Tag: plastik

  • Harga Plastik Naik: Urgensi Tinggalkan Plastik Sekali Pakai dan Beralih ke Sistem Guna Ulang

    Harga Plastik Naik: Urgensi Tinggalkan Plastik Sekali Pakai dan Beralih ke Sistem Guna Ulang

    7cloud.asia – Krisis geopolitik global yang berdampak pada terganggunya pasokan petrokimia dan melonjaknya harga plastik, seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memutus ketergantungan pada plastik.

    Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut, eskalasi konflik di Timur Tengah,  yang menjadi jalur distribusi utama minyak dan bahan baku petrokimia dunia, menunjukkan rapuhnya sistem industri nasional yang bergantung pada impor dan ekonomi linear (ambil-buat-buang).

    Dalam pernyataan persnya pada Senin (6/4/2026), WALHI menyebut gangguan pada pasokan nafta, bahan baku utama industri plastik, saat ini memicu lonjakan harga resin plastik secara global.

    Kenaikan harga polietilena (PE) dan polipropilena (PP) dalam waktu singkat berdampak langsung pada industri kemasan, pedagang kecil, dan konsumen.

    Di pasar domestik, kenaikan harga kantong plastik menekan margin pedagang, memicu kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari, serta memperburuk inflasi.

    Pada saat yang sama, impor plastik yang terus meningkat semakin membebani neraca perdagangan Indonesia dan memperlemah kedaulatan ekonomi nasional.

    Baca: Perang di Timur Tengah memicu kenaikan harga plastik

    Pengkampanye Urban dan Kebijakan Tata Ruang WALHI, Wahyu Eka Styawan mengatakan bahwa krisis ini adalah cermin dari ketergantungan kronis Indonesia pada industri plastik berbasis fosil yang merusak lingkungan dan rentan terhadap krisis global.

    ”Situasi ini hampir pasti akan digunakan sebagai dalih untuk memperluas produksi plastik dan petrokimia domestik, yang justru akan memperbesar kerusakan ekologis,” katanya 

    Wahyu menekankan bahwa respons sempit berupa peningkatan kapasitas produksi petrokimia, substitusi impor, atau mendorong daur ulang semata adalah bentuk solusi palsu yang gagal menjawab akar persoalan.

    Industri plastik sejak awal dirancang untuk konsumsi sekali pakai, menghasilkan limbah dalam jumlah besar, dan menciptakan beban ekologis jangka panjang berupa pencemaran, krisis sampah, serta dampak kesehatan bagi masyarakat.

    Menurut Wahyu, jika negara tetap mempertahankan model ekonomi linear dan hanya memindahkan krisis dari hulu ke hilir dari ekstraksi ke pengelolaan sampah maka kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial akan terus berulang.

    “Deforestasi, pencemaran laut dan daratan, konflik ruang hidup hingga beban kesehatan masyarakat adalah konsekuensi logis dari industri plastik,” lanjut Wahyu.

    Baca: Krisis energi global akibat perang jadi momentum transisi ke energi bersih

    Pada titik inilah agenda zero waste dan ekonomi sirkular menemukan urgensinya. WALHI memandang bahwa mengurangi timbulan sampah di hulu, melalui pengurangan produksi plastik sekali pakai.

    WALHI juga mendorong pengembangan sistem guna ulang, dan perubahan model konsumsi, merupakan strategi paling efektif sekaligus berkeadilan untuk melindungi lingkungan dan rakyat.

    Transisi ini harus dibangun secara demokratis, berbasis potensi wilayah, serta selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

    Sebagai tawaran konkrit, dalam jangka pendek, WALHI mendesak pemerintah memastikan perlindungan terhadap masyarakat kecil dari dampak lonjakan harga plastik dan produk kemasan.

    Pemerintah juga diminta mengalihkan anggaran negara dari proyek-proyek yang tidak menjawab krisis ekologis menuju penguatan sistem produksi dan distribusi yang rendah sampah, inklusif, dan berpihak pada kepentingan publik.

    Baca: Serangan AS-Israel ke Iran memicu bencana lingkungan

    Lalu, dalam jangka panjang, WALHI menilai reformasi kebijakan menjadi keharusan, termasuk penguatan tanggung jawab produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR) yang tidak hanya simbolik.

    Negara harus memastikan produsen bertanggung jawab penuh atas seluruh siklus hidup produk plastiknya, dari tahap desain hingga penarikan kembali kemasan pascakonsumsi.

    Regulasi pembatasan plastik sekali pakai di sektor ritel, hotel, dan restoran juga harus diperluas dan ditegakkan secara konsisten.

    Wahyu menegaskan, krisis plastik di Indonesia bukan sekadar persoalan sampah, tetapi persoalan ketimpangan. Beban pencemaran dan kenaikan harga ditanggung masyarakat luas, sementara keuntungan terbesar dinikmati segelintir korporasi produsen plastik.

    ”Karena itu, solusi berkeadilan bukan menambah beban rakyat, melainkan mengendalikan produksi plastik sejak sumbernya, mengenakan disinsentif bagi produk yang merusak lingkungan, dan mengalihkan dukungan negara kepada sistem guna ulang dan ekonomi rakyat,” tutup Wahyu.

  • Dorong Warga Pilah Sampah dari Sumber, DKI Jakarta Sediakan Drop Box Kemasan Skincare di Halte CSW

    Dorong Warga Pilah Sampah dari Sumber, DKI Jakarta Sediakan Drop Box Kemasan Skincare di Halte CSW

    7cloud.asia – Guna mengatasi masalah timbulan sampah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya memperkuat pengurangan sampah dari sumber.

    Salah satunya melalui penyediaan smart dropbox Paragon Empties Station di Halte Transjakarta CSW yang memungkinkan masyarakat mengumpulkan kemasan bekas produk perawatan diri untuk didaur ulang.

    Inisiatif ini menjadi langkah konkret dalam menjawab meningkatnya volume sampah kemasan, khususnya dari produk personal care yang konsumsi hariannya terus bertambah.

    Dilansir waste4changecom, sebagian besar wadah skincare dan kosmetik umumnya menggunakan jenis plastik berkode 1 (PET; polyethylene terephthalate) dan kode 2 (HDPE; high-density polyethylene) yang dapat didaur ulang.

    Tapi, terkadang ada produk skincare yang menggunakan jenis plastik lain, seperti plastik dengan kode 5 (PP; polypropylene) yang mana daur ulang plastik ini cukup sulit.

    Untuk mengetahui jenis plastik wadah skincare, Anda bisa melihatnya di bagian bawah kemasan, ada logo segitiga daur ulang plastik dan angka.

    Baca: Kenali empat jenis plastik yang dapat didaur ulang

    Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengatakan, keterlibatan sektor industri sangat penting dalam mendorong perubahan pola konsumsi dan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

    “Seiring meningkatnya konsumsi produk perawatan diri, jumlah kemasannya juga terus bertambah. Karena itu, perlu didorong pola konsumsi yang bertanggung jawab, termasuk memastikan kemasan tidak berakhir sebagai sampah,” ungkapnya awal pekan lalu.

    Ia menyampaikan, persoalan sampah di Jakarta masih menjadi tantangan besar yang harus ditangani secara cepat, terarah, dan berkelanjutan. Saat ini, kebijakan pengelolaan sampah semakin difokuskan pada pengurangan dari sumber, bukan hanya penanganan di hilir.

    Dudi menilai, kehadiran Paragon Empties Station dinilai menjadi salah satu solusi praktis yang mendekatkan fasilitas daur ulang ke aktivitas harian masyarakat, sekaligus menjadi sarana edukasi publik.

    “Harapannya, inisiatif seperti ini bisa diikuti pelaku industri lain, sehingga semakin banyak sistem pengumpulan kembali kemasan yang dikelola secara bertanggung jawab dan tidak berakhir di TPST Bantargebang,” ujarnya.

    Baca: Sistem guna ulang jadi solusi terbaik atasi krisis sampah plastik

    Head of CSR and Corporate Communication PT Paragon Technology and Innovation, Suci Hendrina, menjelaskan program ini dirancang untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah kemasan.

    Menariknya, dropbox ini tidak hanya menerima kemasan produk dari Paragon, tetapi juga dari berbagai merek produk perawatan diri lainnya.

    “Hal ini diharapkan dapat mendorong partisipasi masyarakat lebih luas,” ucapnya.

    Suci mengatakan, penempatan di Halte Transjakarta CSW juga dipilih untuk menjangkau mobilitas warga yang tinggi. Sebelumnya, fasilitas serupa telah dihadirkan di sejumlah ruang publik seperti kampus dan masjid.

    “Kalau kita peduli pada penampilan, seharusnya kita juga peduli pada lingkungan. Kami ingin membuat masyarakat semakin mudah mengelola sampah kemasan, sekaligus berkontribusi pada Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tandasnya.