Tag: kemarau

  • Awal Musim Kemarau Mundur, Ini yang Harus Dilakukan

    Awal Musim Kemarau Mundur, Ini yang Harus Dilakukan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memastikan musim kemarau 2025 mundur dan hujan masih terjadi saat kemarau. Lalu apa yang harus dilakukan?

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan kondisi curah hujan yang tetap tinggi selama periode kemarau membawa dua sisi konsekuensi yang harus dipahami dan disikapi secara tepat.

    Di satu sisi, keberadaan hujan selama musim kemarau dapat menjadi berkah bagi para petani padi, karena pasokan air irigasi relatif tetap tersedia. Hal ini dapat mendukung kelangsungan masa tanam dan produksi pertanian.

    Baca: BMKG Pastikan Musim Kemarau 2025 Mundur

    Namun, di sisi lain, peningkatan curah hujan di musim kemarau juga menimbulkan risiko terhadap pertanian hortikultura, yang pada umumnya lebih sensitif terhadap kondisi kelembapan tinggi.

    Tanaman hortikultura seperti cabai, bawang, dan tomat sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit akibat kelembaban berlebih.

    “Kami mendorong petani hortikultura untuk mengantisipasi kondisi ini dengan menyiapkan sistem drainase yang baik dan perlindungan tanaman yang memadai,” jelas Dwikorita dalam rilisnya.

    Baca: Musim kemarau 2025 lebih pendek, mengapa?

    Selain itu, lanjut Dwikorita, berbagai pihak termasuk pemerintah daerah dan masyarakat dapat bekerjasama bersiaga dalam merespons dinamika iklim yang semakin tidak menentu.

    “Kita tidak bisa lagi berpaku pada pola iklim lama. Perubahan iklim global menyebabkan anomali-anomali yang harus kita waspadai dan adaptasi harus dilakukan secara cepat dan tepat,” urainya.

    Karena itu, Dwikorita berharap kebijakan dan strategi yang akan diambil di berbagai sektor, mulai dari pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga penanggulangan bencana harus berdasarkan informasi prediktif dan analisis dari BMKG.

     

  • BMKG Ingatkan Masyarakat untuk Mewaspadai Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau Hingga 18 Juli Mendatang

    BMKG Ingatkan Masyarakat untuk Mewaspadai Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau Hingga 18 Juli Mendatang

    7cloud.asia – Sebagian wilayah di Indonesia saat ini tengah memasuki musim kemarau. Namun, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah hingga 18 Juli mendatang. Masyarakat diimbau waspada.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati memprakirakan bahwa potensi cuaca ekstrem masih tinggi dalam periode 12–18 Juli 2025.

    “Hujan lebat berisiko terjadi di berbagai wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, dengan status siaga yang telah dikeluarkan,” kata Dwikorita dalam siaran pers pada Sabtu (12/07/2025).

    Selain itu, angin kencang berpotensi melanda wilayah barat hingga timur Indonesia termasuk Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

    Baca: Cuaca ekstrem picu banjir dan longsor di Sinjai

    Di lautan, kecepatan angin lebih dari 25 knot diprediksi akan memicu gelombang tinggi di beberapa perairan seperti Perairan Utara Aceh, Laut Cina Selatan, Laut Natuna Utara, Laut Jawa bagian timur, Laut Flores, Laut Arafuru, Laut Timor.

    Kondisi seperti ini juga berpotensi terjadi di Laut Banda, Laut Seram, Samudera Pasifik sebelah utara Maluku Utara, dan serta Samudera Hindia sebelah barat daya Banten, sebelah selatan Jawa, dan sebelah selatan NTT.

    Data BMKG mengungkapkan hingga akhir Juni 2025, baru sekitar 30 persen zona musim di Indonesia yang benar-benar memasuki musim kemarau.

    Sebaliknya, sebagian besar wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih berisiko tinggi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang dalam sepekan ke depan.

    Baca: Musim kemarau 2025 belum merata, ini penyebabnya

    Menurut Dwikorita, hal ini disebabkan adanya dinamika atmosfer yang kompleks masih memicu terbentuknya awan-awan konvektif penyebab hujan deras.

    Selain itu, fenomena seperti gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin, zona konvergensi dan pertemuan angin, serta potensi sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Hindia dan Pasifik, terus mendorong pembentukan awan hujan dalam skala luas.

    “Meskipun kita sudah memasuki pertengahan musim kemarau, berbagai faktor atmosfer global dan regional masih mendukung terjadinya hujan lebat dan cuaca ekstrem di banyak wilayah,” jelasnya.

