Tag: lingkungan

  • Warna Baru Heatgard, Cat Tolak Panas untuk Eksterior untuk Rumah yang Lebih Ramah Lingkungan

    Warna Baru Heatgard, Cat Tolak Panas untuk Eksterior untuk Rumah yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Menghindari udara panas, pemilik rumah bisa memanfaatkan lapisan cat tertentu yang mampu menahan panas sinar matahari saat siang hari untuk menjaga interior hunian tetap nyaman.

    Aquaproof selaku jenama cat pelapis anti bocor memiliki produk Heatgard yang mengusung fungsi ganda yakni penolak panas sekaligus pelapis anti bocor.

    Heatgard yang sebelumnya tersedia dalam tiga opsi warna putih, abu-abu dan cream cheese, kini tersedia dengan tiga kelir baru yakni abu fosil, mocca latte dan terakota klasik.

    Marketing Manager PT Adhi Cakra Utama Mulia (Aquaproof) Chandra Kurniawan mengatakan, produk dari Aquaproof ini menjadi solusi pemilik rumah terutama yang mengalami masalah hawa panas pada huniannya.

     Baca Juga: Green Building atau Bangunan Ramah Lingkungan, Langkah Strategis untuk Antisipasi Pemanasan Global

    Kondisi ini banyak terjadi pada rumah hook atau rumah yang berada di sudut, rumah jenis ini akan lebih terpapar panas matahari karena memiliki dua sisi yang terbuka.

    “Sehingga pemilik rumah akan merasakan panas berlebih di dalam rumahnya,” katanya dalam siaran pers pada Jumat (5/7/2024).

    Chandra menjelaskan, Heatgard dapat menurunkan suhu permukaan yang dilapisinya hingga 10-20 derajat celcius.

    “Dengan Heatgard, penggunaan peralatan elektronik seperti kipas angin dan AC juga akan lebih menurun sehingga lebih menghemat energi listrik,” kata dia.

    Warna baru Heatgard memiliki karakteristik tersendiri. Misalnya abu fosil yang tergolong warna netral, tidak terlalu gelap dan tidak terlalu cerah, sehingga cocok untuk diaplikasikan pada dinding fasad, dinding samping maupun atap.

    Baca Juga: Mengenal Konsep Desain Biofilik: Menghadirkan Alam ke Dalam Lingkungan Binaan

    Kelir mocca latte mungkin dibayangkan seperti perpaduan kopi, cokelat dan susu. Padahal warna itu perpaduan antara cokelat dan krem yang membentuk karakteristik hangat, lembut, memberikan kesan aman.

    Bahkan bisa memberikan rasa nyaman dan mengurangi stres bagi penghuni rumah.

    Adapun terakota klasik adalah warna tanah liat atau batu bata yang dibakar. Terakota klasik mengusung nuansa merah bata dengan sedikit kecoklatan yang cocok diaplikasikan di atap karena menyerupai kelir genteng.

    Dengan penggunaan Heatgard, maka suhu dalam rumah akan lebih adem sehingga penggunaan alat penggunaan AC bisa dikurangi.

    Baca Juga: 8 Tanaman Ini Efektif Mengurangi Polusi Udara

    Dengan cara ini, maka dengan menggunakan Heatgard Anda bisa menghemat penggunaan energi dan menjadi salah satu penyelamat lingkungan.

    Jika Anda tertarik menggunakan Heatgard, masing-masing warna dikemas dalam ukuran 4 liter dan 20 liter.

    Untuk setiap 1 liter direkomendasikan untuk bidang seluas 1 meter persegi (dua lapis).

    Selain itu produk cat pelapis penolak panas dan anti bocor ini juga telah mendapatkan sertifikat Green Label dari Singapore Environment Council (SEC) yang menunjukkan bahwa produk ini lebih ramah lingkungan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Menteri LHK Siti Nurbaya Ingatkan Indonesia Hadapi Tiga Krisis Lingkungan Global

    Menteri LHK Siti Nurbaya Ingatkan Indonesia Hadapi Tiga Krisis Lingkungan Global

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengingatkan, Indonesia menghadapi tantangan tiga krisis global termasuk perubahan iklim.

    Untuk menghadapi dan untuk mengatasi tantangan tiga krisis global ini perlu langkah nyata dalam partisipasi publik.

    Menteri LHK Siti Nurbaya dalam Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 di Jakarta, Jumat (5/7/2024), menyampaikan bahwa tema tahun global untuk peringatan tahun ini adalah “Restorasi Lahan, Desertifikasi dan Ketahanan Menghadapi Kekeringan” atau “Land Restoration, Desertification, and Drought Resilience”.

    Tema ini dilatarbelakangi kondisi saat ini tantangan tiga krisis global yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati dan penipisan sumber daya alam serta polusi.

    Menghadapi ketiga tantangan utama tersebut, Siti menjelaskan, rangkaian kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, berfokus pada upaya peningkatan dan penguatan partisipasi masyarakat serta memastikan atensi terus diberikan kepada upaya pelestarian lingkungan.

    “Dalam merespons isu-isu lingkungan dengan tindakan nyata selain penguatan kebijakan dan langkah korektif,” tutur Siti dalam acara yang dihadiri oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin tersebut.

    Kegiatan yang diadakan KLHK sendiri dilakukan di seluruh Indonesia, untuk memastikan partisipasi yang merata dari seluruh wilayah Tanah Air.

    Dia mengatakan kegiatan-kegiatan itu dimaksudkan untuk memperkuat kebijakan dan langkah operasional aksi pelestarian lingkungan dan aksi iklim serta memastikan konsistensi kerja-kerja di akar rumput.

    Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyoroti pentingnya peningkatan partisipasi publik untuk mendukung beragam upaya pelestarian lingkungan dalam Puncak Acara Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 di Jakarta, Jumat.

    “Kegiatan World Environment Day 2024 Indonesia merupakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk terus memperkuat partisipasi publik dan semakin memperkuat pertumbuhan dan perkembangan atensi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya pelestarian lingkungan,” ujar Menteri LHK Siti Nurbaya ketika membuka acara tersebut.

    Peningkatan keterlibatan publik, lanjutnya, perlu dilakukan untuk merespons isu-isu lingkungan dengan langkah nyata selain melalaui penguatan kebijakan dan langkah korektif.

    Terkait hal tersebut, dalam acara peringatan yang dihadiri juga oleh Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin, Menteri LHK mengatakan kegiatan partisipatif publik telah digelar di beragam daerah di Indonesia untuk memperkuat aksi lingkungan dan iklim dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Dia juga mengatakan penguatan kebijakan publik dan korektif terus dilakukan oleh pemerintah melalui KLHK disertai dengan aksi-aksi inovasi di lapangan, terutama mendukung kegiatan yang datang dari masyarakat.

    Memberikan arahan, Wapres Ma’ruf Amin mengingatkan ancaman krisis global yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi.

    “Agar dampaknya tidak meluas ke aspek kehidupan seperti lingkungan, kesehatan masyarakat, laju pembangunan. Ketiga krisis ini perlu segera ditangani,” kata Wapres Ma’ruf Amin.

    Dalam kesempatan itu KLHK juga meresmikan peluncuran Indonesia Green TV yang berada di bawah asuhan KLHK dan klub sepeda bambu untuk duta-duta besar negara sahabat.

    Ma’ruf Amin mengatakan bahwa untuk menyelesaikan krisis iklim membutuhkan prinsip keadilan yang disertai dengan inovasi.

    “Dengan tetap mengedepankan prinsip inklusivitas, keadilan dalam satu generasi, dan keadilan antar-generasi,” kata Wapres.

    Sumber:Antaranews.com

  • Meski Bagus untuk Lingkungan, Masih Ada Masyarakat yang Menolak Proyek Energi Terbarukan (2)

    Meski Bagus untuk Lingkungan, Masih Ada Masyarakat yang Menolak Proyek Energi Terbarukan (2)

    7cloud.asia – Penolakan sosial terhadap proyek-proyek energi terbarukan ditemukan di banyak negara dan terjadi di banyak skema.

    Penolakan itu mulai dari proyek energi terbarukan yang diusulkan pengembang, hingga skema alternatif pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas yang sebenarnya menempatkan masyarakat sebagai tokoh protagonis.

    Kurangnya penerimaan masyarakat dalam proyek energi terbarukan acap terkait anggapan orang-orang bahwa manfaat dan biaya suatu proyek energi terbarukan tidak terbagi secara merata.

    Dan, hal ini telah diulas dalam tulisan sebelumnya. Selain perkara manfaat, kata “tidak” untuk suatu proyek juga berhubungan dengan kekurangan ataupun ketiadaan informasi tentang karakter dan manfaat proyek.

    Baca: Masyarakat menolak proyek pengembangan energi terbarukan karena manfaat

    Ketiadaan informasi dan partisipasi dalam proyek energi terbarukan ini termasuk kurangnya kesempatan dan alternatif partisipasi.

    Semua ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pengembangan proyek energi terbarukan.

    Pengembang tak bisa merumuskan proyek hanya berdasarkan kelayakan ekonomi dan teknis. Aspek penerimaan sosial juga perlu dipertimbangkan, melalui pelibatan komunitas sejak awal.

    Harapannya, rasa kepemilikan masyarakat setempat terhadap proyek tersebut dapat bertumbuh.

    Baca: Risiko ekonomi terus mempertahankan bahan bakar fosil

    Kepemilikan psikologis masyarakat dalam proyek energi terbarukan dapat kita capai melalui cara berbeda, seperti partisipasi aktif sejak fase permulaan.

    Masyarakat dapat berunding dan bekerja sama dengan pengembang serta institusi publik melalui komunikasi yang efektif dan strategi informasi, mencakup segala aspek dalam proyek (ekonomi, finansial, dan lingkungan).

    Pengembang juga dapat melibatkan masyarakat agar proyek energi terbarukan memenuhi karakter dan kebutuhan spesifik di suatu daerah.

    Tidak ada solusi tunggal untuk meningkatkan penerimaan sosial dan partisipasi masyarakat dalam proyek energi terbarukan.

    Baca: Saatnya meninggalkan bahan bakar fosil

    Namun, ada praktik-praktik yang dapat dilakukan pengembang agar proyek mendapatkan dukungan masyarakat dan berkontribusi bagi kesejahteraan mereka.

    Praktik ini kami ulas secara mendalam dalam laporan terkait penerimaan sosial proyek-proyek energi terbarukan lokal.

    Seluruh pihak, mulai dari pengembang, institusi administrasi dan lembaga publik, tokoh masyarakat, dan warga secara umum perlu mendapatkan informasi yang cukup.

    Semua pihak wajib bergotong royong untuk mencapai transisi ke energi terbarukan yang adil, merata, dan efisien.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Spanish. Penulis: Stephanía Mosquera López, peneliti Lab de Energía y Medioambiente – Orkestra, Universidad de Deusto

  • Meski Bagus untuk Lingkungan, Masih Ada Masyarakat yang Menolak Proyek Energi Terbarukan (1)

    Meski Bagus untuk Lingkungan, Masih Ada Masyarakat yang Menolak Proyek Energi Terbarukan (1)

    7cloud.asia – Penerimaan masyarakat dalam proyek energi terbarukan adalah hal menantang yang relevan dan semakin banyak dibicarakan.

    Sikap masyarakat soal energi terbarukan bahkan sudah diangkat ke layar lebar, seperti dalam film spanyol, Alcarràs dan As bestas.

    Kebanyakan orang memang sepakat tentang pentingnya energi terbarukan untuk membersihkan perekonomian dan menghadapi ancaman perubahan iklim.

    Namun, barangkali ada orang yang tak menginginkan turbin angin dipasang di halaman mereka, ataupun area lain yang menghalangi pandangan.

    Penolakan sosial proyek-proyek energi terbarukan terjadi di banyak skema. Mulai dari proyek yang diusulkan pengembang, hingga skema alternatif pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas yang sebenarnya menempatkan masyarakat sebagai tokoh protagonis.

    Penolakan yang terjadi dapat berkembang melampaui gerakan Not in my backyard ( NIMBY ) yang bergaung di banyak negara.

    Baca: Risiko ekonomi jika bahan bakar fosil dipertahankan

    Namun, keberadaan NIMBY bukanlah satu-satunya faktor dalam penolakan energi terbarukan, melainkan hanyalah penjelasan sederhana dari persoalan sosial ini.

    Kurangnya penerimaan masyarakat dalam proyek energi terbarukan acap terkait anggapan orang-orang bahwa manfaat dan biaya suatu proyek energi terbarukan tidak terbagi secara merata.

    Energi terbarukan memang perlu terus digenjot untuk mencapai transisi energi. Namun, transisi ini harus berkeadilan, yakni memiliki pembagian manfaat dan biaya penyediaan energi yang sepadan.

    Pengambilan keputusan di seluruh level proyek juga harus lebih representatif dan inklusif atau melibatkan semua kalangan.

    Inilah kenapa, penting bagi proyek infrastruktur energi terbarukan untuk mencapai kesepakatan yang berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

    Kesepakatan tersebut baru bisa terjadi jika ada kesadaran bersama bahwa energi terbarukan tak hanya penting untuk memerangi perubahan iklim, tapi juga mendatangkan berbagai keuntungan bagi masyarakat setempat.

    Baca: Saatnya meninggalkan bahan bakar fosil

    Proyek energi terbarukan yang dikelola dengan baik dapat menyokong pembangunan ekonomi setempat melalui penyerapan barang dan jasa lokal, sewa lahan, dan penciptaan lapangan kerja.

    Semuanya dapat mendukung penciptaan sekaligus keberlangsungan dunia usaha di tingkat lokal.

    Perekonomian yang menggeliat dapat meningkatkan pendapatan daerah—aspek penting untuk memperbaiki pelayanan dan sumber daya otoritas daerah. Aktivasi ekonomi juga berdampak positif bagi demografi di daerah longgar penduduk.

    Pengembang proyek dapat meningkatkan penerimaan sosial dengan kompensasi-kompensasi seperti pengurangan tarif listrik ataupun kompensasi dalam bentuk barang dan jasa bagi suatu komunitas.

