Tag: anak-anak

  • UNICEF: Anak-anak di Jalur Gaza Kena Dampak Serius Akibat Perang Israel

    UNICEF: Anak-anak di Jalur Gaza Kena Dampak Serius Akibat Perang Israel

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Anak-anak (UNICEF), Catherine Russell, kembali memperingatkan komunitas internasional tentang dampak perang Israel yang serius terhadap anak-anak di Jalur Gaza.

    Ia mengatakan bahwa anak-anak di Gaza menderita malnutrisi akut dan berada di ambang kematian.

    Melalui akun media sosial X miliknya, Russell, mengaku terkejut atas laporan sehari sebelumnya yang menyebutkan sekitar 10 anak meninggal akibat malnutrisi di Gaza.

    “Hal baru yang mengerikan di Gaza bahwa hingga kini sedikitnya sepuluh anak meninggal karena kekurangan gizi dan dehidrasi, sementara masih banyak anak lainnya yang berada di ambang kematian”, tulisnya.

    Baca: Genosida di Jalur Gaza akan terus berlanjut jika tak ada gencatan senjata

    Dia menambahkan bahwa 1 dari 6 anak di bawah usia dua tahun di Gaza utara mengalami malnutrisi akut.

    Russell menyerukan “gencatan senjata sekarang”, dengan alasan bahwa “setiap menit berarti” bagi anak-anak di Gaza yang menghadapi malnutrisi “mematikan”.

    Menurutnya, keterlambatan satu menit dalam mengakses makanan, air, perawatan medis dan perlindungan dari peluru dan bom Israel bagi anak-anak Palestina di Gaza akan menimbulkan imbas yang mengerikan.

    Baca: Lebih dari 17 ribu anak hidup tanpa pendamping

    “Semua ini tak mungkin terjadi tanpa adanya gencatan senjata kemanusiaan di Gaza,” kata ketua UNICEF tersebut yang juga pernah menyebut Gaza sebagai “tempat paling berbahaya di dunia bagi anak-anak.”

    Para pejabat UNICEF telah mengeluarkan banyak peringatan sejak awal perang Israel di Gaza yang telah membunuh sebagian besar anak-anak dan perempuan.

    Salah satu pejabat UNICEF baru-baru ini mengatakan bahwa anak-anak di Gaza berkali-kali terpaksa menghindari pemboman Israel selama beberapa bulan terakhir dan mereka hanya makan sehari sehari.

    Sumber: IRNA-OANA

  • Nasib Anak-anak di Gaza: Meninggal karena Peluru Tentara Israel atau Kelaparan

    Nasib Anak-anak di Gaza: Meninggal karena Peluru Tentara Israel atau Kelaparan

    7cloud.asia – Di Gaza yang dikoyak perang, bom-bom Israel bukan satu-satunya ancaman yang bisa menewaskan anak-anak. Sekarang, sebagian dari anak-anak di sana sekarat karena kelaparan akut.

    Sejumlah pejabat telah memperingatkan selama berbulan-bulan bahwa pengepungan dan serangan Israel ke Gaza telah menyebabkan wilayah Palestina itu mengalami kelaparan.

    Kelaparan paling parah terjadi di Gaza utara karena isolasi oleh pasukan Israel telah memutus pasokan makanan untuk waktu yang lama.

    Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan setidaknya 20 orang meninggal karena kekurangan gizi dan dehidrasi di rumah sakit Kamal Adwan dan Shifa di wilayah utara.

    Sebagian besar korban tewas adalah anak-anak – termasuk mereka yang berusia 15 tahun – serta pria berusia 72 tahun.

    Baca: Hanya gencatan senjata yang bisa hentikan genosida di Gaza

    Anak-anak yang rentan juga mulai menderita di wilayah selatan, meski suplai bantuan di wilayah tersebut dapat dilakukan lebih teratur.

    VOA Indonesia mengutip The Associated Press menyebut, di Rumah Sakit Emirat di Rafah, 16 bayi prematur meninggal karena kekurangan gizi selama lima minggu terakhir.

    “Kematian anak-anak yang kami khawatirkan akhirnya menjadi kenyataan,” kata Adele Khodr, Ketua UNICEF untuk Timur Tengah, dalam sebuah pernyataan awal pekan ini.

    Pengeboman dan serangan darat Israel menelan banyak korban jiwa di kalangan anak-anak, dan juga perempuan. Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan hampir tiga perempat dari lebih dari 30.800 warga Palestina yang terbunuh adalah perempuan.

    Malnutrisi umumnya berlangsung perlahan dan bisa menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak dan orang tua.

    Baca: PM Palestina mengundurkan diri

    Namun, ada faktor-faktor lain yang turut memperburuk situasi ini. Misalnya, ibu yang kekurangan gizi akan kesulitan memberikan ASI kepada anaknya.

    Menurut Anuradha Narayan, ahli nutrisi anak dari Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), penyakit diare yang sering terjadi di Gaza karena kurangnya akses air bersih dan sanitasi, mengakibatkan banyak orang sulit menyerap kalori yang mereka konsumsi.

    Malnutrisi juga melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko kematian akibat penyakit lain.

    Israel menutup akses terhadap sebagian besar pasokan makanan, air, obat-obatan dan pasokan lainnya setelah melancarkan serangan ke Gaza, menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel selatan.

    Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan Hamas dilaporkan juga telah menyandera sekitar 250 orang. 

    Baca: Dekati ramadhan kesepakatan gencatan senjata belum juga tercapai, Hamas jadi kunci

    Pemerintah Israel hanya mengizinkan sedikit truk bantuan melewati dua penyeberangan di wilayah selatan.

    Israel menyalahkan lembaga-lembaga PBB atas meningkatnya kelaparan di Gaza, dengan menuding bahwa mereka tidak berhasil mendistribusikan pasokan yang menumpuk di penyeberangan Gaza.

    UNRWA, badan PBB terbesar di Gaza, menyatakan bahwa Israel membatasi beberapa barang dan melakukan pemeriksaan yang rumit, yang memperlambat proses masuknya barang-barang tersebut.

    Selain itu, distribusi di Gaza juga terhambat, para pejabat PBB mengatakan konvoi sering ditolak oleh pasukan Israel, militer sering menolak jalur aman di tengah pertempuran.

    Tidak jarang bantuan dirampas dari truk oleh warga Palestina yang kelaparan dalam perjalanan ke titik pengantaran.

    Baca: Israel diingatkan punya tanggung jawab lindungi warga Gaza

    Sumber: VOA Indonesia

     

     

  • Batas Ideal bagi Anak Miliki Akun Media Sosial adalah 13 Tahun, Begini Penjelasan Pakar

    Batas Ideal bagi Anak Miliki Akun Media Sosial adalah 13 Tahun, Begini Penjelasan Pakar

    7cloud.asia – Anak-anak perlu memiliki batas usia minimal untuk memiliki akun media sosial guna mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan

    Adapun, Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi menyarankan batas minimal anak boleh memiliki akun media sosial adalah 13 tahun.

    “Untuk masuk media sosial itu harus punya email kan? Saran saya batasnya (minimal) 13 tahun,” kata Vera, di Jakarta, Selasa (10/12/2024) dilansir dari antaranews.com.

    Vera mengatakan, media sosial (medsos) menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja di era digital saat ini.

    Namun, banyaknya konten yang tersedia di dunia maya menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap perkembangan psikologis anak.

    Baca: Australia sahkan larang anak di bawah 16 tahun mengakses Media Sosial

    Vera menilai sangat penting untuk menetapkan batas usia minimal 13 tahun bagi anak untuk mulai mengenal dan menggunakan media sosial.

    Hal ini sejalan dengan ketentuan yang diterapkan oleh banyak platform media sosial, yang mengharuskan penggunanya memiliki alamat email dan berusia minimal 13 tahun untuk membuat akun.

    Ia juga menyoroti adanya negara seperti Australia yang menerapkan kebijakan lebih ketat dengan menetapkan batas usia 16 tahun untuk akses media sosial.

    “Saya pribadi setuju dengan batas usia 16 tahun, karena pada usia tersebut, anak-anak lebih matang dalam menghadapi berbagai dampak negatif dari dunia maya,” ujarnya.

    Baca: Respon raksasa teknologi terhadap pembatasan media sosial

    Lebih lanjut Vera menyampaikan sejumlah dampak negatif yang dapat dialami oleh anak-anak yang terlalu dini terpapar media sosial.

    Adapun beberapa masalah yang muncul antara lain perilaku kasar, keterpaparan pada konten berbau seksualitas, bahkan depresi dan kecemasan.

    “Ada juga kasus di mana anak menemukan tutorial tentang bunuh diri di media sosial, yang tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan mental mereka,” kata Vera.

    Ia mengungkapkan, anak-anak yang belum cukup matang untuk membedakan mana yang baik dan buruk di dunia maya cenderung lebih rentan terhadap tekanan sosial, komentar negatif, dan konten yang tidak sesuai dengan usia mereka.

    Baca: Media sosial bisa memicu pembelian impulsif

    Oleh karena itu, psikolog tersebut menekankan pentingnya pendampingan dari orang tua atau pengasuh untuk memastikan bahwa anak hanya mengakses konten yang sesuai dengan usia mereka.

    Banyak platform media sosial yang menyediakan pengaturan usia untuk membatasi jenis konten yang bisa diakses.

    Dengan batas usia minimal yang tepat disertai dengan pendampingan yang baik, Vera berharap dapat membantu anak-anak menjalani kehidupan digital dengan lebih sehat dan aman, tanpa terpapar risiko psikologis yang dapat merugikan.

    “Usia berapa dia boleh lihat ya tergantung di rating usia di media sosialnya kan ada tuh masing-masing usia berapa. Tapi tentu saja kita butuh dampingi, butuh dipilihkan yang dikonsumsi konten apa saja,” katanya.

  • Komdigi Kaji aturan Pembatasan Penggunaan Media Sosial pada Anak-anak

    Komdigi Kaji aturan Pembatasan Penggunaan Media Sosial pada Anak-anak

    7cloud.asia – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang mengkaji kemungkinan menerapkan aturan pembatasan penggunaan media sosial untuk anak-anak.

    Menkomdigi Meutya Hafid mengatakan, aturan pembatasan penggunaan media sosial dibutuhkan untuk melindungi anak-anak dari risiko paparan konten negatif di ruang digital.

    “Keamanan dan perlindungan anak-anak di dunia digital sangat penting,” katanya di Jakarta, Kamis (30/1/2025)

    Meutya menambahkan, ancaman kejahatan terhadap anak di dunia maya sekarang semakin kompleks, karena itu pemerintah harus menyiapkan regulasi untuk meningkatkan perlindungan anak di ruang digital.

    Baca: Australia larang anak di bawah 16 tahun mengakses media sosial

    Menkomdigi mengatakan bahwa aturan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak akan disusun mengacu pada undang-undang tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE).

    “Kami sedang memanfaatkan Undang-Undang ITE yang sudah ada untuk membuat peraturan pemerintah sebagai turunan,” katanya.

    “Mengenai pembatasan media sosial untuk anak-anak, itu masih kita kaji lebih lanjut dalam rancangan peraturan pemerintah atau mungkin undang-undang baru yang juga sedang dibahas,” ia menambahkan.

    Komdigi saat ini masih menghimpun masukan dari pihak-pihak terkait mengenai penyusunan rancangan peraturan penggunaan media sosial bagi anak.​​​​​​​

    Baca: Media sosial dorong gaya hidup konsumtif

    Meutya mengatakan bahwa pemerintah antara lain akan meminta masukan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kelompok pendidik, para orang tua, dan pemerhati anak mengenai penyiapan rancangan peraturan tersebut.

    “Kami akan menerima semua masukan dengan hati-hati dan bijak, karena ini bukan hal yang bisa diputuskan secara terburu-buru,” katanya.

    “Kami tidak mau gegabah, kami akan dengarkan dulu masukan dari masyarakat, karena ini akan sangat mengikat, aturannya akan sangat terdampak atau berdampak kepada masyarakat,” ia menambahkan.