    Berdasarkan pantauan BMKG dalam beberapa hari terakhir, intensitas hujan yang signifikan telah tercatat di sejumlah wilayah. Pada 9 Juli, hujan harian di atas 50 mm terjadi di Nabire dan Kalimantan Barat.

    Baca: BMKG pastikan musim kemarau 2025 mundur

    Sementara pada 8 Juli, hujan sangat lebat melanda di Papua Barat, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Maluku, dan Papua.

    Akibatnya bencana hidrometeorologis seperti banjir, tanah longsor, genangan air, pohon tumbang, hingga kerusakan infrastruktur tak terelakkan.

    Karena itu, Dwikorita mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap enteng potensi cuaca ekstrem yang bisa datang tiba-tiba.

    Ia juga meminta masyarakat menjauhi area terbuka saat terjadi petir, menghindari pohon atau bangunan tua saat angin kencang, serta tetap menjaga kesehatan karena cuaca terik masih mungkin terjadi di tengah pola hujan yang aktif.

    “Masyarakat harus tetap waspada, meskipun secara kalender kita berada di musim kemarau. Jangan lengah. Cuaca bisa berubah cepat dan membawa dampak besar,” tegasnya.

     

  • Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Waspada Suhu Hingga 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Waspada Suhu Hingga 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Suhu udara yang tinggi diprediksi melanda beberapa kota pada Minggu (20/07/2025). Bahkan suhu udara mencapai 35 derajat celsius.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu udara yang tinggi terjadi di Kota Medan hingga mencapai 35 derajat celsius. Suhu udara yang tinggi juga diprediksi terjadi di Kota Pekanbaru yang mencapai  34 derajat celsius.

    Sebagian besar kota memang diperkirakan cerah berawan dengan suhu udara berkisar antara 26 hingga 35 derajat celsius.

    Namun masih ada potensi hujan dengan intensitas ringan di Kota Bengkulu, Jakarta, Mamuju, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire dan Jayawijaya. Sementara hujan dengan intensitas sedang Kota Merauke.

    BMKG juga mengajak masyarakat waspada terhadap potensi banjir rob yang berpotensi melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Kepulauan Riau, pesisir Sumatera Barat, pesisir Jambi.

    Selain itu, banjir rob juga berpotensi melanda pesisir Banten, pesisir Jakarta, pesisir Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur dan pesisir Maluku.

     

  • Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Waspada Suhu Hingga 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Waspada Suhu Hingga 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Suhu udara yang tinggi diprediksi melanda beberapa kota pada Senin (21/07/2025). Bahkan suhu udara mencapai 35 derajat celsius.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu udara yang tinggi terjadi di Kota Medan hingga mencapai 35 derajat celsius. Suhu udara yang tinggi juga diprediksi terjadi di Kota Pekanbaru yang mencapai  34 derajat celsius.

    Sebagian besar kota memang diperkirakan cerah berawan dengan suhu udara berkisar antara 27 hingga 35 derajat celsius.

    Namun masih ada potensi hujan dengan intensitas ringan di Kota Tanjung Pinang, Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayawijaya dan Merauke. Sedangkan hujan disertai petir Kota Tanjung Selor.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Aceh, Banten, Jawa Barat dan Kepulauan Riau.

    BMKG juga mengajak masyarakat waspada terhadap potensi banjir rob yang berpotensi melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Kepulauan Riau, pesisir Sumatera Barat.

    Selain itu, banjir rob juga berpotensi melanda pesisir Banten, pesisir Jakarta, pesisir Jawa Barat, pesisir Jawa Tengah, pesisir Yogyakarta, pesisir, Nusa Tenggara Timur dan pesisir Maluku.

     

     

     

     

  • Terjadi Kemarau Basah Tetapi Bediding Tetap Terjadi, Simak Penjelasannya

    Terjadi Kemarau Basah Tetapi Bediding Tetap Terjadi, Simak Penjelasannya

    7cloud.asia – Dalam kalender musim, normalnya Juli ini sudah memasuki musim kemarau 2025. Namun, hujan masih mengguyur di sebagian wilayah Indonesia, tak terkecuali Jabodetabek.

    Menariknya, meski kemarau telat datang, masyarakat di bagian Selatan Indonesia tetap merasakan fenomena bediding.