    Pengembang juga dapat menyeleraskan pekerjaan dengan proyek lainnya yang sedang berjalan secara paralel, seperti penggunaan lahan bersama untuk mengintegrasikan fasilitas dalam perekonomian lokal (pertanian, peternakan, pengelolaan hutan).

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Spanish. Penulis: Stephanía Mosquera López, peneliti Lab de Energía y Medioambiente – Orkestra, Universidad de Deusto

     

     

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia hingga Penyusunan Dokumen Iklim

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia hingga Penyusunan Dokumen Iklim

    7cloud.asia – Artikel mengenai kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun kembali menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel tentang lingkungan, seperti hari tanpa kantong plastik sedunia ataupun masukan masyarakat sipil terkait penyusunan dokumen iklim

    Rangkaian aktivisme masalah dan kegiatan masyarakat urban juga menjadi berita terpopuler pekan ini.

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. 8 kota pilihan menghabiskan masa pensiun

    Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih kota untuk menghabiskan masa pensiun

    Faktor-faktor tersebut antara lain kedekatan lokasi, kelengkapan infrastruktur, biaya hidup, serta kondisi lingkungan yang tenang.

    Jika sebuah kota memenuhi kriteria di atas, maka bisa dipastikan kota tersebut menjadi tempat yang nyaman menghabiskan masa pensiun.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Hari tanpa kantong plastik sedunia

    Hari Rabu, 3 Juli 2024, dunia kembali merayakan Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia atau International Plastic Bag Free Day

    Peringatan global Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia ini sebagai upaya untuk mengkampanyekan kepada masyarakat dunia untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai.

    Peringatan Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia dimulai pada tahun 2016 dengan adanya Gerakan Bebas dari Plastik dan diikuti oleh setidaknya sekitar 1500 organisasi.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. Penipuan di aplikasi Telegram

    Penipuan dengan modus ‘menyelesaikan misi’ di Telegram kembali menelan korban. Tak tanggung-tanggung, korban kehilangan uang hingga Rp 147 juta hasil tabungannya.

    Kali ini korban penipuan dengan modus ‘menyelesaikan misi’ di Telegram adalah adalah Restina Hotniganda Nainggolan (30)seorang ibu muda warga Perumahan Tonjong Asri, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor,

    Dilansir viva.co.id, Restina menceritakan, penipuan itu bermula pada saat dirinya menerima undangan dari grup aplikasi Telegram bernama Somethinc Sosial pada Minggu 12 Mei 2024.

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Mengenal profesi pramusapa

    Pramusapa, demikian profesi ini dinamakan. Pramusapa ini bertugas untuk melayani penumpang prioritas TransJakarta ataupun commuterline.

    Saya menemukan pramusapa pertama kali saat melintas di jembatan penyeberangan yang menghubungkan halte TransJakarta Velbak dengan Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

    Pada Rabu (20/9/2023) malam saya kembali menemukan pramusapa itu. Pramusapa bernama Raka Novan sedang memandu dua orang disabilitas netra, Dadan dan rekannya, dari Halte TransJakarta Velbak menuju Stasiun Kebayoran.

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. Masukan masyrakat sipil terkait penyusunan dokumen iklim

    Koalisi masyarakat sipil mendorong pelibatan masyarakat paling berisiko terkena dampak perubahan iklim dalam proses penyusunan dokumen Second National Determined Contribution (NDC) yang dijadwalkan rampung dalam waktu dekat.

    Dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Kamis (4/7/2024), Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan, Nadia Hadad mengatakan dari pengalaman penyusunan dokumen iklim NDC sebelumnya, masyarakat rentan justru tidak pernah dilibatkan dalam merumuskan kebijakan.

    Padahal seharusnya kelompok inilah yang mendapat manfaat terbesar dalam mitigasi penanganan dampak perubahan iklim.

    Baca berita selengkapnya di sini

  • Bagaimana Jumlah Penduduk Dunia yang Berlebihan Mengancam Kelestarian Lingkungan

    Bagaimana Jumlah Penduduk Dunia yang Berlebihan Mengancam Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Penduduk dunia telah tumbuh secara eksponensial selama beberapa dekade terakhir, dari sekitar 2 miliar pada tahun 1900 menjadi lebih dari 8 miliar saat ini.

    Diperkirakan penduduk dunia akan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang dan dikhawatirkan bisa berdampak pada kelestarian lingkungan.

    Meskipun peningkatan jumlah penduduk dunia dapat dilihat sebagai hal yang positif pembangunan, hal ini juga menimbulkan tantangan yang signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan.

    Dalam artikel ini, kami mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana kelebihan populasi mempengaruhi keberlanjutan dan tantangan apa yang ditimbulkan oleh tren ini?

