Yuk, Pahami Etika dalam Penggunaan AI

Written by

in

7cloud.asia – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah memberikan akses informasi tanpa batas dalam waktu singkat, sehingga memberikan kemudahan dalam hal pendidikan.

Dengan adanya AI, mahasiswa dapat mengumpulkan berbagai informasi sekunder yang dibutuhkan untuk pengerjaan tugas dalam waktu lebih cepat daripada pencarian artikel manual.

Namun, AI juga dapat menimbulkan beberapa persoalan, seperti bocornya data pribadi, bias teknologi dalam penanganan mentalitas manusia, serta kurangnya tingkat keaslian karya apabila mahasiswa bergantung penuh terhadap AI dalam pengerjaan tugas.

Penggunaan AI juga dapat menggerus kreativitas dan sentuhan humanis pada mahasiswa yang menggunakannya.

Kondisi ini memerlukan penguatan etika untuk mencegah penyalahgunaan AI yang berakibat fatal bagi psikis maupun pertumbuhan intelektualitas mahasiswa.

Penguatan etika ini sebaiknya tidak hanya menitikberatkan pada teknologi, tetapi juga mengasah moral akan pentingnya nilai humanisme dalam penggunaan teknologi.

Cara menguatkan aspek etika dalam penggunaan AI
Dengan adanya berbagai risiko di atas, penguatan aspek etika dalam penggunaan AI menjadi substansial dalam pengajaran perguruan tinggi di Indonesia.

Pertama, terkait dengan proteksi data, perguruan tinggi perlu melakukan edukasi dan penyadaran sedini mungkin untuk mencegah kebocoran data dari penggunaan AI.

Ini bisa dilakukan melalui pembuatan video, buku panduan, hingga kampanye lisan terkait perlindungan data pribadi di dunia digital.

Di Jerman dan Afrika Selatan, contohnya, perguruan tinggi telah mewajibkan perlindungan data pribadi bagi para mahasiswanya apabila si pengajar menguji mereka dengan teknologi berbasis Ai.

Perguruan tinggi juga perlu menyadari bahwa robot mempunyai keterbatasan dalam mengatasi permasalahan mental para mahasiswanya.

Dalam dunia kesehatan, masalah mental tetap memerlukan penanganan dari manusia (contoh: psikolog), karena ada isu empati dan emosi yang lebih optimal apabila ditangani oleh manusia.

Alih-alih memberikan diagnosis, AI dapat membantu mengerjakan tugas administratif seperti pencatatan medis pasien. Hal ini dapat membantu akurasi administrasi dan pencatatan rekam medis pasiennya.

Terkait keaslian karya, integritas akademis harus menjadi nilai utama. Setiap mahasiswa yang menggunakan AI untuk pengerjaan tugas perlu menyebutkan hal tersebut di dalam tugasnya (disclaimer).

Selain itu, pengguna AI tetap perlu membaca dan mencantumkan referensi penulis artikel dari kalimat yang dikutip oleh AI. Sehingga, AI hanya menjadi alat bantu, bukan pelaku utama dalam mengerjakan tugas.

Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Albert Hasudungan, Dosen, Universitas Prasetiya Mulya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *