Tag: afrika

  • Perkuat Global South, Jokowi Kunjungi Sejumlah Negara di Afrika

    Perkuat Global South, Jokowi Kunjungi Sejumlah Negara di Afrika

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Minggu (20/8/2023) mulai melakukan kunjungan kenegaraan ke sejumlah negara di Afrika.

    Dalam lawatan ini Jokowi antara lain akan berkunjung ke Kenya, Tanzania, Mozambik, dan Afrika Selatan,

    “Ini merupakan kunjungan pertama saya sebagai presiden ke kawasan Afrika,” ujar Jokowi dalam keterangan persnya sebelum keberangkatan di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

    Baca: Krisis iklim di depan mata, Negara G20 tetap gagal capai kesepakatan

    Jokowi menambahkan, Indonesia dan Afrika memiliki hubungan historis yang panjang karena Indonesia adalah penggagas dan tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) di tahun 1955.

    Selain itu, Indonesia juga berperan penting dalam melahirkan Gerakan Nonblok yang manutkan negara-negara Asia dan Afrika.

    “Spirit Bandung inilah yang akan saya bawa dalam kunjungan ke Afrika dengan memperkokoh solidaritas dan kerja sama di antara negara-negara the Global South,” ujarnya.

    Baca: Jokowi tegaskan butuh komitmen nyata untuk atasi perubahan iklim

    Terkait negara yang akan dikunjungi, Jokowi menyampaikan bahwa Kenya dan Tanzania telah menunjukkan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dengan Indonesia.

    “Kenya dan Tanzania telah membuka kedutaan besarnya di Jakarta tahun yang lalu. Ini merupakan komitmen kedua negara tersebut untuk terus memperkuat kerja sama dengan Indonesia,” ujarnya.

    Sedangkan Mozambik, menurut Presiden merupakan negara Afrika pertama yang memiliki preferential trade agreement (PTA) dengan Indonesia.

    Baca: Rotasi duta besar Indonesia di AS dinilai sangat cepat, ada apa?

    Sementara kunjungan ke Afrika Selatan, lanjut Presiden, adalah untuk memenuhi undangan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2023.

    “Ttentunya, di sela-sela KTT BRICS akan dilakukan berbagai pertemuan bilateral dengan kepala-kepala negara yang lainnya,” imbuhnya.

    Presiden dan rombongan dijawdalkan untuk tiba kembali ke Tanah Air pada tanggal 25 Agustus mendatang.

    Baca: Pemerintah Taliban tutup ratusan salon di Afghanistan

     

     

  • Harga Beras Dunia Terus Terkerek Naik, Sejumlah Negara Afrika Sangat Rasakan Dampaknya

    Harga Beras Dunia Terus Terkerek Naik, Sejumlah Negara Afrika Sangat Rasakan Dampaknya

    7cloud.asia – Francis Ndege tidak yakin apakah pelanggannya yang tinggal di daerah kumuh di Nairobi Kenya masih sanggup membeli beras dari tokonya. Beberapa pekan terakhir, harga beras terus naik.

    Harga beras produksi Kenya melonjak beberapa waktu lalu karena harga pupuk yang lebih tinggi dan kekeringan selama bertahun-tahun di kawasan Tanduk Afrika telah mengurangi produksi.

    Fenomena cuaca El Nino juga berdampak pada produksi dan harga beras dunia. Saat ini, harga beras sedang melonjak.

    Baca: Akibat El Nino, Indonesia bisa kekurangan beras hingga 1,2 juta ton

    Harga ekspor beras Vietnam misalnya, telah mencapai titik tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Hal ini menempatkan masyarakat yang paling rentan di beberapa negara termiskin berada dalam risiko.

    Dunia berada pada “titik perubahan,” kata Beau Damen, pejabat sumber daya alam di Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang berbasis di Bangkok.

    Di Kenya, beras murah dari India telah mengisi kekurangan beras. Harga beras yang terjangkau membantu ratusan ribu penduduk di daerah kumuh Kibera di Nairobi dengan pendapatan kurang dari 2 dolar AS (sekitar Rp30 ribu) per hari.

     

    Baca: Harga beras naik, warga Rangkasbitung mulai beralih ke palawija

    Tapi kondisi berubah setelah harga beras terus naik. Sekantong beras seberat 25 kilogram telah naik sekitar seperlima sejak bulan Juni, dari setara dengan 14dolar AS (sekitar Rp210 ribu) menjadi 18 dolar (Rp270 ribu).

    Pedagang grosir belum menerima stok baru sejak India, eksportir beras terbesar di dunia, mengatakan akan melarang sebagian ekspor beras.

    Langkah tersebut merupakan upaya yang dilakukan oleh negara dengan populasi terbesar di dunia itu untuk mengendalikan harga beras dalam negeri menjelang tahun pemilu.

     

    Baca:  Petani di Ciamis, Jawa Barat mulai rasakan dampak El Nino

    Keputusan menyisakan kesenjangan sebesar 10,4 ton beras yang dibutuhkan masyarakat di seluruh dunia, atau sekitar seperlima dari kebutuhan ekspor global.

    “Saya sangat berharap bahwa impor [beras] akan tetap berjalan,” kata Ndege, 51, yang telah berjualan beras selama 30 tahun.

    Keamanan pangan global kini tengah terancam sejak Rusia menghentikan kesepakatan yang membolehkan Ukraina mengekspor gandum.

     

    Baca: Antisipasi kekeringan akibat El Nino pemerintah siapkan dana Rp 8 Triliun

    Bahkan, jauh sebelum India memberlakukan pembatasan, banyak negara yang membeli beras dengan panik. Ini untuk mengantisipasi kelangkaan ketika El Nino melanda, sehingga menyebabkan krisis pasokan dan melonjaknya harga beras.

    Konsumsi beras di Afrika terus meningkat, dan banyak negara di benua tersebut sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhannya.

    Sejumlah negara dengan populasi yang terus berkembang seperti Senegal telah berupaya untuk memproduksi berasnya sendiri, namun masih banyak yang menemui kesulitan dalam prosesnya.

    Baca: Pemanasan global sebabkan separuh danau di dunia mengering

    Amadou Khan, seorang ayah dengan lima anak yang tinggal di Dakar, mengatakan anak-anaknya selalu makan nasi kecuali pada saat sarapan, yang biasanya mereka lewatkan ketika Khan sedang tidak memiliki pekerjaan.

    “Saya hanya mencoba bertahan — terkadang, saya kesulitan untuk menghidupi mereka,” ujarnya.

    Harga beras impor — 70 persen di antaranya berasal dari India — telah melonjak tinggi di Senegal, sehingga Khan kini mengakalinya dengan mengkonsumsi beras lokal yang harganya dua pertiga dari beras impor

    Sumber: VOA Indonesia

  • Cara Start Up Uganda Manfaatkan Limbah Tanaman Pisang di Afrika

    Cara Start Up Uganda Manfaatkan Limbah Tanaman Pisang di Afrika

    7cloud.asia – Uganda, sebuah negara Afrika Timur sering disebut sebagai republik pisang sejati. Hal ini karena Uganda merupakan penghasil pisang terbesar di Afrika sekaligus konsumer pisang tertinggi di dunia. 

    Di daerah pedesaan di Uganda, Afrika Timur pisang dapat menyumbang hingga 25 persen asupan kalori harian, menurut angka dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.

    Di Uganda, konsumsi pisang melekat pada adat dan tradisi setempat. Bagi banyak orang Uganda, makan belum lengkap tanpa seporsi matooke, makanan pokok berbahan pisang yang biasa disantap masyarakat di Kawasan Danau Besar di Afrika Timur.

    Banyaknya limbah yang dihasilkan dari tanaman pisang mendorong perusahaan rintisan (startup) di Uganda memanfaatkan kekuatan serat pisang.

    Tanpa buah, tanaman pisang hampir tidak ada gunanya bagi petani pada umumnya. Malah, pohon itu kerap mengganggu dan harus dicabut. Namun apakah batang-batang pohon pisang yang dibuang bisa hidup lagi?

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    Bisa, menurut satu startup di Uganda, TEXFAD. Perusahaan itu membeli batang pisang lalu mengubah serat-seratnya menjadi kerajinan tangan yang dapat terurai secara hayati.

    Ketika memanen pisang, petani akan memenggal batang pohon. Penggalan ini sering kali dibiarkan membusuk di lahan terbuka. Namun, TEXFAD kini memanfaatkan banyak batang pisang yang membusuk itu untuk mengekstrak serat pisang.

    Start up yang menggambarkan diri sebagai kelompok pengelola limbah itu kemudian mengubah serat pisang menjadi barang, misalnya pemanjang rambut atau hair extension.

    John Baptist Okello, manajer bisnis TEXFAD, mengatakan apa yang dilakukan perusahaannya masuk akal mengingat para petani Uganda “sangat kesulitan” dan negara itu memiliki banyak sekali limbah yang berhubungan dengan pisang.

    “…Pisang tumbuh satu kali dan panen satu kali, sehingga setelah dipanen, batangnya menjadi limbah. Kini, karena limbah tersebut, para petani kesulitan menangani limbah ini karena mereka hanya memperoleh penghasilan dari buahnya dan terkadang buah itu dijual sekitar 1 dolar AS,” jelasnya.

    Baca: Kebutuhan pisang kepok Singapura dipasok dari Kalimantan

    Bekerja sama dengan tujuh kelompok petani berbeda di Uganda barat, TEXFaD membayar 2,7 dolar AS atau sekitar Rp45 ribu per kilogram serat kering.

    Perusahaan itu juga mengambil bahan mentah dari pihak ketiga, Tupande Holdings Ltd., yang memasok batang-batang pisang dari petani Uganda tengah.

    Para pekerja Tupande memilah dan mencari batang pisang yang diinginkan. Mesin-mesin kemudian mengubah serat menjadi benang halus.

    Ketua tim Tupande, Aggrey Muganga mengatakan, pihaknya berkontribusi dalam rantai nilai limbah pisang dengan memberikan tambahan penghasilan kepada petani.

    “Kami mengubah limbah ini menjadi sesuatu yang berharga yang kami jual kepada mitra kami yang juga membuat barang-barang yang dapat mereka jual.” ujar Aggrey

    Ia menambahkan bahwa apa yang mereka lakukan juga membuka lapangan pekerjaan dan berkontribusi pada industrialisasi Uganda dan perbaikan kehidupan masyarakat Uganda.

    Baca: Kisah sukses petani Magelang beralih dari tembakau ke ubi cilembu

    Tupande Holdings Ltd. bekerja sama dengan lebih dari 60 petani yang memasok bahan mentah.

    Jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari jumlah yang tersedia di negara yang memiliki lebih dari satu juta hektar lahan yang ditanami pisang.

    Produksi pisang di Uganda terus meningkat selama bertahun-tahun, dari 6,5 metrik ton pada 2018 menjadi 8,3 metrik ton pada 2019, menurut angka dari Biro Statistik Uganda.

    Di satu pabrik di sebuah desa di luar ibu kota Uganda, Kampala, TEXFAD mempekerjakan lebih dari 30 orang. Mereka menggunakan tangan untuk membuat barang-barang dari serat pisang.

    Perusahaan itu mengekspor permadani dan kap lampu ke Eropa. Barang-barang seperti itu dimungkinkan karena “serat pisang bisa dihaluskan hingga sehalus kapas,” kata Okello.

    Bekerja sama dengan tim peneliti, TEXFAD juga bereksperimen pada kemungkinan pembuatan kain dari serat pisang.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih bagus ketimbang pupuk kimia

    Perusahaan ini juga merancang produk ekstensi rambut yang diyakini dapat membantu menghilangkan pasar produk sintetis.

    Faith Kabahuma dari program pengembangan pemanjang rambut dari serat pisang di TEXFAD mengatakan, semua produk buatan perusahaannya bisa terurai secara hayati. Pemanjang rambut dari serat pisangnya akan segera dipasarkan.

    Masalah sering dipicu serat sintetis adalah mencemari lingkungan dan menyumbat saluran air. 

    “Produk itu tidak ramah lingkungan,” kata Kabahuma.

    Banyak orang yang bertani pisang, makanan pokok di Uganda, kata Beatrice Namawejje, eksekutif penjualan di TEXFAD.

    Jadi, ketika mengetahui bahwa mereka bisa mendapatkan lebih banyak manfaat dari pisang, ini menimbulkan kegembiraan karena ternyata ada manfaat lain dari pohon pisang selain menikmati buahnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Kota-kota di Afrika Berlomba Kembangkan Jalur untuk Pesepeda dan Pejalan Kaki

    Kota-kota di Afrika Berlomba Kembangkan Jalur untuk Pesepeda dan Pejalan Kaki

    7cloud.asia – Dari pusat kota Addis Ababa (Ethiopia) yang ramai hingga perbukitan indah Kigali (Rwanda), kota-kota di Afrika mengubah mobilitas perkotaan dengan merangkul warga yang bersepeda dan berjalan kaki.

    Dengan dukungan teknis dari UNEP, UN-Habitat, dan Institut Kebijakan Transportasi dan Pembangunan (ITDP), sejumlah kota di Afrika mulai meningkatkan fasilitas untuk pejalan kaki dan pesepeda.

    Dengan dukungan teknis dari UNEP dan sejumlah organisasi yang mengadvokasi mobilitas aktif di seluruh dunia, kota-kota di Afrika mengintegrasikan jalur sepeda ke dalam perencanaan perkotaan.

    Langkah ini sekaligus memastikan perjalanan yang lebih lancar dan aman menuju ekonomi hijau, udara yang lebih bersih, dan masyarakat yang lebih sehat.

    Bersepeda dan berjalan kaki dinilai bakal mengubah cara perjalanan harian, memangkas emisi, dan menciptakan masyarakat kota yang lebih sehat dan lebih hijau.

    Dengan mengintegrasikan jalur bersepeda ke dalam jaringan perkotaan, mereka memprioritaskan keselamatan, aksesibilitas, dan tanggung jawab lingkungan sambil mengurangi emisi, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan membina kota yang lebih inklusif.

    Baca: Kota Addis Ababa pangkas polusi dengan membangun fasilitas bagi peseda dan pejalan kaki

    Di Ethiopia, Kementerian Transportasi dan Logistik negara tersebut menyusun Strategi Transportasi Non-Motor 2020-2029.

    Addis Ababa telah membuat langkah signifikan sejak meluncurkan Proyek Koridor Kota pada tahun 2022. Ibu kota Ethiopia telah membangun lebih dari 60 kilometer jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang dilindungi

    Mereka juga berencana untuk memperluas lebih dari 76 kilometer jalur sepeda dan 200 kilometer jalur pejalan kaki pada tahap berikutnya.

    Hawassa dan kota-kota lain di seluruh negeri mengikuti, meluncurkan proyek koridor dengan fasilitas berkualitas tinggi untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda.

    Selain Addis Ababa, kota lain di Afrika juga tengah mendorong pengembangan fasilitas untuk pejalan kaki dan pesepeda adalah ibu kota Mesir, Kairo. Mesir
    berniat memperkuat infrastruktur pejalan kaki.

    Mesir juga akan menjadikan bersepeda lebih dari sekadar moda rekreasi, dengan menjadikan mobilitas aktif sebagai bagian integral dari transportasi perkotaan.

    Baca: Empat kota di dunia yang mengutamakan pejalan kaki

    Prakarsa Sepeda Kairo memimpin dengan 255 sepeda sewaan bertenaga surya di 25 stasiun, yang menawarkan pembayaran dan pembayaran berbasis aplikasi. Program ini akan diperluas hingga 500 sepeda di 45 stasiun, membantu Mesir mencapai tujuan iklimnya.

    Kota terbesar ketiga di Kenya, Kisumu, telah mengambil langkah tegas menuju masa depan yang ramah sepeda dengan Rencana Mobilitas Berkelanjutan, yang juga dikembangkan dengan panduan kebijakan UN-Habitat dan ITDP.

    Kota ini membayangkan jalur pejalan kaki sepanjang 100 km, lintasan sepeda sepanjang 31 kilometer, dan skema berbagi sepeda dengan 400 sepeda.

    Tahap pertama Proyek Segitiga Kisumu telah memperkenalkan jalur pejalan kaki dan infrastruktur pejalan kaki berkualitas tinggi, dengan tambahan 8,1 km infrastruktur ramah sepeda yang sedang dibangun dengan pendanaan Bank Dunia.

    Saat pesepeda papan atas dunia tiba di Rwanda untuk Kejuaraan Dunia UCI pada September 2025, mereka akan menemukan kota yang membangun masa depan dengan bersepeda sebagai pusatnya.

    “Di Kigali, mayoritas penumpang sudah mengandalkan transportasi tak bermotor,” kata Sheila Uwase, seorang Insinyur di Balai Kota Kigali. “Tujuan kami adalah meningkatkan keselamatan dan aksesibilitas bagi semua pengguna jalan.”

    Baca: Daftar kota ramah bagi pesepeda di dunia

    Sejak 2016, Kigali telah menyelenggarakan hari bebas mobil dua minggu sekali pada hari Minggu, untuk menumbuhkan budaya bersepeda.

    Kota ini telah menetapkan zona bebas mobil dan jalur sepeda sepanjang 13 km di Kawasan Pusat Bisnisnya dan sekarang mencatat lebih dari 1.500 pesepeda per jam di jalan-jalan utama, dengan rencana untuk memperluas jaringan sepeda di sepanjang jalan dan jalur air.

    PBB meluncurkan Rencana Aksi Pan Afrika pertama untuk Mobilitas Aktif di Forum Perkotaan Dunia

    Pada tahun 2021, Kementerian Infrastruktur Rwanda mengembangkan Kebijakan Transportasi Nasional yang baru; Bagian transportasi non-motornya menggabungkan panduan kebijakan dari UNEP dan ITDP dengan dukungan dari Yayasan Fia.

    Rekomendasi utama meliputi penerapan infrastruktur bersepeda yang dilindungi secara fisik, menyediakan penyeberangan pejalan kaki yang aman di permukaan tanah sebagai pengganti jembatan penyeberangan, mengurangi tarif sepeda, dan memperkenalkan sistem berbagi sepeda.

    Baca: Sepeda adalah wujud transportasi sehat dan ramah lingkungan

    Perjalanan dengan sepeda bukan sekadar perubahan yang ramah lingkungan, tetapi juga perubahan bagi kota dan tata kelola kota.

    Berbagai penelitian menunjukkan, pembangunan infrastruktur bersepeda sepuluh kali lebih hemat jika dibanding pembangunan kereta bawah tanah dalam upaya menurunkan emisi karbon.

    Selain itu, setiap kilometer yang ditempuh dengan bersepeda menghasilkan manfaat ekonomi dan kesehatan, mengurangi kemacetan, meningkatkan kualitas udara, dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes.

    “Sistem berbagi sepeda semakin mendukung mobilitas tanpa emisi, membuat perjalanan singkat dan konektivitas jarak dekat ke transportasi umum lebih mudah diakses”, tegas Carly Gilbert-Patrick, Ketua Tim Mobilitas Aktif, Digitalisasi, dan Integrasi Moda UNEP

    Infrastruktur bersepeda dan berjalan kaki juga bertujuan untuk menyelamatkan nyawa.

    Laporan Status Afrika 2025 tentang Keselamatan Jalan Raya mengungkapkan bahwa, meskipun hanya memiliki 3 persen dari armada kendaraan global, Afrika menyumbang 24 persen dari kematian jalan raya global dengan 259.601 kematian setiap tahunnya.

    Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak akan fasilitas pejalan kaki dan pesepeda yang lebih aman untuk melindungi pengguna jalan yang rentan.

    Baca: Cara Kota Bogota dan Warsawa mengatasi polusi udara

  • Perjuangan Negara-negara Afrika Menghijaukan Kembali Hutan Mereka yang Hilang

    Perjuangan Negara-negara Afrika Menghijaukan Kembali Hutan Mereka yang Hilang

    7cloud.asia – Terletak di antara pegunungan zamrud di wilayah Plateaux Togo, Atakpame, sebuah kota berpenduduk 80.000 jiwa, dikenal sebagai “kota tujuh bukit”.

    Terkenal dengan hutan jati, pisang, dan mahoni yang rimbun, wilayah ini juga menjadi pusat deforestasi di Togo yang mengkhawatirkan. Togo kehilangan hampir 49.000 hektare hutan antara tahun 1985 dan 2013.

    Situasi mulai berubah pada tahun 2019, ketika penduduk Atakpame, dengan dukungan dari Program Lingkungan PBB (UNEP) dan pendanaan dari pemerintah Korea Selatan, mulai menanam ribuan pohon sebagai upaya menyelamatkan ekosistem pegunungan yang rapuh di wilayah tersebut.

    “Saat Anda melihat pegunungan kami sekarang, Anda akan melihat bahwa warnanya lebih gelap karena pepohonan – kini menjadi lebih indah. Satwa liar telah kembali dan kami mendapatkan hujan yang lebih baik,” kata Mensah Agouti, warga Atakpame, yang telah berpartisipasi dalam proyek ini sejak 2019.

    Bagi Agouti dan komunitasnya, hutan bukan hanya ciri khas lanskap wilayah tersebut tapi juga sumber mata pencaharian. Hidup mereka bergantung langsung pada kelestarian hutan ini.

    Memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh proyek ini, masyarakat di Togo sukses menghijaukana kembali 120 hektare hutan dan memasang pagar untuk melindungi pohon-pohon muda dari kebakaran hutan dan hewan liar.

    Mereka juga telah memulihkan 49 hektare lahan yang terdegradasi. Upaya ini terbukti berperan penting dalam meningkatkan kualitas tanah secara signifikan, meningkatkan konservasi tanah, dan melindungi keanekaragaman hayati

    Dalam jangka panjang, proyek ini membawa harapan untuk masa depan yang lebih hijau dan sejahtera bagi warga setempat.

    Baca: Pembela lingkungan Afrika paling banyak alami kekerasan

    “Saya terus memberi tahu orang-orang bahwa kita harus terus menanam kembali hutan kita dan melindunginya,” kata Agouti.

    “Proyek ini sangat membantu kami. Sekarang saya bertemu kembali dengan hewan-hewan yang sudah lama tidak saya lihat. Kami menemukan kembali hutan kami dan kami dapat mengajari anak-anak kami untuk hidup selaras dengannya.”

    Togo adalah salah satu dari tujuh negara Afrika yang telah mendapatkan manfaat dari proyek yang dipimpin UNEP ini, yang telah membantu memulihkan 949 hektare lahan terdegradasi.

    Proyek ini sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati, dan membantu masyarakat setempat menghasilkan pendapatan berkelanjutan berkat dukungan finansial dari Dinas Kehutanan Korea.

    “Hutan adalah urat nadi kehidupan masyarakat di seluruh Afrika,” kata Patricia Kameri-Mbote, kepala Divisi Hukum UNEP.

    Dia menambahkan, menanam pohon dan memulihkan keanekaragaman hayati tidak hanya melindungi lingkungan alam tapi juga membantu meningkatkan produksi tanaman pangan dan mengamankan mata pencaharian.

    “Salah satu tujuan kami adalah memastikan bahwa masyarakat dapat mengandalkan sumber pendapatan berkelanjutan,” imbuhnya

    Deforestasi di Afrika
    Antara tahun 2010 dan 2020, benua Afrika mengalami laju deforestasi tertinggi di dunia, di mana sekitar 3,9 juta hektare hutan hilang setiap tahunnya.

    Hilangnya hutan ini mengakibatkan konsekuensi sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat Afrika, yang bergantung pada ekosistem untuk kayu bakar, makanan, obat-obatan, dan pendapatan.

    Baca: Cara Start Up Uganda manfaatkan limbah tanaman pisang

    Di seluruh Afrika, deforestasi telah memperburuk perubahan iklim, karena hutan memainkan peran penting dalam memastikan pola curah hujan yang stabil dan dapat diprediksi.

    Di Sahel, wilayah semi-kering yang berbatasan dengan Gurun Sahara, kenyataan ini sangat nyata.

    Di Nigeria, misalnya, hilangnya hutan mengakibatkan musim kemarau yang lebih panjang, peningkatan suhu, dan peningkatan kerawanan pangan. Kekeringan semakin sering terjadi, dan masyarakat yang paling kurang beruntung secara ekonomi menanggung beban terberat.

    Kenyataan ekonomi yang keras seringkali mendorong deforestasi di Afrika. Banyak masyarakat rentan memandang penebangan liar sebagai satu-satunya sumber pendapatan mereka, tanpa menyadari dampak buruk jangka panjang deforestasi terhadap ketahanan ekonomi mereka.

    Di Ghana, proyek ini membantu memelihara 40 hektare pohon kelapa dan perkebunan baru, sehingga meningkatkan hasil panen. Di Nigeria, para petani menerima dukungan untuk meningkatkan produksi kelor dan bawang merah.

    Dua tanaman ini merupakan komoditas berharga di pasar lokal dan internasional.

    Selain mendukung perekonomian lokal, pepohonan membantu meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Lima puluh hektare sabuk hijau di ibu kota Nigeria, Niamey, telah dipulihkan berkat proyek UNEP.

    Upaya ini telah membantu menstabilkan tanah dan menahan laju deforestasi, juga meningkatkan kualitas udara dan mengurangi panas.

    Untuk mengatasi kelangkaan air di daerah yang mengalami deforestasi, masyarakat yang berpartisipasi dalam proyek ini telah menggunakan air limbah yang telah diolah untuk mengairi bibit tanaman dan lahan kering yang hijau.

    “Partisipasi aktif masyarakat memberdayakan mereka untuk bertanggung jawab atas sumber daya lingkungan mereka dan menciptakan peluang ekonomi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Kami bangga dengan apa yang telah mereka capai,” kata Kameri-Mbote.

  • WFP: 55 Juta Warga Afrika Barat-Tengah Terancam Kelaparan Selama Musim Kering 2026

    WFP: 55 Juta Warga Afrika Barat-Tengah Terancam Kelaparan Selama Musim Kering 2026

    7cloud.asia – Sekitar 55 juta orang di Afrika Barat dan Afrika Tengah diperkirakan akan menghadapi kerawanan pangan akut selama musim paceklik antara Juni hingga Agustus 2026.

    Demikian peringatan Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis Jumat (16/1/2026) dengan mengutip analisis terbaru ketahanan pangan kawasan tersebut.

    Direktur Analisis Ketahanan Pangan dan Gizi Program Pangan Dunia (WFP), Jean Martin Bauer kepada wartawan di Jenewa mengatakan bahwa angka tersebut mencakup penduduk yang masuk dalam kategori krisis, darurat, atau bencana, berdasarkan skala ketahanan pangan regional.

    Menurut Bauer, sekitar tiga juta orang diproyeksikan berada dalam kondisi darurat pangan atau dua kali lipat dibandingkan tingkat yang tercatat pada 2020.

    Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, sebagian wilayah timur Laut Nigeria, khususnya Negara Bagian Borno, diperkirakan akan mengalami kondisi bencana kerawanan pangan.

    “Kelompok ini berada satu langkah lagi dari kelaparan massal,” ujar Bauer.

    Ia menambahkan bahwa sekitar 15.000 orang di sejumlah wilayah Borno terdampak, dengan tingkat kematian yang “jauh di atas normal.” Ia menegaskan bahwa “orang-orang benar-benar kelaparan.”

    Meski musim hujan terakhir relatif berjalan baik, Bauer menekankan bahwa krisis ini tidak dipicu oleh faktor iklim, melainkan oleh kekerasan dan pemangkasan besar-besaran pendanaan kemanusiaan.

    Bauer mengatakan, WFP telah menghentikan bantuan bagi sekitar 300.000 anak di Nigeria dan berpotensi memangkas bantuan bagi setengah juta orang di Kamerun akibat keterbatasan sumber daya.

    Dia menambahkan sekitar 13 juta anak di seluruh kawasan tersebut berisiko terdampak pada 2026, sehingga program gizi perlu menjadi prioritas utama.

    WFP memperkirakan membutuhkan dana sebesar 453 juta dolar AS (sekitar Rp7,6 triliun) dalam enam bulan ke depan untuk mempertahankan bantuan esensial serta mencegah memburuknya konsumsi pangan dan indikator gizi anak.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu