Tag: gencatan senjata

  • Kelompok Hamas Dijadwalkan Bebaskan Tiga Sandera Hari Ini

    Kelompok Hamas Dijadwalkan Bebaskan Tiga Sandera Hari Ini

    7cloud.asia – Kelompok Hamas dijadwalkan akan membebaskan tiga sandera yang akan ditukar dengan tahanan Palestina pada akhir pekan ini, setelah menyatakan komitmennya untuk gencatan senjata dengan Israel.

    Pembebasan sandera berikutnya masih dipertanyakan, setelah Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata dan mengancam akan kembali berperang.

    “Kami tidak tertarik dengan runtuhnnya perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dan kami sangat ingin agar perjanjian tersebut dilaksanakan dan memastikan bahwa pendudukan [Israel] mematuhinya sepenuhnya,” kata juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanoua.

    Qanoua juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “bahasa ancaman dan intimidasi” dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

    Dia mengatakan bahwa pernyataan Trump itu tidak membantu pelaksanaan gencatan senjata.

    Baca: PBB tegaskan gencatan senjata di Gaza harus ditegakkan

    Pemerintah Israel kemudian menegaskan kembali bahwa Hamas harus membebaskan tiga sandera akhir pekan ini.

    “Jika ketiganya tidak dibebaskan, jika Hamas tidak mengembalikan sandera kami pada Sabtu (15/2/2025) siang, gencatan senjata akan berakhir,” kata juru bicara pemerintah Israel David Mencer.

    Hamas awal minggu ini menuduh Israel melanggar kesepakatan dengan terus melancarkan serangan udara terhadap warga di Gaza dan memblokir bantuan.

    Kelompok Hamas mengatakan bahwa pembebasan sandera di masa mendatang akan ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

    Netanyahu mengatakan pertempuran akan kembali terjadi jika lebih banyak tawanan tidak dibebaskan pada Sabtu, dan Trump mengatakan pada Senin (10/2/2025) bahwa “semua kekacauan akan terjadi” jika para sandera tidak dikembalikan.

    Baca: Hamas ancam akan tunda pembebasan sandera

    Sejak gencatan senjata mulai berlaku bulan lalu, Hamas, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, telah membebaskan 21 sandera, dan Israel telah membebaskan lebih dari 730 tahanan.

    Pertukaran berikutnya pada Sabtu menyerukan pembebasan tiga warga Israel lagi dengan imbalan ratusan tahanan Palestina yang dipenjara oleh Israel.

    Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada Oktober 2023 terhadap Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penangkapan 250 sandera.

    Serangan balasan Israel menewaskan lebih dari 48.200 warga Palestina, lebih dari setengahnya adalah perempuan dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Israel mengatakan jumlah korban tewas termasuk 17.000 militan yang telah dibunuhnya. Baik Israel maupun Hamas telah divonis melakukan kejahatan perang oleh Mahkamah Internasional.

  • Setelah Sempat Diragukan, Kelompok Hamas Akhirnya Kembali Bebaskan Tiga Sandera Israel

    Setelah Sempat Diragukan, Kelompok Hamas Akhirnya Kembali Bebaskan Tiga Sandera Israel

    7cloud.asia – Kelompok militan Hamas merilis nama tiga sandera yang dibebaskan Sabtu (15/2/2025) waktu setempat

    Pembebasan sandera oleh Hamas ini merupakan bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan Palestina, setelah menyatakan komitmennya terhadap gencatan senjata dengan Israel.

    Para sandera, sebagaimana dilaporkan oleh Hamas dan dikonfirmasi oleh otoritas Israel, termasuk warga negara Israel-Amerika Sagui Dekel Chen, (36), Sasha Troufanov (29) dan Iair Horn (46)

    Chen adalah warga Kibbutz Nir Oz di Israel selatan. Dia ditawan saat berhadapan dengan militan Hamas pada serangan teror 7 Oktober 2023 di Israel selatan.

    Dua bulan setelah penangkapannya, istrinya, Avital, melahirkan putri ketiga mereka.

    Baca: Hamas sempat akan menunda pembebasan sandera karena Israel langar kesepakatan gencatan senjata

    Sasha Troufanov, juga dari Kibbutz Nir Oz. Ia disandera pada Oktober 2023, bersama ibunya Elena, neneknya Irina Tati, dan pacarnya Sapir Cohen, yang semuanya dibebaskan dalam kesepakatan pembebasan sandera sebulan kemudian.

    Ayahnya, Vitaly, tewas dalam serangan Hamas. Keluarga tersebut beremigrasi ke Israel dari Rusia 25 tahun lalu.

    Sedangkan sandera ketiga, Horn adalah warga negara Israel Argentina, juga dari Kibbutz Nir Oz. Ia diculik pada 7 Oktober bersama saudaranya Eitan, yang tidak termasuk dalam pembebasan sandera kali ini.

    Pembebasan sandera Israel ini sempat diragukan, setelah Kelompok Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata dan mengancam akan kembali berperang.

    “Kami tidak tertarik dengan runtuhnya perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dan kami ingin agar perjanjian tersebut dilaksanakan dan memastikan bahwa pendudukan [Israel] mematuhinya sepenuhnya,” kata juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanoua.

    Baca: Menakar kemungkinan perpanjangan gencatan senjata di Gaza

    Qanoua juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “bahasa ancaman dan intimidasi” dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak membantu pelaksanaan gencatan senjata.

    Pemerintah Israel kemudian menegaskan kembali bahwa Hamas harus membebaskan tiga sandera akhir pekan ini.

    “Jika ketiga orang itu tidak dibebaskan, jika Hamas tidak mengembalikan sandera kami pada Sabtu siang, gencatan senjata akan berakhir,” kata juru bicara pemerintah Israel David Mencer.

    Hamas awal minggu ini menuduh Israel melanggar kesepakatan dengan melanjutkan serangan udara terhadap orang-orang di Gaza dan memblokir bantuan. Kelompok itu mengatakan akan menunda pembebasan sandera.

    Netanyahu mengatakan pertempuran akan berlanjut jika lebih banyak tawanan tidak dibebaskan pada Sabtu, sementara Trump mengatakan pada Senin bahwa “semua akan kacau” jika sandera tidak dikembalikan.

  • Israel dan Hamas Memulai Perundingan Gencatan Senjata Tahap II di Kairo

    Israel dan Hamas Memulai Perundingan Gencatan Senjata Tahap II di Kairo

    7cloud.asia – Layanan informasi pemerintah Mesir melaporkan bahwa pembicaraan mengenai gencatan senjata fase kedua antara Israel dan kelompok Hamas, telah dimulai di Kairo.

    Pembicaraan itu dimulai hanya satu hari sebelum fase pertama gencatan senjata atara Israel dan Hamas tersebut berakhir.

    Dalam sebuah pernyataan di situs webnya, layanan informasi tersebut mengatakan bahwa delegasi dari Israel dan Qatar tiba di Kairo pada Kamis (27/2/2025) malam.

    Dan mulai “diskusi intensif mengenai fase-fase selanjutnya dari perjanjian gencatan senjata.” Qatar, bersama dengan Amerika Serikat dan Mesir, memediasi pembicaraan tersebut.

    Baca: “No Other Land” Raih Film Dokumenter Terbaik di Piala Oscar 2025

    Ditambahkan dalam pernyataan tersebut, “Para mediator juga sedang mencari cara untuk meningkatkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi penderitaan sipil dan mendukung stabilitas regional.”

    Sebelum pembicaraan, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan kepada wartawan di Yerusalem bahwa delegasi Israel akan melihat apakah ada kesamaan untuk merundingkan perpanjangan gencatan senjata.

    Kantor berita Reuters, mengutip dua pejabat pemerintah, melaporkan bahwa Israel berusaha memperpanjang fase pertama gencatan senjata, tetapi langkah itu tidak didukung oleh Hamas.

    Tahap kedua dari pembicaraan ini dimaksudkan untuk merundingkan akhir perang, termasuk pengembalian semua sandera yang masih hidup di Gaza, dan penarikan semua pasukan Israel dari wilayah tersebut.

    Baca: Peluang terwujudnya dua negara Palestina dan Israel makin terancam

    Pembebasan sandera yang masih hidup akan terjadi pada fase ketiga. Israel telah mengatakan bahwa ada 59 sandera yang tersisa –24 di antaranya masih diyakini hidup.

    Tidak jelas apa yang akan terjadi setelah Sabtu (1/3/2025) jika fase pertama gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan.

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kepada wartawan pada Jumat (28/2/2025) bahwa kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan harus dipatuhi.

    “Setiap momen gencatan senjata bertahan berarti lebih banyak orang yang dijangkau dan lebih banyak nyawa yang diselamatkan,” kata Guterres kepada para wartawan.

    Dia menambahkan bahwa Selasa (4/3/2025) dia akan berada di Kairo untuk bergabung dengan KTT Luar Biasa Liga Arab untuk membahas rekonstruksi Gaza.

  • Enam Badan PBB Desak Kelanjutan Gencatan Senjata di Gaza

    Enam Badan PBB Desak Kelanjutan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Pimpinan dari enam badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (7/4/2025) merilis pernyataan bersama yang mendesak masyarakat internasional untuk segera mengambil langkah tegas guna melanjutkan gencatan senjata di Jalur Gaza.

    Selain gencatan senjata, enam badan PBB ini juga mendesak dunia internasional memastikan akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan melindungi nyawa warga sipil di Gaza

    Pernyataan itu ditandatangani oleh pimpinan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA), Dana Anak-Anak PBB (UNICEF).

    Juga Kantor PBB untuk Pelayanan Proyek (UN Office for Project Services/UNOPS), Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA), Program Pangan Dunia (WFP), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Pernyataan itu memperingatkan bahwa selama lebih dari satu bulan, tidak ada pasokan komersial maupun kemanusiaan yang memasuki Gaza, tempat lebih dari 2,1 juta orang terjebak di tengah pengeboman yang terus berlanjut dan krisis yang parah.

    Baca: Serangan Israel hancurkan 90 persen wilayah Rafah

    Sementara itu, bantuan krusial seperti makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan material pelindung terus menumpuk di perlintasan perbatasan dan tidak dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

    Mengutip laporan terbaru, sejumlah badan PBB mengatakan bahwa lebih dari 1.000 anak tewas atau terluka hanya dalam sepekan pertama setelah berakhirnya gencatan senjata, jumlah korban anak tertinggi dalam basis mingguan di Gaza dalam setahun terakhir.

    Mengutip laporan terbaru, badan-badan PBB tersebut mengatakan bahwa lebih dari 1.000 anak tewas atau terluka hanya dalam sepekan pertama setelah berakhirnya gencatan senjata, jumlah korban anak tertinggi dalam basis mingguan di Gaza dalam setahun terakhir.

    “Lindungi warga sipil. Fasilitasi bantuan. Bebaskan tawanan. Lanjutkan gencatan senjata,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

    Pernyataan itu juga menyoroti bahwa perintah evakuasi baru dari Israel menyebabkan ratusan ribu warga Palestina mengungsi, dengan banyak di antara mereka tidak memiliki tempat tujuan yang aman.

    Baca: Runtuhnya gencatan Ssenjata di Gaza picu gelombang pengungsian baru

    Sejak Oktober 2023, sedikitnya 408 pekerja kemanusiaan tewas dalam konflik tersebut, termasuk lebih dari 280 staf UNRWA.

    “Kita menyaksikan aksi perang di Gaza yang menunjukkan pengabaian terang-terangan terhadap nyawa manusia,” menurut pernyataan itu.

    Para kepala badan PBB itu mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengambil langkah tegas guna menegakkan prinsip-prinsip utama hukum kemanusiaan internasional.

    Sumber:Antaranews.com/Xinhua

  • 16.000 Lebih Anak Tewas di Jalur Gaza Sejak Agresi Israel

    16.000 Lebih Anak Tewas di Jalur Gaza Sejak Agresi Israel

    7cloud.asia – Lebih dari 16.000 anak tewas di Jalur Gaza sejak dimulainya serangan militer Israel pada 7 Oktober 2023, yang berarti satu anak tewas setiap 40 menit, demikian dilaporkan otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Senin (5/5/2025).

    Marwan al-Hams, direktur rumah sakit lapangan dari otoritas kesehatan Gaza, mengatakan korban tewas meliputi 16.278 anak, termasuk 908 bayi dan 311 bayi baru lahir yang meninggal pascakelahiran.

    Pernyataan itu disampaikan oleh Al-Hams dalam konferensi pers di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Gaza selatan.

    Ia menyoroti bahwa situasi kemanusiaan memburuk secara signifikan sejak Israel menutup perlintasan pada awal Maret lalu, menghambat layanan kesehatan penting.

    Baca: Puluhan anak di Jalur Gaza meninggal karena kurang gizi

    Hal ini menyebabkan ribuan anak dan ibu hamil tidak dapat mengakses perawatan medis, yang semakin memperburuk krisis.

    Ia juga menyebutkan bahwa ribuan anak tinggal di pusat-pusat pengungsian tanpa kebutuhan dasar, sementara ibu hamil menghadapi tantangan signifikan ketika ingin menjangkau rumah sakit.

    Sejumlah besar anak terpaksa hanya makan satu kali dalam sehari dengan menu yang tidak lengkap, dengan akses terbatas ke air minum bersih dan nutrisi yang layak, akibat tindakan Israel yang menyasar infrastruktur dan menutup akses bantuan, katanya.

    Baca: Israel blokir bantuan, kondisi anak-anak di Gaza memprihatinkan

    Israel menghentikan penyaluran barang dan pasokan ke Gaza pada 2 Maret, menyusul berakhirnya tahap pertama kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas pada Januari.

    Tahap kedua dari kesepakatan itu belum terwujud karena kedua belah pihak belum mencapai titik temu.

    Sementara itu, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, melaporkan sedikitnya 54 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel pada Senin, yang menyasar rumah, kendaraan, dan tempat berkumpulnya warga Palestina di berbagai wilayah di Gaza.

    Baca: Israel blokir vaksin polio, lebih dari 600 ribu anak terdampak

    Lebih dari 52.000 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak Oktober 2023, termasuk sekitar 2.500 orang yang tewas sejak Israel melanjutkan serangannya ke Gaza pada 18 Maret lalu, yang menandai berakhirnya gencatan senjata selama dua bulan.

    Ia juga menyebutkan bahwa ribuan anak tinggal di pusat-pusat pengungsian tanpa kebutuhan dasar, sementara ibu hamil menghadapi tantangan signifikan ketika ingin menjangkau rumah sakit.

    Lebih dari 52.000 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak Oktober 2023, termasuk sekitar 2.500 orang yang tewas sejak Israel melanjutkan serangannya ke Gaza pada 18 Maret lalu, yang menandai berakhirnya gencatan senjata selama dua bulan.

    sumber: Antaranews

  • Militer India dan Pakistan Bertemu untuk Rumuskan Poin Gencatan Senjata

    Militer India dan Pakistan Bertemu untuk Rumuskan Poin Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Direktur Jenderal Operasi Militer India, Letjen Rajiv Ghai, dan mitranya dari Pakistan, Mayjen Kashif Chaudhry, melakukan pembicaraan untuk membahas ketentuan perjanjian gencatan senjata.

    Menurut laporan stasiun TV News18 pada Senin (12/5/2025), pembicaraan itu dilakukan setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata pada Sabtu (10/5/2025), yang menghentikan semua operasi militer melalui darat, laut, dan udara.

    Mengutip sumber resmi yang mengetahui pembicaraan itu, News18 melaporkan bahwa Ghai dan Chaudhry membahas berbagai hal, termasuk pengamanan perbatasan dan garis kontrol (Line of Control) antara India dan Pakistan.

    Mereka juga membahas penggunaan pesawat nirawak (drone). Namun, isi pembicaraan yang lebih lengkap belum dipublikasikan.

    Dirjen Operasi Militer merupakan salah satu pejabat paling berpengaruh di Angkatan Darat (AD) India karena berada langsung di bawah Kepala Staf AD. Dia berperan penting dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi militer, baik di dalam maupun luar negeri.

    Ketegangan di antara India dan Pakistan meningkat setelah serangan bom bunuh diri di dekat Pahalgam, Jammu dan Kashmir, pada 22 April, yang menewaskan 25 warga India dan 1 warga Nepal.

    India mengaku memiliki bukti bahwa dinas intelijen Pakistan (ISI) berada di balik serangan itu, tetapi Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif membantah tuduhan tersebut.

    Menanggapi serangan itu, India lalu melancarkan serangan rudal ke wilayah Pakistan pada 7 Mei, dalam operasi yang diberi nama Operasi Sindoor.

    Kementerian Pertahanan India menyatakan serangan itu hanya menargetkan infrastruktur kelompok militan. Namun, Pakistan mengatakan bahwa lima permukiman diserang, yang menewaskan sedikitnya 31 orang.

    Hal ini memicu eskalasi militer dan serangan lintas batas di antara kedua negara. Pada Sabtu, kedua negara mengumumkan gencatan senjata yang mulai berlaku pukul 17.00 waktu setempat (18.30 WIB).

    Sumber: Antaranewscom/Sputnik-OANA

  • Gencatan Senjata di Myanmar Diperpanjang Hingga Akhir Juni Demi Pemulihan Pasca Gempa

    Gencatan Senjata di Myanmar Diperpanjang Hingga Akhir Juni Demi Pemulihan Pasca Gempa

    7cloud.asia – Militer Myanmar mengumumkan perpanjangan gencatan senjata hingga 30 Juni, menurut laporan TV Internasional Myanmar yang dikelola pemerintah pada Minggu (1/6/2025)

    Gencatan senjata yang berlaku mulai 1 Juni itu bertujuan untuk memfasilitasi upaya pemulihan dan pemukiman kembali warga setelah gempa bumi dahsyat baru-baru ini.

    Gencatan senjata tersebut juga sekaligus untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas nasional pasca gempa di Myanmar

    Baca: Sekjen PBB serukan mobilisasi bantuan untuk korban gempa Myanmar

    Gencatan senjata sebelumnya, yang berlaku dari 6-31 Mei, awalnya dideklarasikan untuk mendukung operasi penyelamatan dan bantuan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada 28 Maret lalu.

    Gempa Myanmar ini menewaskan sekitar 3.800 orang dan menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi.

    Saat menyampaikan pengumuman pada Sabtu (31/5/2025) militer Myanmar meminta organisasi etnis bersenjata dan kelompok militan lainnya untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengancam keselamatan publik atau stabilitas nasional.

    Baca: Masa berkabung nasional selama 7 hari untuk korban gempa Myanmar

    Militer juga mendesak mereka untuk tidak melakukan serangan terhadap rute transportasi, warga sipil, pasukan keamanan, dan pos militer, serta menahan diri untuk tidak melakukan perekrutan atau perluasan wilayah.

    Militer memperingatkan bahwa mereka akan melakukan aksi tanggap jika aktivitas semacam itu terjadi demi melindungi warga sipil.

    Myanmar masih didera oleh konflik yang sedang berlangsung, terutama di wilayah utara, di mana kelompok etnis bersenjata terus bentrok dengan rezim militer yang berkuasa melalui kudeta pada 2021.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Iran Akan Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata dan Peringatkan Israel Tidak Ingkar

    Iran Akan Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata dan Peringatkan Israel Tidak Ingkar

    7cloud.asia – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pernyataannya pada Selasa (24/6/2025) mengatakan Iran akan mematuhi gencatan senjata dengan Israel selama Israel tidak melanggar kesepakatan tersebut.

    Berbicara melalui panggilan telepon dengan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, Pezeshkian menyatakan Israel dan para pendukungnya telah berupaya mencari kekacauan di dalam negeri Iran.

    “Rakyat Iran, meskipun menghadapi kesulitan dan penderitaan, tetap bersatu dan teguh menghadapi pihak lawan,” kata Pezeshkian sebagaimana dikutip oleh pihak berwenang.

    Sebelumnya, Teheran juga menyatakan tidak akan menyerah dan akan melawan pihak-pihak yang secara tidak adil menyerang wilayahnya.

    Baca: Israel dilaporkan mulai kehabisan amunisi

    Pemimpin Iran itu mengatakan bahwa Amerika Serikat secara langsung berpartisipasi dalam perang Israel melawan Iran ketika Israel gagal mencapai tujuannya.

    Pezeshkian menuduh Amerika Serikat telah melanggar hukum internasional dengan menyerang fasilitas nuklir Iran.

    Dalam pernyataan itu, Pezeskhian menegaskan bahwa negaranya siap untuk mengejar dialog dan menuntut kembali hak-hak sah bangsa Iran melalui meja perundingan.

    Israel meluncurkan serangan udara ke beberapa lokasi di Iran sejak 13 Juni, termasuk fasilitas militer dan nuklir, dengan tuduhan Tehran hampir memproduksi bom nuklir — klaim yang dibantah dengan keras oleh Iran.

    Baca: Iran berhasil lumpuhkan pertahanan Israel

    Ketika Iran meluncurkan serangan belasan menggunakan rudal dan drone, Amerika Serikat kemudian ikut serta dalam konflik dengan mengebom tiga situs nuklir Iran pada Minggu (22/6/2025).

    Setelah 12 hari pertempuran kedua musuh bebuyutan di kawasan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran pada Senin (23/6/2025) malam waktu setempat untuk mengakhiri konflik.

    Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump tidak ingin melanjutkan serangan terhadap Iran dan berniat mengupayakan kesepakatan damai dengan Tehran setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

    Baca: AS tak akan melanjutkan serangan ke Iran

    Mengutip seorang pejabat Amerika Serikat, Axios pada Minggu (22/6/2025) melaporkan bahwa Trump menghubungi perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu sesaat setelah serangan.

    Trump dilaporkan memberitahu Netanyahu hasil serangan dan menyatakan bahwa tujuan berikutnya adalah mengejar kesepakatan damai dengan Iran.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Hamas Siap Bahas Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas Siap Bahas Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas menyatakan siap memulai pembicaraan “segera” mengenai usulan gencatan senjata di Gaza.

    Dalam pernyataan yang dilansir Kamis (3/7/2025) sekutu Hamas, Jihad Islam, mengatakan pihaknya mendukung rencana pembicaraan mengenai gencatan senjata dengan Israel di Gaza.

    Namun, juru bicara Hamas menuntut “jaminan” bahwa proses tersebut akan mengarah pada gencatan senjata permanen.

    Pernyataan itu diumumkan setelah sebelumnya Hamas mengadakan konsultasi dengan faksi-faksi Palestina lainnya.

    Baca: Gaza alami genosida terkejam dalam sejarah

    Pernyataan Hamas ini dirilis sebelum kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington pada Senin (7/7/2025), di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong diakhirinya perang di Gaza.

    Pada Juli 2025, perang di Gaza telah memasuki bulan ke-21. Israel kembali mengintensifkan serangan, setelah perjanjian gencatan senjata berakhir pada Maret 2025 lalu.

    Pada Kamis (3/7/2025) badan pertahanan sipil mengatakan serangan Israel yang sedang berlangsung menewaskan lebih dari 50 orang.

    Baca: Israel lakukan genosida dengan mencegah kelahiran warga Palestina

    Sumber medis di Gaza melaporkan bahwa serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 18 orang di seluruh wilayah kantong yang terkepung itu sejak Jumat (4/7/2025) tengah malam (21GMT Jumat).

    Menurut Pusat Informasi Palestina dan Jaringan Berita Quds, perang Hamas-Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 57.268 orang dan melukai 135.625 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

    Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan 7 Oktober 2023, dan lebih dari 200 orang ditawan.

  • Hamas Siap Bebaskan 10 Sandera Demi Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas Siap Bebaskan 10 Sandera Demi Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Rabu (9/7/2025) malam menyatakan sepakat untuk membebaskan 10 warga Israel yang mereka sandera sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

    Hamas mengatakan, mereka akan terus berusaha memastikan putaran perundingan yang sedang berlangsung “mencapai kesepakatan komprehensif yang mengakhiri agresi” Israel terhadap rakyat Palestina.

    Dalam pernyataan itu, Hamas juga berjanji akan menjamin masuknya bantuan kemanusiaan dengan aman, dan “meringankan penderitaan yang kian parah di Jalur Gaza.”

    “Gerakan ini (Hamas) telah menunjukkan fleksibilitas yang diperlukan dan menyetujui pembebasan 10 tahanan,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Israel serang tenda pengungsian di Gaza

    Meski begitu, sejumlah isu krusial masih dibahas, termasuk aliran bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, dan jaminan konkret atas terciptanya gencatan senjata secara permanen.

    Namun, pernyataan Hamas itu belum ditanggapi oleh Israel.

    Sebelumnya, lembaga penyiaran publik Israel mengutip sumber anonim yang menyebut bahwa Israel menunjukkan “fleksibilitas signifikan” dalam beberapa jam terakhir, khususnya terkait penarikan pasukan dari poros Morag di Gaza selatan.

    Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya “semakin dekat” dengan kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang sering disebut sebagai wilayah kantong Palestina itu.

    Baca: Gaza alami genosida terkejam sepanjang sejarah

    Di sisi lain, mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot, mendesak sang pemimpin, Benjamin Netanyahu, untuk “menanggalkan sikap keras kepala”.

    Dia juga mendesak Netanyahu segera menyelesaikan kesepakatan demi pembebasan para sandera dan tercapainya gencatan senjata permanen, menurut laporan Channel 7 Israel.

    Pada Selasa (8/7/2025) malam, Trump bertemu Netanyahu untuk kedua kalinya dalam 24 jam terakhir di Gedung Putih, di mana mereka membahas upaya gencatan senjata dan pertukaran tawanan.

    Delegasi Hamas dan Israel masih melanjutkan perundingan di Doha, Qatar, untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan lebih dari 57.000 warga Palestina sejak Oktober 2023.

    Sumber: Antaraanews.com/Anadolu