Tag: polusi udara

  • WHO: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini di Seluruh Dunia

    WHO: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini di Seluruh Dunia

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sedikitnya 7 juta orang mengalami kematian dini per tahun, termasuk sekitar 600.000 anak di bawah usia 15 tahun akibat dari polusi udara.

    Jumlah ini tanpa memperhitungkan jutaan yang menderita penyakit kronis terkait polusi udara.

    Polusi udara perlu mendapat perhatian serius. WHO menyebut, saat ini hanya kurang dari satu persen manusia di planet Bumi menghirup udara yang memenuhi pedoman kualitas udara yang ditetapkannya.

    Polusi udara sangat besar pengaruhnya pada kesehatan masyarakat global, ekonomi, pertanian, keanekaragaman hayati, lingkungan dan krisis iklim yang mempengaruhi dan membutuhkan perhatian mendesak dari semua sektor masyarakat.

    Buktinya sangat banyak dari paparan polusi udara yang berdampak buruk pada kesehatan semua orang, terutama kelompok rentan yaitu perempuan hamil, orang tua dan anak-anak.

    Kemudian, yang memiliki masalah kesehatan mendasar dan terutama anak-anak prenatal (sebelum lahir), hingga neonatus (bayi yang baru lahir) dan bayi selama tahap perkembangan.

    Karena itu, sejumlah ilmuwan WHO, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Program Lingkungan PBB (UNEP) telah berkumpul untuk menyoroti masalah kritis yang mempengaruhi polusi udara di dunia.

    Polusi udara juga sangat besar pengaruhnya bagi ekosistem. Deposisi belerang dan nitrogen dapat mengakibatkan pengasaman dan eutrofikasi (diperkaya secara berlebihan dengan nutrisi) sistem udara.

    Selanjutnya kerusakan Ozon troposfer dapat berdampak negatif pada ekosistem yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan berdampak negatif pada pertumbuhan dan vitalitas tanaman.

    Baca: Ini alasan untuk segera beralih ke kendaraan listrik

    Polusi udara yang mengakibatkan kerusakan ozon juga berdampak negative bagi kemampuan tanaman melakukan fotosintesis, menjaga keseimbangan udara, proses pembungaan, serta kemampuan vegetasi untuk menyerap karbon.

    Daftar Merah Spesies Terancam

    IUCN memasukkan klasifikasi ancaman terhadap keanekaragaman hayati termasuk sub-kelas untuk polutan yang terbawa udara.

    Untuk vertebrata darat saja, ada 7.427 spesies yang terancam kehidupannya akibat polusi udara. Dari angka tersebut, 1.181 di antaranya diklasifikasikan sebagai terancam oleh polusi udara dan 64 secara khusus diklasifikasikan sebagai terancam oleh polutan yang terbawa udara.

    Paparan ozon juga dapat menyebabkan penurunan hasil tanaman utama antara 1 – 15 persen dan mempengaruhi kandungan nilai gizinya.

    Studi terbaru menunjukkan bahwa peningkatan karbon di atmosfer akibat polusi udara berdampak negatif pada kualitas nutrisi makanan yang dihasilkan alam.

    Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2006, memperkirakan bahwa kerugian ekonomi tahunan akibat dampak ozon pada 23 tanaman mencapai 26 miliar dolar AS.

    Polusi udara bahkan dapat berdampak pada sistem udara ketika konsentrasi polutan yang berbahaya menumpuk atau dengan mengurangi kemampuan vegetasi untuk menyaring sistem udara.

    Polusi udara juga berdampak pada biaya ekonomi tinggi bagi manusia. Saperti misalnya, karena kehilangan pekerjaan atau hari sekolah karena penyakit kronis seperti asma, meningkatnya biaya perawatan kesehatan, berkurangnya hasil panen, dan berkurangnya daya saing kota-kota yang terhubung secara global.

    Sebuah studi Bank Dunia pada tahun 2021, menemukan bahwa biaya ekonomi dari dampak kesehatan dari polusi udara saja mencapai 8,1 triliun dolar AS. Angka ini setara dengan 6,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2019.

    Dampak terbesar dari polusi udara terutama dirasakan di daerah terdekat dengan sumber emisi. Namun demikian, banyak polutan udara dapat menyebar atau terbentuk di atmosfer ratusan hingga ribuan kilometer dari sumber emisi. Kondisi ini menyebabkan dampak regional dan kontinental.

    Misalnya, debu mineral tanah dan pasir, yang membentuk sekitar 40% dari total aerosol di atmosfer yang lebih rendah, dapat tetap berada di atmosfer selama seminggu sehingga memungkinkannya untuk terbawa angin melintasi benua dan memiliki dampak global pada kesehatan, pertanian, transportasi, ekonomi, dan iklim dunia.

    Akhirnya, polusi udara sangat terkait dengan perubahan iklim, dengan banyak gas rumah kaca dan polutan udara yang dipancarkan oleh sumber yang sama.

    Ini berarti bahwa penerapan kebijakan dan tindakan yang koheren yang bertujuan untuk mengurangi emisi polutan juga dapat memberikan dampak yang menguntungkan pada kualitas udara.

    Sebaliknya, kebijakan ini juga dapat memperburuk satu sama lain dalam berbagai cara.

    Naiknya suhu Bumi akibat polusi udara dapat mengakibatkan peningkatan frekuensi kebakaran hutan, yang pada gilirannya mengakibatkan peningkatan kadar partikulat udara yang mengandung beberapa polutan udara lainnya,

    Hal ini terutama ozon dan karbon hitam (komponen PM 2.5) yang dapat mengubah pola cuaca dan berkontribusi terhadap pemanasan global, terutama di daerah yang tertutup es dan salju.

    Kabar baiknya, meskipun kompleks dan membutuhkan respons pemerintah yang terkoordinasi, polusi udara merupakan ancaman yang dapat dicegah dan dikelola. Sementara ini polusi udara memang belum terpecahkan di wilayah mana pun, dengan masalah yang terburuk ditemukan di kawasan perkotaan dan kawasan industri di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

    Banyak kota dan negara di seluruh dunia telah menunjukkan penurunan emisi dan konsentrasi polutan yang luar biasa di mana kebijakan, peraturan yang kuat dan sistem pemantauan telah diterapkan.

    Tapi polusi udara tidak mengenal batas kota atau nasional. Udara yang kita hirup benar-benar menghubungkan kita semua mengatasi ancaman ini secara berkelanjutan, Untuk mengatasi polusi udara ini dibutuhkan tindakan dan kerja sama di semua skala di seluruh dunia.

    Selain itu, negara-negara di seluruh dunia perlu saling berbagi informasi, guna mengidentifikasi kesenjangan dalam pengetahuan dan bertindak bersama mendorong lembaga yang mereka wakili untuk mengoordinasikan upaya pencegahan di skala nasional agar lebih cepat mengurangi ancaman polusi udara.

    Untuk itu, kepala ilmuwan di UNEP, WHO, IUCN, dan WMO akan berkontribusi pada pendekatan yang lebih terintegrasi dan berbasis sistem untuk mengatasi polusi udara dengan bekerja sama lebih erat di tingkat internasional untuk memahami skala masalah.