    Artikel ini juga coba menjawab, apa solusi potensial untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dan menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan Masa depan untuk semua?

    Baca: Penduduk dunia dekati angka 10 miliar, apa dampaknya pada lingkungan

    Bagaimana Kelebihan Populasi Mempengaruhi Keberlanjutan?
    Dengan mendidik masyarakat tentang keluarga berencana, kontrasepsi, faktor dan tren pertumbuhan populasi, serta topik relevan lainnya, kita dapat memberdayakan individu untuk membuat keputusan yang tepat mengenai kesehatan reproduksi mereka.

    Meningkatnya populasi di dunia berdampak langsung pada keberlanjutan, karena bertambahnya jumlah penduduk akan semakin banyak orang yang membutuhkan sumber daya untuk bertahan hidup.

    Di bawah ini, kami mengkaji berbagai permasalahan yang timbul akibat kelebihan populasi dan dampaknya terhadap keberlanjutan.

    Perubahan iklim
    Meningkatnya tingkat populasi menyebabkan peningkatan konsumsi sumber daya, sehingga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih besar.

    Hal ini berkontribusi terhadap perubahan iklim dan dapat berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Baca: Angka kelahiran terus menurun, kabar baik atau kabar buruk?

    Penipisan sumber daya
    Bertambahnya jumlah penduduk makan akan semakin banyak orang yang membutuhkan lebih banyak makanan, air, energi, dan sumber daya lainnya untuk kelangsungan hidup mereka.

    Karena semakin langkanya sumber daya tersebut karena kelebihan populasi, semakin sulit bagi kita untuk mempertahankan cara hidup kita saat ini.

    Degradasi Lingkungan
    Semakin banyak orang yang mengkonsumsi sumber daya, maka akan tercipta limbah dan polusi yang dapat merusak lingkungan.

    Hal ini dapat menyebabkan erosi tanah, polusi air, dan bentuk kerusakan lainnya yang dapat menimbulkan konsekuensi yang parah.

    Baca: Polusi dan degradasi lingkungan pengaruhi kesuburan

    Penggundulan hutan
    Kelebihan populasi menyebabkan peningkatan permintaan akan perumahan, makanan, dan sumber daya, yang antara lain dapat menyebabkan deforestasi.

    Dunia kehilangan sekitar 10 juta hektar setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan hilangnya habitat hewan dan memperburuk perubahan iklim dengan mengurangi jumlah tersebut karbon dioksida yang dapat diserap tanaman.

    Masalah sosial
    Kelebihan populasi dapat menyebabkan kepadatan penduduk, kemiskinan, kerawanan pangan, dan masalah sosial lainnya.

    Hal ini dapat menciptakan ketegangan antara masyarakat dan negara karena sumber daya menjadi semakin langka.

    Hilangnya keanekaragaman hayati
    Pada tahun 2020, WWF melaporkan bahwa selama 50 tahun terakhir, dunia telah melihat rata-rata penurunan populasi mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi sebesar 68 persen.

    Hal ini karena habitat dirusak untuk dijadikan tempat tinggal manusia dan keanekaragaman satwa liar Hal ini berdampak negatif pada rantai makanan dan dapat mengancam kepunahan seluruh spesies.

    Sumber: earth.org

  • DPR: Politik Anggaran yang Berpihak pada Lingkungan Mendesak Dilakukan untuk Antisipasi Perubahan Iklim

    DPR: Politik Anggaran yang Berpihak pada Lingkungan Mendesak Dilakukan untuk Antisipasi Perubahan Iklim


    7cloud.asia – Politik anggaran yang berpihak pada kelestarian lingkungan penting untuk megantisipasi ancaman perubahan iklim.

    Dampak perubahan iklim ini sudah semestinya mendapat perhatian serius karena menyangkut masa depan bagi generasi penerus.

    Hal ini disampaikan Anggota DPR Dyah Roro Esti melalui Kaukus Ekonomi Hijau DPR RI dalam acara ‘Mendukung Penguatan Pembiayaan Perubahan Iklim, dan Islamic Blended Finance dalam Pembangunan Rendah Karbon dan Ekonomi Hijau’.

    Dyah menitikberatkan pada peluang yang bisa didapat dengan mendukung ekonomi hijau, salah satunya dalam mengurangi emisi karbon yakni dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

    Dyah menambahkan, kontributor emisi karbon banyak banget. Ada sektor energi, sektor industri, sektor limbah, sektor perhutanan.

    Baca Juga: Perubahan Iklim dan Disabilitas: Pemerintah Belum Merecognisi Kebutuhan Disabilitas

    ”Jadi, banyak sekali peran sebetulnya yang dimiliki oleh lintas stakeholder, lintas kementerian, danjuga DPR untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan turunan atau kebijakan-kebijakan baru yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi hijau,” ujarnya kepada Parlementaria di Gedung Nusantara V, Senayan, Jakarta, Senin (8/7/2024).

    Menurutnya, dari ekonomi hijau bisa diciptakan lapangan pekerjaan sekitar 4,4 juta lapangan pekerjaan lintas sektoral.

    Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, diperlukan anggaran yang sangat banyak. Untuk itu, ia menekankan untuk fokus terhadap peluang-peluang yang dapat diciptakan dalam ekonomi hijau, salah satunya peluang dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru.

    “Maka saya tadi menitik beratkan bahwa opportunity-nya itu banyak loh sebetulnya di sektor ini. Kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan itu bisa kurang lebih 4,4 juta lapangan pekerjaan,” tutur Politisi Fraksi Partai Golkar ini.

    Karena itu, ujarnya, perlu aksi yang dilakukan sesegera mungkin dalam upaya mengatasi ancaman dampak perubahan iklim tersebut. Karena konsekuensinya adalah generasi penerus bangsa.

     

    Baca Juga: Soal Aksi Iklim, Koalisi Masyarakat Sipil Minta Masyarakat Paling Berisiko Jangan Lagi Dijadikan Objek

    Apabila tidak diatasi, di masa depan anak cucu kita tidak mempunyai hak terhadap kehidupan yang selayaknya seperti menikmati air bersih, menghirup udara bersih.

    “Untuk bisa menjadi SDM yang global tentunya, kita butuh lingkungan yang juga bersih, udara yang bersih dan lain sebagainya,” jelasnya

    Untuk itu, dalam mendorong ekonomi hijau ini, Kaukus Ekonomi Hijau DPR RI berkolaborasi dengan United Nations Development Programme (UNDP) menggelar acara ‘Mendukung Penguatan Pembiayaan Perubahan Iklim, dan Islamic Blended Finance dalam Pembangunan Rendah Karbon dan Ekonomi Hijau’.

    DPR juga meluncurkan handbook yang diharapkan dapat menjadi rekomendasi dalam membuat kebijakan untuk mendukung ekonomi hijau.

    “Kita harus bekerja sama lintas sektor, lintas fraksi, agar dapat menciptakan masa depan yang kita harapkan di Indonesia,” pungkasnya

  • The Earth Prize: Kiprah Anak Muda Berkontribusi Hadang Perubahan Iklim

    The Earth Prize: Kiprah Anak Muda Berkontribusi Hadang Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Jika pertanyaan, apa yang Anda sukai ketika Anda masih remaja? Jawaban umum dari masa lalu dapat mencakup olahraga, musik, seni, video game, atau menonton TV.

    Generasi muda saat ini tidak begitu berbeda, kecuali satu hal – mereka juga memiliki minat tentang kelestarian lingkungan dan memerangi perubahan iklim.

    Dipicu oleh dorongan untuk memastikan masa depan yang aman, generasi muda saat ini memikul beban melestarikan lingkungan global di pundak mereka.

    Menyaksikan lambatnya kemajuan, atau bahkan kegagalan, perjanjian internasional yang dibuat oleh pemerintah, menunjukkan adanya kecemasan di kalangan muda terhadap perubahan iklim.

    Sebuah studi pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 59 persen remaja dan dewasa muda khawatir atau sangat khawatir terhadap perubahan iklim dan dampaknya pada lingkungan.

    Lebih dari 45 persen anak muda mengatakan perasaan mereka terhadap perubahan iklim berdampak negatif terhadap kehidupan dan fungsi mereka sehari-hari.

    Baca Juga: Pakar Perubahan Iklim Claudia Sheinbaum Terpilih Jadi Presiden Meksiko, Bagaimana Kebijakan Iklimnya?

    Bosan hanya duduk di pinggir lapangan, generasi muda kini mengambil tindakan sendiri. Selama tiga tahun terakhir, lebih dari 10.000 generasi muda dari lebih dari 2.000 sekolah di 154 negara dan wilayah telah mengajukan permohonan untuk menerima The Earth Prize.

    The Earth Prize merupakan penghargaan lingkungan hidup terbesar di dunia kompetisi keberlanjutan untuk generasi muda berusia 13-19 tahun, platform ini menyediakan wadah bagi motivasi generasi muda untuk melakukan aksi iklim.

    Pemenang penghargaan tahun ini telah menemukan solusi seperti teknologi prediksi banjir yang inovatif (FloodGate), solusi tanaman bertenaga plasma yang mengatasi kekeringan (Ceres).

    Juga popok ramah lingkungan yang terbuat dari pisang dan kelapa (CocoMellow), dan jaringan komputer yang mengumpulkan energi dan sumber daya yang berharga (Pebble).

    Dalam wawancara yang dilakukan Earth.Org, empat tim teratas ditanyai bagaimana mereka menghasilkan penemuan mereka dan apa yang mereka harapkan di masa depan.

    Baca Juga: DPR: Politik Anggaran yang Berpihak pada Lingkungan Mendesak Dilakukan untuk Antisipasi Perubahan Iklim

    Bagaimana Anda menjelaskan solusi Anda akan perubahan iklim hanya dalam beberapa kalimat?

    FloodGate (Sumedh Kotrannavar):
    Banjir mempengaruhi hampir semua negara di dunia dan ini merupakan masalah yang sangat penting.

    Singkatnya, FloodGate adalah alat komputasi revolusioner yang memprediksi pola banjir dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya organisasi pemerintah, lembaga.

    Individu dapat menggunakan FloodGate untuk tidak hanya memprediksi pola banjir, namun juga melihat kerentanan di wilayah mereka sendiri dan menjadi lebih siap jika terjadi banjir “mereka unggul.”

    Ceres (Beyza Kaya):
    Menurut saya proyek kami bertujuan untuk mengurangi dampak kelangkaan pangan akibat kekeringan di komunitas lokal dan global.

    Dengan menggunakan kekuatan teknologi plasma, kami dapat meningkatkan perkecambahan dan pertumbuhan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan meningkatkan kualitas pangan secara keseluruhan hasil panen.”

    Baca Juga: Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pariwisata Eropa

    CocoMellow (Duc Tran):
    “Kami telah mengerjakan popok ramah lingkungan, menggunakan sabut kelapa dan serat pisang. Kelapa bersifat hipoalergenik dan antibakteri, dan jika menyangkut serat pisang, bahan ini baik untuk kulit bayi.”

    Pebble (Orlando White):
    “Pebble bukanlah aplikasi tradisional untuk The Earth Prize karena ini murni solusi berbasis perangkat lunak… sebuah produk teknologi. Saat Anda memiliki komputer di rumah, Anda hanya menggunakannya pada waktu tertentu dalam sehari.

    Bagaimana Anda memanfaatkan jumlah komputer ini semaksimal mungkin dan mendistribusikan beban kerja?

    Ini semua tentang menghubungkan sebanyak mungkin komputer ke jaringan, menghemat energi (miliaran kWh per tahun), dan menjadikannya ramah lingkungan, karena kami mengurangi emisi karbon dan konsumsi logam langka.”

    Sumber:earth.org

  • Peran Penting Pendidikan dalam Perjuangan Melawan Perubahan Iklim

    Peran Penting Pendidikan dalam Perjuangan Melawan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Perjuangan melawan perubahan iklim bukan hal mudah, dan pendidikan lingkungan hidup diyakini sangat penting untuk memenangkan perjuangan ini.

    Tanpa pendidikan lingkungan hidup, para pemimpin masa depan tidak akan mampu mengatasi tantangan lingkungan hidup yang akan dihadapi dunia.

    Pendidikan lingkungan akan mendukung program pembelajaran dan mendukung generasi muda yang terlibat dalam aktivisme siswa.

    Pendidikan lingkungan dan cara mengatasi perubahan iklim di ruang kelas dapat membawa perubahan nyata dalam upaya melawan perubahan iklim.

    Survei terbaru menunjukkan bahwa masyarakat yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memandang perubahan iklim sebagai ancaman.

    Dan, saat ini, sebagian besar orang memandang perubahan iklim sebagai ancaman besar terhadap planet kita.

    Baca Juga: The Earth Prize: Kiprah Anak Muda Berkontribusi Hadang Perubahan Iklim

    Namun, mempromosikan pendidikan lingkungan hidup di sekolah bisa jadi rumit. Di beberapa negara, perubahan iklim dipandang sebagai isu “politik” yang bersifat bipartisan dan banyak badan pendidikan yang menentang sepenuhnya pendidikan iklim.

    Lebih banyak hal yang harus dilakukan untuk memastikan generasi muda memiliki akses terhadap pendidikan lingkungan hidup.

    Pendidikan iklim yang baik akan memberikan para pengambil keputusan di masa depan keterampilan yang mereka perlukan untuk mengadvokasi alam, melindungi lingkungan yang rentan, dan memitigasi dampak pemanasan global.

    Pentingnya Pendidikan Lingkungan Hidup
    Pendidikan sering diabaikan dalam upaya melawan perubahan iklim. Meskipun perubahan kebijakan dan komitmen global diperlukan untuk mencegah pemanasan global semakin parah, peningkatan pendidikan adalah langkah pertama untuk mencapai tujuan kita.

    Pendidikan lingkungan hidup juga dapat membantu meringankan kecemasan terhadap perubahan iklim yang sering didefinisikan sebagai “ketakutan kronis terhadap dampak buruk lingkungan hidup”.

    Kondisi ini mungkin diperburuk oleh kurangnya pemahaman terhadap sumber daya pendidikan yang secara jelas menjelaskan mekanisme di balik pemanasan global untuk melakukan sesuatu terhadap perubahan iklim.

    Baca Juga: Pakar Perubahan Iklim Claudia Sheinbaum Terpilih Jadi Presiden Meksiko, Bagaimana Kebijakan Iklimnya?

    Pendidikan lingkungan dapat membantu para siswa merasa berdaya dan menumbuhkan apresiasi yang lebih besar terhadap sumber daya bumi.

    Pendidikan lingkungan hidup juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.

    Dan, ini sangat penting karena siswa harus mampu mengevaluasi dampak jangka panjang dari kebijakan sosial, ekonomi, dan ekologi.

    Upaya dan aktivisme global sering kali sangat bergantung pada pemahaman menyeluruh mengenai isu tersebut dan kemampuan untuk meyakinkan pihak lain bahwa sesuatu harus dilakukan.

    Peningkatan dalam pendidikan publik juga dapat meningkatkan rasa kepedulian dan membantu upaya konservasi. Secara khusus, program pendidikan lingkungan dapat membuat perbedaan nyata bagi para peneliti yang melakukan advokasi untuk perubahan kebijakan.

    Contohnya adalah program publik baru-baru ini seperti Planet Earth II dan Wild Isles dari BBC berdampak signifikan terhadap para peneliti di Universitas Exeter di Inggris.

    Berkaca pada program publik tersebut, Profesor Callum Roberts menyatakan bahwa “Inggris sekarang harus memberikan perlindungan yang tulus untuk satwa liar,” dan harus fokus pada pembangunan ketahanan terhadap perubahan iklim.

    Sumber: earth.org

  • Mungkinkah Mewujudkan Industri Kemasan Plastik Ramah Lingkungan?

    Mungkinkah Mewujudkan Industri Kemasan Plastik Ramah Lingkungan?

    7cloud.asia – Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari mengatakan, pertumbuhan sektor industri di Indonesia yang telah mencapai titik positif berkat meningkatnya permintaan atau konsumsi masyarakat.

    “Dampak positif dari pertumbuhan ini adalah peningkatan dalam pendapatan dan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya mempengaruhi pola konsumsi,” ungkap Suryandari dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), beberapa waktu lalu.

    Dilansir brin.go.id, salah satu indikator dari tren ini adalah meningkatnya produksi barang konsumsi seperti makanan dan minuman siap saji, serta peralatan rumah tangga.

    Namun, pertumbuhan konsumsi ini juga membawa konsekuensi serius terhadap lingkungan, terutama dalam hal penggunaan kemasan plastik.

    Suryandari mengungkapkan bahwa konsumsi produk kemasan plastik telah mencapai 60 persen, dengan lebih dari 1.000 perusahaan terdaftar di Kementerian Perindustrian pada tahun 2023.

    Baca: Alasan Pemprov DKI Jakarta belum batasi kemasan saset

    “Kita harus menyadari bahwa pertumbuhan populasi juga akan memperkuat tren penggunaan plastik di Indonesia, sehingga sektor industri kemasan plastik akan terus berkembang,” tambahnya.

    Karena itu, Suryandari menekankan perlunya sebuah strategi jangka panjang atau roadmap industri kemasan plastik yang ramah lingkungan.

    “Ini merupakan suatu kata kunci yang penting bagi kita semua. Kita perlu memikirkan bagaimana memulai langkah-langkah menuju sektor industri yang lebih ramah lingkungan,” tegasnya.

    Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dalam menangani masalah sampah plastik.

    “Bukan hanya tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tetapi semua elemen di Indonesia harus berperan aktif dalam mengatasi permasalahan ini,” paparnya.

    Baca: Greenpeace desak Unilever kurangi sampah plastiknya

    Emmy berharap BRIN dengan segala kompetensi yang dimiliki akan bisa memberikan inputan kepada sektor industri terkait kemasan plastik.

    Jenis plastik seperti apakah, ujarnya, yang perlu ditangani dan solusinya akan seperti apa.

    “Ini merupakan langkah awal yang penting dalam mengatasi masalah lingkungan yang semakin memprihatinkan akibat dari pertumbuhan konsumsi plastik yang tak terkendali,” ungkapnya.

    Saat ini muncul desakan kuat agar produksi dan konsumsi plastik segera dikurangi untuk menurunkan risiko dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Di sisi lain, industri plastikvtelah berkembang dan menjadi sandaran penghidupan banyak orang.

    Industri kemasan plastik ini memberikan pekerjaan bagi sekitar 110.000 orang, dengan mayoritas produksi kemasan plastik yang keras dan fleksibel.

    Baca: Konsep guna ulang untuk kurangi sampah plastik