Tag: aktivis 98

  • Aktivis 98 Deklarasikan Dukungan untuk Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

    Aktivis 98 Deklarasikan Dukungan untuk Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

    7cloud.asia – Ribuan aktivis 98 mendeklarasikan dukungannya kepada bakal calon presiden (Bacapres) dari Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Ganjar Pranowo.

    Deklarasi Aktivis 98 mendukung Ganjar Pranowo tersebut digelar di Gedung Juang 45, Menteng, Jakarta Pusat Selasa (17/10/2023).

    Puluhan Aktivis 98 hadir mewakili ribuan orang dengan jumlah sekitar 1.500 orang.

    Mereka mewakili sekitar 13 organisasi kemasyarakatan seperti BMI, GPMU, FPPHR, FKSMJ, Front Jakarta, KPMB, Saga, Forkot, GHI, dan lainnya yang tergabung dalam Aktivis 98.

    Baca: Mahfud MD resmi diumumkan jadi bakal cawapresnya Ganjar Pranowo

    Para aktivis 98 yang turut menggerakan reformasi ini menilai Ganjar Pranowo  akan mampu melanjutkan kepemimpinan Jokowi. 

    Aktivis 98 juga yakin Ganjar Pranowo akan bisa menyelesaikan tantangan di masa yang akan datang, baik berupa tantangan geopolitis, masalah lingkungan dan transisi energi dan sebagainya

    Keyakinan Aktivis 98 ini didasarkan pada kinerja Ganjar Pranowo yang sudah biasa terlibat dalam pergerakan membela masyarakat seperti kasus Kedungombo, Nipah dll.

    “Karena dia bisa memahami persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyakarat  dan bisa mencari solusi terbaik,” demikian pernyataan sikap mereka.

    Baca: Pasangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD didaftarkan di hari pertama pendaftaran capres

    Dalam sambutannya, Ketua Panitia Muksil mengatakan, deklarasi ini sebagai komitmen para aktivis 98 dalam mengawal Reformasi di Indonesia.

    “Kami berkomitmen mengawal pemerintahan ke depan,” ujarnya, Selasa (17/10/2023).

    Sementara itu, Wakil Ketua Tim Pemenangan Nasional Ganjar Presiden, Gatot Edi Pramono mengatakan bahwa dukungan ini melihat sosok Ganjar Pranowo yang sangat humble ramah, santun dan merakyat.

    Ganjar Pranowo memiliki track record baik dari mulai anggota DPR RI dan gubernur.

    Baca: Pesan Ganjar Pranowo ke para pendukungnya

    “Modal beliau sebagai seorang presiden sudah cukup. Dia konsen terhadap pemberantasan korupsi. Kemudian Pak Ganjar pun berasal dari keluarga santri,” kata dia.

    Menurut dia, pemilu adalah kompetisi yang harus diperjuangkan. Diperjuangkan untuk menang mulai dari keluarga hingga lingkungan.

     

  • Mengenang 26 Tahun Reformasi: Aktivis 98 Pajang Nisan Korban Pelanggaran HAM

    Mengenang 26 Tahun Reformasi: Aktivis 98 Pajang Nisan Korban Pelanggaran HAM

    7cloud.asia – Memperingati reformasi 21 Mei, tepat 26 tahun lalu, para aktivis 1998 mempertontonkan nisan peristiwa dan nama korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM)

    Monumen nisan kayu bertuliskan peristiwa dan nama korban pelanggaran HAM dijejerkan di halaman markas Front Penyelamat Reformasi Indonesia Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2024).

    Peringatan 26 Tahun Reformasi ini akan digelar selama tiga hari ke depan, hingga Kamis (23/5/2024).

    Peringatan 26 tahun reformasi ini dilakukan untuk mengingatkan bahwa 26 tahun yang lalu, reformasi diperjuangkan dengan keringat, darah dan bahkan nyawa,

    Baca: Reformasi di tepi jurang

    Di jalanan para aktivis mengalami berbagai tindakan represi yang sangat luar biasa.

    ”Ada pentungan, ada gas air mata. Bahkan, ada di antara kawan-kawan kami yang kemudian ditembak mati,” kata aktivis 98 Ubedilah Badrun kepada awak media di markas Front Penyelamat Reformasi Indonesia.

    Oleh karena itu, para aktivis 98 ingin merefleksikan reformasi 26 tahun lalu melalui monumen nisan kayu.

    Ubedilah mengatakan, Indonesia memiliki cita-cita besar selepas reformasi, yakni ingin memiliki demokrasi yang berkualitas.

    “Tetapi hari ini demokrasi di Indonesia memburuk,” ujar Ubedilah.

    Baca: Reformasi dikorupsi

    Demokrasi yang cacat dan cacatnya makin parah, lanjutnya, karena kekuasaan dengan seluruh instrumennya mempraktikkan kekuasaan yang mengabaikan etika.

    ”Kekuasaan mengabaikan Undang-Undang UU), memanipulasi UU bahkan kemudian juga memanipulasi UUD 1945,” katanya lagi.

    Demokrasi makin memburuk itu, menurut Ubedilah, juga ditunjukkan melalui indeks kebebasan sipil yang skornya hanya 5,59. Selain itu, indeks hak asasi manusia (HAM) Indonesia skornya hanya 3,2.

    “Angka pertumbuhan ekonomi kita stagnan hanya lima persen. Angka kemiskinan bertambah, bahkan ada 9,9 juta gen z pengangguran. Ini kan persoalan yang sangat serius,” kata Ubedilah.

    Baca: Semangat reformasi di simpang jalan

    “Pada saat yang sama pengangguran makin bertambah dan biaya pendidikan juga sekarang makin melonjak. Uang kuliah tunggal (UKT) hampir tidak bisa dikontrol oleh kekuasaan,” tambahnya.

    Aktivis 98 yang lain, Fauzan Luthsa mengatakan, peringatan ini menandakan bahwa para aktivis 98 masih akan ada untuk “melawan”.

    “Yang kami tekankan ini, kami bukan hanya memperingati, bukan hanya proses monumental, tapi juga mengingatkan bahwa kami masih ada dan akan terus melawan,” kata Fauzan.

    Fauzan juga mengatakan bahwa para aktivis tidak ingin pemerintahan selanjutnya memutarbalikkan jarum jam sejarah.

     

  • Dianggap Menodai Perjuangan, Aktivis ’98 Tolak Gelar Pahlawan Soeharto

    Dianggap Menodai Perjuangan, Aktivis ’98 Tolak Gelar Pahlawan Soeharto

    7cloud.asia – Sejumlah aktivis ’98 dari berbagai macam organisasi seperti Repdem, Barikade ’98, Pena ’98, hingga FK ’98 menolak gelar pahlawan yang akan diberikan kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto.

    Hal ini diungkapkan dalam diskusi ‘Refleksi 27 Tahun Reformasi: Soeharto Pahlawan atau Penjahat HAM?’ di Hotel Grand Sahid, Jakarta pada Sabtu (25/05/2025).

    Salah seorang aktivis ’98 yang hadir, Mustar Bonaventura menjelaskan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto tersebut bertentangan dengan amanat reformasi 1998.

    “Ini secara tegas hari ini akan nanti kami sampaikan secara terbuka bersama-sama dengan seluruh teman-teman bahwa adanya ide ini menurut kami adalah mencederai-menodai apa yang sudah diperjuangkan pada tahun 1998,” jelas Mustar.

    Baca: Reformasi kini berada di titik nadir

    Pada 21 Mei 1998 mahasiswa bersama rakyat berhasil menggulingkan rezim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun di bawah kepemimpinan presiden Soeharto.  

    Dalam masa kepemimpinan Soeharto, ribuan orang telah meninggal di berbagai kasus seperti pembantaian massal tahun 1966, kasus Priok 1984, kasus Talangsari, penculikan aktivis ’98 serta korban kerusuhan 1998 dan lain-lain.

    “Demokrasi karena dari buah keringat perjuangan, bahkan mungkin korban; korban ada ribuan, ada nyawa, ada air mata di situ. Sehingga menurut kami tidak tepat (Soeharto diusulkan jadi pahlawan),” tegasnya.

    Banyaknya nyawa yang melayang di tangan penguasa orde baru disimbolkan dengan ratusan tengkorak buatan yang disebar di depan panggung diskusi.

    Baca: 27 tahun reformasi, Indonesia alami erosi kebebasan politik dan hak sosial

    “Jadi, simbolisasi tengkorak tulang belulang inilah bahwa dulu zaman ada petrus, penculikan aktivis, kemudian kasus tanah, Marsinah, Widji Tukul, dan lain sebagainya, Kedung Ombo. Begitu banyak warga rakyat atau masyarakat Indonesia yang tidak ditemukan sampai sekarang,” jelas Jimmy Fajar Jimbong, salah satu panitia acara.

    Dalam diskusi tersebut hadir Ray Rangkuti, Ubedillah Badrun, Bela Ulung Hapsara, Anis Hidayah, Jimly Fajar, dan Hengki Kurniawan.

    Selain diskusi, acara tersebut juga menampilkan aksi teatrikal dan pembacaan puisi dari para aktivis 98.

     

  • Kecam Tindakan Represif Aparat, Aktivis 98: Kematian Affan Menjadi Api Perjuangan yang Terus Menyala

    Kecam Tindakan Represif Aparat, Aktivis 98: Kematian Affan Menjadi Api Perjuangan yang Terus Menyala

    7cloud.asia – Aktivis 98 menilai tewasnya pengemudi ojol Affan Kurniawan saat unjuk rasa menolak kenaikan tunjangan DPR bukan hanya sebuah insiden, melainkan bukti nyata bahwa praktik kekerasan negara terhadap rakyat masih terus berlangsung.

    Dalam pernyataannya, Aktivis 98 menyebut, gugurnya Affan adalah duka mendalam sekaligus tamparan keras bagi demokrasi Indonesia.

    Aktivis 98 menegaskan, kematian driver Ojol Affan adalah pengingat keras bahwa demokrasi Indonesia masih dalam ancaman serius. Darahnya tidak akan sia-sia, melainkan menjadi api perjuangan yang terus menyala demi tegaknya keadilan dan kebebasan rakyat.

    “Nyawa yang melayang hari ini adalah representasi dari kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya. Aparat yang seharusnya menjaga keamanan justru berubah menjadi alat represi yang merampas hak-hak rakyat, demikian Aktivis 98 dalam pernyataannya kepada media.

    Demokrasi semestinya memberi ruang kebebasan berpendapat, kebebasan berkumpul, serta jaminan keselamatan bagi setiap warga negara yang menyampaikan aspirasi. Namun, yang kita saksikan hari ini adalah sebaliknya: kekerasan, ketakutan, dan korban jiwa.

    Di tengah duka ini, Aktivis 98, menegaskan dukungan penuh terhadap gerakan mahasiswa rakyat yang turun ke jalan. Demonstrasi yang dilakukan hari ini bukanlah tindakan tanpa makna, melainkan ekspresi murni dari keresahan rakyat terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil dan merugikan.

    Demonstrasi adalah hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945, dan dalam sejarah bangsa ini, ia telah menjadi salah satu jalan sah untuk mendorong perubahan.

    Rakyat yang turun ke jalan adalah wujud nyata bahwa demokrasi masih hidup, meski harus dibayar dengan risiko besar. Kami berdiri sepenuhnya bersama gerakan ini, karena perjuangan mereka adalah kelanjutan dari semangat Reformasi yang dulu juga kami perjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan.

    Aktivis 98 tidak akan pernah tinggal diam ketika rakyat menjadi korban kekerasan negara. Gugurnya kawan Ojol adalah panggilan moral bagi kita semua untuk melawan praktik represif dan brutalitas aparat kepolisian.

    “Demokrasi harus dibela, dan kami akan terus berada di barisan rakyat,” demikian pernyataan yang ditandatangani 80an Aktivis 98 tersebut.

    Atas dasar itu, kami, Aktivis 98, menyatakan sikap:
    1. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas tewasnya kawan Ojol, pejuang demokrasi yang gugur dalam perjuangan menegakkan hak-hak rakyat.
    2. Menuntut hukuman berat dan adil terhadap anggota Polri yang menabrak hingga menyebabkan meninggalnya kawan Ojol. Tidak boleh ada impunitas bagi aparat pelanggar hukum.
    3. Mengecam keras tindakan brutal aparat dalam menghadapi demonstrasi rakyat. Kebebasan berpendapat adalah hak konstitusional yang harus dilindungi.
    4. Menuntut Presiden segera mencopot Kapolri dan Kapolda Metro Jaya karena gagal mengendalikan situasi dan membiarkan aparat melakukan tindakan brutal yang mengakibatkan korban jiwa.
    5. Aktivis 98 berkomitmen penuh untuk terus bersama semua elemen bangsa untuk memperjuangkan demokrasi dan menolak segala bentuk pembungkaman, intimidasi, serta kekerasan dari negara.
    6. Hentikan elit politik yang mempertontonkan kepongahan dan kesombongan yang kontradiktif dengan kondisi kesusahan rakyat sekarang.