Tag: panas

  • Hampir Dipastikan Tahun 2024 menjadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah Pencatatan Suhu Bumi

    Hampir Dipastikan Tahun 2024 menjadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah Pencatatan Suhu Bumi

    7cloud.asia – Setelah mencatat rekor musim panas terpanas, tahun 2024 diperkirakan akan menjadi tahun terpanas dan tahun pertama dengan suhu tahunan melampaui ambang batas kritis pemanasan sebesar 1,5°C.

    Data baru yang diterbitkan oleh badan observasi bumi Uni Eropa, Copernicus pada November 2024 menunjukkan bahwa bulan Oktober merupakan bulan dengan suhu hangat yang tidak normal di seluruh dunia.

    Bulan Oktober menjadi bulan terpanas kedua yang pernah tercatat dan bulan ke-15 dalam periode 16 bulan di mana suhu udara permukaan rata-rata global melebihi 1,5°C. di atas tingkat pra-industri.

    Meningkatnya suhu global tahun lalu karena respons terhadap fenomena El Niño, suatu pola cuaca yang terkait dengan pemanasan permukaan air yang tidak biasa di bagian timur Samudera Pasifik.

    Meskipun para ilmuwan pada awalnya memperkirakan tren pendinginan dengan munculnya fenomena La Niña di Pasifik sekitar bulan Agustus 2024, pemanasan masih berlanjut hingga beberapa bulan kemudian.

    Baca: Pemanasan Global akibatkan La Nina dan El Nino makin sulit diprediksi

    Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS kini menyatakan ada kemungkinan 75 persen La Niña terjadi antara bulan November dan Januari.

    Agar tahun 2024 tidak mengalahkan suhu yang memecahkan rekor pada tahun 2023, anomali suhu rata-rata selama sisa tahun “harus turun hingga hampir nol agar tidak menjadi tahun terpanas,” Copernicus menyimpulkan.

    Ambang batas 1,5°C ditetapkan pada KTT iklim COP21 tahun 2015, ketika 196 pihak menandatangani Perjanjian Paris yang mengikat secara hukum.

    Mereka sepakat untuk terus membatasi pemanasan global hingga di bawah 1,5°C atau “jauh di bawah 2°C” di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini.

    Di luar batas ini, para ahli memperingatkan bahwa titik-titik kritis akan dilanggar, sehingga menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan dan berpotensi tidak dapat diubah lagi bagi beberapa sistem penting bumi yang mendukung kelestarian planet ini.

    Baca: Mitigasi dan adaptasi jika pemanasan global mencapai 2°C

    “Setelah 10 bulan pada tahun 2024, kini hampir dapat dipastikan bahwa tahun 2024 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dan tahun pertama suhu lebih dari 1,5ºC di atas tingkat pra-industri menurut kumpulan data ERA5,” kata Samantha Burgess, Wakil Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S).

    Burgess, saat itu menyerukan agar negara-negara yang hadir di COP 29 Baku, Azerbaijan, untuk “meningkatkan ambisi” sehubungan dengan “tonggak baru dalam rekor suhu global.”

    Sebuah laporan PBB yang diterbitkan menjelang KTT besar tersebut mengindikasikan bahwa janji-janji yang ada saat ini menempatkan dunia pada jalur peningkatan suhu sebesar 2,6-3,1°C selama abad ini.

    Lebih lanjut mereka memperingatkan bahwa pengurangan sebesar 42 persen pada tahun 2030 dan 57 persen pada tahun 2035 diperlukan untuk mencapai pemanasan 1,5°C.

  • Simak Cara Pohon Menurunkan Suhu Panas Perkotaan

    Simak Cara Pohon Menurunkan Suhu Panas Perkotaan

    7cloud.asia – Menanam pohon disebut sebagai solusi tepat untuk mengatasi efek pulau panas perkotaan dan menurunkan suhu panas di perkotaan

    Dilansir onetreeplanted.org, jika dilakukan dengan cermat, menanam pohon perkotaan, menumbuhkan hutan perkotaan, dan meningkatkan kanopi hijau perkotaan dapat menurunkan suhu udara di lingkungan perkotaan hingga 10 derajat.

    Lantas bagaimana caranya, penanaman pohon dan memperbanyak ruang terbuka hijau dapat membantu menurunkan suhu panas perkotaan?

    Pohon, dalam pengertian tumbuhan menahun berkayu dengan batang yang tumbuh memanjang guna mendukung cabang dan daun, dapat menurunkan suhu perkotaan dalam tiga cara, yakni:

    1. Pohon memberikan keteduhan
    Jika Anda pernah menikmati keteduhan pohon di hari musim panas yang terik, Anda pasti sudah memahami pentingnya ruang terbuka hijau perkotaan!

    Pohon dan vegetasi mengurangi suhu permukaan dan udara panas dengan memberikan keteduhan — faktanya, permukaan yang teduh, misalnya, bisa mencapai 20–45°F lebih dingin daripada area yang tidak teduh saat puncak panas.

    Baca: Menanam pohon terbukti efektif menurunkan efek pulau panas perkotaan

    Bagaimana bisa? Selama musim yang lebih cerah, daun dan cabang pohon perkotaan hanya memungkinkan sekitar 10-30 persen radiasi matahari melewati kanopinya. Sisa energi matahari diserap oleh daun pohon atau dipantulkan kembali ke atmosfer.

    Untuk memanfaatkan manfaat yang luar biasa ini, pohon sebaiknya ditanam di lokasi strategis di sekitar bangunan atau area beraspal seperti jalan dan tempat parkir.

    2. Pohon membantu evapotranspirasi
    Sederhananya, evapotranspirasi adalah proses perpindahan uap air dari bumi ke atmosfer melalui penguapan.

    Pohon dan tumbuhan melakukan hal ini dengan menyerap air melalui akarnya dan melepaskannya melalui daun. Air juga dilepaskan sebagai gas uap dari permukaan tumbuhan seperti batang pohon dan tanah di sekitarnya.

    Evapotranspirasi —apakah hanya sendiri maupun dikombinasikan dengan penurunan suhu akibat naungan— dapat membantu mengurangi suhu puncak musim panas sekitar 1–5°C.

    Proses ini menurunkan suhu dengan mengambil panas dari udara dan menggunakannya untuk menguapkan air di dalam pohon, serupa dengan bagaimana keringat membantu mendinginkan kulit kita.

    Baca: Alam menawarkan cara berkelanjutan untuk menurunkan suhu panas perkotaan

    3. Pohon mengurangi penggunaan energi dan menurunkan emisi
    Menurut Departemen Energi AS, pohon yang ditempatkan dengan cermat dapat mengurangi biaya energi rumah hingga 25 persen, termasuk penggunaan alat pengkondisian udara (AC).

    Meskipun beralih ke energi terbarukan juga akan membantu, hal ini mengurangi tekanan pada jaringan listrik kita selama gelombang panas, sehingga membantu mencegah pemadaman listrik yang parah.

    Bagaimana caranya? Penelitian menunjukkan bahwa menanam pohon peluruh di lokasi strategis di sekitar bangunan membantu mengurangi jumlah energi matahari yang diserap ke dalam material bangunan.

    Hal ini terjadi terutama jika pohon-pohon ini ditanam sedemikian rupa sehingga menaungi jendela dan sebagian atap bangunan.

    Saat suhu panas ekstrem memaksa penduduk perkotaan bergantung pada AC yang mahal demi keselamatan, peran pohon-pohon di perkotaan menjadi lebih penting dari sebelumnya.

    Manfaat lainnya? Ketika kipas angin dan AC tidak perlu sering dinyalakan, maka akan semakin sedikit “udara panas” yang dibuang ke atmosfer.

    Baca: Mitigasi atasi suhu panas perkotaan tak hanya dengan menanam pohon

  • Cuaca Hari Ini: Hujan Disertai Petir Tapi Udara Panas Hingga 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Hujan Disertai Petir Tapi Udara Panas Hingga 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    7cloud.asia – Kondisi cuaca hujan dengan intensitas ringan hingga disertai petir berpotensi melanda sejumlah kota pada Minggu (19/10/2025). Bahkan meski suhu udara panas hingga 35 derajat sekalipun tetap berpotensi hujan.

    Dilansir melalui akun youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu udara panas hingga 35 derajat celsius akan dirasakan oleh warga yang berada di Kota Banjarmasin. Di kota ini pula berpotensi terjadi hujan disertai petir.

    Suhu panas hingga 36 derajat celsius akan dirasakan masyarakat di Kota Surabaya. Sedangkan suhu udara 34 derajat celsius akan dirasakan masyarakat yang berada di Kota Gorontalo. Kedua kota ini berpotensi hujan berintensitas ringan.

    Baca: Ini Dia Penyebab Cuaca Panas Menyengat

    Kota Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Bengkulu, Serang, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, Mataram, Kupang, Pontianak, Tanjung Selor, Samarinda juga berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan.

    Kondisi cuaca seperti ini berpeluang pula terjadi di Kota Palu, Makassar, Kendari, Jayawijaya, Manokwari, Sorong, Ambon dan Ternate.  

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Bandung, Palangkaraya, Mamuju, Nabire dan Jayapura.  Kemudian hujan disertai petir berpeluang melanda Kota Padang, Palembang dan Pangkal Pinang.

    Suhu udara berkisar antara 9 derajat celsius hingga 36 derajat celsius. Suhu terendah akan dirasakan masyarakat yang berada di Kota Jayawijaya.

    BMKG juga mengajak masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir agar mewaspadai potensi banjir rob di wilayah pesisir Sumatera Utara, pesisir utara Jawa Tengah, pesisir Nusa Tenggara Timur, pesisir Kalimantan Tengah dan pesisir Kalimantan Selatan.

     

     

     

  • ASMC Perkirakan Suhu di Atas Normal Akan Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia pada Maret-Mei 2026

    ASMC Perkirakan Suhu di Atas Normal Akan Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia pada Maret-Mei 2026

    7cloud.asia – Menurut tinjauan musiman ASMC (ASEAN Specialised Meteorological Centre), suhu di atas normal diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Maret hingga Mei 2026

    Menurut laporan, probabilitas atau kemungkinan kejadian mencapai 80 hingga 100 persen. hal ini terutama karena datangnya musim kemarau yang lebih awal.

    Meskipun puncak suhu secara pasti belum dapat diprediksi, suhu tertinggi pada bulan April yang biasanya berkisar 33°C berpotensi mencapai 35 hingga 37°C di dataran rendah.

    Wilayah yang paling terdampak cukup luas, dimulai dari dataran rendah di Indonesia dan Malaysia seperti Jawa, Sumatra, dan sebagian Kalimantan.

    Baca: BMKG ingatkan potensi El Nino pada 2026

    Dilansir di laman resmi asmc.asean.org, untuk bulan Maret 2026, curah hujan di bawah normal diprediksi untuk sebagian wilayah tengah dan barat Benua Maritim (lautan yang ditaburi pulau-pulau).

    Sementara curah hujan di atas normal diprediksi untuk wilayah timur laut Benua Maritim.

    Untuk Maret – Mei 2026, curah hujan di atas normal diprediksi akan berlanjut, bersamaan dengan curah hujan di bawah normal untuk sebagian besar wilayah Benua Maritim lainnya.

    Kondisi La Niña diprediksi akan melemah pada Februari 2026 dan beralih ke kondisi netral ENSO pada Maret 2026. Suhu di atas normal diprediksi untuk sebagian besar wilayah ASEAN untuk periode Maret-Mei 2026.

    Baca: Pemanasan global membuat La Nina dan El Nino makin sulit diprediksi

    Dalam kondisi kering yang berlaku, aktivitas titik panas dan kabut asap di wilayah ASEAN utara kemungkinan akan tetap tinggi, dengan peningkatan risiko terjadinya kabut asap lintas batas.

    Kondisi ini terutama di bagian barat laut sub-wilayah Mekong di mana curah hujan diprediksi akan di bawah normal.

    Meskipun secara keseluruhan aktivitas titik panas kemungkinan akan tetap rendah di bawah kondisi cuaca basah yang berlaku di wilayah ASEAN selatan, aktivitas titik panas mungkin masih meningkat.

    Potensi ini disertai dengan perkembangan gumpalan asap, selama fase kering kondisi Monsun Timur Laut, khususnya di daerah-daerah yang diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.

  • Waspadai Dampak Fenomena “El Nino Godzilla”: IDAI Sarankan Anak-anak Lebih Banyak Berada di Dalam Ruangan

    Waspadai Dampak Fenomena “El Nino Godzilla”: IDAI Sarankan Anak-anak Lebih Banyak Berada di Dalam Ruangan

    7cloud.asia – Fenomena alam “El Nino Godzilla” yang akan menguat di semester kedua tahun 2026 diperkirakan akan memicu cuaca yang ekstrem seperti kemarau berkepanjangan berisiko melemahkan daya tahan tubuh dan membuat anak cepat merasa lelah.

    Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan anak-anak untuk lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan selama musim kemarau tahun ini.

    “Secara umum, mungkin sebaiknya anak-anak banyak di dalam ruangan. Pada saat cuaca ekstrem, apakah panas yang tinggi atau curah hujan yang tinggi,” kata Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso, dalam temu media di Jakarta, Senin (13/4/2026).

    Piprim mengatakan, saat cuaca panas terik seseorag terutama anak-anak akan cepat lelah, dan untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungan ekstrem ini butuh tenaga yang tinggi.

    Berada di dalam ruangan, ujarnya akan sangat membantu orang tua dalam melakukan pengawasan serta terhindar dari berbagai macam penyakit.

    Kalaupun harus berada di luar ruangan, orang tua butuh menyiapkan berbagai perlengkapan baik jas hujan atau payung sebagai bentuk antisipasi perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba.

    Baca: Fenomena El Nino Godzilla mengancam produksi pangan

    Selain berada di dalam ruangan, orang tua juga diharapkan dapat terus memperbaiki nutrisi anak-anak dengan makanan yang sehat dan bergizi.

    Salah satu jenis makanan yang dianjurkan adalah makanan yang mengandung protein hewani seperti ayam, daging, telur, ikan, dan hati ayam.

    “Nutrisi anak juga perlu diperbaiki, misalnya lewat protein hewani supaya anak bisa lebih fit menghadapi cuaca ekstrem seperti ini,” tambahnya.

    Sedangkan bagi anak-anak yang ingin berjemur di bawah sinar matahari, Piprim menyarankan pada orang tua untuk membaluri kulit anak menggunakan sunblock dan mengenakan pakaian serta penutup mata, khususnya pada bayi yang baru lahir, agar lapisan kulit yang masih tipis tidak rusak.

    Orang tua juga perlu memperhatikan kesehatan anak sebelum memutuskan memperbolehkannya berjemur di bawah matahari pagi.

    Sebelumnya, istilah “Godzilla” dipopulerkan oleh seorang ilmuwan NASA bernama Bill Patzert pada tahun 2015 untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas.

    Baca: Negara diminta siapkan antisipasi dampak El Nino Godzilla di sektor kesehatan

    Sedangkan di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut penggunaan istilah itu untuk menggambarkan potensi variasi El Nino yang kuat, sehingga muncul prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

    Indonesia dapat mengalami keadaan minim awan dan hujan. Namun, dampaknya bisa saja tidak seragam terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

    Oleh karenanya, BRIN mengajak kementerian/lembaga yang terkait untuk dapat memitigasi dengan mempertimbangkan dampak kekeringan di bagian selatan Indonesia dan dampak banjir di timur laut Indonesia (Sulawesi, Halmahera, Maluku).

    Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi iklim tahun 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan normal. Terdapat indikasi musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

    Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pada Selasa (7/4/2026) menyampaikan kondisi ENSO masih berada pada fase netral, namun pada semester kedua 2026 diprediksi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50–80 persen.

    “Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” katanya.

     

  • Spanyol Alami Hari Terpanas dengan Suhu di Atas 40°C

    Spanyol Alami Hari Terpanas dengan Suhu di Atas 40°C

    7cloud.asia – Para ahli meteorologi Spanyol memperingatkan bahwa Selasa (23/6/2026) bisa menjadi hari terpanas selama Juni karena kubah panas (heat dome) yang intens mendorong suhu di atas 40 derajat Celsius di sebagian besar wilayah negara itu.

    Tingkat peringatan tertinggi diberlakukan oleh Badan Meteorologi Spanyol (AEMET) di sejumlah wilayah Andalusia, Wilayah Basque, dan Cantabria, di mana suhu diperkirakan mencapai 44 derajat Celsius (°C)

    Sekitar 17 dari 50 ibu kota provinsi di Spanyol diperkirakan akan mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius.

    Fenomena malam tropis, ketika suhu tidak turun di bawah 20 derajat Celsius, juga diperkirakan terjadi secara luas sehingga bangunan sulit mendingin.

    Baca: El Niño Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    “Selasa bisa menjadi hari terpanas yang pernah tercatat pada Juni dan mendekati rekor hari terpanas sepanjang sejarah,” kata meteorolog RTVE Marc Santandreu.

    Gelombang panas mulai terjadi pada Minggu dan telah memecahkan sejumlah rekor suhu. AEMET menyatakan suhu malam hari di beberapa wilayah tenggara Spanyol tetap berada di atas 30 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut.

    Peristiwa itu belum pernah terjadi sebelumnya pada Juni di Semenanjung Iberia. Kota Palma de Mallorca juga mencatat malam terpanas pada Juni dalam sejarah pengamatannya.

    Gelombang panas ekstrem tersebut dipicu kubah panas yang membentang di sebagian besar Eropa Barat, bersamaan dengan masuknya massa udara sangat panas dan kering dari Gurun Sahara ke arah utara.

    Baca: Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata

    Menurut AEMET, sistem tekanan tinggi di daratan Eropa dan sistem tekanan rendah di sebelah barat Semenanjung Iberia mendorong massa udara Sahara bergerak ke utara.

    Berdasarkan analisis Climate Shift Index, perubahan iklim membuat kemungkinan terjadinya gelombang panas ekstrem ini setidaknya lima kali lebih besar.

    Kombinasi pola cuaca tersebut dan intensitas sinar matahari musim panas diperkirakan menghasilkan suhu yang sangat tinggi dan bertahan setidaknya hingga pertengahan pekan.

    Sejumlah negara Eropa lainnya, termasuk Prancis, Italia, Swiss, Luksemburg, Belanda, dan Inggris, juga telah mengeluarkan peringatan level tertinggi untuk cuaca panas.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Fenomena El Nino dan Minimnya Ruang Terbuka Hijau Perburuk Panas Perkotaan

    Fenomena El Nino dan Minimnya Ruang Terbuka Hijau Perburuk Panas Perkotaan

    7cloud.asia – Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5°C, sekitar 0,5°C lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode klimatologi 1991–2020.

    Selanjutnya bulan Juni 2026 juga tercatat sebagai bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991–2020. Jumlah hari panas maupun malam yang tetap hangat (tropical nights) juga terus meningkat.

    Sekilas, kenaikan suhu ini tampak kecil. Namun demikian tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika disertai kelembapan udara yang tinggi dan aktivitas fisik di luar ruangan.

    Menurut BMKG, kondisi tersebut berpotensi semakin diperparah oleh El Niño yang diperkirakan berkembang menjadi kategori kuat pada Juli atau Agustus ini.

    Dalam Webinar yang berlangsung pekan lalu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa fenomena El Niño serta tren pemanasan global diperkirakan akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi.

    “El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas kuat. Waspada peningkatan risiko kekeringan dan dampak turunannya, suhu ekstrem, dan heatstroke, serta potensi penurunan kualitas udara akibat kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla dan akumulasi polutan yang berdampak pada kesehatan,” terangnya.

    Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan yang lebih baik, baik dari masyarakat maupun pemerintah, agar risiko kesehatan akibat paparan panas dapat diminimalkan.

    Baca: Menanam Pohon Terbukti Efektif Menurunkan Efek Pulau Panas Perkotaan

    Berbeda dengan Eropa yang mengalami gelombang panas (heatwave), Indonesia memiliki karakteristik iklim tropis yang membuat suhu udara relatif stabil sepanjang tahun.

    Namun, peningkatan suhu yang berlangsung secara bertahap dan disertai kelembapan tinggi tetap menimbulkan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.

    Ardhasena menambahkan, keberadaan laut di sekitar Indonesia berperan sebagai penyangga alami yang mencegah lonjakan suhu secara ekstrem seperti yang terjadi di kawasan subtropis.

    “Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan.” ujarnya.

    Dia memaparkan, tren pemanasan di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Data BMKG mencatat, suhu rata-rata meningkat sekitar 0,13–0,14°C per dekade.

    Menurut Ardhasena, ancaman utama di Indonesia bukanlah gelombang panas seperti di Eropa, melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus dan diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi.

    Meski peluang terjadinya gelombang panas seperti di Eropa kecil, Ardhasena menegaskan masyarakat tetap perlu mengantisipasi kondisi panas tinggi yang berlangsung secara berkelanjutan, diiringi kelembapan yang tinggi, dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh manusia.

    BMKG saat ini tengah mengembangkan sistem peringatan dini panas ekstrem yang menggabungkan indikator suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, serta radiasi matahari untuk memberikan informasi risiko kesehatan bagi masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.

    Baca: Pemerintah Dinilai Tidak Serius Tangani Pulau Panas Perkotaan

    Selain faktor kesehatan individu, risiko paparan panas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kota-kota yang dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi beton dan aspal cenderung menyerap dan menyimpan panas lebih lama.

    Kondisi ini memicu fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan), yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya dan meningkatkan risiko heat stress bagi masyarakat.

    Executive Director Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan bahwa adaptasi terhadap suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu. Cara rumah, lingkungan, dan kota dirancang turut menentukan tingkat paparan panas yang dialami warga.

    Salah satu fenomena yang mendorong peningkatan suhu adalah urban heat island (pulau panas perkotaan) yang memang spesifik terjadi di kawasan perkotaan.

    “Fenomena ini muncul akibat ekspansi kota yang ditandai dengan penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas, sehingga suhu meningkat. Di saat yang bersamaan, kondisi tersebut juga memperlambat aliran angin,” ujar Elisa

    Ia menambahkan, upaya adaptasi perlu diwujudkan melalui desain bangunan yang lebih responsif terhadap iklim, seperti penerapan pendinginan pasif, penggunaan material yang tidak menyerap panas berlebihan, serta memperbanyak vegetasi dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.

    Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu menurunkan suhu lingkungan, tetapi juga mengurangi risiko kesehatan akibat paparan panas ekstrem.

    Elisa dan Ardhasena sepakat bahwa menghadapi risiko paparan panas tidak cukup dilakukan melalui perubahan perilaku individu.

    Indonesia juga memerlukan sistem peringatan dini yang efektif, edukasi kesehatan masyarakat, serta perencanaan kota yang lebih adaptif agar dampak kesehatan akibat suhu yang terus meningkat dapat diminimalkan.

    Mereka menekankan pentingnya peningkatan literasi kesehatan masyarakat, penguatan sistem peringatan dini panas ekstrem, serta pembangunan kota yang lebih adaptif untuk melindungi masyarakat dari dampak paparan panas yang semakin meningkat.

    Baca: Wujudkan Hunian dan Kawasan Rendah Emisi Bersama BeCool