Tag: hamas

  • Sesuai Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Bebaskan Lagi 8 Sandera

    Sesuai Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Bebaskan Lagi 8 Sandera

    7cloud.asia – Militer Israel mengatakan delapan sandera, termasuk tiga orang Israel dan lima orang berkebangsaan Thailand, dibebaskan hari Kamis (30/1/2025).

    Israel dan Hamas melakukan pertukaran sandera dan tahanan yang ketiga berdasarkan kesepakatan gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran selama 15 bulan lebih di Gaza.

    Pertukaran sebelumnya telah membebaskan tujuh sandera yang ditawan militan di Gaza dan 300 orang Palestina yang ditahan Israel.

    Hamas dijadwalkan membebaskan tiga sandera lagi pada hari Sabtu, sedangkan Israel akan membebaskan lebih banyak lagi orang Palestina yang dipenjara.

    Tentara Israel Agam Berger diserahkan kepada Palang Merah di kamp pengungsi Jabaliya di Gaza utara, kemudian menuju ke Israel, di mana ia dipertemukan kembali dengan orang tuanya.

    “Terima kasih Tuhan kami telah mencapai momen ini, dan pahlawan kami Agam telah dikembalikan kepada kami setelah 482 hari di tangan musuh,” kata keluarga Berger dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Israel intensifkan operasi militer ke Tepi Barat

    “Sekarang Agam dan keluarga kami dapat memulai proses pemulihan, tetapi pemulihan tidak akan komplet sebelum semua sandera kembali pulang.”

    Orang Israel yang dibebaskan itu adalah Arbel Yehoud dan Gadi Moses, dan warga negara Thailand yang dibebaskan adalah Thenna Pongsak, Sathian Suwannakhan, Sriaoun Watchara, Seathao Bannawat dan Rumnao Surasak.

    Militer mengatakan warga Israel itu akan dipertemukan kembali dengan keluarga mereka, sedangkan para pejabat pemerintah Thailand akan bertemu dengan warga negaranya.

    Pembebasan mereka tertunda setelah militan bersenjata berjuang keras untuk menahan kerumunan besar orang-orang Palestina yang berkumpul di sekitar mobil-mobil Palang Merah.

    Para sandera akhirnya dibawa melewati massa dengan dikelilingi sekelompok orang bersenjata.

    “Saya melihat dengan sangat serius pemandangan mengejutkan selama pembebasan para sandera kami,” kata PM Israel Benjamin Netanyahu dalam sebuah pernyataan yang dilansir kantornya tidak lama setelah penyerahan sandera selesai.

    Baca: Lebih dari 430.000 warga Palestina kembali ke Gaza Utara

    Netanyahu mengatakan dirinyaa “meminta agar para mediator memastikan pemandangan mengerikan semacam itu tidak terulang dan menjamin keselamatan orang-orang kami yang disandera.”

    Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengukuhkan kelompok sandera itu kemudian menyeberang ke teritori Israel.

    Sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata, Israel siap membebaskan 110 orang Palestina yang dipenjarakan, termasuk sekitar 30 orang yang menjalani hukuman seumur hidup karena serangan mematikan terhadap warga Israel.

    Setelah gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 423 ribu orang Palestina telah kembali ke Gaza utara selama tiga hari terakhir setelah militer Israel memerintahkan mereka keluar kawasan itu pada masa-masa awal perang pada Oktober 2023.

    Namun, kepulangan itu terasa pahit juga bagi mereka karena hampir semua orang memiliki teman atau kerabat yang tewas dalam perang itu, dan banyak permukiman di utara yang hancur total akibat pertempuran.

  • Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Tunda Pembebasan Sandera

    Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Tunda Pembebasan Sandera

    7cloud.asia – Kelompok Hamas, Senin (10/2/2025) mengumumkan pihaknya akan menangguhkan pertukaran sandera dan tahanan berikutnya hingga waktu yang belum ditentukan.

    Langkah Hamas ini dilakukan setelah Israel dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok tersebut.

    Pembebasan para sandera Israel oleh Hamas dijadwalkan akan dilakukan pada Sabtu mendatang, 15 Februari 2025 pekan ini

    “Akan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut, sambil menunggu kepatuhan (otoritas) pendudukan dan pemenuhan kewajiban minggu-minggu sebelumnya secara retroaktif,” ungkap Abu Ubaida, juru bicara Brigade Ezzedine al-Qassam, melalui pernyataan tertulis.

    “Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap ketentuan perjanjian selama (otoritas) pendudukan mematuhinya,” tambahnya, merujuk pada Israel.

    Baca: Menakar kemungkinan perpanjangan gencatan senjata di Gaza

    Menteri pertahanan Israel, Israel Katz, Senin (10/2/2025) menyebut pengumuman Hamas sebagai “pelanggaran penuh” kesepakatan gencatan senjata.

    Pengumuman Hamas untuk menghentikan pembebasan sandera Israel merupakan pelanggaran penuh kesepakatan gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera.

    “Saya telah memerintahkan (militer) IDF untuk bersiap pada tingkat kewaspadaan tertinggi untuk segala kemungkinan skenario di Gaza,” urai Katz melalui pernyataan tertulis.

    Berdasarkan ketentuan kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel, di mana fase pertama dimulai sejak 19 Januari 2025, sebanyak 33 sandera Israel akan dibebaskan.

    Sebagai gantinya Israel akan membebaskan sekitar 1.900 tahanan, yang sebagian besarnya merupakan warga Palestina, yang ditahan di penjara-penjara Israel.

     

    Baca: Di tengah gencatan senjata, Israel justru intensifkan serangan ke Tepi Barat

    Pada Sabtu (8/2/2025), mereka menyelesaikan pertukaran sandera-tahanan kelima, yang mempertukarkan tiga sandera Israel dengan 183 tahanan Palestina.

    Dengan kembalinya mereka, 73 dari 251 sandera yang ditawan Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023 kini masih berada di Gaza, termasuk 34 orang yang menurut militer Israel telah tewas.

    Melalui pernyataannya, Hamas mengatakan bahwa mereka telah “memantau dengan saksama pelanggaran dan kegagalan Israel untuk mematuhi ketentuan kesepakatan selama tiga minggu terakhir.”

    (Pelanggaran) ini termasuk menunda kembalinya para pengungsi ke Gaza utara, menyasar mereka dengan serangan artileri dan tembakan di berbagai daerah di Jalur Gaza.

    ”Israel juga tidak mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam segala bentuk seperti yang telah disepakati,” tambahnya, sambil menegaskan bahwa Hamas telah “memenuhi kewajibannya”.

    Baca: Ratusan ribu warga Palestina kembali ke Gaza Utara

    Pro dan Kontra Relokasi Warga Gaza
    Di Washington pada Senin (10/2/2025) Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan mengusulkan pembatalan perjanjian gencatan senjata jika semua sandera yang tersisa yang ditahan di Gaza tidak dibebaskan sampai Sabtu siang.

    Dan ia mungkin menahan bantuan ke Yordania dan Mesir jika mereka tidak menerima pengungsi Palestina yang dipindahkan dari Gaza.

    Sejak gencatan senjata berlaku bulan lalu, Hamas telah membebaskan 21 sandera sedangkan Israel telah membebaskan lebih dari 730 tahanan.

    Trump telah mengusulkan untuk memindahkan warga Palestina di Gaza ke lokasi yang tidak ditentukan di luar wilayah itu. Berdasarkan rencananya untuk daerah kantong itu, mereka tidak akan memiliki hak untuk kembali.

    Dalam wawancara dengan Fox News yang dirilis Senin, ia menyebut rencananya untuk wilayah sempit di pesisir Laut Tengah itu sebagai “pembangunan real estat untuk masa depan.”

  • Kelompok Hamas Dijadwalkan Bebaskan Tiga Sandera Hari Ini

    Kelompok Hamas Dijadwalkan Bebaskan Tiga Sandera Hari Ini

    7cloud.asia – Kelompok Hamas dijadwalkan akan membebaskan tiga sandera yang akan ditukar dengan tahanan Palestina pada akhir pekan ini, setelah menyatakan komitmennya untuk gencatan senjata dengan Israel.

    Pembebasan sandera berikutnya masih dipertanyakan, setelah Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata dan mengancam akan kembali berperang.

    “Kami tidak tertarik dengan runtuhnnya perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dan kami sangat ingin agar perjanjian tersebut dilaksanakan dan memastikan bahwa pendudukan [Israel] mematuhinya sepenuhnya,” kata juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanoua.

    Qanoua juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “bahasa ancaman dan intimidasi” dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

    Dia mengatakan bahwa pernyataan Trump itu tidak membantu pelaksanaan gencatan senjata.

    Baca: PBB tegaskan gencatan senjata di Gaza harus ditegakkan

    Pemerintah Israel kemudian menegaskan kembali bahwa Hamas harus membebaskan tiga sandera akhir pekan ini.

    “Jika ketiganya tidak dibebaskan, jika Hamas tidak mengembalikan sandera kami pada Sabtu (15/2/2025) siang, gencatan senjata akan berakhir,” kata juru bicara pemerintah Israel David Mencer.

    Hamas awal minggu ini menuduh Israel melanggar kesepakatan dengan terus melancarkan serangan udara terhadap warga di Gaza dan memblokir bantuan.

    Kelompok Hamas mengatakan bahwa pembebasan sandera di masa mendatang akan ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

    Netanyahu mengatakan pertempuran akan kembali terjadi jika lebih banyak tawanan tidak dibebaskan pada Sabtu, dan Trump mengatakan pada Senin (10/2/2025) bahwa “semua kekacauan akan terjadi” jika para sandera tidak dikembalikan.

    Baca: Hamas ancam akan tunda pembebasan sandera

    Sejak gencatan senjata mulai berlaku bulan lalu, Hamas, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, telah membebaskan 21 sandera, dan Israel telah membebaskan lebih dari 730 tahanan.

    Pertukaran berikutnya pada Sabtu menyerukan pembebasan tiga warga Israel lagi dengan imbalan ratusan tahanan Palestina yang dipenjara oleh Israel.

    Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada Oktober 2023 terhadap Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penangkapan 250 sandera.

    Serangan balasan Israel menewaskan lebih dari 48.200 warga Palestina, lebih dari setengahnya adalah perempuan dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Israel mengatakan jumlah korban tewas termasuk 17.000 militan yang telah dibunuhnya. Baik Israel maupun Hamas telah divonis melakukan kejahatan perang oleh Mahkamah Internasional.

  • Setelah Sempat Diragukan, Kelompok Hamas Akhirnya Kembali Bebaskan Tiga Sandera Israel

    Setelah Sempat Diragukan, Kelompok Hamas Akhirnya Kembali Bebaskan Tiga Sandera Israel

    7cloud.asia – Kelompok militan Hamas merilis nama tiga sandera yang dibebaskan Sabtu (15/2/2025) waktu setempat

    Pembebasan sandera oleh Hamas ini merupakan bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan Palestina, setelah menyatakan komitmennya terhadap gencatan senjata dengan Israel.

    Para sandera, sebagaimana dilaporkan oleh Hamas dan dikonfirmasi oleh otoritas Israel, termasuk warga negara Israel-Amerika Sagui Dekel Chen, (36), Sasha Troufanov (29) dan Iair Horn (46)

    Chen adalah warga Kibbutz Nir Oz di Israel selatan. Dia ditawan saat berhadapan dengan militan Hamas pada serangan teror 7 Oktober 2023 di Israel selatan.

    Dua bulan setelah penangkapannya, istrinya, Avital, melahirkan putri ketiga mereka.

    Baca: Hamas sempat akan menunda pembebasan sandera karena Israel langar kesepakatan gencatan senjata

    Sasha Troufanov, juga dari Kibbutz Nir Oz. Ia disandera pada Oktober 2023, bersama ibunya Elena, neneknya Irina Tati, dan pacarnya Sapir Cohen, yang semuanya dibebaskan dalam kesepakatan pembebasan sandera sebulan kemudian.

    Ayahnya, Vitaly, tewas dalam serangan Hamas. Keluarga tersebut beremigrasi ke Israel dari Rusia 25 tahun lalu.

    Sedangkan sandera ketiga, Horn adalah warga negara Israel Argentina, juga dari Kibbutz Nir Oz. Ia diculik pada 7 Oktober bersama saudaranya Eitan, yang tidak termasuk dalam pembebasan sandera kali ini.

    Pembebasan sandera Israel ini sempat diragukan, setelah Kelompok Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata dan mengancam akan kembali berperang.

    “Kami tidak tertarik dengan runtuhnya perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dan kami ingin agar perjanjian tersebut dilaksanakan dan memastikan bahwa pendudukan [Israel] mematuhinya sepenuhnya,” kata juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanoua.

    Baca: Menakar kemungkinan perpanjangan gencatan senjata di Gaza

    Qanoua juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “bahasa ancaman dan intimidasi” dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak membantu pelaksanaan gencatan senjata.

