Tag: aplikasi

  • Dalam Lima Hari Pengguna Threads Telah Lampaui 100 Juta Orang

    Dalam Lima Hari Pengguna Threads Telah Lampaui 100 Juta Orang

    7cloud.asia – Dalam waktu lima hari, Threads, aplikasi media sosial baru yang diluncurkan Mark Zuckerberg telah memiliki lebih dari 100 juta pengguna. 

    Artinya, Threads yang dibuat untuk menandingi Twitter ini telah mengalahkan rekor yang dibuat oleh aplikasi ChatGPT buatan Open AI.

    Threads mulai diluncurkan untuk perangkat Apple dan Android di 100 negara, Rabu (5/72023) lalu. Dan menurut data terbaru pengguna Threads telah melampaui angka 100 juta orang.

    Padahal, aplikasi tersebut tidak tersedia di Eropa karena undang-undang privasi data UE.

    Baca: Jenis pekerjaan yang belum akan tergusur oleh AI

    Mark Zuckerberg, direktur eksekutif Meta, yang juga memiliki Facebook, mengatakan Threads memiliki 10 juta pengguna dalam tujuh jam pertama peluncuran dan lebih dari 30 juta pengguna pada Kamis (06/07/2023 ) pagi waktu setempat.
     

    Sekitar 24 jam kemudian, angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat.

    Dengan 100 juta pengguna, menurut angka dari platform data Quiver Quantitative, jumlah pengguna Threads mencapai kurang dari sepertiga dari 350 juta pengguna reguler yang diyakini dimiliki oleh Twitter.

    Para pengamat memperkirakan, Threads akan mampu menarik pengguna Twitter yang tidak senang dengan perubahan kebijakan pada platform tersebut.

    Baca: Generasi alfa yang akan membentuk dunia kerja di masa yang akan datang

    Threads – yang saat ini belum diluncurkan di Uni Eropa – memungkinkan pengguna untuk mengunggah hingga 500 karakter, dan memiliki banyak fitur yang mirip dengan Twitter.

    Sebelumnya, Zuckerberg mengatakan ingin membuat platform yang “bersahabat… yang pada akhirnya akan menjadi kunci keberhasilan”.

    Tetapi pemilik Twitter, Elon Musk, menanggapi dengan: “Lebih baik diserang oleh orang asing di Twitter, daripada menikmati kebahagiaan palsu dan kesedihan di Instagram.”

    Ketika ditanya apakah aplikasi Threads akan “lebih besar dari Twitter”, Zuckerberg berkata: “Itu akan membutuhkan waktu, tapi saya kira harus ada aplikasi percakapan publik dengan lebih dari satu miliar orang di dalamnya.”

    Baca: Pandawara gandeng ribuan warga Lampung bersihkan pantai terkotor di Indonesia

    “Twitter punya kesempatan untuk wujudkan itu, meski belum berhasil. Mudah-mudahan kami bisa melakukannya.”

    Para pesaing mengkritik jumlah data yang mungkin digunakan aplikasi tersebut. Data itu termasuk kesehatan, keuangan, dan penjelajahan yang ditautkan ke identitas pengguna, menurut Apple App Store.

    Meta, yang menaungi Facebook dan Instagram, menyebut Threads sebagai “versi awal”, dengan fitur tambahan yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan orang-orang di aplikasi media sosial lain seperti Mastodon.

    “Visi kami dengan Threads adalah untuk mengambil yang terbaik dari Instagram dan mengembangkannya menjadi teks,” ujar perusahaan itu sebelum peluncuran.

    Baca: Kiat menggunakan internet secara ramah lingkungan

    Meskipun Threads menjadi aplikasi tersendiri, pengguna bisa masuk menggunakan akun Instagram. Nama pengguna Instagram akan tetap ada, namun ada opsi untuk menyesuaikan profil mereka khusus di Threads.

    Pengguna juga bisa memilih untuk mengikuti akun yang sama dengan yang mereka ikuti di Instagram, kata Meta.

    Sumber: BBC

  • TPN Ganjar-Mahfud Luncurkan 4 Aplikasi, Ini Dia Fungsinya

    TPN Ganjar-Mahfud Luncurkan 4 Aplikasi, Ini Dia Fungsinya

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan oleh tim capres untuk memperkenalkan visi misi mereka kepada publik. Seperti yang dilakukan oleh Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud dengan meluncurkan empat aplikasi.

    Keempat aplikasi tersebut adalah Ganjar Twin (AI), Super App GPMMD3, Oke Mas Ganjar (OMG), dan Ganjar Mahfud App.

    “Kemajuan teknologi menjadi cara tercepat menyampaikan pesan politik. Ini dapat berdampak luas untuk cara pemilih, politisi, dan wartawan menilai sosok dan program pasangan Ganjar-Mahfud,” jelas Deputi Operasi 247 TPN, Denon Prawiraatmaja seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: TPN Ganjar Mahfud minta aparat netral

    Selanjutnya Denon menjelaskan empat aplikasi ekosistem digital ini ramah pengguna yang bertujuan meningkatkan aksesibilitas.

    Selain itu aplikasi ini juga mencegah terjadinya disinformasi di kalangan pemilih yang tersebar di seluruh Indonesia dan negara lain.

    Ekosistem digital tersebut dianggap bisa melindungi calon pemilih dari berbagai berita palsu dan dapat melampaui media sosial yang nyaris tidak memiliki aturan, sering menjebak dengan narasi dangkal dan palsu.

    Keempat aplikasi ini juga sebagai wadah bekal bagi para juru kampanye dan sukarelawan dalam menyebarluaskan program pro rakyat yang diusung Ganjar-Mahfud selama masa kampanye Pemilu 2024.

    Keempat aplikasi memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ganjar Twin berisi konten Chat GPT, yang dibuat Relawan Ganjar Berkarya.

    Baca: Rapat internal PDIP disusupi aparat

    Aplikasi ini untuk mempermudah pengguna membedah visi dan misi 21 Program Sat Set Ganjar-Mahfud.

    Aplikasi yang akrab disapa Ganjar AI tersebut dapat digunakan oleh seluruh tim pemenangan dan sukarelawan dalam membuat narasi yang baik terkait dengan program unggulan pasangan Ganjar-Mahfud.

    Super App GPMMD3 adalah aplikasi serba ada yang diciptakan Relawan Mobilitas Total Ganjar Pranowo (MotoGP) untuk mendukung secara maksimal TPN Ganjar-Mahfud.

    Dalam aplikasi ini ada beragam informasi dan update terkini aktivitas paslon dengan nomor urut 3 itu.

    Baca: Puisi Wiji Thukul saat Ganjar kampanye di Jepara

    GPMMD3 memungkinkan siapa pun berpartisipasi mengawal suara atau melaporkan adanya kecurangan dalam Pemilu 2024, yang selanjutnya ditindaklanjuti Tim Hukum TPN Ganjar-Mahfud.

    Sejumlah fitur pendukung di dalamnya, yakni fitur pemindai KTP Otomatis hingga pengawalan kotak suara melalui Kawal Kotak Suara via LaporGan.

    Sedangkan aplikasi OMG digunakan sebagai wahana bagi kalangan anak muda pemilih paslon nomor urut 3 yang sudah tersedia di playstore android atau app store apple.

    Dalam aplikasi ini juga dilengkapi fitur curhat, podcast, dan event soal Ganjar-Mahfud.

    Sementara aplikasi Ganjar-Mahfud App berperan sebagai agregator dan menyediakan berbagai macam konten komunikasi tentang Ganjar-Mahfud.

    Baca: Relawan Ganjar-Mahfud akan lakukan nano targetting

    Dalam aplikasi ini juga memuat pengalaman tersendiri bagi calon pemilih dan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Pilpres 2024.

    Di samping itu, TPN juga meluncurkan aplikasi bernama Jangkar Ganjar yang dirancang untuk mendukung organisasi sukarelawan dan tim sukarelawan mendukung pemenangan Ganjar-Mahfud.

    Melalui aplikasi ini sukarelawan dan timnya dapat memantau kegiatan kampanye yang memungkinkan pengguna melacak dan memonitor kegiatan kampanye sukarelawan dan tim melalui data yang aktual dan analisis real time.

    Peluncuran aplikasi-aplikasi ini menggunakan teknologi SKRP, yang sudah digunakan untuk mengatur organisasi dan aktivitas di lebih dari 14 organisasi sukarelawan di seluruh Indonesia.

    Misalnya, untuk pengolahan big data, hub informasi, dan task management yang memiliki berbagai fitur yang mudah digunakan sukarelawan.

    “Jadi, dari TPN bisa kasih informasi yang lebih konkret dan resmi sehingga secara substansi rakyat paham betul program Ganjar-Mahfud,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Menkop UKM Teten Masduki Peringatkan Adanya Aplikasi yang Lebih Mematikan UMKM Dibanding TikTok Shop

    Menkop UKM Teten Masduki Peringatkan Adanya Aplikasi yang Lebih Mematikan UMKM Dibanding TikTok Shop

    7cloud.asia – Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki, mengatakan bahwa ada aplikasi digital yang bisa mematikan UMKM Indonesia. Aplikasi itu bernama Temu.

    Dilansir detik.com, Teten mengatakan, dampak dari aplikasi Temu ini terhadap UMKM akan lebih dahsyat dibanding TikTok Shop.

    “Kita, belum lama ini dihadapkan dengan masuknya produk-produk dari China lewat platform digital global dalam negeri,” kata Teten di sela Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (10/6/2024).

    Awalnya dalam agenda Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR, Teten menjelaskan selain pemberdayaan dan akses pembiayaan, pemerintah perlu melindungi UMKM Indonesia dari produk-produk luar jika ingin naik kelas.

    Teten kemudian menjelaskan, bahwa saat ini terdapat satu aplikasi digital yakni Temu yang bisa melakukan perdagangan antarnegara yang mengancam UMKM Indonesia.

    Menurutnya, dampak dari aplikasi ini lebih parah dari TikTok Shop yang beberapa waktu lalu sempat menghebohkan publik.

    “Nah, ini yang saya khawatir ada satu lagi satu aplikasi digital, cross border yang saya kira akan masuk ke kita dan ini lebih dahsyat dari Tiktok (shop),” kata Teten.

    Baca Juga: DPR Apresiasi Langkap Pemerintah Larang Perdagangan di Media Sosial Macam TikTok Shop

    Pasalnya, lanjut Teten, aplikasi itu bisa menghubungkan langsung produk-produk dari pabrik kepada pembeli.

    Hal inilah yang bisa mematikan pelaku UMKM. Sebab, tidak akan ada lagi reseller, afiliator, dan pihak ketiga yang bisa terlibat dalam rantai pasok produk tersebut.

    “Dari ratusan pabrik dia langsung masuk ke konsumen, jadi akan ada berapa banyak lapangan kerja di distribusi akan hilang. Nggak ada lagi itu namanya reseller, afiliator, nggak ada lagi,” tegasnya.

    Teten menambahkan, produknya akan sangat murah karena diproduksi massal, pabrikan, dengan menghadapi UMKM yang diproduksi kecil-kecilnya. Dan tanpa dukungan supply chain seperti industri lain.

    Dari penelusuran 7cloud.asia, aplikasi Temu ini telah tersedia di Google Play.

    Di laman resminya, temu.com tertulis, Temu didirikan pada 2022 di Boston, Massachusetts, AS.

    “Temu adalah perusahaan e-commerce yang menghubungkan konsumen dengan jutaan mitra merchandise, produsen, dan merek dengan misi memberdayakan mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Temu berkomitmen untuk menawarkan produk berkualitas dengan harga terjangkau yang memungkinkan konsumen dan mitra merchandise mewujudkan impian mereka akan lingkungan inklusif,” demikian Temu menjelaskan dirinya di about us.

    Baca Juga: TikTok Shop Resmi Dilarang, Ini Penjelasan Pemerintah

    Ditemui usai RDP, Teten kemudian membongkar identitas aplikasi tersebut. Aplikasi itu disebutnya bernama Temu. Teten menjelaskan bahwa aplikasi itu berasal dari China dan sudah masuk ke total 58 negara.

    Menurut Teten, aplikasi Temu berpotensi berbahaya sebab terhubung langsung dengan 80 pabrik di China. Menurutnya, aplikasi ini lebih berbahaya daripada TikTok Shop.

    “Nah kalau TikTok kan masih mending lah, masih ada reseller, ada afiliator, masih membuka lapangan kerja. Kalau ini kan akan memangkas langsung,” bebernya.

