Dianggap Menodai Perjuangan, Aktivis ’98 Tolak Gelar Pahlawan Soeharto

Written by

in

7cloud.asia – Sejumlah aktivis ’98 dari berbagai macam organisasi seperti Repdem, Barikade ’98, Pena ’98, hingga FK ’98 menolak gelar pahlawan yang akan diberikan kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Hal ini diungkapkan dalam diskusi ‘Refleksi 27 Tahun Reformasi: Soeharto Pahlawan atau Penjahat HAM?’ di Hotel Grand Sahid, Jakarta pada Sabtu (25/05/2025).

Salah seorang aktivis ’98 yang hadir, Mustar Bonaventura menjelaskan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto tersebut bertentangan dengan amanat reformasi 1998.

“Ini secara tegas hari ini akan nanti kami sampaikan secara terbuka bersama-sama dengan seluruh teman-teman bahwa adanya ide ini menurut kami adalah mencederai-menodai apa yang sudah diperjuangkan pada tahun 1998,” jelas Mustar.

Baca: Reformasi kini berada di titik nadir

Pada 21 Mei 1998 mahasiswa bersama rakyat berhasil menggulingkan rezim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun di bawah kepemimpinan presiden Soeharto.  

Dalam masa kepemimpinan Soeharto, ribuan orang telah meninggal di berbagai kasus seperti pembantaian massal tahun 1966, kasus Priok 1984, kasus Talangsari, penculikan aktivis ’98 serta korban kerusuhan 1998 dan lain-lain.

“Demokrasi karena dari buah keringat perjuangan, bahkan mungkin korban; korban ada ribuan, ada nyawa, ada air mata di situ. Sehingga menurut kami tidak tepat (Soeharto diusulkan jadi pahlawan),” tegasnya.

Banyaknya nyawa yang melayang di tangan penguasa orde baru disimbolkan dengan ratusan tengkorak buatan yang disebar di depan panggung diskusi.

Baca: 27 tahun reformasi, Indonesia alami erosi kebebasan politik dan hak sosial

“Jadi, simbolisasi tengkorak tulang belulang inilah bahwa dulu zaman ada petrus, penculikan aktivis, kemudian kasus tanah, Marsinah, Widji Tukul, dan lain sebagainya, Kedung Ombo. Begitu banyak warga rakyat atau masyarakat Indonesia yang tidak ditemukan sampai sekarang,” jelas Jimmy Fajar Jimbong, salah satu panitia acara.

Dalam diskusi tersebut hadir Ray Rangkuti, Ubedillah Badrun, Bela Ulung Hapsara, Anis Hidayah, Jimly Fajar, dan Hengki Kurniawan.

Selain diskusi, acara tersebut juga menampilkan aksi teatrikal dan pembacaan puisi dari para aktivis 98.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *