Tag: anak

  • Sambut Hari Anak Nasional, Cerianya Gerak Anak di Bakul Budaya FIB UI

    Sambut Hari Anak Nasional, Cerianya Gerak Anak di Bakul Budaya FIB UI

    7cloud.asia – Berbagai cara yang dapat dilakukan dalam menyambut Hari Anak Nasional (HAN) ke-40, 23 Juli 2024 mendatang. Salah satunya dengan menumbuhkan kecintaan anak terhadap kebudayaan nasional.

    Seperti yang dilakukan anak-anak yang tengah bermain dengan ceria permainan tradisional ini. Mereka bermain, bernyanyi, menari dan bercerita ini tampak asyik mengikuti kegiatan.

    Acara yang digagas oleh Komunitas Bakul Budaya tersebut memang dilakukan dalam rangka menyambut HAN dengan tema “Gerak Anak di Bakul Budaya”.

    Komunitas Bakul Budaya sengaja menempatkan anak sebagai subjek dan bukan sebagai objek dalam kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (20/07/2024) di pelataran Kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI, Depok.

    Baca: Pendidikan lingkungan hidup dimulai dari keluarga

    Ketua Umum Bakul Budaya FIB UI, Dewi Fajar Marhaeni menjelaskan kegiatan ini bertujuan memberi kesempatan kepada anak untuk bergerak, berekspresi,mengenal permainan lokal/tradisional

    Selain itu juga dengan berbagai kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan anak terhadap kebudayaan nasional.

    “Menurut kami, anak sebagai aset kemajuan Bangsa Indonesia berhak untuk bergerak dalam konteks positif dan kreatif, bahkan di dalam alam pikiran dan perasaan, baik personal maupun sosial,” jelas Dewi dalam rilis yang diterima 7cloud.asia.

    “Mereka berhak mengungkapkan dan mewujudkannya melalui ucapan, gerak raga, sikap, dan tindakan. Untuk itu, anak harus mendapatkan kesempatan, termasuk dalam kesejahteraan dan perlindungan,” lanjutnya lagi.

    Baca: Daerah khusus Jakarta upayakan perda ramah anak

    Dalam kegiatan ini, Rasia Kayla Kalyani (16) dan Indonesiana Ayuningtyas (13) dengan ceria menjadi pembawa acara sejak pembukaan hingga selesai.

    Keduanya juga ditemani oleh  Iskandar Mathondang,, mantan anggota Lenong Bocah pada era 1990-an. Pada kesempatan itu, para peserta yang hadir membawakan tarian Kaluhuran Nuswantara.

    Lagu tari dari Omah Cangkem Yogyakarta, itu dicipta oleh Pardiman Djoyonegoro dan koreografinya merupakan karya dari Anter Admorotedjo.

    Lirik lagu untuk gerak tari mirip gerakan para tokoh punakawan yang jenaka itu mengandung pesan mencintai Indonesia nan kaya akan keindahan alam dan keragaman suku, agama, dan budaya, namun tetap satu nusa dan satu bangsa.

    Baca: Anak-anak di Gaza habiskan 8 jam sehari untuk mendapatkan makanan

    Hal itu tergambar dan diperkuat dengan aneka pakaian berwarna cerah yang dipadu dengan balutan kain batik juga tenun dari semua peserta.

    Puluhan anak yang hadir usia 4 hingga 17 tahun tersebut juga mengikuti berbagai permainan lokal sesuai dengan usia dan minatnya.

    Seperti permainan Wak Wak Gung yang diperagakan oleh Namiyah dan sembilan temannya. Permainan ini mirip dengan permainan Ular Naga. Cuma lagunya yang berbeda.

    Selanjutnya permainan Ular Naga, Gobak Sodor, yang juga dikenal dengan Galah Asin atau Galasin,  Engklek, Lompat Karet dan Pancasila 5 Dasar.

    Baca: Polusi udara tinggi, anak-anak diimbau perbanyak makan buah

    Komunitas Bakul Budaya dengan misi merawat bumi serta melestarikan budaya dan merajut kebhinnekaan meminta Bakul Budaya juga meminta semua yang hadir membawa tumbler untuk wadah isi ulang air minum.

    Anak-anak yang hadir juga mendapatkan bingkisan satu set peralatan makan dan minum serta snack yang dimasukkan dalam tas dari kain perca sisa produksi pakaian.

    “Bakul Budaya kan punya misi melestarikan budaya, merawat bumi, dan merajut kebhinnekaan sebagai bagian dari misi merawat bumi. Kami secara berkelanjutan melakukan aksi ramah dari rumah. Salah satunya dengan mengurangi timbulan sampah dari kemasan sekali pakai. Dan di Hari Anak Nasional ini, kami mengajak anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan hidup. Dimulai dengan rajin menggunakan tumbler dan wadah makan sendiri,” terang Dewi.

     

  • Kiat Memilih Daycare yang Aman untuk Si Kecil

    Kiat Memilih Daycare yang Aman untuk Si Kecil

    7cloud.asia – Kekerasan yang terjadi di sebuah tempat penitipan anak atau daycare di Depok, Jawa Barat membuat orang tua was-was.

    Pasalnya, daycare sebagai layanan yang menyediakan perawatan dan pengawasan untuk anak-anak selama orang tua bekerja atau melakukan aktivitas lain menjadi sandaran para orang tua.

    Orang tua pasti ingin memastikan keselamatan anak saat mereka tidak bersamanya. Keselamatan dan tumbuh kembang anak menjadi prioritas utama dalam memilih daycare.

    Jadi sebelum memutuskan untuk menitipkan anak di daycare, orang tua wajib tahu kiat memilih daycare yang aman untuk anak.

    Daycare yang baik tidak hanya memberikan tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk bermain dan belajar, tetapi juga mendukung perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak.

    Baca: Pemerintah diminta serius awasi TPA atau daycare.

    Melansir dari Child Care, berikut adalah beberapa tips penting yang dapat membantu orang tua dalam memilih daycare yang aman untuk putra-putri mereka.

    1. Periksa lisensi dan akreditasi
    Lisensi ini menandakan bahwa daycare telah memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh otoritas terkait. Jadi pastikan daycare memiliki lisensi resmi dari pemerintah setempat.

    Selain itu, carilah daycare yang telah terakreditasi oleh badan akreditasi nasional atau internasional. Akreditasi ini biasanya menunjukkan bahwa daycare tersebut telah memenuhi atau bahkan melampaui standar kualitas yang ketat.

    2. Cek fasilitas
    Kunjungi daycare secara langsung untuk menilai kebersihan dan keamanan fasilitas. Pastikan area bermain bersih, peralatan terawat dengan baik, dan ada langkah-langkah keamanan seperti pagar di sekitar area bermain luar.

    Jangan lupa untuk menanyakan prosedur pembersihan dan sanitasi yang diterapkan oleh daycare tersebut.

    Baca: Daycare sangat membantu pasangan yang bekerja

    3. Evaluasi Program Pendidikan dan Aktivitas
    Daycare yang baik harus menawarkan program pendidikan yang sesuai dengan usia anak dan aktivitas yang merangsang perkembangan mereka.

    Orang tua bisa menanyakan kurikulum yang digunakan, jenis kegiatan yang dilakukan, dan bagaimana kegiatan tersebut mendukung perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak.

    4. Perhatikan Interaksi antara Staf dan Anak
    Tak kalah penting dalam memilih daycare adalah bagaimana staf daycare berinteraksi dengan anak-anak.

    Staf harus ramah, sabar, dan mampu membangun hubungan yang baik dengan anak-anak. Ini juga dapat memberikan gambaran tentang bagaimana putra-putri Anda akan diterima dan diperlakukan di sana.

    Baca: Orang tua terlatih meningkatkan kualitas pengasuhan anak

    5. Cek Kebijakan Kesehatan dan Keselamatan
    Daycare yang baik harus memiliki kebijakan kesehatan dan keselamatan yang jelas dan ketat.

    Tanyakan tentang prosedur penanganan keadaan darurat, kebijakan tentang penyakit menular, serta langkah-langkah yang diambil untuk memastikan keselamatan anak selama di daycare.

    Pastikan juga bahwa staf memiliki pelatihan dalam pertolongan pertama dan resusitasi jantung paru (CPR).

    6. Lokasi dan Biaya
    Tips memilih daycare selanjutnya adalah pikirkan lokasi dan biaya. Sebisa mungkin pilih daycare yang lokasinya dekat dengan rumah atau tempat kerja orang tua supaya memudahkan mengatur waktu dan transportasi.

    Selain itu, pertimbangkan juga biaya yang dikenakan dan pastikan bahwa biaya tersebut sebanding dengan layanan yang diberikan.

    Baca: Laki-laki juga harus terlibat dalam pengasuhan anak

    7. Rekomendasi dari orang tua lain
    Rekomendasi dari teman, keluarga, atau rekan kerja yang sudah memiliki pengalaman dengan daycare bisa menjadi pilihan yang tepat.

    Mereka bisa memberikan pandangan yang jujur tentang kualitas daycare dan membantu Anda membuat keputusan yang lebih baik.

  • KPAI: 44 Persen Daycare di Indonesia Belum Miliki Izin

    KPAI: 44 Persen Daycare di Indonesia Belum Miliki Izin

    7cloud.asia – Berdasarkan hasil penelitian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa 44 persen tempat penitipan anak (daycare) di Indonesia belum memiliki legalitas secara nasional.

    Komisioner KPAI Pengampu klaster Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif, Ai Rahmayanti mengatakan, penelitian dilakukan pada daycare yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Sosial (Kemensos).

    ”Selain itu, banyak daycare yang dibentuk oleh masyarakat sehingga mereka tidak melakukan legalitas ke Dinas Pendidikan (Disdik),” kata Ai kepada Kompas.com, Jumat (9/8/2024).

    Sementara, data dari Pribudiarta mengungkap bahwa sejak 2021, hanya ada 58 daycare yang terdata secara resmi di seluruh Indonesia.

    Baca: Kiat memilih daycare untuk si kecil

    Daycare yang resmi terdaftar seharusnya memiliki izin dari Kemendikbud, Kementerian Sosial, atau KemenPPPA.

    Legalitas daycare diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun 2018 tentang Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Pendidikan dan Kebudayaan.

    Banyaknya daycare yang didirikan masyarakat secara mandiri dan tidak terdaftar di Dinas Pendidikan (Disdik) mendapat sorotan dari Anggota Komisi III DPR, Didik Mukrianto.

    Kondisi ini dinilainya mengkhawatirkan karena menunjukkan bahwa banyak daycare di Indonesia mungkin tidak memenuhi standar yang ditetapkan.

    Baca: Pemerintah diminta serius awasi daycare

    “Pemerintah harus memberi perhatian serius terhadap masalah ini. Meskipun daycare adalah lembaga non-formal, mereka tetap harus mematuhi aturan yang ada,” ujar Didik dalam rilis yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Rabu (14/8/2024).

    Didik menambahkan bahwa kurangnya pengawasan menjadi salah satu faktor yang memungkinkan terjadinya kasus kekerasan terhadap anak di daycare.

    “Kami mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan dan memberikan sanksi tegas kepada daycare yang beroperasi tanpa izin,” tegasnya.

    Izin atau lisensi ini menandakan bahwa daycare telah memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh otoritas terkait.

    Baca: Keberadaan daycare harusnya menjadi tanggung jawab pemerintah

    Selain itu, daycare akan lebih bagus jika terakreditasi oleh badan akreditasi nasional atau internasional.

    Daycare yang terakreditasi biasanya menunjukkan bahwa daycare tersebut telah memenuhi atau bahkan melampaui standar kualitas yang ketat.

  • Kenali Ciri-ciri Anak Korban Perundungan Berikut Ini

    Kenali Ciri-ciri Anak Korban Perundungan Berikut Ini

    7cloud.asia – Psikolog klinis anak lulusan Universitas Padjadjaran Dewinta Ariani menyampaikan ciri-ciri anak korban perundungan yang perlu menjadi perhatian orang tua.

    Dilansir Antaranews.com, Senin (19/8/2024), dia mengatakan bahwa anak yang menjadi korban perundungan biasanya menjadi lebih pendiam atau tertutup dan menunjukkan sikap yang berbeda dari kebiasaannya.

    Selain itu, ia menjelaskan, anak korban perundungan biasanya menunjukkan perubahan dalam hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

    Dia menghindari interaksi sosial, serta tampak cemas atau takut ketika hendak pergi ke sekolah atau menghadiri kegiatan tertentu.

    “Penurunan prestasi akademik tanpa alasan yang jelas perlu diwaspadai oleh orang tua,” kata dosen psikologi di Universitas Negeri Jakarta itu.

    Baca Juga: Dear Pembaca, Ini Beda Perundungan atau Bullying dengan Bercanda

    Menurut dia, anak korban perundungan juga dapat mengalami perubahan pola tidur dan nafsu makan, tiba-tiba susah tidur malam dan kehilangan nafsu makan.

    Ia mengungkapkan bahwa anak yang menjadi korban perundungan dapat menjadi lebih sering mengeluh sakit fisik agar tidak harus pergi ke sekolah.

    “Anak sering mengeluh sakit fisik, seperti sakit kepala atau perut, yang mungkin digunakan sebagai alasan untuk tidak pergi ke sekolah,” katanya.

    Dia menambahkan, orang tua sebaiknya segera menindaklanjuti adanya luka atau memar yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya oleh anak.

    Baca Juga: Pola Asuh Buruk Picu Maraknya Bullying atau Perundungan Kepada Anak

    Menurut Dewinta, orang tua juga harus memperhatikan perubahan perilaku anak serta segera mengambil langkah untuk mencari tahu penyebab dan memberikan dukungan yang diperlukan oleh anak.

    Kepada anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan, ia mengatakan, orang tua dan guru harus memberikan pendampingan emosional, mendengarkan curahan perasaan mereka, dan membantu mereka memproses perasaan yang muncul akibat perundungan.

    “Edukasi tentang cara mengatasi rasa sakit tanpa melukai orang lain serta membangun rasa percaya diri juga sangat penting dalam mencegah siklus bullying berlanjut,” katanya.​​​​​​​

    Dia menyampaikan bahwa tidak semua korban perundungan akan menjadi pelaku jika mendapatkan bantuan dan dukungan yang tepat.

    Baca Juga: Bullying di Sekolah, Bagaimana Peran Orang Tua Ikut Mencegah

    Menurut dia, terapi atau konseling dapat membantu mereka mempelajari cara-cara yang sehat untuk mengatasi perasaan.

    ​​​​​​​Selain itu, ia mengatakan, lingkungan yang penuh kasih sayang dan dukungan di rumah maupun di sekolah dapat membantu mencegah korban perundungan mengembangkan perilaku agresif di kemudian hari.

  • Pendidikan Seks Harus Sudah Dilakukan sejak Anak Masih Balita

    Pendidikan Seks Harus Sudah Dilakukan sejak Anak Masih Balita

    7cloud.asia – Pendidikan seks dan kesehatan reproduksi penting dikenalkan pada anak sejak usia dini.

    Bahkan menurut Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Kasandra A. Putranto, pendidikan seks sudah bisa dilakukan sejak anak berusia sekitar dua atau tiga tahun.

    Pada usia ini, ujarnya, anak bisa mulai dikenalkan dan diajak memahami nama-nama organ tubuh, termasuk alat kelamin.

    Pada usia ini, penting bagi orang tua mulai menjelaskan bahwa tubuh anak adalah satu hal yang pribadi dan harus dihormati.

    Kasandra melanjutkan, pendidikan seks perlu disampaikan dengan cara yang tepat dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia agar mudah dimengerti anak.

    “Saat menjelaskan, gunakan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan usia anak. Misalnya, saat anak masih balita, bisa dimulai dengan mengenalkan fungsi tubuh dan menjelaskan bahwa ada bagian-bagian tubuh yang bersifat privat,” kata Kasandra dikutip Antaranews.com, Selasa (27/8/2024).

    Baca: Pemahaman kesetaraan gender penting untuk cegah kekerasan seksual

    Cara lain dalam memberikan pendidikan seks adalah dengan metode diskusi terbuka dan menciptakan suasana agar anak merasa nyaman untuk bertanya.

    “Diskusikan topik-topik terkait seksualitas secara terbuka dan tanpa rasa malu. Ini akan membantu anak merasa lebih aman untuk berbagi pertanyaan atau kekhawatiran mereka,” tulisnya.

    Selain dengan diskusi, orang tua juga bisa menggunakan alat bantu berupa gambar atau buku yang sesuai dengan usia anak yang dapat membantu menjelaskan konsep-konsep yang mungkin sulit dipahami.

    Gambar dan warna juga akan membuat pembelajaran lebih menarik.

    Kasandra mengatakan seiring bertambahnya usia anak, penting juga untuk mulai membahas risiko yang terkait dengan hubungan seksual, seperti kehamilan yang tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.

    Baca: Mencari format yang tepat bagi pendidikan seks di Indonesia

    Ajarkan juga tentang tanggung jawab dalam berhubungan dengan orang lain.