    Sebelumnya, dalam peringatan Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru (International Day of Clean Air for blue skies) pada 7 September 2022,Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres mengatakan polusi udara tidak mengenal batas. Untuk itu negara-negara di dunia harus bekerja sama dalam mengatasi polusi udara.

    Udara kotor telah mempengaruhi 99 persen orang di planet Bumi. Di mana, orang miskin paling menderita dan merasakan dampaknya. Dari kelompok miskin ini, perempuan dan anak perempuan yang paling menderita karena harus memasak dan memanaskan dengan bahan bakar kotor.

    Sehubungan dengan Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru Giterres menjelaskan bahwa pada bulan Juli 2022, negara-negara dunia telah mengakui hak universal untuk lingkungan yang bersih, sehat dan berkelanjutan.

    Udara bersih kini menjadi hak asasi manusia. Iklim yang stabil adalah hak asasi manusia. Begitupula dengan alam yang sehat bebas dari polusi udara adalah hak asasi manusia.

    Sumber: Unep.org

  • 8 Tanaman Ini Efektif Mengurangi Polusi Udara

    8 Tanaman Ini Efektif Mengurangi Polusi Udara

    7cloud.asia – Kita sudah lama tahu tanaman memainkan peran penting dalam menyerap karbon dan gas polutan lainnya dan mengolahnya menjadi oksigen. 

    Dengan cara ini tanaman bisa memurnikan atmosfer dan mengurangi polusi udara.

    Peran tanaman dalam menyerap polusi udara ini berkat fotosintesis, proses respirasi, dan tahap akhir dekomposisi yaitu mineralisasi yang dilakukannya.

    Karbon yang dikandung dalam tanaman merupakan hasil keseimbangan antara karbon yang difiksasi oleh fotosintesis dan karbon yang dilepaskan di atmosfer melalui respirasi. Dengan cara ini, tanaman bisa menahan kenaikan suhu bumi.

    Selain itu tanaman juga bisa meredam kebisingan di kawasan perkotaan dan industri. Jadi tak heran jika banyak kalangan yang menyarankan untuk menanam tanaman guna menciptakan lingkungan yang lebih asri dan udara yang lebih bersih. 

    Baca: Tanaman yang diyakini bisa membawa keberuntungan

    Jika kamu tertarik untuk menanam tanaman untuk mengurangi polusi udara di sekitarmua, berikut sejumlah tanaman yang diketahui efektif menyerap gas polutan: 

    1. Lidah Buaya

    Tanaman lidah buaya selama ini dikenal baik untuk mengobati luka akibat sengatan matahari ataupun kondisi kulit sensitif. Gel di dalam lidah buaya mengandung anti bakteri alami yang dikemas dengan vitamin.

    Selain itu, tanaman ini juga bertindak sebagai pembersih udara alami dan mengurangi bahan kimia beracun termasuk formaldehida dan benzena.

    2. Dracaena

    Tanaman dracaena telah terbukti menjadi salah satu penyaring udara yang paling efektif. Dracaena dapat menghilangkan formaldehida, benzena, trikloroetilen, dan karbon dioksida yang semuanya bisa memicu masalah kesehatan.

    Tanaman dracaena juga cenderung meningkatkan kelembapan ruangan yang pada gilirannya membantu mengendalikan gangguan pernapasan.

    Baca: Ramah lingkungan tak hanya soal suka tanaman

    3. Tanaman Karet

    Tanaman karet dapat meningkatkan produksi udara bersih karena permukaan daunnya yang besar bertindak sebagai spons dan menyerap bahan kimia keras kemudian memecahnya menjadi udara yang lebih ramah lingkungan.

    Tanaman ini telah terbukti menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi oksigen yang baik untuk kesehatan.

    4. Lady’s Mantle 

    tanaman Lady’s mantle memiliki daun berbulu yang pada akhirnya mengurangi tingkat nitrogen dioksida (NO2) di udara dan juga menjebak partikel berbahaya.

    Itulah sebabnya mengapa tanaman lady’s mantle merupakan pilihan ideal lainnya untuk membersihkan udara di sekitar kita.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan jamur untuk bersihkan polusi lahan

    5. Peace Lily

    Tanaman peace lily dapat meningkatkan kualitas udara dalam ruangan hingga 60 persen. Tumbuhan ini menyerap spora kapang yang biasanya muncul dari debu di dalamnya.

    Tanaman ini dapat mengurangi tingkat spora jamur dengan menyerapnya sebagai makanan. Tanaman peace lily juga dapat bermanfaat di area dengan kelembapan tinggi, seperti misalnya di kamar mandi berkat kemampuannya mencegah jamur.

    6.  Pakis Boston

    Selain menjadi filter udara alami, tanaman Pakis Boston dapat mengembalikan kelembapan alami ke udara. Faktanya, tanaman ini terbukti efektif untuk orang dengan kulit kering atau hidung atau tenggorokan yang sensitif pada udara lembap. 

    Baca: Ini akibatnya jika keanekaragaman hayati musnah

    7. Spider Plant

    Spider plant adalah antioksidan alami karena secara efektif menghilangkan amonia, benzena, formaldehida, dan xilena yang merupakan bahan kimia keras yang muncul dari produk pembersih dan furniture. 

    Tanaman ini sangat mudah tumbuh dan dengan cepat meningkatkan kualitas udara sehingga baik ditempatkan di dalam ruangan. 

    8Tanaman Ivy 

    Tanaman ini memiliki daun dengan permukaan yang besar sehingga memberikan peranan pada pemurnian udara.

    Tanaman Ivy dapat memompa oksigen dalam jumlah yang baik ke atmosfer sehingga bisa menyegarkan udara. 

     

  • Polusi Udara di Jakarta Makin Parah, Apa Kabar Pembatasan Kendaraan Bermotor?

    Polusi Udara di Jakarta Makin Parah, Apa Kabar Pembatasan Kendaraan Bermotor?

    7cloud.asia – Pembatasan penggunaan kendaraan bermotor menjadi hal yang didesakkan pegiat lingkungan untuk mengatasi tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Saat ini memang telah ada sejumlah kebijakan untuk membatasi jumlah kendaraan bermotor yang masuk Jakarta, seperti jalan berbayar (ERP), kebijakan ganjil-genap ataupun menaikkan tarif parkir di sejumlah kawasan tertentu.

    Guna mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, transportasi publik juga dibenahi seperti pengembangan TransJakarta, pembenahan KRL, pembangunan MRT dan yang terakhir adalah pembangunan LRT.  

    Selain masih bolong-bolong dalam pelaksanaannya, selama ini pemerintah juga dinilai masih menyasar di sektor hilir atau mengajak masyarakat untuk beralih ke transportasi publik.

    Baca: Langkah pemerintah atasi polusi udara di Jakarta

    Di hulu, pemerintah dinilai belum serius menegakkan kebijakan pembatasan pemilikan dan penggunaan kendaraan bermotor.

    “Seperti masih ada subsidi untuk bahan bakar fosil atau bahkan kemudahan untuk membeli kendaraan bermotor pada masa pandemi lalu,” ujar Elisa Sutanudjaja di sela konferensi pers menyoal polusi udara di Jakarta, yang diikuti secara daring pada Minggu (13/8/2023).

    Elisa lantas menambahkan, untuk membuat warga meninggalkan kendaraan pribadi, perlu kebijakan yang mendorong orang meninggalkan kendaraan pribadi dan menarik orang menggunakan transportasi publik.

    Lantas bagaimana menerapkan kebijakan pembatasan kendaraan bermotor yang efektif, dari hulu ke hilir. 

    Baca: Pembangunan kawasan berkonsep TOD di Jakarta

    Rahmad Wandi Putra, Transport Associate ITDP Indonesia dalam tulisannya “Manajemen Pengendalian Lalu Lintas: Pendekatan Terpadu Mengatasi Kemacetan” yang dirilis di laman resmi ITDP menyebut, selama puluhan tahun pembangunan Jakarta lebih untuk mewadahi kendaraan bermotor yang terus bertambah sehingga memicu lingkaran setan.

    “Untuk memutus siklus ini, harus ada pergeseran pendekatan menuju intervensi yang berorientasi pada pengendalian dan pembatasan penggunaan kendaraan bermotor,” tulisnya.

    Pendekatan ini dikenal sebagai Manajemen Pengendalian Lalu Lintas (Transportation Demand Management/TDM) yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi sekaligus mendorong peralihan ke moda transportasi umum yang lebih berkelanjutan.

    Baca: Seperti ini rencana besar penataan layanan transportasi publik di Jakarta

    Pendekatan ini membutuhkan kombinasi penerapan insentif untuk penggunaan transportasi publik (“pull strategy”) dan disinsentif untuk penggunaan kendaraan bermotor pribadi (“push strategy“).

    “Pendekatan pull dan push ini sering tidak ada dalam strategi transportasi kota,” tulisnya.

    Padahal menurut Rahmad, pendekatan holistik ini terbukti lebih efektif dalam mengalihkan orang untuk menggunakan transportasi publik, berjalan kaki, dan bersepeda.

    Baca: Stasiun Manggarai akan dijadikan stasiun sentral

    TDM juga mendorong penggunaan lahan yang efisien dengan menciptakan tata ruang kota yang padat dan dinamis.

    Penerapan kebijakan push juga dapat menjadi solusi kebijakan yang lebih hemat biaya karena membuka sumber pendapatan baru untuk meningkatkan layanan transportasi publik.

    Hal ini tidak berarti bahwa implementasi pendekatan TDM akan mudah dan langsung terasa manfaatnya.

    “Mengandalkan pull strategy saja, seperti membangun infrastruktur rel atau meningkatkan infrastruktur pejalan kaki dan sepeda saja, mungkin hanya akan menghasilkan sedikit peralihan dari kendaraan bermotor pribadi ke kendaraan umum,” tandasnya.

    Baca: Kota ini sukses terapkan transportasi berkelanjutan

    Sebaliknya, hanya mengandalkan push strategy, seperti meningkatkan pajak BBM atau memberlakukan jalan berbayar tanpa menyediakan pilihan transportasi publik dapat menimbulkan keresahan masyarakat dan mendorong terjadinya kesenjangan aksesibilitas.

    Strategi TDM yang komprehensif membutuhkan keseimbangan antara penyediaan opsi bermobilitas, kebijakan disinsentif kendaraan bermotor pribadi, dan kebijakan pengembangan tata guna lahan yang baik.

    Adakah kota yang sukses menerapkan pembatasan kendaraan pribadi ini, ikuti di tulisan selanjutnya hanya di 7cloud.asia.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

     

     

     

     

     

     

  • Gree Energy Bantu FIELD Atasi Polusi Udara dan Dukung Pertanian Regeneratif di Indonesia

    Gree Energy Bantu FIELD Atasi Polusi Udara dan Dukung Pertanian Regeneratif di Indonesia

    7cloud.asia – Gree Energy, perusahaan biogas yang berkomitmen untuk dekarbonisasi sektor agrikultur dan rantai pasokan makanan di negara berkembang, memberi donasi senilai Rp 1,5 Miliar kepada Yayasan FIELD Indonesia.

    Donasi dari Gree Energy ini untuk mendukung upaya mereka dalam mempromosikan praktik pertanian tanpa pembakaran untuk udara bersih.

    Dana dari Gree Energy ini akan digunakan untuk mendukung kerja FIELD dengan petani di Kalimantan dan Sumatera, seperti memberikan pelatihan dan pendidikan tentang teknik pertanian tanpa perlu membakar sisa hasil panen dan hutan.

    Baca: Pupuk kandang lebih baik ketimbang pupuk kimia

    Pembakaran residu hasil pertanian merupakan penyumbang utama polusi udara dan krisis iklim di Indonesia, yang menghasilkan karbon hitam (PM 2.5), karbon dioksida, gas metana, dan gas rumah kaca lainnya.

    Menurut Koalisi Iklim dan Udara Bersih (CCAC), karbon hitam merupakan penyebab 7 juta kematian dini, dan dampak buruk lainnya bagi kesehatan seperti penyakit jantung dan paru-paru, serta stroke.

    Pembakaran lahan setelah panen sudah diakui secara luas sebagai kontributor utama kebakaran hutan yang parah. Pembakaran sisa tanaman telah mengakibatkan hampir satu juta hektar lahan di Sumatera dan Kalimantan terbakar.

    Baca: Inovasi Biotron bantu atasi kelangkaan pupuk kimia

    “Kami merasa terhormat bisa mendukung misi penting Yayasan FIELD untuk mengatasi polusi udara dari aktivitas pembakaran di pertanian, dan memberdayakan petani meningkatkan produktivitas tanaman dengan cara alternatif yang berkelanjutan,” kata Fahreza Hidayat, Head of Sustainability Gree Energy.

    Gree Energy dan FIELD memiliki fokus yang sama dalam mengurangi pemicu krisis iklim, khususnya karbon hitam untuk FIELD dan gas metana untuk Gree Energy. Keduanya juga mempromosikan pertanian regeneratif dan rantai pasokan pangan berkelanjutan.

    Namun, FIELD menghadapi tantangan dalam hal pendanaan sehingga inisiatif mereka bergantung pada hibah dan/atau dukungan publik untuk melanjutkan usahanya.

    Baca: Organisasi masyarakat sipil menyoal pelepasan ribuan hektare lahan di Kalimantan

    Nicolas Stirer, CEO dan Founder Gree Energy juga mendukung kemitraan ini. Menurutnya, donasi ini sejalan dengan misi Gree Energy untuk mengurangi emisi gas metana dan menciptakan peluang bagi masyarakat pedesaan yang kurang terlayani.

    “Mempromosikan pertanian regeneratif tanpa pembakaran adalah solusi berkelanjutan yang bermanfaat bagi lingkungan dan mata pencaharian penduduk setempat,” ujarnya.

    FIELD dinilai satu misi dengan Gree Energy, dan Gree Energy bangga mendanai program mereka yang memberdayakan kelompok terpinggirkan dengan pengetahuan dan perangkat untuk melakukan perubahan nyata.

    Baca: Pemerintah diminta terbuka soal hilangnya lahan hutan skunder

    FIELD akan menggunakan sebagian besar donasi dari Gree Energy dalam Program Clean Air Indonesia di 8 provinsi di Indonesia dan Program Perluasan Clean Air Indonesia di Sumatera Barat.

    Dana tersebut sebagian besar akan digunakan untuk kampanye udara bersih melalui Badan Pencemaran dan peningkatan kapasitas guru di 287 sekolah di 8 provinsi di Indonesia, dan pengelolaan data karbon hitam APP (PM 2.5).

    FIELD juga akan memberi pelatihan kepada petani tentang teknik alternatif untuk membuka lahan dan menyuburkan tanah tanpa membakar, seperti kompos, mulsa (mulching), dan mengembangkan tanaman penutup tanah (cover cropping).

    Baca: KLHK sebut laju deforestasi di Indonesia menurun

    “Metode pertanian berkelanjutan ini berfungsi untuk memperkaya tanah, mengurangi polusi, dan memungkinkan petani menghemat uang untuk pupuk. Kami berterima kasih atas dukungan Gree Energy terhadap program udara bersih kami,” kata Heru Setyoko, Direktur Eksekutif FIELD.

    Donasi dari Gree Energy ini akan membantu FIELD menjangkau lebih banyak petani dan sekolah, dan membuat kemajuan yang lebih besar dalam mengatasi polusi dari praktik pembakaran lahan pertanian di Indonesia.

    “Pendanaan ini akan memungkinkan kami memperluas jangkauan dan memberdayakan lebih banyak lagi kelompok yang kurang terlayani dengan keterampilan dan pengetahuan untuk mendorong perubahan nyata dari bawah ke atas.” pungkas Heru Setyoko.

    Baca: Pentingnya memilih pemimpin yang pro lingkungan

     

  • Polusi Udara Berpotensi Memicu Timbulnya Hipertensi, Seperti Ini Penjelasannya

    Polusi Udara Berpotensi Memicu Timbulnya Hipertensi, Seperti Ini Penjelasannya

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu Index Quality Air atau IQAir menyebut Jakarta sebagai kota terpolusi di dunia. Dalam catata IQAir, polusi udara di Jakarta sudah mengkhawatirkan dengan nilai indeks 168 atau masuk kategori tidak sehat.

    Polusi udara memiliki dampak bagi kesehatan diantaranya adalah gangguan saluran pernafasan, penyakit jantung, kanker berbagai organ tubuh, gangguan reproduksi dan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

    Beberapa jenis gas yang sering memicu polusi udara adalah Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Oksida (NO2), Sulfur Oksida (SOx), Photochemical Oksida dan Partikel.

    Sejumlah penelitian mengungkap, polusi udara dapat memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi. 

    Baca: IQAir peringatkan tingginya polusi udara di Jakarta

    Dilansir https://p2ptm.kemkes.go.id/, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal European Heart Journalini menemukan bahwa orang dewasa yang tinggal di area dengan tingkat polusi udara tinggi lebih rentan alami hipertensi dibandingkan mereka yang tinggal di daerah minim polusi.

    Risiko yang dipicu polusi udara ini setara dengan efek obesitas dengan indeks massa tubuh antara 25-30 terhadap risiko munculnya hipertensi

    “Penemuan kami menunjukkan bahwa paparan partikel polusi udara dalam jangka panjang terkait dengan tingginya kasus hipertensi dan asupan obat anti hipertensi,” ujar Barbara Hoffman, Profesor Epidemiologi Lingkungan Centre for Health and Society di Heinrich-Heine-University of Dusseldorf, Jerman.

    Baca: 8 Tanaman ini efektif kurangi polusi udara

    Dilansir di Hypertension Jurnal, hipertensi adalah kondisi yang erat kaitannya dengan penyakit katastropik seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, gagal ginjal, diabetes, dan gangguan penglihatan.

    Pemicu hipertensi sebagian besar disebut karena gaya hidup yang tak sehat terutama dari makanan dan bisa juga polusi udara.

    Dari paparan di atas, dr. Sri Aryanti, MM., M.Kes, mahasiswa S3 Doktoral Ilmu Lingkungan Universitas Lampung /Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyimpulkan terpapar polusi udara dalam jangka panjang terkait dengan peningkatan risiko hipertensi.

    “Orang dewasa  yang tinggal di area dengan tingkat polusi tinggi lebih rentan terkena tekanan darah tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di daerah dengan polusi minim,” papar Sri Aryati.

    Baca: WHO sebut polusi udara picu 7 juta kematian dini per tahun

    Ia menambahkan, tiap penambahan lima mikrogram per meter kubik (5 μg/m3) PM 2,5 risiko hipertensi meningkat hingga 22 persen pada orang yang tinggal di area tinggi polusi dibandingkan dengan yang tinggal di area minim polusi.

    Paparan jangka pendek terhadap gas buang sulfur dioksida dan partikulat seperti debu berhubungan pada risiko tekanan darah tinggi.

    Sementara untuk jangka panjang, polutan nitrogen dioksida dari kendaraan yang dikaitkan dengan risiko tekanan darah tinggi.

    Perempuan yang sering terpapar tingkat polusi udara tinggi, lebih berisiko menderita hipertensi ketimbang laki-laki.

    Baca: Polusi dan perubahan iklim picu infertilitas pada laki-laki

    Prevalensi hipertensi meningkat di seluruh dunia, demikian juga di Indonesia yang merupakan negara berkembang.

    Hipertensi masih merupakan tantangan besar dan masalah utama kesehatan yang sering ditemukan pada pelayanan Primer Kesehatan.

    Hasil Riset Kesehatan (Riskesdas 2013) menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi sekitar 26,5%. Berarti sekitar 3 dari 10 orang Indonesia menderita hipertensi.

    Gejala hipertensi sendiri sering tidak jelas dan tidak diketahui pasiennya, sehingga sering ditemukan dan terdiagnosa pada stadium lanjut.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, warga Bogota dilaporkan makin sehat

    Padahal hipertensi yang tidak tertangani dengan baik merupakan faktor risiko utama terjadinya kerusakan organ ginjal, jantung dan otak bila tidak terdeteksi lebih dini dan mendapat obat yang memadai.

    Keberhasilan pengendalian hipertensi akan menurunkan risiko terjadinya stroke, penyakit jantung dan gagal ginjal.

    Hipertensi yang dikendalikan akan mengurangi beban ekonomi dan sosial bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah.

    Jadi bisa dikatakan mengurangi polusi udara akan menurunkan beban ekonomi dan sosial sebuah kota.

    Baca: Kondisi lingkungan besar pengaruhnya untuk penyembuhan pasien asma

     

  • Pembangkit Listrik Batu Bara Ditutup, Polusi Udara Menurun dan Kesuburan Meningkat

    Pembangkit Listrik Batu Bara Ditutup, Polusi Udara Menurun dan Kesuburan Meningkat

    7cloud.asia – Antara tahun 2001 dan 2011, delapan pembangkit listrik batu bara dan minyak di California, AS ditutup. Pembangkit listrik batu bara yang ditutup tersebar, mulai dari di utara, dekat Teluk Humbolt, hingga perbatasan selatan, di Brawley.

    Seperti umumnya pembangkit listrik batu bara delapan pembangkit ini melepaskan partikel, sulfur dioksida (SO2), timbal, dan senyawa lainnya—membuat orang yang tinggal di sekitar terpapar polusi udara.

    Saat pembangkit listrik batu bara itu ditutup, tingkat polusi udara  atau PM2.5 (partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, sekitar 30 kali lebih kecil dari rambut manusia) di area sekitarnya turun.

    Penurunan tingkat polusi udara yang dipicu nitrogen oksida juga terjadi. Dan, setahun pembangkit listrik batu bara itu ditutup, tingkat kesuburan di daerah sekitarnya naik.

    Baca: 8 Tanaman ini efektif menyerap polusi udara

    Penutupan pembangkit listrik, di satu sisi, merupakan eksperimen alami, yang memungkinkan para peneliti mendapatkan kesempatan langka untuk mengukur efek penghilangan polusi udara.

    Penelitian yang dihasilkan memberikan bukti yang jelas tentang masalah kesehatan masyarakat yang muncul—hubungan antara kualitas udara yang buruk dan berkurangnya kesuburan.

    “Semakin banyak bukti bahwa mungkin ada hubungan antara polusi udara dan kesuburan,” kata penulis studi Joan Casey, seorang sarjana postdoctoral di School of Public Health di University of California di Berkeley.

    Ia menambahkan, “Sangat meyakinkan bahwa sesuatu mungkin sedang terjadi.”

    Baca: Polusi udara dan perubahan iklim pengaruhi kesuburan laki-laki

    Polusi udara membunuh jutaan orang setiap tahun, dan telah dikaitkan dengan masalah kesehatan mulai dari penyakit kardiovaskular hingga Alzheimer.

    Organisasi Kesehatan Dunia menganggap udara buruk sebagai satu-satunya risiko kesehatan lingkungan terbesar di dunia, dan para ilmuwan masih bekerja untuk menjabarkan cakupan penuh dari kerusakan yang dapat ditimbulkannya.

    Kesuburan menjadi salah satu area fokus para ahli terkait dampak yang disebabkan polusi udara pada kesehatan manusia.

    “Salah satu alasan mengapa orang fokus pada hasil reproduksi adalah karena kita dapat melihat efek dari paparan lingkungan lebih cepat daripada sesuatu seperti penyakit kardiovaskular, di mana kita menunggu puluhan tahun untuk melihat dampaknya,” kata Audrey Gaskins, seorang peneliti di Harvard T.H. Sekolah Kesehatan Masyarakat Chan.

    Baca: Polusi dan peningkatan suhu bumi pecu perkembangan nyamuk malaria

    “Titik akhir reproduksi awal ini seperti burung kenari di tambang batu bara — jika kita melihat efek pada kesuburan, dan keguguran, itu adalah tanda bahwa polusi bekerja pada tubuh dengan cara yang merugikan. Siapa yang tahu apa lagi yang akan kita lihat.

    Gaskins mempelajari pengaruh paparan lingkungan seperti polusi udara pada perempuan yang menjalani prosedur fertilisasi in-vitro agar bisa hamil.

    Karena garis waktu kehamilan IVF diawasi dan diatur dengan sangat ketat, dia dapat bekerja untuk menentukan waktu selama upaya kehamilan sehingga polusi udara mungkin memiliki efek terkuat.

    “Kita tahu hari pembuahan terjadi, hari embrio dipindahkan, hari implantasi,” katanya. “Kami tidak akan pernah bisa mengetahuinya dengan kehamilan spontan.”

    Baca: WHO sebut polusi udara picu 7 juta kematian dini per tahun

    Dalam sebuah penelitiannya, Gaskins menemukan, perempuan yang menjalani IVF yang tinggal lebih dekat dengan jalan raya utama –oleh karena itu, lebih dekat dengan polusi udara terkait lalu lintas– memiliki kemungkinan lebih rendah untuk berhasil melakukan implantasi embrio dan kelahiran hidup.

    Sebuah studi tahun 2010 telah mencapai kesimpulan yang sama: perempuan memiliki peluang kehamilan yang lebih rendah setelah IVF jika mereka lebih banyak terpapar polusi udara, terutama nitrogen dioksida (yang diproduksi oleh mobil dan truk).

    Kedua penelitian tersebut bukanlah outlier. Shruthi Mahalingaiah, asisten profesor epidemiologi, kebidanan, dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Boston, menemukan sedikit peningkatan infertilitas pada wanita yang tinggal lebih dekat ke jalan.

    Temuan ini dihasilkan saat  mereka menganalisis data dari Nurses Health Study, sebuah penyelidikan longitudinal terhadap faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penyakit kronis pada perempuan.

    Untuk perempuan di Barcelona, ​​​​setiap peningkatan sekitar 3,5 mikrogram per meter kubik partikel polusi udara bisa menyebabkan penurunan kesuburan sebesar 13 persen, menurut sebuah studi tahun 2014.

    Baca: Polusi udara memicu potensi hipertensi

    Sumber: Popsci.com baca artikel asli di sini

  • Polusi Udara di Jakarta Parah, Pemprov DKI Jakarta Siap Tanggung Jawab

    Polusi Udara di Jakarta Parah, Pemprov DKI Jakarta Siap Tanggung Jawab

    7cloud.asia – Polusi udara di Jakarta beberapa minggu terakhir ini kian parah, bahkan sudah tergolong kategori tidak sehat.

    Menurut data yang dilansir IQAir pada Kamis (10/8/2023), indeks kadar PM 2,5 yang menunjukkan tingkat kadar polusi udara di Jakarta tercatat sebesar 161 atau tergolong tidak sehat.

    Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengupayakan berbagai cara untuk mengatasi tingginya polusi udara di Jakarta.

    “Jadi memang beban Jakarta berat. Tapi tidak mengurangi tanggungjawab
    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemda tak lepas tanggung jawab, kami berusaha untuk itu,” jelas Penjabat (PJ) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, seperti dikutip dari Antaranews.com.

    Baca: Kualitas udara di sejumlah kota memburuk, terburuk Serang dan Tangsel

    Tingginya polusi udara yang mengakibatkan buruknya kualitas udara Jakarta tak lepas dari jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahunnya.

    Seperti dilansir IQAIr, sumber polutan di Jakarta mayoritas disebabkan oleh asap  kendaraan bermotor.

    Dalam kurun waktu 1,5 tahun terakhir, jumlah kendaraan roda empat meningkat dari 4 juta menjadi 6 juta.

    Sementara kendaraan roda dua naik dari 14 juta menjadi 16 juta. Hal ini membuat beban Jakarta menjadi berat.

    Baca: Polusi udara bisa memicu hipertensi

    Karena itu, Heru mengimbau agar masyarakat memaksimalkan menggunakan kendaraan umum seperti Transjakarta, MRT, LRT, dan KRL untuk aktifitas sehari-hari.

    Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi buruknya kualitas Jakarta, seperti memperbanyak penanaman pohon di berbagai tempat.

    Beberapa tahun belakangan, Pemprov DKI Jakarta juga menggenjot pembangunan transportasi publik seperti TransJakarta, Commuter Line, MRT dan yang terakhir adalah LRT.

    Baca: 8 jenis tanaman ini efektif menyerap polusi udara

    Pemprov DKI Jakarta juga telah memberlakukan sejumlah kebijakan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dengan cara uji emisi gas karbon, penerapan ganjil genap serta penerapan jalan berbayar. 

    Namun, semua upaya tersebut tidak bisa hanya dilakukan sendiri oleh Pemprov DKI Jakarta. Harus ada sinergi dari otoritas wilayah Jabodetabek untuk bersama-sama mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang masuk ke Jakarta. 

     

    Buruknya kualitas udara di Jakarta juga menjadi sorotan anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak.

    Baca: Polusi udara bisa memicu kemandulan pada laki-laki

    Dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (10/8/2023), Gilbert  mengungkapkan, perlu upaya serius yang harus dilakukan pemprov DKI untuk mengatasi polusi udara dengan cara mengurangi kendaraan bermotor. 

    Sebab menurut politisi PDIP ini, kendaraan bermotor merupakan salah satu kontribusi terbesar terhadap kualitas udara di Jakarta. 

    “Jumlah kendaraan bermotor sangat mendesak untuk segera dibatasi melalui berbagai cara. Saat ini dapat ditempuh pelarangan parkir di pinggir jalan utama, menaikkan tarif parkir dan membatasi lahan parkir,” jelas Gilbert.

    Baca: WHO sebut polusi udara picu 7 juta kematian dini setiap tahun

    Selain itu, tambah Gilbert, untuk membatasi jumlah kendaraan yang masuk jakarta bisa dilakukan dengan menaikkan tarif tol pada jam berangkat/pulang kantor dan juga menaikkan pajak kendaraan roda dua. 

    Selain itu pemprov DKI juga harus meningkatkan layanan transportasi publik seperti penambahan armada, perluasan trayek, dll.

    “Hal ini agar masyarakat dapat beralih dari transportasi pribadi ke transportasi umum, sehingga polusi udara di Jakarta dapat dikurangi,” pungkas Gilbert.

    Baca: 17 cara gaya hidup ramah lingkungan, salah satunya naik kendaraan umum

    (Nurakhmayani)

  • Nilai Polusi Udara di Jabodetabek Sudah Berbahaya, Koalisi IBUKOTA Desak Pemerintah Segera Bertindak

    Nilai Polusi Udara di Jabodetabek Sudah Berbahaya, Koalisi IBUKOTA Desak Pemerintah Segera Bertindak

    7cloud.asia – Koalisi IBUKOTA mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata guna mengatasi masalah polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Terkait polusi udara di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) ini, pemerintah diminta tak lagi menunda tanggung jawab dengan menggunakan upaya hukum.

    Polusi udara mengakibatkan kualitas udara di Jabodetabek dan Bandung dalam beberapa bulan terakhir masuk kategori tidak sehat. Menurut data IQAir, sejak Mei lalu, Jakarta konsisten masuk 10 besar kota terpolusi di dunia. 

    Hal ini menjadi bukti betapa abai dan enggannya pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk mengatasi polusi udara dan bersinergi melakukan tugas-tugas mereka dalam memenuhi hak warga untuk mendapatkan udara bersih.

    Baca: Polusi udara di Jakarta sudah mengkhawatirkan

    Padahal, dampak polusi udara semakin hari semakin nyata. Tak hanya menyerang kesehatan fisik dan mental orang dewasa, polusi udara juga meningkatkan risiko kelahiran bayi prematur dan bahkan kematian dini.

    Meski pada 16 September 2021 Koalisi IBUKOTA telah memenangi gugatan mengenai Hak Udara Bersih, faktanya hingga kini, hampir tak satu hari pun warga DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten -khususnya area Jabodetabek dan Bandung- dapat menghirup udara bersih.

    Pemerintah yang terdiri dari Presiden, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jawa Barat, dan Gubernur Banten belum memenuhi kewajiban yang diputuskan PN Jakarta Pusat.

    Situasi tersebut makin pelik ketika masyarakat “dipaksa” secara mandiri mencari data polusi udara demi melindungi kesehatan diri sendiri dan keluarga.

    Tak ada satu pun imbauan yang datang dari pemerintah terkait polusi udara. Informasi mengenai buruknya polusi udara justru muncul dari pihak non-pemerintah.

    Baca: Polusi udara di Jakarta sudah parah, saatnya beralih ke kendaraan listrik?

    Baru pada Jumat (11/8/2023) kemarin, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyampaikan rencana Pergub soal Strategi Pengendalian Pencemaran Udara yang akan ditandatangani Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono dalam waktu dekat.

    Menurut Elisa Sutanudjaja, warga penggugat yang tergabung dalam Koalisi IBUKOTA, rencana ini terbilang terlambat padahal draft sudah ada sejak 1 tahun lalu.

    “Ini jelas mengecewakan, mereka menunggu kualitas udara menjadi parah dan viral dulu baru buru-buru berencana mengesahkan rencana Pergub tersebut,” ujar Elisa  dalam jumpa pers yang diikuti secara daring pada Minggu (13/8/2023).

    Ia menegaskan, Jakarta dan sekitarnya perlu perubahan fundamental untuk mengurangi polusi udara, mulai dari pembatasan penggunaan kendaraan bermotor hingga transisi segera ke energi terbarukan.

    Sayangnya ia melihat, pemerintah dalam hal ini Pemrov DKI Jakarta justru membebankan semua ini kepada masyarakat dengan mengajak beralih ke kendaraan listrik.

    Baca: Ini yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta atasi polusi udara

    Elisa melihat tidak ada keberpihakan pemprov pada transportasi yang berkelanjutan dan rendah emisi. Pun demikian tidak ada upaya serius untuk mengurangi emisi yang dihasilkan Pabrik dan PLTU. 

    “Saya melihat belum ada kebijakan untuk menurunkan penggunaan kendaraan pribadi, seperti ERP belum maksimal, ganjil genap masih bolong-bolong,” imbuhnya.

     

    Satu suara dengan Elisa, Juru Kampanye Energi dan Iklim Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu mempertanyakan perihal target penurunan beban emisi yang tercantum dalam rencana Pergub tersebut.

    Ia berharap, Pergub ini tidak hanya bagus dalam tulisan, tetapi juga implementasinya.

    “Kita harus melihat bagaimana nanti implementasinya dan bagaimana publik bisa memantau keberhasilan implementasinya, tentunya dengan data-data,” ucap Bondan dalam kesempatan yang sama.

    Baca: Kualtas udara di sejumlah kota memburuk

    Bondan menyoroti poin di Pergub tersebut yang menyebut target menurunkan beban emisi, khususnya pada PM2.5, yang ditetapkan di angka 41% pada tahun 2030.

    “Ini masih ambigu. Apakah beban emisi yang dimaksud adalah beban emisi berdasarkan sektor pencemar udara atau emisi PM2.5 tahunan di Jakarta? Dan dari mana baseline datanya?” imbuh Bondan

    Lebih lanjut, Bondan berharap untuk langkah berikutnya, pemerintah lebih mengedepankan rencana strategis dan solusi jangka panjang, seperti inventarisasi emisi secara berkala, pengetatan baku mutu udara ambien, dan sistem peringatan dini.

    Sementara itu, Natalia Naibaho, Pengacara Publik LBH Jakarta yang menjadi tim advokasi Koalisi IBUKOTA mengapresiasi beberapa tergugat yang melakukan beberapa upaya dalam memperbaiki kualitas udara.

    Namun, Natalia berharap hal tersebut tidak hanya sebatas pembentukan regulasi atau tindakan formalitas.

    Baca: Polusi udara bisa memicu hipertensi

    Terkait polusi udara yang makin memburuk ini, ada tiga poin hak warga yang terlanggar yakni hak atas lingkungan yang bersih dan sehat, hak atas informasi  dan hak kesehatan.

    Masyarakat, ujarnya, tidak mendapat informasi yang jelas atas masalah kualitas udara dan upaya yang dilakukan dalam mengatasi pencemaran udara.

    “Harusnya ada sistem peringatan dini saat kualitas udara memburuk, juga inventarisasi dan pengetatan baku mutu ambien berdasarkan hasil kajian riset yang ilmiah. Semua hal ini harus diinformasikan kepada masyarakat,” kata Natalia.

    Natalia juga menyebut hak warga atas kesehatan telah dilanggar. Udara yang tercemar, ujarnya, berdampak kepada kesehatan masyarakat (balita, lanjut usia, kelompok yang rentan terhadap udara tercemar), baik itu jangka pendek hingga jangka panjang.

    Dan hingga hari ini belum ada upaya solutif untuk mencegah dan memulihkan kualitas udara tersebut.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan anak

    Pemerintah juga dinilai telah melanggar hak partisipasi. Seharusnya masyarakat dilibatkan dalam penyusunan pun revisi kebijakan untuk mengatasi masalah polusi udara ini. 

    “Masyarakat dari berbagai elemen yang terdampak, termasuk pakar, akademisi, serta LSM yang memiliki fokus isu lingkungan hidup, jadi bukan hanya sosialisasi saja,” ujarnya. 

    Natalia menegaskan, seharusnya Pemprov DKI Jakarta serta Para Tergugat dan Turut Tergugat menjalankan putusan pengadilan untuk mengatasi polusi udara dan tidak lagi menunggu putusan Mahkamah Agung.

    Seperti diketahui, saat ini pemerintah tengah mengajukan kasasi setelah Pengadilan Tinggi Jakarta menolak banding yang diajukan. Keputusan kasasi diperkirakan akan keluar pada Oktober mendatang.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

     

     

  • Jika Pembatasan Kendaraan Bermotor Sukses, Jakarta Bisa Ucapkan Bye-bye Kemacetan dan Polusi Udara

    Jika Pembatasan Kendaraan Bermotor Sukses, Jakarta Bisa Ucapkan Bye-bye Kemacetan dan Polusi Udara

    7cloud.asia – Memburuknya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya membuat sejumlah pihak menyoal kebijakan pemerintah dalam membatasi kepemilikan kendaraan bermotor.

    Meski bukan sumber utama, kemacetan akibat tingginya penggunaan kendaraan bermotor juga menjadi penyumbang tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya. 

    Pemerintah dinilai masih gamang dalam terkait kebijakan pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor sehingga kemacetan dan polusi udara di Jakarta tak kunjung teratasi.

     

    Kebijakan yang dimunculkan pemerintah untuk atasi kemacetan yang kemudian memicu polusi udara di Jakarta seolah berjalan sendiri-sendiri dan sering tidak berlangsung lama.

    Baca: Kebijakan pembatasan kendaraan bermotor dipertanyakan

    Kebijakan jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP) misalnya, hingga kini belum diterapkan, meski sebenarnya kebijakan ini sangat penting untuk mengatasi kemacetan dan polusi udara di Jakarta.

    Selain ERP, Pemprov DKI Jakarta juga menerapkan sistem ganjil genap, tarif parkir mahal di lokasi-lokasi tertentu.

    Namun pelaksanaan ini masih belum efektif mengurangi kemacetan dan polusi udara di Jakarta.

    Rahmad Wandi Putra, Transport Associate ITDP Indonesia dalam tulisannya “Manajemen Pengendalian Lalu Lintas: Pendekatan Terpadu Mengatasi Kemacetan” menyebut, harus ada pergeseran paradigma terkait masalah ini.

    Baca: Transisi ke kendaraan listrik dinilai tak selesaikan akar masalah

    Paradigma itu adalah dengan intervensi yang berorientasi pada pengendalian dan pembatasan penggunaan kendaraan bermotor atau TDM. 

    “Beberapa kota telah menerapkan strategi TDM yang komprehensif untuk mengatasi masalah kemacetan, seperti Singapura dan Stockholm, Swedia,” ,” tulis Rahmad dalam artikel yang dirilis di laman resmi ITDP tersebut.

    Pada tahun 2007, Stockholm, Swedia, memperkenalkan pajak kemacetan (yang merupakan push strategy) di pusat kota.

    Saat pertama diterapkan, kebijakan ini mendapatkan penolakan besar-besaran dari masyarakat setempat.

    Baca: Kota ini sukses terapkan konsep TOD, dan ini manfaat yang dirasakan warganya

    Namun pemerintah memitigasi masalah tersebut dengan meningkatkan layanan bus untuk mengakomodasi para pengemudi yang terkena dampak (pull strategy).

    “Hasilnya, terjadi peningkatan 10-15% jumlah penumpang bus ke pusat kota Stockholm dan volume lalu lintas secara keseluruhan menurun sebesar 20%,” terang Rahmad.

    Dari kebijakan ini, pemerintah Swedia mendapatkan sumber pendapatan baru yang kemudian dialokasikan untuk meningkatkan infrastruktur transportasi Stockholm.

    Contoh lain dari keberhasilan implementasi kebijakan TDM dapat dilihat di Singapura. 

    Baca: Kontroversi kebijakan menurunkan penggunaan kendaraan bermotor di Inggris

    Bahkan sebelum skema Electronic Road Pricing (ERP) diterapkan pada tahun 1998, Singapura telah menerapkan beberapa push and pull strategy untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kotanya.

    Skema Lisensi Area/Area License Scheme (ALS) dan Sistem Kuota Kendaraan/Vehicle Quota System yang push strategy lainnya diterapkan masing-masing pada tahun 1975 dan 1990 untuk membatasi penggunaan dan pertumbuhan kendaraan bermotor.

    Di sisi pull strategy, selain memperluas sistem bus dan kereta (sistem MRT dan LRT), Singapura juga berhasil menerapkan sistem pembayaran transportasi publik massal yang terintegrasi untuk menghindari kerumitan saat berpindah dari bus, MRT, dan LRT.

    Sistem pembayaran itu saat ini telah ditingkatkan beberapa kali, dari pembayaran luring berbasis kartu pada tahun 2000-an menjadi daring berbasis akun yang dimulai pada tahun 2017.

    Baca: Pengembangan kawasan berkonsep TOD di Jakarta

     

     

    Di Jakarta, pendekatan TDM telah diterapkan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas melalui beberapa kebijakan yang bersifat push dan pull.

    Pada tahun 2003, pemerintah memperkenalkan skema “3-in-1“, sebuah push strategy di mana hanya kendaraan berpenumpang banyak (High Occupancy Vehicle/HOV) yang diisi setidaknya tiga orang, termasuk pengemudi, diizinkan untuk melewati koridor-koridor tertentu.

    Namun, kebijakan ini tidak efektif karena munculnya fenomena joki 3-in-1. Kebijakan ini kemudian diubah menjadi Pembatasan Plat Nomor Ganjil-Genap pada tahun 2016.

    Pembatasan ini masih berlaku hingga sekarang, namun penelitian menunjukkan bahwa kebijakan ini memicu peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan dalam satu rumah tangga. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta melalui penataan transportasi publik

    Saat ini, Pemprov DKI Jakarta sedang merumuskan kebijakan mengenai jalan berbayar melalui skema ERP sebagai perbaikan dari kebijakan pembatasan ganjil-genap.

    “Di sisi pull strategy, pemerintah mulai mengoperasikan jalur Bus Rapid Transit (BRT) pertama pada tahun 2004 yang telah diperluas menjadi 251 kilometer,” ujar Rahmad. 

    Jalur MRT pertama beroperasi pada tahun 2019 dan akan diperluas untuk mencakup perpanjangan koridor Utara-Selatan dan penambahan koridor Timur-Barat.

    Pada tahun 2020, Pemerintah Jakarta menerapkan sistem integrasi tarif di bawah JakLingko yang menawarkan insentif bagi warga untuk melakukan perjalanan ke kantor atau berkeliling Jakarta dengan menggunakan transportasi umum.

    Baca: Stasiun Manggarai bakal jadi stasiun sentral Jakarta

    Ada pula upaya lain seperti perluasan trotoar dan infrastruktur bersepeda untuk mempromosikan koneksi first-last mile transportasi tidak bermotor dari dan ke titik transit transportasi publik.

    Menurut Rahmad, penerapan TDM tidak hanya relevan untuk Jakarta, namun juga untuk kota-kota lain di Indonesia karena kemacetan lalu lintas semakin menjadi masalah perkotaan yang umum.

    Belajar dari Jakarta, kota-kota di Indonesia harus mulai menyadari bahwa perluasan jalan, termasuk pembangunan jalan tol dalam kota, bukanlah pendekatan yang efektif dan tepat untuk mengatasi atau mencegah kemacetan.

    Pemkot lebih baik mengalokasikan lebih banyak investasi untuk transportasi publik dan peningkatan aksesibilitas transportasi tidak bermotor.

    Pemkot juga perlu mulai menerapkan langkah-langkah untuk memberikan disinsentif bagi penggunaan kendaraan bermotor pribadi, misalnya dengan meningkatkan manajemen ruang dan tarif parkir.

    Baca: Kota Surabaya pernah jadi kota dengan udara erbersih di Asia Tenggara

     

  • DPR Minta Industri yang Memicu Polusi Udara Ditindak Tegas

    DPR Minta Industri yang Memicu Polusi Udara Ditindak Tegas

    7cloud.asia – Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan menyoroti pabrik-pabrik yang diduga memicu polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Seperti diketahui, dalam tiga bulan terakhir polusi udara di Jakarta dan sekitarnya, termasuk di Tangerang Selatan sudah sangat mengkhawatirkan bahkan masuk kota terpolusi di di dunia.

    Berdasarkan catatan Nafas Indonesia, lembaga pemantau kualitas udara, polusi udara di Tangerang Selatan termasuk yang tertinggi. 

    Selain karena asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah yang besar dan faktor banyaknya pabrik menyebabkan polusi udara di Tangsel lebih buruk dibandingkan Ibukota.

    Baca: Polusi udara di Jakarta dipicu PLTU batubara

    Rata-rata polutan udara PM 2.5 di Tangerang Selatan pada Juli berada di angka 60 µg/m³ (mikrogram per meter kubik), naik dari 56 µg/m³.

    Daniel mengatakan, asap dari pabrik industri juga menjadi salah satu sumber polusi udara terbesar yang sangat berdampak pada kualitas udara.

    Oleh karena itu, ia mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) untuk melakukan evaluasi berkala terhadap pabrik untuk tetap mengacu pada Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang dimiliki.

    “Industri sekitar Jabodetabek harus diperiksa benar, masalah Amdal dan penanganan polusinya agar sesuai aturan yang ada. Jika terbukti melanggar, Pemda harus berani ambil tindakan mencabut izin usahanya,” kata Daniel dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, Selasa (15/8/2023).

    Baca: Pemerintah diminta segera ambil tindakan karena polusi udara

    Politisi F-PKB itu menambahkan, Pemerintah harus memprioritaskan pengawasan ke pabrik-pabrik yang menggunakan bahan bakar batubara dalam menjalankan operasionalnya.

    Sebab, kata Daniel, batubara melepaskan sulfur dalam bentuk gas belerang dioksida (SO2) yang juga menghasilkan partikel karbon hitam dalam jumlah banyak yang berdampak buruk bagi kesehatan.

    “DPR mendorong pemerintah daerah untuk menggalakkan sosialisasi ke pabrik-pabrik agar tidak menggunakan batubara. Untuk pabrik-pabrik yang masih menggunakan bahan bakar dari batu bara harus diganti dengan gas,” paparnya.

    Pembakaran batu bara selama satu abad terakhir telah menyebabkan bumi menjadi lebih panas. Kondisi ini membuat perubahan iklim yang mengganggu stabilitas alam.

    Baca: Ini langkah pemerintah atasi polusi udara di Jakarta

    Bagi makhluk hidup khususnya manusia, partikel hasil pembakaran batu bara dapat masuk ke paru-paru dan menyebabkan penyakit pernapasan.

    Daniel menyebut, industri peleburan baja menjadi salah satu penyumbang polusi udara.

    Dengan kondisi tersebut, pabrik-pabrik di wilayah penyangga ibukota memungkinkan polusi yang dikeluarkan oleh cerobong asap terbawa hingga ke Jakarta.

    “Saya akan mendalami masalah ini, saya rasa penyebab udara jelek utamanya karena industri yang limbah polusinya dikeluarkan melalui cerobong asap dan terbawa hingga Jakarta. Terlebih ditambah musim kemarau, yang membuat kualitas udara tidak tercuci,” ungkap Daniel.

    Baca: Transisi ke mobil listrik tak selesaikan akar masalah polusi udara Jakarta

    Legislator Dapil Kalimantan Barat I itu juga meminta masyarakat proaktif melaporkan apabila mengetahui ada pabrik-pabrik yang nyata-nyat memicu polusi udara. 

    Daniel juga meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Dinas Lingkungan Hidup Daerah responsif dengan kondisi ini.

    Masyarakat berperan serta dalam mengawasi dampak lingkungan. Pengawasan dari masyarakat akan memudahkan pihak berwenang mengetahui mana pabrik yang masih menyumbang polusi udara.

    “Harus ada tindakan tegas karena dampak dari polusi udara itu sudah jelas, berbahaya. Belakangan banyak masyarakat, terutama anak-anak, yang mengalami batuk flu cukup berat lebih dari biasanya,” pungkas Daniel. 

    Baca: Atasi polusi udara di Jakarta, KLHK dorong transisi ke kendaraan listrik