Tag: kesehatan

  • Pentingnya Pemenuhan Kebutuhan Gizi Seimbang bagi Kesehatan Lansia

    Pentingnya Pemenuhan Kebutuhan Gizi Seimbang bagi Kesehatan Lansia

    7cloud.asia – Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia Dr. dr. Inge Permadhi, menyampaikan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi bagi kesehatan orang lanjut usia atau lansia.

    “Makanan itu harus mencukupi kebutuhan kalori dan bergizi, sehingga lansia mendapatkan berat badan yang ideal dan sehat,” kata Inge dikuti Antaranews.com, Jumat (13/9/2024)

    Ia mengatakan bahwa lansia harus mendapat asupan nutrisi yang mereka butuhkan agar bisa tetap sehat dan produktif.

    Lansia antara lain membutuhkan zat gizi dasar seperti karbohidrat kompleks, yang terdapat pada nasi, kentang dan umbi-umbian.

    Lansia juga sangat membutuhkan sumber protein dan lemak seperti telur, ikan, dan daging; serta vitamin dan mineral dari sayur dan buah.

    Baca: Cara membuat lansia bahagia dan merasa lebih berharga

    Inge menambahkan, kecukupan cairan juga perlu diperhatikan pada lansia.

    Selain mengonsumsi makanan sehat dengan kandungan gizi seimbang, Inge menyampaikan, lansia perlu rutin melakukan aktivitas fisik untuk menjaga badan tetap bugar.

    Aktivitas fisik seperti membersihkan rumah serta latihan olahraga aerobik dan ketahanan perlu dilakukan agar tubuh tetap bugar dan terhindari dari masalah kesehatan.

    Kegiatan olahraga berkelompok bisa jadi pilihan karena selain mendorong lansia bergerak juga dapat mendatangkan kegembiraan. Untuk itu lansia bisa melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki, bersepeda, dan yoga bersama.

    Inge menambahkan, tidur teratur selama enam hingga delapan jam setiap hari baik untuk kesehatan lansia.

    Baca: Perencanaan dini hadapi masa pensiun

    “Semakin tua itu biasanya berkurang durasi tidurnya. Saya pikir enam jam sudah cukup, tetapi harus dengan kualitas tidur dalam, jangan tidur bangun tidur bangun ya,” katanya.

    Di samping itu, ia mengatakan, penting pula untuk berfikir positif dan mengelola pikiran agar tidak stres, antara lain dengan menikmati hobi.

    Tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat, yang bebas dari polusi udara dan suara, juga baik untuk kesehatan lansia.

    Inge menekankan pentingnya menjaga kesehatan lansia serta meningkatkan kualitas hidup mereka.

    Kesehatan dan kualitas hidup lansia tidak hanya baik bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungannya.

  • Bukan 10.000 Langkah, Ini Jumlah Ideal Jalan Kaki yang Harus Dilakukan Setiap Hari

    Bukan 10.000 Langkah, Ini Jumlah Ideal Jalan Kaki yang Harus Dilakukan Setiap Hari

    7cloud.asia – Jalan kaki 10.000 langkah sehari sudah lama dipercaya sebagai cara efektif untuk meraih kebugaran dan kesehatan.

    Namun, baru-baru ini pakar kebugaran mengatakan target 10.000 langkah ini mungkin tak lagi diperlukan untuk meraih manfaat kesehatan terkait dengan jalan kaki secara teratur.

    Beberapa penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi, berapa jumlah langkah harian yang memberikan manfaat optimal untuk kesehatan. Dan, banyak di antaranya yang menghasilkan angka di kisaran 7.000 hingga 8.000 langkah sehari.

    “Sangat menarik bagaimana angka tersebut terulang di banyak penelitian ini,” kata Dr Elroy Aguiar, asisten profesor ilmu olahraga di Universitas Alabama yang penelitian terbarunya berpusat pada pengukuran aktivitas fisik berbasis langkah.

    “Angka ini dikaitkan dengan penurunan risiko kematian, kanker, dan penyakit kardiovaskular,” ujarnya.

    Namun, ia mengingatkan, hal ini tidak berarti jalan kaki 8.000 langkah per hari harus menjadi target semua orang. Pasalnya, ada hal lain yang lebih penting dari itu.

    Di bawah ini penjelasan yang menghapus mitos 10.000 langkah sehari, dan menjelaskan cara menetapkan sasaran langkah harian yang sesuai untuk Anda.

    Mengapa harus jalan kaki 10.000 langkah sehari?
    Target jalan kaki 10.000 langkah sehari ternyata berasal dari kampanye pemasaran pedometer Jepang yang bertahan sejak tahun 1960-an, atau sekitar penyelenggaraan Olimpiade Tokyo.

    Baca: Waktu yang tepat agar manfaat jalan kaki bisa optimal

    Dilansir independent.co.uk, mesin itu disebut manpo-kei, yang artinya “10.000 langkah meter”.

    “Ada bukti yang menunjukkan bahwa penduduk Jepang, sama seperti warga Amerika Serikat dan mungkin Inggris, rata-rata jalan kaki sekitar 5.000-6.000 langkah per hari,” kata Dr Aguiar.

    “Target 10.000 langkah adalah bagus karena jumlahnya sedikit lebih tinggi. Jika jalan kaki selama 30 menit, Anda mungkin akan mencapai sekitar 3.000 langkah, jadi jika Anda mengambil aktivitas harian dasar dan menambahkan satu sesi latihan yang direncanakan, Anda hampir mencapai sasaran 10.000 langkah tersebut.”

    Angka ini kemudian menjadi standar emas dalam menandai pergerakan harian, dengan banyak pelacak kebugaran yang menetapkannya sebagai target default mereka. Hal ini bahkan memengaruhi penelitian tentang manfaat jalan kaki.

    “Ada banyak penelitian yang mengamati apakah 10.000 langkah lebih baik daripada mengurangi aktivitas, dan hal ini menciptakan bias konfirmasi yang dibuat-buat,” jelas Dr Aguiar.

    “Orang mengira 10.000 itu sangat melekat. Itu adalah angka bulat dan mudah diingat, dan mereka menggunakannya dalam studi penelitian mereka sebagai perbandingan.”

    Berapa langkah yang harus Anda lakukan per hari?
    Kita sekarang tahu bahwa berjalan kaki sekitar 8.000 langkah sehari dikaitkan dengan banyak manfaat kesehatan dan bagi banyak orang, ini mungkin merupakan tujuan yang lebih masuk akal.

    Penelitian terbaru dari Universitas Granada mendukung target baru ini, dengan sebuah laporannya mengklaim bahwa target tersebut memberikan “bukti ilmiah pertama tentang berapa banyak langkah yang perlu Anda ambil per hari untuk mengurangi risiko kematian dini secara signifikan”. Angka itu adalah 8.000.

    Baca: Manfaat jalan kaki untuk kesehatan fisik dan mental

    Sementara itu, meta-analisis tahun 2023 yang diterbitkan dalam European Journal of Preventive Cardiology menetapkan batas bawah 3.867 langkah per hari, diperlukan untuk melihat penurunan “signifikan” pada semua penyebab kematian.

    Kedua penelitian sepakat bahwa tidak ada batasan jumlah langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan hasil kesehatan ini. Dengan kata lain, semakin banyak langkah yang Anda lakukan, semakin baik – tetapi akan ada hasil yang semakin berkurang.

    “Jika Anda menginginkan manfaat yang optimal sesuai waktu yang Anda habiskan, dan Anda sudah mendapatkan sebagian besar keuntungan jika Anda telah melakukan 8.000 – maka ada keuntungan marjinal atau tambahan di luar titik ini,” jelas Dr Aguiar.

    “Dan dalam hal memenuhi pedoman aktivitas fisik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu sekitar 150 menit per minggu untuk aktivitas fisik intensitas sedang, atau 75 menit aktivitas fisik intensitas tinggi, angka tersebut berarti sekitar 7.000-8.000 langkah per hari.

    Ada banyak hal yang masuk akal, dan hal ini sejalan dengan apa yang ditunjukkan oleh studi baru.”

    Meskipun terdapat penyangkalan terhadap tujuan yang ditetapkan pada tahun 70an, dia tidak keberatan dengan kenyataan bahwa tujuan 10.000 langkah per hari sudah begitu diyakini.

    “Banyak penelitian awal yang mengadopsi pesan 10.000 langkah, dan ini bukanlah hal yang buruk: selalu direkomendasikan untuk melakukan lebih banyak langkah daripada melakukan lebih sedikit,” kata Dr Aguiar.

    “Tetapi jika Anda ingin akurat dengan apa yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan, jumlah 8000 langkah itu sudah cukup.”

  • Dampak Menunda Waktu Sarapan bagi Kesehatan

    Dampak Menunda Waktu Sarapan bagi Kesehatan

    7cloud.asia – Banyak pakar yang menyebut bahwa sarapan adalah elemen penting dalam menjalani kegiatan sehari-hari.

    Sarapan atau makan pagi bisa memberikan energi sepanjang hari sekaligus membantu pengaturan fungsi tubuh.

    Namun, beberapa waktu lalu seorang kreator digital dari India Dr. Steven Gundry, seperti dilaporkan laman The Indian Express, Sabtu (2/11/2024), mengatakan memundurkan jam sarapan menjadi pukul 10.00-11.00 bisa bermanfaat bagi kesehatan.

    Steven menyebut, memundurkan waktu sarapan dapat meningkatkan fleksibilitas metabolisme dan bahkan memperpanjang usia.

    Menanggapi pernyataan tersebut, konsultan ahli diet di Rumah Sakit Kokilaben Dhirubhai Ambani, Pratiksha Kadam, menjelaskan bahwa menunda waktu sarapan sebagai bagian dari puasa intermiten dapat memberikan manfaat kesehatan yang spesifik.

    Menunda waktu sarapan menjadi sekitar pukul 10.00-11.00 dapat meningkatkan pembakaran lemak dan meningkatkan sensitivitas insulin dengan memperpanjang periode puasa semalam sehingga tubuh dapat mengandalkan energi yang tersimpan.

    Baca: Sarapan dengan menu yang sama bisa mengusir kekacauan

    Namun, Kadam mengatakan bahwa waktu sarapan yang ideal bervariasi, sesuai dengan jadwal, gaya hidup, dan metabolisme individu.

    Sependapat dengan hal itu, kepala ahli gizi di Rumah Sakit Fortis CG Road, Bengaluru, Rinki Kumari, mengatakan bahwa menunda sarapan selama satu hingga dua jam mungkin memiliki manfaat.

    Pola makan yang dibatasi waktu dapat meningkatkan autophagy, meningkatkan metabolisme, dan meningkatkan pembakaran lemak.

    Dia juga mengatakan bahwa menunda makan dapat mengurangi asupan kalori secara keseluruhan dan meningkatkan kejernihan mental.

    Meskipun waktu makan dapat mempengaruhi metabolisme dan respon hormonal, Kumari menekankan pentingnya kualitas nutrisi karena sarapan yang seimbang menyediakan vitamin, mineral, dan energi yang penting.

    “Kebanyakan orang berbuka puasa dan mulai melakukan rehidrasi beberapa jam setelah bangun tidur, dengan jam 8-10 pagi sebagai waktu yang optimal ketika tubuh kebanyakan orang tampaknya merespons secara efektif dalam meningkatkan energi,” ujar Kumari.

    Baca: Buah-buahan ini tidak disarankan dimakan saat sarapan

    Orang-orang yang melakukan puasa intermiten biasanya sarapan pukul 10.00-11.00, yang disebut Kumari berdampak pada pengelolaan berat badan dan penurunan kadar gula darah.

    Kumari juga menekankan tidak ada satu waktu sarapan yang ideal bagi semua orang karena berbagai faktor, yaitu gaya hidup dan preferensi pribadi.

    “Beberapa penelitian menyarankan untuk sarapan dalam waktu satu jam setelah bangun tidur, sementara penelitian lain menyarankan untuk menunda makan. Dengarkan tubuh Anda dan bereksperimen lah untuk menemukan apa yang terbaik untuk Anda,” ujar Kumari.

    Kadam mengatakan bahwa meskipun waktu makan memang penting, namun yang lebih penting adalah apa yang Anda makan.

    “Makanan yang terdiri dari biji-bijian, protein, dan serat yang kaya akan nutrisi membantu mengatur gula darah serta menjaga konsentrasi dan suasana hati yang sehat,” kata Kadam menambahkan. (Sumber: Antaranews.com)

  • Resistensi Antibiotik Berpengaruh pada Produktivitas Masyarakat Secara Luas

    Resistensi Antibiotik Berpengaruh pada Produktivitas Masyarakat Secara Luas

    7cloud.asia – Resistensi antibiotik kini menjadi salah satu tantangan serius dalam dunia kesehatan, yang disebut sebagai “pandemi senyap”

    Masalah resistensi antibiotik tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berpengaruh luas terhadap produktivitas masyarakat.

    Hal itu diungkapkan Ketua Departemen Hubungan Lembaga Pemerintah PB IDI Brigjen TNI Purn. DR. Dr. Soroy Lardo, SpPD KPTI FINASIM, yang juga menjelaskan jika resistensi tersebut tidak segera diatasi, angka kesakitan dan kematian akibat infeksi akan meningkat, serta mengganggu keseimbangan ekonomi dan sosial.

    Kalau perjalanan infeksi yang mengalami resistensi antibiotik itu tidak dapat diatasi, tentu produktivitas kerja secara komunitas ini juga akan terganggu.

    “Jadi mengenai antibiotik itu memang global action plan-nya itu adalah bagaimana kita melihat masalah isu masa kini dan masa depan,” kata Dokter lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran tersebut saat diskusi daring di Jakarta, Kamis (28/11/2011).

    Baca: Khasiat Kencur Serta Cara Mengolahnya

    Untuk itu, menurutnya diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai sektor dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), guna menciptakan solusi berbasis data yang tepat sasaran.

    Menghadapi ancaman resistensi antibiotik memerlukan strategi yang terintegrasi, salah satunya melalui pendekatan ‘One Health’, yang melibatkan sinergi antara manajemen institusi, lapangan, lingkungan, dan keinginan masyarakat.

    Menurut Dokter Soroy, pencegahan menjadi langkah utama, yang meliputi edukasi publik, simulasi lapangan untuk mendeteksi risiko awal, hingga pengembangan program di tingkat desa.

    Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kesehatan yang mendukung pengendalian resistensi antibiotik.

    Tak sampai di situ, organisasi profesi kesehatan memiliki peran strategis sebagai jembatan sinergi antara kebijakan pemerintah dan implementasi di lapangan.

    Baca: Manfaat Kesehatan Daun Kelor atau Moringa Oleifera

    Selain itu, sumber daya manusia yang kompeten, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, menjadi faktor pendukung keberhasilan program itu.

    Resistensi antibiotik bukan hanya masalah masa kini, tetapi juga ancaman masa depan, sehingga perlu pendekatan berkelanjutan yang melibatkan semua pihak.

    “Jadi mau tidak mau ini dengan SDM yang secara kuantitas cukup banyak, ada ratusan ribu, maka ini bisa menjadi mitra strategis kebijakan kesehatan negara yang terkait dengan resistensi antibiotik.

    Dan juga kita harus melihat bahwa resistensi antibiotik ini perlu pendekatan secara multidisipin dan orientasi kepada kebijakan yang mengutamakan namanya community strategy preventive,” ungkapnya.

    Dengan upaya bersama, resistensi antibiotik bisa dikelola sehingga dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan, serta program pencegahan berbasis komunitas dan kerja sama lintas sektor menjadi kunci untuk menjaga stabilitas kesehatan masyarakat di masa depan.

  • Manfaat Lumut untuk Kesehatan: Dari Antiseptik hingga Mencegah Kanker

    7cloud.asia – Tak hanya bermanfaat untuk lingkungan, beberapa jenis tumbuhan lumut dijadikan obat untuk mengatasi beberapa penyakit.

    Jenis tumbuhan lumut yang biasanya digunakan untuk pengobatan adalah lumut daun dan juga lumut hati. Dilansir wikipedia, lumut daun atau lumut sejati adalah tumbuhan yang termasuk dalam divisi Bryophyta sensu stricto atau Musci.

    Lumut daun juga disebut sebagai lumut sejati, karena memiliki bagian-bagian utama tumbuhan yang lengkap, yaitu akar (rizoid), batang, dan daun.

    Lumut ini merupakan kelompok lumut terbanyak dibandingkan lumut lainnya, yaitu sekitar 10 ribu spesies. Diperkirakan, terdapat 12.000 jenis lumut daun yang ada di alam ini.

    Jenis lumut ini, bisa dijadikan obat untuk membantu kesehatan manusia.

    Baca: Mengenal lumut sebagai tumbuhan perintis

    Berikut manfaat lumut daun, seperti dilansir dari dislhkbadung.go,id:

    1. Sebagai bahan pembuatan obat kulit
    Hal ini pertama kali di lakukan negara China, dimana pada zaman dahulu lumut di jadikan masyarakat china untuk membuat ramuan tradisional untuk mengatasi penyakit kulit.

    2. Bahan pembuatan obat mata
    Lumut memiliki sifat yang baik yaitu bisa dijadikan sebagai antibakteri. Sifat inilah yang digunakan oleh dunia medis untuk mengobati beberapa penyakit mata.

    3. Untuk obat hepatitis
    Tidak hanya bagi mata, penyakit yang menyerang hati seperti hepatitis juga bisa diobati dengan obat yang tebuat dari lumut jenis marchantia polymorpha.

    4. Sebagai obat antiseptik
    Lumut juga digunakan sebagai zat antiseptik yang membantu membunuh kuman-kuman. Zat antiseptik sering jumpai dalam pembuatan sabun-sabun kesehatan dan juga obat kumur pembersih mulut.

    Untuk membuat zat antiseptik dibutuhkan lumut berjenis frullania tamaricis. Fungsi antiseptik seperti ini juga terdapat pada manfaat daun sirih, manfaat minyak kayu putih, daun jambu biji

     

    Baca: Manfaat daun meniran untuk kesehatan

    5. Obat penyakit jantung
    Bagi yang memiliki penyakit jantung tentu akrab dengan obat-obat untuk mengatasi jantung. Tahukan bahwa salah satunya terbuat dari lumut. Lebih tepatnya adalah lumut cratoneuron yang bisa di buat menjadi obat menormalkan detak jantung.

    6. Obat pneumonia
    Lumut memang berperan penting dalam dunia medis. Tidak hanya mata, kulit, hati, hingga jantung. Lumut juga bermanfaat dalam pembuatan obat untuk penyakit pneumonia.

    7. Mengobati luka bakar dan luka luar
    Anda pernah mengalami luka bakar atau luka luar akibat terjatuh atau tergores benda tajam? Bagi orang china dahulu ketika mengalami hal serupa, mereka menggunakan lumut untuk mengatasinya.

    Kini dunia medis menciptakannya lebih steril, sifat antiseptik pada lumut jenis canocphalum di gunakan untuk mengatasi obat luka bakar dan luka luar.

    8. Zat anti kanker
    Sifat antibakteri pada lumut di percaya juga menjadi anti sel-sel kanker. Pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh bisa dicegah dengan obat yang terbuat dari lumut.

    Baca: Temulawak, tanaman obat unggulan

    9. Sebagai obat anti jamur
    Jamur memang sering menyerang kulit terluar kita. Biasanya juga jamur menyerang kulit bagian-bagian lipatan kulit seperti leher, kaki, hingga daerah paha. Saat ini telah banyak obat jamur yang juga terbuat dari lumut.

    10. Dijadikan obat bius
    Obat bius sangat dibutuhkan dalam dunia medis, terutama untuk kepentingan operasi. Obat bius yang digunakan oleh medis terbuat juga dari lumut dengan jenis rhodobryum giganteum.

    11. Obat Hipertensi
    Jenis lumut hati selain digunakan untuk obat bius juga digunakan sebagai pembuatan obat darah tinggi. Sifat penenang pada lumut bisa di jadikan obat untuk mengontrol tekanan darah.

    12. Mengatasi bisa ular
    Lumut juga dapat menghilangkan racun yang disebabkan oleh bisa ular yang menggigit kita. Lumut yang digunakan adalah lumut jenis marchantia polymorpha.
    mer.

  • HMPV Dilaporkan Telah Masuk Indonesia, Warga Diimbau Kembali Terapkan Protokol Kesehatan

    HMPV Dilaporkan Telah Masuk Indonesia, Warga Diimbau Kembali Terapkan Protokol Kesehatan

    7cloud.asiaVirus Human Metapneumovirus (HMPV), yang baru-baru ini merebak di China, dilaporkan telah ditemukan di Indonesia. Semua kasus yang ditemukan melibatkan anak-anak.

    Menanggapi kondisi ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat untuk tidak panik, karena HMPV bukanlah virus baru dan sudah dikenal dalam dunia medis.

    “HMPV sudah lama ditemukan di Indonesia, kalau dicek apakah ada, itu ada. Saya sendiri kemarin melihat data di beberapa lab, ternyata beberapa anak ada yang terkena HMPV,” kata Menkes dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (6/1/2025).

    Menkes menjelaskan, virus HMPV berbeda dengan virus Covid-19. Menurutnya, Covid-19 merupakan virus baru, sedangkan HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu.

    Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus HMPV ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik.

    Baca: Gejala dan cara mencegah penularan HMPV

    “Berbeda dengan Covid-19 yang baru muncul beberapa tahun lalu, HMPV adalah virus lama yang sudah ada sejak 2001 dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Selama ini juga tidak terjadi apa-apa juga,” ujar Menkes.

    Menanggapi meningkatnya kasus HMPV di China, Menkes menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Hal ini juga telah dikonfirmasi oleh pemerintah Tiongkok dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Menurutnya, peningkatan kasus flu biasa di negara empat musim seperti Cbina sering terjadi saat memasuki musim dingin.

    “Saya sudah lihat datanya, yang naik di China itu virusnya bukan HMPV tapi melainkan tipe H1N1 atau virus flu biasa. HMPV itu ranking nomor tiga di China dari sisi prevalensi, jadi itu tidak benar),” kata Menkes.

    Menkes Budi juga menegaskan bahwa HMPV bukanlah virus yang mematikan. Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk, demam, pilek, dan sesak napas.

     

    Baca: Deforestasi picu penyebaran penyakit zoonosis

    Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus.

    Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi.

    Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak-anak, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada.

    Karena itu, Menkes mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika muncul gejala yang mencurigakan.

    “Yang terpenting adalah tetap tenang dan waspada. Dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, sama Seperti Covid-19, kita dapat mengatasi virus ini dengan baik,” tutup Menkes.

  • Masih Bingung? Ini Dia Perbedaan dan Persamaan HMPV dan Covid-19

    Masih Bingung? Ini Dia Perbedaan dan Persamaan HMPV dan Covid-19

    7cloud.asia – Beberapa anak di Indonesia saat ini diketahui telah terpapar Virus Human Metapneumovirus (HMPV). Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat tidak panik.  Karena virus ini berbeda dengan Covid-19.

    HMPV merupakan virus pernapasan yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas dan bawah. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 2001 di Belanda, meskipun bukti menunjukkan keberadaannya sejak 1958.

    “Berbeda dengan Covid-19 yang baru muncul beberapa tahun lalu, HMPV adalah virus lama yang sudah ada sejak 2001 dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Selama ini juga tidak terjadi apa-apa juga,” jelas Budi.

    Baca: Kenali gejala dan cara mencegah HMPV

    Melansir The Economic Times dan Deccan Herald, ada beberapa perbedaan dan persamaan HMPV dan Covid-19.

    Perbedaan HMPV dan Covid-19

    Pertama, jenis virusnya. HMPV disebabkan oleh metapneumovirus dari famili Pneumoviridae HMPV yang juga mencakup Respiratory Syncytial Virus (RSV). sementara COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 dari famili Coronavirus.

    Kedua, gejalanya. HMPV cenderung memiliki gejala ringan hingga sedang. Meski demikian gejala ini berpotensi menjadi parah pada kelompok berisiko tinggi. Komplikasinya dapat seperti bronkiolitis atau pneumonia.

    Sedangkan gejala COVID-19 memiliki spektrum yang lebih luas. Bahkan penderita Covid-19 bisa tertular tanpa gejala.

    Gejala Covid-19 dapat memicu terjadinya komplikasi berat seperti sindrom distres pernapasan akut (ARDS) dan kegagalan multi-organ.

    Baca: HMPV telah masuk ke Indonesia

    Ketiga, penularannya. HMPV penularannya lebih rendah dibandingkan Covid-19. Virus ini tidak bertahan lama di udara.

    Sedangkan SARS-CoV-2 dapat menyebar melalui aerosol di ruang tertutup. Seperti varian baru Covid-1, yakni Omicron bahkan memiliki kemampuan penularan yang sangat tinggi.

    Keempat, vaksin. Hingga kini belum ada vaksin untuk HMPV. Sebaliknya, COVID-19 memiliki berbagai vaksin, seperti vaksin mRNA dan vektor virus.

    Baca: Varian baru Covid-19 landa Australia

    Persamaan HMPV dan Covid-19

    Pertama, gejala yang timbul sama. Kedua virus yang berasal dari keluarga berbeda ini memiliki gejala yang sama seperti demam, batuk, sesak napas, dan hidung tersumbat.

    Kedua, sasarannya sama. Kedua virus tersebut akan menyasar kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan imunitas lemah.

    Ketiga, proses penyebarannya. Baik HMPV maupun Covid-19, sama-sama menular melalui droplet pernapasan, kontak langsung atau permukaan yang terkontaminasi.

    Keempat, kasus akan meningkat pada musim tertentu. Kasus HMPV mencapai puncaknya di akhir musim dingin hingga awal musim semi. Lalu COVID-19 akan meningkat selama bulan-bulan dingin.

     

  • Prevalensi Diabetes Mellitus pada Kelompok Usia Muda Terus Meningkat, Ini Sebabnya

    Prevalensi Diabetes Mellitus pada Kelompok Usia Muda Terus Meningkat, Ini Sebabnya

    7cloud.asia – Laporan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengungkap terjadi peningkatan prevalensi penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada penduduk umur di atas 15 tahun atau kelompok usia muda.

    Berdasarkan hasil pengukuran kadar gula darah, prevalensi penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada kelompok usia muda (umur 15 tahunan) mencapai 11,7 persen.

    Prevalensi Diabetes Mellitus (DM) pada kelompok usia muda ini lebih tinggi dibandingkan dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yaitu 10,9 persen.

    Dokter di bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia mengatakan meningkatnya angka diabetes mellitus di kelompok usia muda dipicu dari gaya hidup tidak sehat yang disebabkan dari berbagai faktor salah satunya mengonsumsi tinggi gula.

    “Pola makan tidak sehat dengan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula ataupun lemak dapat menjadi salah satu faktor penyebab diabetes,” kata dr. Faisal Parlindungan, M.Ked(PD), Sp.PD-KR, dikutip Antaranews.com, Jumat (10/1/2025).

    Baca: Kenali jenis Diabetes Mellitus dan cara mencegahnya

    Faisal menambahkan penyakit diabetes yaitu diabetes melitus (DM) tipe 2 memiliki kaitan erat dengan gaya hidup.

    Dia menjelaskan, munculnya Dibetes Tipe 2 karena resistensi insulin (hormon yang mengatur kadar gula dalam darah) akibat konsumsi gula yang berlebih.

    Risiko resistensi insulin meningkat karena gaya hidup yang dijalani, yaitu sering mengonsumsi gula atau karbohidrat yang tinggi, jarang berolahraga, konsumsi lemak yang tinggi, dan merokok.

    Kurang asupan sayur juga dapat berkontribusi karena sayur memiliki serat yang memperlambat penyerapan gula dalam usus.

    “Akibatnya insulin tidak bisa mengendalikan kadar gula darah sehingga terjadi Diabetes Melitus tipe 2,” ujar dia.

    Baca: Pentingnya deteksi Diabetes Mellitus sejak dini

    Menurut Faisal, kondisi ini tak lepas dari maraknya jajanan yang tinggi lemak dan gula, serta kurangnya aktivitas fisik.

    Kebiasaan merokok sejak muda –berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, perokok aktif di kalangan anak muda tercatat sebesar 56,5 persen– memperburuk kondisi ini.

    Faisal juga menjelaskan, faktor lain seperti berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2.

    Faisal menambahkan, diabetes melitus tipe 2 dapat dicegah dengan membatasi konsumsi gula dan kalori. Banyak mengonsumsi makanan berserat, teratur berolahraga dan tidak merokok juga akan membantu.

    Dia menganjurkan konsumsi gula maksimal 50 gram atau 4 sendok makan per hari. Sedangkan konsumsi karbohidrat baiknya di rentang 45-60 persen kebutuhan kalori.

  • Jalan Kaki Setiap Pagi Bagus untuk Kekuatan Otot dan Otak

    Jalan Kaki Setiap Pagi Bagus untuk Kekuatan Otot dan Otak

    7cloud.asia – Banyak pakar menyarankan berolahraga ringan seperti berjalan kaki karena bagus untuk kesehatan.

    Berjalan kaki setiap pagi selain bisa menguatkan otot juga baik bagi kesehatan otak menurut dokter spesialis olahraga dari Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO.

    “Berjalan menguatkan otot kita, karena otot-otot kita berkontraksi sehingga kekuatan otot jadi meningkat,” kata Andi seperti dikutip Antaranews.com, Jumat (17/1/2025).

    Dokter Andi menyampaikan bahwa rutin berjalan kaki pada pagi hari juga bisa merangsang sekresi hormon yang penting bagi otak seperti endorfin dan serotonin​​​​​​​​​​​​​​ serta mencegah kepikunan.

    Baca: Jalan kaki bisa meningkatkan harapan hidup

    Dia menyarankan mereka yang hendak berolahraga atau berjalan kaki pada pagi hari mengawalinya dengan pemanasan dan peregangan serta mengakhirinya dengan pendinginan dan peregangan.

    Selain itu, menurut dia, mereka yang akan berolahraga atau berjalan kaki pada pagi hari sebaiknya mengenakan sepatu jalan, pakaian olahraga nyaman, dan topi serta menyiapkan bekal air minum.

    Andi menyampaikan bahwa orang dengan otot tubuh yang kuat punya risiko lebih rendah mengalami penurunan massa otot pada usia tua.

    Selain itu, ia melanjutkan, kalau otot-ototnya terlatih maka kepadatan tulangnya juga akan meningkat sehingga risikonya mengalami osteoporosis menjadi lebih rendah.

    Baca: Efek duduk terlalu lama untuk kesehatan jantung

    Ia menganjurkan orang rutin berjalan kaki sekitar 10 ribu langkah setiap hari untuk mendapatkan manfaat optimal bagi kesehatan.

    Menurut dia, manfaat kesehatan yang hampir sama juga bisa diperoleh dengan jalan cepat, joging, atau berlari selama kurang lebih 30 menit setiap hari atau lima kali dalam seminggu.

    “Kalau boleh bilang, setiap hari dengan berolahraga 30 menit itu biasanya kalau dikonversikan kita berenang, jalan, atau lari itu bisa sampai tiga ribu sampai 4.500 langkah,” katanya.

    “Kalau kita hanya olahraga 30 menit dan sisanya di kantor duduk saja, itu biasanya hanya dapat enam ribu sampai tujuh ribu langkah,” ia menambahkan.

  • Riset Terbaru Lancet Soroti Dampak Nyata Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Manusia

    Riset Terbaru Lancet Soroti Dampak Nyata Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Manusia

    7cloud.asia – Laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change tahun 2024 mengungkap temuan paling mengkhawatirkan selama 8 tahun pemantauan.

    Lancet Countdown on Health and Climate Change telah diproduksi setiap tahun sejak 2015 oleh kolaborasi 300 peneliti dan profesional kesehatan dari badan PBB dan lembaga akademis global.

    Tujuan utama laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change adalah untuk mengevaluasi hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di tingkat global, regional, dan nasional.

    Laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change terbaru yang diterbitkan pada Oktober 2024 menganalisis hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di 56 indikator.

    Menurut laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change tersebut, 10 dari 15 indikator yang memantau bahaya, paparan, dan dampak kesehatan telah mencapai rekor tertinggi.

    Dampak-dampak ini secara tidak proporsional menimpa 745 juta orang yang tidak memiliki akses terhadap listrik dan berkontribusi paling sedikit terhadap perubahan iklim.

    Baca: Bahaya resistensi terhadap antibiotik

    Subsidi bahan bakar fosil yang mencapai rekor, produksi, dan meningkatnya permintaan energi global mendorong emisi ke tingkat yang akan semakin membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia.

    Laporan itu menyebut, cuaca panas dan kekeringan yang ekstrem menyebabkan jutaan orang mengalami kerawanan pangan.

    Hampir 50 persen dari luas daratan global terdampak oleh satu bulan atau lebih kekeringan ekstrem pada tahun 2023.

    Laporan itu juga menyebut, perubahan iklim mengakibatkan turunnya hasil panen, mengeringnya sumber air, serta terganggunya rantai pasokan pangan dan energi.

    Kondisi ini menyebabkan lebih dari 151 juta orang mengalami kerawanan pangan pada tahun 2022.

    Perubahan iklim juga memicu penyebaran penyakit menular. Hal ini karena
    meningkatnya suhu, curah hujan ekstrem, dan banjir menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi serangga pembawa penyakit di seluruh dunia.

    Baca: Hepatitis A dapat menular dari makanan mentah dan lingkungan yang kotor

    Penyakit yang ditularkan nyamuk menyebabkan lebih dari satu juta kematian dan 700 juta infeksi per tahun.

    Suhu yang lebih hangat mempercepat perkembangan nyamuk dan memperpanjang musim penularan penyakit hingga satu bulan atau lebih.

    Kesesuaian iklim untuk penularan demam berdarah oleh dua spesies nyamuk, Aedes albopictus dan Aedes aegypti – juga dikenal sebagai nyamuk harimau Asia dan nyamuk demam kuning – meningkat masing-masing sebesar 46,3 persen dan 10,7 persen, antara tahun 1951-60 dan 2014-23.

    Laporan ini juga menyoroti paradoks perawatan kesehatan modern, di mana pengobatan penyakit, yang banyak di antaranya diperburuk oleh perubahan iklim, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Menurut laporan tersebut, sektor perawatan kesehatan global menyumbang 4,6 persen dari total emisi gas rumah kaca. Emisi meningkat 36 persen antara tahun 2016 dan 2021.

    Baca: Polusi udara berkepanjangan picu masalah pernapasan

    Polusi udara dari emisi perawatan kesehatan berkontribusi terhadap hilangnya 4,6 juta tahun kehidupan yang disesuaikan dengan disabilitas pada tahun 2021.

    Laporan Lancet menemukan bahwa ada hubungan antara emisi perawatan kesehatan dan harapan hidup yang lebih tinggi hingga 400 kilogram setara karbon dioksida (CO2e) per kapita.

    Emisi tambahan di luar tingkat ini tidak terkait dengan hasil kesehatan yang lebih baik. Beberapa negara dengan HDI yang sangat tinggi mencatat emisi lebih dari 1.000 kg CO2e.

    Amerika Serikat sebagai negara industri terdepan dengan emisi lebih dari 1.600 kg setara CO2.

    Temuan ini menyoroti bahwa perawatan kesehatan di negara-negara dengan emisi tinggi dapat didekarbonisasi dan tetap mencapai perawatan dan hasil berkualitas tinggi.