    Berasal dari istilah bahasa Jawa, bediding adalah kondisi suhu lebih dingin di malam hingga dini hari sampai bisa membuat orang menggigil, ciri khas musim kemarau.

    Lantas, apa penyebab musim kemarau tak kunjung datang, sementara gejala seperti ‘bediding’ tetap terasa?

    Kemarau datang terlambat dan lebih singkat
    Ada banyak faktor penyebab musim kemarau tak kunjung datang. Penyebab utamanya adalah kombinasi faktor atmosfer dan laut yang membuat udara tetap lembap dan memicu hujan, seperti:

    Melemahnya angin Monsun Australia, yang biasanya membawa udara kering dari benua Australia ke Indonesia dan memicu musim kemarau.

    Aktivitas atmosfer, seperti gelombang ekuator (Kelvin dan Rossby Equator) dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sering muncul di Indonesia karena posisi negara kita yang berada di wilayah tropis. Gelombang tersebut membawa massa udara basah dan membentuk awan hujan.

    Anomali arah angin, yaitu munculnya angin baratan (dari Samudra Hindia ke Indonesia bagian barat) yang menggantikan angin timuran—yakni angin yang bertiup dari Benua Australia ke wilayah Indonesia yang biasa membawa udara kering.

    Padahal normalnya, musim kemarau di Indonesia ditandai oleh dominasi angin timuran—yakni angin dari Benua Australia ke wilayah Indonesia yang membawa udara kering dan menyebabkan berkurangnya curah hujan.

    Karena kondisi inilah, kendati El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD)—interaksi antara atmosfer dan lautan di Samudra Pasifik serta Hindia yang memengaruhi pola curah hujan—berada dalam fase netral, curah hujan masih terus terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia sejak Mei dan kemungkinan berlanjut hingga Oktober 2025.

    Lantas, apakah semua anomali cuaca ini berkaitan dengan perubahan iklim? Banyak indikasi menunjukkan korelasi kuat semua anomali cuaca (seperti kemunduran musim kemarau, peningkatan suhu muka laut, serta anomali arah angin) berkaitan dengan perubahan iklim.

    Namun, para ilmuwan dan peneliti perlu terus melakukan pemantauan dan analisis data iklim lebih dalam untuk menyatakan apakah anomali saat ini adalah dampak langsung dari perubahan iklim atau masih dalam rentang variabilitas iklim alami yang diperburuk oleh pemanasan global.

    Selain datang terlambat, durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan akan berlangsung lebih singkat dari biasanya, terutama akibat curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata normal dalam beberapa bulan terakhir.

    Berdasarkan peta analisis curah hujan BMKG, sebagian besar wilayah di Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara masih akan diguyur hujan cukup lebat—bahkan mencapai lebih dari 100 mm per hari, di atas rata-rata normal.

    Mengapa ‘bediding’ khas kemarau tetap terasa?
    Di tengah kemarau yang tertunda dan curah hujan yang masih tinggi di sebagian wilayah, masyarakat tetap merasakan fenomena bediding.

    Fenomena tahunan ini umumnya terjadi pada musim kemarau yang biasanya berlangsung di periode Juni-September, terutama pada di wilayah selatan katulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Pada periode ini, angin Monsun Australia aktif membawa udara kering dan dingin ke wilayah selatan Indonesia, sehingga suhu udara di malam dan pagi hari menjadi lebih rendah.

    Selain itu, pada musim kemarau, langit biasanya lebih cerah dan nyaris tanpa awan. Akibatnya, panas matahari yang diserap siang hari dilepaskan kembali oleh permukaan bumi saat malam melalui radiasi. Karena tidak ada awan yang menahan panas itu, suhu pun turun drastis.

    Kondisi ini makin terasa karena rendahnya kelembapan dan sedikitnya uap air di udara, membuat malam hari terasa lebih menusuk dinginnya.

    Munculnya bediding meskipun musim kemarau belum sepenuhnya berlangsung adalah hal wajar.

    Sebab, ini tetap merupakan bagian dari dinamika peralihan menuju musim kemarau yang biasa terjadi, di mana kelembapan tanah mulai menurun secara bertahap sebelum musim kemarau benar-benar berlangsung secara penuh.

    Jadi, masyarakat tak perlu cemas berlebihan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Agita Vivi Wijayanti (Senior Forecaster, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika/BMKG) dan Nurdeka Hidayanto (Analis Meteorologi dan Klimatologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

  • Menhut Imbau Masyarakat Waspada Karhutla pada 10 Hari Pertama Agustus

    Menhut Imbau Masyarakat Waspada Karhutla pada 10 Hari Pertama Agustus

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sebagian wilayah di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun harus diwaspadai masyarakat. Terutama pada 10 hari pertama di bulan Agustus.

    Hal ini dikatakan oleh Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (28/07/2025).

    Baca: Pemprov Riau tetapkan status tanggap darurat imbas kebakaran dan lahan

    “10 hari pertama Agustus, hampir di semua provinsi adalah warning, peringatan, karena tadi kombinasinya curah hujan kecil, rendah, pembentukan awan rendah, sulit karena awannya tidak ada, dan tingkat kekeringan lahan, tingkat potensi kebakaran hutannya tinggi,” jelas Raja seperti yang dikutip Sindonews.

    Karena itu, dia meminta seluruh pihak untuk berkontribusi demi mencegah potensi Karhutla. Sebab musim hujan baru akan tiba pada bulan Oktober.

    “Meskipun kalau kita tarik lagi Agustus masih berbahaya, tapi yang paling berbahaya 10 hari pertama, September masih berbahaya, tapi agak berkurang karena musim hujan akan datang baru pada bulan Oktober,” terangnya.

    Baca: Pemerintah dianggap lamban dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan

    Pada kesempatan itu, Raja Juli mengatakan kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan pada tahun 2025 ini dapat terkendali dengan baik.

    Meski demikian pihaknya tetap bekerjasama dengan BNPB, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan water bombing dalam mengatasi kebakaran hutan.

     

  • Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Potensi Hujan Masih Ada di Sejumlah Kota Termasuk Jakarta

    Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Potensi Hujan Masih Ada di Sejumlah Kota Termasuk Jakarta

    7cloud.asia – Sebagian wilayah di Indonesia saat ini tengah memasuki musim kemarau. Namun, masih ada potensi hujan yang terjadi di sejumlah kota pada Kamis (31/07/2025), termasuk Jakarta.

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selain Jakarta, hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Medan, Pekanbaru, Padang, Tanjung Pinang, Bengkulu, Jambi, Palembang, Bandar Lampung.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di Kota Serang, Jakarta, Tanjung Selor, Pontianak, Palu, Makassar, Ternate, Ambon, Sorong, Nabire, Manokwari dan Jayawijaya. Sementara hujan berintensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Mamuju.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai adanya potensi angin kencang di wilayah Aceh, Bali, Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur.

    Tak hanya angin kencang, BMKG juga mengimbau masyarakat mewaspadai banjir rob yang melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Jawa Tengah, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir  Kalimantan Tengah dan pesisir Papua Selatan.

     

     

     

  • Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Tiga Kota Ini Masih Berpotensi Hujan Disertai Petir

    Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Tiga Kota Ini Masih Berpotensi Hujan Disertai Petir

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Tetapi masih ada beberapa wilayah yang berpotensi hujan berintensitas ringan hingga hujan disertai petir pada Jumat (15/08/2025).

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan disertai petir berpotensi melanda tiga kota, yaitu Kota Jambi, Bengkulu dan Tanjung Selor.

    Sedangkan hujan dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju. Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Medan, Nabire dan Jayawijaya.

    Hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Semarang, Bandung, Serang, Samarinda, Palu, Jayapura, Manokwari, Sorong, Ambon, Ternate dan Merauke.   

    BMKG mengajak masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Banten, pesisir Jawa Tengah, pesisir Yogyakarta, pesisir Bali, pesisir Maluku dan pesisir Papua Selatan.

     

     

     

  • Penjelasan BMKG tentang Kapan Musim Hujan

    Penjelasan BMKG tentang Kapan Musim Hujan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) memprediksi musim hujan tahun 2025-2026 datang lebih awal dari biasanya dan tidak terjadi serempak di seluruh wilayah Indonesia.

    Dalam konferensi pers BMKG pada Jumat (12/09/2025) sore, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan sifat musim hujan yang terjadi berada pada kategori normal, tidak terlalu basah ataupun terlalu kering.

    Peralihan musim kemarau ke musim hujan tahun 2025 sebenarnya sudah dimulai sejak bulan Agustus lalu. Musim hujan diprediksi akan berlangsung hingga April 2026 mendatang.  

    BMKG memprediksi musim hujan mencapai puncaknya di setiap wilayah berbeda-beda. Di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan puncak musim hujan terjadi pada bulan November hingga Desember 2025.

    Baca: Banjir di Bali, Ini Penyebabnya

    Sedangkan wilayah Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku dan Papua puncak musim hujan diprediksi terjadi pada bulan Januari dan Februari 2026.

    “Artinya apa? Dikhawatirkan dan sangat mungkin potensi kejadian bencana itu akan hampir sepanjang bulan,” kata Dwikorita.

    Karena itu, lanjut Dwikorita, perlu kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti bencana longsor, banjir, pohon tumbang, dan lain-lain.

    Pada kesempatan ini, Dwikorita menyinggung banjir yang terjadi di Bali pada 9-10 September lalu. Menurutnya yang terjadi di Bali, bukan berarti telah memasuki musim hujan.

    “Ini masih masa peralihan musim kemarau ke musim hujan. Itupun baru peralihan kondisinya sudah seperti itu. Padahal Pulau Jawa, Sulawesi, Papua termasuk Bali, puncaknya antara Januari hingga Februari. Nah, ini gimana puncaknya nanti. Yang peralihan sudah seperti itu,” jelasnya.

    Baca: Korban Tewas Akibat Banjir di Bali Capai 14 Orang

    “Meskipun hujan saat musim hujan nanti curah hujannya bersifat normal atau sesuai rata-rata bulanannya. Namun hujan yang 1 bulan makin sering terjadi hanya dalam 1 hari atau beberapa hari. Itu yang berbahaya,” lanjutnya.

    Sebagai antisipasi resiko bencana hidrometeorologi, BMKG mengimbau kementerian lembaga, pemda, dan sektor terkait serta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

    Misalnya dengan memprioritaskan perbaikan drainase dan irigasi, membersihkan sampah yang menumpuk di saluran air.

    Baca: Banjir di Bali, Ratusan Kepala Keluarga Terdampak

    Untuk para petani, mereka dapat menyesuaikan jadwal tanam agar tidak bertepatan dengan puncak musim hujan. Petani juga dapat memilih varietas tahan genangan.

    Selanjutnya Dwikorita mengungkapkan selama musim peralihan, jumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menurun.

    Meski demikian wilayah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan dan sebagian Sumatera tetap waspada karena masih memungkinkan terjadi karhutla pada periode ini.

  • Pengurus Negara Diminta Menyiapkan Antisipasi Dampak El Nino di Sektor Kesehatan

    Pengurus Negara Diminta Menyiapkan Antisipasi Dampak El Nino di Sektor Kesehatan

    7cloud.asia – Pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi dampak fenomena El Nino tak hanya di sektor pertanian dan pangan, tetapi juga di sektor kesehatan masyarakat.

    Menurut Anggota Komisi IX DPR, Edy Wuryanto, upaya ini berperan krusial untuk menekan kasus penyakit akibat perubahan cuaca ekstrem.

    Pasalnya, fenomena El Nino yang identik dengan musim kemarau panjang berpotensi memicu berbagai persoalan kesehatan, seperti meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, hingga gangguan kesehatan lainnya.

    “Kita harus siap sejak awal. Dampak El Nino ini tidak hanya soal kekeringan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan,” ujar Edy usai Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR dengan Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Ketenagakerjaan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

    Baca: Musim kemarau 2026 lebih kering dan lebih lama

    Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin meluas.

    Salah satunya melalui penguatan layanan kesehatan dasar di fasilitas kesehatan serta mitigasi pasokan air bersih

    “Puskesmas dan fasilitas kesehatan harus disiapkan, termasuk tenaga kesehatan, obat-obatan, serta alat pelindung seperti masker,” tegas politisi PDI Perjuangan dapil Jawa Tengah III itu.

    Selain itu, Edy juga mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat terkait pola hidup sehat selama musim kemarau, termasuk menjaga hidrasi tubuh dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun.

    Baca: Curah hujan 2026 lebih rendah dibanding rerata curah hujan 30 tahun terakhir

    Pun, dirinya menegaskan koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi dampak El Nino, terutama antara Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dan lembaga terkait lainnya.

    “Jangan sampai kita terlambat merespons. Mitigasi harus dilakukan sejak dini agar dampaknya bisa diminimalisir,” pungkasnya

    Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau pada tahun ini akan berlangsung lebih awal dan lebih lama, yang dimulai pada April atau Mei, dengan puncaknya pada Agustus.

    Sebagian daerah akan memasuki musim kemarau, mulai April atau Mei, puncaknya di bulan Agustus, kemudian nantinya akan berakhir di bulan September atau awal Oktober.