    “Selain harganya lebih murah, juga memangkas banyak lapangan kerja di jalur misalnya distribusi,” sambungnya.

    Teten menjelaskan bahwa kehadiran Temu memang belum dibahas dalam Rapat Terbatas bersama Presiden.

    Meskipun demikian, ia mengaku khawatir meskipun pemerintah sudah mempunyai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2023 yang mengatur mengenai social commerce,

    Saya khawatir, ujarnya, kan dulu juga TikTok melanggar aturan dibiarkan 2 tahun kan oleh pemerintah. Karena itu Tetan mengingatkan, karena keadaan ekonomi UMKM saat ini indeks bisnisnya sedang turun.

    “Karena itu (angka) NPL (Non Performing Loan/Kredit Macet) juga naik. Nah kalau ditambah lagi nanti masuk persaingan produk UMKM dengan produk dari China, pabrikan dari China yang pasti murah. Ya lewat platform global ini, ini sudah pasti berat,” pungkasnya.

    Sumber: detik.com

     

  • Bisa Mematikan UMKM, Pemerintah Diminta Antisipasi Masuknya Aplikasi Temu

    Bisa Mematikan UMKM, Pemerintah Diminta Antisipasi Masuknya Aplikasi Temu


    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira mengingatkan bahwa dengan hadirnya aplikasi Temu dapat mengancam keberadaan UMKM lokal

    Pasalnya kehadiran aplikasi Temu ini hanya akan menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar bagi barang-barang impor yang bisa mengancam keberlanjutan UMKM.

    “Indonesia hanya dijadikan pasar, akan banyak pelaku usaha yang terancam gulung tikar dan menciptakan PHK massal terutama di sektor industri pengolahan,” ujar Bhima dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (15/6/2024).

    Kementerian Koperasi dan UKM melalui staf khususnya Fiki Satari juga tegas menolak masuknya aplikasi Temu ke Indonesia.

     

    Baca Juga: Menkop UKM Teten Masduki Peringatkan Adanya Aplikasi yang Lebih Mematikan UMKM Dibanding TikTok Shop

    Menurutnya, semua e-commerce semacam aplikasi Temu masuk tersebut harus sesuai dengan regulasi yang ada.

    “Harus ditolak. Jadi sebenarnya secara regulasi ini sulit untuk beroperasi. Ada PP nomor 29/2002 tentang Larangan Penggabungan KBLI 47,” ucap Fiki.

    Fiki menambahkan, bisa juga yang kita revisi Permendag nomor 31/2023, Pengawasan Pelaku Usaha Sistem Elektronik, ada cross border langsung jadi tidak boleh.

    Untuk diketahui, aplikasi Temu adalah platform global cross-border yang berasal dari China. Aplikasi Temu menggunakan metode penjualan Factory to Consumer (penjualan langsung dari pabrik ke konsumen).

    Baca Juga: Kenali Plus-Minus Crowdlending sebagai Alternatif Pembiayaan Bersama untuk UMKM

    Metode tersebut dinilai bisa berdampak buruk pada UMKM dan lapangan pekerjaan di Indonesia. Saat ini Temu telah penetrasi ke 58 negara.

    Sebelumnya, Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki menyampaikan kekhawatiran akan masuknya aplikasi lokapasar baru yang dapat menghubungkan langsung antara pabrik di China langsung ke konsumen Indonesia.

    “Ini yang saya khawatir, ada satu lagi aplikasi digital cross-border yang saya kira akan masuk ke kita, dan lebih dahsyat daripada TikTok, karena ini menghubungkan factory direct kepada konsumen,” ujar Teten di Jakarta, Senin (10/6/2024).

    Teten menyebutkan aplikasi bernama Temu ini berasal dari China dan sudah masuk ke 58 negara.

    Baca Juga: Bagaimana UMKM Bisa Didorong untuk Terlibat dalam Menahan Laju Perubahan Iklim

    Menurutnya, aplikasi tersebut terhubung dengan 80 pabrik di China dan produknya bisa langsung diterima oleh seluruh konsumen di dunia.

    Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, nilai ekonomi digital UMKM dapat mencapai Rp4.531 triliun pada 2030, mengingat potensi peningkatan akses pasar yang lebih luas dalam ekosistem digital.

    Teten mengingatkan, kehadiran aplikasi ini harus jadi perhatian. Terlebih, keadaan ekonomi UMKM saat ini indeks bisnisnya sedang turun.

    “Karena itu (angka) NPL (Non Performing Loan/Kredit Macet) juga naik. Nah kalau ditambah lagi nanti masuk persaingan produk UMKM dengan produk dari China, pabrikan dari China yang pasti murah. Ya lewat platform global ini, ini sudah pasti berat,” pungkasnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Lindungi Pedagang Kecil, Pemerintah Minta Apple dan Google Blokir Dua Aplikasi China Termasuk TEMU

    Lindungi Pedagang Kecil, Pemerintah Minta Apple dan Google Blokir Dua Aplikasi China Termasuk TEMU

    7cloud.asia – Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jumat (11/10/2024), meminta Google, dan Apple untuk memblokir aplikasi e-commerce mode cepat asal China, Temu, dari toko aplikasi mereka agar tidak dapat diunduh.

    Pemerintah menegaskan bahwa langkah tersebut sebagai upaya antisipasi dalam melindungi usaha kecil dan menengah dari gempuran produk murah yang ditawarkan oleh PDD Holdings, perusahaan pemilik Temu.

    Hingga kini pemerintah belum menemukan adanya sebuah transaksi apa pun dari platform Temu tersebut.

    Pertumbuhan Temu yang cepat telah memicu pengawasan ketat atas model bisnis berbiaya rendahnya dalam mengirim paket ke pelanggan dari China oleh beberapa negara.

    Baca: Aplikasi TEMU dikhawatirkan bisa mematikan usaha kecil 

    Model bisnis Temu, yang menghubungkan konsumen secara langsung dengan pabrik-pabrik di China untuk mengurangi harga secara signifikan, merupakan “persaingan yang tidak sehat,” tegas Budi.

    “Kami di sini bukan untuk melindungi e-commerce, tetapi kami melindungi usaha kecil dan menengah. Ada jutaan yang harus kami lindungi,” katanya.

    Budi menegaskan bahwa pemerintah akan memblokir semua investasi yang dilakukan Temu di e-commerce lokal jika tindakan tersebut dilakukan. Namun, ia belum mendapatkan informasi terkait rencana tersebut.

    Budi juga mengatakan pemerintah berencana untuk meminta pemblokiran serupa untuk layanan belanja asal China, Shein.

    Temu, Shein, Apple, dan Google tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar. Temu masih dapat diunduh di toko aplikasi di Tanah Air.

    Baca: Ancaman aplikasi TEMU sudah lama diingatkan Menkop UKM

    Indonesia memaksa platform media sosial asal China, ByteDance, untuk menutup layanan e-commerce TikTok pada tahun lalu demi melindungi pedagang lokal dan data pengguna.

    Beberapa bulan setelahnya, TikTok sepakat mengakusisi saham mayoritas di unit e-commerce milik konglomerat teknologi, GoTo, untuk tetap bersaing di pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara.

    E-commerce Bukalapak.com pada Selasa (8/10/2024) menepis laporan mengenai rencana akuisisi oleh Temu.

    Menurut laporan dari Google, investor Singapura Temasek Holdings, dan konsultan Bain & Co., industri e-commerce Indonesia diperkirakan akan tumbuh menjadi sekitar 160 miliar dolar pada 2030, naik dari 62 miliar dolar pada 2023.

    Sumber:VOAIndonesia

     

     

  • Bahas RUU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, DPR Soroti Tingginya Pemotongan Biaya Aplikasi Ojek Online

    Bahas RUU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, DPR Soroti Tingginya Pemotongan Biaya Aplikasi Ojek Online

    7cloud.asia – Anggota Komisi V DPR Adian Napitupulu mengkritik besarnya pemotongan biaya aplikasi ojek online yang mencapai 30 persen lebih.

    Padahal, dalam Keputusan Menteri Perhubungan Kepmenhub atau KP Nomor 1001 tahun 2022 regulasinya potongan biaya aplikasi maksimal 20 persen.

    Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) Komisi V DPR dengan sejumlah operator aplikasi ojek online terkait pembahasan dan mendengarkan masukan terkait penyusunan RUU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

    RDPU ini antara lain dihadiri PT. Goto Gojek Tokopedia, PT. Grab Teknologi Indonesia dan PT. Teknologi Perdana Indonesia (Maxim Indonesia)

    “Dulu kalau kita tidak salah sempat 10 persen ya jatah aplikator. Dan dia naik terus 10, 15, hingga 20. Dalam praktiknya (bahkan) di atas 20 persen,” tegas Adian di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (5/3/2025).

    Baca: Pemerintah diminta tinjau ulang potongan biaya aplikasi sebesar 30 persen

    Politisi PDI Perjuangan ini menekankan angkanya tersebut sangat tidak adil. faktanya, para aplikator sama sekali tidak peduli terhadap keadaan para supir maupun kendaraan jasa angkutan umum berbasis online tersebut.

    Adian lalu memaparkan, kejadian di mana banyak sekali supir roda empat dan roda dua ditangkap di bandara Soekarno Hatta, Halim dan sebagainya.

    ”Kalau di Soetta itu lebih keras lagi. Mereka ditangkap, ditahan 6 jam disuruh push up. Sampai akhirnya saya telpon Dirut Angkasa Pura II kalau tak salah, dan saya bacakan pasal penyanderaan,” ungkap Adian.

    Dalam kondisi ini, pihak aplikator tidak peduli supirnya ditangkap, disuruh push-up, dipukuli dan sebagainya. Mereka tidak peduli mobilnya rusak, Simnya habis. mereka tak peduli olinya kurang, apapun yang terjadi di jalanan. Hal yang tak terjadi pada perusahaan angkutan yang lain.

    “Taksi-taksi yang offline itu dia urus pullnya, olinya, tabrakan dia bertanggung jawab. Supirnya ditangkap dia urus ke polisi dan sebagainya,” imbuhnya

    Baca: Driver ojek online minim perlindungan hukum

    Mirisnya, dilanjutkan Adian, keuntungan yang didapatkan perusahaan aplikator online lebih besar ketimbang offline.

    “Begini pimpinan kalau kita tidak atur ini dengan baik, kita juga tidak adil dengan rakyat dan menurut saya ini harus menjadi bagian penting dalam pasal kita nanti. Mengatur,” tegasnya.

    “Menurut saya, jika diijinkan pimpinan sambil kita menunggu proses RUU ini, memungkinkan tidak ini kita jadikan kesimpulan untuk kita sampaikan ke Menteri Perhubungan (Dudy Purwagandhi) perhubungan agar tarifnya diturunkan lagi menjadi 10 persen,” imbuh Adian.

    Menutup keterangannya, Legislator Dapil Jawa Barat V ini mengatakan bahwa penindasan terhadap supir online ini harus segera dihentikan dengan merekomendasikan penurunan tarif pada Permen tersebut kembali menjadi 10 persen.

    “Karena kita tak bisa menjamin proses RUU ini berlangsung satu bulan, dua bulan atau setahun. Walaupun saya berharap selesai dalam satu atau dua bulan ini. Kenapa? negara ini tak boleh mengkhianati produk UU-nya,” pungkasnya.

  • Dengarkan Aspirasi Pengemudi Ojek Online, Komisi V DPR Soroti Biaya Berlapis

    Dengarkan Aspirasi Pengemudi Ojek Online, Komisi V DPR Soroti Biaya Berlapis

    7cloud.asia – Pengemudi ojek online dibebani biaya berlapis, sehingga semakin menekan penghasilan mereka. Tak hanya potongan komisi bagi aplikasi, para driver online juga harus membayar harian untuk bisa mendapatkan order atau pesanan dari pelanggan.

    Hal ini diungkapkan Anggota Komisi V DPR, Adian Napitupulu, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama para pengemudi ojek online di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Rabu (21/5/2025).

    “Untuk dapat order mereka bayar lagi Rp20 ribu per hari. Sudah mereka bayar (langganan), lalu konsumen memesan dipotong lagi persentasenya minimal 20 persen sampai 50 persen. Pernah nggak kita lakukan audit investigatif untuk keuangan ini?” ujar Adian, disambut riuh tepuk tangan pengemudi yang hadir.

    Politisi PDI-Perjuangan ini menegaskan, praktik “berlangganan order” ini tidak manusiawi. Driver ojek online harus membayar agar mendapat prioritas, sementara pendapatannya justru terus dipotong oleh aplikator.

    “Kejam sekali! Yang selama ini terpublikasi ‘potongan-potongan’. Tidak! Ada biaya layanan dan biaya jasa aplikasi dan ada beli order. Ketika temen-temen ini nggak beli order, nggak bayar 20 ribu mereka nggak dapat order, mereka nggak dapat pesanan,” tegas Adian.

    Baca: Pengemudi Ojek Online melawan sistem kemitraan yang menindas

    Menurutnya, ke depan Indonesia perlu mempertimbangkan sistem langganan tetap seperti yang sudah diterapkan di negara lain, agar pengemudi tidak terus-menerus “diperas” lewat potongan dan biaya tambahan.

    Dia mencontohkan India yang sekarang tidak lagi ada potongan komisi, tetapi driver berlangganan aplikasi.

    ”Nah potongan langganan ini berlaku tetap. Nah itu lah nanti masa depan driver online, hubungannya dengan aplikasi sangat logis,” kata Adian yang juga Wakil Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI.

    Lebih lanjut, ia mengkritik lemahnya peran negara dalam mengawasi dan mengatur skema pungutan ini. Ia menilai, selama ini negara seperti menutup mata terhadap pungutan tanpa dasar hukum yang dilakukan oleh aplikator.

    Meski peraturan mengenai potongan bagi aplikasi sudah tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. KP 1001 Tahun 2022 namun untuk biaya lainnya belum memiliki dasar hukum.

    Baca: Ribuan pengemudi ojek online matikan aplikasi sebagai bentuk protes

    Adian lantas mengkritik pemerintah yang dinilainya membiarkan terjadinya pembebanan biaya lainnya tanpa dasar hukum dan berlangsung selama bertahun-tahun.

    “Kita bisa diperdebatkan (potongan komisi) 15 persen dan 5 persen ada KP-nya. Seburuk-buruknya KP, dia dasar hukum. Negara biarkan ini (potongan biaya layanan dan biaya jasa aplikasi) terjadi bertahun-tahun. Ini aneh menurut saya. Kita sepertinya hidup bernegara tanpa negara,” ujarnya.

    Ia juga menolak alasan aplikator yang menyebut bahwa pungutan semacam itu juga berlaku di luar negeri.

    “Saya minta ini (biaya layanan dan aplikasi) dicabut, tidak boleh ada! Dalam konferensi pers aplikator kemarin (20/5/2025) disampaikan bahwa dasar mereka menggunakan ini hanya karena di negara lain dipakai.“

    “Tapi peristiwa di negara lain itu bukan dasar hukum di Indonesia. Jadi bukan cuma (potongan komisi) 10 persen (yang dicabut) tapi (langganan order) ini juga,” tegas Adian.

    Adian meminta DPR untuk membahas isu ini secara menyeluruh dan tidak hanya fokus pada nominal potongan komisi.

    Baca: DPR tampung keluhan pengemudi ojek online

    Dia menegaskan, pemahaman terhadap masalah-masalah driver online ini harus utuh dan tidak bisa cuma melihat persoalan persentase (komisi).

    “Tidak juga, tapi bagaimana mereka memungut sesuatu dari rakyat dalam jumlah banyak tanpa dasar hukum dan bagaimana kemudian mereka diminta membeli ordernya ke aplikator,” tutupnya.

    Sebelumnya, ribuan mitra pengendara ojek online maupun taksi online di berbagai kota melakukan demonstrasi besar pada Selasa (20/5/2025) lalu.

    Secara garis besar terdapat lima poin tuntutan yang akan diajukan kepada para pemangku kepentingan, antara lain:

    (1) Mutlak turunkan potongan aplikasi menjadi 10 persen.
    (2) Naikkan tarif pengantaran penumpang.
    (3) Segera terbitkan regulasi pengantaran makanan dan barang.
    (4) Tentukan tarif bersih yang diterima mitra.
    (5) Mendesak pemerintah segera terbitkan UU Angkutan Online Indonesia.

    Baca: Transportasi online butuh payung hukum