terjadi di Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Jumat (05/06). Bencana tersebut berdampak pada 208 kepala keluarga atau 708 jiwa dan menyebabkan 148 unit rumah terdampak yang masih dalam proses pendataan.

    Wilayah terdampak meliputi Desa Mulat, Mopu, Bungkudu, dan Potangoan di Kecamatan Bukal. BPBD Kabupaten Buol bersama unsur terkait terus melakukan asesmen dan penanganan di lokasi kejadian.

    Laporan terkini menyebutkan, air mulai surut, meskipun genangan masih terdapat di beberapa rumah dan masyarakat bersama petugas masih melakukan pembersihan lingkungan.

    Selain kejadian baru, BNPB juga memantau sejumlah kejadian yang masih berada dalam tahap penanganan dan pengkinian data.

    Di Provinsi Sulawesi Selatan, banjir yang melanda Kabupaten Luwu Utara sejak Minggu (18/5/2026) masih menjadi salah satu perhatian. Bencana tersebut berdampak pada 3.557 kepala keluarga atau 12.307 jiwa, sementara 110 jiwa masih mengungsi.

    Pemerintah Kabupaten Luwu Utara masih menetapkan status tanggap darurat hingga Selasa (16/6/2026). Meskipun cuaca relatif cerah, hujan deras yang terjadi pada Rabu (4/6/2026) malam meningkatkan debit sungai dan kembali menyebabkan genangan setinggi 10 hingga 40 sentimeter di sejumlah desa dengan enam titik tanggul jebol.

    Warga sebagian besar masih bertahan di rumah masing-masing, sementara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) bersama Dinas Pekerjaan Umum terus melakukan perbaikan darurat tanggul serta distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak