Fenomena El Nino dan Minimnya Ruang Terbuka Hijau Perburuk Panas Perkotaan

Written by

in

7cloud.asia – Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5°C, sekitar 0,5°C lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode klimatologi 1991–2020.

Selanjutnya bulan Juni 2026 juga tercatat sebagai bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991–2020. Jumlah hari panas maupun malam yang tetap hangat (tropical nights) juga terus meningkat.

Sekilas, kenaikan suhu ini tampak kecil. Namun demikian tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika disertai kelembapan udara yang tinggi dan aktivitas fisik di luar ruangan.

Menurut BMKG, kondisi tersebut berpotensi semakin diperparah oleh El Niño yang diperkirakan berkembang menjadi kategori kuat pada Juli atau Agustus ini.

Dalam Webinar yang berlangsung pekan lalu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa fenomena El Niño serta tren pemanasan global diperkirakan akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi.

“El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas kuat. Waspada peningkatan risiko kekeringan dan dampak turunannya, suhu ekstrem, dan heatstroke, serta potensi penurunan kualitas udara akibat kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla dan akumulasi polutan yang berdampak pada kesehatan,” terangnya.

Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan yang lebih baik, baik dari masyarakat maupun pemerintah, agar risiko kesehatan akibat paparan panas dapat diminimalkan.

Baca: Menanam Pohon Terbukti Efektif Menurunkan Efek Pulau Panas Perkotaan

Berbeda dengan Eropa yang mengalami gelombang panas (heatwave), Indonesia memiliki karakteristik iklim tropis yang membuat suhu udara relatif stabil sepanjang tahun.

Namun, peningkatan suhu yang berlangsung secara bertahap dan disertai kelembapan tinggi tetap menimbulkan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.

Ardhasena menambahkan, keberadaan laut di sekitar Indonesia berperan sebagai penyangga alami yang mencegah lonjakan suhu secara ekstrem seperti yang terjadi di kawasan subtropis.

“Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan.” ujarnya.

Dia memaparkan, tren pemanasan di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Data BMKG mencatat, suhu rata-rata meningkat sekitar 0,13–0,14°C per dekade.

Menurut Ardhasena, ancaman utama di Indonesia bukanlah gelombang panas seperti di Eropa, melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus dan diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi.

Meski peluang terjadinya gelombang panas seperti di Eropa kecil, Ardhasena menegaskan masyarakat tetap perlu mengantisipasi kondisi panas tinggi yang berlangsung secara berkelanjutan, diiringi kelembapan yang tinggi, dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh manusia.

BMKG saat ini tengah mengembangkan sistem peringatan dini panas ekstrem yang menggabungkan indikator suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, serta radiasi matahari untuk memberikan informasi risiko kesehatan bagi masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.

Baca: Pemerintah Dinilai Tidak Serius Tangani Pulau Panas Perkotaan

Selain faktor kesehatan individu, risiko paparan panas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kota-kota yang dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi beton dan aspal cenderung menyerap dan menyimpan panas lebih lama.

Kondisi ini memicu fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan), yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya dan meningkatkan risiko heat stress bagi masyarakat.

Executive Director Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan bahwa adaptasi terhadap suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu. Cara rumah, lingkungan, dan kota dirancang turut menentukan tingkat paparan panas yang dialami warga.

Salah satu fenomena yang mendorong peningkatan suhu adalah urban heat island (pulau panas perkotaan) yang memang spesifik terjadi di kawasan perkotaan.

“Fenomena ini muncul akibat ekspansi kota yang ditandai dengan penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas, sehingga suhu meningkat. Di saat yang bersamaan, kondisi tersebut juga memperlambat aliran angin,” ujar Elisa

Ia menambahkan, upaya adaptasi perlu diwujudkan melalui desain bangunan yang lebih responsif terhadap iklim, seperti penerapan pendinginan pasif, penggunaan material yang tidak menyerap panas berlebihan, serta memperbanyak vegetasi dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.

Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu menurunkan suhu lingkungan, tetapi juga mengurangi risiko kesehatan akibat paparan panas ekstrem.

Elisa dan Ardhasena sepakat bahwa menghadapi risiko paparan panas tidak cukup dilakukan melalui perubahan perilaku individu.

Indonesia juga memerlukan sistem peringatan dini yang efektif, edukasi kesehatan masyarakat, serta perencanaan kota yang lebih adaptif agar dampak kesehatan akibat suhu yang terus meningkat dapat diminimalkan.

Mereka menekankan pentingnya peningkatan literasi kesehatan masyarakat, penguatan sistem peringatan dini panas ekstrem, serta pembangunan kota yang lebih adaptif untuk melindungi masyarakat dari dampak paparan panas yang semakin meningkat.

Baca: Wujudkan Hunian dan Kawasan Rendah Emisi Bersama BeCool

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *