Tag: iran

  • Iran Sebut Selat Hormuz Sepenuhnya dalam Kendali Mereka dan Tertutup untuk Kapal AS, Israel dan Sekutunya

    Iran Sebut Selat Hormuz Sepenuhnya dalam Kendali Mereka dan Tertutup untuk Kapal AS, Israel dan Sekutunya

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya mengizinkan semua negara–kecuali Amerika Serikat (AS) bersama Israel dan sekutunya–untuk berlayar melintasi Selat Hormuz.

    Demikian dikutip dari MS Now, mengutip Araghchi dalam wawancara eksklusif jurnalis Mesir, Ayman Mohyeldin, seperti dikutip CNN Sabtu (14/3/2026) lalu.

    Hal tersebut merupakan perkembangan terbaru setelah AS dilaporkan mengebom target militer di Pulau Kharg yang sangat penting bagi minyak Iran.

    “Sebenarnya, Selat Hormuz terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kita, untuk mereka yang menyerang kita dan sekutu mereka. Yang lain bebas untuk lewat,” kata Araghchi.

    Baca: Iran tuntut AS tarik pasukan dari Teluk Persia

    Iran menyangkal tuduhan Amerika Serikat (AS) bahwa kemampuan angkatan laut mereka telah dihancurkan dan menantang Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal-kapal ke Teluk Persia jika berani.

    “Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Laut Korps Garuda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Iran memiliki kedaulatan penuh atas itu,” kata Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini.

    Naini mengeklaim bahwa sejauh ini Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 pesawat nirawak dengan targetnya adalah Amerika dan Israel.

    “Bukankah Trump mengatakan bahwa dia telah menghancurkan Angkatan Laut Iran? Jadi, jika dia berani, dia bisa mengirim kapalnya ke wilayah Teluk Persia,” tegas Naini.

    Baca: Serangan AS-Israel ke Iran picu bencana lingkungan

    Dia juga menegaskan bahwa perang akan berakhir saat “musuh” menyadari kekuatan militer dan pencegahan sosial Iran.

    “Kami (Iran) berupaya menghukum agresor dan melanjutkan serangan berat dan menghancurkan musuh,” kata Naini.

    Sejak Israel dan Amerika melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan sekitar 1.300 orang hingga saat ini, termasuk pemimpin tertinggi saat itu Ayatollah Ali Khamenei, permusuhan telah meningkat.

    Iran telah membalas dengan serangan pesawat nirawak dan rudal dengan menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer milik Amerika.

    Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz sejak awal Maret lalu, dan menembak kapal yang melanggar ketentuan ini.

    Sumber: Antaranews.com/CNN-Anadolu

  • Tolak Keras Tawaran AS, Iran Bersumpah Pertahankan Wilayahnya

    Tolak Keras Tawaran AS, Iran Bersumpah Pertahankan Wilayahnya

    7cloud.asia – Amerika Serikat (AS) pada Rabu (25/3/2026) mengeluarkan peringatan baru, menuntut Iran menerima kekalahan atau menghadapi serangan yang lebih brutal.

    Sementara Teheran menolak berunding dengan AS yang secara sepihak melancarkan serangan ke Iran dan bersumpah untuk terus membela negaranya.

    Dilansir Al Jazeera, seorang pejabat Iran menggambarkan skema yang berisi 15 poin dari AS untuk mengakhiri perang sebagai “maksimalis dan tidak masuk akal”.

    Sementara televisi resmi pemerintah Iran menguraikan lima syarat untuk perdamaian, termasuk jaminan terhadap konflik di masa depan dan perbandingan perang.

    Baca: Iran tuntut AS tarik pasukannya dari Teluk Persia untuk akhiri perang

    Serangan AS-Israel terhadap Iran berlanjut, pun demikian dengan serangan rudal Iran yang terus menargetkan Israel tengah dan utara.

    Pasukan Israel membombardir Lebanon ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel memperluas apa yang disebutnya zona penyangga di Lebanon selatan.

    Enam negara di Timur Tengah mendesak Irak untuk menghentikan kelompok bersenjata yang didukung Iran dari melancarkan serangan di wilayah tersebut.

    Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab harus terus menerus mencegat rudal dan drone Iran.

    Sementara, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membunyikan alarm atas konsekuensi penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan.

    Baca: Rusia dan China kecam serangan AS dan Israel ke Iran

  • Prancis Akan Gelar Konferensi Internasional Bahas Penutupan Selat Hormuz, Sejumlah Negara Akan Hadir

    Prancis Akan Gelar Konferensi Internasional Bahas Penutupan Selat Hormuz, Sejumlah Negara Akan Hadir

    7cloud.asia – Pemerintah Prancis melalui Kepala Staf Pertahanan Jenderal Fabien Mandon berencana menggelar konferensi untuk membahas upaya memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.

    Dilansir Reuters.com pada Rabu (25/3/2026) konferensi ini akan diselenggarakan secara daring melalui video dengan mengundang para pemimpin militer dari berbagai negara.

    Menurut laporan Yonhap pada Kamis (26/3/2026), Korea Selatan menerima undangan Prancis untuk mengikuti pertemuan militer internasional guna membahas blokade di Selat Hormuz dan upaya menstabilkan pelayaran di jalur penting perdagangan minyak dunia tersebut.

    Pemerintah Korea Selatan (Korsel) memutuskan menerima undangan tersebut setelah mencermati situasi. Ketua Kepala Staf Gabungan Korsel Jin Young-seung akan mewakili negara itu, menurut laporan tersebut.

    Menyikapi dampak kenaikan harga minyak dunia, pemerintah Korsel akan menurunkan pajak BBM mulai Jumat.

    Baca: Iran Sebut Selat Hormuz tertutup untuk Kapal AS, Israel dan sekutunya

    Kebijakan ini diambil di tengah kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah dan terhentinya pelayaran secara efektif di Selat Hormuz, menurut laporan Yonhap.

    Saat ini, pajak bensin dan solar telah dipangkas masing-masing 7 persen dan 10 persen. Mulai Jumat, pemangkasan tersebut akan meningkat menjadi 15 persen dan 25 persen.

    Kebijakan baru itu resmi berlaku pada 1 April, tetapi akan berlaku surut sejak Jumat setelah penyesuaian harga bahan bakar ritel oleh pemerintah.

    Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korsel menyatakan langkah tersebut akan diperpanjang dari akhir April hingga akhir Mei.

    Menteri Koo Yoon-chul mengatakan harga solar global biasanya naik lebih cepat daripada bensin karena solar adalah bahan bakar utama bagi industri, transportasi, dan kehidupan sehari-hari.

    Baca: Iran tuntut AS tarik pasukannya dari Teluk Persia

    Jika situasi memburuk, pemerintah dapat mempertimbangkan pemangkasan pajak lebih lanjut, tergantung pada harga bahan bakar global.

    Berdasarkan regulasi yang berlaku, pajak bahan bakar di Korsel bisa dikurangi hingga 37 persen.

    Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.

    Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

    Eskalasi tersebut menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global.

    Gangguan itu juga memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan serta mendorong kenaikan harga energi dunia.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • AS dan Israel Dilaporkan Berbeda Pendapat dalam Mengakhiri Perang dengan Iran

    AS dan Israel Dilaporkan Berbeda Pendapat dalam Mengakhiri Perang dengan Iran

    7cloud.asia – Amerika Serikat dilaporkan berbeda pandangan dengan Israel terkait rencana untuk mengakhiri perang dengan Iran, melaporkan pada Kamis (26/3/2026).

    Menurut laporan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, perselisihan berpusat pada tiga isu utama: masa depan program rudal balistik Iran, transfer uranium yang telah diperkaya ke Badan Energi Atom Internasional, dan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran.

    Pada Rabu (25/3/2026), sejumlah laporan menyebutkan bahwa usulan 15 poin dari AS untuk menghentikan perang telah disampaikan ke Iran melalui Pakistan.

    Washington juga dikabarkan mempertimbangkan gencatan senjata sementara selama satu bulan untuk membuka jalan bagi perundingan.

    Baca: Iran menolak tawaran AS dan bersumpah pertahankan wilayahnya

    Mengutip seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan pada Kamis, Iran secara resmi telah menyampaikan tanggapan terhadap usulan AS tersebut melalui mediator.

    Tanggapan itu mencakup tuntutan untuk menghentikan serangan dan pembunuhan di semua front, jaminan tidak akan terjadi perang lagi, kompensasi, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, kata pejabat tersebut.

    Mengutip sumber politik di Israel, KAN menyebutkan bahwa pembicaraan AS-Israel masih berlangsung dan ada kemungkinan usulan AS tersebut akan diubah.

    Seorang sumber di Israel juga mengatakan Iran “sudah menggunakan bahasa perang tahap akhir,” sambil terus mengajukan tuntutan signifikan dalam kontak yang sedang berlangsung.

    Baca: Iran tuntut AS tarik pasukannya dari Teluk Persia untuk akhiri perang

    Sumber tersebut menambahkan ada kekhawatiran di Israel bahwa Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan mendorong gencatan senjata sementara guna bernegosiasi dengan Iran.

    Kemungkinan pertemuan antara pejabat AS dan Iran belum ditetapkan waktunya meski ada laporan tentang upaya mediasi oleh Pakistan.

    AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari. Serangan berlangsung hingga kini dan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

    Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta wilayah-wilayah yang menampung aset militer AS di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Negara-negara Teluk Pertimbangkan Jalur Alternatif Untuk Sikapi Penutupan Selat Hormuz

    Negara-negara Teluk Pertimbangkan Jalur Alternatif Untuk Sikapi Penutupan Selat Hormuz

    7cloud.asia – Negara-negara Teluk Persia mempertimbangkan jalur pasokan alternatif, termasuk pembangunan jalur pipa, akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

    Hal ini dilaporkan Financial Times, Jumat (27/3/2026) dengan mengutip diplomat dari salah satu negara kawasan dan yang namanya dirahasiakan.

    “Negara-negara Teluk akan mencari alternatif, seperti membangun jalur pipa,” kata diplomat tersebut menanggapi kemungkinan aturan ketat transit Selat Hormuz oleh Iran, seperti dikutip Financial Times.

    Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Vahid Jalalzadeh telah mengatakan Teheran sedang mengembangkan kerangka hukum baru untuk Selat Hormuz yang akan berlaku setelah konflik berakhir, di mana Iran berencana untuk bekerja sama dengan Oman.

    Penutupan Selat Hormuz dilakukan Iran sebagai balasan serangan sepihak Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap target di Iran, termasuk di Teheran pada 28 Februari yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

    Iran kemudian melakukan balasan, dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.

    Baca: Prancis akan gelar Konferensi Internasional bahas penutupan Selat Hormuz

    Peningkatan ketegangan di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

    Sejak awal serangan, Teheran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang, sehingga lalu lintas maritim di selat itu terhenti.

    Kapal-kapal di kawasan yang bersiap melintasi selat tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian besar kapal yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.

    Teheran menyatakan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi sepenuhnya aturan keselamatan dan keamanan.

    Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, Rabu (25/3/2026) mengatakan bahwa pihak Iran telah mengubah aturan di selat tersebut dan situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang.

    Dia menegaskan bahwa entitas yang terkait dengan AS dan Israel tidak memiliki hak untuk melintas di Selat Hormuz.

    Baca: Iran sebut Selat Hormuz tertutup untuk kapal AS, Israel dan sekutunya

    Berdasarkan data pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz.

    Di antara kapal yang tertahan terdapat sekitar 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak, dan 211 kapal tanker minyak mentah.

    Sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut, kata perusahaan analisis Vortexa.

    Selain itu, terdapat 177 kapal kargo umum, 174 kapal kontainer, 98 kapal pengangkut gas petroleum cair, 42 kapal pengangkut aspal atau bitumen, 37 kapal angkut berat, serta 34 kapal tanker LPG atau kimia di kawasan tersebut.

    Sementara sisanya terdiri dari berbagai jenis kapal lain seperti kapal Ro-Ro, kapal pengangkut bahan bakar, dan kapal angkut berat.

    Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd melaporkan bahwa enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia di tengah ketegangan yang berlangsung.

    Situasi itu juga berdampak terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan sehingga mendorong terjadinya lonjakan harga.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti-OANA

  • Iran Izinkan 20 Kapal Berbendera Pakistan Lintasi Selat Hormuz, Permintaan RI Sedang Dipertimbangkan

    Iran Izinkan 20 Kapal Berbendera Pakistan Lintasi Selat Hormuz, Permintaan RI Sedang Dipertimbangkan

    7cloud.asia – Iran telah mengizinkan lagi 20 kapal berbendera Pakistan untuk berlayar melintasi Selat Hormuz dengan aman, kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Pakistan Ishaq Dar.

    “Saya hendak mengumumkan kabar baik bahwa pemerintah Iran telah mengizinkan 20 lagi kapal berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz,” kata Ishaq Dar melalui media sosial X.

    “Dua kapal akan melintasi selat tersebut setiap harinya,” ucap dia, melanjutkan.

    Ishaq mengatakan keputusan Iran itu merupakan langkah penting yang akan menguatkan upaya bersama dalam mewujudkan perdamaian di kawasan.

    Penutupan selat Hormuz oleh Iran dilakukan setelah serangan sepihak yang dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Teheran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer milik Amerika yang berada di seantero Timur Tengah.

    Akibat ketegangan tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz, rute kunci untuk suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global, berhenti total.

    Dampaknya, sekitar 1900 kapal tertahan. Teheran membatasi kapal dan hanya mengizinkan kapal milik negara tertentu yang boleh melintasi Selat Hormuz

    Berikut adalah daftar negara-negara yang kapal-kapalnya diizinkan oleh Iran untuk melintasi Selat Hormuz dikutip Antaranews.com dari berbagai sumber.

    Baca: Iran tutup Selat Hormuz untuk kapal berbendera AS, Israel dan sekutunya

    1. Rusia, China, India, Pakistan dan Irak
    Iran telah mengizinkan kapal-kapal dari beberapa negara sahabatnya, termasuk Rusia, untuk melewati Selat Hormuz.

    “Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz,” kata Menlu Iran Abbas Araghchi menurut saluran televisi satelit milik Lebanon, Al Mayadeen, dikutip oleh Kantor Berita Rusia, Sputnik/RIA Novosti pada 26 Maret 2026.

    Araghchi menambahkan bahwa Teheran tidak punya alasan untuk mengizinkan “kapal-kapal musuh” melewati Selat Hormuz.

    2. Malaysia
    Selain beberapa negara sahabat tersebut di atas, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa kapal tanker minyak Malaysia juga akan diizinkan melintasi Selat Hormuz, menurut laporan Kantor Berita Anadolu pada 27 Maret 2026.

    Atas izin perlintasan tersebut, Anwar Ibrahim mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menurut laporan kantor berita Malaysia, Bernama, dikutip oleh Kantor Berita Anadolu, pada 27 Maret 2026.

    “Sekarang kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” kata Anwar dalam pidato di televisi, Kamis (26/3/2026).

    “Namun, ini tidak mudah karena Iran merasa telah berkali-kali ditipu dan sulit menerima langkah menuju perdamaian tanpa perjanjian yang mengikat dan jaminan keamanan,” katanya menambahkan.

    Baca: Jalur alternatif untuk sikapi penutupan Selat Hormuz

    3. Thailand
    Menurut Kantor Berita Malaysia Bernama, pada 24 Maret, Thailand telah memperoleh izin dari Iran agar salah satu kapal tanker minyaknya dapat melintasi Selat Hormuz setelah melalui koordinasi bilateral.

    Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan Kementerian Luar Negeri telah menyerahkan nama dua kapal, satu milik Bangchak Corporation dan satu lagi dioperasikan oleh SCG Chemicals, kepada pihak berwenang Iran.

    Dia mengatakan Iran telah memberikan izin kepada kapal tanker minyak Bangchak untuk melintasi Selat Hormuz dan kembali ke Thailand.

    “Pada 23 Maret diketahui bahwa kapal Bangchak telah berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dan kini sedang dalam perjalanan kembali ke Thailand.”

    “Pihak berwenang Thailand juga sedang mengupayakan izin serupa untuk kapal SCG Chemicals setelah menyerahkan rinciannya ke Iran,” katanya kepada wartawan saat konferensi pers pada Selasa.

    4. Bangladesh
    Menurut laporan Kantor Berita Anadolu pada 26 Maret, Iran telah mengizinkan kapal tanker minyak yang menuju Bangladesh, bersama dengan beberapa negara lain yang dianggap “sahabat” atau “tidak bermusuhan,” untuk melewati Selat Hormuz meskipun ketegangan regional yang sedang berlangsung telah mengganggu pelayaran global.

    Seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri mengatakan kepada Anadolu bahwa kapal tanker minyak yang menuju Bangladesh diizinkan untuk melintasi Hormuz.

    Pejabat kementerian lainnya mengatakan bahwa belum ada “komunikasi resmi dari Iran” yang secara khusus memberikan akses, tetapi mengklarifikasi bahwa kapal-kapal Bangladesh “tidak dikenai pembatasan apa pun.”

    Baca: Jutaan orang di seantero AS ikuti unjuk rasa memprotes kebijakan Donald Trump

    5. Iran respons positif permohonan kapal Indonesia lintasi Selat Hormuz
    Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan bahwa pemerintah Iran telah merespons positif permintaan pemerintah Indonesia supaya dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz dapat melintas dengan aman.

    Menurut Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela, pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran sejak awal telah melakukan koordinasi intensif dengan semua pihak terkait di Iran untuk keselamatan kapal tanker tersebut.

    “Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” kata Nabyl merespons pertanyaan ANTARA terkait perkembangan negosiasi kapal tanker Pertamina, di Jakarta, Jumat.

    Menyusul respons positif yang disampaikan Teheran, langkah tindak lanjut telah dijalankan oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional, kata Nabyl, meski belum memberi waktu pasti kapan kapal tanker tersebut bisa keluar dari Selat Hormuz.

    6. Teheran siap fasilitasi pelayaran kapal Jepang di Selat Hormuz
    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran siap memfasilitasi pelayaran kapal-kapal Jepang melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman energi global.

    Menurut laporan Kantor Berita Jepang, Kyodo News pada 21 Maret 2026, Abbas menyebut negosiasi dengan Jepang mengenai masalah ini sedang berlangsung,

    “Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka,” kata Araghchi dalam wawancara telepon dengan Kyodo News, Jumat (20/3/2026).

    Dia juga menekankan bahwa Iran, yang diserang oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari, tidak menginginkan “gencatan senjata, melainkan pengakhiran perang yang lengkap, komprehensif, dan langgeng.”

    Araghchi mengatakan Iran belum menutup jalur air strategis tersebut tetapi telah memberlakukan pembatasan pada kapal-kapal milik negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran, sambil menawarkan bantuan kepada negara lain di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan.

    Ia menambahkan bahwa Iran siap untuk memastikan jalur aman bagi negara-negara seperti Jepang jika mereka berkoordinasi dengan Teheran.

    Sumber: Antaranews.com-Sputnik

  • Iran Bantah Klaim Donald Trump yang Menyebut “Kepemimpinan Baru Iran Meminta Gencatan Senjata”

    Iran Bantah Klaim Donald Trump yang Menyebut “Kepemimpinan Baru Iran Meminta Gencatan Senjata”

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (1/4/2026) mengeklaim bahwa “kepemimpinan baru” Iran meminta gencatan senjata dengan Washington

    Tetapi Trump berkata. AS hanya akan mempertimbangkan permohonan itu jika Selat Hormuz dibuka.

    “Presiden rezim baru Iran, yang tidak seradikal dan lebih cerdas dari pendahulunya, baru saja meminta gencatan senjata dengan Amerika Serikat,” kata Trump melalui platform Truth Social.

    Washington hanya akan mempertimbangkan permintaan itu ketika Selat Hormuz “terbuka, bebas, dan bersih”, ucap Trump, seraya mengatakan bahwa AS akan terus membombardir Iran hingga “kembali ke zaman batu” sebelum hal tersebut tercapai.

    Baca: Trump Akan Akhiri Operasi ke Iran Meskipun Selat Hormuz Belum Dibuka

    Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Esmaeli Baqaei dengan serta-merta membantah klaim Trump tersebut. Ia mengatakan, pernyataan bahwa Teheran meminta gencatan senjata tidak sesuai realitas.

    Media Axios, mengutip tiga pejabat AS, melaporkan bahwa perundingan tengah berlangsung dalam rangka mengusahakan gencatan senjata sebagai imbalan pembukaan kembali Selat Hormuz.

    Para pejabat mengatakan, Trump secara aktif membahas kemungkinan tersebut dengan pihak-pihak di dalam maupun di luar pemerintahan, meski ia juga diperingatkan bahwa masih belum jelas apakah kesepakatan dapat dicapai.

    Para sumber tidak merinci apakah dialog tersebut dilakukan secara langsung antara kedua pihak atau melalui perantara seperti Pakistan.

    Baca: Jutaan warga AS berunjuk rasa menentang kebijakan Trump 

    Menlu Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan bahwa dialog yang berjalan dengan AS bukan perundingan, tetapi hanya pertukaran pesan secara terbatas baik secara langsung ataupun melalui perantara di kawasan.

    Adapun Trump berulang kali menyebut kepemimpinan baru Iran “jauh lebih masuk akal” daripada kepemimpinan sebelumnya.

    Kepada NBC News awal pekan ini, Presiden AS itu meyakini bahwa perang di Iran akan “segera berakhir” dan bahwa AS telah berhasil mencapai “perubahan rezim total”.

    Ia juga berkata bahwa Washington tengah berkomunikasi dengan ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

    Sumber: Antaranews.com-Anadolu

  • Kirim Surat Terbuka untuk Warga AS, Presiden Masoud Pezeshkian Tegaskan Iran Tak Mudah Ditaklukkan

    Kirim Surat Terbuka untuk Warga AS, Presiden Masoud Pezeshkian Tegaskan Iran Tak Mudah Ditaklukkan

    7cloud.asia – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengirimkan surat kepada warga Amerika Serikat (AS) di X pada tanggal Rabu (1/4/2026).

    Dalam suratnya, Masoud Pezeshkian mengajak warga Amerika Serikat untuk tidak terpengaruh oleh narasi sesat yang dibangun terhadap Iran. 

    Narasi yang menggambarkan Iran sebagai ancaman, menurut  Masoud Pezeshkian, tidak sesuai dengan realitas sejarah maupun fakta yang dapat diamati saat ini.

    Ia menegaskan, Iran tidak akan pernah menyerah. Sepanjang ribuan tahun sejarahnya yang membanggakan, Iran telah bertahan lebih lama daripada banyak agresor.

    Berikut teks surat Masoud Pezeshkian selengkapnya:

    Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang
    Kepada rakyat Amerika Serikat, dan kepada semua orang yang, di tengah banjir distorsi dan narasi yang direkayasa, terus mencari kebenaran dan bercita-cita untuk kehidupan yang lebih baik:

    Iran –dengan nama, karakter, dan identitasnya sendiri– adalah salah satu peradaban tertua yang berkelanjutan dalam sejarah manusia. Terlepas dari keunggulan historis dan geografisnya pada berbagai waktu, Iran, dalam sejarah modernnya, tidak pernah memilih jalan agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi.

    Bahkan setelah mengalami pendudukan, invasi, dan tekanan terus-menerus dari kekuatan global—dan meskipun memiliki keunggulan militer atas banyak negara tetangganya—Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah memukul mundur mereka yang menyerangnya.

    Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara-negara tetangga. Bahkan di tengah intervensi dan tekanan asing yang berulang kali sepanjang sejarah mereka yang membanggakan, rakyat Iran secara konsisten membedakan dengan jelas antara pemerintah dan rakyat yang mereka pimpin.

    Ini adalah prinsip yang berakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran—bukan sikap politik sementara.

    Oleh karena itu, menggambarkan Iran sebagai ancaman tidak sesuai dengan realitas sejarah maupun fakta yang dapat diamati saat ini.

    Persepsi seperti itu adalah produk dari keinginan politik dan ekonomi pihak yang berkuasa – kebutuhan untuk menciptakan musuh guna membenarkan tekanan, mempertahankan dominasi militer, menopang industri persenjataan, dan mengendalikan pasar strategis. Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ancaman itu diciptakan.

    Dalam kerangka kerja yang sama, Amerika Serikat telah memusatkan sebagian besar pasukan, pangkalan, dan kemampuan militernya di sekitar Iran – sebuah negara yang, setidaknya sejak berdirinya Amerika Serikat, belum pernah memulai perang.

    Agresi Amerika baru-baru ini yang dilancarkan dari pangkalan-pangkalan ini telah menunjukkan betapa mengancamnya kehadiran militer semacam itu. Tentu saja, tidak ada negara yang menghadapi kondisi seperti itu akan mengabaikan penguatan kemampuan pertahanannya.

    Apa yang telah dilakukan Iran – dan terus dilakukan – adalah respons terukur yang didasarkan pada pembelaan diri yang sah, dan sama sekali bukan inisiasi perang atau agresi.

    Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat pada awalnya tidak bermusuhan, dan interaksi awal antara rakyat Iran dan Amerika tidak diwarnai permusuhan atau ketegangan. Namun, titik baliknya adalah kudeta tahun 1953 – intervensi ilegal Amerika yang bertujuan mencegah nasionalisasi sumber daya Iran sendiri.

    Kudeta tersebut mengganggu proses demokrasi Iran, mengembalikan kediktatoran, dan menabur ketidakpercayaan yang mendalam di kalangan rakyat Iran terhadap kebijakan AS.

    Ketidakpercayaan ini semakin mendalam dengan dukungan Amerika terhadap rezim Shah, dukungannya terhadap Saddam Hussein selama perang yang dipaksakan pada tahun 1980-an, pemberlakuan sanksi terpanjang dan terlengkap dalam sejarah modern, dan akhirnya, agresi militer tanpa provokasi – dua kali, di tengah negosiasi – terhadap Iran.

    Namun, semua tekanan ini gagal melemahkan Iran. Sebaliknya, negara ini justru semakin kuat di banyak bidang: tingkat melek huruf meningkat tiga kali lipat – dari sekitar 30 persen sebelum Revolusi Islam menjadi lebih dari 90 persen saat ini;

    Pendidikan tinggi berkembang pesat; kemajuan signifikan telah dicapai dalam teknologi modern; layanan kesehatan telah meningkat; dan infrastruktur telah berkembang dengan kecepatan dan skala yang tidak tertandingi di masa lalu.

    Ini adalah realitas yang terukur dan dapat diamati, yang berdiri sendiri terlepas dari narasi yang dibuat-buat.

    Pada saat yang sama, dampak destruktif dan tidak manusiawi dari sanksi, perang, dan agresi terhadap kehidupan rakyat Iran yang tangguh tidak boleh diremehkan. Kelanjutan agresi militer dan pemboman baru-baru ini sangat memengaruhi kehidupan, sikap, dan perspektif masyarakat.

    Ini mencerminkan kebenaran mendasar manusia: ketika perang menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan, rumah, kota, dan masa depan, orang-orang tidak akan tetap acuh tak acuh terhadap mereka yang bertanggung jawab.

    Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini? Apakah ada ancaman objektif dari Iran yang dapat membenarkan perilaku tersebut?

    Apakah pembantaian anak-anak yang tidak bersalah, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau membual tentang membom sebuah negara “hingga kembali ke zaman batu” memiliki tujuan lain selain semakin merusak kedudukan global Amerika Serikat?

    Iran berupaya melakukan negosiasi, mencapai kesepakatan, dan memenuhi semua komitmennya.

    Keputusan untuk menarik diri dari kesepakatan itu, meningkatkan ketegangan menuju konfrontasi, dan melancarkan dua tindakan agresi di tengah negosiasi adalah pilihan destruktif yang dibuat oleh pemerintah AS – pilihan yang melayani khayalan seorang agresor asing.

    Menyerang infrastruktur vital Iran – termasuk fasilitas energi dan industri – secara langsung menargetkan rakyat Iran. Selain merupakan kejahatan perang, tindakan tersebut membawa konsekuensi yang meluas jauh melampaui perbatasan Iran.

    Tindakan ini menimbulkan ketidakstabilan, meningkatkan korban jiwa dan biaya ekonomi, serta melanggengkan siklus ketegangan, menanam benih kebencian yang akan bertahan selama bertahun-tahun.

    Ini bukanlah demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi berkelanjutan.

    Bukankah juga benar bahwa Amerika telah memasuki agresi ini sebagai proksi Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut? Bukankah benar bahwa Israel, dengan menciptakan ancaman Iran, berupaya mengalihkan perhatian global dari kejahatannya terhadap Palestina?

    Bukankah jelas bahwa Israel sekarang bertujuan untuk memerangi Iran hingga tentara Amerika terakhir dan uang pajak Amerika terakhir—mengalihkan beban khayalannya kepada Iran, kawasan tersebut, dan Amerika Serikat sendiri dalam mengejar kepentingan yang tidak sah?

    Apakah “Amerika yang Utama” benar-benar termasuk dalam prioritas pemerintah AS saat ini?

    Saya mengajak Anda untuk melihat melampaui mesin disinformasi – bagian integral dari agresi ini – dan sebaliknya berbicara dengan mereka yang telah mengunjungi Iran.

    Amati banyak imigran Iran yang berprestasi – yang dididik di Iran – yang sekarang mengajar dan melakukan penelitian di universitas-universitas paling bergengsi di dunia, atau berkontribusi pada perusahaan teknologi paling maju di Barat.

    Apakah realitas ini sesuai dengan distorsi yang Anda dengar tentang Iran dan rakyatnya?

    Saat ini, dunia berada di persimpangan jalan. Melanjutkan jalan konfrontasi lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya. Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan adalah nyata dan memiliki konsekuensi; hasilnya akan membentuk masa depan bagi generasi mendatang.

    Sepanjang ribuan tahun sejarahnya yang membanggakan, Iran telah bertahan lebih lama daripada banyak agresor. Yang tersisa dari mereka hanyalah nama-nama yang ternoda dalam sejarah, sementara Iran tetap bertahan—tangguh, bermartabat, dan bangga.

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Trump Ingin Segera Akhiri Perang dengan Iran Hingga Kriminalisasi terhadap Aktivis Lingkungan

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Trump Ingin Segera Akhiri Perang dengan Iran Hingga Kriminalisasi terhadap Aktivis Lingkungan

    7cloud.asia – Artikel mengenai rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel terkait ketegangan di Timur Tengah seperti pengawasan Iran atas lalu lintas kapal di Selat Homrmuz.

    Artikel mengenai pembongkaran hunian liar di Stasiun Senen pasca kunjungan Presiden juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Trump ingin segera akhiri perang dengan Iran
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada para stafnya bahwa dia siap mengakhiri operasi militer ke Iran bahkan jika Selat Hormuz sebagian besar masih ditutup.

