Tag: polusi udara

  • Polusi Udara di Jakarta Tinggi, Anak-anak Diimbau Banyak Konsumsi Buah

    Polusi Udara di Jakarta Tinggi, Anak-anak Diimbau Banyak Konsumsi Buah

    7cloud.asia  Ditengah kondisi udara dengan polusi tinggi seperti Jakarta, anak-anak harus banyak mengonsumsi buah yang mengandung banyak air.

    Dokter Spesialis Penyakit Tropik Anak pada Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. Dr. Ari Prayitno, Sp.A (K) menjelaskan buah yang mengandung banyak air dapat memenuhi kebutuhan mikronutrien anak-anak.

    Dia mencontohkan buah semangka dan jeruk. “Makanan yang direkomendasikan adalah makanan yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh terutama pertahanan tubuh, mukosa atau saluran lendir yang ada di saluran pernapasan karena yang paling berhubungan dengan polusi udara adalah saluran lendir pada saluran pernapasan itu,” terang Ari.

    Baca: Kualitas udara Jakarta di posisi ketiga terburuk dunia

    Melansir Antaranews, buah-buahan yang mengandung banyak air dapat membantu selaput lendir yang dimiliki anak bekerja dengan lebih optimal.

    “Kalau bisa (buahnya) jangan dikasih yang berbentuk obat, tapi makanan dan minuman yang baik,” ujar Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat IDAI ini.

    Selain mengonsumsi buah, Ari juga merekomendasikan agar anak diberikan banyak air putih. Hal ini untuk mencegah dehidrasi atau gangguan kesehatan lainnya.

    Selanjutnya Ari juga mengimbau orangtua agar cermat memilih waktu anak untuk bermain di luar ruangan saat liburan sekolah seperti saat ini.

    Dia mencontohkan siang hari saat pabrik di Jakarta dan sekitarnya sedang beraktivitas atau lalu lalang kendaraan bermotor yang ramai dan menghasilkan gas beracun, anak seminimal mungkin berktivitas di luar ruangan.

    Baca: Warga Jakarta diimbau tak mengabaikan kualitas udara yang buruk

    “Anak itu harus dipaparkan dengan udara bersih semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan. Kita tahu bahwa tingkat polusi dan tingkat kesehatan yang ada sepanjang hari pun berbeda, pagi sampai malam itu berbeda,” jelas Ari.

    Saat liburan, orangtua disarankan membawa anak-anak dibawa ke tempat yang banyak memiliki tanaman atau pepohonan rindang guna meminimalkan masuknya partikel-partikel berbahaya akibat polusi.

    Anak-anak juga diimbau agar selalu mengenakan masker saat harus berada di luar ruangan. Hal ini sebagai upaya meminimalisir dampak polusi udara terhadap saluran pernafasan.

    “Terutama yang memiliki anak dengan penyakit penyerta, itu harus lebih hati-hati lagi. Bila perlu gunakan masker, masker itu walaupun tidak 100 persen menyaring, tapi bisa mengurangi tingkat polusi yang terhirup,” ungkapnya.

  • IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    7cloud.asia – Polusi udara yang masih terjadi di Jakarta tak hanya berdampak buruk bagi orang dewasa, tetapi juga bagi proses tumbuh kembang anak.

    Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Tropik Anak pada Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. Dr. Ari Prayitno, Sp.A (K) yang menyoroti dampak buruk polusi udara terhadap perkembangan anak.

    “Polusi udara yang terjadi di kota-kota besar termasuk di Jakarta memang sangat memprihatinkan. Udara yang seharusnya bersih untuk dihirup dan memenuhi paru-paru tiap individu yang hidup, apalagi anak-anak itu harus bersih,” jelas Ari seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: BPBD DKI Jakarta lakukan modifikasi cuaca

    Menurut Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat IDAI ini, polusi udara secara tidak langsung juga menjadi salah satu penyebab anak terkena stunting.

    Kualitas udara yang buruk akibat polusi rentan membuat anak-anak jadi mudah sakit. Hal ini berdampak pada minat untuk mengonsumsi makanan.

    Akibatnya, asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh berkurang drastis dan menyebabkan anak kekurangan gizi kronis.

    “Apalagi kalau penyakit infeksi, kalau terjadi kronis akan sakit juga. Jadi secara tidak langsung ada hubungannya, makanya anak yang tinggal di daerah yang polusinya tinggi itu lebih mudah terjadi stunting ketimbang daerah yang udaranya bersih,” terangnya.

    Baca: Pantau sumber polusi udara, ini yang dilakukan DLHK Jakarta

    Dia menyayangkan kualitas udara di Jakarta kian memburuk. Kondisi ini menyebabkan banyaknya partikel berbahaya dalam udara yang dapat memicu terjadinya berbagai macam penyakit.

    Sebut saja penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan adanya infeksi lainnya. Penyakit tersebut akibat masuknya mikroorganisme asing dalam tubuh berupa virus atau baktersi saat udara sengan kering dan berpolutan tinggi.

    Kondisi ini, lanjut Ari, diperparah jika orang memiliki penyakit penyerta seperti asma. Akan tambah parah lagi jika ada anggota keluarga yang merokok atau rutin memasak dalam ruangan dengan ventilasi tak memadai.

    Baca: Perlu sistem transportasi publik yang berkualitas atasi polusi udara

    “Ini tugas kita bersama karena kalau polusi tidak diatasi maka kesehatan paru-paru kita, terutama anak-anak itu akan memburuk. Terlebih paru-paru anak-anak kita itu masih dalam tubuh dan kembang makanya polusi ini akan berdampak cukup luas pada anak anak kita,” katanya.

    Berdasarkan laman IQAir pada Rabu (26/06/2024) pukul 15.00 WIB menunjukkan tingkat polusi udara di Jakarta tercatat masuk dalam kategori sedang.

    Indeks polusi udara Jakarta berada pada poin 69 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 19 mikrogram per meter kubik.

    Angka ini menunjukkan 3,8 kali lebih tinggi nilai panduan kualitas udara tahunan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

     

  • Dinas Lingkungan Hidup Aglomerasi Jakarta Sepakat Bangun Sinergi untuk Atasi Polusi Udara

    Dinas Lingkungan Hidup Aglomerasi Jakarta Sepakat Bangun Sinergi untuk Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten serta kota-kota yang masuk wilayah aglomerasi Jakarta sepakat membangun sinergi untuk mengatasi polusi udara.

    Kesepakatan ini diinisiasi oleh Pemprov DKI Jakarta dan mencakup beberapa poin penting untuk mengatasi polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Salah satu poin tersebut adalah pembentukan Pokja Perlindungan Nasional untuk Udara sebagai forum akselerasi perbaikan kualitas udara serta penyusunan strategi pengendalian polusi udara terpadu di masing-masing wilayah administrasi.

    “Kerja sama antara DLH menjadi sangat penting untuk mengatasi masalah polusi udara yang saling terkait di wilayah aglomerasi Jakarta,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Asep Kuswanto di Jakarta, Kamis (27/6/2024).

    Baca Juga: IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    Menurut dia, sinergi dilakukan antara DLH Jakarta, Jawa Barat, Banten serta DLH Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

    Asep menjelaskan bahwa sebagai pusat perekonomian Indonesia berskala global, Jakarta memiliki amanat untuk berkolaborasi dalam perencanaan lingkungan hidup di wilayah aglomerasi.

    “Kota dan kabupaten di Jabodetabek juga pernah menandatangani kesepakatan bersama untuk memperbaiki kualitas udara,” tuturnya.

    Kota-kota yang masuk dalam aglomerasi juga sepakat mendorong percepatan kegiatan uji emisi kendaraan bermotor juga menjadi salah satu pembahasan.

    Dalam hal ini, pengelolaan data terpadu melalui aplikasi SIUMI milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sangat membantu dalam memantau dan mengevaluasi kualitas udara.

    Baca Juga: Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    Inventarisasi emisi di masing-masing wilayah serta pertukaran data juga menjadi bagian dari upaya sinergi ini. DLH Jakarta juga siap untuk melaksanakan uji emisi keliling di wilayah Jabodetabek.

    “Kami berharap DLH aglomerasi bisa mendorong kegiatan yang bisa dikerjasamakan dan mendukung langkah-langkah yang lebih baik untuk kualitas udara yang lebih bersih di wilayah Jabodetabek,” katanya.

    Ia menambahkan, dalam kesempatan tersebut, dibahas pula pentingnya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas udara.

    DLH Jakarta dan daerah lainnya sepakat untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat melalui berbagai program edukatif dan kampanye lingkungan.

    Poin penting lainnya adalah komitmen untuk melibatkan sektor swasta dalam upaya pengendalian pencemaran udara.

    Baca Juga: Polusi Udara di Jakarta: Diperlukan Sistem Transportasi Publik yang Berkualitas

    “Kami mengajak korporasi untuk berpartisipasi aktif dalam program-program pengendalian polusi udara, karena peran sektor swasta sangat besar dalam pengurangan emisi industri,” ujarnya.

    Pejabat DLH Jawa Barat, Endang Hidayat menyatakan pentingnya pelaksanaan kerja sama ini, untuk kendala yang dihadapi di wilayah aglomerasi, seperti keterbatasan penyediaan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) di daerah penyangga dan keterbatasan alat uji emisi.

    “Untuk itu harus segera diatasi melalui kerja sama yang lebih intensif antara DLH provinsi dan kota/kabupaten,” katanya.

    Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DLH Banten, Ruli Rianto menambahkan bahwa sinergi antardaerah sangat penting.

    “Masalah pencemaran udara tidak bisa diselesaikan oleh satu daerah saja. Harus ada upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi semua warga di wilayah aglomerasi,” ujarnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Penanaman Ratusan Pohon Hijaukan Bantaran Kali Sentiong

    Penanaman Ratusan Pohon Hijaukan Bantaran Kali Sentiong

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Jakarta Pusat bersama pihak terkait menanam ratusan pohon di bantaran Kali Sentiong, RT 03/02 Kelurahan Galur, Kecamatan Johar Baru.

    Penanaman ratusan pohon ini dilakukan untuk meredam polusi udara di kawasan pusat kota tersebut.

    “Ada tiga pilar Kecamatan Johar Baru melakukan penanaman pohon produktif di jalur hijau Jalan Galur Selatan sebanyak 125 pohon diharapkan akan semakin mengurangi dampak polusi,” kata Kepala Satpol PP Kecamatan Johar Baru, Abdul Rahman Hakim dikutip Antaranews.com, Jumat (28/6/2024).

    Ratusan pohon yang ditanam adalah tanaman keras jenis buah-buahan seperti jambu air, jeruk, alpukat, belimbing dan jambu klutuk.

    Baca: Ribuan pohon ditanam di hari jadi Kota Madiun

    Abdul menyebut, kegiatan penanaman pohon ini merupakan inisiasi pihak Kepolisian dalam rangka peringatan Hari Bhayangkara ke-78 tahun 2024.

    “Inisiasinya dari pihak Kepolisian. Kami dari jajaran pemerintahan mendukung dan mengapresiasi,” ujar Abdul.

    Abdul menjelaskan, penanaman pohon di wilayah Kecamatan Johar Baru ini diharapkan akan bermanfaat bagi lingkungan.

    Hal ini mengingat kawasan Johar Baru sebagai kawasan yang padat penduduk dan lalu lintas, sehingga keberadaan pohon-pohon ini tak hanya akan menjadi peneduh tetapi juga menyerap polusi udara.

    Baca: Gerakan menanam pohon di kawasan Pulogadung

    Sekretaris Lurah Galur, Nurpandi memastikan, pohon yang ditanam akan dirawat agar bisa tumbuh besar dan produktif.

    Perawatan tidak hanya melibatkan jajaran Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), tetapi dilakukan bersama dengan warga.

    “Kami sudah minta jajaran RT/RW dan warga setempat untuk juga aktif merawat. Nantinya kalau sudah berbuah kan juga bisa dimanfaatkan warga,” kata Nurpandi.

    Kegiatan serupa juga dilaksanakan di jalur hijau Jalan Kartini Raya sebanyak 85 pohon produktif di Bantaran Kali Ciliwung Lama.

    Sumber:Antaranews.com

  • Paparan Polusi Sejak Kecil Picu Masalah Pernapasan Saat Dewasa

    Paparan Polusi Sejak Kecil Picu Masalah Pernapasan Saat Dewasa

    7cloud.asia – Peneliti dari Keck School of Medicine di University of South Carolina, AS menemukan bahwa paparan polusi udara pada masa kanak-kanak dikaitkan dengan masalah paru-paru dan pernapasan.

    Pada gilirannya paparan polusi udara secara konsisten dikaitkan dengan masalah pernapasan di masa dewasa.

    Mengutip Medical Daily, Senin (1/6/2024), polusi udara dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti stroke, penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronik, kanker paru-paru, pneumonia, dan katarak.

    Pada anak-anak yang terpapar polusi udara akan meningkatkan risiko terkena bronkitis di kemudian hari.

    “Kami menduga bahwa dampak yang dapat diamati pada kesehatan pernapasan anak-anak ini akan menjelaskan hubungan antara paparan polusi udara pada anak-anak dan kesehatan pernapasan saat dewasa,” kata penulis korespondensi Erika Garcia seperti dilaporkan laman Medical Daily.

    Baca: Benarkah wisata ke pegunungan bisa bersihkan paru-paru

    Hasil penelitian kami, lanjut Garcia, menunjukkan bahwa paparan polusi udara pada anak-anak memiliki dampak yang lebih halus pada sistem pernapasan kita yang masih berdampak pada kita di masa dewasa.

    Temuan ini berasal dari studi komprehensif yang melacak kelompok warga California Selatan dari usia sekolah hingga puluhan tahun hingga dewasa. Penelitian ini melibatkan 1.308 peserta dari Children’s Health Study.

    Pada usia rata-rata 32 tahun saat evaluasi dewasa, para peneliti menanyakan tentang gejala bronkitis terkini seperti bronkitis, batuk kronis, atau hidung tersumbat dengan dahak yang tidak terkait dengan flu.

    Sekitar 25 persen peserta melaporkan mengalami gejala-gejala ini dalam setahun terakhir.

    Para peneliti mencatat bahwa hubungan antara paparan polusi udara pada masa kanak-kanak dan gejala bronkitis pada masa dewasa tetap ada bahkan setelah disesuaikan dengan gejala asma atau bronkitis di awal kehidupan.

    Baca: Polusi udara ganggu pertumbuhan anak

    Mereka menemukan bahwa gejala bronkitis berhubungan dengan paparan dua jenis polutan sejak lahir hingga usia 17 tahun.

    Salah satu jenisnya meliputi partikel halus dari sumber seperti debu, serbuk sari, abu kebakaran hutan, emisi industri, dan gas buang kendaraan.

    Polutan lainnya, nitrogen dioksida, dihasilkan oleh pembakaran kendaraan, pesawat terbang, kapal, dan pembangkit listrik, dan diketahui dapat membahayakan fungsi paru-paru.

    Para peneliti mencatat bahwa anak-anak sangat rentan terhadap dampak polusi udara karena sistem pernapasan dan kekebalan tubuh mereka masih berkembang.

    Selain itu, mereka menghirup lebih banyak udara dibandingkan dengan massa tubuh mereka dibandingkan dengan orang dewasa.

    Baca: Polusi udara di Jakarta sudah mengkhawatirkan

    Garcia menekankan, studi ini menyoroti pentingnya menurunkan polusi udara, terutama paparan selama periode kritis masa kanak-kanak.

    “Karena hanya ada sedikit yang dapat kita lakukan sebagai individu untuk mengendalikan paparan kita, kebutuhan untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk polusi udara sebaiknya ditangani di tingkat kebijakan,” kata Garcia.

    Sumber:Antaranews.com

  • Paparan Polusi Udara dalam Jangka Panjang Bisa Picu Masalah Jantung

    Paparan Polusi Udara dalam Jangka Panjang Bisa Picu Masalah Jantung


    7cloud.asia – Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, termasuk serangan jantung dan stroke.

    “Bahkan partikel-partikel kecil dalam udara yang tercemar dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru,” kata Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Eka Hospital BSD Astri Indah Prameswari dalam keterangan di Tangerang, Rabu (3/7/2024).

    Dampak lain dari polusi udara, lanjutnya, bisa memperparah penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

    Selain itu ia menyebut Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang disebabkan polusi udara bisa memicu sejumlah komplikasi seperti radang paru atau pneumonia hingga jantung karena terjadi gangguan pada pembuluh darah.

    Baca Juga: Dinas Lingkungan Hidup Aglomerasi Jakarta Sepakat Bangun Sinergi untuk Atasi Polusi Udara

    “ISPA adalah infeksi pada saluran pernafasan atas dan bawah. Gejalanya antara lain batuk kering atau batuk, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan, nyeri kepala atau pusing, sesak nafas, dan demam,” katanya.

    Berdasarkan situs pemantau kualitas udara IQAir, kualitas udara Jakarta cenderung memburuk memasuki musim kemarau. Sudah beberapa pekan kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat.

    Bila dibandingkan sembilan wilayah lain di Indonesia, Jakarta menempati peringkat pertama terburuk. Wilayah Tangerang Selatan, Banten, tercatat berada di urutan kedua (190), diikuti Medan, Sumatera Utara (153).

    “Tingkat polusi udara yang tinggi bisa memicu penyakit infeksi saluran pernafasan akut. Jika dibiarkan, bisa berujung pada penyakit yang lebih parah,” ujarnya.

    Baca Juga: IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    Langkah untuk menghindari dampak buruk dari polusi udara adalah mengenakan masker untuk menutup area sekitar hidung dan mulut ketika bepergian ke luar rumah.

    “Ganti masker secara berkala jika sudah terlalu lembab, basah, atau kotor,” katanya.

    Membiasakan hidup bersih dengan cara selalu mencuci tangan sehabis bepergian atau setelah aktivitas di luar ruangan karena kuman dan bakteri mudah menempel pada tangan.

    Biasakanlah membawa hand sanitizer dan aplikasikan jika kita sering menyentuh fasilitas umum. Segera cuci pakaian setelah aktivitas dengan mobilitas tinggi.

    “Bersihkan rumah secara rutin, minimal dua kali sehari agar terhindar dari tumpukan debu akibat polusi,” katanya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Riset: 7,2 Persen Kematian di India Disebabkan oleh Polusi Udara

    Riset: 7,2 Persen Kematian di India Disebabkan oleh Polusi Udara

    7cloud.asia – Sebuah penelitian baru yang dirilis pada Kamis (4/7/2024) melaporkan bahwa 7,2 persen kematian di 10 kota besar di India disebabkan oleh polusi udara di negeri itu.

    Penelitian yang dilakukan The Lancet Planetary Health itu menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara paparan jangka pendek polusi udara materi partikulat halus (PM2.5) dan tingkat kematian harian di berbagai kota di India.

    Pada tahun lalu, tingkat kematian harian di berbagai kota di India melampaui China sebagai negara dengan jumlah penduduk terpadat di dunia.

    Dilakukan oleh berbagai tim peneliti internasional, penelitian ini merupakan yang pertama dilakukan untuk menganalisa efek akut dari polusi udara terhadap kematian.

    Baca: Penerapan pajak karbon di India

    Penelitian tersebut dilakukan mulai 2008 hingga 2019, yang meliputi 3,6 juta kematian.

    Ibukota India, Delhi, mengalami dampak tertinggi dengan 12.000 kematian dalam setahun akibat polusi udara, atau 11,5 persen dari total kematian.

    Rekomendasi negara saat ini sebesar 60 mikrogram PM2,5 per meter kubik adalah empat kali lebih tinggi dari pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Bahkan kota-kota dengan tingkat polusi udara lebih rendah, seperti Mumbai, Kolkata, dan Chennai, juga tetap didapati tingkat kematian tinggi.

    Baca: Penerapan pajak karbon di negara berkembang

    Penelitian ini menemukan peningkatan risiko kematian yang signifikan, yang menunjukkan bahwa tidak ada ambang batas aman untuk paparan PM2.5.

    Hal ini sangat memprihatinkan mengingat tingkat polusi udara di banyak kota di India seringkali melebihi pedoman India dan WHO.

    Sekitar 7,2 persen dari seluruh kematian harian di kota-kota yang diteliti disebabkan oleh konsentrasi PM2.5 yang melebihi pedoman 24 jam WHO yaitu 15 mikrogram per meter kubik.

    Sumber: Antaraanews.com/Anadolu

  • Mampukah Dewan Aglomerasi Atasi Kemacetan, Polusi Udara dan Banjir di Jakarta?

    Mampukah Dewan Aglomerasi Atasi Kemacetan, Polusi Udara dan Banjir di Jakarta?


    7cloud.asia – Banjir, kemacetan dan polusi udara di Jakarta adalah masalah serius yang belum tertangani dengan baik.

    Dengan disahkannya UU Daerah Khusus Jakarta, maka penanganan tiga masalah klasik ini bisa ditangani lebih baik lewat pembentukan Dewan Aglomerasi.

    Akankah Dewan Aglomerasi yang saat ini sedang digodok pembentukannya mampu memenuhi harapan itu, berikut ulasannya sebagaimana telah diterbitkan di VOA Indonesia

    Jakarta merupakan salah satu kota dengan kemacetan dan polusi udara terburuk di dunia. Kondisi ini tak lepas dari belum memadainya fasilitas transportasi publik di Jakarta dan daerah sekitarnya.

    Jakarta memiliki sekitar 10 juta penduduk, namun wilayah Jabodetabek memiliki lebih dari 30 juta penduduk yang sebagian besar bekerja di Jakarta.

    Sehingga, kemudian muncul istilah penduduk Jakarta pada siang hari bisa dua kali jumlah penduduknya pada malam hari.

    Baca: Dinas Lingkungan hidup kawasan aglomerasi Jakarta sepakat kolaborasi tangani polusi udara

    Dalam hal kota dengan kemacetan lalu lintas terburuk di dunia, spesialis navigasi Tom Tom menempatkan Jakarta di peringkat ke-30 tahun lalu. Peringkat pertama dianggap sebagai yang terburuk di antara 387 kota di 55 negara.

    Jakarta memiliki kereta komuter dan bus, tetapi kebiasaan lama terbukti sulit untuk dihilangkan.

    “Transportasi umum saat ini jauh lebih baik daripada 10 atau 20 tahun lalu,” kata Ahmad Gamal, profesor bidang perencanaan kota Universitas Indonesia. “Tetapi orang-orang belum meninggalkan sepeda motor dan mobil mereka.”

    Ditambahkannya, salah satu alasan yang mendasari masalah kualitas hidup ini adalah karena Jakarta dan masyarakat di sekitarnya belum bekerja sama untuk berkoordinasi di tingkat regional.

    “Jakarta punya semua jenis perkantoran, semua industri, tetapi sebagian besar proyek perumahan, mereka mungkin perlu pergi sedikit lebih jauh karena harga tanah di Jakarta jauh lebih mahal,” kata Gamal.

    “Jadi, tentu saja, daerah-daerah yang berdekatan dengan Jakarta memiliki kepentingan yang lebih besar untuk mendorong pembangunan (yang berlebihan).”

    Baca: WFH diusulkan sebagai solusi polusi udara

    Gamal menambahkan pembangunan yang berlebihan di daerah hulu menyebabkan aliran sungai meluap ke hilir di Jakarta dan membanjiri lingkungan perkotaan.

    “Begitu banyak lahan di hulu sungai yang dibangun secara berlebihan dan tidak mampu menyerap banyak air.”

    Kondisi ini menyebabkan banjir sering terjadi setiap kali hujan deras mengguyur daerah hulu Sungai Ciliwung. Banjir menjadi keseharian warga yang tinggal di bantaran sungai, seperti yang dialami Zainuddin.

    Setelah hujan deras, Zainudin dan tetangganya di DAS Ciliwung harus membersihkan lumpur setebal 30 cm di dalam rumah mereka.

    “Kami sudah terbiasa dengan hal ini,” ujar Zainudin, 58, yang mengaku telah tinggal di tepi sungai Ciliwung sepanjang hidupnya.

    Baca: Transportasi berkualitas kunci masalah kemacetan dan polusi udara Jakarta

    Sementara di pesisir Jakarta Utara, pemerintah membangun tanggul laut. Tepat di sisi lain tanggul laut tersebut terdapat Masjid Wal Adhuna yang sudah tidak digunakan lagi karena selalu tergenang.

    Sebagian kecil wilayah Jakarta Utara telah tersapu oleh meningkatknya permukaan air laut akibat perubahan iklim, dan kini berpacu dengan waktu untuk mencegah lebih banyak lagi wilayah Jakarta yang hilang.

    Sekitar 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut.

    “Bagian utara Jakarta menghadapi tantangan terbesar karena air laut naik, sementara daratannya tenggelam,” kata Gamal.

    Gamal merujuk pada fakta bahwa banyak warga Jakarta mendapatkan air dari berbagai sumur ilegal yang menyedot air tanah, menjadi alasan utama mengapa kota ini sekarang tenggelam.

    Baca: Penataan transportasi publik di Jakarta

    Pemerintah sedang membangun jaringan pipa untuk mengalirkan air bersih ke seluruh kota, namun Gamal mengatakan bahwa proyek tersebut membutuhkan waktu 30 tahun untuk menyelesaikannya.

    Dewan Aglomerasi
    Pemerintah pusat sedang menyusun rencana untuk membentuk dewan Aglomerasi untuk Jakarta Raya untuk mengkoordinasikan semua pemerintah daerah dan lokal.

    Namun, Gamal mengatakan bahwa masih belum jelas apakah dewan ini akan memiliki wewenang yang diperlukan untuk bisa berhasil.

    “Ini akan berhasil jika ada otoritas yang berada di atas pemerintah daerah, yang mendengarkan kebutuhan mereka dan mampu membuat rencana yang mengikat mereka.”

    Sementara itu, orang-orang seperti Andika Hidayatullah mengatakan bahwa mereka hanya berharap pemerintah memikirkan dirinya. “Saya sudah muak dengan kemacetan dan udara yang buruk,” katanya.

  • Kurangi Polusi Udara, Uji Emisi di Jakarta Tetap Berlanjut

    Kurangi Polusi Udara, Uji Emisi di Jakarta Tetap Berlanjut

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi polusi udara. Salah satunya tetap melanjutkan uji emisi kendaraan.

    Uji emisi ini akan tetap dilakukan bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Melansir Antaranews, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto menjelaskan sejak tahun 2022 pihaknya telah melakukan uji emisi sebanyak lebih dari 100 kali.

    “Kami dari tahun 2022 sudah melakukan uji emisi di tahun 2022 sudah 24 kali, 2023 sudah 44 kali dan 2024 sudah 44 kali. InsyaAllah uji emisi ini akan terus kami lakukan dan kami juga bekerja sama dengan KLHK,” jelasnya.

    Baca: Polusi udara di Jakarta tinggi, anak-anak diimbau perbanyak konsumsi buah

    Selain itu, lanjut Asep, pihaknya juga bekerja sama dengan pemerintah daerah di sekitar Jakarta guna meningkatkan kualitas udara di masing-masing wilayah.

    Dia mencontohkan saat DLH memberikan pelatihan kepada pemerintah daerah sekitar Jakarta untuk kompetensinya dalam hal uji emisi. “Dan itu sudah berjalan,” katanya.

    Upaya lain yang dilakukan DLH DKI Jakarta adalah mengkampanyekan kepada masyarakat untuk beralih ke transportasi massal dan menggunakan sepeda saat beraktivitas.

    Baca: Polusi udara ganggu pertumbuhan anak

    Hal ini dilakukan bekerjasama dengan Dinas Perhubungan. Pihaknya juga telah meluncurkan situs pemantau kualitas udara yaitu udara.jakarta.go.id.

    Dengan demikian, masyarakay dapat memantau langsung baik buruknya kualitas udara di Jakarta.

    Tak hanya itu, DLH DKI Jakarta bekerjasama dengan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut) DKI Jakarta untuk menanam jutaan pohon dan penambahan ruang terbuka hijau (RTH).

    Dia berharap kerjasama ini akan terus berlanjut nantinya agar dapat menurunkan tingkat polusi udara di Jakarta.

    Baca: Yuk, tanam vegetasi penyerap polutan

    Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ida Mahmudah mengusulkan Pemprov DKI dapat bekerjasama dengan pihak lain untuk mengatasi masalah polusi udara.

    “Misalkan Dinas Lingkungan Hidup dengan SDA terkait dengan sepanjang kali itu kalau dipagar lalu dikasih pohon gantung, memang paling tidak mengurangi sedikitlah polusi. Kerja sama juga dengan Dinas Kehutanan,” terang Ida.

     

     

  • DPR Ingatkan Pemerintah Pusat dan Daerah Serius Tangani Polusi Udara

    DPR Ingatkan Pemerintah Pusat dan Daerah Serius Tangani Polusi Udara

    7cloud.asia – Pemerintah pusat dan daerah diminta untuk melakukan antisipasi secara dini masifnya polusi udara saat memasuki musim kemarau.

    Diketahui, selama sebulan terakhir, beberapa kota besar di Indonesia masuk dalam 10 besar kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Kota tersebut antara lain, Jakarta, Medan hingga Tangerang Selatan.

    Wakil Ketua Komisi VII Eddy Soeparno, dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (11/8/2024) mengatakan, masyarakat sudah memahami bahaya polusi udara di musim kemarau dan dampak yang ditimbulkannya terhadap kesehatan, khususnya balita dan warga berusia lanjut.

    “Jadi mestinya ada tindakan preventif yang dilakukan jauh hari sebelumnya dan jangan kita seakan tak berdaya menghadapi polusi udara akut,” kata dia kepada media baru-baru ini.

    Baca: Atasi polusi udara DKI Jakarta dorong warga naik transportasi umum

    Eddy menegaskan, kementerian dan pemerintah daerah jangan menunggu sampai polusi udara sampai pada tingkat yang membahayakan kesehatan dan baru bertindak.

    “Selama 3 tahun berturut-turut kita mengalami polusi masif di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang sedemikian buruk dan berbahaya untuk kesehatan. Seharusnya menjadi evaluasi dan pemicu agar program pencegahannya dilakukan secara cepat,” ujar dia.

    “Solusi bukan sekadar penanganan jangka pendek yang sifatnya sementara. Perlu solusi jangka panjang mengatasi polusi udara”

    Eddy menegaskan, sumber polusi udara di kota besar yang berasal dari sektor transportasi, pembangkit listrik dan industri perlu ditangani segera.

    Antara lain melalui pembatasan penggunaan transportasi pribadi nonlistrik, percepatan ekosistem kendaraan listrik, penggunaan BBM kualitas tinggi atau BBM Nabati, serta mendorong penggunaan solar panel untuk industri dan rumah tangga.

    Baca: Dewan Aglomerasi Jakarta diharapkan mampu atasi macet dan polusi udara

    Secara khusus, Eddy kembali meminta agar percepatan co-firing gas di pembangkit listrik di sekitar kota-kota besar bisa ditingkatkan segera, di samping pembangunan pembangkit energi terbarukan yang progresnya masih tertatih-tatih.

    Solusi bukan sekadar penanganan jangka pendek yang sifatnya sementara. Perlu solusi jangka panjang mengatasi polusi udara, salah satunya dengan percepatan transisi energi yang terencana.

    “Dimulai dengan peningkatan penggunaan gas bumi pada PLTU, dilanjutkan dengan pembangunan sumber energi terbarukan lainnya yang sudah direncanakan, namun masih belum terlaksana,” tutup Anggota DPR RI Dapil Jawa Barat III Kota Bogor dan Cianjur ini.

    berdasarkan data yang dihimpun melalui situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 16.57 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta indeks AQI poin sebesar 109.

    Kondisi kualitas udara ini berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Kategori tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di wilayah tersebut tidak sehat bagi manusia untuk beraktivitas di luar ruangan.