    “Selain memberikan informasi, penting untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika terkait seksualitas. Ini termasuk menghargai diri sendiri dan orang lain, serta memahami pentingnya hubungan yang sehat,” ujarnya.

    Melalui pendidikan seks, kata dia, anak bisa mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, hubungan interpersonal yang sehat, serta hak dan kewajiban dalam pernikahan.

    Dengan pengetahuan ini, diharapkan nantinya anak dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang kesehatan reproduksi mereka dan menghindari perkawinan anak.

    Pendidikan seksual sejak dini juga dapat membantu anak-anak menghormati diri sendiri, kesehatan seksualnya, dan lawan jenis.

    “Pendidikan seksual dapat membantu anak-anak menghindari risiko-risiko masalah kejahatan seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, dan penularan penyakit menular seksual (PMS),” kata Kasandra.

  • Mendekati Tahun Kedua Anak-anak Gaza Tidak Bisa Sekolah

    Mendekati Tahun Kedua Anak-anak Gaza Tidak Bisa Sekolah

    7cloud.asia – Sebanyak 625.000 anak usia sekolah di Gaza kehilangan hampir satu tahun penuh pendidikan. Sekolah-sekolah ditutup menyusul serangan Israel sebagai balasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober.

    Belum jelas kapan anak-anak di Gaza bisa kembali bersekolah karena perundingan-perundingan untuk menghentikan perang antara Israel dan Hamas belum membuahkan hasil.

    Lebih dari 90 persen gedung sekolah di Gaza rusak akibat pengeboman Israel, termasuk sekolah dikelola oleh UNRWA, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina.

    Menurut Klaster Pendidikan Global, sebuah koalisi organisasi bantuan yang dipimpin oleh UNICEF dan organisasi nirlaba, Save the Children, sebanyak 85 persen bangunan sekolah mengalami kerusakan parah hingga memerlukan rekonstruksi bertahun-tahun.

    Universitas-universitas di Gaza juga hancur. Israel berpendapat bahwa militan Hamas beroperasi di sekolah-sekolah tersebut.

    Baca: Israel hanya beri waktu tiga hari untuk vaksinasi polio di Gaza

    Sekitar 1,9 juta dari 2,3 juta penduduk Gaza diusir dari rumah mereka dan kini tinggal di kamp-kamp tenda yang tidak memiliki sistem air atau sanitasi.

    Banyak dari mereka juga bertumpuk di sekolah-sekolah PBB dan pemerintah yang kini berfungsi sebagai tempat penampungan.

    Kelompok-kelompok bantuan berupaya menyiapkan alternatif pendidikan, tetapi hasilnya terbatas karena mereka harus menangani berbagai kebutuhan mendesak lainnya.

    UNICEF dan lembaga-lembaga bantuan lainnya mengoperasikan 175 pusat pembelajaran sementara, sebagian besar didirikan sejak akhir Mei, yang melayani sekitar 30.000 siswa dengan bantuan sekitar 1.200 guru sukarelawan, kata Ingram.

    Mereka menawarkan kelas literasi dan numerasi serta kegiatan untuk kesehatan mental dan pengembangan emosional.

    Baca: Mesir menolak kontrol Israel atas perbatasan Mesir-Gaza

    Namun, dia mengatakan mereka kesulitan memperoleh perlengkapan seperti pena, kertas, dan buku karena barang-barang tersebut tidak dianggap sebagai material prioritas penyelamatan nyawa.

    Sementara kelompok bantuan harus berjuang untuk mengirimkan cukup makanan dan obat-obatan ke Gaza.

    Pada Agustus, UNRWA meluncurkan program “kembali belajar” di 45 sekolah yang beralihfungsi menjadi tempat penampungan. Program ini menyediakan kegiatan seperti permainan, drama, seni, musik, dan olahraga untuk anak-anak.

    Program ini bertujuan memberi mereka waktu istirahat, kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman-teman, dan merasakan kembali masa kanak-kanak mereka, kata juru bicara Juliette Touma.

    Palestina telah lama menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Sebelum perang, Gaza memiliki tingkat literasi yang sangat tinggi, hampir 98 persen.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Saat terakhir kali mengunjungi Gaza pada April, Ingram mengungkapkan bahwaanak-anak sering mengatakan kepadanya bahwa mereka rindu kembali bersekolah, teman-teman, dan guru-guru mereka.

    Ketika seorang anak laki-laki menjelaskan betapa dia ingin kembali ke kelas, dia tiba-tiba berhenti dengan panik dan bertanya, “Saya bisa kembali, bukan?”

