Tag: alam

  • Keluarga Ganjar Pranowo Jadi Idola Baru di Kalangan Perempuan dan Pemilih Muda

    Keluarga Ganjar Pranowo Jadi Idola Baru di Kalangan Perempuan dan Pemilih Muda

    7cloud.asia – Sosok Siti Atikoh Suprianti dan Muhammad Zinedine Alam Ganjar punya peran besar dalam meningkatkan dukungan kepada calon presiden Ganjar Pranowo (GP),

    Juru bicara Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Aryo Seno Baskoro, menilai, respons masyarakat terhadap istri dan putra Ganjar itu sangat positif.

    “Respons masyarakat terhadap Mas Alam sangat tinggi. Mas Alam tampil tidak hanya sebagai support system Pak Ganjar, tetapi melebihi dari itu,” kata Aryo Seno dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (8/12/2023).

    Dalam berbagai dialog, kata Seno, Alam Ganjar ternyata punya wawasan yang sangat luas dan pemahaman tentang berbagai isu, baik masa kini maupun masa lalu, secara mendalam. Alam tampil sebagai dirinya.

    “Tanpa membawa embel-embel orang tuanya, tampil orisinil, dan itu diminati. Demikian pula dengan Bu Atikoh, respons masyarakat sangat baik,” lanjut Seno.

    Baca: Ganjar di mata Alam Ganjar

    Menurutnya, Atikoh Ganjar mampu menjadi pendamping yang tidak hanya konco wingking, tetapi ada chemistry yang saling mengisi

    Seno mencontohkan, kebiasaan olahraga lari yang dibangun bersama-sama, lalu hubungan Ganjar-Atikoh bisa menjadi contoh baik bagi anak muda.

    Menurut Seno hubungan Pak Ganjar dan Bu Atikoh membuat banyak anak muda percaya tentang adanya couple goals.

    “Selain setia, pasangan itu juga bisa menjadi kawan membangun karier yang baik dari bawah, tanpa harus ikut cawe-cawe terlalu banyak satu sama lain,” kata Seno.

    Baca: Alam Ganjar jadi idola baru anak muda

    Seno mengatakan, Atikoh dan Alam Ganjar punya segmen peminat masing-masing, meski mungkin potensi ceruknya beririsan.

    Alam cenderung diminati kalangan pemilih Gen Z, pemilih pemula, dan kelompok kritis. Namun, ada juga pemilih emak-emak yang menggemari Alam.

    “Sedangkan Bu Atikoh banyak ditunggu oleh kelompok pemilih perempuan, pegiat olahraga, dan pegiat budaya,” ujar Seno.

    Seno mengatakan bahwa Ganjar sendiri punya satu karakter yang sangat kuat dalam hal perannya sebagai seorang family man.

    Baca: Alam Ganjar bicara soal nepo baby

    “Ganjar berhasil membangun keluarga, memimpinnya dengan baik, lalu melindunginya. Munculnya Alam dan Atikoh hari-hari ini membuat pesannya menjadi semakin kuat,” ujar Seno.

    Bagi Ganjar, mengelola kepemimpinan pertama kali dimulai dari keluarga. Bagaimana ia mampu menegaskan garis prinsip, tetapi tetap memberikan ruang merdeka bagi masing-masing anggota keluarga untuk mengembangkan diri.

    “Ini layak diteladani dan dijadikan referensi oleh tiap-tiap anak muda, baik yang jomblo dan sedang mencari jodoh, maupun bagi pasangan-pasangan muda yang akan membangun bahtera rumah tangga. Tentang kisah keluarga Pak Ganjar,” katanya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Aktivis Lingkungan: Musuh Alam Sebenarnya adalah Manusia

    Aktivis Lingkungan: Musuh Alam Sebenarnya adalah Manusia

    7cloud.asia – Manusia yang masih memiliki mental merusak adalah musuh alam sebenarnya. Karena itu, hal yang paling utama adalah menata mental individu agar sadar lingkungan.

    Penjelasan ini disampaikan oleh Aktris dan aktivis lingkungan Prisia Nasution dalam diskusi dengan tema Ibu Kota Nusantara dan Investasi untuk Alam di acara Nusantara Fair, Jakarta.

    “Jadi di yayasan berpikir kita betulin dulu manusianya dulu supaya jangan merusak tapi kita justru memperbarui dan membantu jadi yang dibetulin diawal mentalnya dulu,” jelas Prisia seperti yang dilansir Antaranews.

    Menurut pemain film yang bergerak di NGO (non-government organization) bidang lingkungan dan hewan ini, manusia merupakan “musuh”.

    Tetapi hanya manusia sendiri yang dapat melakukan perubahan untuk memperbaiki alam.

    Baca: Ganjar Pranowo bertemu Emil Salim

    Untuk membentuk mental individu yang sadar akan lingkungan, yayasan Kopi Panas yang dibina Prisia juga kerap menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) untuk mengatasi kesehatan mentalnya.

    Tak hanya itu, ia juga mendukung perubahan kebiasaan bagi masyarakat yang melakukan kegiatan membagikan makanan untuk mengganti kemasan makanan yang lebih sustainable.

    Misalnya daun pisang daripada menggunakan plastik yang mencemari lingkungan.

    Pihaknya juga terus melakukan edukasi untuk menerapkan konsep green water atau hemat menggunakan air, green energy untuk menghemat penggunaan listrik elektrik.

    Selain itu, ia juga melakukan edukasi untuk green transportation dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan green consumption agar sampah limbah tidak berlebih.

    Baca: Aktivis lingkungan sesalkan debat cawapres tak bahas sampah

    “Kita juga harus aware apa yang dipakai, semoga gak jadi sampah limbah yang terlalu berlebih, jadi itu yang coba pelan-pelan dibangun,” ujarnya.

    Terkait dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengusung konsep keberlanjutan dan kota hijau, Prisia berharap ada edukasi tentang gaya hidup hijau (green living).

    Gaya hidup tersebut hendaknya mulai diterapkan dari hulu hingga hilir dan menjadi sebuah kebiasaan.

    Prisia berharap IKN tidak ikut tergerus dengan industri yang merusak lingkungan dan menjadikan hutan Indonesia tetap sebagai paru-paru dunia dan contoh untuk kota berkelanjutan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Riset: Kegiatan Sederhana Berbasis Alam Tingkatkan Kesehatan Mental Siswa.

    Riset: Kegiatan Sederhana Berbasis Alam Tingkatkan Kesehatan Mental Siswa.

    7cloud.asia – Hasil penelitian baru yang dilakukan oleh tim riset dari North Carolina State University menunjukkan bahwa kegiatan sederhana berbasis alam dapat meningkatkan kesehatan mental siswa.

    Kegiatan berbasis alam juga mengurangi stres, kecemasan, dan depresi di kalangan remaja.

    Antaranews.com melansir Medical Daily, menyebutkan bahwa menurut hasil penelitian tersebut, mengikuti sesi pengamatan burung selama 30 menit lima kali setiap pekan bisa meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan mental.

    Kegiatan alam ini disebutkan dalam laporan yang dilansir pada Senin (6/5/2024) juga disebut bisa mengurangi tekanan psikologis di kalangan mahasiswa.

    Baca Juga: Nikmati Sesi Slow Living di Alam Terbuka

    Tim peneliti juga mendapati aktivitas sederhana yang mudah dijalankan itu bisa memberikan kesejahteraan subjektif yang lebih baik dan mengurangi tekanan dibandingkan dengan bentuk-bentuk paparan alam yang lain, seperti berjalan-jalan di alam.

    “Ada banyak riset tentang kesejahteraan pada masa pandemi yang menunjukkan bahwa remaja dan mahasiswa yang paling kesulitan. Khususnya pelajar dan mahasiswa, tampaknya itu kelompok yang kesusahan dalam menjangkau alam dan mendapatkan manfaat tersebut,” kata Nils Peterson, salah satu penulis hasil studi dari North Carolina State University.

    “Pengamatan burung adalah salah satu cara yang paling umum dilakukan manusia untuk berinteraksi dengan satwa liar…, dan kampus menyediakan tempat untuk mengakses aktivitas tersebut bahkan di lingkungan perkotaan,” katanya.

    Dalam risetnya, para peneliti melibatkan 112 peserta siswa yang dibagi dalam tiga kelompok: kelompok kontrol, kelompok jalan-jalan di alam, dan kelompok mengamati burung yang ditugasi mengikuti lima sesi mengamati burung selama 30 menit.

    Baca Juga: 4 Langkah Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Mental

    Mereka kemudian dievaluasi menggunakan survei WHO-5, alat dengan lima pertanyaan untuk menilai kesejahteraan pada skala nol hingga lima berdasarkan perasaan selama dua minggu terakhir.

    Meskipun semua kelompok menunjukkan peningkatan skor WHO-5, kelompok pengamat burung yang memulai dengan skor lebih rendah berakhir mendapatkan skor lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.

    Dengan menggunakan daftar pertanyaan serupa untuk mengukur tekanan, para peneliti juga mendapati kegiatan yang bersentuhan dengan alam, khususnya pengamatan burung dan jalan-jalan di alam, dapat memicu penurunan tekanan psikologis.

    Hasil penelitian itu mendukung gagasan bahwa mengamati burung membantu meningkatkan kesehatan mental dan membuka banyak jalan untuk penelitian di masa depan.

    Baca Juga: Minimalisme Tak Hanya Menata Kekacauan Mental Tapi Menjadikan Hidup Dalam Kendali Anda

    Hal ini termasuk studi untuk mengetahui mengapa mengamati burung membantu orang merasa lebih baik.

  • Muncul Lubang Besar yang Menyerap Air Sungai hingga Kering di Blitar, Jawa Timur

    Muncul Lubang Besar yang Menyerap Air Sungai hingga Kering di Blitar, Jawa Timur

    7cloud.asia – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengirimkan tim khusus untuk menyelidiki fenomena munculnya lubang besar yang menyerap air aliran sungai hingga kering di Kabupaten Blitar, Jawa timur.

    “Besok (Jumat) siang kami berangkat ke lokasi untuk memastikan fenomena tersebut,” ujar Husna, Penyelidik Bumi, Pusat Air Tanah Badan Geologi Kementerian ESDM, dilansir Antaranews.com.

    Dia menjelaskan lubang tersebut berada di aliran Sungai Kalisat Tenggong di Dusun Kaliandong, Desa Dawuhan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

    Merujuk laporan dari BPBD Blitar diketahui lubang ini memiliki diameter sekitar 1,5 meter dan kedalaman diduga sekitar 10 meter dan telah menyerap air aliran sungai hingga mengering.

    Baca: Fenomena langka Komet A3 melintas di Indonesia

    Sementara berdasarkan analisis sederhana terhadap visual dan peta yang dimiliki oleh Badan Geologi, kata dia, diduga lubang tersebut terbentuk akibat proses pelarutan tanah yang berlangsung dalam jangka waktu lama.

    Ia menyebutkan hal ini kemungkinan terjadi karena adanya rongga atau gua di bawah aliran sungai (sink hole) yang sebelumnya tertutup oleh lapisan tanah.

    Namun seiring waktu, lapisan tersebut larut dan akhirnya menimbulkan lubang yang kini menyedot air sungai.

    “Jika melihat kondisi tanah di daerah tersebut yang dekat dengan lokasi tambang batu kapur, kemungkinan pelarutan terjadi pada lapisan kapur yang memang memiliki sifat mudah larut ketika terkena air,” kata dia.

    Baca: Fenomena Supermoon picu banjir rob

    Kendati demikian tim dari Badan Geologi masih perlu melakukan investigasi mendalam untuk memastikan potensi bahaya dari fenomena ini.

    Husna bersama sejumlah anggota timnya akan melakukan pemeriksaan langsung di lokasi guna memastikan apakah lubang tersebut berisiko bagi warga sekitar dan lingkungan.

    Pihaknya mengharapkan hasil dari penyelidikan dapat memberikan penjelasan lengkap mengenai penyebab munculnya lubang tersebut.

    Badan Geologi juga menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak yang lebih luas di daerah sekitar sungai.

  • Fenomena Hujan Jelly Kejutkan Warga Gorontalo Utara, Penyebabnya Belum Diketahui

    Fenomena Hujan Jelly Kejutkan Warga Gorontalo Utara, Penyebabnya Belum Diketahui

    7cloud.asia – Fenomena alam hujan berupa hujan seperti butiran jelly atau hujan jelly terjadi pada Sabtu (15/2/2025) malam sekitar pukul 20.00 waktu Indonesia tengah (WITa) di Gorontalo.

    Hujan jelly ini kontan membuat heboh warga di Desa Leyao Kecamatan Tomilito Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, seperti dilansir Antaranews.com.

    Tak seperti lazimnya hujan yang berupa butiran air, hujan jelly tadi malam nampak lembek dan butirannya terasa lembut seperti agar-agar

    Meski penasaran dengan fenomena alam hujan jelly ini, warga memilih menghindar agar tidak terkena langsung.

    Warga setempat, Ewan Saputra mengatakan bahwa dirinya bersama warga lainnya kaget dengan peristiwa alam yang terjadi di Dusun Ato Atas Desa Leyao tersebut.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

    Fenomena itu baru disadari warga setelah beberapa saat hujan turun, sebab yang justru nampak di permukaan tanah adalah butiran jelly atau seperti agar-agar yang memenuhi pekarangan rumah dan jalan.

    Beberapa warga yang mengamati peristiwa itu merekam momen hujan jelly tersebut karena merasa baru pertama kali melihat kejadian itu.

    “Ada yang sibuk mengambil wadah untuk menampung hujan jelly, sebagian warga memilih mengabadikan momen yang tidak pernah terjadi di desa tersebut,” katanya.

    Hujan jelly di desa itu terjadi sekitar 30 menit dan warga merasakan hujan yang turun cukup deras.

    Baca: Mengenal Nepenthes si tumbuhan pemakan serangga

    “Belum diketahui apakah butiran jelly memenuhi seluruh desa atau hanya terjadi di satu lokasi di dusun tersebut, mengingat peristiwa langka ini terjadi malam hari,” katanya.

    Fenomena hujan jelly ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1940-an di Amerika Serikat, dan setelah itu telah dilaporkan di beberapa negara lainnya, termasuk Australia, Kanada, dan Eropa.

    Butiran-butiran jelly yang jatuh dari langit ini biasanya berwarna putih atau transparan, dan memiliki tekstur yang lembut dan licin.

    Butitan hujan menyerupai jelly ini berukuran mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter.

    Penyebab fenomena hujan jelly masih belum sepenuhnya dipahami. Beberapa ilmuwan percaya bahwa butiran-butiran jelly ini mungkin terbentuk dari kombinasi antara awan dan mikroorganisme yang ada di atmosfer.

  • ‘Sinkhole’ Fenomena Alam yang Jamak Terjadi dan Bisa Membesar Hingga Jadi Danau

    ‘Sinkhole’ Fenomena Alam yang Jamak Terjadi dan Bisa Membesar Hingga Jadi Danau

    7cloud.asia – Awal 2026, masyarakat Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dikejutkan dengan fenomena tanah yang tiba-tiba amblas (sinkhole) di tengah hamparan sawah sekitar lereng Gunung Sago.

    Pada mulanya, lubang itu hanya berdiameter kecil. Namun seiring waktu, ukurannya terus melebar dan semakin dalam—hingga mencapai lebar sekitar 7 meter dengan kedalaman 5 meter di bawah permukaan tanah.

