Tag: air bersih

  • Jakarta Krisis Air Bersih, PMI Salurkan Bantuan 24 Ribu Liter Air

    Jakarta Krisis Air Bersih, PMI Salurkan Bantuan 24 Ribu Liter Air

    7cloud.asia – Kebutuhan air bersih meningkat seiring dengan kekeringan yang tengah melanda sejumlah wilayah termasuk Jakarta. Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta menyuplai kebutuhan air bersih bagi warga yang membutuhkan.

    Hal ini dilakukan dalam rangka HUT ke-78 PMI di Kantor PMI DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Minggu (17/9).

    Bantuan air bersih yang diberikan mencapai 24.000 liter untuk disalurkan kepada 1.600 KK.

    Dilansir Beritajakarta, Ketua PMI DKI Jakarta, Rustam Effendi menjelaskan bantuan ini sebagai bukti komitmen PMI yang terus membantu masyarakat, sesuai dengan tema HUT ke-78 PMI yakni “Menolong Sepenuh Hati”.

    Baca Juga: Pemasangan Water Mist di Gedung Tinggi di Jakarta Terkendala Ketersediaan Alat

    “Saat ini sedang dalam masa kemarau dan ada juga dampak dari El Nino yang menyebabkan terjadinya kekeringan. Kami bergerak membantu warga di Jakarta yang membutuhkan air bersih, termasuk di wilayah Kalideres, Jakarta Barat. Sebab, air ini menjadi kebutuhan dasar manusia,” jelas Rustam usai apel HUT PMI di Jakarta.

    PMI, lanjut Rustam akan terus berinovasi dan melakukan terobosan agar dapat memberikan bantuan serta pelayanan sosial kepada masyarakat secara maksimal.

    “PMI DKI Jakarta memiliki moto SIAP yang merupakan akronim dari Sigap, Inovatif, Akuntabel, dan Profesional. Semboyan ini harus bisa diimplementasikan insan PMI DKI Jakarta,” ungkapnya.

    Baca Juga: Antisipasi Kekeringan Akibat El Nino, DKI Jakarta Tambah Instalasi Pengolahan Air

    Karena itu, Rustam berharap seluruh stakeholder di Jakarta dapat mendukung PMI DKI Jakarta dalam melakukan misi-misi atau memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat.

    “Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh stakeholder, insan PMI DKI Jakarta, serta seluruh relawan yang sudah berkomitmen dan mengabdikan diri untuk kemanusiaan, membantu sesama,” katanya.

    Selain memberikan bantuan air bersih, kali ini PMI juga diserahkan penghargaan kepada mereka yang sudah mengabdi di PMI DKI Jakarta dalam kurun waktu 15 tahun dan 25 tahun.

    “Ini bukan waktu yang sebentar. Saya merasa bangga, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dedikasi yang sudah diberikan,” ujarnya.

    Baca Juga: Menghijaukan Jakarta lewat Ruang Terbuka Hijau, Upaya Mengembalikan Kualitas Udara Jakarta

    Sementara itu, Endang sasmito, salah satu penerima penghargaan pengabdian 25 tahun di PMI DKI Jakarta sangat senang dan bersyukur mendapatkan apresiasi atas pengabdian yang sudah dilakukan.

    “Penghargaan ini sebetulnya bagi saya bukan menjadi tujuan utama. Saya merasa berbahagia bisa melakukan misi kemanusiaan, menolong sesama yang membutuhkan,” kata Sasmito.

    Pada kesempatan itu, PMI DKI Jakarta juga membagikan hadiah kepada pemenang lomba Tumpeng, Tiktok, Bola Voli, dan Futsal.

    Selain itu, juga Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta juga membagikan bibit pohon kepada PMI DKI. Hal ini sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta yang masih berada pada kondisi tidak sehat.

    Reporter: Nurakhmayani 

     

  • Krisis Air Bersih di Muara Angke, Warga Harus Siapkan Rp400 Ribu untuk Beli Air Bersih

    Krisis Air Bersih di Muara Angke, Warga Harus Siapkan Rp400 Ribu untuk Beli Air Bersih


    7cloud.asia – Krisis air bersih hampir terjadi setiap tahun di Muara Angke, Jakarta Utara.

    Apalagi di saat musim kemarau seperti ini, kekeringan pun terjadi di wilayah Muara Angke. Akibatnya warga harus merogoh kocek hingga Rp400 ribu untuk membeli air.

    Seperti yang dialami warga di RW 22 Blok Empang, Muara Angke, Jakarta Utara. Di tempat ini warga hanya mengandalkan suplai dari jeriken air gerobak yang dijual secara keliling untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

    Baca: Kemarau panjang membuat biaya tanam melonjak

    Selain itu warga juga memanfaatkan air sumur yang kondisinya tidak jernih dan berasa asin karena dekat dengan pesisir Jakarta.

    “Permasalahan akses air bersih di sini sudah berlangsung selama tahunan,” ungkap Oni, salah satu warga seperti dikutip Antaranews.

    Hal senada juga diungkapkan oleh warga lainnya, Udin. Pedagang kerang hijau ini terpaksa membeli air bersih dari pedagang keliling untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    “Seharinya bisa habis lima galon air bersih, untuk memasak dan minum, kalau mandi dan nyuci saya biasanya pakai air sumur” jelas Udin.

    Kualitas air yang buruk di wilayah ini memaksa warga harus membeli air bersih.
    Air sumur tak layak konsumsi sebab bercampur dengan tanah bekas galian dan terdapat banyak kutu air.

    Akibatnya mereka mengalami gatal-gatal usai mandi karena menggunakan air sumur. “Air dari sumur resapan berbau menyengat, berminyak, asin. Banyak warga yang terkena penyakit kulit gatal-gatal,” kata Udin.

    Baca: Warga diminta hemat air karena musim hujan diperkirakan mundur

    Jika ingin air bersih, maka warga harus membeli dengan harga Rp 5000 per jeriken. Dalam satu bulan, warga Muara Angke harus mengeluarkan uang sekitar Rp300 ribu-Rp400ribu hanya untuk membeli air bersih.

    Tentu saja kondisi ini memberatkan warga yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, pengupas kerang, pedagang asongan atau kuli harian.

    Sementara itu, salah satu penjual air bersih keliling, Rizal menjelaskan dalam sehari mampu mengangkut 40 jeriken air untuk dijajakan kepada warga Muara Angke.

    Baca: BMKG perkirakan musim hujan 2023/2024 akan mundur

    “Biasanya kalau lagi ramai bisa dapat Rp200 ribu tapi kalau sepi paling Rp150 ribu,” kata Rizal yang berdagang air bersih mulai pukul 04.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

    Kualitas air di wilayah ini yang buruk memang tak bisa dipungkiri. Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa 80 persen air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta tidak memenuhi standar Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

    Jakarta bagian utara merupakan wilayah terparah di mana secara umum CAT air tanahnya mengandung unsur Fe (besi) dengan kadar yang tinggi serta kandungan Na (Natrium), Cl (Klorida), TDS (Total Dissolved Solids).

    Baca: Mentan perkirakan El Nino bisa picu kekurangan beras

    Tak hanya itu, air sumur di wilayah ini juga mengandung DHL (Daya Hantar Listrik) yang tinggi akibat adanya pengaruh dari intrusi air asin.

    Masalah air bersih ini sebenarnya sudah menjadi perhatian lama pemerintah setempat. Pihak Kelurahan Pluit tengah mengupayakan pipanisasi air agar tersambung dengan aliran air dari PAM Jaya.

    “Kami sudah rapat terus intens dengan pihak PAM dan kami akan usahakan secepat mungkin mengenai jalur pipa di Muara Angke,” kata Sekretaris Lurah Kelurahan Pluit Muhamad Djahruddin.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Situbondo Kekeringan, Warga Harus Masuk Hutan Mencari Air

    Situbondo Kekeringan, Warga Harus Masuk Hutan Mencari Air

    7cloud.asia – Kekeringan akibat fenomena El Nino masih terjadi di beberapa wilayah. Kabupaten Situbondo, Jawa Timur salah satu yang mengalami krisis air bersih.

    Akibatnya, warga harus berjalan jauh masuk hutan untuk mendapatkan air bersih. Kekeringan yang mengakibatkan krisis air bersih ini terjadi dalam dua bulan ini.

    Salah seorang warga, Sumirah menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih ia harus mengambil ke sumber mata air yang jaraknya cukup jauh dan juga bergiliran atau antre dengan warga lainnya.

    “Kalau belum mendapatkan distribusi air bersih kami ya mengambil air di sumber mata air berjalan kaki. Apalagi kebutuhan air bersih dibutuhkan sehari-hari untuk kepentingan memasak, mandi, dan mencuci,” urai Sumirah seperti dikutip Antaranews.

    Baca Juga: Krisis Air Bersih di Muara Angke, Warga Harus Siapkan Rp400 Ribu untuk Beli Air Bersih

    Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terus mendistribusikan air bersih secara bergiliran tiga hari sekali ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan guna memenuhi kebutuhan air bersih. 

    Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Sruwi Hartanto mengemukakan pada hari ini petugas melakukan pengiriman air bersih di dua titik terdampak kekeringan, yakni di Dusun Bandusa dan Dusun Polay, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa.

    “Hari ini kami mendistribusikan air bersih ke dua dusun di Desa Jatisari, masing-masing dusun satu armada truk tangki kapasitas 5.000 liter, jadi sehari dua titik wilayah kekurangan air bersih kami kirim 10.000 liter,” jelas Sruwi.

    Selanjutnya Sruwi mengungkapkan ada dua dusun Desa Jatisari menjadi langganan terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih setiap memasuki musim kemarau.

    Baca Juga: Selama 60 Hari Hujan Tak Turun, Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa Kekeringan

    Kedua dusun itu terletak di atas perbukitan sehingga saat memasuki kemarau sumber mata air semakin mengecil dan tidak mampu memenuhi kebutuhan warga setempat.

    “Dusun Polay dan Bandusa ini masuk kategori terpencil dan memang menjadi langganan lokasi kekeringan,” ujar Sruwi.

    Berdasarkan data BPBD Situbondo hingga kini ada tujuh dusun yang mengalami kekurangan air bersih akibat sumber mata air mengecil.

    Ketujuh dusun tersebut adalah Dusun Sokaan Utara (wilayah barat dan timur) Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh tercatat sebanyak 2.793 jiwa tersebar di enam RT.

    Kemudian Dusun Bandusa dan Dusun Polay Taman, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa tercatat ada 800 jiwa tersebar di enam RT mengalami kekurangan air bersih akibat sumber mata air di dua dusun tersebut mengecil.

    Baca Juga: BMKG: Musim Hujan Tahun 2023/2024 Akan Mundur

    Selanjutnya Dusun Sekar Putih dan Dusun Curah Temu, Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih tercatat ratusan jiwa juga mengalami kekurangan air bersih karena sumber air di sumur bor berkurang.

    Sedangkan di Dusun Jerugan, Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan, ada 673 jiwa kekurangan air bersih, karena sumur bor bantuan pemerintah di dusun tersebut rusak.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kali Bekasi Tercemar Limbah, Ribuan Warga Krisis Air Bersih

    Kali Bekasi Tercemar Limbah, Ribuan Warga Krisis Air Bersih

    7cloud.asia – Ribuan warga Kota Bekasi, Jawa Barat saat ini mengalami krisis air bersih karena adanya pencemaran limbah di Kali Bekasi. Akibatnya, banyak warga yang mengalami gatal-gatal di kulit.

    Pencemaran Kali Bekasi ini berpengaruh pada Perumda Tirta Patriot yang memproduksi air baku dari aliran kali Bekasi.

    Air tampak keruh dan berbau tidak sedap. Nurhidayati, salah seorang warga Bulak Perwira, Bekasi Utara menjelaskan kondisi air seperti ini sudah terjadi selama setahun.

    Baca: Ini manfaat sodetan Kali Ciliwung

    Kulitnya terasa gatal saat menggunakan air tersebut untuk mandi. Bahkan, lanjut Nurhidayati, dirinya terpaksa harus ke dokter spesialis untuk mengobati gatal-gatal tersebut.

    “Sudah 1 bulan ini kan airnya kadang mati, kadang hidup tapi kan kotor tuh, nah yang parah minggu ini sampai gatal-gatal, sampai ke dokter spesialis,” jelas Nurhidayati seperti yang dikutip iNews.

    Dia menyayangkan Perumda Tirta Patriot yang tak mampu menyelesaikan permasalahan ini. Padahal setiap bulan ia selalu membayar tagihan air.

    “Kalau bayar agak mahal tapi dapet airnya bersih sih masih agak enggak apa-apa,” ujarnya.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta pilih pengelolaan sampah secara RDF ketimbang ITF

    Karena itu, Nurhidayati memutuskan untuk membuat instalasi pompa air sejak mengalami penyakit kulit.

    “Kalau saya enggak mau berlangganan lagi, mending pakai air tanah saja, sejoroknya air tapi kan dari tanah. Ini trauma gatal kan saya malu sama orang lain juga,” ucapnya.

    Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Patriot, Ali Imam Fariyadi mengatakan pencemaran Kali Bekasi ini merupakan pencemaran terparah.

    Sebab hingga kini masih belum ada tanda-tanda membaik setelah tiga hari pencemaran.

    “Sampai hari ini yang terakhir itu tiga hari terakhir, limbah itu belum berhenti-berhenti masih hitam, pekat, dan bau,” ungkap Ali, Jumat (15/9/2023).

    Baca: Lakukan ini untuk kurangi sampah

    Akibatnya 40.000 warga harus terdampak. Ali selanjutnya menjelaskan pihaknya saat ini belum bisa secara maksimal memproduksi air baku dari aliran kali Bekasi.

    Sehingga distribusi air bersih untuk warga Kota Bekasi harus dicampur dengan aliran Kalimalang. Sayangnya, Pemkot Bekasi hanya mendapatkan subsidi terbatas untuk aliran Kalimalang.

    “Sehingga hari ini sudah bisa produksi setengahnya, sekitar 315 sampai 380 LPS (liter per detik),” ujarnya.

    Saat ini, pihaknya tetap mengupayakan memberikan pelayanan kepada warga Kota Bekasi dengan menyediakan empat tangki air. Tangki-tangki air itu akan langsung dikirim kepada warga yang membutuhkan.

    “Kita sementara menyiapkan air tangki jadi kita stand by, komunikasi ke kita yang butuh air akan kita kirim,” tegasnya.

    Baca: Sampah makanan bisa timbulkan masalah serius bagi lingkungan

    Pihaknya juga berencana memberikan penghapusan denda tagihan kepada para pelanggan yang terdampak peristiwa tersebut.

    Penghapusan denda diberikan agar warga dapat memiliki waktu pembayaran di bulan selanjutnya.
     
    “Jadi paling tidak ya berapa bulan dia enggak bayar dulu enggak apa-apa minimal itulah, jadi dendanya kita hapus kalau memang ia katakanlah mau bayar sebulan lagi dua bulan lagi itu kita kasih toleransi itu,” paparnya.

    Selain itu, pihaknya masih membahas diskon untuk pelanggan Perumda Tirta Patriot.
     
    “Kalau diskon masih kita bahas di tingkat direksi, di tingkat manajemen, karena memang di bulan yang sama kita  drop hampir 20-25 persen,” katanya.

     Reporter: Nurakhmayani

  • Kemarau Bikin Warga Bekasi Kesulitan Air Bersih, Harus Dicari hingga Karawang

    Kemarau Bikin Warga Bekasi Kesulitan Air Bersih, Harus Dicari hingga Karawang

    7cloud.asia – Kemarau panjang memicu kekeringan di sejumlah daerah, termasuk Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Warga kesulitan mendapatkan air bersih sehingga harus mencarinya ke wilayah Karawang Selatan.

    “Air bersih di rumah kosong, musim kemarau ini kekeringan,” ujar Sudirja, seorang warga Cibitung, Bekasi, yang mencari air bersih di sekitar kaki Gunung Cipaga Karawang, di Karawang, Sabtu (30/09/2023).

    Warga Bekasi ini datang ke area pegunungan di wilayah Karawang selatan untuk mencari air bersih, dengan membawa sekitar 16 galon untuk diisi.

    Baca: Warga Lebak mencari air bersih ke hutan

    Melansir Antaranews, Sudirja menjelaskan air bersih disekitar rumahnya sulit dijumpai. Bahkan ia harus membeli dengan harga Rp7 ribu hingga Rp10 ribu per galon.

    “Kualitas airnya juga beda. Jadi kalau air ini (Cipaga) disimpan di rumah dua bulan tidak keruh, tidak berlumut. Sedangkan kalau air bersih beli dari isi ulang, sebentar saja disimpan langsung berubah kualitasnya,” jelasnya.

    Kelangkaan air bersih ini menyusul kekeringan yang melanda wilayah ini sejak beberapa bulan. Beberapa daerah lain di wilayah Kabupaten Bekasi juga mengalami kekeringan.

    Baca: BMKG sebut sebagian wilayah Indonesia masuk musim hujan

    Sementara itu, saat tengah mengisi galon kosong dengan air dari mata air Gunung Cipaga yang mengalir di dekat jalan raya, Sudirja ditemui oleh Dedi Mulyadi yang kebetulan saat itu sedang melintasi daerah tersebut.

    Saat itu Dedi Mulyadi menyampaikan agar hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah. Jangan sampai kekayaan alam Gunung Cipaga rusak oleh keberadaan tambang yang masif.

    Selain itu, politisi partai Gerindra ini meminta agar tak ada lagi penambangan di areal Gunung Sanggabuana salah satunya meliputi Gunung Cisaga di Karawang.

    Baca: Musim hujan tahun ini akan mundur

    Kekeringan pada musim kemarau kali ini merupakan dampak dari fenomena El Nino. Tidak hanya kekeringan, El Nino juga menyebabkan petani gagal panen, mundurnya musim tanam bagi petani serta kebakaran lahan.

    Selain melanda wilayah Cibitung, kekeringan juga melanda empat kecamatan di wilayah Karawang.

    Baca: El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Sesuai dengan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, empat kecamatan yang dilanda kekeringan itu ialah Kecamatan Ciampel, Telukjambe Barat, Tegalwaru dan Kecamatan Pangkalan.

     

    Dari empat kecamatan tersebut, sebanyak 11 ribu lebih warga yang terdampak kekeringan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Berkat Sumur Artesis Bantuan Ganjar Pranowo Warga Desa Muncang Tasikmalaya Bisa Akses Air Bersih

    Berkat Sumur Artesis Bantuan Ganjar Pranowo Warga Desa Muncang Tasikmalaya Bisa Akses Air Bersih

    7cloud.asia – Setelah belasan tahun menunggu, warga desa Kampung Nagrog, Desa Muncang, Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat akhirnya bisa mendapatkan akses air bersih dengan mudah.

    Akses air bersih untuk warga Kampung Nagrog, Tasikmalaya ini terwujud berkat adanya sumur artesis bantuan dari bakal calon presiden (capres) yang diusung PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo  

    Sebelum sumur artesis bantuan dari Ganjar Pranowo ini ada, warga desa terpencil di Tasikmlaya ini harus mengambil air bersih dari sumber yang jauh dari rumah mereka dengan membawa jiriken.

    Dengan jaringan air bersih dari sumur artesis  bantuan Ganjar Pranowo ini, warga bisa mendapatkan air bersih dengan hanya menunggu di rumah saja.

    Baca: Indonesia bakal jadi tuan rumah Forum Air Dunia

    Salah satu warga Desa Muncang, Latip Usman mengatakan sumur Artesis bantuan dari Ganjar Pranowo sangat bermanfaat bagi warga.

    “Mangkanya saya sangat berterima kasih atas kebaikan Pak Ganjar, tanpa proposal tanpa apa-apa alhamdulillah sekarang kebutuhan kami yang ada di sini sudah terealisasi,” kata Latip, Senin (9/10/2023) malam.

    Dijelaskan Latip, ketika musim kemarau melanda Desa Muncang, bisa dipastikan sumber air bersih mengalami kekeringan.

    Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di dunia mengering

    Bahkan, kata dia, sampai sekarang ini belum ada tindakan dari pemerintah atas permintaan yang diajukan oleh warga setempat untuk jaringan air bersih ini.

    “Kurang kebih 12 tahun dari dulu saya mulai aktif dengan para tokoh, sudah mengajukan dari Desa, Kabupaten kecamatan tapi belum ada,” jelas Latip.

    Latip berkata, adanya bantuan sumur air bersih dari Ganjar Pranowo ini bisa memberikan manfaat kepada 1.300 warga 9 RT dari 3 Dusun di Desa Muncang.

    Baca: Maraknya bisnis air minum kemasan bukti adanya krisis air global

    Sementara, Ganjar Pranowo menuturkan kedatangannya di Desa Muncang untuk meninjau langsung sumur air bersih yang ada di sana.

    Ganjar menyinggung seikit awal mula bantuan itu diberikan kepada warga Desa Muncang. Kala masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar mendapatkan keluhan dari salah satu warga Desa Muncang yang menemuinya.

    “Dulu ada pak Kiai datang bertemu saya ngobrol tentang kondisi desanya dan saya tanya dari mana Tasikmalaya oh jauh sekali. Terus cerita kondisi sudah lama gak dapat air karena gak ada, terus berceritalah kondisi yang ada dan tentu dengan segala kondisinya yuk kita ikhtiar,” tuturnya.

    Baca: Tantangan menerapkan infrastruktur ramah lingkungan

    Ganjar Pranowo berharap bantuan akses air bersih tersebut bisa memberikan dampak yang besar bagi warga sekitar. Apalagi selama 12 tahun ini mereka tidak mendapatkan akses air bersih.

    “Tadi cerita kurang lebih 12 tahun menunggu. Air bersih menjadi pokok sangat penting jadi sumber kehidupan dan saudara-saudara kita nyarinya jauh di sini,” tandas Ganjar Pranowo

  • DKI Jakarta Terancam Krisis Air Bersih: Kebutuhan Terus Meningkat Tak Sebanding dengan Pasokan

    DKI Jakarta Terancam Krisis Air Bersih: Kebutuhan Terus Meningkat Tak Sebanding dengan Pasokan

    7cloud.asia – Jumlah kebutuhan air bersih di DKI Jakarta yang tak sebanding dengan debit air yang tersedia di wilayah tersebut.

    Dalam gelar wicara yang diikuti secara daring di Jakarta Selasa, Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Irfan Budi Pramono memaparkan kebutuhan air bersih di Jakarta mencapai sekitar 30.000 liter per detik.

    Sementara jumlah debit air bersih yang tersedia di Jakarta kurang dari 20.000 liter per detik.

    “Pada 2028 diprakirakan -kebutuhan air- mencapai 40.000 liter per detik, bahkan hingga 2033 -kebutuhan air- sudah di atas 45.000 liter per detik, sedangkan kita lihat ketersediaan air di kisaran 18.000 per detik,” kata Irfan.

    Irfan juga mengungkapkan kebutuhan air bersih di Jakarta meningkat sekitar 3,3 persen setiap tahunnya.

    Baca: Dampak perubahan iklim pada masyarakat kota

    Hal tersebut, katanya, disebabkan oleh meningkatnya nilai konversi air menjadi uap melalui permukaan tanah dan tanaman atau evapotranspirasi, perilaku manusia, dan pertumbuhan populasi.

    “Perubahan iklim menyebabkan perubahan pola hujan menjadi berintensitas tinggi dalam waktu yang singkat, yang mengakibatkan perubahan suhu, dan juga mengakibatkan masalah pada sumber daya air,” ujarnya.

    Tidak hanya di DKI Jakarta, Irfan mengungkapkan hal yang sama juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Indonesia, yang bisa dilihat pada kontinuitas, kuantitas, serta kualitas air yang tersedia dalam sebuah sumber air di salah satu wilayah.

    Ia memaparkan sejumlah sungai di Pulau Jawa seperti Sungai Ciujung di Banten-Jawa Barat, Cikapundung, Cimanuk, dan Citanduy di Jawa Barat, Bengawan Solo di Jawa Tengah-Timur, serta Brantas di Jawa Timur cenderung mengalami penurunan debit air dari tahun ke tahun.

    Baca: Pemkot Jakarta Selatan bangun dua embung pada 2024

    “Waspada air kita semakin lama semakin berkurang, bisa jadi bom waktu kalau tidak diantisipasi bagaimana mempertahankan sumber daya air tersebut,” tegas Irfan.

    Karena itu, BRIN tengah melakukan studi Watershed Health Assessment System (WHAS) guna menganalisis terkait kesehatan sumber daya air di suatu wilayah, melalui berbagai indikator.

    Indikator tersebut seperti hidrologi, tanah, dan sosioekonomi yang salah satunya sudah dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu di Jawa Barat.

    Studi tersebut, kata dia, telah menemukan sejumlah masalah penyebab kurang baiknya kualitas air di daerah tersebut, untuk kemudian dilakukan berbagai solusi berbasis alam seperti rehabilitasi hutan dan lahan.

    Baca: Pemkot Jakarta Timur revitalisasi embung Pekayon

    Juga dengan pembuatan kolam retensi dan resapan air, menghindari pelurusan sungai, serta penerapan konservasi air pada berbagai penggunaan lahan.

    Alam ini, ujarnya, sebetulnya diciptakan teratur, ada rawa dan bentuk lainnya. Manusia cenderung mengubah kondisi alam sesuai keinginannya.

    Di Jakarta misalnya, ada Rawamangun dan rawa lainnya yang dikeringkan buat perumahan, sehingga banjir karena air berasal dari situ.

    “Kalau dikembalikan fungsinya itu bagus, supaya tidak banjir di hulu dan bisa menyaring air yang tercemar dengan tanaman yang ada,” tutur Irfan Budi Pramono.

    Sumber: Antaranews.com

  • Musim Kemarau Memuncak, Krisis Air Terjadi di Sejumlah Daerah

    Musim Kemarau Memuncak, Krisis Air Terjadi di Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Memasuki akhir musim kemarau, krisis air bersih terjadi di sejumlah daerah seperti Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Jember, Jawa Timur; Cianjur dan Bogor Jawa Barat, Nusa Tenggara barat dansejumlah daerah lainnya.

    Kemarau panjang tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih, tetapi juga mengancam ratusan hektar lahan pertanian yang berisiko gagal panen karena kurangnya pasokan air.

    Salah satu daerah yang paling terdampak adalah Kampung Leuwi Urug, Desa Rahong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

    Warga setempat terpaksa menggunakan air kubangan dari aliran Sungai Cilaku untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, minum, dan memasak, karena sumur-sumur mereka telah mengering.

    Kondisi ini telah menyebabkan sejumlah warga mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal.

     

    Baca: Warga Jonggol alami krisis air bersih

    Menyikapi kondisi krisis air ini, Ketua DPR Puan Maharani mendesak agar langkah-langkah darurat segera diambil untuk mengatasi krisis di daerah-daerah yang masih mengalami kekeringan, termasuk di Kampung Leuwi Urug.

    “Pengiriman air bersih harus segera dilakukan sebagai solusi jangka pendek agar warga tidak lagi menggunakan air kubangan yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka,” ungkap Puan kepada Parlementaria, Rabu (11/9/2024).

    Puan menekankan perlunya penyediaan bantuan seperti tablet desinfektan air untuk meminimalisir risiko penyakit. Ia juga mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) untuk berkoordinasi dengan Pemerintah pusat atau lembaga terkait jika memerlukan bantuan.

    “Dan pastikan libatkan juga instansi kesehatan untuk mengantisipasi dampak penggunaan air tidak sehat terhadap masyarakat,” tambah Puan.

    Puan, mendorong pemerintah untuk bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk sektor swasta, LSM, dan organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang air bersih, guna mempercepat distribusi dan penyediaan fasilitas air bersih, terutama di daerah yang sulit dijangkau.

    Baca: Jawa diprediksi akan alami kekeringan parah pada 2100 jika perilaku tak diubah

    “Langkah-langkah ini harus dilakukan secara simultan untuk mengurangi risiko jangka panjang. Respons cepat dari Pemerintah, khususnya Pemda, sangat diharapkan agar kebutuhan dasar masyarakat, seperti akses air bersih dapat terpenuhi,” ujar Puan

    Tidak hanya itu, Puan juga menekankan pentingnya edukasi dan penyuluhan kesehatan bagi warga yang terdampak kemarau panjang.

     Ia meminta Pemerintah untuk memberikan informasi mengenai bahaya penggunaan air yang terkontaminasi serta pentingnya menjaga sanitasi. Edukasi dan penyuluhan, ujarnya, harus beriringan dengan solusi dan antisipasi yang telah dilakukan Pemerintah.

    “Meskipun saat ini sudah memasuki peralihan musim, saya berharap Pemerintah tetap melakukan pendataan dan memonitor wilayah-wilayah yang masih terkena dampak kekeringan,” kata Puan.

    Mengakhiri pernyataannya dengan menegaskan bahwa kerja sama lintas sektor dan langkah antisipatif yang kuat diperlukan untuk memastikan krisis air bersih dapat teratasi dan tidak berulang di masa mendatang.

    Puan menegaskan bahwa Pemerintah harus mempersiapkan langkah-langkah antisipatif jangka panjang untuk menangani kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau.

    Ia menyarankan pembangunan sarana penyimpanan air dan sumur di daerah-daerah yang rentan terhadap krisis air.

    Puan menambahkan bahwa reboisasi dan perbaikan aliran sungai sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan sumber air, agar wilayah-wilayah rentan tidak lagi mengalami krisis air setiap tahun.

    “Pengelolaan sumber air secara berkelanjutan adalah kunci untuk menjaga ketersediaan air di masa mendatang,” ungkapnya.

  • Manfaatkan Pompa Air Listrik Tenaga Surya, Desa di Timor Tengah Utara NTT Sukses Atasi Krisis Air Bersih

    Manfaatkan Pompa Air Listrik Tenaga Surya, Desa di Timor Tengah Utara NTT Sukses Atasi Krisis Air Bersih

    7cloud.asia – Pemanfaatan sistem pompa air listrik tenaga surya mampu mengatasi krisis air bersih yang selama ini dialami warga Desa Banuan di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT),

    Dengan dukungan 10 panel listrik tenaga surya yang menghasilkan 5.500 Watt Peak, fasilitas ini mampu memompa hingga 60.000 liter air per hari ke Bak Reservoir air bersih.

    “Pompa listrik tenaga surya ini memperbaiki kualitas hidup masyarakat Desa Banuan,” kata Koordinator Proyek Solar Chapter, Yoga Nahak dalam keterangan di Jakarta, Minggu (29/9/2024) dikutip Antaranews.com.

    Menurutnya, akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan bagi banyak wilayah di Indonesia, khususnya di daerah terpencil seperti Nusa Tenggara Timur.

    Ketersediaan air yang layak tidak hanya mempengaruhi kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi dan kesejahteraan desa.

    Baca: Desa di Demak ini juga manfaatkan listrik tenaga surya

    Di beberapa daerah, masyarakat harus menempuh jarak 2-4 kilometer untuk mendapatkan air, membuat aktivitas harian mereka semakin berat. Namun, dengan kemajuan teknologi dan kolaborasi berbagai pihak, tantangan ini mulai teratasi.

    Program-program berbasis energi terbarukan seperti pemanfaatan tenaga surya telah membantu mengatasi masalah ini secara berkelanjutan.

    Desa-desa yang dulu kesulitan mendapatkan air kini mulai merasakan perubahan besar. Seperti halnya warga di Desa Banuan di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

    “Mereka berhasil mengatasi krisis air bersih melalui gotong royong. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, 26-30 Agustus 2024 dengan membangun fasilitas pompa air tenaga surya,” ujarnya.

    Semua ini terwujud berkat kerja sama antara warga desa, Solar Chapter, dan program CSR perusahaan, kini Desa Banuan memiliki sistem air bersih yang menggabungkan gravitasi dan pompa listrik tenaga surya.

    Baca: Penerangan jalan tenaga surya digalakkan di Jatim

    Yoga mengatakan bahwa proyek tersebut sempat menghadapi banyak tantangan karena jarak antara sumber air dan pemukiman mencapai 3,3 km, dengan medan yang sulit berupa tebing dan hutan.

    Instalasi air di Desa Banuan ini merupakan salah satu yang terpanjang dan tersulit di tahun 2024. Tapi berkat dukungan 10 panel surya yang menghasilkan 5.500 Watt Peak kendala itu teratasi.

    Yoga menambahkan, proyek itu membuktikan bahwa kolaborasi lintas komunitas dan sektor bisa membawa perubahan besar.

    “Desa Banuan menunjukkan bahwa dengan kemauan dan dukungan yang tepat, tantangan besar dapat diatasi,” tuturnya.

    Dia berharap penyediaan air bersih dapat memberi dampak berkelanjutan, membantu kesehatan dan ekonomi masyarakat lokal, terutama untuk pertanian.

    “Tujuannya agar kesejahteraan tercapai dan air bersih terus mengalir untuk generasi mendatang,” imbuhnya.

    Baca: PLN diminta tak halangi pengembangan listrik tenaga surya

    Kepala Desa Banuan Agustinus Manbait merupakan orang yang menginisiasi pengajuan bantuan melalui survei dari Solar Chapter pada tahun 2023.

    “Kami tidak bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya kami. Air bersih kini tidak lagi menjadi impian yang jauh, melainkan kenyataan yang akan kami nikmati setiap hari,” kata Agustinus.

    Sementara itu, Martinus Nuni warga Desa Banuan mengatakan bahwa seluruh masyarakat keluar untuk menarik pipa yang ada ke sumber mata air dan dibawa ke dekat pemukiman yang jaraknya sekitar 3 km.

    “Sulit perjalanan ke sana, mendaki terus naik turun naik turun akhirnya warga kecapean,” kata Martinus.

    Menurutnya, kerja sama lintas sektor sangat penting bagi kesuksesan proyek ini. Dukungan dari sponsor utama seperti Vinilon berupa pengadaan pipa dan juga beberapa sponsor lainnya telah memungkinkan penyediaan infrastruktur berkualitas tinggi, termasuk pipa dan panel surya.

    Mama Veronika warga desa lainnya juga mengucapkan rasa syukurnya karena air mulai mengalir tanpa kendala.

    “Awalnya kami cemas, takut kalau airnya tidak akan naik. Tapi ketika air mulai mengalir, rasa syukur kami tak terhingga. Puji Tuhan, kini air sudah mengisi bak pompa kami,” Veronika.

    Sumber:Antaranews.com

  • Meski Untung Ratusan Miliar Per Tahun, PAM Jaya Tetap Mau Naikkan Tarif

    Meski Untung Ratusan Miliar Per Tahun, PAM Jaya Tetap Mau Naikkan Tarif

    7cloud.asia – Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Francine Widjojo menilai, bahwa tidak ada urgensi bagi PAM Jaya untuk menaikkan tarif air bersih mengingat laba perusahaan tersebut sudah lebih dari Rp1 triliun.

    Francine lantas memaparkan, PAM Jaya sejak 2017 selalu memperoleh laba bersih ratusan miliar rupiah hampir setiap tahun

    “Tahun 2023 laba bersih PAM Jaya mencapai lebih dari Rp1 triliun dan membagikan dividen ke Pemprov Jakarta Rp62,3 miliar,” kata Francine dikutip Antaranews.com, Minggu (22/12/2024).

    Selain itu kata dia, PAM Jaya secara hukum tidak bisa menggunakan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 730 Tahun 2024 untuk menaikkan tarif air karena Keputusan Gubernur itu mengatur kenaikan tarif air minum.

    “Air yang disediakan oleh PAM Jaya adalah air bersih, bukan air minum, dan masih sering dikeluhkan warga terkait kualitas air bersihnya,” imbuhnya.

    Selain tidak memiliki dasar hukum yang jelas, kenaikan tarif yang rencananya mulai dijalankan Januari 2025 dan masuk ke tagihan Maret 2025 dianggap akan memberatkan masyarakat karena bertepatan dengan momen Lebaran.

    Baca: Memanen air hujan jadi upaya wujudkan swasembada air

    “Masyarakat sudah dibebani kenaikan harga menjelang Lebaran, tidak perlu ditambah lagi dengan kenaikan tarif air,” ujarnya.

    Pendapat Francine diperkuat Pemerhati Kebijakan Publik Indra Budi Sumantoro yang menegaskan bahwa menurut aturan perundangan, air minum adalah air yang melalui pengolahan atau tanpa pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

    “Secara de facto PAM Jaya tidak menyediakan air minum sesuai aturan perundangan,” katanya.

    Sebelumnya, Manager Corporate Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza menjelaskan bahwa penyesuaian tarif ini tidak akan berdampak pada kebutuhan dasar rumah tangga.

    Gatra berharap, masyarakat DKI Jakarta dapat memanfaatkan layanan PAM Jaya dengan lebih baik.

    Gatra juga menyebutkan bahwa penyesuaian tarif air bersih ini merupakan yang pertama sejak tahun 2007.

    Baca: Membangun waduk jadi cara Pemprov Jakarta antisipasi krisis air

    Pada November lalu, Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh mengatakan perlu kajian terkait wacana penyesuaian tarif air PAM agar tidak memberatkan warga Jakarta, khususnya bagi MBR.

    “Harus melihat situasi kondisi masyarakat. Harus dikaji lagi,” ujar Nova.

    Hal senada juga diungkapkan Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo. Menurut dia, Perumda PAM Jaya perlu mendata kembali pelanggan air PAM yang merupakan MBR, sehingga penyesuaian tarif air PAM tetap dapat memenuhi asas keadilan.

    “Perlu dilakukan penelaah dan penajaman data di lapangan biar menjadi objektif,” kata Rio.

    Komentar serupa juga muncul dari Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Nur Afni Sajim. Ia mendorong Perumda PAM Jaya menyiapkan strategi penetapan tarif air PAM bagi pelanggan kalangan MBR.

    Dengan demikian, kata dia, harga yang dibayar pun jauh lebih rendah dibanding tarif bagi masyarakat menengah ke atas.

    Baca: Perubahan iklim bebani penduduk miskin di Pesisir Jakarta

    “Untuk menengah ke bawah juga perlu ada kualifikasi dan harus ada strategi lain yang perlu dipikirkan PAM,” ujar Afni.

    Sementara itu, Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menyampaikan akan menampung seluruh usulan yang disampaikan Komisi B DPRD DKI Jakarta sebagai bahan pembahasan penyesuaian tarif air.

    “Saya juga akan mempertimbangkan beberapa saran, termasuk juga mereka masyarakat berpenghasilan rendah itu tetap dipertahankan. Bahkan kita turunkan tarifnya,” kata dia.

    Perumda PAM Jaya menjamin penyesuaian tarif air bersih berlangganan di Jakarta tak berdampak pada pada kebutuhan dasar rumah tangga.

    “Sosialisasi ini diharapkan memberikan pemahaman yang jelas kepada seluruh masyarakat terkait tarif air PAM Jaya,” kata Senior Manager Regional Barat dan Selatan PAM Jaya, Mohamad Faizal.