Tag: anak

  • KPAI, KPU dan Bawaslu Bekerjasama Wujudkan Pemilu 2024 yang Ramah Anak

    KPAI, KPU dan Bawaslu Bekerjasama Wujudkan Pemilu 2024 yang Ramah Anak

    7cloud.asia – Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Mariyati Sholihah bersama rombongan Selasa, (20/6/2023) melakukan audiensi dengan jajaran KPU terkait penyelenggaraan Pemilu 2024 yang ramah anak.

    Dalam kesempatan itu KPAI menyoroti pelibatan anak dalam kampanye dan  kegiatan pemungutan suara.

    Di awal audiensi, Ketua KPAI  Ai Mariyati Sholihah  menyampaikan bahwa KPAI telah menyampaikan isu-isu eksplolitasi kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang terjadi pada Pemilu 2019.

    “Sehingga diharapkan dengan telah disampaikannya isu-isu tersebut akan ada tindak lanjut, yakni kerja sama antara KPU dan KPAI guna melakukan sosialisasi mencegah pelibatan anak dalam  Pemilu 2024,” ujar Ai.

    Baca: Suara pemilih muda di Pemilu 2024

    Dalam keterangan tertulis yang dikirim ke media pada Mei lalu, Ketua KPAI, Ai Maryati Solihah mengatakan, tahapan Pemilu 2024 berpotensi terjadi pelanggaran, termasuk pidana penyalahgunaan anak dan berbagai bentuk pelanggaran hak anak yang dilindungi oleh Konstitusi.

    Karena itu, anak harus dilindungi dari kemungkinan disalahgunakan dan dieksploitasi selama pelaksanaan Pemilu 2024.

    “Penyalahgunaan dan eksploitasi anak dalam konteks politik akan membahayakan tumbuh kembang anak dan mengancam masa depan anak. Anak rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik dan terekspos dengan materi politik yang tidak sesuai dan merusak perkembangan emosi dan mental anak,” katanya, dalam keterangan tertulis, (23/5).

    KPAI telah melakukan pengawasan selama tahapan Pilpres 2014, Pilkada 2017 dan 2018, serta Pemilu 2019.

    Baca: MK putuskan Pemilu 2024 tetap gunakan sistem proporsional terbuka

    Hasil pengawasan menunjukkan bahwa masih banyak peserta pemilu dan pilkada yang melibatkan anak pada masa kampanye hingga sengketa penghitungan hasil pemilu dan pilkada. 

    Ai mengungkapkan, pada 2014 bentuk-bentuk penyalahgunaan anak dalam kegiatan politik sebanyak 248 kasus oleh 12 partai politik nasional. Sementara pelanggaran oleh partai politik peserta pemilu 2019 terdapat kurang lebih 80 kasus.

    Kasus di Pemilu 2019 itu, antara lain anak dibawa dalam kampanye terbuka maupun terbatas oleh partai politik atau orang tua yang hadir dalam kampanye tersebut;

    Selain itu juga ada kematian dua anak korban aksi massa yang rusuh karena kekecewaan terhadap hasil Pilpres tahun 2019 di Jakarta, serta satu korban jiwa di Pontianak. 

    Baca: Sirkus politik ala Aldi Taher ancam demokrasi di Indonesia

    Sementara itu, berdasarkan hasil pengawasan terhadap proses pencocokan dan penelitian pemutakhiran data pemilih Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menemukan sebanyak 94.956 orang di bawah umur (anak) dan belum menikah (tidak memenuhi syarat) yang dimasukkan ke dalam daftar pemilih.

    Ketua KPU, Hasyim Asy’ari  menyampaikan, sesuai ketentuan Pasal 280 ayat (2) UU Pemilu, dijelaskan bahwa pelaksana dan/atau tim kampanye dalam kegiatan Kampanye Pemilu dilarang mengikutsertakan: Warga Negara Indonesia (“WNI”) yang tidak memiliki hak memilih.

    “WNI yang ikut serta dalam pemilu disebut dengan pemilih. Pemilih adalah Warga Negara Indonesia yang sudah genap berumur 17 (tahun atau lebih, sudah kawin, atau sudah pernah kawin. Jadi berdasarkan ketentuan tersebut, secara implisit dapat dikatakan anak dilarang ikut serta dalam kampanye pemilu jika belum berumur 17 tahun,” jelas Hasyim.

    Baca: Polri endus aliran dana jaringan narkoba untuk dana kampanye

    Selanjutnya Hasyim menyampaikan bahwa pemilu merupakan arena kompetisi yang dianggap legal dan sah untuk mencapai dan mempertahankan kekuasaan.

    Oleh karena itu, penyelenggara pemilu bertugas mengelola konflik dan tidak boleh masuk menjadi faktor penyebab konflik. KPU juga berkomitmen dan memastikan pemilih  pemula mendapatkan informasi langsung dari penyelenggara.

    Komisioner KPU, Agus Mellaz dalam audiensi juga merespon baik terhadap KPAI untuk melakukan kerja sama dalam penyelenggaraan Pemilu 2024.

    “Terkait sosialisasi, KPU  menyasar pemilih muda dan termasuk juga kepada disabilitas. Dalam konteks regulasi, KPU sudah melakukannya tetapi dalam konteks penindakan  berada di KPAI. KPU mengupayakan seluruh kegiatan sosialiasi pemilu akan selalu ramah termasuk terhadap anak,” jelas Mellaz.

    Baca: Nama artis jejali daftar caleg Pemilu 2024

     

    KPAI telah mengidentifikasi 15 bentuk penyalahgunaan anak dalam kegiatan pemilu, jumlah ini merupakan hasil pengawasan penyalahgunaan anak dalam politik oleh KPAI sejak Pemilu 2014 hingga 2019. 

    Adapun bentuk penyalahgunaan anak dalam pemilu adalah:

    1. Manipulasi data anak yang belum berusia 17 tahun dan belum menikah agar bisa terdaftar sebagai pemilih serta daftar pemilih tetap.

