Tag: pangan

  • BRIN Galang Kolaborasi Internasional untuk Lindungi Produksi Pisang Dunia

    BRIN Galang Kolaborasi Internasional untuk Lindungi Produksi Pisang Dunia

    7cloud.asia – Pisang merupakan salah satu komoditas pangan utama dunia dan menjadi makanan pokok bagi jutaan penduduk, termasuk Indonesia, dan khususnya di beberapa negara Afrika. Di mana, pisang berperan penting dalam ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat pedesaan.

    Namun, produksi pisang sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit, yang dapat berdampak serius terhadap gizi, pendapatan petani, dan stabilitas sosial.

    Hal ini terungkap dalam pertemuan tahunan kedua Program Riset Pemuliaan Pisang, bertajuk “Collection, Characterization and Pre-breeding Wild Bananas” di Cibinong, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

    Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ratih Asmana Ningrum, mengatakan, ancaman terbesar terhadap produksi pisang antara lain penyakit layu Panama yang disebabkan jamur tular tanah Fusarium oxysporum f. sp. cubense.

    Selain itu ada juga penyakit Banana Bunchy Top (BBTV) yang disebabkan virus Banana bunchy top yang disebarkan oleh serangga.

    Patogen tular tanah Fusarium ini sangat sulit dikendalikan dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Sehingga, metode pengendalian konvensional tidak lagi memadai. Sedangkan penyebaran virus oleh serangga juga sukar dikendalikan.

     

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi produksi pisang dunia

    “Oleh karena itu, pemuliaan varietas pisang yang tahan hama dan penyakit menjadi solusi paling berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ratih seperti dilansir brin.go.id

    Pemuliaan pisang menghadapi tantangan biologis yang unik karena sebagian besar pisang konsumsi bersifat steril dan poliploid.

    Kondisi ini membatasi metode pemuliaan konvensional dan menuntut pendekatan inovatif yang menggabungkan bioteknologi dengan pemanfaatan sumber daya genetik pisang liar.

    “Dan kita, di Indonesia, diberkahi keragaman pisang liar yang sangat tinggi. Pisang liar tersebut diduga menjadi nenek moyang dari pisang budi daya,” ujarnya.

    Karena itu, lanjut Ratih, inti dari proyek ini adalah mengoleksi pisang liar. Kemudian mempelajari sifat-sifat ketahananan dan sifat-sifat lain yang penting untuk budi daya pisang.

    Baca: BRIN dorong pemuliaan pisang liar sebagai pilar ketahanan pangan

    “Selanjutnya, menggunakan plasma nutfah pisang liar yang telah diketahui sifat-sifatnya untuk membentuk genotipe unggul tahan Fusarium dan BBTV, selain sebagai dasar pengembangan varietas unggul lain dengan sifat target lainnya,” urai Ratih.

    Genotipe-genotipe unggul yang menjadi salah satu output dari proyek ini akan menjadi induk persilangan dalam merekayasa varietas pisang yang sesuai kebutuhan.

    Genotipe unggul ini akan dapat dimanfaatkan oleh partner dalam kerja sama ini, seperti International Institute for Tropical Agriculture (IITA) yang mengelola penyebaran ke petani dan breeder di Afrika, serta oleh BRIN bersama kementerian terkait akan disebarkan juga ke negara Asia Tenggara.

    “Dalam penelitian tersebut, digunakan berbagai teknik dari konvensional seperti penyerbukan, juga teknik-teknik modern seperti hibridisasi somatik, gene editing, juga teknik-teknik analisis modern genomik-genotyping, phenotyping, transkriptomik, metabolomik, dan intregrasi teknik tersebut,” jelasnya.

    Kegiatan riset ini dipimpin oleh BRIN yang berperan aktif melalui para periset ahli di bidang teknologi omics dan pemuliaan pisang.

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    BRIN berkomitmen penuh dengan menyediakan berbagai dukungan melalui pendanaan, fasilitas laboratorium, dan lahan, serta skema mobilitas periset melalui pembiayaan periset tamu dan beasiswa pascasarjana.

    Riset ini juga didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) – Kementerian Keuangan  dan lembaga donor internasional Gates Foundation yang memiliki misi kemanusiaan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil di Afrika Timur, Asia, dan wilayah rentan lainnya.

    Kolaborasi ini melibatkan berbagai institusi akademik dan riset terkemuka, antara lain University of Queensland (Australia), Wageningen University Research (The Netherlands), Meise Botanic Gardens and the Alliance of Bioversity International & CIAT (Belgium), Institute of Experimental Botany (Czech Republic), IITA – Afrika, dan mitra pendukung lain.

    Di dalam negeri, IPB University dan Universitas Padjdjaran menjadi mitra kolaborasi utama. Kolaborasi juga melibatkan industri/swasta untuk membentuk jejaring akademia, industri, dan pemerintah, sehingga menjadi platform untuk inovasi ilmiah dan solusi pertanian yang aplikatif.

    Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan program ini menjadi model bagaimana kemitraan global dapat mengatasi masalah global.

    “Di tingkat nasional, kami bangga memiliki BRIN sebagai mitra inti dalam proyek ini. BRIN menyatukan para peneliti dengan keahlian luas dalam biologi, genetika, dan pemuliaan pisang, serta pengetahuan mendalam tentang keanekaragaman pisang liar Indonesia,” kata Arif.

    Baca: Petani Kaltim sukses ekspor pisang ke Singapura

    Ia menambahkan, Indonesia diakui sebagai salah satu pusat asal dan keanekaragaman pisang.

    “Spesies pisang liar kita – total 16 subspesies – mewakili cadangan genetik yang tak ternilai harganya yang dapat memberikan sifat resistensi dan potensi adaptasi untuk program pemuliaan di masa depan. Sumber daya genetik ini adalah fondasi dari upaya ilmiah kita,” tambahnya.

    Pertemuan Tahunan kedua ini juga meresmikan Banana Innovation, Network, Database (BIND) Center sebagai pusat kolaborasi global dalam riset dan pengembangan pisang.

    Inovasi melalui ekplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar serta kolaborasi dalam jejaring global diharapkan menghasilkan luaran yang terintegrasi dalam sebuah database (INA-BAN) agar menjadi dasar kebijakan pemuliaan pisang lebih lanjut, sehingga dapat memberikan dampak nyata.

    Program ini tidak hanya berfokus pada kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlindungan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani kecil di berbagai belahan dunia.

  • Sajikan Pangan Lokal di Meja Makan Demi Kelestarian Lingkungan

    Sajikan Pangan Lokal di Meja Makan Demi Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Manager Program Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI, Puji Sumedi mengatakan, dari perspektif sistem pangan, pangan bukan sekadar komoditas, melainkan sebuah ekosistem dari hulu hingga hilir.

    Menurutnya, pilihan konsumsi pangan juga berdampak pada lingkungan. Kecenderungan mengonsumsi pangan yang didatangkan dari luar daerah atau bahkan dari luar negeri turut menambah emisi karbon.

    Karena itu dia mengajak masyarakat untuk mulai beralih ke pangan lokal atau bahkan menanam sendiri pangan yang dibutuhkan.

    “Makanlah apa yang kita tanam, dan tanamlah apa yang kita makan,” ajaknya saat berbicara dalam pengajian Ramadan bertema “Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal” pada Senin (16/2/2026).

    Baca: Mengubah pola makan efektif menahan laju krisis iklim

    Dia menambahkan, ketika memilih pangan lokal, kita tidak hanya mengurangi emisi dari distribusi jarak jauh, tetapi juga berpihak pada produsen lokal serta menjaga keberlanjutan budaya pangan.

    Dalam kesempatan itu, Puji juga menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat pada bahan pangan impor seperti terigu, yang tidak tumbuh di Indonesia. Ketergantungan ini berdampak pada emisi karbon sekaligus beban ekonomi nasional.

    Karena itu, sekali lagi dia mengajak peserta yang hadir untuk menjadikan puasa Ramadan sebagai gerakan bersama beralih ke pangan lokal

    Dalam kesempatan yang sama, Syahrul Ramadhan, Circle Manager GreenFaith Indonesia, memperkenalkan inisiatif Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal.

    Gerakan ini akan dimulai melalui kampanye di lima masjid percontohan di Kota Makassar, Lamongan, Kota Ternate, Denpasar, dan Medan, yaitu melalui kultum Ramadan berbasis dalil keagamaan tentang pangan, serta penyediaan takjil berbasis pangan lokal yang minim sampah.

    Baca: Orang Kaya harus mengerem emisinya agar warga miskin terpenuhi hak dasarnya

    Praktik baik ini akan didorong untuk direplikasi di komunitas lain, termasuk jaringan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

    “Ramadan adalah momentum untuk mengembalikan pangan lokal ke meja makan umat. Gerakan ini dimulai dari langkah kecil—dari dapur kita sendiri,” kata Syahrul.

    Syahrul kemudian membagikan Modul Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal kepada peserta, yang dilengkapi dengan resep olahan bahan pangan lokal selama Ramadan.

    Sebagai penutup, Najihus Salam selaku moderator dari DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menegaskan bahwa diversifikasi pangan lokal bukan sekadar pilihan konsumsi, tetapi juga bentuk tanggung jawab ekologis.

    Kegiatan ini diharapkan dapat menjadikan puasa Ramadan bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga momentum untuk memperbaiki pola konsumsi agar lebih sehat, adil, dan berpihak pada lingkungan.

    Baca: Kedaulatan pangan masyarakat adat Sunda Wiwitan

  • Lonjakan Harga Cabai dan Daging Ayam Sumbang Inflasi Sebesar 0,53 Persen pada Februari 2026

    Lonjakan Harga Cabai dan Daging Ayam Sumbang Inflasi Sebesar 0,53 Persen pada Februari 2026

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Februari 2026 tercatat sebesar 0,68 persen. Adapun, secara tahun kalender, inflasi kalender sebesar 0,53 persen.

    Dalam konferensi pers yang digelar Senin (2/3/2026), disebutkan inflasi bulan Februari ini didorong oleh lonjakan harga pangan terutama harga cabai dan ayam di momen Ramadan.

    “Tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada Februari 2026 sebesar 0,68 persen sedangkan tingkat inflasi year to date (y-to-d) pada Februari 2026 sebesar 0,53 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono.

    Dari catatan BPS, sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi dan 5 mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Selatan 1,04 persen, sedangkan deflasi terendah Papua Barat 0,65 persen.

    Ateng menuturkan penyumbang inflasi bulanan a.l. makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 1,54 persen, andil inflasi makanan ini mencapai 0,45 persen.

    Baca: Harga cabai rawit merah melambung

    Adapun komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau, yakni daging ayam ras 0,09 persen, cabe rawit 0,08 persen, ikan segar andil 0,05 persen dan cabai merah 0,04 persen.

    Sedangkan harga tomat, beras, dan telur ayam ras masing-masing menyumbang 0,02 persen.

    Selain pangan, komoditas lain yang turut menyumbang inflasi adalah emas perhiasan dengan andil cukup besar yakni 0,19 persen. Tarif angkutan udara juga memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.

    Di sisi lain, masih terdapat komoditas yang menahan laju kenaikan harga. Bensin tercatat memberikan andil deflasi sebesar 0,005 persen pada Februari 2026.

    Data ini menunjukkan tekanan harga pada Februari terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan, khususnya protein hewani dan komoditas hortikultura, di tengah dinamika harga komoditas lainnya.

  • Komisi IV DPR Soroti Anomali: Stok Melimpah dan Catat Rekor Tertinggi Tetapi Harga Beras Jauh Lampaui HET

    Komisi IV DPR Soroti Anomali: Stok Melimpah dan Catat Rekor Tertinggi Tetapi Harga Beras Jauh Lampaui HET

    7cloud.asia – Laporan dari Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), stok beras nasional saat ini tercatat yang tertinggi dalam sejarah. Namun, di lapangan harga beras masih di atas harga eceran tertinggi (HET).

    Saat ini harga beras kualitas bawah I di harga Rp 14.550 per kg, beras kualitas bawah II Rp 14.550 per kg. Sedangkan beras kualitas medium I Rp 16.050 per kg dan beras kualitas medium II di harga Rp 15.950 per kg

    Padahal HET beras medium terbaru mulai 22 Agustus 2025 (Keputusan Kepala Bapanas No. 299/2025) menjadi Rp13.500 – Rp15.500 per kg,

    Kondisi ini menjadi sorotan Komisi IV DPR saat melakukan peninjauan langsung ke Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (23/4/2026).

    Kunjungan ini untuk memastikan kesiapan ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global dan ancaman fenomena “Godzilla” El Nino yang diprediksi melanda tahun ini.

    ​Wakil Ketua Komisi IV DPR Panggah Susanto mengungkapkan bahwa posisi stok pangan nasional saat ini berada di angka 5.198.000 ton, meningkat signifikan dari angka sebelumnya sebesar 4,7 juta ton.

    Baca: Fenomena Godzilla El Nino Mengancam Produksi Pangan

    Dilansir Parlementaria, Panggah memberikan catatan penting mengenai kondisi harga di pasar.

    ​”Stok sangat mencukupi, bahkan tertinggi sepanjang sejarah. Tapi dalam diskusi tadi muncul fakta bahwa harga beras di pasar masih di atas HET (Harga Eceran Tertinggi). Kami meminta kalkulasi tepat agar stok yang aman ini berbanding lurus dengan harga pasar yang terkendali,” ujar Panggah.

    ​Ia menekankan perlunya keseimbangan angka agar stok yang tinggi bisa efektif meredam gejolak harga, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan, baik petani maupun konsumen.

    ​​Selain stabilitas harga, Komisi IV juga menyoroti infrastruktur pergudangan Bulog. Panggah mencatat adanya kendala pada program pembangunan gudang baru, di mana anggaran investasi sebesar Rp5 triliun hanya mencakup pembangunan fisik tanpa pengadaan tanah.

    ​”Kalau lahan Pemda jauh dari pusat distribusi atau pasar, tentu akan membebani biaya logistik. Kami sedang memikirkan bagaimana pengamanan pengadaan tanah agar tidak ada spekulasi atau penyimpangan, sehingga distribusi pangan lebih efisien,” tambahnya.

    ​​Sebagai langkah konkret dukungan regulasi, Panggah menyebut Komisi IV DPR tengah mendorong percepatan Undang-Undang Pangan.

    Baca: Masyarakat Diimbau Bersiap Hadapi Kekeringan

    Mengingat banyaknya poin yang diubah (mencapai 33 poin), langkah ini bukan lagi sekadar perubahan, melainkan penggantian Undang-Undang.

    ​Beberapa poin utama dalam regulasi baru tersebut meliputi ​penguatan fungsi Bulog sebagai stabilisator stok dan harga, ​peningkatan keterlibatan pemerintah daerah (Provinsi/Kabupaten), dan program diversifikasi pangan nasional.

    Komisi IV mengingatkan, pentingnya mitigasi terhadap fenomena El Nino 2026. Berdasarkan data BMKG, ancaman kekeringan dapat mengganggu pola tanam dan menurunkan produksi pertanian.

    ​Sebagai salah satu lumbung pangan utama, Sulawesi Selatan diharapkan tetap konsisten menjadi penopang distribusi pangan nasional.

    Komisi IV meminta sinergi antara Bulog, Bapanas, dan PT Pupuk Indonesia untuk memastikan ketersediaan input pertanian seperti bibit unggul dan pupuk guna menjaga produktivitas di tengah cuaca ekstrem.

    ​Dalam kesempatan yang sama, ​Direktur Bisnis Bulog, Febby Novita menegaskan bahwa Bulog terus bergerak sesuai penugasan dari Bapanas, baik di sektor hulu maupun hilir.

    ​”Di hulu kami menjadi off-taker petani sesuai Inpres, dan di hilir kami melaksanakan penyaluran SPHP serta bantuan pangan. Dukungan pendanaan dan infrastruktur dari Komisi IV sangat penting agar kami bisa merealisasikan program kerja sesuai target,” jelas Febby.

  • Penyaluran Bantuan Pangan pada Februari dan Maret Terlambat, Komisi IV DPR Beri Tenggat 14 Hari ke Bapanas untuk Berikan Laporan

    Penyaluran Bantuan Pangan pada Februari dan Maret Terlambat, Komisi IV DPR Beri Tenggat 14 Hari ke Bapanas untuk Berikan Laporan

    7cloud.asia – Komisi IV DPR meminta Badan Pangan Nasional (Bapanas) segera menyerahkan laporan lengkap terkait keterlambatan distribusi bantuan beras dan minyak goreng yang terjadi pada Februari dan Maret tahun 2026.

    Permintaan itu menjadi salah satu poin penting dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR bersama Badan Pangan Nasional di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

    Rapat tersebut turut membahas hasil pemeriksaan BPK Tahun 2025, evaluasi pelaksanaan anggaran tahun 2025, serta progres pelaksanaan anggaran tahun 2026.

    Laporan Bapanas diminta disampaikan dalam waktu paling lama 14 hari kalender, setelah Rapat yang dihadiri jajaran Bapanas yang diwakili Sekretaris Utama Sarwo Edhy.

    Baca: Penugasan PT Agrinas Pangan Nusantara untuk Mengoperasikan Koperasi Merah Putih Menyimpan Bom Waktu

    Dalam kesempatan itu, Komisi IV DPR juga menyoroti rendahnya realisasi penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Tahun Anggaran 2026.

    Hingga saat ini, realisasi penyaluran CPP baru mencapai Rp859,101 miliar atau sekitar 3,94 persen dari total pagu anggaran sebesar Rp21,793 triliun.

    Wakil Ketua Komisi IV DPR Alex Indra Lukman menegaskan, Komisi IV meminta Bapanas segera mempercepat pelaksanaan program-program prioritas pangan nasional sekaligus menindaklanjuti berbagai rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

    Komisi IV DPR bersama Badan Pangan Nasional menyepakati agar dilakukan percepatan penyelesaian tindak lanjut rekomendasi BPK, akselerasi penyaluran CPP Tahun Anggaran 2026.

    Baca: Masalah Berlapis ‘Food Estate’, Mulai dari Panen Loyo hingga Diskriminasi Perempuan

    ”Komisi IV juga mendorong pelaksanaan kegiatan prioritas Badan Pangan Nasional seperti penyerapan gabah dan beras sebanyak 4 juta ton setara beras, penyaluran Beras SPHP, Gerakan Pangan Murah, hingga bantuan pangan beras dan minyak goreng,” ujar Alex.

    Lebih lanjut, ia juga menegaskan pentingnya laporan rinci terkait hambatan distribusi bantuan pangan agar permasalahan serupa tidak kembali terjadi di lapangan.

    “Komisi DPR juga meminta Badan Pangan Nasional menyampaikan secara periodik rincian tindak lanjut rekomendasi BPK, program pengendalian kenaikan harga pangan, serta penjelasan lengkap mengenai beras fortifikasi dalam waktu 14 hari kalender,” tegasnya.

    Komisi IV DPR RI berharap percepatan penyaluran bantuan pangan dan program CPP dapat menjaga stabilitas pasokan pangan nasional sekaligus memastikan bantuan diterima masyarakat tepat waktu.

  • Pemuda Adat Papua Tolak Percepatan Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Percepatan Program Cetak Sawah di Sorong

    7cloud.asia – Gelombang penolakan terhadap program percepatan cetak sawah yang direncanakan pemerintah di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, terus bergulir.

    Sejumlah pemuda adat, mahasiswa, aktivis, perempuan adat, dan elemen masyarakat yang tergabung dalam Pemuda Adat Papua Bersama Sagu melakukan aksi protes di tengah sosialisasi dan rapat koordinasi program cetak sawah Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Vega Prime Hotel & Convention, Kota Sorong, Selasa (2/6/2026).

    Aksi tersebut dilakukan ketika Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian serta Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian Kelas I Jayapura sedang melaksanakan sosialisasi terkait rencana program cetak sawah seluas sekitar 12.000 hektare di Kabupaten Sorong.

    Dalam aksi itu, massa membentangkan berbagai pesan penolakan, di antaranya bertuliskan “Stop Cetak Sawah”, “Ketahanan Pangan Bukan Hanya Padi”, “Sagu Itu Makanan Pokok”, “Sagu Itu Ketahanan Pangan Kami”, “Sagu Itu Masa Depan Kami”, “Sagu Adalah Identitas Kami”, “Tolak Program Cetak Sawah di Atas Tanah Adat”, dan “Padi Bukan Makanan Pokok Kami”.

    Koordinator aksi, Wespa P. Gombo, yang juga merupakan perwakilan Front Rakyat Domberai Tolak PSN dan Militerisme, menegaskan bahwa program percepatan cetak sawah mengancam ruang hidup masyarakat adat serta mengabaikan keberadaan pangan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

    Dalam keterangannya kepada media, Wespa mengatakan, lewat aksi ini pemuda adat mengajak seluruh masyarakat adat Papua untuk mengorganisir diri dan menolak program cetak sawah yang tidak menghormati pangan lokal yang telah lama ada di Tanah Papua sebelum beras diperkenalkan.

    “Program ini tidak transparan dan tidak melibatkan masyarakat pemilik hak ulayat yang menjadi sasaran program,” ujar Wespa.

    Baca: Film Dokumenter “Pesta Babi“, Tujuan SDGs dan Previlege Gen Z di Perkotaan

    Menurutnya, masyarakat adat harus bersikap tegas menolak program yang dinilai berpotensi merampas tanah adat dan mengancam keberlanjutan sumber pangan lokal masyarakat Papua.

    Selain menyampaikan penolakan terhadap program cetak sawah, massa aksi juga mengingatkan pemerintah daerah agar menerjemahkan program ketahanan pangan sesuai konteks Papua dengan mengutamakan penguatan pangan lokal yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat selama ratusan tahun.

    Senada dengan itu, Juru Kampanye Gerakan Malamoi, Ronal Timle, mengatakan program cetak sawah merupakan kebijakan yang berpotensi menghilangkan ruang hidup masyarakat adat.

    Ia menilai pemerintah tidak belajar dari berbagai program serupa yang dinilai gagal di sejumlah wilayah, termasuk di Merauke, Papua Selatan.

    “Sebagai generasi muda Suku Moi, kami sangat kecewa dengan ambisi pemerintah terkait program cetak sawah. Karena itu kami memilih melakukan aksi protes langsung dalam kegiatan sosialisasi ini. Kami terancam kehilangan sekitar 12.000 hektare tanah adat untuk program tersebut,” katanya.

    Menurut Ronal, ancaman yang dihadapi bukan hanya hilangnya tanah adat, tetapi juga potensi hilangnya sistem pangan lokal yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat adat.

    Ia menegaskan bahwa masyarakat Moi telah lama mengandalkan sagu, petatas, keladi, pisang, dan berbagai hasil kebun tradisional lainnya sebagai sumber pangan utama.

    Kami, ujarnya, dibesarkan dari sungai, hutan, petatas, keladi, pisang, dan sagu. Orang tua kami tidak mengenal sistem persawahan, tidak menanam padi, dan tidak memproses gabah menjadi beras.

    “Karena itu kami meminta pemerintah menghormati pengetahuan tradisional masyarakat adat Papua dan tidak memaksakan sistem pangan yang tidak sesuai dengan kondisi sosial dan budaya kami,” tegasnya.

    Baca: Anak Muda Papua Bertekad Merawat Hutan Adat

    Ronal menambahkan, ketahanan pangan di Papua tidak seharusnya dibangun dengan memaksakan beras sebagai satu-satunya sumber pangan utama.

    Menurutnya, sagu dan berbagai pangan lokal lainnya telah terbukti menopang kehidupan masyarakat Papua jauh sebelum hadirnya program-program pangan modern.

    “Kami mendesak pemerintah menghormati pengetahuan tradisional masyarakat adat dan mengedepankan pelestarian pangan lokal yang sudah ada di Tanah Papua. Cetak sawah bukan satu-satunya solusi ketahanan pangan. Kami masyarakat Papua sudah lama hidup bersama sagu dan pangan lokal lainnya,” ujarnya.

    Selain menolak program cetak sawah, massa aksi juga menyoroti keterlibatan TNI dalam program ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah di Papua Barat Daya.

    Menurut mereka, kehadiran institusi militer dalam proyek yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan wilayah adat menimbulkan kekhawatiran pekerjaan masyarakat sipil dikuasai di tengah masyarakat.

    Juru Kampanye Gerakan Malamoi menilai pendekatan yang digunakan pemerintah dalam menjalankan program cetak sawah lebih menonjolkan mobilisasi aparatur negara dibandingkan dialog yang bermakna dengan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat.

    “Kami mempertanyakan mengapa proyek yang menyangkut masa depan tanah adat dan pangan masyarakat justru melibatkan institusi militer secara begitu kuat. Ketahanan pangan seharusnya dibangun melalui penguatan petani dan masyarakat adat, bukan dengan pendekatan yang membuat warga merasa tertekan atau kehilangan ruang untuk menyampaikan penolakan,” ujar Ronal.

    Menurutnya, masyarakat adat membutuhkan perlindungan terhadap wilayah adat dan pengakuan atas sistem pangan lokal yang telah diwariskan turun-temurun, bukan proyek-proyek besar yang berpotensi mengubah bentang alam dan ruang hidup masyarakat.

    Massa aksi mendesak pemerintah pusat untuk mengevaluasi seluruh bentuk keterlibatan aparat keamanan dalam proyek cetak sawah di Papua Barat Daya serta memastikan bahwa setiap kebijakan yang menyangkut tanah adat dijalankan secara transparan, partisipatif, dan menghormati hak-hak masyarakat adat.