    Pemerintah Israel kemudian menegaskan kembali bahwa Hamas harus membebaskan tiga sandera akhir pekan ini.

    “Jika ketiga orang itu tidak dibebaskan, jika Hamas tidak mengembalikan sandera kami pada Sabtu siang, gencatan senjata akan berakhir,” kata juru bicara pemerintah Israel David Mencer.

    Hamas awal minggu ini menuduh Israel melanggar kesepakatan dengan melanjutkan serangan udara terhadap orang-orang di Gaza dan memblokir bantuan. Kelompok itu mengatakan akan menunda pembebasan sandera.

    Netanyahu mengatakan pertempuran akan berlanjut jika lebih banyak tawanan tidak dibebaskan pada Sabtu, sementara Trump mengatakan pada Senin bahwa “semua akan kacau” jika sandera tidak dikembalikan.

  • Hamas Akan Bebaskan 10 Sandera Lagi, Enam Sandera Masih Hidup

    Hamas Akan Bebaskan 10 Sandera Lagi, Enam Sandera Masih Hidup

    7cloud.asia – Seorang pemimpin senior Hamas mengatakan pihaknya akan membebaskan enam sandera Israel yang masih hidup dari penahanan mereka di Gaza pada Sabtu (22/2/2025) dan jenazah empat orang lainnya pada Kamis (20/2/2025).

    Pemimpin Hamas Khalil al-Hayya menyampaikan pengumuman mengejutkan tersebut dalam sebuah pernyataan yang direkam pada hari Selasa (18/2/2025), sebagai tanggapan atas keputusan Israel untuk mengizinkan rumah mobil dan peralatan konstruksi yang telah lama diminta masuk ke Jalur Gaza.

    Enam sandera yang masih hidup adalah kelompok terakhir yang akan dibebaskan berdasarkan fase pertama gencatan senjata yang berakhir pada awal Maret.

    Hamas diyakini masih menahan sekitar 70 sandera lagi, setengahnya masih hidup. Empat jenazah sandera lainnya akan dikembalikan pada minggu depan.

    Sejauh ini selama gencatan senjata, Hamas telah membebaskan 24 sandera, dan Israel membebaskan lebih dari 1.000 warga Palestina dari tahanan negara itu.

    Hamas dan Israel belum merundingkan fase kedua yang lebih sulit dari gencatan senjata kedua negara.

    Baca: Kelompok Hamas akhirnya bebaskan 3 sandera Israel

    Hamas mengatakan mereka hanya akan membebaskan sandera yang tersisa sebagai imbalan atas penghentian pertempuran yang bertahan lama dan penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah sempit di sepanjang Laut Mediterania itu.

    Sementara itu, Israel belum mundur dari tujuannya, yang didukung oleh Amerika Serikat, untuk menghapuskan peran militer atau pemerintahan apa pun bagi Hamas di Gaza.

    Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan pada Selasa bahwa Israel siap untuk membuka negosiasi mengenai rincian fase kedua. Pembicaraan tersebut seharusnya telah dimulai dua minggu lalu, menurut kesepakatan gencatan senjata.

    Dalam sambutannya, Hayya mengatakan “keluarga Bibas” akan disertakan dalam penyerahan keempat jenazah, yang tampaknya merujuk pada Shiri Bibas dan kedua putranya yang masih kecil, Ariel dan Kfir, yang bagi banyak orang Israel merupakan perwujudan penderitaan para tawanan.

    Israel belum mengonfirmasi kematian mereka, dan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendesak masyarakat untuk tidak menyebarkan “foto, nama, dan rumor.”

    Israel mengatakan sangat prihatin dengan keluarga Bibas, sementara Hamas mengatakan mereka tewas dalam serangan udara Israel pada awal perang. Yarden Bibas, suami dan ayah, diculik secara terpisah dan dibebaskan bulan ini.

    Baca: Menakar kemungkinan gencatan senjata di Gaza diperpanjang

    Kfir, yang saat itu berusia 9 bulan, adalah sandera termuda yang disandera dalam serangan mengejutkan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel yang memicu pertempuran selama 15 bulan.

    Rekaman video penculikan tersebut menunjukkan Shiri membungkus anak laki-lakinya yang berambut merah dengan selimut dan dibawa pergi oleh orang-orang bersenjata.

    “Dalam beberapa jam terakhir kami terguncang setelah pengumuman juru bicara Hamas dipublikasikan tentang pengembalian Shiri, Ariel, dan Kfir pada Kamis mendatang sebagai bagian dari gerakan untuk membebaskan warga sipil yang diculik,” kata keluarga tersebut dalam sebuah pernyataan.

    “Penting bagi kami untuk mengatakan bahwa kami mengetahui laporan tersebut tetapi belum menerima laporan resmi tentang hal itu.”

    “Sampai kami mendapat kepastian, perjalanan kami tidak akan berakhir,” kata keluarga tersebut.

    Seorang pejabat Israel mengatakan Netanyahu telah setuju untuk mengizinkan rumah mobil dan peralatan konstruksi masuk ke Gaza untuk mempercepat pembebasan para sandera.

    Hamas minggu lalu mengancam akan menunda pembebasan lebih banyak sandera, dengan alasan masalah rumah mobil dan dugaan pelanggaran gencatan senjata lainnya.

    Israel diperkirakan akan terus membebaskan ratusan tahanan Palestina, termasuk mereka yang menjalani hukuman seumur hidup karena serangan-serangan mematikan, sebagai pertukaran dengan para sandera.

    Israel dan Palestina memperingati 500 hari perang itu pada hari Senin (17/2/2025).

  • Israel dan Hamas Memulai Perundingan Gencatan Senjata Tahap II di Kairo

    Israel dan Hamas Memulai Perundingan Gencatan Senjata Tahap II di Kairo

    7cloud.asia – Layanan informasi pemerintah Mesir melaporkan bahwa pembicaraan mengenai gencatan senjata fase kedua antara Israel dan kelompok Hamas, telah dimulai di Kairo.

    Pembicaraan itu dimulai hanya satu hari sebelum fase pertama gencatan senjata atara Israel dan Hamas tersebut berakhir.

    Dalam sebuah pernyataan di situs webnya, layanan informasi tersebut mengatakan bahwa delegasi dari Israel dan Qatar tiba di Kairo pada Kamis (27/2/2025) malam.

    Dan mulai “diskusi intensif mengenai fase-fase selanjutnya dari perjanjian gencatan senjata.” Qatar, bersama dengan Amerika Serikat dan Mesir, memediasi pembicaraan tersebut.

    Baca: “No Other Land” Raih Film Dokumenter Terbaik di Piala Oscar 2025

    Ditambahkan dalam pernyataan tersebut, “Para mediator juga sedang mencari cara untuk meningkatkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi penderitaan sipil dan mendukung stabilitas regional.”

    Sebelum pembicaraan, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan kepada wartawan di Yerusalem bahwa delegasi Israel akan melihat apakah ada kesamaan untuk merundingkan perpanjangan gencatan senjata.

    Kantor berita Reuters, mengutip dua pejabat pemerintah, melaporkan bahwa Israel berusaha memperpanjang fase pertama gencatan senjata, tetapi langkah itu tidak didukung oleh Hamas.

    Tahap kedua dari pembicaraan ini dimaksudkan untuk merundingkan akhir perang, termasuk pengembalian semua sandera yang masih hidup di Gaza, dan penarikan semua pasukan Israel dari wilayah tersebut.

    Baca: Peluang terwujudnya dua negara Palestina dan Israel makin terancam

    Pembebasan sandera yang masih hidup akan terjadi pada fase ketiga. Israel telah mengatakan bahwa ada 59 sandera yang tersisa –24 di antaranya masih diyakini hidup.

    Tidak jelas apa yang akan terjadi setelah Sabtu (1/3/2025) jika fase pertama gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan.

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kepada wartawan pada Jumat (28/2/2025) bahwa kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan harus dipatuhi.

    “Setiap momen gencatan senjata bertahan berarti lebih banyak orang yang dijangkau dan lebih banyak nyawa yang diselamatkan,” kata Guterres kepada para wartawan.

    Dia menambahkan bahwa Selasa (4/3/2025) dia akan berada di Kairo untuk bergabung dengan KTT Luar Biasa Liga Arab untuk membahas rekonstruksi Gaza.

  • Israel Blokir Bantuan, Warga Gaza Khawatirkan Pasokan Pangan

    Israel Blokir Bantuan, Warga Gaza Khawatirkan Pasokan Pangan

    7cloud.asia – Pengumuman bahwa Israel memblokir bantuan kemanusiaan ke Gaza yang melewati pos-pos pemeriksaan telah menimbulkan ketakutan dan kepanikan berbelanja kebutuhan pokok di pasar-pasar Gaza.

    Langkah ini diambil Israel ketika puasa Ramadan baru dimulai. Bulan suci bagi umat Islam ini berlangsung di tengah kehancuran besar-besaran yang disebabkan oleh pertempuran sengit selama 16 bulan antara Israel dan Hamas.

    Mai al-Khoudari, mantan kepala sekolah yang mengungsi dari rumahnya di Gaza, mengatakan bahwa pemblokiran ini berdampak buruk terhadap para pengungsi yang kembali ke Kota Gaza.

    “Ini bulan Ramadan dan kami membutuhkan banyak hal. Rumah saya dibom dan dihancurkan. Saya tidak punya apa-apa dan tidak ada apa-apa di Gaza. Semuanya mahal dan tidak tersedia,” katanya dikutip VOA Indonesia

    Seorang spesialis komunikasi yang berbasis di Gaza untuk badan anak-anak PBB, Rosalia Bollen berbicara kepada Al Jazeera tentang dampak yang berkembang dari pemblokiran bantuan oleh Isarel di Gaza

    Rosalia Bollen mengatakan tingkat “kehancuran dan gangguan layanan” yang ditimbulkannya “cukup mengejutkan”.

    Baca: Israel halangi truk pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza

    “Fakta bahwa para pekerja kemanusiaan telah mampu membawa pasokan selama enam minggu terakhir belum cukup untuk memulihkan kerusakan di seluruh Gaza dan memulihkan layanan,” kata Bollen.

    Sementara otoritas Israel mengatakan masih ada cukup pangan bagi warga Palestina di Gaza untuk bertahan selama berbulan-bulan.

    Pemblokiran bantuan kemanusiaan ini terjadi saat negosiasi tahap kedua kesepakatan gencatan senjata dan pelepasan sandera antara Israel dan Hamas tersendat.

    Hamas menyandera 250 orang dalam serangan teror tanggal 7 Oktober 2023 di Israel selatan, memicu perang yang telah menyebabkan lebih 48.000 warga Palestina dan lebih dari 1.700 warga Israel tewas.

    Sejauh ini, 147 sandera telah dikembalikan ke Israel hidup-hidup, sebagian besar merupakan hasil dari dua perjanjian gencatan senjata dengan Hamas. Israel juga telah membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tindakan memblokir bantuan dimaksudkan untuk memaksa Hamas melanjutkan perjanjian gencatan senjata yang ada saat ini, seperti diusulkan oleh utusan Timur Tengah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Steve Witkoff.

    Baca: Pembangunan kembali Gaza butuh dana lebih dari 50 miliar dolar

    Netanyahu mengatakan, pihaknya telah memutuskan untuk berhenti mengizinkan barang-barang dan pasokan-pasokan masuk ke Gaza, sesuatu yang telah dilakukan selama 42 hari terakhir.

    ”Kami melakukan itu karena Hamas mencuri pasokan-pasokan itu dan menghalangi warga Gaza untuk mendapatkannya. Mereka menggunakan pasokan-pasokan ini untuk membiayai mesin terornya yang ditujukan langsung ke Israel dan warga sipil kami.”

    Banyak warga Israel yang menyuarakan dukungan terhadap kebijakan garis keras perdana menteri Netanyahu tersebut.

    Namun banyak keluarga dari 63 sandera yang tersisa khawatir bahwa pemblokiran bantuan ke Gaza akan menyebabkan lebih banyak penderitaan bagi para sandera dan bahkan membahayakan pembebasan mereka setelah lebih dari 500 hari disandera.

    Zahiro Shahar Mor, warga Isarel yang pamannya tewas dalam tahanan Hamas mengatakan, Menahan truk bantuan kemanusiaan memasuki Gaza juga berdampak pada para sandera.

    “Kita tahu betul bahwa kelaparan di Gaza berdampak langsung pada mereka. Dan kami tahu dari orang-orang yang kembali dan memberikan kesaksian. Para sandera mendapat perlakuan yang lebih keras.”

    Hamas, negara-negara Arab, PBB, dan organisasi-organisasi hak asasi manusia mengecam pemblokiran bantuan oleh Israel, dan menuduh Israel melanggar ketentuan gencatan senjata.

    Liga Arab akan mengadakan pertemuan puncak darurat pekan ini untuk membahas perlu diakhirinya perang antara Israel dan Hamas.

    Baca: Butuh waktu bertahun-tahun singkirkan puing-puing di Gaza

  • Israel Tolak Usulan Gencatan Senjata Lima Tahun yang Ditawarkan Kelompok Hamas

    Israel Tolak Usulan Gencatan Senjata Lima Tahun yang Ditawarkan Kelompok Hamas

    7cloud.asia – Israel menolak usulan Hamas untuk memberlakukan gencatan senjata selama lima tahun di Jalur Gaza.

    Sebagai imbalan, Hamas akan membebaskan seluruh sandera dalam satu tahap. demikian dilaporkan stasiun penyiaran Israel, Kan, pada Senin (28/4/2025), mengutip sebuah sumber.

    Pada Minggu (27/4/2025), negosiator Hamas telah menyampaikan sebuah visi bersama kepada para mediator di Doha dan Kairo untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.

    Usulan tersebut mencakup gencatan senjata selama lima tahun dan pertukaran satu kali seluruh sandera Israel dengan sejumlah tahanan Palestina yang jumlahnya tidak disebutkan, menurut laporan tersebut.

    Baca: Rencana evakuasi penduduk Gaza mengancam masa depan Palestina

    Selain itu, Israel harus sepenuhnya menarik pasukan dari Jalur Gaza dan mencabut blokade atas wilayah tersebut, tambah laporan yang dilansir pada Senin (28/4/2025)

    Tuntutan kelompok Hamas yang menjadi simbol perlawanan Palestina itu juga mencakup pembentukan komite lokal yang terdiri dari individu-individu yang tidak dijelaskan secara terperinci identitasnya untuk memerintah Jalur Gaza.

    Pada saat yang sama, delegasi Hamas menolak membahas isu pelucutan senjata organisasi tersebut, demikian menurut laporan tersebut.

    Baca: Negara-negara Arab tolak usulan AS untuk mengambilalih Gaza

    Pada 18 Maret, Israel melanjutkan serangan ke Jalur Gaza, dengan alasan gerakan Palestina Hamas menolak menerima rencana Amerika Serikat untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berakhir pada 1 Maret.

    Israel juga memutus pasokan listrik ke pabrik desalinasi di Jalur Gaza dan menutup akses masuk untuk truk-truk pembawa bantuan kemanusiaan.

    Akibat blokade Israel tersebut, ekonomi Gaza terus mengalami keterpurukan. Warga bertahan tanpa penghasilan dan harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak hingga 527 persen

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Hamas Siap Rundingkan Gencatan Senjata, Israel Justru Intensifkan Serangan ke Gaza

    Hamas Siap Rundingkan Gencatan Senjata, Israel Justru Intensifkan Serangan ke Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina Hamas pada Senin (12/5/2025) mengatakan pihaknya siap untuk segera terlibat dalam perundingan guna mencapai gencatan senjata yang permanen di Jalur Gaza.

    Sayap bersenjata kelompok tersebut, Brigade Qassam, pada Senin malam membebaskan sandera keturunan Israel-Amerika Serikat bernama Edan Alexander setelah berunding dengan pemerintahan Donald Trump.

    “Hamas siap untuk segera memulai negosiasi guna mencapai kesepakatan komprehensif untuk gencatan senjata yang berkelanjutan, penarikan pasukan pendudukan, pengakhiran pengepungan, pertukaran tahanan, dan pembangunan kembali Jalur Gaza,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.

    Alexander adalah sandera AS terakhir yang diketahui masih hidup yang ditahan di Gaza.

    Militer Israel melanjutkan serangan mereka di Jalur Gaza pada Senin (12/5/2025) malam setelah jeda sementara sehingga Hamas bisa membebaskan tentara berkewarganegaraan AS-Israel Edan Alexander.

    Serangan itu menargetkan wilayah Al-Daraj yang kemudian mengenai Sekolah Al-Ramlah, yang dijadikan tempat pengungsian, menurut reporter Anadolu, mengutip sumber para petugas medis.

    Dalam serangan berbeda di wilayah yang sama, beberapa warga Palestina terluka setelah serangan artileri Israel menghantam sebuah gedung apartemen.

    Dilaporkan seorang wanita tewas dalam serangan itu, dan menyebabkan luka parah pada seorang anak.

    Serangan bertubi-tubi tersebut kemudian meluas ke pinggiran timur Khan Younis di selatan dan bagian utara provinsi Rafah.

    Eskalasi tersebut terjadi setelah Israel mendapat konfirmasi pihaknya telah mendapatkan Alexander, warga negara ganda Israel-AS, dari Komite Palang Merah Internasional di Gaza.

    Dilaporkan Channel 14 pada Senin pagi, mengutip pejabat senior militer Israel yang mengatakan bahwa Israel akan melanjutkan genosida di Gaza segera setelah Alexander memasuki wilayah Israel.

    “Saat Edan Alexander berada di tanah Israel, kami akan melanjutkan serangan dan melanjutkan rencana operasional kecuali jika pimpinan politik memutuskan sebaliknya,” kata pejabat tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Hamas Sebut Israel Sengaja Menciptakan Kelaparan di Gaza

    Hamas Sebut Israel Sengaja Menciptakan Kelaparan di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok Hamas menuduh Israel merekayasa kelaparan di Jalur Gaza dan memperingatkan agar tidak membangun kamp-kamp penahanan di wilayah selatan dengan dalih distribusi bantuan kemanusiaan.

    Dalam sebuah pernyataan, yang dirilis Kamis (22/5/2025) juru bicara Hamas mengatakan Israel secara sistematis membuat lebih dari 2 juta warga Palestina di Gaza kelaparan dengan membatasi bantuan kemanusiaan dan mengaitkannya dengan syarat politik dan keamanan.

    “Kebijakan ini merupakan bagian dari apa yang sekarang dikenal sebagai ‘rekayasa kelaparan’, yakni berupaya memaksakan fakta di lapangan melalui rencana ‘bantuan ghetto’, yang secara keliru digambarkan sebagai solusi kemanusiaan,” bunyi pernyataan Hamas tersebut.

    Hamas menambahkan bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza setelah 81 hari blokade Israel “bahkan tidak ada setetes air di lautan jika dibandingkan dengan apa yang dibutuhkan.”

    Kelompok tersebut memperkirakan bahwa daerah kantong tersebut membutuhkan setidaknya 500 truk bantuan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi jumlah yang diizinkan masuk kurang dari sepersepuluhnya.

    Baca: Hanya 9 truk bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk ke Gaza

    Krisis tersebut memburuk karena meningkatnya jumlah warga di lokasi pengungsian, runtuhnya sistem kesehatan, serta kondisi kelaparan yang meluas, terutama di kalangan anak-anak.

    Kantor Media Pemerintah Gaza mengonfirmasi 87 truk bantuan masuk pada Rabu (21/5/2025), pertama kalinya dalam hampir tiga bulan, namun menekankan bahwa dibutuhkan 500 truk bantuan dan 50 truk bahan bakar setiap hari untuk mempertahankan kehidupan di tengah kondisi kelaparan parah.

    Hamas memperingatkan militer Israel menggunakan bantuan sebagai kedok untuk menjalankan rencana yang menyerupai kamp penahanan di Gaza selatan.

    Hamas menggambarkan kondisi ini sebagai “skema kolonial yang pasti akan gagal menghadapi keteguhan rakyat kami.”

    Hamas menyerukan kepada komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan untuk “segera menghentikan pengepungan, menolak kelaparan dan penghinaan yang direkayasa, serta memastikan koridor kemanusiaan yang bebas dan permanen.”

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah

    Israel dan Amerika Serikat mempromosikan mekanisme distribusi bantuan baru yang menurut para kritikus bertujuan untuk mengurangi jumlah pendudukan Gaza utara dengan mengarahkan warga Palestina ke wilayah selatan, terutama Rafah.

    Radio Tentara Israel pada Selasa (20/5/2025) melaporkan rencana tersebut menetapkan bahwa semua warga Jalur Gaza bagian utara yang menuju pusat distribusi bantuan di selatan poros Salah al-Din tidak akan diizinkan kembali ke utara Gaza.

    Ditambahkan bahwa dengan cara ini, Israel berniat mempercepat evakuasi warga Gaza dari jalur Gaza utara dan bahwa daerah tersebut dapat sepenuhnya dikosongkan dari penduduknya.

    Sebelumnya pada Kamis, lembaga penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa distribusi makanan oleh perusahaan asal Amerika Serikat akan dimulai pada Minggu melalui empat pusat—satu di koridor Netzarim, Gaza tengah, dan tiga lainnya di dekat Rafah.

    Sejak 2 Maret, Israel telah menutup total semua penyeberangan ke Gaza, yang menurut lembaga bantuan telah menjebak wilayah kantong tersebut dalam kelaparan dan menyebabkan banyak korban jiwa.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu