7cloud.asia – Kelompok Hamas dijadwalkan akan membebaskan tiga sandera yang akan ditukar dengan tahanan Palestina pada akhir pekan ini, setelah menyatakan komitmennya untuk gencatan senjata dengan Israel.
Pembebasan sandera berikutnya masih dipertanyakan, setelah Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata dan mengancam akan kembali berperang.
“Kami tidak tertarik dengan runtuhnnya perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dan kami sangat ingin agar perjanjian tersebut dilaksanakan dan memastikan bahwa pendudukan [Israel] mematuhinya sepenuhnya,” kata juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanoua.
Qanoua juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “bahasa ancaman dan intimidasi” dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dia mengatakan bahwa pernyataan Trump itu tidak membantu pelaksanaan gencatan senjata.
Baca: PBB tegaskan gencatan senjata di Gaza harus ditegakkan
Pemerintah Israel kemudian menegaskan kembali bahwa Hamas harus membebaskan tiga sandera akhir pekan ini.
“Jika ketiganya tidak dibebaskan, jika Hamas tidak mengembalikan sandera kami pada Sabtu (15/2/2025) siang, gencatan senjata akan berakhir,” kata juru bicara pemerintah Israel David Mencer.
Hamas awal minggu ini menuduh Israel melanggar kesepakatan dengan terus melancarkan serangan udara terhadap warga di Gaza dan memblokir bantuan.
Kelompok Hamas mengatakan bahwa pembebasan sandera di masa mendatang akan ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.
Netanyahu mengatakan pertempuran akan kembali terjadi jika lebih banyak tawanan tidak dibebaskan pada Sabtu, dan Trump mengatakan pada Senin (10/2/2025) bahwa “semua kekacauan akan terjadi” jika para sandera tidak dikembalikan.
Baca: Hamas ancam akan tunda pembebasan sandera
Sejak gencatan senjata mulai berlaku bulan lalu, Hamas, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, telah membebaskan 21 sandera, dan Israel telah membebaskan lebih dari 730 tahanan.
Pertukaran berikutnya pada Sabtu menyerukan pembebasan tiga warga Israel lagi dengan imbalan ratusan tahanan Palestina yang dipenjara oleh Israel.
Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada Oktober 2023 terhadap Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penangkapan 250 sandera.
Serangan balasan Israel menewaskan lebih dari 48.200 warga Palestina, lebih dari setengahnya adalah perempuan dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan setempat.
Israel mengatakan jumlah korban tewas termasuk 17.000 militan yang telah dibunuhnya. Baik Israel maupun Hamas telah divonis melakukan kejahatan perang oleh Mahkamah Internasional.









