Tag: hamas

  • Kontroversi Surat Perintah Penangkapan Pemimpin Israel dan Hamas, PBB Sebut Semua Negara Wajib Hormati Keputusan ICC

    Kontroversi Surat Perintah Penangkapan Pemimpin Israel dan Hamas, PBB Sebut Semua Negara Wajib Hormati Keputusan ICC

     

    7cloud.asia – Surat perintah penangkapan pemimpin Israel dan Hamas yang diajukan jaksa penuntut Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menuai reaksi dari para pemimpin dunia.

    Dilansir VOA Indonesia, juru bicara Kantor Perdana Menteri Israel, Tal Heinrich, pada Selasa (21/5/2024) mendorong negara-negara lain untuk menentang surat perintah penangkapan dua pemimpin Israel.

    Seperti diketahui Jaksa penuntut Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah memerintahkan penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.

    Adapun pentolan Hamas yang masuk dalam surat perintah penangkapan itu adalah Kepala Biro Politik Ismail Haniyeh, Kepala Sayap Militer Mohammed Diab Ibrahim Masri, dan Pemimpin Hamas di Jalur Gaza Yahya Sinwar.

    Atas perintah ini, Heinrich juga menyatakan Israel tidak akan memenuhi surat perintah tersebut.

    “Kami menyerukan kepada bangsa-bangsa di dunia yang beradab dan merdeka ini, bangsa-bangsa yang membenci teroris dan siapa pun yang mendukung mereka, untuk mendukung Israel,” kata Heinrich.

    Baca Juga: Maju Mundur Pendudukan Israel di Gaza, Palestina

    Presiden AS Joe Biden juga tegas menolak perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.

    Biden menyebut keputusan ICC “keterlaluan” dan bersumpah akan mendukung Israel seiring proses hukum berjalan.

    Dia juga mengecam keputusan jaksa Khan yang menyetarakan posisi Israel dan kelompok pejuang Palestina, Hamas, yang tiga di antara pemimpinnya juga masuk dalam daftar permohonan surat perintah penangkapan dari ICC.

    “Biar saya perjelas: apa pun yang disiratkan oleh jaksa ini, tidak ada kesetaraan–sama sekali tidak ada–antara Israel dan Hamas. Kami akan selalu mendukung Israel melawan ancaman terhadap keamanannya,” kata Biden dalam sebuah pernyataan, Senin (20/5/2024).

    Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menegaskan semua negara bertanggung jawab untuk menghormati lembaga internasional seperti Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

    “Kami tidak diperbolehkan mengomentari semua pernyataan yang keluar dari setiap negara anggota, namun yang jelas adalah bahwa setiap negara anggota memiliki tanggung jawab untuk menghormati institusi internasional,” kata Dujarric dalam konferensi pers di Markas PBB, New York, Selasa (21/5/2024).

    Baca Juga: Pejabat Israel Dibayangi Surat Perintah Penangkapan Mahkamah Kriminal Internasional karena Kejahatan Perang

    Sehari sebelumnya, Jaksa ICC Karim Khan mengatakan dia telah mengajukan permintaan surat perintah penangkapan terhadap para pemimpin Israel dan Hamas atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

    Putusan ini terkait serangan Israel ke Gaza yang dilakukan sejak Oktober 2023 berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan dan diperiksa oleh kantornya.

    Keputusan mengenai apakah salah satu surat perintah penangkapan pada akhirnya akan dikeluarkan berada di tangan panel yang terdiri dari tiga hakim ICC.

    Mereka yang akan menilai bukti-bukti yang diajukan oleh kantor Khan.

    Para pejabat AS mengecam surat perintah penangkapan ICC tersebut.
    Presiden Joe Biden bahkan menegaskan bahwa meski jaksa ICC telah mengajukan surat perintah penangkapan terhadap para pemimpin Israel, Tel Aviv tidak melakukan genosida di Gaza.

    Selain itu, Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan anggota parlemen saat ini sedang menjajaki opsi, termasuk sanksi, untuk menghukum ICC jika mereka mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi para pejabat Israel itu.

    Gedung Putih, Selasa, mengatakan Presiden Biden bersama anggota parlemen sedang membahas langkah selanjutnya mengenai usulan sanksi terhadap ICC yang diajukan Partai Republik.

    Baik AS maupun Israel bukan merupakan pihak dalam Statuta Roma, perjanjian yang mendasari pembentukan ICC.

    Sumber: VOA Indonesia, Sputnik, Anadolu

  • Israel Perkirakan Perang dengan Hamas Akan Berlangsung hingga Akhir Tahun

    Israel Perkirakan Perang dengan Hamas Akan Berlangsung hingga Akhir Tahun

    7cloud.asia – Di tengah tekanan dan seruan gencatan senjata yang terus berlanjut, Israel bersikeras melanjutkan serangannya ke Hamas.

    Seorang pejabat tinggi Israel memperkirakan, perang Israel melawan Hamas akan berlangsung hingga akhir tahun ini,

    “Mungkin kami bertempur tujuh bulan lagi untuk mengokohkan keberhasilan kami dan mencapai apa yang kami definisikan sebagai penghancuran kekuatan dan kemampuan militer Hamas,” kata Penasihat Keamanan Nasional, Tzachi Hanegbi kepada radio pemerintah Israel.

    Pada Rabu (29/5/2024) militer Israel mengatakan, tiga lagi tentaranya tewas dalam pertempuran dengan Hamas di kota Rafah di Gaza selatan.

    Baca Juga: ICJ Perintahkan Hentikan Operasi Militer di Rafah, Israel Makin Terisolasi

    Pada saat penduduk melaporkan serangan baru Israel, sementara Hamas mengatakan bahwa mereka menembakkan roket ke pasukan Israel.

    Serangan-serangan terbaru itu terjadi sementara Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) dan Masyarakat Bulan Sabit Merah mengatakan perlunya gencatan senjata di Gaza.

    IFRC juga mendesak dibukanya akses bagi kelompok kemanusiaan untuk membagikan bantuan kepada warga Palestina yang sangat memerlukan bantuan setelah hampir delapan bulan perang.

    “Kami siap untuk mendistribusikan bantuan. Kami harus memiliki akses, dan untuk mendapatkan akses, harus ada gencatan senjata,” kata Presiden IFRC Kate Forbes dikutip Reuters.

    Baca Juga: Pemimpin Oposisi Israel Desak Netanyahu Akui Palestina dengan Kondisi Tertentu

    Forbes mengatakan ada kebutuhan jangka pendek yang harus segera diatasi, seperti kekurangan gizi dan kurangnya sanitasi yang memadai.”

    AS menyatakan “keprihatinan yang mendalam” pada hari Selasa atas serangan udara Israel hari Minggu, yang menewaskan sedikitnya 45 orang dan melukai 200 warga Palestina yang berlindung di kamp pengungsi di Rafah.

    AS mengatakan pihaknya mendesak Israel untuk melakukan penyelidikan penuh atas kejadian tersebut.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Biden Dorong Gencatan Senjata Israel-Hamas, Saat Israel Makin Dalam Kuasai Rafah

    Biden Dorong Gencatan Senjata Israel-Hamas, Saat Israel Makin Dalam Kuasai Rafah

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden mendorong kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas yang terdiri dari tiga fase yang disetujui oleh Israel.

    Pada saat yang sama pasukan Israel semakin masuk ke wilayah Palestina di kota Rafah di Gaza selatan.

    Kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas itu dimulai dengan jeda pertempuran selama enam minggu dan mengarah pada penghentian permusuhan yang lebih permanen dengan kelompok militan Hamas.

    Fase pertama akan mencakup “gencatan senjata penuh dan menyeluruh,” kata Biden dalam sambutannya di Gedung Putih, Washington DC, Jumat (31/5/2024).

    Ini berarti penarikan pasukan Israel dari semua wilayah berpenduduk di Gaza dan pembebasan beberapa sandera, termasuk perempuan, orang tua, yang terluka dan warga negara Amerika, sebagai imbalan atas pembebasan ratusan tahanan Palestina dari penjara Israel.

    Baca Juga: Bella dan Gigi Hadid Donasikan 1 Juta Dolar AS untuk Rakyat Palestina

    Selain itu, Israel akan mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza dan kembalinya warga Palestina ke rumah dan lingkungan mereka di semua wilayah Gaza, termasuk di Gaza utara.

    Setelah jeda awal selama enam minggu, jalan ke depan akan lebih rumit, Biden memperingatkan.

    “Saya akan jujur dengan Anda, ada sejumlah hal yang (masih) harus dinegosiasikan untuk beralih dari fase satu ke fase dua,” katanya.

    Biden melanjutkan bahwa selama negosiasi (perdamaian) terus berlanjut dan gencatan senjata akan tetap berlaku bahkan jika pembicaraan berlarut-larut hingga melewati masa enam minggu awal. Dia berjanji bahwa mediator dari Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar akan terus bekerja sampai semua kesepakatan tercapai.

    Tahap kedua akan melihat pembebasan semua sandera yang masih ditahan oleh Hamas, termasuk tentara pria Israel.

    Baca Juga: Solidaritas untuk Rakyat Palestina di Festival Film Cannes ke-77

    Pasukan Israel akan mundur dari Gaza, dan selama Hamas menepati komitmennya, kata Biden, Israel telah setuju untuk menghentikan permusuhan “secara permanen.”

    Pada tahap ketiga dan terakhir, “rencana rekonstruksi besar untuk Gaza akan dimulai, dan jenazah para sandera yang terbunuh akan dikembalikan ke keluarga mereka,” katanya.

    Presiden Biden juga menuliskan tiga fase rencana perdamaian di Gaza itu dalam kiriman di akun X Gedung Putih.

    “Rakyat Israel harus tahu bahwa mereka dapat mengajukan tawaran ini tanpa ada risiko lebih lanjut terhadap keamanan mereka, karena mereka (pasukan Israel) telah menghancurkan pasukan Hamas selama delapan bulan terakhir,” kata presiden.

    Negosiasi untuk menghentikan pertempuran telah menemui jalan buntu selama berminggu-minggu, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan.

    Baca Juga: Pemimpin Oposisi Israel Desak Netanyahu Akui Palestina dengan Kondisi Tertentu

    Pada Kamis (30/5/2024), perwakilan Hamas mengatakan telah memberi tahu para mediator bahwa mereka “siap untuk mencapai kesepakatan komprehensif” yang mencakup kesepakatan pertukaran sandera dan tahanan penuh jika Israel menghentikan perangnya di Gaza.

    “Hamas dan faksi-faksi Palestina tidak akan menerima untuk menjadi bagian dari kebijakan ini dengan melanjutkan negosiasi [gencatan senjata] mengingat agresi, pengepungan, kelaparan, dan genosida terhadap rakyat kami,” bunyi pernyataan Hamas.

    “Hari ini, kami memberi tahu para mediator tentang posisi kami yang jelas bahwa jika pendudukan menghentikan perang dan agresinya terhadap rakyat kami di Gaza, kesiapan kami [adalah] untuk mencapai kesepakatan lengkap yang mencakup kesepakatan pertukaran yang komprehensif,” tambah pernyataan itu.

    Biden pada Jumat mendesak Hamas agar menerima kesepakatan tersebut. “Kita tidak boleh kehilangan momen (untuk mencapai kesepakatan) ini,” tandasnya.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Kelompok Hamas Sambut Baik Proposal Gencatan Senjata yang Diajukan Dewan Keamanan PBB

    Kelompok Hamas Sambut Baik Proposal Gencatan Senjata yang Diajukan Dewan Keamanan PBB

    7cloud.asia – Dewan Keamanan PBB pada Senin (10/6/2024) mendukung proposal gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza yang sebelumnya dipaparkan Presiden AS Joe Biden.

    VOA Indonesia melansir Reuters, menyebut Dewan Keamanan PBB mendesak kelompok Hamas untuk menerima proposal gencatan senjata yang bertujuan untuk mengakhiri perang selama delapan bulan terakhir.

    Hamas menyambut baik penerapan resolusi yang disusun AS tersebut dan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan para mediator dalam menerapkan prinsip-prinsip rencana tersebut.

    Rusia abstain dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB, sementara 14 anggota DK PBB lainnya mendukung resolusi rencana gencatan senjata tiga tahap yang diuraikan Biden pada 31 Mei lalu.

    Rencana gencatan senjata ini oleh Biden disebut sebagai inisiatif Israel.

    Baca: Jemaah haji dari seluruh dunia berdoa untuk Gaza

    “Hari ini kita memilih perdamaian,” kata Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield di hadapan dewan setelah pemungutan suara.

    Isi resolusi Dewan Keamanan PBB menyambut baik proposal gencatan senjata yang baru, menyatakan bahwa Israel telah setuju.

    Dan menyerukan kepada Hamas untuk juga menyepakatinya dan “mendesak kedua pihak untuk sepenuhnya melaksanakan semua ketentuan tanpa penundaan dan tanpa syarat.”

    Aljazair, satu-satunya anggota dewan dari jazirah Arab, mendukung resolusi tersebut karena “kami percaya ini selangkah lebih dekat menuju gencatan senjata segera dan permanen,” ungkap Duta Besar Aljazair untuk PBB Amar Bendjama kepada dewan.

    “Ini memberi secercah harapan kepada warga Palestina,” ungkapnya. “Ini saatnya untuk menghentikan pembantaian.”

     

    Baca: Operasi bebaskan 4 sandera, militer Israel tewaskan lebih dari 200 warga Palestina

    Resolusi itu juga merinci proposal yang diajukan dan menyebutkan bahwa “apabila negosiasi memakan waktu lebih lama dari enam pekan untuk fase pertama, maka gencatan senjata akan diteruskan selama negosiasi berlanjut.”

    Thomas-Greenfield mengatakan bahwa hasil pemungutan suara itu menunjukkan kepada Hamas bahwa komunitas internasional bersatu.

    Dia mengatakan, dunia bersatu dalam sebuah kesepakatan yang akan menyelamatkan banyak nyawa dan membantu warga sipil Palestina di Gaza untuk memulai proses pembangunan kembali dan pemulihan.

    ”Bersatu dalam sebuah kesepakatan yang akan mempersatukan kembali para sandera dengan keluarga mereka setelah delapan bulan disandera,” ujarnya.

    Maret lalu, DK PBB menuntut gencatan senjata segera dan pembebasan tanpa syarat seluruh sandera yang disekap Hamas.

    Baca: AS ingatkan Israel agar tak biarkan otoritas Palestina tumbang

    Selama berbulan-bulan, para perunding dari AS, Mesir dan Qatar telah berusaha memediasi gencatan senjata.

    Hamas menginginkan diakhirinya perang di Jalur Gaza secara permanen dan penarikan diri Israel dari wilayah kantong yang menjadi tempat tinggal 2,3 juta orang itu.

    Israel melancarkan serangan balasan terhadap Hamas, yang menguasai Gaza, atas serangan 7 Oktober yang dilakukan kelompok militan itu.

    Lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 lainnya diculik Hamas pada serangan 7 Oktober, menurut data Israel. Lebih dari 100 orang sandera diyakini masih ditahan di Gaza.

    Israel meluncurkan serangan udara, darat dan laut ke wilayah Palestina itu dan menewaskan lebih dari 37.000 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan Gaza.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Kantor HAM PBB: Israel dan Hamas Mungkin Lakukan Kejahatan Perang dalam Insiden Nuseirat di Gaza

    Kantor HAM PBB: Israel dan Hamas Mungkin Lakukan Kejahatan Perang dalam Insiden Nuseirat di Gaza

    7cloud.asia – Kantor komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia (HAM) menuduh Israel dan Hamas sama-sama melakukan tindakan yang “mungkin merupakan kejahatan perang”.

    Pernyataan ini diungkapkan Kantor HAM PBB terkait operasi militer Israel untuk membebaskan empat sandera di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza, yang menewaskan lebih dari 200 warga Palestina pada Sabtu (8/6/2024) lalu.

    “Kami sangat terkejut akan dampak operasi pasukan Israel terhadap warga sipil,” kata Jeremy Laurence, juru bicara komisaris tinggi HAM PBB, Selasa (11/6/2024).

    Baca: Operasi Israel bebaskan 4 sandera tewaskan lebih dari 200 warga Palestina

    Ia menambahkan bahwa ratusan warga Palestina, “banyak dari mereka adalah warga sipil, dilaporkan tewas dan terluka.”

    Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, 274 warga Palestina tewas dan 698 terluka di Kamp Pengungsi An Nuseirat dalam serangan Israel itu.

    “Kantor kami juga sangat sedih karena kelompok bersenjata Palestina terus menyandera banyak orang, kebanyakan dari mereka adalah warga sipil. Ini dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional,” kata Laurence.

    Ia menambahkan, “Semua tindakan yang dilakukan kedua pihak mungkin merupakan kejahatan perang.”

    Baca: AS peringatkan Israel jika biarkan otoritas Palestina runtuh

    Militer Israel menanggapi kritik terhadap operasinya dengan mengatakan bahwa mereka telah menyerang “ancaman terhadap pasukan kami di wilayah itu”

    Militer Israel juga menyebut, seorang perwira pasukan khusus tewas dalam operasi tersebut.

    Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, tanpa tedeng aling menegur para pengecam dengan mengunggah pernyataan bahwa “hanya musuh-musuh Israel yang mengeluhkan jatuhnya korban teroris Hamas dan kaki tangan mereka.”

    Sekitar 120 sandera Israel dilaporkan masih ditahan Hamas di Gaza, dan 43 orang dinyatakan tewas.

    Baca: PM Israel kecilkan prospek gencatan senjata di Gaza

    Total, 116 dari sekitar 250 sandera yang diculik Hamas dalam serangan terhadap Israel pada 7 Oktober, telah dibebaskan.

    Menanggapi “gambar-gambar kematian dan kehancuran yang mengerikan” pasca operasi militer Israel, kepala kemanusiaan PBB Martin Griffiths menggambarkan kamp Pengungsi Nuseirat sebagai “pusat trauma seismik yang terus diderita warga sipil di Gaza.”

    “Melihat mayat-mayat bergelimpangan, kita diingatkan bahwa tidak ada tempat yang aman di Gaza,” ujar Griffiths dalam sebuah unggahan di media sosial.

    Pasca serangan Israel pada 8 Juni, Organisasi Kesehatan Dunia melakukan misi penilaian ke Rumah Sakit Al Aqsa di Gaza Tengah.

    Misi itu mendapati 270 petugas kesehatan memberikan perawatan kepada sekitar 700 pasien. Sebelum perang, Al Aqsa melayani sekitar 150 pasien rawat inap setiap hari.

    Sumber:VOAIndonesia

  • AS Upayakan “Jalur Maju” untuk Mencapai Gencatan Senjata Gaza

    AS Upayakan “Jalur Maju” untuk Mencapai Gencatan Senjata Gaza

    7cloud.asia – AS terus berusaha “menciptakan sebuah jalur maju” untuk mencapai gencatan senjata dalam perang di Gaza, setelah Hamas menanggapi proposal multitahap dengan sejumlah perubahan.

    Penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, mengatakan kepada reporter pada Kamis (13/6/2024) bahwa beberapa perubahan yang diminta Hamas terkait syarat gencatan senjata, bersifat “sederhana dan kecil” dan bisa dirundingkan.

    Tetapi sejumlah poin lainnya “tidak konsisten” dengan parameter-parameter yang dirinci oleh Presiden Biden atau yang didukung oleh Dewan Keamanan PBB.

    Sullivan mengingatkan bahwa karena sifat perundingan itu, yang melibatkan pembicaraan tidak langsung dengan pejabat Mesir dan Qatar, butuh waktu untuk mencapai kemajuan.

    “Kami akan bekerja dengan Qatar dan Mesir. Qatar dan Mesir akan bekerja dengan Hamas. Qatar, Mesir dan AS akan bekerja dengan Israel. Sasarannya adalah untuk menyelesaikan ini secepat mungkin,” kata Sullivan.

    Baca: Perang membuat warga Palestina tak bisa rayakan Kurban

    Pejabat AS mengatakan proposal gencatan senjata saat ini adalah proposal Israel, dan Sullivan mengatakan pihak Israel “mendukung sepenuhnya” proposal itu.

    Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, pada Kamis (13/6/2024), menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mendesak Israel agar menyepakati gencatan senjata di Gaza.

    Dewan Keamanan pada awal minggu ini telah mendukung proposal yang diajukan AS.
    Dalam KTT G7 di Italia, Biden mengatakan Hamas “sebagai tantangan utama sejauh ini” dalam upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza dan pertukaran tahanan.

    “Saya telah membeberkan sebuah pendekatan yang telah didukung oleh Dewan Keamanan PBB, G7, Israel, dan tantangan utama sejauh ini adalah Hamas menolak untuk menandatangani walaupun mereka telah mengajukan [proposal] yang [isinya] serupa,” ujar Biden kepada para wartawan.

    Baca: Doa jamaah haji dari seluruh dunia untuk warga Palestina

    Gerald Feierstein, direktur program Hubungan Semenanjung Arab di Middle East Institute, mengatakan negosiasi gencatan senjata antara Hamas dan Israel berjalan cukup membingungkan.

    “Muncul pernyataan dari pemerintah Israel yang tampaknya menimbulkan keraguan terakit apa yang Israel percaya tentang hal-hal yang mereka sepakati,” ujarnya.

    “Hamas juga telah mengatakan apa yang mereka terima secara tertulis tidak konsisten dengan apa yang mereka pahami dari pernyataan yang disampaikan secara verbal.“

    “Jadi, tampaknya terdapat kebingungan besar dalam proses negosiasi itu. Dan belum diketahui siapa penyebabnya.” pungkasnya.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Unjukrasa Besar-besaran Tandai 9 Bulan Perang Israel-Hamas

    Unjukrasa Besar-besaran Tandai 9 Bulan Perang Israel-Hamas

    7cloud.asia – Hari Minggu (7/7/202) tepat sembilan bulan berlangsungnya perang Israel-Hamas, dan ribuan demonstran di berbagai kota di Israel memperingatinya dengan turun ke jalan.

    Selain menyerukan gencatan senjata, para demonstran juga mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera mengundurkan diri.

    “Day of Disruption” – demikian nama gerakan unjuk rasa warga Israel yang dilakukan pada hari Minggu (7/7/2024) yang dimulai tepat pukul 6.29 pagi waktu setempat.

    Waktu ini tepat ketika kelompok militan Hamas meluncurkan roket-roket pertama ke bagian selatan Israel, menewaskan 1.200 orang dan menculik sekitar 250 sandera.

    Para demonstran memblokir jalan-jalan utama dan berunjukrasa di luar rumah-rumah anggota parlemen Israel.

    Di dekat perbatasan dengan Gaza, demonstran Israel ini melepaskan 1.500 balon berwarna hitam dan kuning yang melambangkan mereka yang tewas dan diculik.

    Baca: Israel lancarkan serangan mematikan ke Khan Younis

    Hannah Golan mengatakan ia ikut berdemonstrasi karena “pengabaian terhadap komunitas kami oleh pemerintah kami, yang sangat menghancurkan.”

    Ia menambahkan, “Hari ini sudah sembilan bulan berlalu, dan tetap saja tidak ada seorang pun dalam pemerintahan kami yang bertanggung jawab.”

    Netanyahu telah sejak awal mengatakan diskusi soal kegagalan keamanan luar biasa di negara ini baru dapat dilakukan setelah pertempuran berakhir.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, mengatakan hingga hari Minggu ini sedikitnya 38.000 warga Palestina di wilayah itu tegas dalam serangkaian serangan balasan Israel lewat darat dan udara ke Gaza.

    Israel mengatakan Hamas masih menyandera 116 orang, termasuk 42 jasad.

    Sementara itu pertempuran terus berlanjut. Sedikitnya sembilan warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel.

    Baca: Anak-anak di Gaza habiskan waktu berjam-jam untuk dapatkan makanan

    Media Hamas dan Layanan Sipil Darurat CES mengatakan serangan ke sekolah yang dikelola gereja di bagian barat Gaza, yang menjadi tempat berlindung keluarga Muslim dan Kristen itu juga menewaskan Ehab Al Ghussein, Wakil Menteri Urusan Tenaga Kerja yang ditunjuk Hamas, dan tiga orang lainnya.

    Militer Israel mengatakan sedang mengkaji laporan itu. Sebelumnya istri dan anak-anak Ghussein juga tewas dalam serangan udara Israel bulan Mei lalu.

    Israel-Hamas diperkirakan akan segera mencapai gencatan senjata yang sulit dipahami.

    Hal ini setelah Hamas membatalkan tuntutannya agar kesepakatan apa pun mencakup penghentian perang secara menyeluruh, meskipun kedua belah pihak mengatakan bahwa masih ada kesenjangan yang signifikan.

    Perundingan untuk mengakhiri pertempuran itu telah menemui jalan buntu selama berminggu-minggu.

    Tetapi dua pejabat Hamas pada hari Minggu mengatakan kelompok itu menunggu tanggapan dari Israel tentang proposal yang baru, lima hari setelah mereka menerima beberapa point utama proposal yang diajukan Amerika untuk mengakhiri perang itu.

    Sumber: VOA Indonesia

  • JK Bahas Kondisi Terkini Palestina bersama Pemimpin Hamas

    JK Bahas Kondisi Terkini Palestina bersama Pemimpin Hamas

    7cloud.asia – Mantan Wakil RI Jusuf Kalla (JK) melakukan pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Hamas, Ismail Haniye pada Jumat (12/7/2024) sore.

    Pertemuan JK dengan pemimpin tertinggi kelompok Hamas itu berlangsung di Doha, Qatar dan membahas kondisi terkini Palestina.

    “Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut, keduanya mendiskusikan secara serius bagaimana perang dan kekerasan di Jalur Gaza segera diakhiri demi kemanusiaan,” demikian dikutip Antaranews.com.

    Dalam keterangan tertulis tim media JK yang diterima di Jakarta, Sabtu (13/7/2024) disebutkan, dalam pertemuan itu, JK disambut hangat dan berbincang akrab bersama Haniye.

    Baca: AS jatuhkan sanksi pada kelompok ekstrem kanan Israel 

    JK yang juga Ketua Umum DMI dan PMI menyampaikan harapannya kepada Ismail Haniye untuk segera melakukan rekonsiliasi dengan kelompok Fatah agar mereka bersatu.

    Sejumlah tokoh turut mendampingi JK dalam pertemuan antara lain Duta Besar RI untuk Qatar Ridwan Hassan, serta mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin.

    Sebelumnya pada 6 Mei 2024, Hamid menjelaskan bahwa Hamas meminta JK untuk memediasi upaya mengakhiri konflik di Palestina.

    Baca: Perjuangan anak-anak Gaza agar tak kelaparan

    Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, perang antara Israel-Hamas sejak 7 Oktober 2023 hingga 8 Juli 2024 telah menewaskan 38.193 orang rakyat Palaestina.

    Sementara itu, sebanyak 87.903 warga Palestina mengalami cedera akibat serangan Israel ke Gaza.

    Agresi militer Israel ke Gaza juga mengakibatkan 80 persen wilayah Gaza hancur, dan jutaan warganya kehilangan tempat tinggal.

    Sumber:Antaranews.com

  • Israel-Hamas Lanjutkan Perundingan Gencatan Senjata di Doha, Qatar

    Israel-Hamas Lanjutkan Perundingan Gencatan Senjata di Doha, Qatar

    7cloud.asia – Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa delegasi Israel akan mengunjungi Doha, Qatar pada Kamis (25/7/2024) untuk melanjutkan perundingan gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran sandera-tahanan.

    Pernyataan ini dilansir setelah perdana menteri Netanyahu pada Minggu (21/7/2024)menggelar pembahasan yang panjang bersama anggota tim negosiasi dan pejabat keamanan senior terkait sandera Israel yang ditahan di Jalur Gaza.

    Delegasi tersebut, yang dipimpin oleh David Barnea selaku kepala badan rahasia Israel Mossad, dijadwalkan akan tiba di Doha pada Kamis.

    Tim ini akan melakukan perundingan tidak langsung dengan Hamas, yang saat ini memimpin Palestina dengan ditengahi oleh Qatar dan Mesir serta didukung oleh Amerika Serikat.

    Baca Juga: PBB: Kebijakan Israel di Tepi Barat Hancurkan Prospek Solusi Dua Negara

    Perundingan putaran terbaru Israel-Hamas tersebut telah ditunda selama sekitar sepekan usai Hamas membatalkan perundingan itu.

    Sikap Hamas ini merupakan bentuk protes atas serangan Israel terhadap Khan Younis pada 13 Juli, yang menewaskan sedikitnya 90 warga Palestina.

    Sejauh ini, beberapa putaran perundingan sebelumnya di Qatar telah gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lebih dari sembilan bulan di Gaza.

    Baca Juga: Unjukrasa Besar-besaran Tandai 9 Bulan Perang Israel-Hamas

    Tanda-tanda perang Israel-Hamas akan segera usai belum terlihat, karena kedua pihak saling menyalahkan satu sama lain atas kebuntuan tersebut.

    Sebelumnya, Mahkamah Internasional telah menjatuhkan vonis bahwa agresi militer Israel di Gaza telah melanggar hukum internasional.

    Namun, Israel seolah mengabaikan keputusan ini dan terus melancarkan serangan ke Gaza, Palestina

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Hamas dan Fatah Bersatu, Sepakati Deklarasi di Beijing

    Hamas dan Fatah Bersatu, Sepakati Deklarasi di Beijing

    7cloud.asia – Faksi-faksi yang bersaing di Palestina, Fatah dan Hamas, menandatangani deklarasi di Beijing, China pada Selasa (23/7/2024).

    Pimpinan Fatah dan Hamas mengumumkan bahwa keduanya akan mengakhiri perselisihan selama bertahun-tahun dan bersatu untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional.

    “Perwakilan senior dari 14 faksi Palestina mengadakan pembicaraan rekonsiliasi di Beijing dari 21 hingga 23 Juli,” kata Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri China.

    “Faksi-faksi Palestina itu menandatangani deklarasi Beijing untuk mengakhiri perpecahan dan memperkuat persatuan nasional Palestina.”

    Baca: Perundingan gencatan senjata Israel-Hamas akan dilanjutkan besok

     

    Fatah dan Hamas merupakan kelompok berpengaruh di Palestina. Keduanya telah berselisih selama puluhan tahun mengenai sikap masing-masing terhadap Israel.

    Fatah mendominasi Otoritas Palestina, yang memerintah sebagian Tepi Barat dan telah menandatangani perjanjian perdamaian sementara dengan Israel.

    Sedangkan kelompok Hamas menolak untuk secara resmi mengakui negara Yahudi tersebut, dan memilih mengangkat senjata melawan Israel.

    Dalam 17 tahun terakhir, Mesir dan negara-negara Arab lainnya berupaya mendamaikan Hamas dan Fatah. Masih harus dilihat apakah kesepakatan yang dicapai di Beijing ini akan mampu bertahan di lapangan.

    Baca: Kebijakan Israel di Tepi Barat ancam solusi dua negara

    Kedua pihak terpecah ketika pejuang Hamas mengusir pasukan Fatah keluar dari Gaza pada 2007 dan menguasai wilayah pesisir tersebut.

    Di Washington, para pejabat AS mengatakan belum meninjau perjanjian tersebut.

    Juru bicara Deplu AS Matthew Miller, Selasa (23/7/2024) menegaskan bahwa AS telah menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris dan bahwa AS tidak melihat peran Hamas dalam pemerintahan Gaza pascaperang.

    Pembicaraan di Beijing itu untuk membuat kemungkinan peta jalan bagi Gaza pascaperang begitu gencatan senjata tercapai antara Israel dan Hamas, untuk mengakhiri konflik lebih dari sembilan bulan di Gaza.

    Sumber: VOA.Indonesia