    2. Menggunakan tempat bermain anak, tempat penitipan anak, atau tempat pendidikan anak untuk kegiatan kampanye. 

    3. Mobilisasi massa anak oleh partai politik atau calon kepala daerah.

    4. Menggunakan anak sebagai penganjur atau juru kampanye untuk memilih partai atau caleg tertentu. 

    5. Menampilkan anak sebagai bintang utama dari suatu iklan politik.

    Baca: KND nilai belum ada kebijakan afirmatif untuk kelompok disabilitas di Pemilu 2024

    6. Menampilkan anak di atas panggung kampanye parpol dalam bentuk hiburan. 

    7. Menggunakan anak untuk memakai dan memasang atribut-atribut partai politik.

    8. Menggunakan anak untuk melakukan pembayaran kepada pemilih dewasa dalam praktek politik uang oleh parpol atau calon kepala daerah.  

    9. Mempersenjatai anak atau memberikan benda tertentu yang membahayakan dirinya atau orang lain.

    10. Memaksa, membujuk atau merayu anak untuk melakukan hal-hal yang dilarang selama kampanye, pemungutan suara, atau penghitungan suara.

    11. Membawa bayi atau anak yang berusia di bawah tujuh tahun ke arena kampanye terbuka yang membahayakan anak.

    Baca: Akankah polarisasi kembali warnai Pemilu 2024

    12. Melakukan tindakan kekerasan atau yang dapat ditafsirkan sebagai tindak kekerasan dalam kampanye, pemungutan suara, atau penghitungan suara (seperti kepala anak digunduli, tubuh disemprot air atau cat).

    13. Melakukan pengucilan, penghinaan, intimidasi atau tindakan-tindakan diskriminatif kepada anak yang orang tua atau keluarganya berbeda atau diduga berbeda pilihan politiknya.

    14. Memprovokasi anak untuk memusuhi atau membenci calon kepala daerah atau parpol tertentu.

    15. Melibatkan anak dalam sengketa hasil penghitungan suara.

    Baca: Parpol masih setengah hati realisasikan keterwakilan perempuan

     

    Guna memastikan pemilu dan pilkada serentak tahun 2024 yang bebas dari penyalahgunaan dan eksploitasi anak, maka KPAI dan Bawaslu RI berkomitmen untuk melanjutkan kolaborasi, melakukan lima pengawasan yang intensif.

    Pengawasan atas kemungkinan terjadinya penyalahgunaan anak dan berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan lainnya terhadap anak, pada setiap tahapan Pemilu dan Pilkada 2024.

    Penyebarluasan informasi kepada publik tentang Pemilu dan Pilkada 2024 yang ramah anak serta pengemasan dan distribusi materi literasi kepemiluan terkait Pemilu dan Pilkada 2024 yang Ramah Anak. 

    KPAI dan Bawaslu juga sepakat menyediakan layanan penanganan kasus pelibatan anak atau kegiatan lainnya yang mengakibatkan anak menjadi korban pelanggaran kampanye pada Pemilu dan Pilkada 2024.

    Melakukan kegiatan pencegahan lain yang dipandang perlu dan disepakati para pihak. 

  • Hari Anak Nasional 2023: Negara Diminta Hadir dalam Perlindungan Anak

    Hari Anak Nasional 2023: Negara Diminta Hadir dalam Perlindungan Anak

    7cloud.asia – Dalam peringatan Hari Anak Nasional (2023) yang diperingati setiap tanggal 23 Juli, Komisi VIII DPR menyoroti isu kekerasan hingga perundungan atau bullying yang masih menghantui generasi penerus bangsa. 

    Komisi VIII DPR yang salah satu bidang tugasnya terkait perlindungan anak memberi sejumlah catatan di Hari Anak Nasional 2023.

    Memperingati Hari Anak Nasional kali ini, pemerintah didorong menciptakan ekosistem yang bisa memberikan perlindungan bagi anak dari berbagai bentuk kekerasan.

    Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), ada 21.241 anak yang menjadi korban kekerasan di dalam negeri pada tahun 2022.

    Baca Juga: Cara Cerdas Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak, Jangan Pernah Memarahi Saat Anak Nggak Paham

    Jenis kekerasan yang paling banyak dialami oleh anak Indonesia adalah kekerasan fisik (3.746 kasus), kekerasan psikis (4.162 kasus), dan kekerasan seksual (9.588 kasus). 

    Wakil Ketua Komisi VIII DPR Tubagus Ace Hasan Syadzily mengatakan, sudah menjadi tanggung jawab negara dalam menjamin hak-hak dasar anak.

    Negara, ujarnya, antara lain harus menjamin hak anak dalam mendapatkan keamanan, hak mendapatkan pendidikan hingga hak memperoleh kesehatan. 

    “Negara perlu hadir untuk memastikan agar anak-anak terlindungi dari berbagai persoalan. Terutama bagaimana Pemerintah harus menciptakan ekosistem perlindungan bagi anak dan lingkungan yang ramah anak,” kata Ace dalam keterangan persnya, Senin (24/7/2023) sperti dikutip Antaranews.

    Baca Juga: Lebih dari 600 Ribu Anak Papua Tidak Sekolah, Mengurai Kompleksnya Masalah Pendidikan di Papua

    Ace berharap, berbagai persoalan yang menjadi sorotan Komisi VIII bisa mendapat perhatian lebih sehingga tidak terus berkelanjutan.

    Ace mencatat berbagai problematika yang dihadapi anak-anak Indonesia saat ini belum tertangani dengan baik.

    “Antara lain kekerasan terhadap anak yang masih cukup tinggi, perundungan atau bullying, pernikahan anak, anak yang berhadapan dengan hukum, ketergantungan terhadap gawai serta narkoba,” ungkapnya. 

     

    Ace menganggap kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi pekerjaan rumah bagi negara.

    Baca Juga: Kemiskinan Jadi Alasan Perdagangan Organ Tubuh, Ini Kata Puan Maharani

    Ia menekankan Pemerintah perlu melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak. 

    Menurutnya, pemerintah perlu bekerja keras untuk meningkatkan penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan terhadap anak.

    Ia menekankan pentingnya pelaku kekerasan terhadap anak harus dihukum dengan tegas agar mereka tidak mengulangi perbuatannya.

    “Saya percaya bahwa setiap anak berhak tumbuh dan berkembang dengan aman dan bahagia,” ungkap Ace. 

    Baca Juga: Komisi X DPR Soroti Tingginya Angka Putus Sekolah dan Tidak Meratanya Pendidikan di NTT

    Terkait aksi bullying atau perundungan pada anak, Legislator Dapil Jawa Barat II ini menyinggung mengenai kejadian pembakaran sekolah yang dilakukan oleh seorang siswa SMPN 2 Pringsutat, Temanggung.

    Pembakaran itu dipicu oleh sakit hati siswa pelaku akibat kerap di-bully oleh teman dan gurunya sendiri. 

    “Efek psikis pada anak yang menjadi korban bullying mempengaruhi perilaku dan keputusannya di masa depan. Banyak juga peristiwa pidana yang dipicu akibat aksi bullying,” sebutnya.

    Fenomena ini, lanjutnya, harus jadi perhatian kita bersama agar bagaimana kita temukan solusi yang komprehensif untuk mencegah aksi-aksi bullying beserta dampak yang bisa terjadi,” imbuh Ace.

    Baca:  Baca Juga: PKBM, Harapan Untuk Mereka yang Putus Sekolah

    Menurutnya, kejadian di Temanggung adalah bukti bagaimana seorang anak korban bullying bisa bertindak nekat tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya.

    Oleh karena itu, Ace mengatakan harus ada kerja sama lintas instansi untuk mengatasi persoalan bullying.

    “Negara perlu bersikap serius mengenai pengawasan, ditambah edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya dari bullying serta pendampingan bagi korban,” tuturnya.

  • Dear Bunda, Waspadai Diare Rotavirus Karena Bisa Menyerang Organ Dalam

    Dear Bunda, Waspadai Diare Rotavirus Karena Bisa Menyerang Organ Dalam

    7cloud.asia – Para ibu diminta untuk mewaspadai diare dengan infeksi virus dari rotavirus atau diare rotavirus yang biasa menjangkiti anak-anak.

    Diare rotavirus pada anak bayi yang dapat mengganggu tumbuh kembang yang di antaranya penyebab stunting.

    Lebih jauh, diare rotavirus ini berisiko pada angka kematian anak yang tinggi karena bisa menyerang organ tubuh di luar saluran pencernaan yang sering kali tidak disadari.

    “Sesungguhnya banyak sekali komplikasi yang di luar saluran pencernaan yang disebabkan oleh diare rotavirus itu yang diwaspadai karena pengobatan jadi sulit dan risiko mortalitasnya tinggi,” ucap Dokter spesialis anak dr. Titis Widowati, Sp.A(K) dalam diskusi radio Kesehatan mengenai Mengenal Diare Rotavirus Januari lalu.

    Baca: Dear bunda, begini cara menumbuhkan motivasi belajar pada anak

    Ia menjelaskan, diare rotavirus memiliki toksin yang mempunyai sifat merusak sel-sel dalam saluran cerna hingga akhirnya bisa menembus ke sirkulasi darah.

    Jika sudah menyebar ke sirkulasi darah, akan bisa menyerang organ tubuh lain seperti otak yang bisa menimbulkan gejala-gejala neurologi sampai infeksi meningitis dan pengurangan kesadaran.

    Saat diare rotavirus menyerang paru-paru akan terjadi pneuomonia atau infeksi paru-paru, gagal ginjal hingga ke jantung yang bisa menimbulkan peradangan pada jantung hingga hepatitis.

    Infeksi diare rotavirus ini, kata Titis gejalanya hampir sama seperti diare akibat bakteri, namun lebih berat karena toksin dalam rotavirus mampu menyebabkan kejang karena bersifat neurotoksis.

    Baca: Mengapa pendidikan montessori makin diminati

    Selain itu diare rotavirus juga bisa memicu terjadinya muntah yang hebat dan pembuangan cairan yang lebih banyak yang bisa menyebabkan komplikasi dehidrasi hingga kekurangan elektrolit.

    “Jadi misalnya dehidrasi dia kehilangan cairan yang banyak melalui darah atau melalui muntah itu tidak hanya air yang dikeluarkan tapi juga elektrolit dan akan ada gangguan keseimbangan elektrolit, gangguan ini bisa bahaya karena akan mengganggu fungsi organ lain,” ucapnya.

    Cairan elektrolit yang keluar bersama dengan diare, kata Titis, bisa berupa kalium dan natrium.

    Jika kadar kalium sangat rendah akan mengganggu fungsi jantung sehingga anak bisa mengalami henti jantung karena kalium berfungsi untuk memompa jantung. Sedangkan jika kekurangan natrium, anak bisa mengalami kejang.

    Baca: Sangat peduli pada anak di pedalaman, seleb ini tuai pujian

    Titis mengatakan beberapa upaya bisa dilakukan untuk mencegah diare rotavirus yaitu dengan selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan sesudah dari kamar mandi.

    Titis juga merekomendasikan konsumsi makanan-makanan yang tidak tercemar dengan memperhatikan cara memasaknya dengan air yang bersih dan dimasak dengan benar.

    Dan yang tak kalah penting dalam mencegah diare rotavirus adalah dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan, sumber air bersih, dan memperhatikan sarana pembuangan tinja.

    Diingatkan rotavirus mampu bertahan dalam cuaca lingkungan udara yang dingin maupun yang biasa dalam waktu cukup lama sehingga berpotensi untuk menyebar ke lingkungan dari orang ke orang.

    Baca: Waspadai ancaman di balik lilin beraroma

    Salah satu upaya yang terbaik untuk menurunkan angka kejadian diare rotavirus sampai saat ini adalah dengan vaksinasi rotavirus.

    Vaksin rotavirus yang beredar saat ini, ujarnya, ada yang monovalen dan pentavalen.

    Vaksin monovalen diberikan pada usia enam minggu intervalnya untuk pemberian yang kedua adalah empat Minggu dan dia harus sudah selesai diberikan pada umur 24 Minggu.

    “Sedangkan kalau yang pentavalen itu diberikan yang pertama usia enam sampai 12 minggu kemudian pemberian berikutnya dengan interval empat minggu,” ucap Titis.

    Vaksin rotavirus ini diberikan dalam bentuk tetes dan diharapkan sudah selesai diberikan pada usia 6 bulan dengan tujuan untuk mencegah infeksi rotavirus di usia muda nol sampai dua tahun.

    Baca: Cara cerdas membeli makanan kemasan

    Vaksin ini sudah diterapkan di sejumlah daerah, antara lain di Bogor, Jawa Barat. menyediakan vaksin rotavirus (RV) guna mencegah diare rotavirus.

    “Tersedia vaksin yang aman dan efektif, serta meningkatkan kualitas hidup anak bangsa, maka perlu dilakukan pemberian imunisasi RV sebagai upaya komprehensif pencegahan diare pada bayi di Indonesia,” kata Kadinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno di Kota Bogor, Sabtu (12/8/2023).

    Retno mengumumkan bahwa pelaksanaan pemberian imunisasi rotavirus dengan sasaran bayi akan dimulai tanggal 15 Agustus 2023. Sasaran imunisasi rotavirus di Kota Bogor sejumlah 17.769 bayi dengan target capaiannya 100 persen.

    Berdasarkan data dari Indonesian Rotavirus Surveillance Network (IRSN), Rotavirus sebagai penyebab utama diare cair akut pada balita diare yang dirawat inap, tahun 2001-2008 sebesar 58 persen,

    Baca: Nugget belut, cara unik cegah stunting 

    Pada 2009-2011 sebesar 52 persen, dan pada tahun 2012-2016 sebesar 45 persen. Selain itu 9,8 persen kematian pada bayi kurang dari 12 bulan dan 4,55 persen kematian pada anak balita 12-59 bulan di Indonesia disebabkan oleh diare.

    Di Kota Bogor kasus diare Tahun 2022 sebanyak 685 atau 6,4 persen dari total kasus kesehatan di sana.

    Diare juga dapat menimbulkan masalah stunting pada anak karena zat mikro yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh hilang karena infeksi diare yang berulang.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Anak Terlambat Bicara? Bisa Jadi Anda Kurang Memberinya Stimulan Agar si Kecil Bicara

    Anak Terlambat Bicara? Bisa Jadi Anda Kurang Memberinya Stimulan Agar si Kecil Bicara

    7cloud.asia – Putra anda sudah berumur 2 tahun lebih, tapi belum bisa bicara? Jika ya, jangan terlalu berkecil hati karena hal itu juga dialami banyak orang tua lain. 

    Ketua UKK tumbuh kembang pediatri sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Ahmad Suryawan Sp.A(K) mengatakan faktor terbesar anak yang terlambat bicara adalah kurangnya stimulasi dari pola pengasuhan.

    Dokter yang biasa disapa Wawan ini mengatakan, jika dipersentasekan 95 persen lebih anak yang terlambat bicara karena gangguan input stimulasi sehari-hari.

    “Sisanya 5 persen antara gangguan pendengarannya dan gangguan daripada di otaknya,” ujarnya dalam diskusi mengenai Urgensi Regulasi Screen Time untuk Tumbuh Kembang Anak yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (30/8/2023)

    Baca: Cara mudah tumbuhkan motivasi belajar pada anak

    Wawan mengatakan berdasarkan pengalamannya, secara umum ada tiga poin yang memengaruhi anak terlambat bicara.

    Pertama ada kerusakan otak yang menyangkut daripada proses aktivitas kelistrikan bicara otak anak, kedua gangguan pendengaran, ketiga disfungsi daripada input stimulasi sehari-hari.

    Namun gangguan pendengaran dan gangguan otak hanya memegang peranan yang kecil pada anak yang terlamat bicara, yakni hanya 5 persen.

    Orang tua yang mengeluhkan keterbatasan kemampuan bicara anak pada usia 2 tahun, diartikan Wawan ada faktor stimulasi yang kurang selama lebih dari satu tahun ke belakang.

    Baca: Waspadai diare rotavirus yang sering menyerang anak

    Wawan mengatakan faktor kurangnya stimulasi juga diakibatkan karena anak terlanjur kecanduan gawai yang menyebabkan waktu layar yang meningkat.

    Kareana itu ia menyarankan para orang tua menerapkan metode time out untuk menurunkan waktu layar dan imbangi dengan aktivitas di rumah yang melibatkan interaksi.

    Imbangi kegiatan di rumah, itu sangat harus responsif, ajak interaktif dengan ada permainan fisik.

    “Seperti berlari, melompat, atau non fisik seperti menggunting, menempel atau bermain air,” katanya.

    Ketua divisi tumbuh kembang Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini mengatakan keterlambatan bicara anak juga bisa disebabkan oleh banyaknya paparan bahasa lain selain bahasa baku atau bahasa ibu yang digunakan sehari-hari.

    Baca: Ini sebabnya pendidikan montessori makin diminati

    Ia mengatakan, baiknya jika anak belum fasih berbicara bahasa baku yang dipakai sehari-hari, jangan dulu dikenalkan bahasa kedua yang jarang diucapkan disekitar lingkungannya agar anak tidak kesulitan menyerap bahasa.

    “Sebaliknya, kalau di rumah itu bahasa keduanya dimasukkan setelah bahasa baku dimengerti, anak itu akan kaya Bahasa,” kata Wawan.

    Ia menganjurkan untuk para orang tua jangan menggunakan dua bahasa atau bilingual pada anak yang terindikasi terlambat bicara.

    Tetap gunakan bahasa baku terlebih dahulu untuk memperkaya kosa kata anak.

    Jika sudah fasih, bahasa kedua bisa mulai diterapkan secara perlahan agar anak tidak terbebani dengan banyak bahasa.

    Rudyanti disarikan dari Antaranews.com

     

     

  • Belajar Berempati dan Berbagi Bisa Dikenalkan pada Anak Sejak Usia 3 Tahun

    Belajar Berempati dan Berbagi Bisa Dikenalkan pada Anak Sejak Usia 3 Tahun

    Foto: pexels

    7cloud.asia – Berempati dan berbagi bisa diajarkan sejak dini. Anak-anak bisa mulai dikenalkan pada berbagi paling tidak saat dia menginjak usia tiga tahun.

    Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Feka Angge Pramita mengatakan, salah satu kiat mengajarkan anak berbagi yakni dengan memberikan contoh.

    Orang tua atau orang dewasa di sekitar anak menunjukkan kegiatan berbagi yang dilakukan dan sebisa mungkin melibatkan anak dalam mempersiapkannya.

    “Dengan banyaknya pengalaman untuk berbagi maka akan membuat anak tahu bagaimana rasanya berbagi dengan orang lain,” ujar Feka sebagaimana dikutip Antaranews.com.

    Baca: Cara mudah menumbuhkan motivasi belajar pada anak

    Menurut Feka, dengan melibatkan anak selama proses mempersiapkan kegiatan berbagi atau beramal bisa menjadi pengalaman untuk dia.

    Pengalaman itu, ujarnya, nantinya membuat anak semakin sadar atau mengenali apa yang dia lakukan.

    “Misalkan orangtua ingin berbagi sesuatu libatkan anak dalam prosesnya bukan ketika dalam membaginya dan ini perlu diulang-ulang sebenarnya,” kata Feka.

    Feka menuturkan satu hal penting yang perlu orang tua atau orang dewasa di sekitar anak lakukan saat mengajarkan anak berbagi yakni menggali apa yang dirasakan anak dan makna yang dia dapatkan dari kegiatan berbagi itu.

    Baca: Ini alasan mengapa pendidikan montessori makin diminati

    Feka menekankan, yang terpenting ketika anak sharing sesuatu yang dimiliki dengan orang lain maka kita sebagai orang dewasa di sekitar anak perlu menggali juga apa yang dirasakan anak ketika berbagi.

    “Gali makna apa yang didapatkan anak. Penting untuk kita menggali perasaan anak,” jelas dia.

    Sementara itu, mengenai upaya menumbuhkan empati pada anak, Feka mengatakan ini perlu didasari kemampuan mereka tahu tentang perasaan orang tersebut.

    Ketika anak sudah mengetahui perasaan orang lain maka barulah mereka bisa beranjak memiliki perasaan empati.

    Baca: Ini alasan mengapa tes calisung dihapus dari seleksi masuk SD

    “Perasaan empati perlu didasari perasaan terhadap bagaimana dia mengenal dirinya, memahami apa yang dia dan orang lain rasakan. Bagaimana dia bisa memiliki perasaan terhadap yang dialami orang lain,” jelas Feka.

    Empati merupakan kemampuan individu termasuk anak menempatkan diri pada perasaan orang lain. Dalam mengenalkan empati pada anak, orangtua bisa mengenalkan tentang membantu seseorang yang memerlukan bantuan.

     

  • Kenali Gejala dan Penanganan Diabetes Melitus pada Anak

    Kenali Gejala dan Penanganan Diabetes Melitus pada Anak

    7cloud.asia – Riset mengungkap diabetes melitus pada anak terus meningkat beberapa waktu belakangan ini.

    Untuk mencegah kondisi yang lebih buruk, orang tua perlu mengenali gejala diabetes melitus pada anak sehingga bisa ditangani sejak dini.

    Karena penanganan dini diabetes melitus akan memudahkan proses penyembuhan, sekaligus mencegah kondisi yang lebih buruk. Lantas apa sih gejalan diabetes melitus pada anak?  

    Dokter spesialis anak dari Divisi Endokrinologi RS Cipto Mangunkusumo, dr. Ghaisani Fadiana mengatakan, secara umum gejala diabetes melitus pada anak disebut dengan 3P.

    Baca: Lari pada sore hari efektif untuk atasi diabetes melitus tipe-2

    “Yaitu poliuri atau sering pipis di malam hari, polidipsi atau sering merasa haus, dan poliphagi atau mudah lapar,” kata Ghaisani pada diskusi kesehatan secara daring di Jakarta, Jumat (8/9/2023).

    Ia menambahkan, biasanya 3P disertai hal khas lainnya, yaitu berat badan anak tidak naik atau malah turun. Kondisi ini banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja dengan diabetes.

    Dokter di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM ini mengatakan gejala lain yang dialami anak dengan diabetes melitus adalah cepat lelah dan tidak bisa mengikuti aktivitas yang sedang sampai berat.

    Sebagian kecil anak dengan kelainan diabetes juga akan ada infeksi berulang, seperti infeksi paru dan jamur berulang.

    Baca: Pro kontra penggunaan ganja untuk pengobatan

    Untuk mengetahui anak terindikasi diabetes melitus, orang tua harus memahami beberapa gejalanya. Selain melalui 3P, rutin cek kadar gula darah juga termasuk deteksi dini untuk mengetahui apakah anak terindikasi diabetes atau tidak.

    Jika gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dl, ditambah ada gejala 3P, maka sudah bisa dipastikan kemungkinan besar anak mengalami diabetes melitus.

    Sayangnya, seringkali orang tua terlambat membawa anaknya ke rumah sakit dan datang sudah dalam kondisi yang berat, seperti sesak napas, dehidrasi bahkan sampai penurunan kesadaran.

    Ghaisani mengatakan sebagian besar diabetes melitus pada anak merupakan tipe 1, di mana ada masalah di pankreas sehingga tidak bisa memproduksi insulin untuk tubuh dalam keadaan yang cukup.

    Baca: Polusi udara picu 7 juta kematian dini setiap tahun

    Berbeda dengan diabetes melitus pada orang dewasa yang kebanyakan adalah tipe 2, dengan pankreas bisa memproduksi insulin namun insulin tersebut tidak bisa mengontrol gula darah dalam tubuh.

    “Akibatnya akan berbeda pada tatalaksana dan terapinya pada anak-anak, karena sebagian besar DM tipe 1 yang badannya tidak bisa menghasilkan insulin maka yang harus dilakukan sebagai terapi adalah terapi suntik insulin,” katanya.

    Suntik insulin diwajibkan untuk mencegah komplikasi yang berat itu dan risiko komplikasi yang lebih kecil jika rajin suntik insulin sesuai anjuran.

    Anak yang sudah mendapatkan terapi insulin, gula darahnya tetap harus diperiksa secara berkala dalam satu hari untuk mengetahui kecukupan dosis insulin dan pengaturan makannya.

    Baca: Risiko terlalu sering mendengarkan musik dari earphone

    Idealnya anak perlu periksa gula darah setiap sebelum makan dan 2 jam setelah makan atau paling tidak 3-4 kali sehari.

    Hal ini ditujukan untuk mengetahui apakah makanan yang diberikan sudah cukup memenuhi kadar gula darah dalam tubuhnya.

    “Tapi kalau kondisi demam sebaiknya diperiksa lebih sering karena kalau pada kondisi sakit itu akan berisiko terjadi peningkatan atau gula darah yang lebih rendah,” kata Ghaisani menjelaskan.

    Selain suntik insulin, anak dengan diabetes melitus juga perlu dijaga pola makannya, diet seimbang, hindari asupan kadar gula tinggi, dan yang mengandung pemanis buatan seperti permen dan soda.

    Baca: Air kelapa muda tak bagus untuk orang-orang dengan kondisi khusus

    Namun, tetap harus memperhatikan asupan karbohidratnya karena prinsipnya anak yang mengalami diabetes melitus masih memerlukan karbohidrat untuk bertumbuh dan berkembang.

    Anak dengan diabetes melitus masih bisa mengonsumsi makanan manis namun yang bersifat gula kompleks seperti buah-buahan.

    Jika didapati gula darah anak rendah, penanganan mandiri yang bisa dilakukan yaitu memberikan karbohidrat yang kerja cepat seperti air gula, teh manis, permen atau kismis.

    Ghaisani mengatakan anak dengan diabetes melitus harus tetap melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat. Aktivitas fisik ini direkomendasikan dilakukan 3-4 kali seminggu.

    Ghaisani menegaskan, anak dengan diabtes melitus tidak bisa berjalan sendiri, butuh support system dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

     

     

  • Cara Mudah Mengajak Anak Belajar Sains Sejak Usia Dini

    Cara Mudah Mengajak Anak Belajar Sains Sejak Usia Dini

    7cloud.asia – Banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa sebenarnya anak sejak bayi sudah akrab dengan sains.

    Anak-anak belajar sains secara alami seperti menjatuhkan benda, bermain bola atau mainan lainnya saat bayi mandi di bak mandinya, memercikkan air ketika mandi di dalam bak mandi.

    Cara-cara sederhana seperti itu kerap dilakukan anak, dan orangtua seharusnya mendukung serta membimbing mereka agar bisa membuat penemuan baru lainnya.

    Baca: Mengapa tes calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Mekansir laman Unicef, beberapa cara yang dapat orangtua lakukan agar anak belajar sains sejak dini dan menjadi ilmuwan kecil, yaitu:

    1. Biarkan anak memimpin
    Orangtua melihat apa yang menarik minat si kecil secara alami. Seperti bermain puzzle, biarkan si kecil mencoba dengan berbagai cara untuk memasang potongan puzzle.

    Beri mereka kesempatan untuk mencari tahu sendiri masalahnya dan jika mereka mengalami kebuntuan, maka bantulah menyelesaikannya.

    2. Ajak anak berbincang soal sains
    Orangtua juga dapat mengajak anak berbicara tentang apa yang terjadi saat mereka bermain dan bereksperimen.

    Misalnya, saat anak mandi di dalam bak mandi sambil memasukkan bola dan beberapa mainannya.

    Ajukan mereka pertanyaan agar mendapatkan pemahaman yang lebih dalam – “Mengapa menurut Anda mainan itu tetap berada di atas air dan yang lainnya tenggelam?”

    Baca: Menumbuhkan motivasi belajar pada anak

    3. Ajak anak ke luar mengenali lingkungan
    Ada banyak hal yang bisa dijumpai dan dipelajari saat mengajak anak untuk sekadar berjalan-jalan.

    Misalnya Anda mengajak bermain ke taman. Anda dapat membicarakan tentang hewan apa yang Anda lihat, seperti apa cuacanya, dan tanaman apa yang tumbuh.

    Sentuh daun dan bebatuan dengan lembut, dengarkan suara hewan dan ajak anak untuk menceritakan pengalaman yang alami.

    Ajak anak berbincang dan mengeksplorasi mengapa daun dan bunga memiliki warna dan bau yang berbeda.

    Baca: Mengapa pendidikan montessori makin diminati

    Orangtua juga dapat membicarakan cuaca dengan anak. Misalnya ketika hujan turun. Mengapa itu bisa terjadi?

    Biarkan anak berpikir dengan jawabannya sendiri. Anda dapat membantu menjelaskan proses terjadinya hujan kepada mereka.

    4. Dorong rasa ingin tahu anak
    Beri anak Anda berbagai benda seperti daun, kerang, batu, atau kain lembut. Ajaklah mereka untuk merasakan dan menjelajahi masing-masing.

    Biarkan anak Anda menjelaskan apa yang membuat benda-benda tersebut sama atau berbeda.

    Hal ini akan membuat anak penasaran dan mengeksplorasi konsep bentuk, ukuran, dan tekstur.

    Anda bisa mencobanya dengan makanan yang mereka makan juga: “Apakah manis atau asam?” “Apakah lembut atau renyah?”

    Baca: Cara mudah menumbuhkan minat membaca anak sejak dini

    5. Bergabunglah dalam pembelajaran
    Sebagai orangtua harus ingat bahwa yang terpenting bukanlah memiliki semua jawaban, tetapi menjadi peran orangtua disini adalah menjadi mitra anak dalam menemukan jawabannya.

    Percobaan lainnya adalah ketika anak mencampur cat berwarna berbeda. Pasti akan menghasilkan warna lain lagi. Atau lihat bola mana yang memantul lebih tinggi.

    Orangtua memang tidak harus mengetahui jawaban semua pertanyaan anak. karena itu, Anda bisa menulis pertanyaan yang diajukan anak, lantas  bisa mencari jawabannya bersama.

    Yang harus orangtua ingat, sains adalah tentang menjelajahi dan mengajukan pertanyaan. Jadi bukan sesuatu yang statis apalagi dogmatis.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Psikolog : Tindak Kekerasan Marak Karena Toleransi Tidak Diajarkan Sejak Anak

    Psikolog : Tindak Kekerasan Marak Karena Toleransi Tidak Diajarkan Sejak Anak

    7cloud.asia –  Penelitian menemukan adanya korelasi antara pelaku kekerasan yang merupakan orang dewasa dengan minimnya pemahaman toleransi yang ditanamkan ketika masih anak-anak.

    Psikolog sekaligus akademisi Tika Bisono mengatakan bahwa latar belakang paham kekerasan adalah sifat agresif yang sarat pemaksaan yang dialami pelaku saat masih anak-anak. Mereka tidak mengenal apa itu toleransi.

    “Sifat agresif, koersif, intimidatif, pemaksaan dan nati toleransi, merupakan elemen-elemen yang ada di violence atau tindak kekerasan,” kata Tika seperti dilansir Antaranews, beberapa waktu lalu.

    Dia mengatakan seseorang yang jalan pikirannya sudah didominasi oleh paham kekerasan akan menolak penyelesaian masalah atau pencapaian tujuan dengan cara yang toleran.

    Baca: Usia kritis bagi kesehatan mental anak

    Saat menemukan hambatan, ujar Tika, dia akan memaksa pihak lain untuk setuju dengannya. Toleransi atas perbedaan itu tidak ada.

    “Jika dipupuk atau diberi ruang, maka yang akan terjadi adalah distorsi pemahaman bahwa kekerasan itu adalah cara satu-satunya untuk mendapatkan hal yang diinginkan,” ucapnya.

    Seseorang yang agresif, lanjut dia, juga akan menganggap bahwa sifat toleransi menunjukkan kelemahan pemiliknya.

    Tika menambahkan toleransi membuat posisi seseorang setara dengan orang lain. Orang yang agresif akan melihat bahwa untuk mendapatkan kendali, ia tidak boleh setara dengan sesamanya.

    Baca: Belajar berempati bisa diajarkan sejak anak berusia 3 tahun

    “Posisi orang yang mengendalikan ada di atas yang dikendalikan. Tentunya sangat berbahaya jika realitanya saat ini sudah banyak lembaga pendidikan anak di Indonesia yang justru menanamkan prinsip kekerasan dan intoleransi sedari dini,” tuturnya.

    Menurut dia, mereka yang berpaham kekerasan sebenarnya sudah melanggar  empat pilar kebangsaan yaitu UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

    Jika ada yang bisa diapresiasi pada masa pemerintahan Orde Baru, maka kita akan tertuju pada penekanan rasa nasionalisme yang sangat baik.

    “Di zaman itu, pernah ada Undang-Undang Subversif yang membatasi ruang gerak kaum radikal. Ketegasan Pemerintah kala itu dalam menjaga keutuhan NKRI perlu diacungi jempol, walaupun tetap ada hal yang harus dikritisi,” ujarnya.

    Baca: Hari kesehatan mental sedunia, mengapa kesehatan mental itu penting

    Tika menambahkan bahwa Pemerintah perlu melihat langsung ke sekolah-sekolah yang diduga mengajarkan paham intoleransi dan kekerasan dalam rangka menemukan adanya pelanggaran kurikulum pendidikan yang berlangsung.

    Hal yang dia khawatirkan adalah beberapa sekolah ini sudah tidak menjadikan Pancasila sebagai landasan bernegaranya.

    Bahkan dari lembaga pendidikan ini ada yang sudah mulai mengajarkan teknik bersenjata dan berperang pada anak didiknya. 

    “Materi pelajaran agama yang berisi kisah para nabi justru tidak diambil sifat-sifat teladan mereka, namun dibelokkan untuk membakar semangat berperang,” katanya.

    Baca: Manfaat meditasi untuk kesehatan mental

    Dia pun berharap semua orang tua di Indonesia dapat menanamkan rasa nasionalisme dan toleransi yang tinggi kepada anak-anaknya sebab semangat kebhinekaan sedianya menjadi kekhasan Indonesia.

    Seperti di Singapura dan Malaysia saja, itu sangat susah sekali menyatukan etnis India, Tiongkok, dan Melayu. Mereka tidak punya nilai kebangsaan yang bisa mempersatukan perbedaan etnisnya.

    “Mereka pun iri melihat Indonesia yang walaupun terdiri dari banyak etnis dan suku bisa sepakat untuk bersatu dan menggunakan bahasa yang sama, bahasa Indonesia. Ini jelas tidak akan kita temukan dimanapun kecuali hanya di Indonesia,” kata Tika.

     

  • Pola Asuh Buruk Picu Maraknya Bullying atau Perundungan Kepada Anak

    Pola Asuh Buruk Picu Maraknya Bullying atau Perundungan Kepada Anak

    7cloud.asia –  Pola asuh buruk menjadi salah satu penyebab terjadinya perundungan atau bullying terhadap anak, yang belakangan ini semakin marak.

    “Banyak orang tua yang secara tidak sadar melakukan bullying terhadap anak-anak mereka,” kata Psikolog Anak Universitas Padjajaran Fitrian Hararti menyebutnya dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (9/11/2023).

    Salah satu contoh perundungan atau bullying yang dilakukan orang tua adalah membanding-bandingkan kemampuan anak dengan orang lain.

    Bullying menurut Fitrian, juga terjadi saat orang tua melontarkan komentar merendahkan untuk mendorong atau memotivasi anak.

