Tag: anak muda

  • Dear Anak Muda, Tunggakan Cicilan Utang di Paylater Bisa Hambat Pengajuan KPR

    Dear Anak Muda, Tunggakan Cicilan Utang di Paylater Bisa Hambat Pengajuan KPR

    7cloud.asia – Buat kamu anak muda yang suka utang di PayLater, mulai sekarang kudu lebih bijak dalam mengelola keuangan kamu.

    Pasalnya, tunggakan cicilan utang di PayLater membuat banyak anak muda menjadi tidak bisa mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

    Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan, tunggakan cicilan utang PayLater sudah jadi masalah serius.

    “PayLater ini sudah nyata banget. Beberapa bank kemarin mengeluhkan ke kami, anak- anak muda banyak yang harusnya ngajuin KPR rumah pertama, tapi nggak bisa karena ada utang di PayLater. Itu kadang Rp300 ribu, Rp400 ribu, kemudian jelek kan kredit score-nya,” ujar Kiki, Jumat (18/8/2023).

    Baca: Harga rumah terus naik, bagaimana kans anak muda miliki hunian

    Saat ini, layanan utang online PayLater sudah tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK atau dulunya bernama BI Checking.

    Sehingga apabila terdapat tunggakan utang di Paylater akan mempengaruhi kredit scoring individu yang bersangkutan.

    Kiki mengingatkan kepada generasi muda untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait keuangan mereka, terutama saat memutusakan ambil utang sekalipun itu di PayLater

    Hal ini karena maraknya kasus yang menjerat anak muda terkait dengan pinjaman online (pinjol) dan sejenisnya sepanjang tahun 2023.

    Baca: Alternatif pembiayaan rumah bagi masyarakat berpendapatan rendah

    “Anak muda itu harus hati-hati. Masa depannya bisa terganggu kalau dari sekarang mereka nggak hati-hati dalam mengelola uang, dalam ngambil utang kayak gitu,” ujar Kiki.

    Kiki menyarankan kepada anak muda untuk menggunakan berbagai layanan yang diberikan oleh Lembaga Jasa Keuangan (LJK) sesuai dengan kebutuhan .

    “Harus paham produk dan jasa keuangan. Gunakan apa yang tepat sesuai dengan kebutuhanmu. Jangan besar pasak daripada tiang, jangan terjerat,” ujar Kiki.

    Sebagai informasi, sejak Januari- Juli 2023, OJK telah menerima 169.601 permintaan layanan, termasuk 12.175 pengaduan.

    Baca: Utang Indonesia capat Rp 7.848,88 triliun

    Dari angka tersebut 36 pengaduan berindikasi pelanggaran, dan 1.187 sengketa yang masuk dalam Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Sektor Jasa Keuangan (LAPS SJK).

    Dari pengaduan tersebut, sebanyak 5.656 merupakan pengaduan sektor perbankan, 2.913 pengaduan industri financial technology (fintech), 2.379 pengaduan industri perusahaan pembiayaan.

    Sedangkan 1.008 pengaduan industri asuransi, serta sisanya merupakan layanan sektor pasar modal dan IKNB lainnya.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Dari AHY hingga Kaesang, Menyoal Dinasti Politik di Indonesia

    Dari AHY hingga Kaesang, Menyoal Dinasti Politik di Indonesia

    7cloud.asia – Diangkatnya Kaesang Pangarep menjaid Ketua Umum PSI memunculkan perbincangan soal keterlibatan anak muda di politik praktis dan dinasti politik.

    Keterlibatan kaum muda dalam politik praktis seperti Kaesang ini sebenarnya, akan membuka peluang besar untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif dalam proses demokrasi.

    Namun, ceritanya menjadi lain jika masuknya anak muda ke politik praktis karena dinasti politik.

    Jika membahas dinasti politik, contoh yang paling mudah kita amati adalah posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang dalam waktu singkat meraih jabatan Ketua Umum Partai Demokrat–kurang lebih empat tahun setelah ia bergabung dengan partai itu.

    Baca: Kaesang jadi Ketua Umum PSI, kaderisasi PSI dipertanyakan

    Jalur cepat yang ditempuh AHY kala itu tak pelak memicu perbincangan soal dinasti politik. Posisi AHY Ini tentunya tidak lepas dari posisi ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai pendiri dan sosok penting dalam partai Demokrat sekaligus presiden yang berkuasa selama satu dekade (2004-2014).

    Jalur cepat juga terjadi pada Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Presiden Joko “Jokowi” Widodo, yang menang telak dalam Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Solo tahun 2020. 

    Padahal Gibran baru terjun ke dunia politik tahun 2019. Gibran yang saat itu masih berusia 33 tahun, tampaknya mengikuti jejak sang ayah.

    Yakni awalnya menjadi pebisnis lokal, kemudian menjadi politikus nasional mulai dari jabatan Walikota Solo.

    Baca: Kaum muda di Pemilu 2024, ada yang mewarisi previlese dan yang harus berjuang sendiri

    Dinasti politik juga disorotkan ke menantu Jokowi, Bobby Nasution, yang juga pendatang baru di politik. Ia berhasil terpilih menjadi Walikota Medan pada Pilkada 2020–bahkan ia menang dengan mudah. 

    Orang juga mengaitkan keberhasilan Bobby dengan nama besar Jokowi sebagai presiden dua periode.

    Mau dibantah seperti apapun, publik pasti bisa menilai bahwa ini menunjukkan proses pembentukan dinasti politik. Figur Jokowi tentu tak lepas dari kesuksesan mereka meraup dukungan masyarakat.

    Yang terbaru ada Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, yang baru saja ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak mensiasati politik biaya tinggi

    Seperti halnya AHY, Kaesang hadir secara instan dalam partai dan langsung mengambil posisi yang paling penting.

    Kaesang menjadi Ketum PSI hanya beberapa hari setelah ia resmi bergabung dengan partai tersebut.

    Padahal, umumnya butuh waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, bagi kader partai untuk mengabdi sebelum mereka bisa mendapat posisi penting di organisasi politik.

    Inilah mengapa sangat jarang ketua umum partai politik yang berusia di bawah 40 tahun.

    Baca: Cara beda PDIP dan PSI dalam menyikapi pemilih muda

    Hadirnya figur-figur muda–yang berasal dari kekerabatan–dalam jabatan penting di partai politik secara tidak langsung menjadi sinyal betapa buruk kaderisasi partai. 

    Ini menunjukkan rapuhnya kemampuan partai dalam menghadirkan sosok-sosok pemimpin melalui kaderisasi partai yang ideal.

    Yakni, sosok pemimpin yang bertumbuh dan berjuang bersama dalam proses keberlangsungan partai.

    Keterlibatan kaum muda dalam politik praktis sejatinya akan membuka peluang besar untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif dalam proses demokrasi.

    Baca: Menebak arah pilihan pemilih muda

    Mereka bisa membawa semangat perubahan dan inovasi, serta perspektif baru dan solusi kreatif dalam merespons tantangan zaman.

    Namun, fenomena dinasti politik pada akhirnya membuat lanskap politik Indonesia menjadi simbol dari sistem yang kaku dan tidak responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi generasi muda itu sendiri.

    Melekatnya simbol warisan keluarga dan jaringan kekuasaan yang telah ada sejak lama justru dapat memperkuat status quo dan menghambat langkah perbaikan demokrasi.

    Dalam jangka panjang, dinasti politik juga tidak bagus untuk demokrasi yang sehat. Karena tidak adanya kesetaraan kesempatan di panggung politik bagi kaum muda.

  • Riset: Antusiasme Anak Muda Indonesia dalam Gerakan Pro Lingkungan Masih Rendah

    Riset: Antusiasme Anak Muda Indonesia dalam Gerakan Pro Lingkungan Masih Rendah

    7cloud.asia – Hingar-bingar gerakan anak muda global untuk lingkungan sudah lama kita dengar. Sebut saja Fridays for Future di Swedia, Generation Zero di Selandia Baru, atau Youth for Climate movement di Belgia.

    Lantas bagaimana dengan gerakan lingkungan yang dilakukan anak muda di Indonesia?

    Sejumlah pihak merasa skeptis, kurang percaya dan ragu-ragu dengan tingkat partisipasi anak muda di Indonesia dalam gerakan yang pro lingkungan.

    Beberapa penelitian sebelumnya, misalnya yang dilakukan oleh Indikator, lembaga survei Indonesia di bidang politik dan kebijakan publik, pada tahun 2021, menyatakan bahwa anak muda Indonesia peduli masalah lingkungan dan iklim.

    Tulisan Aulia Dwi Nastiti, kandidat doktor dari Northwestern University, Amerika Serikat, dan Geger Riyanto, dosen di Universitas Indonesia, juga menyatakan bahwa anak muda peduli iklim dengan melakukan konsumsi ramah lingkungan.

    Baca: Anak muda sadar akan perubahan iklim tapi enggan beraksi

    Namun, temuan penelitian yang dilakukan Ina Ratriyana, kandidat PhD  School of Film, Media, and Journalism, Monash University, Melbourne, Australia, Monash University menemukan hal berbeda. 

    Penelitian Ina pada 2021 dengan partisipan di Yogyakarta, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, dan Denpasar menunjukkan fakta sebaliknya, yaitu masih rendahnya antusiasme Gen Z di Jawa dan Bali pada isu lingkungan.

    Berikut hasil penelitian Ina soal kepedulian anak muda Indonesia pada gerakan pro lingkungan  yang laporannya dilansir di The Conversation. 

    Penelitian tersebut mencari tahu alasan-alasan di balik perilaku Gen Z, anak muda yang lahir di antara tahun 1997 dan 2012 atau saat ini mereka berusia 11 hingga 26 tahun, untuk peduli atau tidak peduli pada kegiatan pro lingkungan.

    Di dalam penelitian soal kepedulian lingkungan ini, saya melibatkan tiga kelompok mahasiswa berusia 18-21 tahun.

    Tiga kelompok ini dipilih berdasarkan pengalaman mereka, yaitu, sudah memiliki pengalaman sebagai sukarelawan dalam kegiatan lingkungan, merupakan influencer yang pernah terlibat dalam pembuatan konten lingkungan, atau mahasiswa biasa.

    Baca: Media memandang gerakan lingkungan anak muda di Indonesia

    Peran diri dan lingkungan
    Dari hasil penelitian tersebut, saya melihat beberapa faktor yang menghambat kontribusi Gen Z dalam kegiatan atau gerakan pro lingkungan.

    Yang pertama adalah tekanan pribadi. Gen Z cenderung memiliki banyak mimpi dan ambisi yang membuat mereka tenggelam dalam kesibukan.

    Selain berkuliah, Gen Z bekerja paruh waktu, magang, membuka bisnis, atau sibuk di organisasi kampus, sehingga kegiatan yang dirasa tidak menguntungkan menjadi beban bagi aktivitas keseharian mereka.

    Tidak mengherankan jika kemudian seorang peserta menyebutkan bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga, sehingga mereka tidak mau menghabiskan waktu dengan berjalan kaki.

    Beberapa artikel juga menyatakan bahwa Gen Z sangat individual dan mementingkan diri mereka sendiri. Namun, penelitian saya menunjukkan bahwa tekanan untuk sukseslah yang mendorong mereka untuk bersikap seperti itu.

    Artinya, kita perlu menilik kembali strategi komunikasi pro lingkungan untuk Gen Z, yaitu dengan menekankan pesan-pesan yang menguntungkan bagi anak muda, baik untuk saat ini maupun di masa depan.

    Baca: Bumi butuh aksi nyatamu untuk lebih peduli lingkungan

    Pengaruh lingkungan sekitar dan tekanan sosial juga berpengaruh pada perilaku pro lingkungan seseorang.

    Keluarga, teman, dan komunitas punya pengaruh utama perilaku dari Gen Z. Perilaku pro lingkungan bisa dengan mudah terbentuk saat mereka berada dalam lingkungan yang positif.

    Gen Z yang tinggal dengan keluarga yang memahami isu lingkungan, lebih berpeluang untuk melakukan praktik-praktik positif dan sederhana, seperti mematikan lampu sebelum bepergian, atau menggunakan AC dan air seperlunya.

    Di sekolah, mereka akan melakukan perilaku pro lingkungan saat teman-teman mereka melakukan hal yang sama.

    Mereka akan terdorong untuk melakukan hal-hal baik, seperti membawa botol air minum isi ulang atau bekal dari rumah, apabila memiliki ‘teman’ yang berperilaku sama.

    Hal ini menegaskan betapa Gen Z memiliki kesadaran norma sosial yang tinggi . Artinya, mereka sangat peduli atas pikiran orang lain akan diri mereka.

    Baca: Greta Thunberg mulai lakukan gerakan pro lingkungan sejak umur 8 tahun

    Seorang partisipan, contohnya, berhenti berjalan kaki karena tetangganya mengatakan “sayang kalau kepanasan, apalagi kulitmu putih begitu”.

    Dalam cerita yang lain, rajin jalan kaki juga bisa menimbulkan komentar “pelit” atau dianggap tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli bensin.

    Komentar-komentar negatif ini muncul karena adanya ketidakpahaman sosial tentang pentingnya kegiatan pro lingkungan.

    Lantas apa solusinya agar anak muda mau terlibat dalam aksi nyata dan gerakan pro lingkungan, ikuti di tulisan selanjutnya. 

    Sumber The Conversation.

     

  • Ganjar Pranowo Ajak Anak Muda Berproses dari Bawah dan Tak Alergi Politik

    Ganjar Pranowo Ajak Anak Muda Berproses dari Bawah dan Tak Alergi Politik

    7cloud.asia – Bakal calon presiden yang diusung PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo mengajak anak muda untuk tidak alergi dengan politik.

    Saat memberikan kuliah umum bertajuk “Peran Pemuda dalam Masa Depan Politik Indonesia” yang digelar di Kampus Universitas Parahyangan Bandung, Jawa Barat pada Rabu (11/10/2023) Ganjar Pranowo juga mendorong anak muda untuk terlibat di partai politik sejak muda.

    Ganjar Pranowo lantas memaparkan jalan politik yang sudah ditempuhnya sejak dirinya masih jadi anak muda.

    Didorong kegelisahan pada kondisi saat itu, Ganjar muda memutuskan untuk ikut terlibat di partai politik saat masih di bangku kuliah.

    Baca: Dari AHY hingga Kaesang, menyorot dinasti politik di Indonesia

    “Sebagai anak muda, saya punya mimpi besar untuk mengubah kondisi saat itu menjadi lebih baik. Kegelisahan ini kemudian saya memutuskan untuk masuk ke dalam sistem politik dengan segala konsekuensinya, “ ujar Ganjar Pranowo

    Ganjar Pranowo memaparkan, situasi yang dialaminya saat itu mendorongnya untuk memilih ideologi yang berpihak kepada rakyat.

    Pilihannya kemudian jatuh kepada marhaenisme yang saat itu menjadi landasan idologi Parati Demokrasi Indonesia.

    “Setelah saya hitung, saya sudah 30 tahun masuk partai, yakni sejak usia 24 tahun dengan bergabung dengan PDIP ,” ujarnya.

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak atasi politik biaya tinggi

    Perjalanan politik Ganjar Pranowo berlanjut, kemudian dia terpilih menjadi anggota DPR di usia 36 tahun, lalu menjadi eksekutif dengan kepala daerah/Gubernur Jawa Tengah di usia 45 tahun.

    Dan, sekarang di usia 54 tahun Ganjar Pranowo sedang mengikuti kontestasi di Pilpres 2024.

    Ganjar memaparkan, jalan yang ditempuhnya hampir sama dengan yang ditempuh Presiden China Xin Jinping dan mantan Presiden AS, Barack Obama.

    Kedua tokoh dunia ini juga merintis karier poltik dari bawah dengan menjadi anggota partai sejak usia muda sebelum akhirnya menjadi orang tertinggi di negaranya masing-masing.

    Baca: Kaum muda di panggung politik, ada yang berbekal previlese dan yang berjuang sendiri

    Sebelumnya, saat membuka pemaparannya Ganjar mengakui, banyak anak muda yang tidak puas dengan sistem demokrasi yang ada saat ini.

    Mengutip data CSIS, Ganjar Pranowo menyebut 39,5 persen anak muda mempunyai persepsi buruk soal demokrasi yang ada Indonesia.

    Namun, ia berharap persepsi buruk ini tidak serta merta membuat anak muda menjadi apatis pada politik dan justru menjadi pendorong bagi mereka untuk turun mendorong perubahan itu.

    Mengutip pidato Presiden Soekarno, Ganjar menegaskan, justru di tangan anak mudalah motor perubahan itu digerakkan. Dan Pemilu 2024 ini menjadi momen yang tepat bagi anak muda untuk melakukan perubahan itu.

    Baca: Cara beda PDIP dan PSI tangani pemilih muda

    Pasalnya di Pemilu 2024 yang digelar pada Februari 2024 mendatang, suara anak muda mendominasi jumlah pemilih dengan jumlah 54 persen dari total jumlah pemilih.

    Sehingga suara anak muda akan sangat menentukan bagaimana kondisi Indonesia lima tahun ke depan.

    Dalam kesempatan ini, Ganjar mengajak anak muda untuk tidak alergi dan mau terjun ke politik, atau bahkan terlibat menjadi anggota partai politik dan terlibat secara aktif melakukan perubahan dan perbaikan untuk apa yang dinilai harus diperbaiki.

    “Reformasi 1998 mengubah sistem demokrasi di Indonesia, saat ini siapa saja bisa menjadi apa saja yang dia inginkan. Tinggal kita mau nggak terlibat,” ujarnya.

     

  • Alam Ganjar Bicara Soal Anak Muda di Politik dan Nepo Baby

    Alam Ganjar Bicara Soal Anak Muda di Politik dan Nepo Baby

    7cloud.asia – Video rekaman wawancara Grace dengan putra tunggal Ganjar Pranowo, Alam Ganjar yang membahas soal peran pemuda beredar di media sosial

    Dalam video sepanjang 30 menit itu, Alam Ganjar diajak membincangkan banyak hal, termasuk tentang kesempatan berkarir di bidang politik bagi anak muda. 

    Keputusan MK untuk menurunkan batas usia minimal capres dan cawapres turut dibahas dalam perbincangan dengan Alam Ganjar tersebut. 

    Alam Ganjar pun tak menolak keputusan MK, bahkan secara bercanda dia mengatakan harusnya batas usianya diturunkannya sekalian dua digit. 

    Baca: Ganjar Pranowo ajak anak muda berproses dari bawah dan tak alergi politik

    “Jangan tanggung-tanggunglah kalau bisa diturunkan menjadi 21,” ujarnya sambail sedikit tertawa. 

    Alam Ganjar kembali serius ketika memaparkan alasan agar anak muda diberi kesempatan dalam pengambilan keputusan. Mengingat jumlah anak muda akan menjadi bagian terbesar dalam populasi Indonesia.

    Jadi, ujarnya, pemangku kebijakan dan pengambil kebijakan harus punya relevansi yang sama, melibatkan anak muda atau setidaknya yang mengerti keinginan dan harapan anak muda. 

    Soal keputusan MK, Alam Ganjar melihat ada aspek tertentu yang mencederai suatu proses ‘menjadi’ yang sebaiknya dialami anak muda.

     

    Baca: Dari AHY hingga Kaesang menyoroti dinasti politik di Indonesia

    “Kalau saya sendiri, akan mencapai kenikmatan absolut ketika benar-benar menikmati prosesnya. Dan tidak melakukan short cut ataupun meng-abuse apa yang saya punya,” ujarnya.

    Alam Ganjar menekankan, proses menjadi hal yang snagat pentng. Ketika proses dilaknasanakan dan kita menikmati, ujarnya, maka orang yang menjalankan proses itu akan berjalan dengan baik.

    Di awal wawancara, Alam Ganjar diajak membahas soal nepo baby, atau previlese yang dimiliki seseorang karena nama orang tuanya. 

    Ia melihat nepo baby bisa dalam hal positif dan negatif. Ia mengakui banyak keuntungan yang dirasakannya terlahir sebagai anak seorang Ganjar Pranowo.

    Baca: Dinasti politik Jokowi disoal karena ada potensi penyalahgunaan kekuasaan

    Karena dengan itu ia punya kesempatan untuk membaca lebih banyak buku, berdiskusi tentang pengalaman Ganjar sebagai politisi dan pejabat pemerintahan.  

    “Yang itu tidak dimiliki oleh banyak anak lain,” ujar Alam Ganjar.

    Namun, ia juga merasa ada beban terlahir sebagai anak Ganjar Pranowo. Orang akan punya ekspetasi lebih kepada dirinya, apalagi ketika Ganjar sedang berkontestasi di pemilihan seperti saat ini.

    Apapun yang kita lakukan, ujarnya, akan menjadi sorotan publik. Sehingga apa yang dia lakukan sekarang adalah berusaha untuk tidak menambah masalah bagi orang tuanya.

    Baca:  Mengapa ganti pemerintahan harus ganti kurikulum

    Alam Ganjar menekankan, sepanjang 21 tahun usianya ia merasakan betapa kerasnya nepo baby saat kalau daftar sekolah. Banyak anak yang menggunakan nama orang tuanya untuk mendapatkan kursi di sekolah favorit.

    Alam Ganjar menjelaskan bahwa ia mendaftar sekolah berdasarkan nilai yang dimilikinya. Tak hanya itu, sebagai bukti tidak melakukan nepotisme, Alam Ganjar mengaku pernah ditolak oleh beberapa universitas.

    “Kalau misalkan beberapa orang sebelumnya, kalau saya apply ke beberapa university,” ungkapnya.

    “Ada yang gak diterima juga kok,” pungkas anak muda yang kini sedang menuntut ilmu di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ini. 

    Baca: Cara beda DIP dan PSI tangani pemilih muda

  • Perubahan Iklim Kian Mengkhawatirkan, Anak Muda yang Paling Terdampak

    Perubahan Iklim Kian Mengkhawatirkan, Anak Muda yang Paling Terdampak

    7cloud.asia – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut anak muda merupakan kelompok yang akan paling terdampak perubahan iklim.

    Sehingga penting untuk melakukan aksi-aksi nyata dalam pencegahan perubahan iklim.

    Menurut Dwikorita, fenomena perubahan iklim semakin mengkhawatirkan serta memicu dampak yang lebih luas.

    Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa alam terkait iklim, dari suhu udara yang lebih panas, terganggunya siklus hidrologi, hingga maraknya bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia.

    Maka dari itu, seluruh generasi harus saling berkolaborasi untuk menahan laju perubahan iklim.

    Baca: Perubahan iklim memicu panas di perkotaan

    “Generasi Z dan Alpha akan menjadi generasi yang paling merasakan dampak dari perubahan iklim. Karenanya, saya yakin anak-anak muda yang jumlahnya mendominasi penduduk Indonesia bisa memberikan dampak signifikan terhadap aksi perubahan iklim,” ujar Dwikorita dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, pada Festival Aksi Iklim dan Workshop Iklim Terapan.

    Festival tersebut merupakan suatu rangkaian acara dalam Peringatan Hari Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ke-7 dengan tema “Aksi Iklim Kaum Muda untuk Perubahan Iklim Indonesia”.

    Dwikorita mengatakan perubahan iklim global bukanlah kabar bohong (hoaks) dan prediksi untuk masa depan, melainkan realitas yang di hadapi miliaran jiwa penduduk bumi. 

    Baca: Masalah pendidikan perubahan iklim di Indonesia

    Lebih lanjut, Dwikorita menerangkan, Badan Meteorologi Dunia (WMO) baru saja menyatakan bahwa tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang pengamatan instrumental.

    Anomali suhu rata-rata global mencapai 1,45 derajat celcius di atas zaman pra industri. Angka ini, kata Dwikorita, nyaris menyentuh batas yang disepakati dalam Paris Agreement tahun 2015.

    Kesepakatan itu menyebut bahwa dunia harus menahan laju pemanasan global pada angka 1,5 derajat celcius.

    Pada tahun 2023 terjadi rekor suhu global harian baru dan terjadi bencana heat wave ekstrem yang melanda berbagai kawasan di Asia dan Eropa.

     

    Baca: Perubahan iklim picu panas ekstrem di seluruh dunia

    Dwikorita mengungkapkan BMKG sendiri memproyeksi suhu udara di Indonesia akan melompat naik hingga 3,5 derajat Celcius dibandingkan zaman pra industri di tahun 2100 mendatang apabila aksi mitigasi iklim gagal dilakukan.

    “Sementara WMO menyebut bahwa tahun 2050 mendatang, dalam skenario terburuk maka negara-negara di dunia akan menghadapi tidak hanya bencana hidrometeorologi, namun juga kelangkaan air yang berakibat pada krisis pangan. Jika melihat tahun tersebut, maka dapat dipastikan bahwa Generasi Z dan Alpha lah yang akan paling merasakan,” imbuhnya.

    Sementara itu Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan perubahan iklim akan terus terjadi dalam beberapa dekade mendatang apabila tidak dilakukan aksi mitigasi.

    Baca: Indonesia paling rentan terkena dampak perubahan iklim

    Menurutnya, kunci keberhasilan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim itu ada pada upaya yang dilakukan oleh masyarakat berdasarkan kesadaran dan pengetahuan yang mereka miliki.

    Yang menjadi tantangan saat ini, lanjutnya, bagaimana meningkatkan pemahaman iklim dan perubahan iklim di kalangan publik, terutama generasi muda, generasi milenial, dan gen-Z.

    Karena mereka adalah generasi yang akan paling terpapar dampak perubahan iklim dalam satu atau dua dekade mendatang, sekaligus yang paling bertanggung jawab untuk melakukan segala tindakan dan upaya untuk menanggulanginya.

    Sumber: Antaranews

     

  • Mengapa Pernikahan Menjadi Hal yang Menakutkan bagi Anak Muda?

    Mengapa Pernikahan Menjadi Hal yang Menakutkan bagi Anak Muda?

    7cloud.asia – Topik mengenai pernikahan sempat menjadi perbincangan di media sosial beberapa waktu yang lalu.

    Kata kunci “Marriage Is Scary” sempat menjadi trending topic di X (dahulu twitter) selama beberapa hari di awal Agustus.

    Tren ini dimulai dengan munculnya banyak video yang menunjukkan betapa menakutkannya pernikahan bagi seseorang, khususnya anak muda.

    Fenomena ketakutan pada pernikahan ini semakin populer seiring meningkatnya kasus perceraian dan terkuaknya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

    Banyak orang memakai istilah ini untuk menyampaikan kekhawatiran atau bahkan ketakutan mereka terhadap konsep pernikahan.

    Baca: Tiga alasan mengapa makin banyak orang muda tinggal bersama tanpa menikah

    Kekhawatiran itu muncul, baik karena pengalaman pribadi yang tidak menyenangkan maupun pandangan umum yang menganggap kehidupan pernikahan penuh tekanan.

    Lantas, apa yang menyebabkan pernikahan menjadi hal yang menakutkan, khususnya untuk anak muda?

    Dalam episode SuarAkademia terbaru, Tim Podcast The Conversation Indonesia berdiskusi dengan Dian Kinayung, dosen dari fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

    Dian sempat membuat survei secara mandiri untuk meneliti tren ini. Dari 196 mahasiswa rentang usia 17-25 tahun, 84 persen responden yang ia ajak bicara mengaku memiliki ketakutan untuk menikah.

    Ia mengatakan, alasan yang disampaikan oleh responden sangat beragam. Salah satu alasan terbanyak dalam survei tersebut adalah informasi mengenai permasalahan pernikahan di Internet.

    Baca: Makin banyak orang muda Indonesia yang menunda menikah

    Menurut Dian, banyaknya konten media sosial yang viral dan memberikan banyak sekali informasi mengenai permasalahan pernikahan seperti terlantarnya anak, KDRT

    Juga, banyaknya perempuan atau istri yang menjadi tulang punggung bisa menjadi faktor pemicu trauma sekunder.

    Selain itu, Dian juga menyebutkan bahwa situasi ekonomi yang semakin berat membuat responden survei, khususnya laki-laki, memutuskan untuk mengejar kemapanan terlebih dahulu.

    Menurut hasil survei tersebut, responden laki-laki mengatakan hal materiil seperti pekerjaan dan keuangan menjadi kekhawatiran yang mendalam sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke jenjang pernikahan.

    Jika Anda ingin tahu selengkapnya perbincangan ini, simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi di The Conversation.