    “Itu sangat memilukan bagi saya,” katanya.

    Orang tua melaporkan bahwa tanpa adanya kegiatan belajar mengajar di sekolah, ditambah dengan trauma dari pengungsian, pengeboman, serta kerugian keluarga, anak-anak mereka mengalami perubahan emosional.

    Beberapa menjadi cemberut dan menarik diri, sementara yang lain mudah gelisah atau frustrasi.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Konflik Hamas-Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Palestina

    Konflik Hamas-Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Palestina

    7cloud.asia – Serangan Israel yang telah berlangsung lebih 11 bulan meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Gaza dan menimbulkan krisis kemanusiaan.

    Israel mengatakan bahwa serangannya bertujuan untuk melenyapkan Hamas agar organisasi tersebut tidak dapat mengulangi serangan pada 7 Oktober.

    Saat itu, serangan kelompok militan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menculik 250 lainnya.

    Sejak saat itu perang antara Israel dan Hamas tak kunjung berakhir, hingga hari ini.

    Hingga hari ini, lebih dari 40.000 warga Palestina tewas, dan lebih 100.000 orang lainnya terluka, menurut pejabat kesehatan Gaza.

    Baca: Potret buram anak-anak korban perang di Gaza

    Konflik Israel dan Hamas tersebut juga menghambat pendidikan bagi anak-anak Palestina di Tepi Barat, di mana Israel juga mengintensifkan pembatasan pergerakan dan melakukan penggerebekan besar-besaran.

    Anak-anak adalah salah satu yang paling parah terdampak. Malnutrisi dan penyebaran penyakit meluas di Gaza.

    Ketika Gaza memulai tahun ajaran sekolah kedua tanpa kegiatan belajar-mengajar, sebagian besar anak-anak usia sekolah malah sibuk membantu keluarga mereka bertahan hidup di tengah serangan Israel yang menghancurkan.

    Anak-anak berjalan tanpa alas kaki melalui jalan tanah untuk membawa air dalam jeriken plastik dari titik distribusi ke keluarga mereka yang tinggal di kota-kota tenda yang dipenuhi pengungsi Palestina.

    Baca: Wabah polio mengancam anak-anak di Gaza

    Sementara itu, yang lain mengantre di dapur umum untuk mendapatkan ransum.

    Tess Ingram, juru bicara regional Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation’s Children Fund/UNICEF) mengatakan hampir semua dari 1,1 juta anak di Gaza diperkirakan memerlukan bantuan psikososial.

    “Pada hari apa pun sejak Oktober, antara 8 persen dan 20 persen sekolah di Tepi Barat ditutup,” kata Ingram. Ketika sekolah dibuka, tingkat kehadiran siswa juga berkurang karena anak-anak takut, katanya.

    Para orang tua di Gaza mengungkapkan kesulitan dalam memberikan pelajaran informal kepada anak-anak mereka di tengah kekacauan yang melanda sekitar mereka.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Di sebuah sekolah di pusat Kota Deir al-Balah, ruang kelas terlihat dipenuhi keluarga yang mengungsi.

    Cucian mereka tampak digantung di tangga luar. Jajaran tenda-tenda rombeng dari seprai dan terpal, disangga dengan batang-batang, memenuhi halaman sekolah.

    “Masa depan anak-anak hancur,” kata Umm Ahmed Abu Awja, dikelilingi oleh sembilan cucunya yang masih kecil.

    “Apa yang mereka pelajari tahun lalu benar-benar terlupakan. Jika mereka kembali ke sekolah, mereka harus memulai dari awal.”

    Sumber:VOAIndonesia

  • UNICEF: Serangan Israel yang Menewaskan 24 Anak Mengkhawatirkan

    UNICEF: Serangan Israel yang Menewaskan 24 Anak Mengkhawatirkan

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), Catherine Russel menyatakan kekhawatirannya atas kekerasan yang meningkat di Israel dan Lebanon.

    Kekhawatiran ini menyusul serangan yang menewaskan sedikitnya 24 anak di Lebanon selatan pada Senin (23/09/2024).

    “Saya sangat khawatir dengan meningkatnya serangan di Lebanon dan Israel, yang pada hari ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 24 anak di Lebanon selatan,” katanya.

    Dia menekankan bahwa meningkatnya kekerasan merupakan “eskalasi yang berbahaya” bagi warga sipil di wilayah tersebut.

    Baca: Akibat serangan Israel sejak Oktober 2023, 15 ribu anak Palestina tewas

    Menurut Russel, anak-anak di Lebanon dan Israel mengalami trauma psikologis berat akibat serangan udara dan pengungsian.

    Dia mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk mematuhi hukum kemanusiaan internasional yang melindungi warga sipil, infrastruktur, pekerja kemanusiaan, dan personel medis.

    Israel melancarkan serangan-serangan udara ke Lebanon selatan dan timur.

    Menurut otoritas kesehatan Lebanon, aksi militer Israel tersebut telah menewaskan sedikitnya 492 orang, termasuk 35 anak-anak, dan 1.645 lainnya terluka sejak Senin pagi.

    Baca: UNRWA kutuk pembantaian anak-anak Palestina oleh Zionis

    Ribuan warga sipil juga terpaksa harus meninggalkan rumah mereka. Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, dan Israel telah terlibat dalam konflik sejak Israel melancarkan agresi ke Jalur Gaza, Palestina.

    Israel mengintensifkan serangan mereka di Lebanon meski komunitas internasional memperingatkan bahwa tindakan itu akan memperluas konflik di Gaza ke wilayah lain.

    Sumber: Anadolu

  • Psikolog: Hukuman Fisik Tak selalu Efektif Mengubah Perilaku Anak yang Melanggar

    7cloud.asia – Orang tua dan guru disarankan berpikir dua kali sebelum menjatuhkan hukuman fisik kepada anak-anaknya yang melakukan kesalahan atau pelanggaran.

    Pasalnya hukuman fisik belum tentu cocok untuk semua anak dalam upaya mengubah perilakunya.

    Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim mengatakan, banyak orang tua melakukan hukuman fisik tetapi perilaku anak tetap tidak berubah

    ”Itu artinya hukuman ini tidak membuat anak jera dan mengubah perilakunya, mungkin harus dengan pendekatan lain,” kata psikolog yang biasa disapa Romi ini dikutip dari Antaranews.com.

    Dia mengatakan banyak alasan anak melakukan pelanggaran. Biasanya karena tidak mengetahui atau tidak memiliki pemahaman terhadap aturan yang berlaku.

     

    Baca: Pendidikan moral dan etika perlu mendapat perhatian serius

    Pelanggaran juga dilakukan karena anak ingin mencari perhatian di sekitarnya atau terpaksa melakukan pelanggaran karena situasi tertentu.

    Hukuman fisik seperti memukul tidak bisa dijadikan satu alat untuk bisa membuat perilaku anak berubah justru bisa melakukan perlawanan baik secara langsung atau diam-diam.

    Jadi alih-alih menghukum anak, orang tua disarankan memberikan pengertian pada anak tentang konsekuensi dari melakukan pelanggaran tersebut dan mengetahui manfaat jika tidak melakukan hal yang melanggar peraturan.

    Romi juga mengatakan mengubah perilaku anak harus dilihat dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotor yang disebut dengan shaping atau membentuk perilaku.

    “Bisa dengan cara macam-macam, jadi memberikan informasi pemahaman dulu, kognitif, afektif, baru psikomotor supaya dalam proses perilaku dia paham kalau ini untuk kebaikan dia, mungkin dia tidak akan melakukan lagi hal-hal yang buruk lagi,” katanya.

    Baca: Kekerasan marak karena toleransi tak diajarkan sejak dini

    Romi menjelaskan orang tua bisa memberikan pemahaman melalui komunikasi secara kognitif dan melihat dampak emosinya jika dia tidak melakukan pelanggaran. Dari cara ini secara psikomotor anak akan menghentikan perilaku buruk tersebut.

    Dilansir Antaranews.com, pemahaman tentang konsekuensi juga perlu diberikan agar anak paham kenapa ia tidak boleh melakukan hal yang melanggar ketentuan.

    Menurutnya, hukuman tidak harus selalu diberikan jika anak membuat kesalahan. Namun juga tidak boleh terlalu dimanjakan dengan hadiah sebagai tanda anak menuruti kemauan orang tua karena bisa merusak mentalnya dan selalu mengharapkan imbalan.

    “Hukuman kalau bisa diambil sebagai langkah terakhir, kalau masih bisa diajak bicara, masih bisa memberikan informasi kepada anak kenapa dia melakukan pelanggaran itu, nasihat dengan volume suara masih tidak terlalu tinggi, sehingga anak tidak takut pada orang tua,” katanya.

    Anak yang sering diberikan hukuman, kata Romi, bisa menjadikan mereka anak pemberang atau kasar di luar rumah karena melihat apa yang diperlakukan oleh orang tua kepadanya.

    Anak juga bisa menjadi tertekan, tidak percaya diri, penuh dengan self esteem yang rendah karena dipermalukan. Sehingga menghukum anak memiliki banyak dampak psikologis dan sebaiknya tidak memukul, melakukan hukuman fisik maupun hukuman verbal.

  • Perubahan Perilaku Anak Bisa Jadi Indikasi Adanya Masalah pada Kesehatan Mental

    Perubahan Perilaku Anak Bisa Jadi Indikasi Adanya Masalah pada Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Para orang tua diminta untuk mewaspadai perubahan perilaku yang mengindikasikan tanda-tanda timbulnya masalah kesehatan mental pada anak remaja mereka.

    Ketua Satgas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Rodman Tarigan SpA(K), M.Kes mengatakan apabila remaja tiba-tiba berubah dari seseorang yang ceria menjadi lebih tertutup, menarik diri dari kegiatan sekolah dan pergaulan, bisa jadi mereka sedang alami masalah kesehatan mental

    Gejala lainnya adalah sering mengeluh sakit fisik tanpa sebab yang jelas, hal tersebut bisa dicurigai sebagai perubahan perilaku yang mengindikasikan masalah kesehatan mental pada anak.

    “Jadi kalau ada satu saja yang kita temukan, kita sebagai orang tua perlu menyadari bahwa ada perubahan perilaku dari anak tersebut,” ujar Dr. Rodman dalam seminar media “Mendidik Remaja yang Kuat Secara Mental dan Sosial” yang digelar beberapa waktu lalu.

    Dr. Rodman mengatakan salah satu permasalahan pada anak usia sekolah dan remaja adalah kesehatan mental dan emosional. Dalam data yang dipaparkannya, sebanyak 10 persen anak usia 15 hingga 24 tahun memiliki gangguan mental dan emosional.

    Baca: Gangguan kesehatan mental bukan kelemahan

    Dia mengatakan orang tua dan lingkungan sekitar harus mampu merespons perubahan perilaku pada remaja.

    Anak dengan masalah mental umumnya mengalami stres, depresi, bahkan melakukan tindakan-tindakan negatif seperti tawuran, kekerasan hingga mencuri.

    Menurutnya, jika ada setidaknya satu tanda perubahan perilaku yang mencolok, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berkomunikasi dengan remaja tersebut.

    Berikan kesempatan kepada anak untuk berbicara tentang perasaan dan pengalaman yang dialami. Orang tua harus menjadi pendengar yang baik dan memahami permasalahan yang dihadapi remaja tersebut.

    Orang tua juga harus memberikan dukungan yang kuat dan memastikan bahwa sang anak tidak sendirian menghadapi masalahnya. Selain itu, orang tua juga dapat mengenalkan anak pada aktivitas yang produktif dan positif.

    Baca: Banyak orang abaikan kesehatan mental

    Namun, Dr. Rodman tidak memungkiri bahwa pada sejumlah kasus terdapat remaja yang enggan berbicara tentang permasalahan mereka kepada orang tuanya. Hal ini bisa dipicu oleh kurangnya kepercayaan atau faktor lain yang memengaruhi hubungan.

    Jika hal tersebut terjadi, proses identifikasi akar permasalahan bisa menjadi lebih sulit dan membutuhkan kesabaran.

    Apabila orang tua merasa bahwa mereka tidak mampu menangani permasalahan sang anak, mencari bantuan dari ahli bisa menjadi pilihan.

    Dr. Rodman mengatakan bahwa layanan konseling bisa dimanfaatkan untuk menangani remaja dengan masalah mental.

    Pemerintah telah menyediakan layanan konseling melalui program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di puskesmas, yang dirancang untuk memberikan dukungan psikologis kepada remaja.

    “Itu sudah ada di semua puskesmas dan itu di-cover oleh BPJS. Apabila tidak bisa diatasi di puskesmas, itu akan dirujuk ke rumah sakit PPK (pemberi pelayanan kesehatan) 2, di situ ada dokter anak, mungkin juga layanan psikolog atau layanan dari psikiater,” katanya.