Tag: kota

  • Terinspirasi Novel Pramoedya Ananta Toer, Kawula 17 Gelar Festival Rumah Kaca

    Terinspirasi Novel Pramoedya Ananta Toer, Kawula 17 Gelar Festival Rumah Kaca

    7cloud.asia – Novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer menjadi inspirasi banyak orang, tak terkecuali Kawula 17. Organisasi ini menggelar Festival Rumah Kaca untuk mengajak generasi muda dapat lebih peduli dengan lingkungan.

    Melalui festival yang digelar pada Sabtu (13/12/12) ini, para generasi muda tidak hanya diajak berdiskusi, tetapi mereka akan diajak berpartisipasi aktif dalam mengawal isu-isu lingkungan.  

    Ketua panitia, Hendra menjelaskan dalam buku Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer, dianalogikan masyarakat Indonesia saat itu ditempatkan dalam sebuah rumah kaca dimana pemerintah kolonial mengawasi segala gerak gerik masyarakat Indonesia.

    Baca: Emisi Gas Rumah Kaca Global Akan Turun 12 Persen pada 2035

    “Analogi tersebut kita coba balik dalam festival ini dengan menempatkan pihak-pihak yang memiliki kemampuan dalam memutuskan kebijakan, kami tempatkan dalam rumah kaca,” jelas Hendra.

    “Jadi kita warga, masyarakat, orang muda khususnya menjadi pihak yang mengawasi setiap program yang diputuskan terkait dengan krisis iklim yang terdampak ke kami orang muda,” lanjutnya.

    Sementara Program Manager Kawula17, Maria Angelica, menjelaskan Festival Rumah Kaca ini sebagai ruang edukatif dan reflektif bagi orang muda untuk memahami krisis iklim dalam konteks kehidupan sehari-hari.

    Baca: Emisi Gas Rumah Kaca 2024 Jauh Melampaui Target Perjanjian Paris

    Selain itu juga membangun kapasitas mereka agar lebih tangguh, kritis, dan berani bersuara dalam mengawal kebijakan pemerintah.

    “Suara orang muda akan menjadi bermakna bila dijadikan pertimbangan utama dalam kebijakan yang memengaruhi masa depan kita, termasuk kebijakan iklim. Festival ini adalah langkah konkret untuk memastikan suara itu tidak hanya didengar, tapi diperhitungkan,” tutup Angelica.

    Baca: 6 Isu Utama Dalam Penyelenggaraan COP 30

    Acara yang digelar di M Bloc Live House ini mengajak pengunjung melihat barang-barang yang dipamerkan dari 24 mitra komunitas dan 24 kolaborator.

    Para pengunjung yang datang juga dapat mengikuti diskusi yang mengangkat tema lingkungan dan perubahan iklim.

    Para pengunjung  dapat mengikuti berbagai games dengan hadiah menarik serta dihibur dengan pentas musik.

  • Cuaca Hari Ini: Bali dan Sejumlah Kota Berpotensi Terjadi Hujan Disertai Petir

    Cuaca Hari Ini: Bali dan Sejumlah Kota Berpotensi Terjadi Hujan Disertai Petir

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan disertai petir akan melanda sejumlah kota di Indonesia pada Selasa (16/12/2025). Diantaranya adalah Kota Denpasar.

    Dalam akun youtube resmi BMKG, hujan disertai petir berpeluang pula menda Kota Tanjung Pinang, Tanjung Selor, Samarinda, Mamuju dan Kendari.  

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Pekanbaru, Ambon dan Nabire.

    Sedangkan hujan berintensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Banda Aceh, Medan, Padang, Bengkulu, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya.

    Kondisi cuaca seperti ini berpeluang pula terjadi di Kota Palangkaraya, Banjarmasin, Kupang, Makassar, Palu, Manado, Ternate, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.

    BMKG mengajak masyarakat yang berada di wilayah Bali, Banten, Jawa Timur untuk mewaspadai potensi angin kencang.

