Tag: afghanistan

  • Pemerintahan Taliban Tutup Ratusan Salon di Afghanistan

    Pemerintahan Taliban Tutup Ratusan Salon di Afghanistan

    7cloud.asia – Pemerintahan Taliban Afghanistan memerintahkan ratusan salon kecantikan yang dikelola perempuan di negeri itu untuk ditutup.

    Pemerintah Taliban memberi waktu waktu satu bulan, agar semua bisnis salon di negeri Afghanistan tersebut harus ditutup.

    Larangan membuka salon ini, merupakan kebijakan terbaru dari rangkaian pembatasan yang dilakukan Taliban dalam menghalangi akses perempuan untuk bekerja dan ke ruang publik di negara yang dilanda kemiskinan itu.

    Baca: CSO ingatkan perubahan iklim harus jaid perhatian serius di WPS ASEAN High Level 

    Kementerian Pencegahan Kejahatan dan Penegakan Kebajikan Taliban telah memberi tahu pihak berwenang di ibu kota, Kabul, dan provinsi untuk segera menegakkan larangan dan mencabut izin semua salon.

    Dikatakan, arahan itu adalah fatwa pemimpin tertinggi Taliban yang tertutup, Hibatullah Akhundzada.

    Juru bicara kementerian moralitas Taliban, mengonfirmasi pemberitahuan itu pada Selasa (4/7/2023) tanpa merinci lebih lanjut.

    Baca: Belanda minta maaf atas perbudakan di masa lalu

     
    PBB mengimbau Taliban agar membatalkan dekrit penutupan salon kecantikan. Sebelumnya PBB juga telah meminta Taliban mencabut semua kebijakan yang dinilai membatasi hak-hak perempuan.

    “Pembatasan baru terhadap hak-hak perempuan ini akan berdampak negatif terhadap ekonomi dan bertentangan dengan pernyataan dukungan bagi kewirausahaan perempuan,” cuit kantor PBB di Kabul.

    PBB dan komunitas internasional pada umumnya telah menuntut diakhirinya pembatasan akses perempuan Afghanistan ke kehidupan publik dan pendidikan.

    Baca: UNHCR sebut perang Ukraina picu peningkatan pengungsi

    Mereka memperingatkan bahwa semua kebijakan tersebut telah membuat dunia dan PBB “hampir tidak mungkin” untuk memberi legitimasi kepada pemerintah Taliban.

    Namun pemimpin tertinggi Taliban Akhundzada tak bergeming. Ia menolak seruan dunia untuk melonggarkan pembatasan terhadap perempuan.

    Ia bersikeras pemerintahan Taliban di bawah kepemimpinannya menjalankan negara itu sesuai budaya Afghanistan dan hukum Islam.

    Baca: Gelombang panas akibatkan 98 orang meninggal di India

    Sejak merebut kembali kekuasaan di Afghanistan pada Agustus 2021, Taliban telah melarang perempuan berkuliah dan bersekolah di atas kelas enam.

    Mereka juga memerintahkan perempuan pegawai dalam sektor publik untuk tinggal di rumah. Perempuan juga dilarang mengunjungi taman dan sasana kebugaran.

    Sumber: VOA INdonesia

  • Lebih 1000 Orang Tewas Akibat Gempa yang Mengguncang Afghanistan

    Lebih 1000 Orang Tewas Akibat Gempa yang Mengguncang Afghanistan

    7cloud.asia – Setidaknya seribu orang tewas dan terluka dalam serangkaian gempa yang melanda wilayah barat laut Afghanistan pada Sabtu (8/10/2023), menurut sejumlah pejabat.

    Juru bicara Otoritas Manajemen Bencana Afghanistan Mullah Janan Saiq mengatakan jumlah korban jiwa akibat gempa dapat bertambah, karena masih banyak warga yang dilaporkan hilang.

    Baca: Gempa Maroko tewaskan lebih 1000 warga

    Saiq menambahkan bahwa getaran yang dipicu gempa menyebabkan kerusakan berat di barat laut provinsi Herat dan Badghis yang berada di Afghanistan barat laut.

    “Tiga desa di provinsi Herat rusak total, ratusan warga masih terjebak di bawah reruntuhan,” ungkap Saiq kepada Anadolu melalui sambungan telepon.

    Dia menambahkan, sulit untuk mengetahui jumlah pasti korban jiwa, namun sejauh ini pejabat setempat melaporkan 1.000 orang tewas.

    Baca: Gempa Bantul akibatkan ratusan rumah rusak

    Menurut Survei Geologi (USGS), gempa kuat dengan magnitudo 5,5-5,9-dan 6,2 telah mengguncang provinsi-provinsi Afghanistan.

    Dikatakan USGS, pusat gempa berada 40 kilometer barat laut kota Herat.

    Organisasi Kesehatan Dunia wilayah Afghanistan mengatakan timnya berada di rumah sakit-rumah sakit memberikan bantuan perawatan bagi mereka yang terluka dan memeriksa kebutuhan tambahan.

    Sumber: Anadolu

     

     

  • Lebih 1 Juta Anak Perempuan di Afghanistan Dilarang Sekolah

    Lebih 1 Juta Anak Perempuan di Afghanistan Dilarang Sekolah

    7cloud.asia – Anak laki-laki di Afghanistan memulai kegiatan belajar pada tahun ajaran baru, pawa awal Maret atau sekitar satu bulan lalu.

    Namun, anak perempuan di Afghanistan dilarang oleh Taliban yang berkuasa untuk menuntut ilmu setelah lulus dari kelas enam sekolah dasar.

    Afghanistan masih menjadi satu-satunya negara yang membatasi pendidikan untuk anak perempuan.

    Baca: Kelaparan di Gaza semakin kritis

    Badan PBB untuk Urusan Anak-anak (UNICEF) memperkirakan lebih dari satu juta anak perempuan di Afghanistan terkena dampak pelarangan tersebut.

    Sebelum pengambilalihan kembali oleh Taliban pada pertengahan Agustus 2022, diperkirakan ada lima juta anak perempuan yang tidak bersekolah karena kurangnya fasilitas dan sejumlah alasan lainnya.

    Kementerian Pendidikan Taliban menandai dimulainya tahun ajaran baru itu dengan sebuah upacara yang tidak boleh dihadiri oleh wartawan perempuan.

    Baca: Pemerintahan taliban melarang salon di Afghanistan

    Menteri itu juga meminta para siswa untuk tidak mengenakan pakaian yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan Afghanistan.

    Taliban sebelumnya mengatakan anak perempuan yang melanjutkan pendidikan bertentangan dengan interpretasi ketat terhadap hukum Islam, dan bahwa hanya kondisi tertentu yang membuat anak perempuan diizinkan kembali ke sekolah.

    Taliban awalnya menjanjikan aturan yang lebih moderat, tetapi hingga saat ini tidak ada kemajuan berarti yang diambil.

    Baca: Peneliti PBB serukan embargo senjata untuk hentikan genosida di Gaza 

    Setelah berkuasa kembali pasca pengambilailhlan itu, Taliban mengeluarkan serangkaian aturan yang menargetkan perempuan.

    Selain melarang anak perempuan di atas kelas enam SD untuk bersekolah, larangan berada di ruang publik – seperti taman – dan bekerja juga diberlakukan.

    Kondisi saat ini sudah sangat mirip dengan saat Taliban pertama kali memerintah Afghanistan pada tahun 1990-an.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Afghanistan 315 Orang, PBB Kaitkan dengan Perubahan Iklim

    Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Afghanistan 315 Orang, PBB Kaitkan dengan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Korban akibat banjir bandang di di wilayah utara Provinsi Baghlan, Afghanistan terus bertambah.

    Otoritas setempat mengatakan pada Minggu (12/5/2024), jumlah korban tewas akibat banjir bandang yang terjadi Jumat (10/5/2024) itu bertambah menjadi sekurangnya 315 orang,

    Sementara lebih dari 1.600 orang luka-luka akibat banjir bandang itu.

    Kementerian Pengungsi Afghanistan mengumumkan jumlah korban terakhir itu melalui platform media sosial X.

    Mereka menyatakan, lebih dari 2.600 rumah telah “rusak sebagian dan keseluruhan” di provinsi tersebut, sejak bencana terjadi usai hujan musiman yang sangat deras.

    Baca Juga: Brasil Selatan Dilanda Banjir Terburuk dalam 80 Tahun Terakhir, 126 Orang Tewas

    Kementerian ini menekankan bahwa mereka melaporkan perhitungan awal dari kantor mereka di Provinsi Baghlan, dan menyebut bahwa kerugian material maupun manusia mungkin bisa bertambah.

    Program Pangan Dunia PBB mengatakan pada Minggu di akun X mereka, bahwa kebanyakan daerah terdampak di provinsi tersebut “tidak dapat diakses dengan truk”.

    Lembaga ini menggunakan “semua pilihan yang ada” termasuk keledai, “untuk mengirimkan makanan kepada korban selamat yang telah kehilangan segalanya.”

    Organisasi Migrasi Internasional mendukung data korban yang dilaporkan oleh otoritas Taliban di Afghanistan, dengan mengatakan bahwa korban meninggal telah melewati angka 300 dan diperkirakan akan terus bertambah.

    Baca Juga: WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    Badan ini mengatakan, banjir telah menghancurkan lebih dari 2 ribu rumah. IOM juga mengunggah di X,

    “Kami mengoperasikan 16 gudang di seluruh Afghanistan, dan kami bekerja sama dengan mitra kami untuk menyediakan bantuan penyelamatan jiwa bagi mereka yang terdampak.”

    Juru bicara Sekjen PBB mengutip pernyataan Antonio Guterres yang mengatakan bahwa dia sangat sedih atas korban jiwa dalam banjir banjdang di Baghlan dan mengirimkan rasa dukanya kepada seluruh keluarga korban.

    “PBB dan mitra-mitranya di Afghanistan berkoordinasi dengan otoritas de faktor Taliban, untuk membantu dengan cepat dan menyedian dukungan kedaruratan,” ujar juru bicara itu, Stephane Dujarric.

    Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Perempuan dan Kelompok Rentan Harus Dilibatkan dalam Mitigasi Bencana

    Para ahli mengaitkan curah hujan musiman yang tinggi di Baghlan dan banjir yang mengikutinya pada perubahan iklim.

    Bencana ini kurang diantisipasi pemerintahan Afghanistan yang tidak siaga dan penduduk lokal menjadi lengah.

    Deputi Perdana Menteri untuk Urusan Ekonomi Afghanistan, Abdul Ghani Baradar, berkunjung ke provinsi itu pada Minggu.

    Dia meninjau operasi penyelamatan, penyediaan bantuan medis, distribusi pangan darurat, dan pengaturan tempat pengungsian sementara, kata kantor pejabat ini.

    Sumber: VOA Indonesia

  • PBB Peringatkan Potensi Lebih Banyak Banjir akan Terjadi di Afghanistan Akibat Perubahan Iklim

    PBB Peringatkan Potensi Lebih Banyak Banjir akan Terjadi di Afghanistan Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – PBB memperingatkan, perubahan iklim memicu kemungkinan banjir yang lebih “hebat” yang akan mempengaruhi ketahanan pangan di Afghanistan dalam beberapa bulan mendatang.

    Para ahli mengatakan, pemerintah Afghanistan, perlu perencanaan jangka panjang untuk mengurangi dampak buruk perubahan iklim.

    PBB mengatakan, banjir yang terjadi di sejumlah provinsi di timur laut dan barat laut Afghanistan dalam dua minggu terakhir, berdampak pada lebih dari 80.000 orang di negara tersebut.

    Pejabat Taliban di provinsi Ghor mengatakan pada hari Kamis (23/5/2024), banjir pekan lalu menewaskan sedikitnya 50 orang di provinsi itu dan merusak lebih dari 4.000 rumah dan toko.

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Menurut PBB, banjir di sejumlah provinsi di Afghanistan timur laut: Badakhshan, Takhar dan Baghlan pada tanggal 10 dan 11 Mei lalu telah menewaskan 347 orang dan melukai 1.651 orang.

    Banjir tersebut menghanyutkan 7.800 rumah, membunuh hampir 14.000 hewan ternak dan merusak sekitar 24.000 hektar lahan di tiga provinsi di Afghanistan itu.

    Perubahan iklim yang memburuk menyebabkan “pola cuaca tidak menentu” yang mana telah menjadi “sesuatu yang umum” di Afganistan, menurut (Program Pangan Dunia WFP).

    “Orang-orang yang terkena dampak tinggal di distrik-distrik dengan kerawanan pangan yang lebih tinggi,” kata Ziauddin Safi, juru bicara WFP di Afghanistan.

     

    Baca Juga: OCHA: Krisis Iklim Picu Masalah Kemanusiaan di Afghanistan, Pakistan dan Sudan

    Ia menambahkan, “banjir disebabkan oleh curah hujan yang tidak biasa, setelah musim dingin yang kering, sehingga tanah sulit menyerap air hujan yang disebabkan oleh krisis iklim.”

    “Sayangnya, WFP memperkirakan lebih banyak banjir akan terjadi di masa depan,” tambah Safi.

    Afghanistan menjadi salah satu negara di dunia yang paling rentan terdampak oleh perubahan iklim, walaupun negara tersebut hanya sedikit mennghasilkan emisi gas rumah kaca.

    Menurut Indeks Risiko INFORM 2023, Afghanistan berada di peringkat keempat dalam daftar negara paling berisiko terkena krisis.

    Baca Juga: WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    Afghanistan juga merupakan salah satu negara yang paling rentan dan tidak siap menurut Indeks Adaptasi Global Notre Dame.

    Najibullah Sadid, seorang ahli perairan Afghanistan di Universitas Stuttgart, Jerman, mengatakan kepada VOA bahwa Afghanistan memerlukan rencana jangka panjang untuk memitigasi efek dari perubahan iklim namun negara tersebut juga kekurangan sumber daya untuk mencapai tujuan itu.

    “Sayangnya, tanpa bantuan ekonomi internasional, menerapkan proyek [untuk memitigasi efek perubahan iklim] di Afghanistan itu menjadi mustahil,” ungkap Sadid.

    Ia menambahkan bahwa Afghanistan memerlukan dukungan dari Dana Iklim Hijau PBB dan Dana Kerugian untuk Negara Berkembang.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Rezim Taliban Minta Afghanistan Dilibatkan dalam Perundingan Terkait Perubahan Iklim

    Rezim Taliban Minta Afghanistan Dilibatkan dalam Perundingan Terkait Perubahan Iklim


    7cloud.asia – Dirjen Badan Perlindungan Lingkungan Afghanistan, Matiul Haq Khalis, mengatakan “Afghanistan harus berpartisipasi dalam konferensi semacam itu di masa depan.” Dia menggambarkan kehadiran Afghanistan pada perundingan bulan lalu sebagai “pencapaian besar.”

    Seorang pejabat lingkungan hidup Afghanistan pada Minggu (1/12/2024) mengatakan negaranya harus diizinkan untuk berpartisipasi dalam pembicaraan iklim global di masa depan.

    Hal ini disampaikannya setelah kembali dari KTT Iklim (COP29) di Baku, Azerbaijan, di mana para pejabat Taliban hadir untuk pertama kalinya.

    Di COP 29 ini delegasi Afghanistan diundang sebagai “tamu” tuan rumah Azerbaijan, bukan sebagai pihak yang terlibat langsung dalam perundingan.

    Ini adalah pertama kalinya delegasi Afghanistan hadir sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021, setelah gagal mendapatkan undangan pada dua COP sebelumnya yang diselenggarakan di Mesir dan Uni Emirat Arab.

    Berbicara dalam konferensi pers pada pekan lalu Dirjen Badan Perlindungan Lingkungan Afghanistan, Matiul Haq Khalis, mengatakan “Afghanistan harus berpartisipasi dalam konferensi semacam itu di masa depan.”

    Dia menggambarkan kehadiran Afghanistan pada perundingan bulan lalu sebagai “pencapaian besar.”

    “Kami berpartisipasi dalam konferensi tahun ini sehingga kami dapat menyuarakan suara bangsa mengenai permasalahan yang kami hadapi dan apa kebutuhan warga Afghanistan. Kami harus menyampaikan hal-hal ini kepada dunia,” ujarnya.

    Matiul menjelaskan bahwa delegasi Afghanistan mengadakan pertemuan dengan “19 organisasi dan pemerintah berbeda,” termasuk delegasi dari Rusia, Qatar, Azerbaijan dan Bangladesh.

    Rentan Terdampak Pemanasan Global

    Afghanistan adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap pemanasan global, meskipun emisinya minimal, dan pemerintah Taliban menilai isolasi politik terhadap negara mereka seharusnya tidak menghalangi untuk ikut melakukan pembicaraan iklim internasional.

    Pemerintah Afghanistan telah menerapkan hukum syariah Islam yang ketat sejak mengambil alih kekuasaan, dengan sangat membatasi partisipasi perempuan dalam kehidupan publik. PBB menyebut kebijakan itu sebagai “apartheid gender.”

    Di antara negara-negara termiskin di dunia setelah perang selama beberapa dekade, Afghanistan adalah negara yang paling terdampak perubahan iklim. 

    Menurut para ilmuwan memicu cuaca ekstrem termasuk kekeringan berkepanjangan, seringnya banjir, dan produktivitas pertanian yang menurun.

    PBB juga menyerukan tindakan untuk membantu Afghanistan membangun ketahanan dan partisipasi negara itu dalam berbagai perundingan internasional.

    Negara-negara maju telah berkomitmen untuk menyediakan100 miliar dolar per tahun dalam pendanaan iklim hingga tahun 2025 untuk membantu negara-negara berkembang bersiap menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin buruk.

    Sekaligus didorong upaya untuk menghentikan ketergantungan perekonomian mereka dari bahan bakar fosil

     

     

     

  • Ratusan Orang Tewas Akibat Gempa Magnitudo 6 yang Mengguncang Afghanistan

    Ratusan Orang Tewas Akibat Gempa Magnitudo 6 yang Mengguncang Afghanistan

    7cloud.asia – Lebih dari 250 orang tewas dan 500 lainnya terluka saat gempa magnitudo 6,0 mengguncang wilayah timur Afghanistan pada Minggu (31/8/2025) malam waktu setempat, kata Kementerian Informasi negara tersebut kepada Anadolu.

    Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa terjadi pukul 23.47 waktu setempat (Senin, 02.17 WIB), dengan pusat gempa berlokasi 27 kilometer sebelah timur laut Jalalabad pada kedalaman 8 kilometer.

    Seorang pejabat kementerian mengatakan kepada Anadolu bahwa korban jiwa telah dilaporkan dari distrik Nur Gal, Sawki, Watpur, Manogi, dan Chapa Dara di provinsi Kunar.

    Ia mengatakan angka kematian dan korban luka belum final karena para pejabat masih berkomunikasi dengan penduduk setempat di banyak daerah terpencil dan tim bantuan sedang dalam perjalanan.

    Baca: Gempa dan tsunami Aceh dorong perkembangan riset dan mitigasi bencana

    Jalan menuju Dewa Gul di distrik Sawki dan Mazar Dara di distrik Nur Gul terblokir akibat longsor, sehingga menyulitkan tim penyelamat untuk mencapai daerah terdampak.

    Warga setempat menggambarkan gempa tersebut sebagai salah satu yang terkuat yang pernah melanda negara mereka.

    Sementara itu, Juru bicara pemerintahan sementara Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengonfirmasi bahwa gempa tersebut telah menimbulkan korban jiwa.

    “Sangat disayangkan, gempa malam ini telah menyebabkan hilangnya nyawa dan kerusakan properti di beberapa provinsi timur kami,” tulisnya di platform media sosial X milik perusahaan AS.

    Baca: Korban tewas akibat gempa Myanmar lampaui 3000 orang

    Mujahid menuturkan pejabat lokal dan penduduk terlibat dalam upaya penyelamatan, dengan tim bantuan dari provinsi pusat dan sekitarnya menuju ke daerah tersebut.

    “Semua sumber daya yang tersedia akan dikerahkan untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya.

    Setidaknya dua gempa susulan dengan magnitudo 5,2 mengguncang daerah yang sama setelah gempa besar, menurut USGS.

    Sumber: Antaranewscom/Anadolu

  • Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Wilayah Utara Afghanistan, Puluhan Orang Tewas

    Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Wilayah Utara Afghanistan, Puluhan Orang Tewas

    7cloud.asia – Sedikitnya 20 orang tewas dan ratusan lainnya terluka setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,3 mengguncang wilayah utara Afghanistan pada Senin (3/11/2025) dini hari waktu setempat (Minggu 20.30 GMT, Senin 03.30 Wib), menurut keterangan pejabat setempat.

    Juru bicara Kementerian Kesehatan, Dr. Sharafat Zaman, mengatakan bahwa 20 orang dipastikan meninggal dunia, dengan sebagian besar korban berasal dari Provinsi Samangan dan Balkh di bagian utara negara itu.

    Palang Merah Afghanistan (Afghan Red Crescent Society) menyebut gempa tersebut menimbulkan “kerugian besar baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian material.”

    Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan untuk menemukan para korban gempa.

    Ibu kota Provinsi Balkh, Mazar-e-Sharif, juga melaporkan adanya korban serta kerusakan pada sejumlah bangunan dan properti warga. Kerusakan serupa juga dilaporkan terjadi di Provinsi Baghlan di barat laut Afghanistan.

    Baca: Potensi lebih banyak banjir di Afghanistan akibat perubahan iklim

    Sekitar 800 rumah dilaporkan rusak sebagian di Desa Chogani, Distrik Shahr-e-Bozorg, Provinsi Badakhshan.

    Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (US Geological Survey/USGS), pusat gempa berada pada kedalaman 28 kilometer, dekat kota Mazar-e-Sharif yang merupakan salah satu kota terbesar di Afghanistan.

    Pihak berwenang telah menginstruksikan seluruh rumah sakit untuk siaga penuh dan siap memberikan layanan medis kepada para korban gempa.

    Guncangan kuat akibat gempa juga mengganggu jalur pasokan listrik dari Uzbekistan dan Tajikistan, sehingga menyebabkan pemadaman di sejumlah wilayah.

    Perusahaan listrik nasional, Da Afghanistan Breshna Sherkat (DABS), menyebut bahwa jalur listrik yang menghubungkan Naibabad ke Samangan serta dari Khulm ke Pul-e-Khumri terputus.

    Baca: Lebih 1 juta anak perempuan di Afghanistan dilarang sekolah

    “Akibat gangguan ini, provinsi Kabul, Baghlan, Parwan, Panjshir, Kapisa, Logar, Paktia, Ghazni, dan Maidan Wardak sepenuhnya kehilangan pasokan listrik impor dari jalur tersebut,” lapor Tolo News.

    Tim teknis tengah bekerja untuk menilai kerusakan jaringan dan memulihkan kembali pasokan listrik, kata pihak DABS.

    Kementerian Pertahanan Afghanistan menyampaikan bahwa pihaknya juga tengah membersihkan jalan-jalan yang tertutup longsor akibat gempa.

    Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, Afghanistan telah diguncang sedikitnya delapan gempa besar, termasuk yang terbaru ini.

    Pada Agustus lalu, gempa berkekuatan 6,0 magnitudo mengguncang Provinsi Kunar di bagian timur, menewaskan lebih dari 2.200 orang dan meratakan ratusan rumah serta bangunan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu