Tag: alga

  • BIQ House: Bangunan Bertenaga Alga Pertama di Dunia

    BIQ House: Bangunan Bertenaga Alga Pertama di Dunia

    7cloud.asia – Gedung Bio Intelligent Quotient atau BIQ House merupakan bangunan bertenaga alga pertama di dunia yang terletak di Hamburg, Jerman.

    Bangunan hunian empat lantai ini diluncurkan sebagai bagian dari Pameran Bangunan Internasional 2013 dan terdiri dari 15 hunian. BIQ House adalah bangunan pertama di dunia yang memiliki fasad bioreaktor.

    Peluncuran BIQ House bertujuan untuk menguji fasad ‘bio-adaptif’ pertama di dunia, yang menggunakan mikroalga untuk menaungi bangunan sekaligus menghasilkan energi.

    Dilansir info.cecr.in, struktur BIQ House menampilkan fasad (tampak muka bangunan) dari alga bio-adaptif yang mampu menyerap karbon dan mengubah sinar matahari jadi energi.

    BIQ House dibangun oleh firma desain internasional Arup bekerja sama dengan SSC Strategic Science Consultants dari Jerman dan Splitterwerk Architects dari Austria.

    Arup adalah firma desain dan teknik yang berada di belakang kehadiran dua karya monumental arsiter dunia yakni Center Pompidou (Paris, Prancis) dan Sydney Opera House (Sydney, Australia).

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan

    Gedung apartemen ini dirancang sebagai bagian dari gerakan Eropa untuk mendesain struktur yang netral karbon, mandiri, dan bertenaga energi terbarukan.

    BIQ House sebagian besar didanai oleh pemerintah Jerman untuk mendorong pengembangan material konstruksi adaptif dan cerdas yang baru. Alga dipilih karena dari semua teknologi yang dipamerkan, tenaga alga dinilai memiliki reputasi terbaik dan potensi terbesar.

    Warna hijau pada fasad, yang disebut SolarLeaf, menunjukkan bahwa alga menguraikan karbon dioksida dan memprosesnya melalui fotosintesis.

    Bentuk produksi energi terbarukan ini, dengan demikian, terlihat dari luar bangunan, dan merupakan bagian yang disengaja dari konsep arsitektur.

    BIQ House menangkap semua energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik dan panas dari matahari, sehingga bangunan ini sama sekali bebas dari penggunaan bahan bakar fosil.

    Bioreaktor tidak hanya menghasilkan biomassa yang kemudian dapat dipanen, tetapi juga menangkap panas termal matahari – dan kedua sumber energi tersebut dapat digunakan untuk memberi daya pada bangunan.

    Baca: Manfaat bangunan hijau untuk lingkungan dan kota

    Ini berarti bahwa fotosintesis mendorong respons dinamis terhadap jumlah naungan matahari yang dibutuhkan, sementara mikroalga yang tumbuh di kisi-kisi kaca menyediakan sumber energi terbarukan yang bersih.

    Bioreaktor ini juga membantu mengisolasi bangunan dan meredam kebisingan. Jantung sistem ini adalah pusat manajemen energi yang sepenuhnya otomatis, yang mengontrol setiap reaktor.

    Di sini, panas termal matahari dan alga dipanen dalam siklus tertutup untuk disimpan dan reaktor diarahkan ke matahari.

    Panas berlebih dari sinar matahari yang tidak digunakan oleh alga, digunakan langsung untuk pemanas air tenaga surya atau disimpan dalam tangki di bawah bangunan untuk digunakan kemudian.

    Ketika alga mencapai tingkat pertumbuhan tertentu, sebagian alga dipanen dan dibawa ke dalam bangunan untuk diproses, di mana biomassa diubah menjadi biogas yang dapat dibakar untuk menyediakan panas di musim dingin dan listrik.

    Karbon dioksida dari pembakaran biogas kemudian digunakan untuk memberi makan alga. Fasad ini adalah yang pertama di dunia dan menggunakan teknologi energi dan lingkungan terkini.

    References
    https://pocacito.eu/sites/default/files/BIQhouse_Hamburg.pdf
    https://www.arup.com/projects/solar-leaf

    Baca: Emisi dari sektor konstruksi global berhasil ditekan 

  • Pemanfaatan Alga Membuat Bangunan Ini Benar-benar Nol Emisi

    Pemanfaatan Alga Membuat Bangunan Ini Benar-benar Nol Emisi

    7cloud.asia – Gedung Bio Intelligent Quotient atau BIQ House merupakan contoh nyata hasil inovasi untuk menghasilkan bangunan yang ramah lingkungan.

    Bangunan apartemen di Hamburg, Jerman yang resmi dioperasikan pada 2013 ini sepenuhnya menggunakan energi yang dihasilkan alga. Ini merupakan yang pertama di dunia.

    Dilansir info.cecr.in, struktur BIQ House menampilkan fasad (tampak muka bangunan) dari tabung alga bio-adaptif.

    BIQ House dibangun oleh firma desain internasional Arup bekerja sama dengan SSC Strategic Science Consultants dari Jerman dan Splitterwerk Architects dari Austria.

    Warna hijau pada fasad, yang disebut SolarLeaf, menunjukkan bahwa alga menguraikan karbon dioksida dan memprosesnya melalui fotosintesis.

    Bentuk produksi energi terbarukan ini, dengan demikian, terlihat dari luar bangunan, dan merupakan bagian yang disengaja dari konsep arsitektur.

    Baca: BIQ House, bangunan bertenaga alga pertama di dunia

    Fasad inovatif ini berkontribusi pada pengurangan dan penyerapan 2,5 ton karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan bangunan setiap tahunnya.

    Konsep energi berkelanjutan yang luar biasa ini mampu menciptakan siklus energi panas matahari, energi panas bumi, boiler kondensasi, panas lokal, dan penangkapan biomassa menggunakan fasad bioreaktor.

    BIQ House menyediakan pilihan ‘hidup sesuai kebutuhan’, di mana fungsi-fungsi individual apartemen dapat dipertukarkan atau digabungkan untuk membentuk ‘zona netral’.

    Konsep hunian inovatif ini bertujuan untuk memastikan fleksibilitas desain maksimal untuk kehidupan sehari-hari dan memberikan gambaran sekilas tentang kehidupan perkotaan di masa depan.

    Dengan konsep hunian inovatifnya, eksterior futuristik, dan fasad alga “cerdas”, BIQ Haouse merupakan sorotan dari ‘Pameran Bangunan di dalam Pameran Bangunan’.

    Bangunan BIQ House sekaligus menunjukkan bahwa di masa depan fasad akan mampu melayani sejumlah fungsi berbeda dan menjadi lebih dari sekadar pelapis estetika untuk melindungi dari hujan dan dingin.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi nyata untuk kota yang berkelanjutan

    BIQ House menangkap semua energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik dan panas dari matahari, sehingga bangunan ini sama sekali bebas dari penggunaan bahan bakar fosil.

    Bioreaktor tidak hanya menghasilkan biomassa yang kemudian dapat dipanen, tetapi juga menangkap panas termal matahari – dan kedua sumber energi tersebut dapat digunakan untuk memberi daya pada bangunan.

    Ini berarti bahwa fotosintesis mendorong respons dinamis terhadap jumlah naungan matahari yang dibutuhkan, sementara mikroalga yang tumbuh di kisi-kisi kaca menyediakan sumber energi terbarukan yang bersih.

    Bioreaktor ini juga membantu mengisolasi bangunan dan meredam kebisingan. Jantung sistem ini adalah pusat manajemen energi yang sepenuhnya otomatis, yang mengontrol setiap reaktor.

    Di sini, panas termal matahari dan alga dipanen dalam siklus tertutup untuk disimpan dan reaktor diarahkan ke matahari.

  • Mengenal Mikroalga yang Berpotensi Sebagai Sumber Pangan Dunia

    7cloud.asia – Di tengah krisis iklim yang sudah di depan mata, alga –baik makroalga maupun mikroalga– makin dilirik sebagai salah satu sumber pangan dunia di masa depan.

    Alga hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran, tapi saat ini hanya sedikit yang sudah diidentifikasi, sekalipun oleh para ahli.

    Banyak spesies alga yang semakin penting sebagai organisme untuk masa depan, terutama mikroalga. Ke depan, mikroalga memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pangan dunia.

    Artikel yang kami kutip dari eufic.org ini, menjelaskan apa itu mikroalga, memperkenalkan beberapa spesies mikroalga yang dapat dimakan, dan menjelaskan mengapa kita mungkin tertarik untuk mengonsumsi lebih banyak mikroalga.

    Apa itu mikroalga dan jenis apa yang paling umum? Spesies alga termasuk dalam salah satu dari dua kategori: makroalga, seperti rumput laut, dan mikroalga.

    Baca: Potensi mikroalga masih terabaikan

    Mikroalga biasanya terbuat dari satu sel tunggal, atau sejumlah kecil sel yang disatukan dalam struktur yang sangat sederhana yang dapat dengan cepat tumbuh dan berkembang biak menjadi biomassa besar yang kaya nutrisi.

    Anda mungkin pernah mendengar tentang Chlorella dan Spirulina. Keduanya adalah spesies mikroalga. Spesies berwarna biru-hijau ini termasuk di antara spesies kehidupan tertua di planet ini.

    Chlorella berasal dari Taiwan dan Jepang, sedangkan Spirulina ditemukan di Afrika dan Asia. Tidak hanya aman dikonsumsi, keduanya juga dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.

    Selain Chlorella dan Spirulina, terdapat lebih dari 50.000 jenis spesies mikroalga yang berbeda. Semuanya melimpah di alam, dan ditemukan baik di air tawar maupun air asin, seperti di danau, sungai, dan laut.

    Mikroalga dapat tumbuh di berbagai lingkungan, dan mentolerir berbagai suhu dan kondisi, dari Laut Mati yang asin hingga Arktik dan Antartika yang dingin.

    Baca: Pemanfaatan mikroalga untuk mitigasi perubahan iklim

    Mikroalga dalam makanan kita
    Makroalga sudah umum dikonsumsi di banyak bagian dunia. Rumput laut, misalnya, telah menjadi bahan pokok selama ribuan tahun dalam masakan Asia, khususnya di Jepang, Korea, dan Cina.

    Rumput laut kaya akan nutrisi, dan konsumsi rutin telah dikaitkan dengan kesehatan jantung, kesehatan usus dan sistem kekebalan tubuh yang sehat.

    Salah satu alga yang paling populer adalah nori, yang digunakan dalam sushi. Nori merupakan sumber yodium yang kaya, yang merupakan nutrisi penting dalam produksi hormon tiroid dan memengaruhi metabolisme kita secara keseluruhan.

    Namun, spesies makroalga tertentu, seperti kelp, yang merupakan salah satu spesies rumput laut terbesar, mungkin mengandung kadar nutrisi ini yang tinggi. Jumlah yodium yang berlebihan dapat meningkatkan risiko efek kesehatan negatif yang terkait dengan tiroid.

    Mikroalga sebagai sumber pangan mungkin masih kurang umum, tetapi mikroalga yang dianggap aman untuk dikonsumsi menjadi pesaing kuat dalam upaya menemukan alternatif protein yang berkelanjutan dan bergizi untuk memberi makan populasi global kita yang terus meningkat.

    Baca: Pemanfaatan mikroalga sianobakteria untuk perbaiki kesuburan tanah

    Mikroalga merupakan alternatif yang lebih ramah lingkungan daripada protein hewani, karena membutuhkan lahan dan air tawar yang jauh lebih sedikit untuk diproduksi daripada protein hewani.

    Mikroalga juga merupakan sumber vitamin A, B, C, dan B12 yang kaya. Mikroalga juga mengandung yodium, tetapi lebih sedikit daripada makroalga.

    Beberapa spesies dapat meningkatkan kandungan protein pada makanan populer, seperti Spirulina, yang dapat ditambahkan ke adonan roti dan krim sayuran, seperti yang ditunjukkan di sini oleh proyek ProFuture.

    Selain menawarkan sumber protein dan serat yang berkelanjutan, mikroalga juga merupakan sumber lemak sehat, termasuk asam lemak omega-3 dan omega-6.

    Asam lemak omega-3 dan omega-6 adalah asam lemak esensial, artinya tubuh manusia tidak dapat memproduksinya sendiri. Oleh karena itu, asupan kita harus berasal dari makanan yang kita konsumsi. Ikan dapat menjadi salah satu sumber asam lemak esensial ini.

    Namun, karena biaya penangkapan yang meningkat dan kekhawatiran yang semakin besar tentang keberlanjutannya, mikroalga dipandang sebagai sumber alternatif potensial untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang semula disuplai ikan ini.

    Referensi: https://www.eufic.org/en/food-production/article/microalgae-what-are-they-and-how-to-grow-and-use-them