     

  • Mulai Tahun 2026 Pengelolaan Sampah Organik di Kota Yogyakarta Akan Diselesaikan di Tingkat Kelurahan

    Mulai Tahun 2026 Pengelolaan Sampah Organik di Kota Yogyakarta Akan Diselesaikan di Tingkat Kelurahan

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah organik di Kota Yogyakarta akan sepenuhnya diselesaikan di tingkat kelurahan mulai 2026. Kebijakan tersebut menjadi fokus utama rapat koordinasi pengelolaan sampah yang digelar Senin (15/12/2025) di Balai Kota.

    Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menegaskan bahwa unit pengelolaan sampah (UPS) tidak akan lagi menerima sampah organik, sehingga seluruh wilayah harus menyiapkan sistem pengelolaan mandiri.

    Pengelolaan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan berbagai potensi di tingkat kelurahan, termasuk titik temu para petugas pemungut sampah atau lebih dikenal dengan penggerobak sampah.

    “Tahun 2026 UPS sudah tidak menerima sampah organik. Maka sampah organik harus selesai di kelurahan. Kita manfaatkan meeting point penggerobak, dan setiap penggerobak kita dorong memiliki satu biopori untuk mengelola sampah organik,” ujar Hasto dilansir yogyakarta.go.id

    Ia menekankan pentingnya memastikan tidak ada lagi sampah organik, baik basah maupun kering, yang masuk ke depo maupun unit pengelolaan sampah.

    Baca: Kota Yogyakarta bakal membuat 60 biopori jumbo untuk pengelolaan sampah organik

    Untuk sampah organik kering yang masih dapat dimanfaatkan, pemilahan tetap dilakukan dan dikumpulkan di satu titik, seperti Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) atau kantor kelurahan, sebelum dijemput oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

    “Sampah organik kering masih bisa dipilah dan dikumpulkan di satu titik. Nanti DLH yang akan menjemput. Yang penting tidak ada lagi sampah organik yang masuk ke depo. Saya yakin kalau sampah itu terpilah volume yang sampai ke hilir akan berkurang signifikan,” tegasnya.

    Hasto juga mendorong para pemimpin wilayah agar bersikap persuasif dan aktif mencari terobosan dalam pengelolaan sampah.

    Salah satu langkah yang terus dioptimalkan adalah penggunaan biopori jumbo secara komunal, baik melalui dukungan anggaran APBD maupun skema Corporate Social Responsibility (CSR).

    Menurutnya, tantangan terbesar pengelolaan sampah terletak pada perubahan perilaku masyarakat. Karena itu, rekonstruksi sosial menjadi kunci utama dalam membangun kesadaran kolektif warga.

    Baca: Kota Yogyakarta gandeng BRIN untuk atasi masalah pengelolaan sampah

    “Sampah ini belum selesai dan tugasnya tidak ringan karena yang kita ubah adalah perilaku masyarakat. Mengubah perilaku itu tidak mudah, yang kita lakukan adalah rekonstruksi sosial, dan itu membutuhkan ketekunan, kesabaran, serta harus dilakukan terus-menerus,” katanya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Rajwan Taufiq menyampaikan bahwa saat ini pihaknya mulai memperketat kebijakan tidak menerima sampah organik di depo maupun unit pengelolaan sampah.

    Meski masih ada toleransi selama sekitar dua minggu untuk masa penyesuaian, ke depan kebijakan tersebut akan diterapkan secara tegas.

    “Baik depo maupun unit pengelolaan sampah tidak menerima sampah organik. Kalau sekarang masih ada, itu hanya toleransi sekitar dua minggu untuk pengetatan,” jelas Rajwan.

    Ia menjelaskan bahwa DLH telah menyiapkan sejumlah langkah konkret, antara lain pendistribusian ember pengelolaan sampah organik yang saat ini telah mencapai sekitar seribu unit.

    Selain itu, Pemkot Yogyakarta terus mendorong pembuatan biopori jumbo dengan target satu biopori untuk setiap dua RT.

    “Saat ini sudah ada sekitar 800 biopori jumbo. Sampah organik dimasukkan ke biopori tersebut, selain pengelolaan berbasis rumah tangga melalui ember,” ungkapnya.

  • Kegagalan Kebijakan Tata Ruang Perburuk Banjir Rob di Jakarta, Semarang dan Surabaya

    Kegagalan Kebijakan Tata Ruang Perburuk Banjir Rob di Jakarta, Semarang dan Surabaya

    7cloud.asia – Banjir rob yang terus berulang di pesisir utara Jawa khususnya Jakarta, Semarang, dan Surabaya bukan semata persoalan teknis pasang air laut, melainkan dampak langsung dari gagalnya kebijakan pemerintah pusat dalam penataan ruang dan mitigasi krisis iklim.

    Dalam pernyataannya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengatakan, selama ini pemerintah terlalu mengandalkan betonisasi, reklamasi, dan pembangunan infrastruktur besar sebagai solusi.

    Pada Desember 2025, rob meluas seiring puncak fenomena pasang anomali 18,6 tahunan (highest anomaly tides) yang menyebabkan air laut lebih tinggi, deras, dan bertahan lebih lama. Persoalan pasang ekstrem bukan akar persoalan utama.

    Rob terjadi akibat kombinasi salah urus tata ruang, hilangnya kawasan hijau pesisir, eksploitasi air tanah yang memicu penurunan muka tanah, serta tekanan krisis iklim.

    Wahyu Eka Styawan Manajer Kampanye Perkotaan Berkeadilan Eksekutif Nasional WALHI menjelaskan, kota-kota besar di pesisir utara Jawa seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya menjadi wilayah paling rentan.

    Dalam satu dekade terakhir, Jakarta dan Semarang telah menjadi langganan rob, bahkan menyebabkan kampung-kampung pesisir perlahan tenggelam.

    Baca: Dampak perubahan iklim sudah nyata

    Surabaya juga menghadapi ancaman serupa, ditandai dengan abrasi pesisir dan semakin seringnya genangan rob di kampung nelayan sepanjang Selat Madura.

    Temuan WALHI dalam sebulan terakhir menunjukkan krisis rob di kota-kota pesisir di Pulau Jawa semakin serius.

    Jakarta kembali tergenang pada awal Desember 2025 ketika puluhan RT di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu terdampak, seiring penurunan muka tanah yang membuat sebagian wilayah kini berada 1–1,5 meter di bawah permukaan laut dan melemahkan efektivitas infrastruktur pertahanan pantai.

    Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi di Semarang, di mana penurunan tanah yang sangat cepat telah mendorong pergeseran garis pantai Semarang–Demak lebih dari lima kilometer ke arah daratan sejak akhir 1990-an, menjadikan rob tidak lagi bersifat musiman, tetapi permanen di sejumlah kawasan.

    Surabaya pun menghadapi ancaman serupa, terutama di kawasan industri dan pelabuhan, akibat penurunan tanah dan ketergantungan tinggi pada air tanah, yang memperbesar risiko rob saat muka laut sedikit melampaui pasang normal.

    Pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), dalam upaya mengatasi rob di pantai utara Jawa merekomendasikan percepatan pembangunan infrastruktur.

    Baca: Kenaikan permukaan air laut dan perubahan iklim perburuk banjir rob di Jakarta

    Pemerintah mendorong pembangunan tanggul, sistem drainase terpadu, serta normalisasi sungai, termasuk mendukung rencana pembangunan giant sea wall untuk mengantisipasi banjir rob.

    Wahyu menilai, rekomendasi pemerintah pusat terkait percepatan pembangunan tanggul, normalisasi sungai, dan giant sea wall tidak menyentuh akar persoalan. Krisis rob menunjukkan gagalnya kebijakan tata ruang yang tidak berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan.

    “PERDA RTRW Jakarta, Semarang, dan Surabaya juga belum secara memadai membahas rob sebagai persoalan struktural akibat penurunan tanah dan pembangunan masif,” jelas Wahyu.

    Karena itu, WALHI mendesak pemerintah pusat untuk segera mengevaluasi kebijakan penataan ruang, termasuk dampak Undang-Undang Cipta Kerja yang mendorong sentralisasi tata ruang.

    Revisi Perda RTRW harus menitikberatkan pada perlindungan dan pemulihan kawasan pesisir, pengendalian air tanah secara ketat, penghentian pembangunan yang memperparah subsiden, serta pemulihan ekosistem pesisir.

    WALHI juga menegaskan perlunya menghentikan proyek giant sea wall dan reklamasi yang berisiko memperburuk kondisi pesisir, alih-alih menjadi solusi menghadapi kenaikan muka air laut.

  • Cuaca Hari Ini: Hujan Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, BMKG Keluarkan Status SIAGA

    Cuaca Hari Ini: Hujan Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, BMKG Keluarkan Status SIAGA

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia pada Senin (22/12/2025). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menatpakan status SIAGA.

    Dalam akun instagram (IG) resmi BMKG, status SIAGA ini mencakup wilayah Majalengka, Kuningan, Kabupaten Tasikmalaya, Situbondo, Pasuruan, Bima, Lombok Timur.

    Selain itu, Kota Kupang,, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Alor, Lembata, Flores Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao, Sumba Timur, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya juga berstatus SIAGA.

    Untuk wilayah lainnya BMKG memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara.

    Wilayah Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua , dan Papua Selatan juga berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

  • Cuaca Hari Ini: Termasuk Manado, Sejumlah Kota Berpotensi Hujan Disertai Petir

    Cuaca Hari Ini: Termasuk Manado, Sejumlah Kota Berpotensi Hujan Disertai Petir

    7cloud.asia – Kondisi hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Manado dan sejumlah kota lainnya di Indonesia pada Selasa (23/12/2025).

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hujan disertai petir juga berpotensi melanda Kota Bandar Lampung, Palangkaraya, Tanjung Selor dan Kupang.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Bengkulu, Semarang, Mamuju dan Merauke.

    Sedangkan hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Tanjung Pinang, Padang, Palembang, Serang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Manokwari, Nabire, Jayawijaya dan Jayapura.

    BMKG juga mengajak masyarakat yang berada di wilayah Jawa Timur dan Maluku untuk mewaspadai potensi angin kencang dengan kecepatan 45 km/jam atau 25 knot.

    Tak hanya di daratan, hujan berintensitas lebat di wilayah perairan berpotensi terjadi di  Selat Malaka bagian utara, Selat Malaka bagian tengah, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Lampung.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula melanda Samudra Hindia selatan Banten hingga selatan Jawa Tengah, Samudra Hindia selatan DI Yogyakarta, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, Laut Natuna Utara, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Bali.

    Selain itu Laut Sumbawa, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Sulawesi bagian timur, Laut Arafuru, Laut Maluku, Samudra Pasifik utara Maluku, Samudra Pasifik utara Papua Barat dan Samudra Pasifik utara Papua juga berpotensi hujan lebat.

     

  • BMKG Prediksi Intensitas Hujan Menurun Hingga Jelang Tahun Baru

    BMKG Prediksi Intensitas Hujan Menurun Hingga Jelang Tahun Baru

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi intensitas hujan di seluruh wilayah Indonesia saat ini mulai menurun hingga 29 Desember nanti.  

    Deputi Bidang Meteorologi pada BMKG, Guswanto mengatakan, meski intensitas hujan mulai menurun tetapi masyarakat yang akan berlibur tetap memperhatikan kondisi cuaca.