    Laporan itu ditulis The Wall Street Journal, Senin (30/3/2026), dengan mengutip sejumlah pejabat pemerintahan Amerika, sebagaimana dikutip RIA Novosti pada Selasa.

    Menurut laporan tersebut, dalam beberapa hari terakhir, Trump dan para stafnya menyimpulkan bahwa misi untuk membuka Selat Hormuz secara penuh berpotensi memperpanjang konflik di luar rencana awal operasi

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Hunian liar di Stasiun Senen digusur
    Sehari usai Prabowo blusukan ke lokasi, hunian di bantaran rel Senen yang berada di seberang barat Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat tersebut telah dibongkar.

    Puluhan rumah yang ada di sana sudah rata dengan tanah. Sebelumnya, rumah liar warga berada sekitar tiga meter dari titik rel kereta api di perlintasan Senen. Lokasi rumah liar itu menempel dengan dinding bangunan Pasar Gaplok.

    Sebelum digusur, rumah-rumah liar warga berjajar sepanjang 300 meter di bantaran rel tepatnya di sisi barat Stasiun Senen.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. Aktivis lingkungan alami kriminalisasi
    Jaksa Penuntut Umum menuntut aktivis lingkungan Erasmus Frans Mandato dengan hukuman penjara selama tiga tahun dan enam bulan. Selama ini, Erasmus Frans Mandato kerap mengritik privatisasi Pantai Bo’a di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

    Tuntutan ini dibacakan dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Rote Ndao, pada Senin (30/3/2026). Sebelumnya, pada sidang pada 17 November 2025, Erasmus didakwa melanggar Pasal 45A Ayat 3 Jo. Pasal 28 Ayat 3 UU ITE.

    Erasmus Frans Mandato dituduh menyebarkan informasi bohong yang menimbulkan kerusuhan terkait kritiknya di Facebook pada 24 Januari 2025 terhadap dugaan penutupan akses publik ke Pantai Oemau (Pantai Bo’a) oleh PT Bo’a Development.

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Daftar kapal yang diizinkan melintasi selat Hormuz
    Iran menutup selat Hormuz setelah serangan sepihak yang dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Teheran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer milik Amerika yang berada di seantero Timur Tengah.

    Akibat ketegangan tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz, rute kunci untuk suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global, berhenti total.

    Dampaknya, sekitar 1900 kapal tertahan. Teheran membatasi kapal dan hanya mengizinkan kapal milik negara tertentu yang boleh melintasi Selat Hormuz. Namun, belakangan Iran membuka selat Hormuz untuk sejumlah negara

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. Kiprah 10 tahun Palari Films
    Desember Jani menjadi salah satu dari tujuh film yang diproduksi guna menandai 10 tahun kiprah Palari Film di panggung film nasional.

    Desember Jani akan disutradarai visual artist perempuan Ariani Darmawan yang juga pendiri Kineruku di Bandung.

    Dalam keterangan tertulisnya, Desember Jani disebut akan menjadi film yang dibintangi, disutradarai, ditulis, dan diproduseri, semuanya oleh perempuan (all women project).

    Baca berita selengkapnya di sini

  • Iran Tolak Tawaran Gencatan Senjata dari AS

    Iran Tolak Tawaran Gencatan Senjata dari AS

    7cloud.asia – Iran menolak gagasan gencatan senjata yang ditawarkan Amerika Serikat (AS) karena khawatir jeda pertempuran dapat memungkinkan musuh-musuhnya untuk kembali berkumpul dan melanjutkan serangan.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa Teheran hanya akan mempertimbangkan gencatan senjata jika ada jaminan untuk mencegah perang kembali terjadi.

    “Gencatan senjata berarti jeda untuk membangun kembali kekuatan untuk melancarkan serangan baru. Tidak ada pihak rasional yang akan menerima itu,” kata Baqaei dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026).

    Selain jaminan untuk mencegah siklus gencatan senjata dan konflik baru, Iran juga menuntut keputusan yang berkaitan dengan keamanan nasional “harus memastikan tidak ada tindakan agresi lebih lanjut.”

    Baca: Trump ingin segera akhiri perang dengan Iran

    Ketegangan kembali meningkat di Timur Tengah sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026.

    Serangan itu menewaskan sedikitnya 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei dan sejumlah petinggi Iran lainnya.

    Iran membalas agresi militer AS-Israel itu dengan serangan pesawat nirberawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

    Serangan balasan Teheran itu menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu