Tag: gencatan senjata

  • Israel: Gencatan Senjata dengan Hamas Tidak Akan Terjadi

    Israel: Gencatan Senjata dengan Hamas Tidak Akan Terjadi

    7cloud.asia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, gencatan senjata dalam perang Gaza dengan Hamad “tidak akan terjadi,”.

    Netanyahu yang kembali memimpin Israel sejak Desember 2022 ini menilai, gencatan senjata sama saja dengan menyerah pada kelompok militan Hamas di Palestina.

    Netanyahu juga mengatakan dalam konferensi pers bahwa negara-negara lain harus memberikan lebih banyak bantuan dalam upayanya membebaskan lebih dari 230 warga Israel yang diculik Hamas dalam serangan 7 Oktober.

    Baca: Majelis Umum PBB setujui resolusi gencatan senjata Israel-Hamas

    Pemimpin Israel itu mengatakan bahwa komunitas internasional harus menuntut agar para sandera “dibebaskan sesegera mungkin, tanpa syarat.”

    Ia mengatakan, di antara para sandera adalah 33 anak dan Hamas “meneror mereka, tetap menawan mereka.”

    Tank-tank dan kendaraan militer Israel tampak bergerak di wilayah Jalur Gaza, terlihat dari Israel selatan, Minggu 29 Oktober 2023.

    Baca: Baik Israel dan Palestina kesulitan kuburkan jenazah korban perang

    “Seruan gencatan senjata adalah seruan agar Israel menyerah pada Hamas, menyerah pada terorisme, menyerah pada kebiadaban. Ini tidak akan terjadi,” ungkapnya Senin (30/10/20230

    Netanyahu bersumpah bahwa Israel akan “berjuang hingga pertempuran itu dimenangkan,”.

    Netanyahu mengatakan bahwa tentara Israel melakukan segala cara untuk “mencegah jatuhnya korban sipil” di Gaza, Palestina.

    Baca: Organisasi negara Islam diminta segera bersikap soal serangan ke Gaza

    Kementerian kesehatan di Gaza, yang dikuasai Hamas, mengatakan bahwa sedikitnya 8.306 orang – sebagian besarnya warga sipil – telah tewas dalam serangan Israel sejak perang pecah pada 7 Oktober.

    Hamas melancarkan serangan dadakan dan besar-besaran ke Israel selatan, yang menewaskan 1.400 orang, sebagian besarnya warga sipil.

    Sejumlah upaya telah dilakukan dunia agar perang di Gaza segera diakhiri, namun hingga hari ini tidak membuahkan hasil.

    Baca: Belasan jurnalis turut menjadi korban dalam perang Israel-Hamas

    Israel dan Hamas masih saling melancarkan serangan yang mengakibatkan korban dari masyarakat sipil berjatuhan. 

    Sumber: VOA Indonesia

  • Sebut Gaza Sudah Jadi Kuburan, Sekjen PBB Serukan Gencatan Senjata di Gaza

    Sebut Gaza Sudah Jadi Kuburan, Sekjen PBB Serukan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Sekretaris Jenderal atau Sekjen PBB Antonio Guterres pada hari Senin (6/11/2023) mendesak gencatan senjata kemanusiaan untuk Gaza.

    Dalam pernyataannya, Guterres menyebut Gaza telah menjadi “kuburan” bagi ratusan anak-anak Palestina setiap harinya, sehingga gencatan senjata sudah mendesak dilakukan.

    “Jalan ke depan sudah jelas,” katanya kepada para wartawan di PBB. “Gencatan senjata kemanusiaan di Gaza. Sekarang.”

    Dilansir VOA Indonesia, Guterres mengatakan bahwa semua pihak juga harus menghormati kewajiban mereka berdasarkan hukum kemanusiaan internasional.

    Baca: Netanyahu tegaskan tidak ada gencatan senjata, hingga sandera dibebaskan

    Ia juga menegaskan, tidak ada pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata yang berada di atasnya.

    “Ini berarti pembebasan tanpa syarat bagi para sandera di Gaza – sekarang juga,” katanya mengenai 240 laki-laki, perempuan dan anak-anak yang diculik Hamas dalam serangan teror tanggal 7 Oktober 2023 lalu di Israel.

    “Saya tidak akan pernah mengalah dalam mengupayakan pembebasan mereka dengan segera,” tambahnya.

    Lebih jauh Guterres mengatakan, pihaknya menghormati hukum humaniter internasional juga berarti melindungi warga sipil – termasuk tidak menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia – baik yang berada di rumah sakit, fasilitas PBB, tempat penampungan, maupun di sekolah-sekolah di Gaza.

    Baca: Majelis Umum PBB sepakati resolusi gencatan senjata di Palestina

    Ia juga menyerukan, meningkatkan bantuan dan bahan bakar ke wilayah yang terkepung tersebut.

    “Tak satu pun dari seruan ini yang boleh bergantung pada yang lain,” katanya.

    Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menegaskan bahwa tidak akan ada jeda kemanusiaan di Gaza kecuali semua sandera dibebaskan.

    Guterres mengatakan “mimpi buruk di Gaza” bukan hanya krisis kemanusiaan semata, tetapi “krisis umat manusia,” .

    Ia menambahkan, pihak-pihak yang berkonflik dan masyarakat internasional memiliki tanggung jawab fundamental untuk menghentikan penderitaan warga Gaza, Palestina ini.

    Baca: Korban terus berjatuhan, baik Israel dan Palestina kesulitan makamkan jenazah korban

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola oleh Hamas, hari Senin mengatakan sejak Israel memulai serangan balasan, jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 10.000 orang.

    Sementara jumlah warga Israel yang tewas dalam serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober lalu mencapai 1.400 orang.

    Hamas juga menculik 242 orang yang hingga kini masih ditahan di Gaza. VOA belum dapat memverfikasi angka-angka korban ini secara independen.

  • Kesepakatan Gencatan Senjata Tercapai, 14.100 Orang Tewas dalam 46 Hari Konflik Israel-Hamas

    Kesepakatan Gencatan Senjata Tercapai, 14.100 Orang Tewas dalam 46 Hari Konflik Israel-Hamas

    7cloud.asia – Sejumlah badan bantuan internasional dan pemimpin dunia menyambut baik gencatan senjata sementara antara Israel dan kelompok militan Hamas.

    Gencatan senjata antara Israel dan Hamas ini disertai pembebasan sandera yang ditahan kedua belah pihak, dan masuknya bantuan kemanusiaan di daerah-daerah yang paling membutuhkan. 

    Tak kurang dari Perdana Menteri India, Inggris, Turki dan Paus menyambut baik gencatan senjata antara Israel dan Hamas ini.

    Mereka berharap gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas ini bisa diperpanjang, untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban.   

    Kementerian Kesehatan Palestina dan Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), seperti dikutip Al Jazeera, mencatat setidaknya ada 14.100 korban tewas akibat perang antara Israel dan Hamas sejak 7 Oktober lalu.

    Baca: UE tegaskan pengakuan Palestina kunci perdamaian di Timur Tengah

    Korban tewas ini termasuk 5.300 anak-anak dan 3.550 wanita. Angka ini naik 800 jiwa dari hari sebelumnya.

    Korban luka-luka 33.000 orang, dengan sekitar 70% diantaranya adalah anak-anak dan perempuan. Setidaknya 6.800 warga dilaporkan hilang di Gaza.

    Selain menyampaikan harapan pembebasan seluruh sandera, Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell bersama Direktur Eksekutif UN Women Sima Sami Bahous menyoroti kematian lebih dari 5.300 anak Palestina dalam 46 hari ini.

    “Lebih dari 5.300 anak Palestina dilaporkan tewas dalam hanya 46 hari terakhir ini. Atau berarti lebih dari 115 orang setiap hari,” ujarnya

    Berdasarkan angka ini, tampak jelas bahwa 40 persen korban tewas di Gaza adalah anak-anak.

    Baca: Israel kekeuh kelola Gaza usai perang dengan Hamas

    Ini, lanjut Sima,  tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan kata lain, Jalur Gaza saat ini merupakan daerah paling berbahaya di dunia bagi anak-anak,” katanya.

    Paus Ajak Semua Berdoa

    Paus Fransiskus secara terpisah melakukan pertemuan dengan keluarga sandera di Gaza dan keluarga Palestina yang hidup di tengah kesengsaraan perang antara Israel dan Hamas ini.

    Dia memohon diakhirinya apa yang disebutnya sebagai terorisme, dan “hasrat untuk membunuh siapa pun.”

    “Tadi pagi saya menerima dua delegasi, satu dari Israel yang anggota keluarganya menjadi sandera di Gaza, dan lainnya dari Palestina yang anggota keluarganya ditahan di Israel. Mereka sama-sama sangat menderita,” ujar Paus.

    Baca: Gaza telah jadi kuburan bagi anak-anak

    Saya, lanjut Paus, mendengar penderitaan yang mereka rasakan. Perang yang mengakibatkan semua ini. Tetapi sekarang ini bukan perang lagi, ini terorisme. Mohon wujudkan perdamaian.

    Berdoalah bagi perdamaian. Banyak lah kita berdoa demi perdamaian. Semoga Tuhan membantu kita menyelesaikan masalah ini dan tidak ada lagi hasrat untuk membunuh siapa pun.

    “Mari berdoa bagi warga Palestina. Mari berdoa bagi warga Israel. Agar perdamaian dapat segera terwujud,” harapnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Berlaku, Israel Bebaskan 150 Perempuan dan Anak Palestina yang Ditahan

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Berlaku, Israel Bebaskan 150 Perempuan dan Anak Palestina yang Ditahan

    7cloud.asia – Gencatan senjata selama empat hari antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Jumat (24/11/2023 ) pukul 07.00 waktu setempat (pukul 12.00 WIB).

    Gencatan senjata tersebut diperkirakan akan diikuti pembebasan puluhan sandera yang ditawan Hamas dan 150 warga Palestina yang ditahan Israel.

    Gencatan itu mencakup gencatan senjata komprehensif di bagian utara dan selatan Gaza, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari kepada wartawan di Doha sebelumnya.

    Menurut kesepakatan, 50 perempuan dan anak-anak yang diculik dari Israel oleh Hamas pada 7 Oktober lalu akan dibebaskan sebagai pertukaran bagi 150 perempuan dan anak-anak Palestina yang dipenjarakan di Israel.

    Baca: Kesepakatan gencatan senjata dicapai, tercatat lebih dari 14.000 orang tewas dalam 46 perang Israel-Hamas

    Tiga belas sandera akan dibebaskan dari Gaza pada hari Jumat, dan kelompok sandera tambahan akan dibebaskan setiap hari selama gencatan senjata hingga total 50 orang bebas.

    “Kami semua berharap gencatan senjata ini akan mengarah pada kesempatan bagi dimulainya tugas yang lebih luas untuk mencapai gencatan permanen,” kata Al-Ansari.

    Para pakar soal penganiaya anak dari Institut Haruv Yerusalem telah mengembangkan pedoman mengenai bagaimana tentara Israel harus menangani anak-anak di bawah umur begitu mereka dibebaskan dari Gaza.

    Hal ini dilakukan atas permintaan pemerintah Israel. 

    Baca: Uni Eropa tegaskan pengakuan Palestina untuk perdamaian Timur Tengah

    Israel telah menerima daftar awal para sandera yang akan dibebaskan dari Gaza pada hari Jumat, kata kantor perdana menteri Israel, Kamis (23/11/2023).

    “Otoritas terkait sedang memeriksa detail daftar itu dan sekarang ini sedang berhubungan dengan seluruh keluarga,” kata kantor perdana menteri dalam sebuah pernyataan.

    Berdasarkan kesepakatan itu, Israel akan menghentikan untuk sementara serangan-serangannya terhadap Gaza selama empat hari.

    Selain itu, Hamas mengukuhkan di saluran perpesanan Telegram bahwa serangan-serangan dari pasukannya juga akan dihentikan untuk sementara.

    Baca: Israel bersikukuh kelola Gaza jika perang berakhir

    Israel mengatakan jeda pertempuran selama empat hari akan diperpanjang ekstra satu hari untuk setiap 10 sandera tambahan yang dibebaskan Hamas.

    Juru bicara Qatar mengatakan Doha berharap akan memperantarai kesepakatan lainnya untuk membebaskan lebih banyak sandera dari Gaza pada hari keempat gencatan senjata.

    Komite Palang Merah Internasional mengatakan akan membantu apapun pembebasan sandera.

    Ke-50 sandera itu semula diperkirakan akan dibebaskan pada hari Kamis (23/11/2023).

    Baca: Gaza berubah jadi kuburan saat berlangsungnya perang Israel-Hamas

    Penasihat keamanan nasional Israel, Tzachi Hanegbi, mengatakan dalam sebuah pernyataan Rabu malam bahwa perundingan masih terus berlangsung.

    Sandera-sandera awal yang ditawan Hamas di Gaza tidak akan dibebaskan setidaknya hingga Jumat (23/11/2023).

    Tidak satu pun identitas para sandera yang dibebaskan pada Jumat (24/11/2023) telah diungkapkan.

    Tapi para pejabat AS mengatakan mereka yakin beberapa dari sembilan orang Amerika yang diduga disandera Hamas akan termasuk yang dibebaskan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Dubes Palestina: Gencatan Senjata Tak Cukup Hentikan Konflik

    Dubes Palestina: Gencatan Senjata Tak Cukup Hentikan Konflik

    7cloud.asia – Gencatan senjata antara Hamas dan Israel selama empat hari ianggap tak cukup untuk menghentikan konflik Palestina dan Israel.

    Ikhwal gencatan senjata ini diungkapkan oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun.

    “Jadi mereka (Israel-Hamas) telah mencapai gencatan senjata sementara selama empat hari, sesuai kesepakatan untuk bertukar tahanan, namun ini tidak cukup,” ujarnya seperti yang dikutip Antaranews.

    Karena itu, ia berharap ada solusi nyata untuk menyelesaikan masalah dengan Israel. Menurutnya konflik akan selalu terjadi jika tidak ada solusi nyata diantara keduanya.

    Baca: Gencatan senjata israel hamas berlaku israel bebaskan 150 perempuan dan anak palestina yang ditahan

    Selanjutnya Zuhair menjelaskan salah satu hal yang penting adalah membantu mendirikan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

    Ia juga tidak kaget rencana Israel akan terus melanjutkan serangan ke Gaza setelah gencatan sementara berakhir.

    “Kami (Palestina) tidak terkejut dengan hal (serangan lanjutan) itu,” kata Dubes.

    Menurutnya agresi adalah mentalitas Israel. Jika tidak ada tekanan untuk mengendalikan situasi dan mengakui negara Palestina, maka Israel bebas melakukan apa pun yang mereka mau.

    Baca: Lebih 14.000 warga Palestina meninggal dalam 46 hari perang Israel-Hamas

    Kedubes Palestina mengadakan acara solidaritas Palestina yang dihadiri oleh para pelajar dan komunitas Palestina dan melakukan satu menit mengheningkan cipta untuk mengenang mereka yang telah meninggal dunia di Gaza.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya sebanyak 22 pelajar Palestina yang baru tiba di Jakarta dua minggu lalu.

    Mereka akan menerima beasiswa dari Kementerian Pertahanan Indonesia yang juga hadir dalam acara tersebut.

    Gencatan senjata selama empat hari antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Jumat (24/11/2023 ) pukul 07.00 waktu setempat (pukul 12.00 WIB).

    Baca: UE sebut pengakuan terhadap negara palestina kunci keamanan israel

    Gencatan senjata tersebut diperkirakan akan diikuti pembebasan puluhan sandera yang ditawan Hamas dan 150 warga Palestina yang ditahan Israel.

    Gencatan itu mencakup gencatan senjata komprehensif di bagian utara dan selatan Gaza, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari kepada wartawan di Doha sebelumnya.

    Menurut kesepakatan, 50 perempuan dan anak-anak yang diculik dari Israel oleh Hamas pada 7 Oktober lalu akan dibebaskan sebagai pertukaran bagi 150 perempuan dan anak-anak Palestina yang dipenjarakan di Israel.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Diperpanjang 2 Hari, UE Serukan Pengakuan Dua Negara

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Diperpanjang 2 Hari, UE Serukan Pengakuan Dua Negara

    7cloud.asia – Gencatan senjata antara Israel-Hamas akan diperpanjang dua hari, kata mediator Qatar pada hari Senin (27/11/2023).

    Kesepakatan ini diambil, seiring berakhirnya gencatan senjata empat-hari di Gaza yang disepakati sebelumnya.

    “Negara Qatar mengumumkan bahwa, sebagai bagian dari mediasi yang sedang berlangsung, telah tercapai sebuah kesepakatan untuk memperpanjang jeda kemanusiaan atau gencatan senjata selama dua hari di Jalur Gaza,” cuit Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari di X.

    Dilansir VOA Indonesia, Gedung Putih menyambut baik perpanjangan gencatan senjata antara Israel-Hamas tersebut.

    Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby berharap warga Amerika akan termasuk ke dalam 20 sandera yang rencananya akan dibebaskan dalam masa perpanjangan gencatan senjata ini.

    Baca: gencatan senjata Israel – Hamas mulai diberlakukan

    Saat ini, masih ada delapan hingga sembilan warga AS yang diyakini masih disandera.

    “Kami akan terus berupaya memperpanjang jeda itu lagi. Pasti, itu yang kami inginkan. Kami ingin membebaskan semua sandera dan ini adalah cara terbaik untuk melakukannya,” kata Kirby.

    Pada hari yang sama, pejabat senior Hamas Osama Hamdan mengatakan bahwa kelompoknya tengah menyusun daftar baru sandera yang akan dibebaskan “untuk memperpanjang gencatan senjata” dengan Israel.

    Sebelumnya, seorang sumber Hamas mengatakan bahwa kelompok itu terbuka pada gagasan memperpanjang gencatan senjata “dua hingga empat hari” dengan imbalan pembebasan “20 sampai 40 tahanan Israel” pada saat itu.

    Israel juga memberikan isyarat kesediaannya memperpanjang jeda pertempuran dan mengamankan lebih banyak pembebasan sandera, di tengah tekanan dari keluarga sandera dan negara-negara sekutunya.

    Baca: 14.100 warga Palestina tewas dalam 46 hari pertempuran Israel-Hamas

    Juru bicara pemerintah Israel, Eylon Levy, mengatakan kepada wartawan hari Senin bahwa mereka berharap “dapat menerima 50 sandera lagi selepas malam ini dalam upaya untuk membawa semua orang pulang.”

    Sementara itu, pada hari Senin di Kota Barcelona, Spanyol, para menteri luar negeri yang menghadiri pertemuan anggota Uni Eropa dengan negara-negara Timur Tengah dan Afrika, yang berfokus pada upaya diplomatik untuk menghentikan perang Israel-Hamas.

    Pertemuan ini menyerukan pembebasan lebih banyak sandera Israel ketika jeda pertempuran di Gaza hampir berakhir.

    Negara-negara itu juga sepakat bahwa solusi dua negara adalah jawaban dari konflik Israel-Palestina. Kepala urusan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mengatakan bahwa Otoritas Palestinalah yang sebaiknya memerintah Gaza.

    Solusi dua negara adalah gagasan berdirinya sebuah negara bagi bangsa Palestina di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, berdampingan dengan Israel.

    Baca: UE tegaskan pengakuan negara Palestina kunci perdamaian di Timur Tengah

    “Mereka (Otoritas Palestina) bisa dan perlu memperbaiki fungsinya dan harus ada pemilu sesegera mungkin.”

    Israel juga harus bekerja sama untuk mewujudkannya, tidak seperti yang mereka lakukan di Yerusalem Timur ketika mereka (penduduk Palestina) mencoba menggelar pemilu.

    Tentu saja kita perlu melakukan semua ini, tentu saja kita perlu memperkuat, melegitimasi dan mendukung Otoritas Nasional Palestina, dan tentu saja mereka tidak bisa melakukannya sendiri.

    “Mereka membutuhkan dukungan dari komunitas internasional dan itulah tujuan keberadaan PBB,” ujar Borrell.

    Borrell menambahkan, dukungan komunitas internasional krusial untuk menghindari terjadinya kekosongan kekuasaan di Gaza.

    Borrelli menilai kekosongan akan menjadi lahan subur bagi berkembangnya organisasi yang sarat kekerasan dan menimbulkan ancaman ketidakamanan.

    Baca: Palestina tolak sikap Israel yang ingin kelola Gaza pasca perang

    Dalam forum itu, Menlu Yordania Ayman Safadi menuduh Israel melakukan genosida dengan mengebom Gaza selama enam minggu terakhir.

    Ia juga mengatakan, pembahasan tentang masa depan bangsa Palestina harus berfokus pada Tepi Barat dan Gaza sebagai satu kesatuan.

    Otoritas Palestina, yang diwakili Menteri Luar Negeri Riad al-Maliki, mengatakan bahwa pemerintahannya tidak akan pernah meninggalkan Gaza.

    Ia mengatakan, mereka memiliki 60.000 pegawai publik yang melayani masyarakat Gaza. Sebagai informasi, Jalur Gaza saat ini diperintah oleh kelompok Hamas, salah satu faksi di wilayah Palestina.

    “Saya rasa sekarang, setelah perang mengerikan di Gaza dan kehancuran yang terjadi, akan ada peningkatan layanan yang dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.

    Otoritas Palestina harus merespons hal ini dengan menambah lebih banyak pegawai publik di Gaza. Tapi kami telah mengambil tanggung jawab dengan serius selama 17 tahun ini dan kami akan terus melakukan hal yang sama.

    Baca: Netanyahu syaratkan pembebasan sandera untuk gencatan senjata

    “Kami, tidak akan pernah berhenti bertanggung jawab dan memberikan layanan yang diperlukan, karena kami otoritas yang bertanggung jawab. Kami memberikan layanan di seluruh wilayah pendudukan Palestina, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat,” kata al-Maliki.

    Sejak berminggu-minggu sebelum dan selama berlangsungnya gencatan senjata sementara, Qatar, dengan dukungan AS dan Mesir, telah terlibat dalam proses negosiasi intensif untuk mewujudkan dan memperpanjang jeda pertempuran di Gaza.

    Para penengah mengatakan bahwa jeda tersebut memang dirancang agar dapat diperluas dan diperpanjang.

    Selama gencatan senjata pertama, sebanyak 50 sandera warga sipil – perempuan dan anak-anak – rencananya akan dibebaskan oleh Hamas.

    Sebagai imbalan, 150 tahanan Palestina yang dikurung Israel juga akan dibebaskan dan bantuan kemanusiaan akan diizinkan memasuki Gaza.

    Baca: Gaza telah menjadi kuburan

    Dalam tiga hari pertama, 39 sandera Israel dibebaskan Hamas dengan imbalan 117 tahanan Palestina yang dikurung Israel sebagai bagian dari kesepakatan.

    Sementara itu, melalui negosiasi lain yang secara paralel dilakukan oleh Qatar, sebanyak 17 warga Thailand, satu warga Filipina dan satu warga berkewarganegaraan ganda Rusia-Israel juga telah dibebaskan kelompok militan tersebut.

    Jumlah sandera yang akan dibebaskan sejauh ini merupakan yang terbanyak sejak militan Hamas melancarkan serangan ke Israel selatan secara mendadak pada 7 Oktober lalu dalam serangan paling mematikan dalam sejarah Israel.

    Israel mengatakan serangan itu menewaskan 1.200 orang, sebagian besarnya adalah warga sipil. Selain itu, sekitar 240 orang disandera, termasuk warga lansia dan anak-anak.

    Menanggapi hal itu, Israel melancarkan serangan bom tanpa henti dan serangan darat ke wilayah Gaza yang dikuasai Hamas.

    Pemerintahan Hamas menyatakan bahwa serangan Israel telah menewaskan 15.000 orang, ribuan di antaranya anak-anak.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir Hari Ini

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir Hari Ini

    7cloud.asia – Gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas memasuki hari keenam, pada Rabu (29/11/2023).

    Kedua belah pihak, baik Israel maupun Hamas diperkirakan akan membebaskan lebih banyak lagi sandera dan tahanan.

    Sementara para perunding mendorong diperpanjangnya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hama  tersebut.

    “Kami ingin jeda diperpanjang karena dampaknya, pertama-tama dan yang terpenting, adalah sandera dibebaskan, pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga mereka,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken hari Rabu.

    “Ini juga memungkinkan kita meningkatkan bantuan kemanusiaan untuk masyarakat di Gaza yang sangat membutuhkannya.”

    Blinken dijadwalkan meninjau ke kawasan tersebut untuk bertemu dengan para pejabat Israel dan Palestina guna membicarakan tentang kampanye militer Israel.

    Baca: Gencatan senjata antara Israel dan Hamas diperpanjang  

    Blinken juga mengupayakan perlindungan warga sipil di Gaza dan upaya mempercepat pengiriman bantuan kemanusiaan.

    Hamas mengisyaratkan akan memperpanjang gencatan senjata. Sementara Perdana Menteri israel, Netanyahu mengatakan pihaknya akan kembali melanjutkan serangan, jika gencatan senjata tak diperpanjang.

    Gencatan senjata awal Israel-Hamas menyerukan empat hari bagi Israel untuk menghentikan serangannya untuk melenyapkan kelompok Hamas.

    Sementara Hamas membebaskan 50 sandera yang ditawannya dalam serangan terhadap Israel bulan lalu.

    Israel membebaskan 150 tahanan Palestina. Gencatan senjata tersebut juga memungkinkan ditingkatkannya bantuan kemanusiaan yang mencapai Jalur Gaza yang porak poranda.

    Perpanjangan dua hari ditambahkan dengan ketentuan Hamas membebaskan 10 sandera lagi per hari dan Israel membebaskan tambahan tahanannya.

    Baca: Gencatan senjata Israel-Hamas mulai diberlakukan

    Militer Israel mengatakan 12 sandera yang ditawan di Gaza, 10 warga Israel dan dua warga negara asing, dibawa ke Israel Selasa (28/11/2023) malam dalam putaran pembebasan terakhir.

    Sebagai imbalannya, Israel membebaskan 30 tahanan Palestina, 15 perempuan dan 15 remaja lelaki dari penjara di Tepi Barat dan pusat penahanan di Yerusalem, kata Palestinian Prisoners Club, sebuah organisasi semiresmi.

    Hamas menyandera sekitar 240 orang dalam serangannya terhadap Israel Selatan pada 7 Oktober lalu yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

    Dalam serangan balasannya, Israel telah menewaskan lebih dari 15 ribu orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas.

    Gencatan senjata  ini memberi ketenangan pertama di Gaza setelah enam pekan bombardemen udara yang intensif dan serangan darat oleh Israel yang dipicu oleh serangan Hamas.

    Karena bombardemen Israel terhadap Jalur Gaza, PBB memperkirakan 1,8 juta dari 2,3 juta warga Gaza telah mengungsi dari rumah mereka, kebanyakan tinggal di tempat-tempat penampungan yang penuh sesak.

    Baca: Hampir 15.000 orang tewas selama 46 hari perang Israel-Hamas

    Shelter Network, sebuah konsorsium bantuan yang dipimpin PBB, mengemukakan dalam laporan hari Jumat bahwa lebih dari 60% perumahan Gaza telah rusak atau hancur.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (28/11) memperingatkan tentang risiko tinggi “ledakan wabah penyakit menular” di tengah-tengah kondisi penuh sesak dan terganggunya sistem kesehatan, air dan sanitasi di Gaza.

    Di kubu diplomatik, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan pertemuan hari Rabu yang berfokus pada konflik Israel-Hamas.

    Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken akan mengunjungi kawasan itu Rabu malam, menurut seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri.

    Blinken telah beberapa kali mengunjungi Israel dalam dua lawatan sebelumnya ke kawasan sejak perang Israel-Hamas dimulai.

    Dalam pertemuannya di Timur Tengah, Blinken “akan menekankan perlunya mempertahankan arus bantuan kemanusiaan yang ditingkatkan ke Gaza. memastikan pembebasan seluruh sandera, dan meningkatkan perlindungan terhadap warga sipil di Gaza,” 

    Baca: UE Tegaskan pengakuan Palestina kunci keamanan Israel

  • Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Sehari Lagi

    Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Sehari Lagi

    7cloud.asia – Israel dan Hamas mencapai kesepakatan untuk memperpanjang jeda gencatan senjata enam hari mereka hingga satu hari lagi.

    Kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata antara Israel dan Hamas ini dicapai menit-menit terakhir sebelum gencatan senjata berakhir pada Kamis (30/11/2023) 

    Kesepakatan gencatan senjata itu untuk memungkinkan para perunding terus berupaya mencapai kesepakatan untuk menukar sandera yang ditahan di Gaza dengan tahanan Palestina.

    Jeda atau gencatan senjata selama tujuh hari ini telah memungkinkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan untuk masuk ke Gaza.

    Baca: Gencatan senjata Israel-Hamas akan berakhir, bagaimana nasib pengungsi?

    Sebagian besar wilayah Gaza, yakni pesisir berpenduduk 2,3 juta jiwa menjadi reruntuhan akibat pemboman Israel sebagai respons terhadap serangan mematikan yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober lalu.

    “Mengingat upaya para mediator untuk melanjutkan proses pembebasan sandera dan tunduk pada ketentuan kerangka kerja, jeda operasional akan terus berlanjut,” kata militer Israel.

    Pernyataan itu dirilis beberapa menit sebelum gencatan senjata sementara berakhir pada Kamis pukul 05.00 GMT atau pukul 12.00 WIB.

    Hamas sudah membebaskan 16 sandera dengan imbalan 30 tahanan Palestina pada Rabu (29/11/2023), mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa gencatan senjata akan berlanjut hingga hari ketujuh.

    Baca: Israel dan Hamas sepakat untuk gencatan senjata

    Kondisi gencatan senjata, termasuk penghentian permusuhan dan masuknya bantuan kemanusiaan, akan tetap sama, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.

    Qatar telah menjadi mediator utama antara pihak-pihak yang bertikai, bersama dengan Mesir dan Amerika Serikat.

    Sementara itu, sekitar enam orang terluka dalam serangan penembakan di Yerusalem pada Kamis, kata petugas layanan ambulans Israel Magen David Adom.

    Pihak kepolisian mengatakan dua tersangka penyerang telah “dilumpuhkan di tempat”

    Baca: Hampir 15.000 warga Palestina tewas selama 46 hari konflik

    Sebelum tercapainya kesepakatan tersebut, baik Israel maupun Hamas mengatakan mereka bersiap untuk melanjutkan pertempuran karena negosiasi mengenai pembebasan sandera berikutnya menemui jalan buntu.

    “Beberapa waktu yang lalu, Israel diberikan daftar perempuan dan anak-anak sesuai dengan ketentuan perjanjian, dan oleh karena itu gencatan senjata akan terus berlanjut,” kata kantor perdana menteri Israel dalam sebuah pernyataan tepat ketika gencatan senjata akan berakhir.

    Hamas sebelumnya mengatakan Israel menolak menerima tujuh perempuan dan anak-anak lagi serta jenazah tiga sandera lainnya sebagai imbalan atas perpanjangan gencatan senjata tersebut.

    Hamas tidak menyebutkan nama anggotanya yang tewas namun mengatakan pada hari Rabu bahwa sebuah keluarga yang terdiri dari tiga sandera Israel, termasuk sandera termuda, Kfir Bibas yang berusia 10 bulan, tewas dalam pemboman Israel di daerah kantong tersebut.

    Baca: Uni Eropa tegaskan pengakuan terhadap Palestina jadi kunci keamanan Israel

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir, Israel kembali Serang Gaza dan Larang Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir, Israel kembali Serang Gaza dan Larang Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza

    7cloud.asia – Truk-truk bantuan kemanusiaan dan bahan bakar berhenti memasuki Jalur Gaza pada Jumat (1/12/2023) setelah berakhirnya gencatan senjata antara Israel-Hamas.

    Mengutip Anadolu, seorang sumber keamanan berkata bahwa Israel tidak mengizinkan ada truk yang memasuki Gaza, daerah kantong Palestina tersebut melalui perbatasan Rafah setelah gencatan senjata tujuh hari.

    Selama masa gencatan senjata itu, hanya sedikit bantuan dan bahan bakar yang masuk Gaza.

    Israel kembali melanjutkan serangan di Jalur Gaza setelah berakhirnya gencatan senjata sehingga menelan ratusan korban jiwa pada kalangan warga sipil Palestina.

    Paling sedikit 109 warga Palestina meninggal dan beberapa lainnya luka-luka ketika Israel kembali menyerang berbagai wilayah di Jalur Gaza setelah gencatan senjata berakhir, kata Kementerian Kesehatan di Gaza.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Sebelumnya, gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas berlaku pada 24 November.

    Dilansir VOA Indonesia, Israel telah mengatakan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa mereka tidak akan memperbarui visa koordinator residen dan kemanusiaan PBB di wilayah Palestina.

    Israel secara efektif akan mengusir koordinator kemanusiaanPBB di Palestina. 

    Hal ini terjadi di tengah ketegangan hubungan antara Israel dan badan dunia tersebut terkait perang di Gaza.

    Dalam surat tertanggal 12 November dan dilihat oleh VOA, Amir Weissbrod, wakil direktur jenderal kantor Kementerian Luar Negeri Israel yang menangani PBB dan organisasi internasional lainnya, menyatakan ketidaksenangan pemerintahnya terhadap seorang pejabat PBB, Lynn Hastings.

    “Dengan menyesal kami memberi tahu Anda bahwa Nona Hastings telah kehilangan kepercayaan dan keyakinan dari otoritas Israel dan tidak lagi dalam posisi untuk memenuhi tanggung jawabnya secara efektif dengan pejabat Israel terkait,” tulisnya.

    Baca: Dubes Palestina sebut hanya gencatan senjata takkan selesaikan masalah Palestina

    Dia mengatakan bahwa pemerintah Israel tidak akan memperbarui visa Hastings ketika masa berlakunya habis 20 Desember mendatang.

    Weissbrod mengutip apa yang disebutnya sebagai “sikap diam yang berkelanjutan” oleh Hastings mengenai tanggung jawab Hamas atas serangan teror 7 Oktober terhadap Israel.

    “Diamnya Hastings (atas serangan Hamas) ini menjadi lebih mencengangkan, dan sangat ofensif, mengingat sikap Hastings untuk secara teratur dan tidak bertanggung jawab mengarahkan kritik terhadap Israel,” katanya.

    Tiga hari setelah serangan Hamas itu, Hastings mengeluarkan pernyataan yang menyatakan, “Kelompok bersenjata Palestina menyusup ke Israel pada 7 Oktober, membunuh dan menangkap ratusan warga sipil Israel dan anggota pasukan Israel, sambil tanpa pandang bulu menembakkan ribuan roket ke Israel.”

    Pernyataan itu menambahkan: “Warga sipil (Israel) yang ditangkap harus segera dibebaskan dan tanpa syarat” dan “diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat.”

    Baca: Hampir 15.000 warga Palestina tewas dalam 46 hari perang Israel-Hamas

    Hastings berulang kali menyerukan peningkatan bantuan ke Gaza. Mulai 7 hingga 21 Oktober, Israel tidak mengizinkan bantuan kemanusiaan apa pun masuk ke wilayah yang dikuasai Hamas.

    Ketika program ini dimulai, dana tersebut terbatas dan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

    Dia juga mendesak Israel untuk membatalkan perintah evakuasi yang menyebabkan lebih dari 1 juta orang dari Gaza utara melarikan diri ke selatan.

    Hastings telah meminta kedua pihak yang berkonflik untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum humaniter internasional.

    “Saya hanya bisa – dan saya telah mengatakan ini sebelumnya – menegaskan kembali kepercayaan penuh Sekretaris Jenderal PBB terhadap Nona Hastings, cara dia berperilaku dan cara dia melakukan pekerjaannya,” kata juru bicara PBB Stephane Dujarric, Jumat (1/12/2023) sebagai tanggapan terhadap pertanyaan wartawan dan mengkonfirmasi keputusan Israel.

    Baca: Gencatan senjata mulai berlaku

    Dia mencatat bahwa Hastings telah menghadapi serangan publik, termasuk di media sosial.

    “Serangan pribadi dan langsung terhadap personel PBB di mana pun di seluruh dunia tidak dapat diterima dan membahayakan nyawa banyak orang,” kata Dujarric.

    Keputusan Israel diambil di tengah ketegangan hubungan antara Tel Aviv dan PBB.

    Para pejabat Israel selama bertahun-tahun menuduh organisasi tersebut bias terhadap Israel, dan bulan lalu, Duta Besar Gilad Erdan meminta Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk mengundurkan diri ketika ia mengatakan bahwa serangan Hamas (ke Israel) “tidak terjadi dalam ruang hampa.”

    Guterres menambahkan bahwa rakyat Palestina “telah menjadi sasaran pendudukan yang menyesakkan selama 56 tahun.”

    Erdan mengatakan pada hari itu bahwa Israel juga harus menilai kembali hubungannya dengan PBB.

    Baca: Uni Eropa desak Israel akui kemerdekaan Palestina

    Tuduhan Israel terhadap guru UNRWA

    Secara terpisah, badan PBB yang membantu warga Palestina, UNRWA, mengatakan Jumat (1/12/2023) bahwa pihaknya telah meminta informasi lebih lanjut kepada seorang jurnalis Israel mengenai apa yang dikatakannya sebagai “tuduhan yang sangat serius”.

    Tuduhan itu menyebut seorang guru UNRWA menahan salah satu warga Israel yang diculik pada 7 Oktober di ruangan loteng rumahnya selama 50 hari.

    Reporter saluran televisi Israel 13, Almog Boker, menulis di platform media sosial X pada Kamis (30/11/2023) bahwa tersangka penculik hampir tidak memberikan makanan atau perawatan medis kepada sandera.

    “UNRWA meminta jurnalis untuk segera memberikan klarifikasi atas klaim tersebut dan siapa pun yang mungkin dapat membantu kami dalam menentukan fakta, untuk melapor,” kata badan tersebut dalam sebuah pernyataan.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

    “Dengan tidak adanya informasi yang dapat dipercaya untuk mendukung klaim ini, UNRWA meminta jurnalis tersebut untuk segera menghapus postingan tersebut.”

    Postingan Boker diambil oleh beberapa media dan mendapat lebih dari 2.000 postingan ulang di X.

    “Membuat tuduhan serius di ranah publik, tanpa didukung oleh bukti atau fakta yang dapat diverifikasi, bisa dianggap sebagai misinformasi,” tandas UNRWA.

  • Warga di Gaza Hidup dalam Kengerian yang Mendalam, PBB Serukan Gencatan Senjata antara Israel-Hamas

    Warga di Gaza Hidup dalam Kengerian yang Mendalam, PBB Serukan Gencatan Senjata antara Israel-Hamas

    7cloud.asia – Perang antara Israel dan Hamas makin intens di Gaza Selatan, pasca berakhirnya gencatan senjata antara keduanya.

    Kepala urusan HAM PBB Volker Turk mengatakan, rakyat Palestina di Jalur Gaza hidup dalam “kengerian yang semakin dalam”, ketika ia menyerukan gencatan senjata mendesak antara Israel dan Hamas untuk mengakhiri penderitaan warga Gaza.

    Dilansir VOA Indonesia, Turk mengatakan bahwa Gaza dalam kondisi kemanusiaan yang “apokaliptik” seperti ini, terdapat risiko tinggi terjadinya kejahatan keji.

    “Warga sipil di Gaza terus menerus dibombardir oleh Israel dan dihukum secara kolektif menderita kematian, pengepungan, kehancuran dan perampasan kebutuhan paling penting manusia seperti makanan, air, pasokan medis yang menyelamatkan nyawa dan kebutuhan penting lainnya dalam skala besar,” ujarnya pada konferensi pers pada Rabu (6/12/2023).

    Baca : Israel intensifkan serangan ke Gaza Selatan

    “Warga Palestina di Gaza hidup dalam ketakutan yang mendalam.”

    Ia mengatakan 1,9 juta dari 2,2 juta orang yang tinggal di daerah kantong Palestina telah mengungsi dan terpaksa tinggal di “tempat-tempat yang jumlahnya semakin berkurang dan sangat padat di Gaza Selatan, dalam kondisi yang tidak bersih dan tidak sehat”.

    “Situasi bencana yang kita lihat terjadi di Jalur Gaza sepenuhnya dapat diperkirakan dan dicegah. Rekan-rekan saya dalam urusan kemanusiaan menggambarkan situasi ini sebagai sebuah bencana.”

    “Dalam keadaan seperti ini, terdapat peningkatan risiko kejahatan keji,” kata komisaris tinggi PBB untuk urusan HAM itu.

    “Sebagai langkah segera, saya menyerukan penghentian segera permusuhan dan pembebasan semua sandera.”

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Turk mengatakan krisis HAM di Tepi Barat yang diduduki juga “sangat mengkhawatirkan”,

    Dan ia menyerukan pihak berwenang Israel untuk segera mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri “impunitas yang meluas” atas berbagai pelanggaran.

    Israel menyatakan perang terhadap Hamas setelah serangan kelompok militan tersebut pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, menurut pihak berwenang Israel.

    Dalam serangan ini, Hamas juga menyandera sekitar 240 orang disandera ke Gaza. Sebagian dari sandera ini telah dibebaskan saat gencatan senjata beberapa waktu lalu.  

    Jumlah korban terbaru dari kantor media pemerintah yang dikelola Hamas mengatakan 16.248 orang di Gaza, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak, tewas.

    Baca: WHO sebut setiap 10 menit 1 anak meninggal di Gaza

    Israel telah berjanji untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan 138 sandera yang masih ditahan setelah banyak orang dibebaskan dalam gencatan senjata yang berumur pendek.

    “Semua pihak menyadari apa yang sebenarnya diperlukan untuk mencapai perdamaian dan keamanan bagi masyarakat Palestina dan Israel; kekerasan dan balas dendam hanya akan menghasilkan lebih banyak kebencian dan radikalisasi,” simpul Turk.

    “Satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan akumulatif ini adalah mengakhiri pendudukan dan mencapai solusi dua negara.”

    Sumber: VOA Indonesia