    “Tanggal 23 sampai 29 (Desember) ini intensitas hujan mulai menurun dan agak tenang,” kata Guswanto.

    Namun setelah atanggal 29 Desember hingga 10 Januari, terjadi peningkatan intensitas hujan terutama pada sore menjelang malam hari.

    Baca: Hujan Lebat Guyur Sejumlah Wilayah, BMKG Tetapkan Status SIAGA

    Bahkan beberapa wilayah Sumatera sebelah selatan ekuator seperti Bandar Lampung, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Papua Selatan dan Laut Arafuru berpotensi terjadi cuaca ekstrem.

    Sementara untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi puncak musim hujan diprediksi terjadi pada bulan Januari dan Februari.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, Guswanto mengajak masyarakat untuk memperhatikan peringatan dini cuaca yang dikeluarkan BMKG.

    Baca: Delapan Hari Sebelum Terjadi Bencana, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    “Tolong buka peringatan dini cuaca. Kayak mau ke pantai misalnya ke Parangtritis tolong buka dulu tinggi gelombang brp sih. Itu nanti kita aman. Misalnya tinggi gelombang 0,5 meter itu aman,” jelas Guswanto.

    “Begitu juga yang liburan di perbukitan atau lereng. Kalau prediksi hujan ya pending dulu. Cari lokasi yang aman dari cuaca ekstrem,” lanjutnya.

    Sementara untuk wilayah Jabodetabek, pihaknya tetap memantau kondisi cuaca pada malam pergantian tahun.

    Bahkan jika ada potensi cuaca ekstrem, BMKG bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana siap melakukan modifikasi cuaca.

  • Cuaca Hari Ini: Waspada, Hujan Sangat Lebat Berpotensi Guyur sejumlah Wilayah Termasuk Jawa Barat

    Cuaca Hari Ini: Waspada, Hujan Sangat Lebat Berpotensi Guyur sejumlah Wilayah Termasuk Jawa Barat

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Barat pada Jumat (26/12/2025).

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi pula mengguyur wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Barat.

    Sementara wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Jakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, berpotensi terjadi hujan berintensitas sedang hingga lebat.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, dan Papua.

    BMKG juga mengajak masyarakat untuk mewaspadai potensi angin kencang dengan kecepatan 45 km/jam atau 25 knot yang berpeluang melanda wilayah Jawa Timur, Lampung dan Maluku.

  • Pemkot Bandung Ajukan Tambahan Anggaran Rp90 Miliar untuk Penanganan Sampah

    Pemkot Bandung Ajukan Tambahan Anggaran Rp90 Miliar untuk Penanganan Sampah

    7cloud.asia – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan anggaran tambahan sebesar Rp90 miliar untuk penanganan sampah di kota tersebut.

    Saat ini, Pemkot Bandung tengah menunggu persetujuan Gubernur Jawa Barat, untuk dimungkinkan adanya pergeseran anggaran untuk pengelolaan sampah.

    Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut, tanpa persetujuan tambahan anggaran tersebut, Kota Bandung berpotensi mengalami krisis sampah mulai pertengahan Januari 2026.

    “Kalau tidak disetujui, tanggal 12 Januari kita mulai menghadapi krisis sampah. Kalau dibiarkan, bulan April bisa menjadi bencana sampah,” ujar Farhan dalam keterangan tertulis Kamis (25/12/2025).

    Ia menjelaskan, Pemkot Bandung hanya memiliki waktu sekitar 10 hari hingga dua minggu untuk memastikan langkah-langkah penanganan dilakukan secara bertahap dan terukur.

    Penanganan sampah di kota Bandung menjadi masalah serius akibat kuota Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang makin dibatasi.

    Baca: Penanganan darurat sampah di Tangerang Selatan

    Kondisi ini mendorong Pemkot Bandung menerapkan solusi darurat seperti penambahan insinerator, petugas pemilah sampah (Gaslah) di tingkat RW, dan pengolahan sampah organik di kelurahan.

    Pemkot Bandung juga mendorong partisipasi warga untuk memilah sampah dari rumah agar timbulan sampah yang dibuang ke TPA berkurang dan krisis sampah bisa teratasi, dengan target mandiri pengelolaan sampah pada 2026.

    Kota Bandung menghasilkan timbulan sampah sekitar 1.500 ton per hari, mayoritas sisa makanan dan plastik. Sementara Kota Bandung hanya diizinkan membuang sekitar 868-980 ton per hari ke TPA Sarimukti.

    Pembatasan ini menyebabkan ratusan ton yang harus diolah, dan mengakibatkan penumpukan sampah di TPS dan pinggir jalan, menimbulkan bau dan lalat.

    Anggaran lainnya
    Selain masalah penanganan sampah, Farhan juga menjelaskan perbaikan jalan yang dianggarkan sebesar Rp170 miliar.

    Namun jika digabung dengan pembangunan trotoar, drainase, penerangan jalan umum, hingga penataan kabel bawah tanah, total anggaran infrastruktur mencapai sekitar Rp400 miliar.

    Baca: Inovasi anak muda Padangmukti Bandung dalam mengolah sampah

    “Kalau dihitung keseluruhan, itu mendekati 7-10 persen dari anggaran. Target 8 persen akan kami kejar pada perubahan anggaran,” ujarnya.

    Perlu diketahui beberapa hari sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi melakukan evaluasi terhadap APBD Kota Bandung tahun 2026. Saat itu Dedi memberikan sejumlah masukan.

    Terkait hal itu, menurut Farhan, seluruh hasil evaluasi dan rencana penyesuaian anggaran tetap akan dikomunikasikan dan dibahas bersama DPRD sesuai mekanisme yang berlaku.

    Termasuk juga terkait dana hibah. Farhan menegaskan kebijakan evaluasi bukanlah pengurangan, melainkan penataan ulang.

    Dana hibah tersebut selama ini mayoritas dialokasikan untuk kesejahteraan guru PAUD, SD, dan SMP swasta, termasuk tenaga non-ASN.

    “Pesan Pak Gubernur jelas, bukan dikurangi tapi ditata ulang. Itu yang akan kami lakukan,” katanya.

    Baca: DKI Jakarta punya pusat daur ulang sampah berkapasitas 8-10 ton/hari

  • 10 Kota di Indonesia yang Cocok untuk Jalani Gaya Hidup Slow Living

    10 Kota di Indonesia yang Cocok untuk Jalani Gaya Hidup Slow Living

    7cloud.asia – Jika Anda mulai merasa lelah dengan kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan di kota besar, mungkin saatnya mempertimbangkan menjalani hidup dengan konsep slow living.

    Ya, di tengah hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, tren slow living mulai mendapat tempat di hati banyak orang.

    Konsep hidup ini mengajarkan kita untuk memperlambat ritme kehidupan, lebih menikmati momen kecil, dan menyeimbangkan antara pekerjaan dengan kebahagiaan pribadi. Jauh dari kata-kata terburu-buru dan bebas dari kejaran target dan keinginan, itulah esensi slow living.

    Untuk menjalani slow living kita hanya perlu memperlambat langkah, mengurangi keinginan, menarik napas dalam, dan menikmati setiap momen yang terjadi setiap harinya.

    Namun, gaya hidup slow living bukan berarti meninggalkan modernitas sepenuhnya. Slow living adalah cara untuk menata ulang prioritas hidup, memilih kualitas dibanding kuantitas, ketenangan dibanding kesibukan tanpa arah.

    Slow living bukan berarti malas-malasan, melainkan bergerak dengan kesadaran. Jika Anda tertarik menjalani konsep slow living, Indonesia, dengan keberagaman budaya dan alamnya, memiliki banyak kota yang cocok untuk gaya hidup slow living ini.

    Entah itu di Ubud yang spiritual, Yogyakarta yang hangat, atau Malang yang sejuk, setiap kota menawarkan versi ketenangan yang berbeda. Berikut 10 kota terbaik di Indonesia untuk menjalani gaya hidup slow living, yang kami rangkum dari berbagai sumber.

    Sepuluh kota ini menunjukkan bahwa Indonesia punya banyak tempat yang bisa menjadi pelarian dari hiruk-pikuk dunia modern, tanpa harus kehilangan kenyamanan dan produktivitas.

    Baca: Menatap 2026 dengan gaya hidup slow living

    1. Ubud, Bali
    Ubud sering disebut sebagai jantung spiritual Bali. Dikelilingi oleh sawah hijau, sungai, dan hutan tropis, Ubud menjadi magnet bagi mereka yang ingin menjalani hidup yang lebih sadar dan selaras dengan alam.

    Banyak yang datang ke Ubud yang sering disebut sebagai pusat spiritualitas dan ketenangan alam untuk healing, meditasi, atau sekadar menikmati suasana damai di kafe berkonsep eco-friendly.

    Selain itu, komunitas digital nomad dan pekerja lepas juga tumbuh pesat di Ubud, menjadikannya tempat ideal bagi mereka yang ingin tetap produktif tanpa meninggalkan ketenangan.

    Dengan banyaknya yoga retreat, restoran organik, dan galeri seni, Ubud menawarkan keseimbangan antara spiritualitas dan kehidupan modern yang harmonis.

    2. Yogyakarta
    Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar, tapi juga kota yang penuh nilai budaya dan kesederhanaan. Kota Yogyakarta selalu menawarkan kehangatan yang penuh Makna

    Warga Yogyakarta hidup dengan tempo yang lebih pelan dibandingkan kota besar lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi guyub (kebersamaan) dan keikhlasan dalam keseharian.

    Kehidupan di Yogyakarta terasa lebih tenang, dengan biaya hidup yang terjangkau dan akses mudah ke alam seperti Kaliurang atau Pantai Parangtritis.

    Sore hari bisa dihabiskan menikmati kopi di angkringan sambil berbincang santai, sebuah kemewahan sederhana yang sering hilang di kota metropolitan.

    Baca: Menerapkan slow living di dunia kerja yang sibuk

    3. Malang
    Terletak di dataran tinggi Jawa Timur, Malang menawarkan kesejukan udara, keindahan alam dan kedamaian yang membuat siapa pun betah berlama-lama.

    Kota ini dikelilingi oleh pegunungan dan kebun apel yang asri, menjadikannya tempat sempurna untuk menjalani gaya hidup slow living.

    Penduduk Malang dikenal ramah dan santun. Aktivitas di sini tidak seramai Surabaya atau Jakarta, namun tetap ada fasilitas lengkap seperti kampus, kafe, dan tempat wisata.

    Bagi mereka yang ingin bekerja dari jarak jauh atau menikmati masa pensiun dengan tenang, Malang bisa menjadi pilihan ideal.

    4. Bandung
    Meski Bandung dikenal sebagai kota besar, beberapa wilayahnya seperti Lembang, Dago Pakar, dan Punclut masih menyimpan ketenangan yang cocok untuk slow living.

    Di sini, udara pegunungan berpadu dengan budaya kreatif khas anak muda yang menguarkan energi tenang

    Kehidupan di Bandung bisa diatur dengan seimbang: pagi menikmati kopi di kafe kecil, siang bekerja di co-working space, dan sore bersantai menikmati matahari terbenam di dataran tinggi.

    Kota Bandung memadukan sisi modern dan alam secara harmonis, cocok untuk mereka yang ingin produktif tanpa kehilangan ketenangan batin.

    Baca: Menjalani hari secara slow living

    5. Solo 
    Solo adalah kota yang mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa dengan sangat kuat. Slogan “Solo The Spirit of Java” bukan sekadar kata-kata; warganya benar-benar hidup dalam keseimbangan antara tradisi dan kehidupan modern.

    Ritme hidup di Solo terasa lambat namun bermakna. Tidak banyak kemacetan, biaya hidup relatif rendah, dan masyarakatnya sangat ramah.

    Di sela waktu, Anda bisa menikmati keraton, kuliner khas seperti tengkleng atau serabi, serta berbagai kegiatan budaya yang masih lestari. Solo cocok bagi mereka yang mendambakan hidup sederhana namun kaya akan pengalaman batin.

    6. Banyuwangi
    Banyuwangi mungkin tidak sepopuler kota besar lainnya, namun pesonanya justru terletak pada keseimbangan antara kemajuan dan ketenangan.

    Kota di ujung timur Pulau Jawa ini dikelilingi pantai, gunung, dan taman nasional, menciptakan suasana hidup yang dekat dengan alam.

    Warga Banyuwangi hidup dalam kesederhanaan, namun pemerintah daerahnya juga mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan. Bagi yang ingin bekerja jarak jauh sambil menikmati keindahan alam, Banyuwangi bisa menjadi rumah yang damai dan produktif.

    7. Lombok
    Bagi pencinta laut dan alam terbuka, Lombok adalah surga yang sempurna untuk slow living. Tidak sepadat Bali, pulau ini menawarkan pantai bersih, gunung megah, serta masyarakat lokal yang hangat.

    Kamu bisa memulai hari dengan berjalan di tepi pantai, lalu menikmati sarapan dengan pemandangan Gunung Rinjani. Tidak ada terburu-buru di sini, semua berjalan dengan tenang dan alami.

    Banyak ekspatriat maupun warga lokal yang memilih Lombok sebagai tempat tinggal karena ritme hidupnya yang damai dan lingkungan yang masih alami.

    Baca: Menemukan kedamaian dengan gaya hidup minimalis

    8. Bukittinggi 
    Di jantung Sumatera Barat, Bukittinggi menawarkan perpaduan keindahan alam pegunungan dan nilai-nilai budaya Minangkabau yang kental. Suhu udaranya sejuk sepanjang tahun, dengan pemandangan lembah dan tebing yang menenangkan.

    Kota ini cocok bagi mereka yang ingin menjauh dari kebisingan kota besar. Kehidupan di Bukittinggi terasa lambat, tetapi sarat makna, setiap pagi dimulai dengan udara segar dan senyum penduduk lokal yang ramah. Selain itu, pasar tradisional dan kuliner lokal menambah nuansa hidup yang hangat dan membumi.

    9. Tana Toraja
    Tana Toraja di Sulawesi Selatan dikenal karena budaya dan adatnya yang sangat unik. Warga di sini hidup dengan ritme yang mengikuti alam, bukan jam modern. Mereka masih menjaga hubungan erat dengan keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar.

    Menjalani slow living di Toraja berarti belajar hidup dengan kesadaran penuh, menghargai setiap momen, bekerja secukupnya, dan menikmati hasil alam dengan rasa syukur.

    Lanskap pegunungannya yang hijau, udara segar, dan kehidupan tradisional menjadikan Toraja tempat ideal untuk merenung dan menemukan kedamaian.

    10. Kupang 
    Kupang di Nusa Tenggara Timur mungkin tidak banyak disebut, tapi kota ini memiliki daya tarik unik untuk mereka yang mencari ketenangan sejati.

    Laut biru yang jernih, pantai panjang tanpa keramaian, dan masyarakat yang ramah menjadikan Kupang tempat ideal untuk hidup dengan ritme pelan.

    Biaya hidup di Kupang juga relatif rendah, dan konektivitas digital kini semakin baik. Banyak orang mulai melirik wilayah timur Indonesia ini untuk hidup lebih sederhana, terhubung dengan alam, dan jauh dari stres kota besar.