    “Misalnya ‘kamu itu masa enggak bisa sih, si itu aja sudah bisa, ih cengeng gitu aja nangis.’ Padahal setiap anak itu unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda,” ujar Fitrian.

    Baca: Orang tua bisa memutus rantai bullying dari rumah

    Menurutnya ketika di dalam rumah orang tua sudah terbiasa melakukan perundungan atau bullying, maka anak berpotensi menjadi korban dari tindakan serupa di luar rumah.

    Lebih buruk ia juga bisa melakukan perundungan atau bullying kepada orang lain karena kurang kepercayaan diri.

    Bahkan, ancaman yang lebih besar adalah anak meniru tindakan orang tuanya dan melakukan perundungan di luar rumah.

    “Anak adalah peniru ulung dan orang tua adalah modelnya, jadi jangan berharap punya anak yang baik berakhlak mulia dan cerdas kalau orang tuanya sendiri tidak cerdas mendidik anak,” katanya.

    Baca: Sekolah di Gowa ini punya ekskul antibullying

    Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada 2021 menunjukkan bahwa empat dari 100 anak usia dini pernah mendapatkan pengasuhan tidak layak. 

    Berdasarkan Indeks Perlindungan Anak, Indonesia menargetkan menekan persentase anak usia dini yang pernah mendapatkan pengasuhan tidak layak menjadi 3,47 persen pada 2024.

    Sementara pada 2020 tercatat 3,64 persen anak mendapatkan pengasuhan tidak layak dan 3,73 persen pada 2018.

    Guna mencapai target tersebut, pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah menetapkan indikator persentase balita dengan pengasuhan tidak layak.

    Baca: Hanya tamat SMP, ini pandangan Atta Halilintar soal pendidikan

    Kementerian PPPA memiliki penguatan 257 layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk melakukan edukasi dan konsultasi konseling pengasuhan ke keluarga yang dilakukan oleh konselor dan psikolog.

    Layanan tersebut diberikan guna melakukan perubahan perilaku orangtua agar bisa memberikan pengasuhan positif tanpa kekerasan.

    Konseling ini sekaligus untuk memperkuat ketahanan keluarga, juga mendukung pencegahan anak dari kekerasan dan penelantaran.

    Sumber: Antaranwes.com

     

  • WHO: Setiap 10 Menit Satu Anak Terbunuh di Gaza

    WHO: Setiap 10 Menit Satu Anak Terbunuh di Gaza

    7cloud.asia – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Jumat (10/11/2023) rata-rata seorang anak terbunuh setiap 10 menit di Jalur Gaza.

    Ia membeberkan hal itu kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sambil memperingatkan: “Tidak ada tempat dan tidak ada seorang pun di Gaza yang aman.”

    Dia mengatakan bahwa setengah dari 36 rumah sakit di Gaza dan dua pertiga dari pusat layanan kesehatan primernya tidak berfungsi.

    Rumah sakit yang beroperasi jauh melampaui kapasitasnya, dan menggambarkan sistem layanan kesehatan dalam keadaan “terpuruk.”

    “Koridor rumah sakit penuh dengan korban luka, orang sakit, dan sekarat. Kamar mayat meluap. Pembedahan tanpa anestesi. Puluhan ribu pengungsi berlindung di rumah sakit,” kata Tedros kepada dewan yang beranggotakan 15 orang itu.

    Baca: Gaza layaknya kuburan, PBB serukan gencatan senjata

    “Rata-rata, satu anak terbunuh setiap 10 menit di Gaza,” kata Tedros.

    Sejak 7 Oktober, WHO memverifikasi lebih dari 250 serangan terhadap layanan kesehatan di Gaza dan Tepi Barat, sementara ada 25 serangan terhadap layanan kesehatan di Israel, kata Tedros.

    Israel mengatakan Hamas menyembunyikan senjata di terowongan di bawah rumah sakit. Namun, Hamas membantah tuduhan itu.

    Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Israel membentuk satuan tugas untuk mendirikan rumah sakit di Gaza selatan.

    Pada 12 Oktober, Israel memerintahkan sekitar 1,1 juta orang di Gaza untuk pindah ke selatan menjelang invasi darat.

    Baca: Seruan gencatan senjata dari Majelis Umum PBB dianggap angin lalu

    “Israel sedang melakukan pembicaraan lanjutan dengan Uni Emirat Arab, ICRC (Komite Internasional Palang Merah -red) dan negara-negara Eropa lainnya mengenai pendirian kapal rumah sakit lapangan dan rumah sakit terapung,” kata Erdan.

    Ia menambahkan, “Israel memfasilitasi pengiriman bantuan medis dari Yordania ke rumah sakit di Gaza utara.”

    “Sedihnya, Israel berbuat lebih banyak demi kesejahteraan warga Gaza dibandingkan WHO atau badan PBB lainnya,” katanya.

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara di markas PBB di New York, Senin 6 November 2023.

    Amerika Serikat (AS) berupaya untuk menyediakan bahan bakar ke rumah sakit di Gaza, kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood.

     

    Baca: Korban terus berjatuhan di Gaza, pemakaman layak sulit dilakukan

    Ia menekankan bahwa fasilitas sipil dan kemanusiaan harus dihormati dan dilindungi berdasarkan hukum internasional.

    Wood mengatakan Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.

    “Taktik pengecut ini tidak mengurangi tanggung jawab Israel untuk membedakan antara warga sipil dan teroris dalam perjuangannya melawan Hamas,” ujarnya.

    “Risiko kerugian terhadap warga sipil di lokasi yang digunakan Hamas untuk tujuan militer harus dipertimbangkan ketika merencanakan operasi.”

    Tedros mengenang masa kecilnya saat perang di Ethiopia, dan mengatakan bahwa dia memahami apa yang harus dialami anak-anak Gaza.

    “Suara tembakan dan peluru yang berdesing di udara, bau asap setelah serangan, peluru pelacak di langit malam, ketakutan, rasa sakit, kehilangan – hal-hal ini selalu melekat pada saya sepanjang hidup saya,” katanya. 

    Sumber: VOA Indonesia