    Air yang menggenang dari dasar lubang sinkhole pun perlahan naik ke permukaan tanah setelah seminggu.

    Sinkhole umumnya terjadi di wilayah karst atau bukit berkapur akibat adanya pelarutan kapur secara alami atau karena hujan asam. Namun, dalam kasus di Sumatra Barat tersebut, sinkhole terjadi di sekitar gunung berapi atau vulkanis.

    Mengapa sinkhole bisa terjadi di kawasan vulkanis?
    Di daerah vulkanis, sinkhole bisa terbentuk akibat pengikisan material tanah di bawah permukaan oleh aliran air dari dalam.

    Tanah vulkanis berasal dari material letusan gunung api (abu, tuf, breksi) yang berpori dan rapuh, sehingga air hujan mudah meresap dan mengalir ke dalam tanah.

    Air tersebut lantas menggerus dan membawa butiran tanah halus sedikit demi sedikit. Proses ini disebut piping, yang membentuk rongga kosong nan tersembunyi di bawah tanah dan terus membesar dari waktu ke waktu.

    Tanda awalnya, muncul retakan halus hingga penurunan sedikit demi sedikit muka tanah. Seiring berkurangnya daya dukung lapisan bawah, lama kelamaan bagian atas rongga semakin menipis.

    Baca: Mengenal fenomena titik balik matahari

    Saat lapisan atas sudah tidak lagi mampu menahan beban tanah dan air di atasnya, tanah runtuh mendadak, membentuk lubang besar. Hal ini sering terjadi setelah hujan deras yang berlangsung lama.

    Sinkhole di Sumbar
    Kejadian sinkhole di sekitar lereng Gunung Sago tidak bisa dianggap sepele. Wilayah ini memiliki kombinasi “sempurna” untuk memicu runtuhan tanah:

    Faktor itu adalah curah hujan tinggi, bentang alam perbukitan curam, serta kondisi geologi yang rapuh karena kombinasi batuan karst dan vulkanis yang luas.

    Jika air hujan terus masuk ke dalam lubang, rongga semakin melebar. Akibatnya, tepi sinkhole bisa runtuh perlahan dan lubang semakin melebar dari tahun ke tahun.

    Dalam kondisi tertentu, jika sinkhole sudah cukup besar dan bagian dasarnya tertutup lapisan kedap air, maka air hujan tidak bisa lagi meresap ke bawah dan akan tertahan di dalam lubang.

    Lama-kelamaan, genangan ini bisa berkembang menjadi danau alami yang disebut danau dolina. Di berbagai negara seperti China dan kawasan Balkan, banyak danau yang muasalnya terbentuk dari sinkhole.

    Ukuran sinkhole sangat bervariasi—tergantung jenis batuan, sistem air bawah tanah, serta sejarah bentang alam suatu wilayah.

    Sinkhole terbesar ditemukan di Cina (lebar 500 meter dan kedalaman 600 meter), Chili (25 dan 200 meter), Venezuela (352 dan 354 m), dan Bali (30 dan 50 meter).

    Baca: Mengenal fenomena gerhana bulan “blood moon”

    Sinkhole sejatinya merupakan proses geologi yang wajar dalam perkembangan bentang alam. Namun, ketika terjadi di dekat permukiman manusia, sinkhole menjadi ancaman serius karena bisa merusak lahan pertanian, kebun, dan infrastruktur.

    Selain kerusakan di permukaan, sinkhole juga mengganggu sistem air tanah. Aliran sungai bawah tanah bisa berubah arah dan menyebabkan sumur warga tiba-tiba mengering atau malah meluap saat musim hujan.

    Air sinkhole tidak aman dikonsumsi
    Sejak kemunculan sinkhole, warga Situjuah Batua berbondong-bondong mengambil airnya, karena bersih dan muncul rumor bahwa airnya berkhasiat.

    Secara kasat mata, air di sinkhole memang tampak jernih. Namun kejernihan ini sebenarnya menipu. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

    Sinkhole ibarat corong raksasa yang menghubungkan permukaan tanah langsung ke sistem air tanah.

    Semua yang ada di permukaan bisa masuk tanpa penyaringan, termasuk limbah rumah tangga, nitrat, kalsium dan magnesium yang tinggi, kotoran ternak, residu pupuk, hingga logam berat dari pestisida.

    Berbeda dengan akuifer biasa yang terlindungi lapisan tanah tebal, sistem karst bersifat terbuka. Setelah hujan lebat, air bisa langsung keruh dan membawa bakteri seperti E. coli.

    Baca: Mengenal fenomena bulan “Hunter Moon”

    Penulis juga pernah mengalami gangguan kesehatan setelah meminum air yang bersumber dari daerah karst. Setelah 2-3 bulan, pemeriksaan laboratorium mendapati adanya microcrystalline calcium atau kristal mineral di ginjal penulis.

    Ini disebabkan air dari akuifer karst mengandung mineral yang cukup tinggi sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan ginjal jika dikonsumsi.

    Air yang ada di sinkhole Nagari Situjuah Batua mempunyai risiko yang sama walaupun bukan berasal dari karst. Air sinkhole kemungkinan besar terkontaminasi dengan berbagai aktivitas pertanian.

    Inilah sebabnya air dari sinkhole sebaiknya tidak diminum langsung tanpa pengolahan. Konsumsi jangka panjang tanpa pengolahan bisa berdampak pada gangguan pencernaan, risiko batu ginjal, hingga merusak gigi.

    Deteksi sinkhole
    Sinkhole sebenarnya bisa kita deteksi lebih awal, meskipun tidak selalu mudah dan membutuhkan kombinasi pengamatan lapangan serta teknologi geofisika.

    Tanda-tanda sederhananya adalah muncul retakan kecil di tanah dan dinding rumah, halaman turun perlahan, condongnya pohon, hingga mengeringnya sumur secara tiba-tiba.

    Di sinilah peranan ilmu pengetahuan sebagai alat pembaca tanda-tanda tersebut. Dengan teknologi seperti radar tembus tanah, metode geolistrik, dan pemetaan geologi, para peneliti bisa “mengintip” perut bumi tanpa harus menggalinya. Data hujan dan dinamika air tanah bisa melengkapi analisis.

    Kita memang tidak bisa meramalkan kapan waktu pasti runtuhnya tanah, tetapi mengenali tanda-tandanya bisa memperkecil risiko. Sebab, mitigasi sejati bukan menunggu bencana datang, melainkan belajar memahami isyarat alam sebelum ia berbicara lebih keras.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dian Fiantis (Professor of Soil Science, Universitas Andalas Padang)

  • Ketahanan Ekologis Dimulai dari Rumah, Peran Perempuan Disorot

    Ketahanan Ekologis Dimulai dari Rumah, Peran Perempuan Disorot

    7cloud.asia – Perempuan memegang peranan penting dalam menjaga lingkungan. Salah satu contohnya adalah seorang ibu mendidik anaknya bagaimana menjaga lingkungan agar tetap lestari.

    Hal ini diungkapkan oleh Direktur Teknik Konservasi Tanah dan Reklamasi Hutan Kementerian Kehutanan RI, Sri Handayaningsih dalam Forum Nasional Perempuan Indonesia beberapa hari yang lalu.

    Dia menjelaskan peran ibu sebagai ‘madrasah’ pertama bagi anak-anaknya sebelum si anak duduk di bangku sekolah.

    Baca: Ketimpangan Geder Disebut Akar Krisis Iklim

    “Ketahanan ekologis menjadi fondasi penting masa depan bangsa. Perempuan memiliki posisi strategis karena terlibat langsung dalam pengelolaan pangan keluarga, air, energi rumah tangga, hingga ekonomi berbasis masyarakat,” jelas Sri dalam forum yang digelar di kantornya tersebut.

    Perempuan, lanjut Sri,  memiliki kontribusi nyata dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), rehabilitasi hutan dan lahan.

    Perempuan juga berperan dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti kopi, madu, minyak atsiri, rotan, dan serat alam yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat tanpa merusak kelestarian hutan.

    Baca: Koalisi Perempuan Indonesia Sebut Perempuan Masih Tersisih

    Sri juga mengajak masyarakat menjaga DAS sebagai penopang utama kehidupan dan keberlanjutan lingkungan.

    “Semua daratan terbagi dalam DAS. Karena itu menjaga DAS berarti menjaga keberlangsungan seluruh sektor kehidupan,” tegasnya.

    Pada kesempatan itu, Sri menjelaskan isu kehutanan dan lingkungan hidup memiliki hubungan erat dengan agenda pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

    Khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan, energi, air, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.

     

  • Regenerasi Lingkungan Jadi Agenda Mendesak Hadapi Krisis Iklim

    Regenerasi Lingkungan Jadi Agenda Mendesak Hadapi Krisis Iklim

    7cloud.asia – Upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan pendekatan konservasi atau pengurangan dampak negatif.

    Berbagai sektor kini didorong bergerak menuju pendekatan regeneratif yang berorientasi pada pemulihan ekosistem, penguatan masyarakat, dan pemanfaatan sumber daya secara lebih bijak.

    Isu tersebut mengemuka dalam agenda Path to Sustainable Growth 2026 yang akan digelar di The Apurva Kempinski Bali pada 24 Juni mendatang.

    Baca: Krisis Iklim Mengancam Kehidupan Generasi Mendatang

    Dengan mengangkat tema “Regenerasi untuk Masa Depan”, forum ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan tekanan terhadap sumber daya alam.

    Pendekatan regeneratif dinilai semakin relevan karena persoalan keberlanjutan tidak dapat diselesaikan secara parsial.

    Sektor pariwisata, pertanian, pendidikan, keuangan hingga ekonomi kreatif memiliki keterkaitan langsung terhadap upaya menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

     Baca: Solusi Iklim Membutuhkan Perubahan Struktural

    Director of Hygiene, Safety and Sustainability The Apurva Kempinski Bali, Desak Intan menjelaskan bahwa tema Regenerate the Future dipilih karena konsep keberlanjutan tidak hanya mempertahankan kondisi yang ada, tetapi juga memperbaiki sesuatu yang telah mengalami kerusakan.

    “Nah kalau sesuatu yang sudah rusak tidak mungkin kita bisa maintain. Jadi regenerative itu lebih bagaimana cara kita membuat sesuatu menjadi lebih baik untuk future generation,” jelas Desak Intan.

    Forum tersebut mengangkat empat pilar utama, yakni daur ulang, pembaruan kehidupan, regenerasi, dan pengelolaan sumber daya secara bijak.

     Baca: Anak Muda Bicara Lingkungan dan Keadilan Ekologis

    Keempat aspek itu dipandang sebagai fondasi untuk mendorong transformasi dari sekadar mengurangi kerusakan menuju upaya memulihkan kondisi lingkungan yang telah terdegradasi.

    Selain diskusi kebijakan, perhatian juga diarahkan pada lahirnya inovasi keberlanjutan dari kalangan generasi muda. Melalui program inkubasi dan pendampingan selama delapan minggu, mahasiswa dan startup tahap awal akan didorong mengembangkan solusi yang menghubungkan inovasi berkelanjutan dengan praktik regeneratif.

     Baca: Yuk, Kencangkan Suara untuk Pelestarian Lingkungan

    Langkah tersebut menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan membutuhkan keterlibatan lebih luas, tidak hanya pemerintah dan pelaku industri, tetapi juga kalangan akademisi, komunitas, serta generasi muda.

    Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, pendekatan regeneratif dinilai menjadi salah satu jalan untuk memastikan pembangunan tidak dilakukan dengan mengorbankan daya dukung lingkungan bagi generasi mendatang.