Tag: plastik

  • Plastik Sekali Pakai Dilarang Tapi Styrofoam yang Berbahaya Masih Banjiri Teluk Jakarta

    Plastik Sekali Pakai Dilarang Tapi Styrofoam yang Berbahaya Masih Banjiri Teluk Jakarta

    7cloud.asia – Larangan penggunaan plastik sekali pakai di kawasan DKI Jakarta yang diteken akhir Desember 2019 dan berlaku efektif 1 Juli 2020 dinilai tidak akan efektif mengurangi sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta.

    Penelitian yang dilakukan ilmuwan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Reza Cordova dan Intan Suci Nurhati, yang dipublikasikan 10 Desember 2019 menemukan sampah plastik terbanyak di perairan Jakarta merupakan styrofoam, jenis plastik yang tak dilarang dalam ketentuan baru tersebut.

    Mayoritas atau 59% dari sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta adalah styrofoam berbentuk wadah makanan dan pelindung bagian dalam kardus alat elektronik.

    Reza sebagaimana dikutip BBC Indonesia berkata, kajian itu semestinya menjadi pertimbangan pembentukan Pergub DKI 142/2019 yang diteken Gubernur Anies Baswedan Desember 2022 lalu.

    Sayangnya, larangan itu hanya berlaku untuk kantong belanja berbahan plastik sekali pakai dan belum berlaku untuk styrofoam yang bahayanya tidak kalah dibanding plastik. 

    Kajian yang dilakukan Reza dan Intan dilakukan di sembilan muara suangai di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, selama Juni 2015 hingga Juni 2016. Mereka mengestimasi, setiap hari sampah plastik di perairan itu mencapai sekitar 8,32 ton.
     
    Hasilnya, adalah gugusan pulau sampah yang sangat mencemari air laut. 

    Atas temuan ini, Reza menuturkan, larangan yang dibentuk Pemprov DKI semestinya mencakup beragam jenis plastik.

    Apalagi, kata dia, sampah plastik yang mengalir di sungai-sungai sekitar Jakarta terdiri dari 19 jenis, dari kantong plastik, styrofoam, sedotan, hingga saset.

     

    “Regulasi ini tidak akan signifikan karena sampah yang kami temukan bukan hanya plastik sekali pakai. Harus ada plastik jenis lain yang dilarang, baru hasilnya bisa signifikan,” tutur Reza.

     

    Reza menambahkan, perlu regulasi yang lebih baik agar sampah plastik jenis selain kantong plastik, bisa dilarang. Sampah styrofoam banyak karena bisa pecah menjadi beberapa keping saat terbawa arus. Sebelum menjadi sampah, harusnya styrofoam dilarang.

     

    Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengakui ragam sampah plastik di sekitar ibu kota.

    Meski begitu, larangan kantong plastik sekali pakai diklaim penting diatur lebih dulu demi mengubah pandangan publik terhadap dampak buruk plastik.

    “Pada tahap pertama ini yang kami larang plastik sekali pakai karena itu diproduksi masif dan mempengaruhi gaya hidup masyarakat,” kata Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI, Yogi Ikhwan.

    “Sekarang belanja sedikit pasti pakai kresek. Kebiasaan itu dulu yang ingin kami ubah,” tuturnya.

    Yogi berkata, larangan penggunaan barang berbahan plastik bakal diatur bertahap. Namun ia menyebut tidak ada tenggat waktu untuk memasukkan jenis plastik lain ke dalam peraturan gubernur.

    “Nanti akan ada regulasi terkait yang lain, tapi kampanye awal tujuannya mengubah gaya hidup. Sasaran paling mudah dan yang penggantinya mudah dicari, ya plastik sekali pakai,” kata Yogi.

     

    Baca: Polusi udara sebabkan kematian dini pada 7 juta orang per tahun

    Pergub DKI 142/2019 mendefinisikan kantong kemasan plastik sekali pakai sebagai kantong transparan yang digunakan untuk membungkus dan menjaga sanitasi bahan pangan yang belum terselubung kemasan apapun.

    Menurut Yogi, kantong plastik yang dilarang adalah yang terbuat atau mengandung bahan dasar plastik, polimer thermoplastic, lateks, atau bahan sejenis lainnya yang merupakan polimer turunan hidrokarbon.

    Sementara mayoritas styrofoam yang mendominasi sampah plastik di perairan Jakarta adalah wadah makanan dengan nama ilmiah expanded polystyrene.

    Meski tidak efektif mengurangi volume sampah, Reza menyebut, larangan kantong plastik sekali pakai sebagai upaya positif mengurangi dampak buruk plastik terhadap lingkungan, terutama perairan Jakarta.

    “Semakin banyak Perda yang mengatur hal itu, semakin banyak sampah perusak lingkungan yang dilarang,” ujarnya.

    Namun ia mengingatkan, setiap wilayah punya karakter sampah plastik yang berbeda. Sehingga kebijakan larangan sampah yang dibutuhkan juga berbeda. Ia mencontohkan wilayah Indonesia timur, paling banyak plastik es batu, jadi itu yang harus dilarang lebih dulu di sana.

    “Jakarta baru melarang kantong plastik, tapi diharapkan akan ada jenis lain lagi yang akan dilarang,” kata Reza.

     

    Sikap pengguna 

    Hingga awal 2020, sejumlah pemerintahan provinsi, kabupaten, dan kota telah melarang penggunaan barang berbahan plastik, tapi baru Surabaya, Semarang, Banjarmasin, dan Bandung yang mengharamkan styrofoam.

    Sebagian besar regulasi tentang plastik di beberapa daerah berfokus pada larangan kantong plastik sekali pakai.

     

    Sementara sejumlah pedagang pengguna styrofoam yang dihubungi 7cloud.asia punya pendapat lain. 

    Rae Muiia mengatakan kadang ia memilih menggunakan styrofoam karena tampilannya yang lebih bagus ketimbang menggunakan mika. Sementara dari soal harga, styrofoam lebih murah ketimbang dus kertas.

     

    Selain bungkus makanan, styrofoam selama ini juga digunakan untuk pengepakan barang elektronik. Styrofoam selama ini digunakan sebagai medium pencegah kerusakan barang elektronik selama proses pengiriman dari pabrik ke tangan konsumen.

    Reza Cordova mengatakan, sejumlah penelitian di Indonesia telah menemukan potensi pengganti styrofoam dari bahan baku yang lebih ramah lingkungan atau biofoam.
     

    Bahan alami pembuat biofoam yang pernah ditemukan dan dikaji LIPI itu antara lain ampas tahu serta gabungan pati dan selulosa.

     

    Esti Utami, Dari berbagai sumber

  • 7 Langkah Sederhana Mengelola Sampah Rumah Tangga

    7 Langkah Sederhana Mengelola Sampah Rumah Tangga

    7cloud.asia – Sampah rumah tangga hingga kini masih memegang porsi terbesar dalam produksi sampah di Indonesia. Menurut data SIPSN KLHK dari sekitar 20 juta ton sampah yang diproduksi pada 2022, 39,5 persen di antaranya berasal dari sampah rumah tangga. 

    Kabar baiknya, sebagian besar sampah rumah tangga adalah sampah organik sehingga tidak tergolong bahan berbahaya dan beracun. 

    Namun demikian, jika tidak ditangani dengan baik maka sampah rumah tangga akan menimbulkan masalah serius. Untuk itu, kita bisa mengambil peran dengan mulai mengelola sampah rumah tangga dari rumah.

    Pemerhati lingkungan Wahyutri mengatakan, pengolahan sampah rumah tangga tidak harus selalu dilakukan dengan mesin-mesin berteknologi canggih. Kita dapat mengolah sampah sendiri dengan cara yang sederhana.

    Sampah rumah tangga bisa diolah menjadi pupuk kompos atau barang-barang daur ulang lainnya yang bermanfaat. Dengan cara ini maka secara tidak langsung kita membantu mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir

    Baca: Kearifan lokal warga Bali dalam mengelola sampah rumah tangga

    Simak cara mandiri mengelola sampah rumah tangga sebagaimana disampaikan oleh pemerhati lingkungan dari Wahyutri berikut ini:  

    1. Pilah sampah 

    Langkah pertama dari cara mandiri mengelola sampah rumah tangga adalah dengan memilah sampah. Pisahkan sampah organik yang bisa diurai seperti sisa makanan atau tanaman dengan sampah yang tidak terurai seperti bungkus makanan, pakaian dan sebagainya.

    Untuk itu sediakan minimal dua tempat sampah masing-masing untuk sampah organik dan sampah non organik. 

    2. Kurangi sampah 

    Tahukah kamu bahwa setiap harinya kisa bisa menghasilkan berkilo-kilo sampah? Nah, jika ingin mengurangi sampah atau membantu jalannya proses pengolahan sampah rumah tangga secara mandiri, mulailah dari sendiri untuk mengurangi sampah sesuai kemampuan.

    Hal utama yang bisa dilakukan dimulai dengan mengurangi sampah makanan dengan menghabiskan seluruh makanan yang sudah diambil.

    Di samping itu, kurangi juga konsumsi air mineral dalam kemasan botol dan sebagai gantinya bawa saja tumbler atau botol minum sendiri.

    Baca: Rumitnya mengelola sampah rumah tangga di Jakarta

    3. Terapkan Prinsip 3R

    Prinsip 3R terdiri dari Reuse (penggunaan kembali), Reduce (mengurangi), dan Recycle (mendaur ulang). 3R merupakan perpanjangan tangan dari pemisahan sampah rumah tangga sesuai jenisnya.

    Sebagai contoh, prinsip 3R ini dapat dijalankan dengan cara menggunakan plastik botol air mineral untuk digunakan kembali sebagai vas bunga atau hiasan dinding.

    Intinya, prinsip 3R ini juga mengurangi berakhirnya sampah rumah tangga terutama sampah plastik yang sulit terurai di tempat pembuangan akhir.

    4. Hindari sampah sekali pakai

    Beberapa jenis wadah plastik memang memiliki keterangan untuk dipakai sekali saja. Namun, mengapa harus dipakai sekali saja jika kita memang bisa menggunakannya berkali-kali?

    Manfaatkan plastik yang ada tulisan sekali pakai ini untuk benda-benda lain, seperti untuk menanam bunga dan diisi dengan tanah. Dengan cara sederhana ini, dijamin jumlah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir jadi berkurang.

    Baca: Gaya hidup ramah lingkungan dimulai dengan mengurangi sampah

    5. Olah sampah organik jadi kompos

    Cara pengolahan sampah mandiri bisa dilakukan dengan menyisihkan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk. Jenis pupuk yang diolah dari sampah organik adalah pupuk kompos yang bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman.

    Perlu diketahui, pupuk kompos dari sampah organik ini memiliki aroma yang menyengat. Jika tidak tahan dengan aromanya sebaiknya olah dan berikan kepada kerabat yang berjualan tanaman atau hobi berkebun.

    6. Buat Ecobrick

    Bagi orang awam mungkin kurang memahami arti dari “Ecobrick”. Ecobrik merupakan botol plastik yang diisi dengan limbah non-biological untuk membuat blok bangunan yang nantinya bisa dipakai kembali.

    Ecobrick merupakan cara terbaik mengolah sampah rumah tangga berupa limbah plastik agar tidak berujung pada tempat pembuangan akhir.

    Dengan membuat ecobrick, kita telah melakukan usaha mencegah sampah-sampah di dalam botol plastik melepaskan CO2 dan meningkatkan pemanasan global.

    Ecobrick ini bisa dimanfaatkan untuk membuat furnitur modular, perabotan indoor, dinding struktur, dan masih banyak lagi.

     

    7. Buat Bank Sampah

    Ada banyak cara untuk mengolah sampah rumah tangga secara pribadi, salah satunya dengan menggagas ide bank sampah. Sebagaimana yang kita ketahui, bank sampah adalah tempat pengumpulan sampah rumah tangga baik plastik maupun kertas yang hendak didaur ulang kembali.

    Keuntungan dari bank sampah tidak hanya diperoleh oleh penggagas bank sampahnya sendiri, tapi juga bagi nasabah yang menyetorkan sampah plastiknya. Nasabah juga akan memperoleh uang ketika menyetorkan sampah rumah tangga yang dihasilkannya ke bank sampah ini.

    Jika di lingkunganmu belum ada bank sampah, maka kamu bisa mulai menginisiasinya dengan mengajak warga di sekitarmu. Dengan mulai mengolah sampah rumah tangga kamu telah ikut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

     

     

     

  • Bisa Rusak Ekosistem, Kenali Simbol Daur Ulang dan Jenis Plastik Sebelum Menggunakannya

    Bisa Rusak Ekosistem, Kenali Simbol Daur Ulang dan Jenis Plastik Sebelum Menggunakannya

    7cloud.asia – Sejak ditemukan seabad silam, plastik menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia.

    Plastik digunakan untuk beragam hal seperti botol kemasan, pembungkus makanan, peralatan kebutuhan rumah tangga, peralatan otomotif, wadah penyimpanan, dan berbagai kegunaan lainnya.

    Namun, di balik segudang manfaatnya plastik punya dampak negatif. Ini karena plastik butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai. Sehingga limbah plastik yang dibuang sembarangan juga mengancam keseimbangan ekosistem sungai dan laut. 

    Limbah plastik yang dibuang sembarangan dapat menghambat intensitas resapan air ke dalam tanah.

     

    Alasan inilah yang mendorong dilakukan kampanye besar-besaran untuk meninggalkan  plastik sekali pakai dan mengurangi sebanyak mungkin penggunaan plastik, seiring dengan kampanye untuk mendaur ulang plastik.

    Baca: Cara Coldplay agar turnya ramah lingkungan

    Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana mengenali bahwa plastik yang kita gunakan bisa didaur ulang atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan ini, adalah dengan mengenali simbol-simbol daur ulang yang biasa disematkan produsen dalam produk plastik yang mereka hasilkan.

    Simbol tersebut biasanya berbentuk segitiga dengan angka di dalamnya dan terletak di bagian bawah kemasan plastik. Simbol itu sangat penting untuk mengenali keamanan dan apakah jenis plastik tersebut dapat didaur ulang atau tidak. 

    Beberapa simbol plastik daur ulang yang perlu kita ketahui:

    1. PETE (1)

    Jenis plastik ini hanya bisa digunakan sekali pakai. Tidak disarankan untuk menggunakan berulang kali, terutama mengisinya dengan air hangat karena lapisan polimer dan zat karsinogenik pada plastik dapat larut atau lepas dan menyebabkan kanker pada organ tubuh manusia.

    Sebisa mungkin hindari menggunakan plastik jenis ini, karena menggunakannya berarti kamu akan menambah beban bagi lingkungan.

    Baca: 5 syarat agar sebuah produk masuk kategori ramah lingkungan

    1. HDPE (2)

    Simbol ini digunakan untuk sebuah plastic yang terbuat dari high desity polyethylene yang biasanya digunakan untuk gallon air minum, botol shampo, dan plastik kemasan tebal lainnya.

    Jenis plastik ini termasuk golongan plastik yang cukup aman digunakan berulang kali karena paling sering didaur ulang dengan nilai ekonomi dan proses daur ulang yand sederhana.

    Kamu juga bisa mengumpulkan plastik jenis ini dan memberikannya kepada pemulung untuk didaur ulang.

    1. PVC (3)

    Barang-barang plastik yang terbuat dari plastik polyvinyl chloride ini sering juga disebut dengan “plastik beracun” karena mengandung berbagai macam bahan kimia beracun yang dapat larut dan berbahaya bagi kesehatan.

    Sehingga perlu dihindari menggunakan jenis plastik ini untuk kemasan makanan dan minuman.

    Baca: Aksi lima anak muda asal Bandung ini layak ditiru

    1. LDPE (4)

    Jenis plastik ini terbuat dari bahan low density polyethylene yang bersifat elastis, memiliki daya tahan yang lama dan dapat digunakan untuk berulang kali. Biasanya terdapat pada kantong plastik (kresek), kantong plastik sampah, tas belanja, hingga bungkus makanan.

    1. PP (5)

    Simbol ini digunakan untuk plastik yang terbuat dari polypropylene. Barang plastik dengan simbol ini baik digunakan sebagai tempat makanan maupun minuman karena terbuat dari polypropylene yang sangat kuat dan cukup aman digunakan meski pada suhu yang panas.

    1. PS (6)

    Plastik jenis ini terbuat dari polystyrene yang banyak digunakan sebagai tempat makan syrofoam, tempat telur, sendok/garpu plastik, foam packaging hingga bahan bangunan (bahan flooring). Plastik ini dapat mengeluarkan styrene yang merupakan zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker.

    1. Other (7)

    Penggunaan jenis plastik ini untuk makanan atau minuman sangat berbahaya karena bisa menghasilkan racun Bisphenol-A (BPA) yang bisa menimbulkan kerusakan pada beberapa organ dan menggangu hormone tubuh. Simbol ini biasanya digunakan pada plastic untuk botol minum bayi, botol minum olahraga, smartphone cases, dan compact disk 

    Baca: Tips mudik yang ramah lingkungan

    Itu adalah simbol dan jenis plastik yang perlu diketahui sebelum menggunakannya. Hati-hati ya saat menggunakan kemasan plastik pada makanan/minuman anda. Yuk bersama-sama memulai untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai demi bumi dan lingkungan yang lebih sehat.

    Guna mengurangi dampak negatif dari limbah plastik yang berlebihan, kini muncul berbagai upaya untuk melakukan daur ulang (recycling). Limbah plastik diolah kembali menjadi bahan baru yang bisa digunakan lagi. 

    Ketimbang membuat barang baru, daur ulang plastik akan mengurangi sampah dan polusi, mengurangi penggunaan bahan baku yang diambil dari alam, mengurangi kebutuhan energi dan emisi gas rumah kaca 

     

    Sumber:

    https://zerowaste.id/knowledge/simbol-dan-jenis-plastik/

  • Kaca dan Plastik, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan

    Kaca dan Plastik, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Sejak ditemukan pada abad ke-4 Masehi, penggunaan kaca sebagai wadah penyimpanan terus meluas. Sejarah mencatat ketahanan dan fungsionalitas material kaca sebagai perangkat sehari-hari. 

    Kaca adalah bahan yang berguna untuk segala hal, mulai dari mengawetkan makanan hingga membawa sinyal yang membuat internet bisa bekerja. Kaca juga sering disebut lebih ramah lingkungan.

    Begitu pentingnya kaca dalam pembangunan manusia sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tahun 2022 sebagai Tahun Kaca Internasional, untuk merayakan kontribusi kaca terhadap perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan.

    Kaca terkadang disebut sebagai bahan yang dapat didaur ulang tanpa batas, tanpa memengaruhi kualitas, kemurnian, atau daya tahannya.

    Kaca daur ulang dapat dihancurkan menjadi cullet, yang dapat dilebur dan digunakan untuk menghasilkan lebih banyak kaca.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Kaca yang digunakan untuk kemasan memiliki tingkat daur ulang yang tinggi dibandingkan dengan bahan kemasan lainnya.

    Di Eropa, tingkat daur ulang kaca rata-rata adalah 76%. Sementara tingkat daur ulang kemasan plastik 41% dan kemasan kayu 31%.

    Ketika kaca dibiarkan di lingkungan alami, kecil kemungkinannya menyebabkan polusi daripada plastik.

    Tidak seperti plastik, yang terurai menjadi mikroplastik yang dapat larut ke dalam tanah dan air kita, kaca tidak beracun sehingga lebih ramah lingkungan.

    “Kaca sebagian besar terbuat dari silika, yang merupakan bahan alami,” kata Franziska Trautmann, salah satu pendiri Glass Half Full, sebuah perusahaan yang berbasis di New Orleans.

    Perusahaan itu mendaur ulang kaca menjadi pasir yang dapat digunakan untuk restorasi pantai dan bantuan bencana.

    Silika, yang juga dikenal sebagai silika dioksida, membentuk 59% kerak bumi. Sifatnya sebagai senyawa alami tidak menimbulkan kekhawatiran tentang pencucian atau degradasi lingkungan.

    Baca: Ini yang bisa kita lakukan untuk minimalkan sampah makanan

    Karena itu, kaca sering disebut-sebut sebagai alternatif plastik yang lebih ramah lingkungan. Benarkah demikian? 

     

    Ternyata, botol kaca memiliki jejak ekologi yang lebih tinggi daripada plastik, dan bahan wadah botol lainnya termasuk karton minuman dan kaleng aluminium.

    Penambangan pasir silika dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan, mulai dari kerusakan lahan hingga hilangnya keanekaragaman hayati.

    Pelanggaran hak dasar pekerja juga ditemukan di Shankargarh, India, yang merupakan pemasok terbesar pasir silika untuk industri kaca di negara tersebut.

    Beberapa penelitian juga menunjukkan paparan debu silika (bahan kaca) yang berkepanjangan dapat menimbulkan risiko kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan silikosis akut, yaitu penyakit paru-paru jangka panjang dan tidak dapat disembuhkan yang disebabkan oleh penghirupan debu silika dalam jangka waktu yang lama.

    Gejala awalnya termasuk batuk terus-menerus atau sesak napas – yang dapat mengakibatkan gagal napas.

    Mengekstraksi pasir untuk produksi kaca mungkin juga berkontribusi pada kekurangan pasir global yang terjadi saat ini.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus 

    Pasir adalah sumber daya kedua yang paling banyak digunakan di dunia setelah air – orang menggunakan sekitar 50 miliar ton “agregat”, istilah industri untuk pasir dan kerikil, setiap tahun.

    Kegunaannya berkisar dari regenerasi lahan hingga microchip. Menurut PBB, saat ini penggunaan pasir lebih cepat daripada yang menunggu ‘isi ulangnya’.

     

    Dibandingkan plastik dan aluminium, kaca membutuhkan suhu yang lebih tinggi untuk meleleh dan terbentuk, kata Alice Brock, seorang peneliti PhD di University of Southampton di Inggris.

    Bahan mentah untuk membuat kaca untuk pertama kalinya juga melepaskan gas rumah kaca selama proses peleburan, menambah jejak ekologisnya.

    Menurut International Energy Agency, industri kontainer dan lembaran kaca mengeluarkan lebih dari 60 megaton CO2 per tahun.

    Ini mungkin tampak mengejutkan, tetapi penelitian Brock menemukan botol plastik tidak terlalu merusak lingkungan dibandingkan botol kaca.

    Baca: Kenali jenis-jenis plastik agar tak salah pilih

    Meskipun plastik tidak dapat didaur ulang tanpa henti, proses pembuatannya kurang intensif energi, karena titik leleh plastik lebih rendah dibandingkan dengan kaca.

    Bahan baku kaca dilebur bersama dalam tungku pada suhu 1.500 derajat Celsius. Cairan kaca kemudian dikeluarkan dari tungku, kemudian dibentuk dan dicetak.

    Fasilitas produksi kaca sering menambahkan sebagian cullet kaca daur ulang ke dalam campuran bahan baku.

    Secara umum, peningkatan 10% cullet kaca ke dalam wadah campuran peleburan kaca dapat menurunkan konsumsi energi sebesar 2-3%.

    Ini karena membutuhkan titik leleh yang lebih rendah untuk melelehkan kaca cullet dibandingkan dengan bahan pembuatan pertama yang digunakan untuk memproduksi kaca.

    Sebagai gantinya, proses ini sedikit mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan selama pembuatan.

    Baca: Mengkaji kebijakan larangan plastik sekali pakai

    Masalah utama daur ulang kaca adalah tidak menghilangkan proses peleburan kembali, yang merupakan bagian produksi kaca yang paling intensif energi.

    Proses ini menyumbang 75% dari konsumsi energi selama produksi. Meskipun wadah kaca dapat digunakan kembali rata-rata 12-20 kali, kaca sering diperlakukan sebagai barang sekali pakai.

    Kaca sekali pakai yang dibuang di tempat pembuangan sampah membutuhkan waktu hingga satu juta tahun untuk terurai.

    Tingkat daur ulang kaca sangat bervariasi di seluruh dunia. Uni Eropa dan Inggris memiliki tingkat daur ulang rata-rata 74% dan 76%, sedangkan angka AS adalah 31,3% pada 2018.

    Salah satu alasan angka daur ulang AS yang lebih buruk adalah karena bahan daur ulang biasanya dikumpulkan dalam “aliran tunggal”, yang berarti semua bahan dicampur menjadi satu.

    Daur ulang aliran tunggal seringkali mempersulit proses penyortiran karena kaca harus dipisahkan dari bahan daur ulang lainnya dan disortir berdasarkan warna, sebelum dapat dilebur kembali.

    Baca: Langkah sederhana kelola sampah rumah tangga

    Proses seperti ini seringkali terlalu memakan waktu, dan mahal, untuk memisahkan kaca berwarna campuran di fasilitas daur ulang.

    Alih-alih diubah menjadi botol baru, pecahan kaca campuran diubah menjadi produk serat kaca yang dapat digunakan untuk insulasi. Cullet kaca adalah kualitas tertinggi ketika dipisahkan dari bahan daur ulang lainnya sejak awal – ini dikenal sebagai daur ulang multi-aliran.

    Warna kaca memengaruhi seberapa murni aliran yang dibutuhkan. Kaca berwarna hijau dapat menggunakan 95% kaca daur ulang.

    Sementara kaca bening atau tidak berwarna, yang juga dikenal sebagai “kaca batu”, memiliki spesifikasi kualitas yang lebih tinggi dan hanya mengizinkan hingga 60% kaca daur ulang karena kontaminasi apa pun bisa memengaruhi kualitas.

    Kaca daur ulang harus dilebur dua kali, sekali menjadi cullet dan sekali lagi menjadi produk baru. Itulah sebabnya kaca daur ulang mungkin hanya lebih hemat energi sedikit saja daripada kaca murni.

    Tidak diragukan lagi bahwa kaca masih memainkan peran penting di banyak industri. Daya tahan dan sifatnya yang tidak beracun menjadikannya ideal untuk makanan dan bahan yang perlu diawetkan.

    Namun, anggapan bahwa kaca berkelanjutan hanya karena dapat didaur ulang tanpa batas adalah salah tafsir. Mempertimbangkan seluruh siklus hidupnya, produksi kaca mungkin sama merusak lingkungannya dengan plastik.

    Lain kali, ketika Anda ingin membuang botol kaca, mungkin Anda bisa mempertimbangkan untuk menggunakannya kembali. Kaca adalah bahan yang tangguh dan tahan lama, yang tidak dibuat untuk dibuang setelah hanya digunakan sekali.

    Artikel ini pertama kali terbit di BBC dalam bahasa InggrisGlass or plastic: which is better for the environment? bisa Anda simak di laman BBC Future.

  • 6 Cara Asyik Kurangi Sampah Plastik

    6 Cara Asyik Kurangi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Di balik beragam manfaatnya, plastik terutama plastik sekali pakai ternyata menyimpan banyak hal negatif bagi kelestarian lingkungan.

    Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun. Dan sebagian besar limbah plastik ini berakhir di laut, mencemari dan kemudian meracuni lingkungan.

    Banyak dari kita yang sudah tahu, bahwa sampah plastik butuh waktu ratusan tahun untuk terurai, Sampah yang terurai menjadi mikroplastik kemudian mencemari lingkungan dan bahkan meracuni makhluk hidup termasuk manusia.

    Karena itu, kesadaran untuk menghindari penggunaan plastik secara berlebihan menjadi salah satu solusinya.

    Baca: Kenali jenis plastik biar tak salah pilih

    Selain dimulai dari para individu mengurangi penggunaan plastik juga dibutuhkan dukungan kebijakan pemerintah agar pembatasan penggunaan plastik sekali pakai bisa berlangsung secara massal. 

    Dari sisi produsen juga perlu didorong agar berinovasi untuk mengurangi penggunaan plastik untuk kemasan produk mereka. 

    Namun sebelum semua itu terlaksana, kita sebagai individu bisa mulai melakukan sejumlah langkah kecil yang besar dampaknya bagi lingkungan.

    Baca: Mengapa plastik sekali pakai harus dilarang?

    Berikut sejumlah langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi produksi limbah plastik: 

    1. Bawa Kantong Belanja Sendiri
    Meskipun kantong plastik memang praktis, tapi hal inilah yang membuat sampah pada bumi terus bertumpuk tak terkendali.

    Membawa kantong belanja sendiri saat belanja atau bepergian adalah cara yang paling mudah untuk berkontribusi mengurangi sampah pribadi.

    Baca: Cara ayiik mengolah sampah rumah tangga

    2. Bawa tempat makan dan botol minum 
    Lebih baik menyiapkan air minum dari rumah dengan menggunakan botol minum atau tumbler.

    Kamu juga bisa selalu membawa tempat makan sendiri, sehingga saat beli makan tidak perlu dibungkus.

    Selain bentuk dari peduli terhadap lingkungan, membawa botol minum sendiri juga bisa menghemat uang.

    3. Tidak menggunakan sedotan plastik
    Sedotan plastik memang terlihat remeh. Tapi bayangkan jika ribuan orang yang berfikir seremeh itu?

    Tentulah sangat berdampak bagi lingkungan. Sekarang, mulailah mengganti sedotan plastik dengan sedotan bambu atau kertas yang ramah lingkungan.

    Baca: Benarkah kaca lebih ramah lingkungan?

    4. Hindari beli makanan/minuman kemasan plastik
    Membeli produk dalam kemasan sachet, tapi belilah produk yang dikemas dalam ukuran besar untuk mengurangi sampah.

    Jika memungkinkan, pilih produk yang dikemas dalam botol kaca atau daun.

    5. Beli Produk Isi Ulang

    Saat ini banyak tersedia produk isi ulang, salah satunya Siklus yang melayani pembelian kebutuhan sehari-hari dengan sistem isi ulang. Uniknya, armada Siklus melayani pembeli hingga di depan rumah mereka.

    6. Daur Ulang Sampah Plastik
    Tidak semua plastik bisa didaur ulang. Namun, beberapa barang, seperti botol minuman dan pot tanaman dapat dilakukan proses recycle.

    Kreasikan sampah plastik menjadi hiasan atau barang lain yang dibutuhkan di rumah. Atau kamu bisa memilah sampah plastik lalu menjualnya ke bank sampah. 

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang

  • Mikroplastik Berbahaya untuk Kesehatan, Singkirkan Jauh-jauh dari Anak

    Mikroplastik Berbahaya untuk Kesehatan, Singkirkan Jauh-jauh dari Anak

     

  • Dari Tragedi Teluk Minamata Lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    Dari Tragedi Teluk Minamata Lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    7cloud.asia – Hari ini, Senin 5 Juni 2023) warga dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environmet Day. 

    Tahun ini, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia berfokus pada isu plastik dan solusinya dengan mengusung tagar #BeatPlasticPollution.

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia memiliki makna yang dalam guna membangun kesadaran individu untuk mengambil tindakan nyata demi kelestarian lingkungan dan kehidupan di Bumi.

    Kegiatan untuk merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia antaralain meliputi demonstrasi jalanan dan parade untuk membangun kepedulian pada lingkungan, konser, penanaman pohon, hingga kampanye pembersihan lingkungan.

    Baca: Hari Spesies Terancam Punah

    Di banyak negara, acara tahunan Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga digunakan untuk meningkatkan perhatian dan tindakan politik terhadap perbaikan lingkungan.

    Mengapa Hari Lingkungan Hidup Sedunia dirayakan setiap tanggal 5 Juni? Berikut  sejarah, tema dan logonya.

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya untuk membangkitkan kesadaran tentang pentingnya kelestarian alam serta penghijauan di Bumi.

    Setiap tahunnya ada isu khusus yang berbeda diangkat untuk memperingati Hari Lingkungan Sedunia. 

    Baca: Terdampak perubahan iklim Indonesia bisa klaim dana loss and damage

    Dilansir dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa KLHK, pada 1972, Majelis Umum PBB menyepakati bahwa tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Hal ini menyangkut permasalahan lingkungan yang sudah menjadi perhatian dan kekhawatiran masyarakat internasional.

    Saat itu, Mantan Sekretaris Jenderal PBB mengatakan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia telah terjadi krisis di seluruh penjuru dunia.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Hal ini juga dialami negara maju maupun negara berkembang. Tanda-tanda ancaman terhadap lingkungan ini, dapat dilihat sejak lama antara lain:

    • Ledakan jumlah penduduk
    • Integrasi yang tidak memadai antara teknologi yang amat kuat dengan keperluan lingkungan
    • Kerusakan lahan budidaya
    • Pembangunan tidak berencana dari kawasan perkotaan
    • Menghilangnya ruang terbuka
    • Bahaya kepunahan yang terus meningkat di antara hewan dan tumbuhan
    • Kondisi lingkungan pada 1960-an hingga 1970-an dinilai sangat memprihatinkan hingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat dunia.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing akibat perubahan iklim

    Salah satu masalah lingkungan yang mendorong lahirnya Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah wabah penyakit yang menyerang warga Teluk Minamata Jepang.

    Teluk Minamata adalah saksi sejarah kelam dari dahsyatnya dampak kelalaian manusia dalam menanggulangi pencemaran merkuri.

    Pencemaran merkuri ini salah satunya bersumber dari kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK).  PESK masih mengandalkan merkuri dalam proses ekstraksi emas.

    Minamata merupakan sindrom yang merusak fungsi saraf. Dilansir goldismia.com, ratusan ribu warga Minamata secara misterius mengalami kelumpuhan, gangguan saraf, kanker, bahkan sampai berujung kematian.

    Baca: Mekanisme perdagangan karbon ditataulang, ini tujuannya

    Tidak ada yang menyangka kalau penyakit yang sekarang dinamakan penyakit Minamata ini disebabkan oleh satu zat beracun bernama merkuri.

    Selain itu, di wilayah Eropa terjadi kabut asap yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Asap tersebut diduga merupakan dampak yang ditimbulkan pembakaran hutan di berbagai wilayah untuk pembangunan di tahun 1960.

    Karena berbagai alasan itulah, negara-negara di dunia melalui PBB melaksanakan konferensi terkait lingkungan hidup di Stockholm, Swedia, pada tanggal 5 sampai 16 Juni 1972.

    Negara yang menjadi pengusul pertama diadakannya Hari Lingkungan Hidup Sedunia antara lain Jepang dan Senegal.

    Setelah melakukan diskusi yang panjang, konferensi PBB tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan terkait kondisi lingkungan termasuk menetapkan 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

     

  • Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

    Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

    7cloud.asia – Sejumlah produsen yang menggunakan kemasan plastik mengklaim dan menggencarkan iklan telah menerapkan ekonomi sirkular.

    Namun demikian, klaim perapan ekonomi sirkular ini belum bisa dikatakan benar jika produknya belum menggunakan plastik hasil daur ulang (rPET). Ini karena konsep ekonomi sirkular terbaik adalah model Close Loop atau menjadikan hasil plastik daur ulang kembali sebagai bahan kemasan.

    Demikian salah satu topik yang diangkat dalam webinar bertema “Akuntabilitas Program Pengelolaan Sampah Plastik Produsen” yang diselenggarakan secara daring oleh Aliansi Profesi Jurnalis Indonesia (APJI), Rabu (15/6/2023).

    Ujang Solihin “Uso” Sidik, Kasubdit Tata Laksana Produsen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, penarikan kembali dan daur ulang botol-botol plastik itu merupakan bagian penting dari ekonomi sirkular.

    Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastik

    Menurutnya, langkah ini ada arahan kebijakan atau semacam directive dalam pengelolaan sampah plastik, namun belum secara tegas dinyatakan sebagai mandatory.

    “Tapi, directive ke depan bahwa kemasan-kemasan botol-botol plastik AMDK, baik yang kecil maupun ukuran besar atau galon itu harus mengandung recycle content, harus mengandung bahan daur ulang,” ujarnya.

    Uso menambahkan, di Uni Eropa, tahun depan recycle content itu sudah 25% harus mandatory.

    “Jadi, produk-produk yang berbasis kemasan PET tidak bisa dipasarkan di seluruh negara Eropa kalau tidak mengandung 25% bahan daur ulang di dalam kemasan,” ungkapnya.

    Baca: Pemerintah-produsen dan konsumen harus bahu membahu tangani sampah plastik

    Karena, kata Uso, dalam prinsip pendauran ulang atau recycle, produsen wajib untuk melakukan pendauran ulang produk atau kemasan produk yang mereka hasilkan melalui
    penarikan kembali.

    “Jadi, post costumer packaging itu harus ditarik lagi, dikumpulkan lagi oleh para produsen untuk kemudian masuk ke jalur daur ulang. Tentunya harus dipastikan di awal bahwa kemasan itu memang kemasan yang layak, mudah didaur ulang,” tandasnya.

    Uso menegaskan, ketika bicara daur ulang, yang ideal itu adalah model close loop (botol harus kembali ke botol) dan dan bukan open loop atau down cycle (botolnya dari daur ulang
    menjadi produk lain).

    Dia menyebutkan sudah ada beberapa produsen terutama produsen yang menghasilkan produk minuman dengan wadah kemasan plastik PET yang sudah menerapkan model close loop atau recycle PET.

    Baca: Botol kaca dan botol plastik, mana yang lebih ramah lingkungan?

    “Berdasarkan data kami, yang sudah bergerak ke sana itu Danone Aqua atau Danone Indonesia yang produknya bermerk Aqua. Kemudian yang sudah bergerak ke arah sana juga, tapi ini baru tahap awal atau rencana dan mereka sudah bangun pabrik juga yaitu Coca Cola dengan produk PET. Yang lainnya belum, baru dua itu,” tuturnya.

    Bisuk Abraham Sisungkunon, Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) mengatakan esensi dari ekonomi sirkular kadang
    hanya terbatasi oleh yang namanya pendauran ulang. Padahal, lanjutnya, sebetulnya sirkulasi ekonomi jauh lebih luas.

    “Kita ingin menghasilkan sebuah close loop. Jadi diupayakan agar produsen itu bisa menarik lagi bekas kemasan plastiknya sehingga itu bisa masuk lagi ke dalam siklus produksi. Hal ini
    bisa mengurangi jumlah sampah yang akan tertumpuk di TPS itu akan menjadi lebih sedikit daripada yang sebelumnya,” ujarnya.

    Baca: Robries, cara unik daur ulang sampah plastik

    Guru Besar Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, Mochamad Arief Budihardjo mengatakan, menjadi tantangan bagi industri AMDK untuk menerapkan model close loop sebagai realialisasi ekonomi sirkular.

    Karena, menurutnya, pada saat berbicara tentang close loop, itu akan kembali lagi menjadi sebuah kemasan seperti yang didesain pada awalnya atau air minum menjadi kemasan air minum lagi.

    “Tidak semua industri siap menerapkan konsep ini karena membutuhkan sebuah tantangan. Karenanya perlu mulai dipikirkan bagaimana kita bisa meng-encourage konsumen kita atau pengguna produk ini untuk mengembalikan atau untuk terlibat dalam sebuah close loop system,” ucapnya.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace, menyambut baik dengan adanya dorongan kepada produsen AMDK untuk menerapkan model circular close loop.

    Menurutnya, dengan daur ulang menjadi produk yang sama akan jauh lebih baik karena tidak perlu lagi mencari atau mengambil sumber daya yang baru.

    “Tapi memang pada praktiknya di lapangan tentu ini tidak mudah. Tapi, sebenarnya model sirkuler yang ideal itu adalah ketika didaur ulang yaitu menjadi resource yang sama, itu akan bertahan menjadi satu produk yang sama,” katanya.

    Baca: Plastik ramah lingkungan yang ada di Indonesia

    Reza Andreanto, Ketua Umum PRAISE dan juga Sustainability Manager TetraPak Indonesia bahkan mengutarakan bahwa dalam konteks ekonomi sirkular, model close loop ini levelnya lebih tinggi.

    Tapi, menurutnya, untuk bisa mengarah ke model close loop ini dibutuhkan proses mengingat pengendaliannya di masyarakat itu juga cukup berat.

    “Kalau di lapangan ini tantangan cukup besar sehingga pelaksanaannya tidak bisa diterapkan secara otomatis tapi harus bertahap,” tukasnya.

    Penulis: Charles Maruli Siahaan

  • 50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

    50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

    7cloud.asia – Tahun ini masyarakat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-50 dengan fokus pada solusi polusi plastik. Perayaan resmi Hari Lingkungan Hidup Sedunia diadakan di Abidjan, Pantai Gading.

    Tema solusi untuk polusi plastik pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini dinilai sangat tepat, setelah berakhirnya negosiasi putaran kedua mengenai kesepakatan global untuk mengakhiri polusi plastik di Prancis.

    Umat manusia di seluruh dunia memproduksi lebih dari 430 juta ton plastik setiap tahunnya, dua pertiganya merupakan produk berumur pendek yang segera menjadi limbah.

    Sementara biaya sosial dan ekonomi dari polusi plastik berkisar antara 300 hingga 600 miliar dolar AS per tahun.

    Baca: Baru dua produsen di Indonesia yang benar-benar kelola sampah plastiknya

    Menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) baru-baru ini, polusi plastik dapat berkurang hingga 80 persen pada tahun 2040.

    Hal itu bakal terwujud jika negara dan perusahaan membuat kebijakan mendalam dan ada perubahan mendasar di pasar dengan menggunakan teknologi yang ada.

    “Demi kesehatan planet ini, demi kesehatan kita, demi kemakmuran kita, kita harus mengakhiri polusi plastik. Ini akan memerlukan desain ulang menyeluruh tentang cara kami memproduksi, menggunakan, memulihkan, dan membuang plastik dan produk yang mengandungnya,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

    “Bagaimana dunia memproduksi, mengkonsumsi, dan membuang plastik telah menciptakan bencana. Tapi itu salah satu yang bisa kita akhiri dengan mematikan keran polusi plastik. Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, saya mengajak semua orang untuk bergabung dengan gerakan global. Dan bantu kami mengalahkan polusi plastik, untuk selamanya.”

    Baca: Robries mengubah sampah plastik jadi furnitur cantik

    Selama lima dekade terakhir, Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia telah berkembang menjadi salah satu platform global terbesar untuk lingkungan.

    Puluhan juta orang berpartisipasi dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, baik secara daring maupun melalui berbagai aktivitas, acara, dan tindakan langsung di seluruh dunia.

    “Plastik terbuat dari bahan bakar fosil – semakin banyak plastik yang kita hasilkan, semakin banyak bahan bakar fosil yang kita bakar, dan semakin buruk kita membuat krisis iklim. Tapi kami punya solusinya,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pesan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Ia menambahkan, “Kita harus bekerja sebagai satu kesatuan – pemerintah, perusahaan, dan konsumen – untuk menghentikan ketergantungan terhadap plastik, memperjuangkan nol limbah, dan membangun ekonomi sirkular yang sesungguhnya.”

    Baca: Solusi sampah plastik di Indonesia

    Berbicara pada acara resmi di Espace Latrille Events Deux Plateaux di Abidjan, Jean-Luc Assi, Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan Pantai Gading, mengatakan Pantai Gading mengeluarkan keputusan pada tahun 2013 yang melarang produksi, impor dan pemasaran, kepemilikan dan penggunaan kantong plastik.

    “Ini telah mendukung bisnis untuk beralih ke kemasan yang dapat digunakan kembali dan dapat terurai secara hayati.” ujarnya.

    Kota terbesar di Pantai Gading, Abidjan, juga diarahkan untuk menjadi pusat bagi perusahaan baru yang ingin mengalahkan polusi plastik. 

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    “Hari Lingkungan Hidup Sedunia membantu menyoroti tantangan mendesak yang kita hadapi saat ini. Tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Polusi plastik menyentuh ketiga tantangan tersebut,” kata Vivianne Heijnen, Menteri Lingkungan Hidup Belanda.

    “Sangat penting bagi kami untuk terus meningkatkan kesadaran, mengumpulkan praktik terbaik, dan memastikan komitmen dari semua pemangku kepentingan. Saya berharap edisi Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini akan terbukti menjadi peristiwa penting dalam perjuangan kita bersama untuk mengalahkan polusi plastik.” imbuhnya

    Baca:  KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Upaya mengurangi produksi dan penggunaan plastik juga terus dilakukan. Pada sesi kedua Intergovernmental Negotiating Committee (INC) tentang polusi plastik di Paris, Prancis, Ketua INC diberi mandat untuk menyiapkan draft nol perjanjian internasional yang mengikat secara hukum tentang polusi plastik, termasuk di lingkungan laut.

    Pada bulan Februari 2022, pada sesi kelima Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEA-5.2), sebuah resolusi bersejarah diadopsi untuk mengembangkan instrumen yang mengikat secara hukum internasional tentang polusi plastik, termasuk di lingkungan laut dengan ambisi untuk menyelesaikan negosiasi pada akhir tahun 2024.

    Instrumen tersebut akan didasarkan pada pendekatan komprehensif yang membahas siklus hidup penuh plastik. Sesi ketiga INC akan berlangsung di Nairobi, Kenya, pada November 2023.

    Sumber: UNEP

  • Pentingnya Tindakan Kolektif Tuk Atasi Sampah Plastik yang Mencemari Lingkungan

    Pentingnya Tindakan Kolektif Tuk Atasi Sampah Plastik yang Mencemari Lingkungan

    7cloud.asia – Sekitar 300 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia setiap tahunnya, dan hanya setengahnya yang dapat didaur ulang.

    Banyak orang percaya solusi untuk polusi plastik global adalah dengan mengurangi jumlah plastik yang digunakan. Namun, beberapa masalah lingkungan muncul dengan asumsi luas ini.

    Pertama, pengurangan produksi plastik tidak mengatasi masalah plastik yang sudah telanjur mencemari lingkugan khususnya perairan/laut.

    Kedua, kebijakan saat ini belum efektif terhadap produksi plastik. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa produksi justru meningkat, dan diproyeksikan akan terus meningkat.

    Tapi harapan belum hilang, dan tentunya belum terlambat untuk melakukan tindakan terkait sampah plastik ini.

    Baca: Beragam teknologi untuk tangani masalah sampah plastik

    Meskipun ada cara di mana individu dapat mengurangi penggunaan plastik dalam aktivitas sehari-hari, sains dan teknologi telah memungkinkan kita untuk mendorong batasan dari apa yang mungkin kita pikirkan. 

    Tindakan kolektif penting untuk atasi masalah sampah plastik ini. Seperti yang pernah dilakukan pada 1987 untuk atasi kebocoran Ozon. Protokol Montreal diperkenalkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut yang disebabkan bocornya lapisan ozon Bumi.

    Selama periode waktu tertentu, umat manusia mampu menghilangkan lebih dari 98% zat berbahaya yang menyebabkan kerusakan, sebagai akibatnya mencegah sekitar 2 juta kasus kanker kulit.

    Jika dunia bisa bersatu seperti pada tahun 1987, maka kita bisa bersama-sama mengatasi masalah polusi plastik yang kini telah sangat meresahkan.

    Baca: Robries, memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Sebuah studi oleh Institut Nicholas mengatasi kesenjangan antara pengetahuan teknologi untuk mengatasi polusi plastik.

    Penelitian ini menciptakan inventarisasi komprehensif dari 52 teknologi yang saat ini sedang digunakan atau sedang dikembangkan untuk mencegah kebocoran polusi plastik atau mengumpulkan polusi plastik yang ada.

    Studi tersebut menyimpulkan bahwa mencegah plastik memasuki saluran air dan mengumpulkan plastik yang mencemari laut/perairan mendesak dilakukan guna memastikan perawatan sistem perairan dan kesehatan manusia.

    Dua contoh dari daftar ini termasuk Plastic Fischer Trash Boom dan Hoola One. Yang pertama dibuat di Jerman pada tahun 2019, yang teknologinya bertujuan untuk mengumpulkan mikroplastik dari air.

    Baca: Mengenal bioplastik, plastik yang disebut ramah lingkungan

    Sedangkan yang kedua adalah Hoola One adalah ruang hampa yang dibuat di Kanada pada tahun 2019, yang dimaksudkan untuk mengekstraksi mikroplastik dan makroplastik dari lingkungan laut.

    Selain inovasi atau pengembangan teknologi, untuk menggarap atau menyelesaikan masalah sampah plastik ini juga butuh political will atau kebijakan masing-masing negara untuk mengurangi sampah plastik.

    Salah satunya terwujud dalam kebijakan sosial plastik. Di mana ada perusahaan sosial yang dikenal sebagai bank plastik yang membayar tarif di atas harga pasar untuk sampah plastik.

    Bank plastik ini bertindak sebagai toko serba ada bagi masyarakat miskin dunia, dan menerima sampah plastik sebagai bentuk mata uang.

    Baca: Pandawara berhasil gerakkan seribu orang bersihkan pantai terkotor di Indonesia

    Ekosistem daur ulang mereka dipertahankan melalui penjualan dan penggunaan apa yang mereka sebut “Social Plastic®”.

    Hal ini mendorong orang untuk mengumpulkan plastik yang terikat di laut sebelum memasuki saluran air.

    Selanjutnya plastik ini dapat diperdagangkan untuk keuntungan sosial, termasuk uang, makanan, dan layanan lainnya (seperti biaya sekolah).

    Bank plastik bertujuan membuat plastik terlalu berharga untuk dibuang. Setelah terkumpul, sampah plastik kemudian akan dijual ke perusahaan, yang akan membayar sekitar tiga kali lipat dari harga plastik biasanya.

    Baca: Mengurangi sampah plastik dengan produk isi ulang dari Siklus

    Sumber: earth.org